Dialog Interfaith [7]

 

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN IHWAL ISA   

Saintis Kristian: Seluruh masalah tauhid dan monoteisme dalam Islam, sesuai dengan penjelasan Anda, telah menjadi jelas.  Ajaran Islam berkenaan dengan Isa juga telah menjadi terang. Kini saya ingin mendengar poin secara ringkas tentang persamaan Islam dan Kristen ihwal Isa.

  Ruhani Muslim: Islam sejalan dengan Kristen, secara umum, sebagaimana pada poin-poin berikut ini: 1. Islam mendakwahkan kesucian Isa. Pada kenyataannya, hal ini menjadi bagian penting dalam ajaran Islam untuk mengagungkan dan meyakini kesucian Isa, dan bahwa ia hidup di dunia ini sebagai seorang yang bebas dari segala bentuk dosa. Dari al-Qur’an kita membaca, (ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan Termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Qs. Ali Imran [3]:45) 2. Islam mendeklarasikan kesucian Maria, ibunda Isa. Tidak ada seorang Muslim yang dapat meragukan kesucian dan kesusilaan Maria. Ia, sesuai dengan al-Qur’an, merupakan wanita tersuci di antara bangsa-bangsa, “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (Qs. Ali Imran [3]:42-43) 

3. Islam menyatakan bahwa Isa dengan mukjizat lahir dari seorang ibu perawan tanpa seorang ayah. Al-Qur’an menegaskan, “Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia Mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Qs. Maryam [19]:16-26) 4. Al-Qur’an mengatributkan kepada Isa banyak mukjizat yang disebutkan dalam Injil. Menurut al-Qur’an, Isa diberikan kekuasaan oleh Allah untuk menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, dan membuat orang buta menjadi melihat, “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, Yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu Makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Qs. Ali Imran [3]:49) Di samping itu, Kitab Suci al-Qur’an menisbahkan kepada Isa sebuah mukjizat yang tidak tercatat dalam kitab-kitab Injil: Isa berbicara dengan jelas tatkala ia masih dalam buaian (ayunan), Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang Amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”.  Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: “Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Qs. Maryam [19]:27-33)

  Saintis Kristian: Titik-titik persamaan, dengan penjelasan Anda, telah menjadi jelas. Saya tahu bahwa para pengikut banyak agama memiliki pandangan yang berbeda dalam masalah Isa. Sebagian dari mereka dapat dipandang sebagai anti-Isa lantaran mereka mengingkari kesucian Isa dan Maria, tidak meyakini mukjizat-mukjizatnya dan menolak kebenarannya; sebagian dari mereka bersikap netral, juga tidak bersikap anti-Isa; dan beberapa dari mereka pro terhadap Isa, meyakini kesuciannya dan menerima seluruh ajarannya dan meyekini seluruh mukjizatnya. Sesuai dengan penjelasan Anda, kaum Muslimin harus dipandang sebagai pro-Isa, sebagaimana kaum Kristian sendiri. Apa yang tertinggal kini adalah melihat titik-titik perbedaan antara kaum Muslimin dan kaum Kristian berkenaan dengan Isa.  

Ruhani Muslim: Wilayah perbedaan antara Islam dan Kristen, dalam melihat Isa, termasuk dalam beberapa poin-poin berikut ini: 1. Kendati Islam menerima kesucian Isa, namun ia mengingkari keilahian Isa. Menurut ajaran Islam, Isa tidak memiliki sifat ketuhanan. Ia bukan Tuhan, juga tidak menyatu dengan Tuhan. Ia layak mendapatkan pengagungan, takzim dan penghormatan, namun ia tidak patut untuk disembah. Islam bersikap non-kompromi dalam tauhidnya. Tuhan hanya Satu, tiada Tuhan selain Dia, Mahakuasa, Abadi, Swa-Ada, Nir-batas dalam pengetahuan, hidup dan kekuasaan. Isa tidak abadi. Ia hidup kurang lebih 2000 tahun yang lalu, dan menurut kitab-kitab Injil, usianya tidak panjang. Ia bukan mahakuasa lantaran mendapatkan penganiayaan; juga tidak nir-batas. Ia tidak dapat menjadi Sang Pencipta semesta lantaran semesta telah berusia lebih dari empat miliar tahun lamanya, sementara ia lahir kurang lebih dua ribu tahun yang lalu. Ia tidak layak disembah karena ia sendiri merupakan hamba yang beribadah kepada Tuhan.  

2. Isa, sesuai dengan ajaran Islam, bukan merupakan anak Tuhan. Tuhan tidak memiliki putra atau anak, karena Dia di atas semua itu. Sejatinya, kebapakan merupakan sesuatu yang tidak diterima dalam urusan Tuhan lantaran Dia tidak berbentuk fisikal. Kebapakan spiritual juga tidak dapat diterima karena Dia merupakan Pencipta setiap wujud spiritual dan material. Dalam al-Qur’an kita dapat menemui poin ini dengan jelas, “Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak Padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu.” (Qs. al-An’am [6]: 100-102) 3. Islam mengingkari kruksifisi (penyaliban) Isa. Isa tidak mati di atas salib. Dalam al-Qur’an kita dapat menjumpai poin ini dengan jelas, “Dan karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah “, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya,  dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. an-Nisa [4]:157-158

Saintis Kristian: Pandangan ini adalah berseberangan secara tajam dengan ayat-ayat dalam seluruh kitab Injil. Keempat Injil secara terang menyatakan bahwa Isa mati di atas salib. Bagaimana kita dapat merekonsiliasi ayat al-Qur’an ini yang mengingkari dengan tegas kematian Isa di atas salib? 

Ruhani Muslim:
Ada sebuah jalan untuk merekonsiliasi ayat Qur’ani dan ayat-ayat dalam kitab-kitab Injil: Perbedaan keduanya dapat menjadi sebuah perbedaan antara penampilan dan realitas. Tidak ada keraguan, beberapa peristiwa yang terjadi pada masa apa yang dipandang sebagai masa penyaliban Isa dan kematiannya di atas salib. Kehidupan Isa merupakan kehidupan yang penuh dengan mukjizat, dan demikian apa yang dipandang sebagai kematiannya. Boleh jadi bahwa orang lain (seperti Yudas, orang yang mengkhianatinya) yang secara mukjizat diserupakan dengannya, dan ia, bukan Isa, yang mati di atas salib.
Ada jalan lain untuk merekonsiliasi antara ayat Qur’ani dan ayat-ayat Injil tanpa berujung pada asumsi terhadap mukjizat: Anggaplah Isa ditaruh di atas salib, dan ia pingsang, sehingga ia kelihatannya mati, sementara ia masih hidup. Asumsi ini bukan tanpa bukti dari kitab-kitab Injil: kitab-kitab Injil menyatakan bahwa Isa tidak bertahan lama di atas salib. Ia diturunkan dengan segera, tanpa dipatahkan kakinya, sementara sudah merupakan kebiasaan untuk mematahkan kaki orang yang disalib. Orang-orang Yahudi mempersiapkan untuk merayakan kepergiannya. Mereka tidak ingin ia tinggal di atas salib hingga hari berikutnya, Sabtu, pada hari dimana mereka tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun termasuk penguburan. Karena Isa tidak bertahan lama di atas salib, ia boleh jadi tetap hidup. Kitab-kitab Injil juga menyatakan bahwa setelah Isa kelihatan mati, seseorang menghajarnya dengan sebuah tombak, dan darah mengucur keluar dari badannya. Kita tahu bahwa darah tidak akan mengucur dari badan yang mati. Hal ini menunjukkan bahwa Isa masih hidup. Kitab-kitab Injil menyatakan bahwa Isa diletakkan di atas kuburnya, dan sebuah batu berat ditaruh di atas pusaranya, dan pada hari Minggu, tubuh itu lenyap, dan bahwa batu itu tersingkir dari mulut pusara itu. Kita memiliki hak untuk curiga bahwa beberapa orang murid Isa menyingkirkan batu itu dan menyelamatkannya. Jika Isa dibangkitkan dengan mukjizat, maka tidak akan perlu adanya penyingkiran batu itu. Tuhan mampu untuk membangkitkan dari kuburnya dan tetap membiarkan batu itu tak bergerak. Penyingkiran batu itu nampaknya merupakan perbuatan manusia, bukan pekerjaan Tuhan. Di samping itu, kitab-kitab Injil menyatakan bahwa Isa muncul beberapa kali di hadapan muridnya setelah kejadian penyaliban. Seluruh kemunculan ini nampaknya terjadi secara rahasia, dan bahwa Isa tidak ingin muncul secara terang-terangan. Jika ia dibangkitkan dengan mukjizat, ia tidak perlu menyembunyikan dirinya dari musuh-musuhnya. Rahasia kemunculannya mengindikasikan bahwa ia masih hidup sebagaimana sebelumnya, dan bahwa hidupnya tidak diganggu oleh kematian singkat, dan bahwa ia masih merasa takut akan kejaran musuh-musuhnya.           Masyarakat internasional Kafan Suci akhir-akhir ini telah menyimpulkan bahwa noda-noda darah pada kain kafan Isa menunjukkan bahwa Isa masih hidup ketika ia diturunkan dari salib. Kalau tidak, maka tidak akan ada darah pada lembaran kain yang menutupi tubuhnya.           Seorang Kristian, yang beriman kepada penyaliban Isa, akan kesusahan untuk mendamaikan antara dua prinsip yang ia yakini, yaitu: Isa adalah Tuhan dan Isa disalib. Seorang yang disalib tidak dapat menjadi Tuhan lantaran ia tidak mampu melindungi dirinya, apatah lagi untuk menjadi mahakuasa. Seorang Muslim, di sisi lain, tidak menghadapi problem semacam ini. Ia yakin bahwa Isa merupakan seoarang nabi dan tidak lebih. Seorang nabi boleh jadi dianiaya dan disalib, lantaran seorang nabi tidak harus menjadi mahakuasa. Meski Islam tidak memiliki problem kontradiksi, ia telah memecahkan problem yang sebenarnya tidak ia miliki. Isa tidak disalib. Tuhan yang telah melindunginya.  4. Islam tidak sejalan dengan Kristen dalam hal doktrin penebusan dosa. (Doctrine of Redemption). Doktrin penebusan adalah bersandar pada doktrin dosa semula (original sin): bahwa umat manusia telah dikutuk oleh Tuhan karena dosa Adam dan Hawa yang secara konsekuensial diwarisi oleh anak-anak mereka. Islam menafikan seluruh doktrin dosa semula; Tuhan tidak mengutuk manusia lantaran sebuah dosa yang dilakukan oleh sepasang manusia yang hidup pada masa-masa awal penciptaan. (Hal ini dapat dibuat jelas dalam poin-poin berikut ini) Tidak ada dosa asli; oleh karena itu, tidak perlu pada penebusan bagi manusia dari dosa yang sebenarnya tidak ada. Terlebih, anggaplah bahwa terdapat dosa semula. Untuk memaafkan umat manusia dari dosa asal mereka, Tuhan tidak perlu kepada seorang yang tanpa dosa, sepert Isa, untuk disalib. Dia dapat memaafkan umat  tanpa menyebabkan penderitaan seorang yang tak berdosa. Berkata bahwa Tuhan tidak memaafkan umat manusia kecuali menyalib Isa, adalah menempatkan Dia pada posisi seorang penguasa yang tidak ditaati oleh warganya. Tatkala anak-anak meminta penguasa untuk memaafkan dosa ayah mereka, ia menolak untuk melakukan hal itu kecuali ia membunuh salah seorang yang ia cintai. Jika mereka melakukan kejahatan yang serius, ia akan memaafkannya; kalau tidak, ia tidak akan melakukannya. Saya kira bahwa pendakwahan dosa asal tidak akan menempatkan Tuhan dalam posisi seperti itu. Tuhan, Mahadil dan Mahapengasih, tidak mengutuk manusia lantaran dosa para nenek moyang mereka.. Dia dapat mengampuni dosa-dosa mereka tanpa meminta mereka untuk melakukana dosa yang lebih besar.[]
 Pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com 

Iklan

4 Tanggapan

  1. sesungguhnya iman itulah yg membuat keraguan menjadi sirna…..karena perbedaan sudah terjadi sejak penciptaan di surga,malaikat-malaikat,makhluk hidup(hewan),tumbuhan,manusia ADAM dan HAWA,kecemburuan,pertanyaan2 juga pemberontakkan tetapi apakah oleh karena perbedaan yg ada secara nyata di ciptakan oleh MAHA SUCI(TUHAN menurut IMAN kepercayaan Pribadi mereka saling membinasakan? tempat yg di ciptakan suci adanya tempat dimana maha suci menciptakan makhluk2 sucinya,sejak manusia melakukan pelanggaran dan beranak cucu maka timbullah perbedaan2 yg sangat fundamen dan timbulnya banyak kekejian2 yg terjadi oleh karena mempertahankan kebenaran pribadi. menurut saya kita umat manusia bukan karena membahas perbedaan2 yg ada dapat kembali kepada tempat suci(surga),mencari-cari kelemahan-kelemahan maupun kelebihan yg ada di dalam setiap ajaran untuk menunjukkan bahwa kita taat kepada MAHA SUCI tetapi bagaimana kita meng-IMANI apa yg telah kita dapatkan di dalam dunia ini dan menjalankanya dgn TAAT dan dgn keyakinan bahwa ajaran yg kita miliki berasal dari yg MAHA SUCI……ISLAM:TUHAN ALLAH………KRISTEN:TUHAN YESUS KRISTUS,untuk meyakini suatu ajaran sdh jelas berbeda ISLAM percaya dgn apa yg tertulis di dalam kitab sucinya AL-QURAN juga HADIST dan KRISTEN kitab sucinya INJIL yg mana jelas sangat berbeda……..biarkanlah pada waktunya nanti saat dimana semua itu akan terbukti akan kebenaran apa yg kita yakini masing- masing selama ini di dalam dunia tetapi marilah kita membuktikanya di dalam hidup ini bahwa dgn perbedaan yg ada di dalam dunia ini AGAMA,SUKU-BANGSA,BAHASA,ADAT ISTIADAT,STATUS SOSIAL,PANGKAT,DERAJAT bahwa kita mampu hidup saling mau menolong,menyayangi, saling mau memaafkan kesalahan-kesalahan,mengerti dan memahami satu dgn yg lain juga diluputkan dari pebuatan-perbuatan keji(dosa) hanya untuk kemuliaan dan kebenaran2 yg MAHA SUCI dalam hidup di dunia ini menurut IMAN kepercayaan setiap manusia yg telah di yakininya AMIN.saya mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kesalahan di dalam komentar saya ini dan pemahaman saya yg sangat dangkal mengenai ajaran-ajaran yg ada di dalam dunia ini telebih jika menyinggung.semoga kiranya kita semua umat manusia dapat kembali membawa IMAN SUCI dan kembali hidup kekal untuk selama-lamanya di dalam SURGA…………AMIN…….AMIN…….AMIN…..AMIN…..AMIN.

  2. trims atas komentarnya Bang Yongki..
    Namun bukankah iman itu dibangun dan dikerangka dengan fondasi akal sehat dan commonsense. Bukankah tingkatan iman tergapai setelah melalui pergumulan intelektual dan spritual yang rigoris. Bukankah iman merupakan akhir dari sebuah decision of choice. Bukankah iman adalah penyerahan diri setelah melalui pembuktian rasional. Iman menurut hemat saya adalah surrender pasca exploring the truth. Iman menurut saya adalah its a matter of choice. Kitab yang kita imani juga harus memenuhi standar akal sehat. Kitab yang kita yakini juga harus diuji worldviewnya. Apa yang saya turunkan diblog ini juga merupakan evaluasi atas dua kitab suci besar yang diyakini oleh mayoritas masyarakat dunia. Ketika dua kitab ini berada pada altar ujian kelayakan untuk diyakini, ia harus membuktikann dirinya secara argumentatif dan logis bahwa ia memang layak untuk diyakini sebagai kitab suci. Ttg penyebutan Tuhan Allah dan Tuhan Yesus Kristus memang bukan sekedar sebuah penyebutan tapi sebuah masalah krusial untuk memilih Tuhan Esa dan Tuhan Trinitas. Keyakinan terhadap Tuhan mana yang menjadi pilihan juga di sini harus melalui altar ujian dan mahkamah akal. Apakah Esa yang rasional ataukah Trinitas?

  3. TUHANmu, TUHANku, dan TUHAN kita semua;

    1. Coba lihat kembali sejarah manusia dlm mencari TUHANnya, mulai dari men-TUHAN-kan Patung, Binatang, Matahari sampai Dewa-2, Bagaimana dan apa sj yg dilakukan dengan TUHANnya ?, Mengapa semua terjadi spt itu ?

    2. Kemudian bagaimana, kapan, dan dimana Agama-agama itu lahir ?

    3. Kalau masing-2 Agama mempunyai TUHAN sendiri-2, alangkah banyaknya TUHAN ini ! dan kalau betul demikian, bagaimana TUHAN-2 itu bersahabat dan berdebat ! dan mungkin berkelahi kali ! kalau betul TUHAN lebih dari satu ! (logika Manusia, APA IYA ?).

    4. Pastikan TUHAN ini Cuma satu dan tdk mungkin banyak (logika kita/ akal rasio, coba renungkan dalam-2).

    5. Jadi TUHANnya Orang Budha, Hindu, Kristen, Shinto, Kong Huchu, ISLAM, aliran kepercayaan mungkin SAMA ? dan hanya SATU (maha Esa !) TUHAN.

    6. Kalau TUHAN hanya satu dan Cuma satu-satunya, yang mana diantara TUHAN-TUHAN itu yg mrpk TUHAN sesungguhnya dan siapa beliau ini ? (Mr. X itu ?) dan spt apa wujudnya TUHAN itu ? (setiap orang akan berpikir sesuai dg persepsi masing-2 kan ).

    7. Bagaimana manusia (ciptaannya) mengetahui bhw Dia adl TUHANnya dan bagaimana TUHAN menyatakan dirinya serta memberitahukan bhw Dirinya adl TUHAN yg sesungguhnya bagi alam semesta beserta isinya (manusia, fauna, & flaura) ?.

    8. Silahkan pelajari semua agama (PROTESTAN, KATHOLIK, ADVENT, ISLAM, HINDU, BUDHA, SINTO, KONG HUCHU, Aliran Kepercayaan) berikut kitab-2 sucinya (TAURAT, JABUR, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, INJIL, AL QUR`AN, WEDA, Dll) apa saja isi kitab-kitab suci dan bagaimana proses diturunkan (dibuatnya) ?

    9. Jangan pernah berhenti mencari TUHAN yg sesungguhnya, niscaya dan insyaa ALLAH, TUHAN yg sesungguhnya akan menemui kita.

    10. SELAMAT MENCARI, semoga TUHAN yg sesungguh akan segera menemui kita, amien.

    BISARA SIANTURI bercerita;

    Lelaki bernama Bisara Sianturi ini bukannya sembarangan lelaki. Dia ialah anak muda yang fanatik dengan agama Prostestan.
    Apa yang menarik mengenai Bisara ini, ialah percubaannya untuk mempengaruhi sebuah keluarga muslim di Medan agar menerima ajaran Kristian Prostestan berkesudahan dengan kegagalan. Namun dari ketewasannya berdialog dengan seorang haji, menjadi penyebab dia mendapat hidayah dari Allah SWT.

    Bisara Sianturi dilahirkan di Tapanuli Utara pada 26hb Jun 1949. Dia dibesarkan dalam didikan keluarga yang taat penganut Prostestan.
    Pada tahun 1968 Bisara telah merantau ke Kota Medan. Nasibnya agak baik kerana berkesempatan berkenalan dengan keluarga Walikota(Datuk Bandar) Medan ketika itu, Ahmad Syah. Dari kemesraan hubungan itu dia mendapat kesempatan tinggal bersama-sama di rumah keluarga walikota berkenaan.

    Bisara mengaku, selama tinggal di rumah keluarga walikota tersebut, dia cuba mendakwah anak-anak walikota itu lagu-lagu gereja. Kebetulan anak-anak walikota dekat dengannya dan suka dengan lagu-lagu yang diajarkannya. Sementara walikota sendiri tidak pernah marah kepadanya. Bahkan dia pernah bertanya kepada walikota tentang agama apa yang baik. Walikota itu menjawab, bahawa semua agama itu baik.

    Pemikiran terbuka walikota seperti itulah uyang membuatnya senang dan berani mengajarkan lagu-lagu gereja kepada anak-anaknya. Menurutnya, kalau orang sudah memeliki pemikiran seperti ini, biasanya akan mudah diajak masuk Kristian.”Saya berniat mengkristiankan keluarga ini. Pertama-tama melalui anak-anaknya dulu. Makanya saya ajari mereka lagu-lagu gereja. Anehnya, mereka suka sekali dengan lagui-lagu yang saya ajarkan,” kenang Bisara Sianturi.

    Usaha Bisara untuk mengkristiankan keluarga walikota melalui anak-anaknya ternyata tidak boleh berjalan dengan lancar. Di rumah walikota itu tinggal juga bapa mertuanya, Haji Nurdin. Meskipun walikota tidak merasa keberatan anak-anaknya diajarkan lagu-lagu gereja, tetapi Haji Nurdin tidak suka kalau cucu-cucunya diajarkan lagu-lagu gereja oleh Bisara.

    Pada suatu petang, di ruang depan rumah walikota, Haji Nurdin mengajak Bisara untuk bercakap masalah serius. Haji Nurdin yang luas pengetahuan agamanya ini mengajaknya berdialog mengenai agama. Bahkan beliau menawarkan diri untuk masuk Kristian jika Bisara mampu menyakinkan Haji Nurdin melalui hujah-hujahnya.

    “Kalau kamu boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan benar, saya berserta keluarga saya seluruhnya dengan ikhlas dan sukarela akan mengikuti kepercayaan kamu,” kata Haji Nurdin waktu itu. Tawaran itu tentu saja menggugat hati Bisara. Dia dengan bersemangat menyanggupinya. Dia mengira akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Haji Nurdin dengan mudah. Ternyata kemudiannya semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Haji Nurdin membuat keyakinnannya terhadap Kristian pula goyah.

    “Mana lebih dahulu Tuhan dengan air?” tanya Haji Nurdin.
    “Pak Haji ini bercanda. Anak kecil juga bisa menjawab,” ucap Bisara.
    “Saya tidak bercanda. Kalau kamu boleh menjawapnya, saya dan keluarga akan masuk agamamu!” tegas Haji Nurdin.
    “Tentu lebih dahulu Tuhan, kerana Tuhanlah yang menciptakan air,” jawab Bisara.

    “Kalau begitu, bila Tuhan kamu lahir? Bukankan Tuhanmu, Jesus, lahir pada tahun 1 Masehi? Bukankah tarikh Masehi yang kita pakai sekarang ini mengikuti tarikh kelahiran Jesus? Bukankah sebelum Jesus lahir setelah ada air? Kalau begitu air lebih dulu ada sebelum adanya Tuhanmu?” balas Haji Nurdin. Bisara kebingungan sendiri. Tetapi dia dengan mudah menjawabnya kembali.
    “Jesus itu’ kan anaknya Tuhan.”
    “Bukankah dalam ajaran agamamu dikenal ajaran “Trinitas” yang menganggap tiga tuhan, iaitu Tuhan Bapak, Jesus dan Roh Kudus sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan? Satu bererti tiga dan tiga bererti satu. Kalau demikian, tidak mungkin kita memisahkan Tuhan Bapak, Jesus dan Roh Kudus.

    “Kalau Tuhan Jesus jatuh atau diragukan dengan pertanyaan seperti tadi, bererti yang lain juga ikut jatuh,” kata Haji Nurdin.
    Bisara tambah bingung. Ianya tidak boleh membantah lagi.
    “Yang kedua. Dalam Injil Matius pasal 27 ayat 46, disebutkan bahawa Jesus meminta tolong ketika sedang disalib. Cuba kamu fikir, bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Sempurna minta tolong, Kalau Tuhan minta tolong, bererti dia tidak pantas dianggap Tuhan,” kata Haji Nurdin.

    Kali ini Bisara tambah terkejut. Dia tidak menyangka Haji Nurdin mengerti banyak tentang Injil. Oleh itu, dia tidak mampu menjawab lagi.
    Bisara kesal, meskipun semua meresap ke dalam hatinya, tetapi ia tidak menerima begitu saja. Dia balik bertanya kepada Haji Nurdin tentang kebiasaan orang islam menyunat anak-laki-lakinya.

    Al-Haj Lord Headly Al-Farooq
    Seorang Bangsawan, Negarawan dan Pengarang
    Mungkin ada kawan-kawan saya yang mengira bahwa saya telah terpengaruh oleh orang-orang Islam. Dugaan itu tidak benar, sebab kepindahan saya kepada agama Islam adalah timbul dari kesadaran saya sendiri, hasil pemikiran saya sendiri.
    Saya telah bertukar pikiran dengan orang-orang Islam terpelajar tentang agama hanya terjadi beberapa minggu yang lalu. Dan perlu pula saya kemukakan bahwa saya sangat bergembira setelah ternyata bahwa semua teori dan kesimpulan saya persis seluruhnya cocok dengan Islam.
    Kesadaran beragama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur’an, harus timbul dari kebebasan memilih dan putusan yang spontan, dan tidak boleh ada paksaan. Mengenai hal ini, Jesus Al-Masih menyatakan kepada para pengikutnya:
    “Dan orang tidak akan dapat menerima kamu atau memperhatikan kata-kata kamu, apabila kamu meninggalkan dia.” — Injil Markus, VI, 2.
    Saya banyak mengetahui tentang aliran Protestan yang fanatik, yang berpendapat bahwa kewajiban mereka ialah mendatangi rumah-rumah orang Katolik Roma untuk mengusahakan supaya kawan-kawan se-“kandang”-nya itu bertaubat. Tidak bisa diragukan lagi bahwa tindakan yarig menyolok ini, adalah suatu tindakan yang tidak jujur, bahkan setiap jiwa yang murni akan mengutuknya, karena hal itu dapat membangkitkan pertentangan-pertentangan yang menodai keluhuran agama. Maaf saya katakan, bahwa kebanyakan misi Nasrani juga telah mengambil langkah-langkah yang sama terhadap saudara-saudaranya yang memeluk agama Islam. Saya tidak habis pikir; mengapa mereka selalu berusaha memurtadkan orang-orang yang pada hakekatnya lebih dekat kepada ajaran Jesus yang sebenarnya dari pada mereka sendiri?! Saya katakan demikian, sebab dalam hal kebaikan, toleransi dan keluasan berpikir dalam akidah Islam lebih dekat kepada ajaran Kristus, dari pada ajaran-ajaran sempit dari Gereja-gereja Kristen sendiri.
    Sebagai contoh ialah Kredo Athanasia yang mengecam akidah Trinitas dengan keterangannya yang sangat membingungkan. Aliran ini yang sangat penting dan berperanan menentukan dalam salah satu ajaran pokok dari Gereja, menyatakan dengan tegas bahwa dia mewakili ajaran Katolik, dan kalau kita tidak percaya kepadanya, kita akan celaka selama-lamanya. Tapi kita diharuskan olehnya supaya percaya kepada akidah Trinitas. Dengan kata lain. Kita diwajibkan beriman kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Agung, kemudian pada waktu yang sama kita diharuskan menutupinya dengan kezaliman dan kekejaman, seolah-olah kita menutupi manusia paling jahat. Sedangkan Allah swt. amat jauh dari kemungkinan bisa dibatasi oleh rencana manusia lemah yang mempercayai akidah Trinitas atau Tatslits.
    Masilh ada satu contoh lagi tentang kemauan berbuat baik. Saya pernah menerima surat –tentang kecenderungan saya kepada Islam– dimana penulisnya menyatakan bahwa apabila saya tidak percaya kepada ke-Tuhan-an Yesus Kristus, saya tidak akan mendapat keselamatan. Pada hal soal ke-Tuhan-an Yesus itu menurut pendapat saya tidak sepenting soal: “Apakah Yesus Kristus telah menyampaikan Risalah Tuhan kepada manusia atau tidak?” Jika saya meragukan soal ini, pastilah pikiran saya akan tergoncang. Akan tetapi, alhamdulillah, saya tidak ragu-ragu sedikitpun, dan saya harap bahwa kepercayaan saya kepada Yesus dan segala ajarannya tetap kuat seperti keyakinan setiap orang Islam atau setiap pengikut Yesus Kristus. Sebagaimana yang sering saya kemukakan bahwa agama Islam dan agama Kristen yang diajarkan oleh Yesus sendiri, adalah laksana dua saudara sepupu. Antara kedua agama itu hanya berbeda dengan adanya dogma-dogma dan tatacara yang mungkin tidak diperlukan.
    Sekarang ini manusia sudah mulai menjurus kepada ketiadaan iman kepada Allah s.w.t. manakala mereka diminta supaya percaya kepada dogma-dogma dan kepercayaan-kepercayaan yang berpandangan sempit, dan dalam waktu yang bersamaan manusia haus kepada suatu agama yang dapat berbicara kepada akal dan athifah (sentiment) kemanusiaan.
    Siapakah yang pernah mendengar bahwa seorang Muslim menjadi seorang atheist? Memang mungkin ada beberapa kejadian, tapi saya sangat meragukannya. Saya tahu ada beribu-ribu orang pria dan wanita, yang dalam hatinya adalah Muslim, akan tetapi secara biasa mereka tidak berani mengemukakan isi hatinya secara terang-terangan, dengan maksud supaya bisa menghindari gangguan-gangguan dan kesulitan-kesulitan yang akan dialami kalau mereka menyatakan ke-Islamannya secara terbuka. Justru saya sendiri mengalami yang demikian itu selama 20 tahun dalam keimanan saya secara terang-terangan yang telah menyebabkan hilangnya pikiran baik dari teman-teman saya.
    Saya telah menerangkan alasan-alasan saya, mengapa saya menghormati ajaran-ajaran Islam, dan saya umumkan bahwa saya sendiri telah memeluk Islam lebih baik dari pada sewaktu saya masih seorang Kristen. Saya hanya bisa mengharap bahwa kawan-kawan saya mau mengikuti contoh ini yang saya tahu adalah suatu contoh yang baik, yang akan membawa kebahagiaan kepada setiap orang yang memandang langkah hidup saya sebagai suatu kemajuan dan jauh dari bersifat bermusuhan terhadap agama Kristen.
    Tentang Pengarang : Lord Headly Al-Farooq
    Lord Headly Al-Farooq dilahirkan pada tahun 1855. Beliau adalah seorang bangsawan Inggris, negarawan dan pengarang. Belajar pada Universitas Cambridge dan menjadi seorang bangsawan pada tahun 1877, mengabdikan diri dalam kemiliteran dengan pangkat Kapten, dan terakhir sebagai Letnan Kolonel dalam Batalion IV Infanteri di North Minister Fusilier. Walaupun beliau seorang insinyur, beliau berkecimpung juga dalam bidang kesusastraan. Beliau pernah menjabat sebagai Redaktur s.k. “Salisbury Journal” dan banyak mengarang buku-buku, dan yang paling terkenal ialah “A Western Awakening to Islam”.
    Beliau telah menyatakan ke-Islaman-nya pada tanggal 16 Nopember 1913 dan berganti nama menjadi Syaikh Rahmatullah Al-Farooq. Beliau banyak melakukan perjalanan, dan pernah mengunjungi India pada tahun 1928.

  4. Salam…
    Selamat menjalankan ibadah puasa..
    Maaf yaa agak telat membalas posting dan commentnya..
    Cukup panjang dan detil sekiranya saya harus menanggapi commentnya di sini, saya belum sempat posting tulisan saya ihwal Mengapa Kita Beragama?,yang sedikit banyakanya bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan pertama hingga keempat, tapi saya telah mengupload tulisan tersebut dalam bagian artikel site http://www.wisdoms4all.com/Indonesia, silahkan Anda rujuk ke sana.. Adapun pertanyaan dan pernyataan yang lain, insya Allah kalau ada kesempatan, saya akan menuliskannya. Thanks atas sharing kisahnya.. kisah yang menarik.
    Oya..berbicara tentang Tuhan dan segala fenomena ttg ketuhanan, saya persilahkan Anda untuk browse ke site resmi saya, http://www.wisdoms4all.com/Indonesia, di site ini dibahas secara sistematis dan nyaris tuntas pembahasan masalah-masalah ketuhanan dan challenging issues tentangnya, atau bahkan Silahkan Anda ikut jadi member MILISNya untuk membiacarakan masalah ini…

    Bye…

    Eurekamal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: