Kebebasan Berdiskusi dalam Islam

SERI DIALOG INTERFAITH [1]

DIALOG PERTAMAKEBEBASAN BERDISKUSI DALAM ISLAM

 Saintis Kristian: Beberapa agama melarang adanya sikap kritis dan gemar bertanya berkenaan dengan ajaran agama mereka. Mereka menganjurkan kepda para pengikutnya untuk mengikuti instruksi-instruksi mereka tanpa pengujian dan pengkajian. Mereka menuntut iman dan melarang mereka untuk bergaul dengan orang yang memeluk agama lain yang boleh jadi menuntunnya kepada keraguan. Bagaimana sikap Islam terhadap pertanyaan yang tertuju kepada ajaranya dan membandingkan ajarannya dengan keyakinan yang lain?   Ruhani Musllim: Islam sangat liberal dan free dalam masalah ini. Ia boleh jadi menuntut seseorang untuk beriman kepada ajaran-ajaran tertentu, namun pada saat yang sama ia menasihatinya untuk mencoba membangun keyakinannya berdasarkan dalil dan argumen. Islam memberinya kebebasan untuk mengajukan pertanyaan dan tidak mencelanya ketika ia memiliki keraguan, jika keraguannya diikuti oleh usaha intensif untuk menemukan kebenaran. Jika agama lainnya menasihatkannya untuk menghindari diskusi ihwal masalah-masalah prinsipil selain darinya dan membuatnya takut bahwa ia telah memprovokasi murka Tuhan dengan melakukan hal tersebut, Islam membuat orang merasa aman dari murka Tuhan jika ia menindaklanjuti pencariannya menemukan kebenaran.  Pada kenyataannya, Islam tidak pernah menasihatkan orang untuk menghindari diskusi yang menuntun kepada pengetahuan baru dan sebuah penemuan baru tentang kebenaran. Tapi jangan takut, Islam menganjurkan untuk mendiskusikan setiap prinsip-prinsip ajaran agama, apakah itu ajaran Islam atau non-Islam. Tidak pernah merasa risau dan kuatir akan murka Tuhan lantaran Dia merupakan Tuhan kebenaran.  Sebaliknya, semakin orang mencari kebenaran dan melakukan penelitian intensif, semakin banyak ganjaran yang ia dapatkan dari Tuhan menurut pandangan Islam. Dalam pandangan Islam, ganjaran yang paling bernilai dan sikap yang paling berharga, adalah melakukan pendekatan terhadap isu-isu keagamaan dengan semangat dan spirit seorang ilmuan dan saintis yang menyambut setiap dalil yang dapat membuktikan atau membatalkan teorinya (atau teori yang ia dapatkan. 

Saintis Kristian: Apakah Islam memiliki aturan spesifik atau anjuran berkenaan dengan riset dan pengkajian agama?  

Ruhani Muslim:
Ada beberapa aturan tertentu yang tercantum dalam al-Qur’an yang harus digunakan dalam riset agama demi terjaminnya setiap kesimpulan yang boleh jadi dicapai.
 1. Tidak dibenarkan memeluk sebuah doktrin ketika dalil dan argumen telah dibangun yang berseberangan dengan doktrin tersebut, dan tidak dibenarkan mengikuti sebuah prinsip tanpa adanya dalil.   Jika Tuhan menghendaki seseorang untuk beriman kepada sebuah doktrin, Dia membuatnya jelas dan berdalil. Dia adalah Mahaadil lagi Bijaksana. Dia mengetahui bahwa keyakinan dan iman bukan merupakan sebuah hal yang bersifat sukarela. Seseorang tidak dapat meyakini atau mengingkari segala sesuatu yang ia pilih. Raga manusia berada di bawah kontrol perintah tapi jiwanya tidak demikian. Saya menaati sebuah titah yang memerintahkan untuk menggerakkan tanganku ke atas dan ke bawah, berjalan atau duduk, bahkan jika perintah tersebut nampaknya tidak bijaksana. Namun saya tidak dapat menaati sebuah perintah, misalnya, yang menitahkan aku bahwa dua kali dua sama dengan
lima, atau angka tiga merupakan angka satu, atau api itu dingin atau salju itu panas.
Pengetahuan kemanusiaan kita datang dari dalil langsung dan tidak langsung, dan ia tidak mengikuti kehendak dan kemauan kita sendiri. Keyakinan dan iman yang dapat diterima haruslah berdasarkan kepada ilmu pengetahuan. Ketika Tuhan menghendaki aku untuk mengetahui sesuatu, Dia membuat ilmu tersebut mungkin bagiku dengan menyediakan petunjuk dan jalan untuknya. Jika Dia menuntut aku untuk meyakini sesuatu sementara ada dalil yang  bertentangan dengannya, Dia memintaku untuk melakukan sesuatu yang mustahil. Dan hal ini berseberangan dengan keadilan-Nya. Islam tidak pernah mencela seseorang apabila ia tidak meyakini sebuah ajaran lantaran kurangya dalil; sebaliknya, Islam mencela seseorang ketika ia mengikuti sebuah ajaran sementara ia meraba-raba dalam kegelapan tanpa adanya petunjuk yang menerangi, atau apabila ajaran tersebut tidak sesuai dengan kebenaran. Mengikuti sebuah ajaran yang bertetangan dengan petunjuk, atau kurangnya dalil, adalah ibarat sebuah pengadilan mahkamah yang memutuskan perkara ke atas terdakwa tanpa adanya bukti. Sikap semacam ini bukan dmerupakan sebuah perbuatan terpuji. Al-Qur’an menegaskan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Qs. al-Isra’ [17]:36) 2. Tidak pernah menerima popularitas secara lahir. Seorang periset dalam bidang agama tidak dibenarkan menerima popularitas sebuah doktrin agama dalam masyarakatnya sebagai sebuah bukti atas kebenarannya. Banyak ide dan gagasan popular yang terbukti kesalahannya. Pada suatu waktu, diyakini bahwa bumi ini datar dan matahari yang mengelilingi bumi. Orang-orang meyakini masalah ini selama ribuan tahun, tetapi kita ketahui bahwa tidak satupun ide dan gagasan ini yang benar. Terlebih, apa yang popular pada suatu komunitas belum tentu popular di komunitas lain. Kebalikannya juga benar. Jika popularitas merupakan simbol kebenaran, seluruh ide yang popular yang bertentangan satu sama lain akan menjadi benar, namun kebenaran tidak pernah bertentangan dengan dirinya. Tatlala nabi pertama datang untuk memproklamasikan konsep tauhid (keesaan Tuhan), risalahnya tidak popular di setiap masyarakat  lantaran masyarakat dunia ketika itu adalah kafir dan musyrik. Tidak popularnya risalah Ilahi seperti itu tidak mencegah risalah itu dari kebenarannya. Pada kenyataannya, seluruh nabi datang ke masyarakatnya dengan risalah-risalah yang tidak populer. Maksud mereka adalah oreksi hal-hal yang keliru dan bersifat populer dan menggantinya dengan kebenaran yang bersifat tidak populer. Al-Qur’an menandaskan, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Qs. al-An’am [6]:116) 3. Ajaran-ajaran agama yang bersifat warisan harus dikaji. Islam menganjurkan setiap orang dewasa untuk mengkaji agama yang ia warisi dari orang tuanya. Agama yang diwariskan, seperti agama yang lain, harus dibuktikan dengan dalil dan argumen. Seseorang dapat bersandar keapda penilaian orang tuanya selama ia masih kecil dan tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Tatkala ia mencapai masa dewasa, agamanya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Santun dan hormat kepada orang tua merupakan salah satu perintah Islam, namun hal itu tidak berarti menerima pendapat mereak dalam sebuah perkara penting seperti agama apabila pendapat mereka merupakan pendapat keliru. Sebenarnya, ketika orang tua memeluk sebuah ajaran agama yang salah dan menuntut anak-anaknya untuk mengikuti mereka, mereka tidak boleh ditaati lantaran tindakan tersebut bertentangan dengan kehendak Tuhan; artinya, jika seseorang menaati orang tuanya ketika mereka melakukan kesalahan, ia telah membangkang perintah Tuhan. Senada dengan hal ini, al-Qur’an berkata, Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Qs. Luqman [31]:14-15)Islam memerintahkan setiap orang untuk menguji ajarannya sebagaimana ia memerintahkan setiap orang untuk mengkaji dan menguji ajaran lain. Dengan demikian, seseorang dapat menilai Islam lebih dari yang sebelumnya.   4. Orang yang ragu-ragu tidak dibenarkan. Ketika seseorang tidak committed terhadap satu agama dan meragukan seluruh konsep agama, ia tidak boleh puas dengan keraguannya. Adalah tugasnya melindungi dirinya dan kepentingan vitalnya di dunia ini dari segala bentuk musibah dan petaka. Sama saja, ia memiliki tanggung jawab dan tugas yang sama dalam melindungi kepentingan spiritual dari kerusakan. Pencarian seriusnya tentang apa yang menimpa atas kehidupan spritualnya sama pentingnya dengan pencariannya terhadap apa yang menimpa kehidupan fisikalnya. Supaya seseorang menunaikan tanggun jawab dan mengerjakan tugasnya, diwajibkan baginya untuk mencari, dan mencari secara serius tentang keraguan yang ia miliki tentang agamanya. Barangkali terdapat banyak fakta-fakta yang dapat diakses dalam wilayah keraguan; oleh karena itu, ia harus menemukannya. Ketika ia melakukan riset dan berupaya sekuat tenaga lalu gagal menemukan kebenaran, ia akan diampuni di hadapan Tuhan. Tuhan meminta setiap orang untuk melakukan apa yang dapat mereka lakukan. Al-Qur’an menyatakan, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya. (Qs. al-Baqarah [2]:286) 5. Ketika Anda melakukan riset agama, jangan biarkan orang lain memutuskan sesuatu untuk Anda. Jangan bersandar kepada peniliaian setiap orang, meski ia merupakan seorang tulus dan cerdik cendikia. Di setiap keyakinan terdapat beberapa guru yang tulus dan cendikia. Jika seseorang membolehkannya untuk membuat keputusan tentang agama baginya, ia akan terbiasi lantaran guru-guru ini pasti berbeda satu dengan yang lainnya. Jika ia bersandar kepada penilaian para guru hanya dalam satu bidang iman, melupakan guru-guru yang lain, ia akan memiliki bias dan subjektifitas. Seorang guru yang tulus dan cendikia dapat salah, dan seseorang tidak akan dimaafkan apabila ia mengikuti penilaian gurunya. Agama seseorang adalah tanggungjawabnya dan setelah ia melakukan pencarian yang bersifat ekstensif, ia adalah seorang penilai tunggal untuk mencapai kesimpulan dan membentuk beragam pendapat. Dalam al-Qur’an disebutkan, Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (Qs.  35:18, 53:38)        Dengan demikian, kita dapat melihat kelima ayat al-Qur’an dimana Islam tidak takut untuk ditanyai atau dianalisa. Hanya mereka yang takut gagal yang melarang diskusi secara bebas terhadap ajaran agama mereka dan menghindari pengujian dari para periset dan peneliti.[]

Pernah dimuat pada site http://www.wisdoms4all.com

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: