Manusia dan Filsafat Penciptaan

Mukaddimah

Permasalahan yang berhubungan dengan filsafat kehidupan dan tujuan penciptaan bukanlah hal baru bagi manusia, dan di sepanjang sejarah pada setiap masyarakat terdapat banyak individu mengkaji tema ini, hal ini nampak dari perspektif dan amal perbuatan mereka yang beragam. Jawaban yang memuaskan atas persoalan ini banyak dijumpai dibeberapa karya para filosof dan pemikir lainnya. Usaha cemerlang dari para filosof Yunani, pemikir Romawi dan para teolog dari mazhab-mazhab yang besar tentang penafsiran atas kehidupan hakiki manusia, ini juga merupakan dalil yang jelas untuk menetapkan bahwa persoalan tersebut telah direnungkan secara mendalam. Berdasarkan realitas ini, permasalahan tentang filsafat penciptaan dan tujuan kehidupan dalam konteks sejarah sejalan dengan peradaban manusia itu sendiri. Meskipun belum terdapat pembahasan tersendiri secara mendetail yang berhubungan dengan filsafat dan tujuan penciptaan pada tiga abad terakhir, dan pada masa kini hal tersebut telah dijadikan tema mandiri dan dikaji secara mendetail dan hangat.

          Kehangatan pembahasan tema ini pada zaman moderen karena tidak tercapainya harapan kemanusian yang diamanatkan kepada ilmu dan teknologi, walaupun apa yang telah dicapai sekarang ini berada kurang kebih pada puncak kesempurnaan material, teknologi dan informasi, tetapi peradaban manusia dari dimensi psikologi dan spiritual mengalami kemunduran yang luar biasa dimana belum pernah diprediksi oleh manusia sendiri. Kezaliman, ketidakadilan dan penderitaan umat manusia yang terjadi pada masa kini jauh lebih buruk dan menakutkan dari apa yang terjadi pada masa lampau, manusia lebih rendah daripada binatang dan lebih licik dari iblis.  

          Kita mengetahui bahwa untuk membahas setiap pokok masalah langkah pertama yang diambil adalah meneliti dan mengkaji secara tepat substansi dan latar belakang munculnya tema permasalahan dari semua aspek dan dimensi. Begitu banyak kritikan dan sanggahan atas pembahasan yang berhubungan dengan fenomena-fenomena alam keberadaan karena dipengaruhi oleh faktor ketiadaan pengamatan dan pengkajian yang tepat atas latar belakang permasalahan.

          Oleh karena itu, untuk mengenal dan mengungkap rahasia filsafat penciptaan dan tujuan hakiki kehidupan manusia maka yang pertama harus dilakukan adalah mengkaji faktor-faktor dan motivasi-motivasi yang menyebabkan manusia lebih terdorong untuk memperhatikan dimensi filsafat penciptaan dan tujuan kehidupannya.

          Dalam hal ini, adalah suatu kekeliruan apabila kita memandang bahwa solusi dari setiap masalah-masalah yang berkaitan dengan esensi manusia sama dengan kita menarik suatu garis lurus untuk menghubungkan antara titik awal dan titik akhir. Yang terbaik adalah memaparkan hal-hal yang substansial dan esensial kemudian mencari solusinya yang tepat. Di bawah ini akan kami jabarkan secara terperinci berbagai latar belakang dan alasan-alasan manusia untuk mesti berpaling dan merenungkan kembali filsafat penciptaan dan tujuan kehidupannya.

1. Kehidupan Dunia yang Trasient

          Mayoritas manusia ketika memandang aspek ketaklanggengan (transient), ketidakabadian, dan keterbatasan kehidupan di dunia ini lantas melahirkan pertanyaan-pertanyaan tentang filsafat penciptaan dan tujuan kehidupan. Semua  kebahagiaan, kenikmatan, dan kebaikan di dunia ini mesti mengalami kefanaan, kehancuran, dan kepunahan. Tak satupun dari perkara dan realitas kehidupan yang abadi dan langgeng. Inilah sebuah kenyataan yang tak satu pun manusia mengingkarinya. Di lubuk hatinya yang terdalam ia bertanya: Apakah tujuan dan arah kehidupan? Apakah hakikat penciptaan alam yang tak abadi ini? Apakah makna dan nilai-nilai kehidupan di dunia ini? Apakah substansi dan esensi kehidupan material ini? Apakah yang diinginkan dari kehidupan seperti ini? Apakah masa kanak-kanak harus berakhir dengan masa remaja? Apakah masa remaja mesti berujung pada masa dewasa dan masa tua? Bukankah setelah semua penderitaan, kesedihan, dan kemalangan yang di alami manusia di dunia ini berakhir niscaya beralih pada kebahagiaan, kegembiraan, dan keberuntungan manusia? Bagaimana dengan segelintir manusia yang selama hidupnya senantiasa mengalami penderitaan dan kezaliman?

          Pada dasarnya manusia senantiasa merindukan kesempurnaan, kebaikan, dan kebahagiaan hakiki, apabila ia telah mendapatkan apa yang dicita-citakan, maka mustahil ia menanyakan dan merenungkan kembali hal-hal yang berhubungan dengan hakikat hidup, filsafat penciptaan, dan tujuan kehidupan.

2. Misteri Kematian

          Kehidupan setiap manusia, baik yang dijalani dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan atau dilalui dengan segala penderitaan, kemalangan, dan kezaliman harus berujung dan berakhir dengan realitas kematian. Kematian merupakan suatu kenyataan yang tidak mungkin dipungkiri dan mustahil ditolak oleh semua manusia bahkan oleh setiap makhluk. Seluruh manusia jujur berkata bahwa satu-satunya kenyataan dalam catatan kehidupan mereka adalah kematian.

          Ketika manusia melihat kehidupannya sendiri, ia mendapatkan kehidupannya yang harus berujung pada gerbang kematian. Ia lantas merenung bahwa mengapa kehidupan dunia ini tercipta dan setelah menjalaninya untuk beberapa waktu lamanya dalam kubangan lumpur penderitaan mesti berakhir pada kematian? Kenapa tidak dari awalnya kehidupan alam materi ini dibentuk secara abadi dan berkepanjangan? Apakah permainan kehidupan ini yang ujungnya adalah kematian mempunyai arah dan tujuan? Apakah substansi dan esensi kehidupan?

          Begitu banyak manusia yang dapat kita saksikan bagaimana dalam kehidupannya bersikap acuh tak acuh terhadap hakikat dan tujuan penciptaan, tetapi ketika mendengar atau menyaksikan langsung kematian salah satu dari keluarga yang dicintainya maka ia seketika tersentak dan kemudian larut merenungan kembali tentang filsafat penciptaan dan tujuan kehidupan manusia di dunia ini.

3. Kegagalan dalam Cita-Cita   

          Pengaruh yang cukup besar dalam upaya mengalihkan manusia untuk kembali merenungkan tentang tujuan hakiki kehidupan dunia adalah ketika manusia menghadapi beragam kegagalan dan putus asa dalam menggapai cita-cita dan keinginan duniawi.

          Dalam menjalani kehidupan di alam fana ini manusia diharuskan merancang cita-citanya yang relatif itu dan kemudian berupaya untuk mencapainya dengan segala kemampuan yang ada padanya. Tetapi sangat disayangkan, manusia yang semestinya menjadikan cita-cita yang relatif itu sebagai perantara meraih tujuan hakiki dan filsafat kehidupan, hanya akan berpaling kepada cita-cita hakiki ketika mulai terjebak dan tersudut di pojok kehidupan, putus asa, dan tak mampu lagi berbuat yang terbaik bagi kehidupan duniawinya.

          Point yang perlu juga diperhatikan di sini berhubungan dengan perenungan kembali persoalan hakikat dan filsafat penciptaan adalah ketinggian cita-cita seseorang. Sebagai contoh, seorang musafir yang menentukan tujuan perjalanannya pada wilayah tertentu dalam waktu yang terbatas. Ketika ia tidak dapat mencapai tujuan perjalanannya itu terkadang ia merenung sejenak mengenai arti kehidupan dan tujuan manusia dihamparan kehidupan alam materi ini. Tapi manusia seperti ini, ketika waktu berlalu dan mendapatkan lagi sebuah keinginan baru yang menggantikan cita-citanya yang dulu, maka ia kembali lupa dan tidak menghiraukan lagi tujuan hakikinya yang dulu ia tetapkan. Hal ini berbeda dengan seorang kaya dan berilmu yang mematok cita-cita duniawi setinggi langit dan kemudian berupaya di sepanjang umurnya dengan mengerahkan segala potensi yang dimilikinya dalam mencapai cita-citanya tersebut. Apabila telah bertahun-tahun lamanya berusaha namun apa yang dicita-citakannya sama sekali tak kunjung tercapai, ia malah semakin bangkrut dan akhirnya putus asa. Dalam keputus-asaannya, ia menggugat peran kekayaan dan keilmuannya yang tidak dapat menafsirkan secara benar dan bisa mengantarkan kehidupannya kepada apa-apa yang dicita-citakan, di saat seperti ini, terkadang akan mengarahkan pikiran-jernih dan menggoyah kesadaran batinnya untuk kembali merenungkan tujuan hakiki kehidupan dan filsafat penciptaan.

4. Kondisi Kehidupan Sosial yang Tak Menguntungkan

          Keadaan kehidupan masyarakat yang sarat dengan problem dan masalah yang sulit mencari solusi dan pemecahannya merupakan salah satu faktor yang dapat membuat manusia kembali merenungkan makna kehidupan dan tujuan penciptaannya.

          Seorang miskin yang jauh dari kenikmatan kehidupan duniawi, kehidupannya dijalani dengan segala penderitaan, usaha keras dan banting tulang dari pagi hingga malam hari terus mencari sesuap nasi dan memenuhi segala kebutuhan primernya, orang seperti ini yang hanya mendapatkan penderitaan dan kemalangan hidup niscaya akan merenungkan kembali makna dan arti kehidupan. Mengapa kita mesti hadir di dunia ini sehingga harus menjalani kehidupan dengan penuh penderitaan dan kemalangan?

          Sudah tentu ada diantara orang-orang yang tidak mendapatkan hak-haknya, tidak berhasil, dan tidak rela dengan keadaan hidupnya di dunia ini pasti akan melontarkan perkataan tentang arah dan tujuan kehidupan duniawi. Tapi kalau diperhatikan sejenak, begitu banyak orang-orang seperti ini bila meraih apa yang dikehendakinya di dunia ini kemungkinan besar tidak memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan makna dan tujuan penciptaan, karena mereka sesungguhnya hanya menginginkan perubahan kondisi kehidupan duniawinya dan lantas menempatkan secara salah pertanyaan tentang tujuan hidup.

5. Pertanyaan Hakiki tentang Filsafat Penciptaan

          Hal-hal yang dikemukakan di atas belumlah menyentuh jawaban hakiki dari permasalahan tujuan kehidupan dan filsafat penciptaan, mereka yang mencari jawaban itu pada dasarnya hanyalah bersifat aksidental karena penderitaan hidup senantiasa meliputi diri mereka. Tapi bagi mereka yang tidak lagi dipengaruhi oleh watak kehidupan material dan bahkan menguasai seluruh sendi kehidupan duniawi, memandang kehidupan dunia ini dan segala realitas keberadaan niscaya akan mendapatkan jawaban hakiki atas pertanyaan tentang filsafat hidup dan tujuan penciptaan tersebut.

          Memandang kehidupan dunia ini secara hakiki, hanya bisa dirahi ketika manusia lepas dari pengaruh emosional dan kejiwaan yang menimpa kehidupan dunianya dan melihatnya dengan jiwa yang suci dan perenungan rasional, dengan demikian ia akan mencapai masalah yang hakiki mengenai tujuan penciptaan dan jawaban atasnya.

          Sesungguhnya jawaban atas masalah tersebut ada dalam jiwa setiap manusia, tujuan dan filsafat penciptaan tidak terletak di dalam kehidupan material dan fenomena-fenomena lahiriah seperti makan, minum, dan tidur serta kecenderungan-kecenderungan alami lainnya.

Apabila manusia telah puas dengan kehidupan material dan duniawi ini, maka ia tak lagi mengejar pertanyaan-pertanyaan tentang dari mana kita datang? Kenapa kita lahir di dunia ini? Dan hendak kemana kita pergi? Atau paling tidak jawaban dari pertanyaan ini tidak ditafsirkan dan diarahkan kepada kehidupan duniawi dan material.

Para pengikut filsafat nihilisme juga melakukan suatu kesalahan besar, karena mereka memandang bahwa kehidupan hakiki hanyalah kehidupan dunia-material. Oleh karena itu, segala hal, termasuk tujuan dan filsafat penciptaan didasarkan dan ditafsirkan berdasarkan watak kehidupan duniawi. Mereka menolak tujuan lain selain ini.

Pandangan yang berlawanan dengan perspektif di atas adalah bahwa kehidupan dunia-material bukanlah tujuan akhir dan hakiki, mereka beranggapan bahwa alam itu tidak terbatas pada alam materi saja melainkan terdapat juga alam akal dan mitsal (barzakh)[1]. Alam-alam ini, walaupun mempunyai tujuan-tujuan sementara, tetapi secara universal memiliki tujuan akhir dan hakiki. Adalah suatu kesalahan apabila kita memandang bahwa kumpulan dari tujuan-tujuan setiap alam itu merupakan tujuan esensial dan hakiki. Tujuan hakiki tak lain adalah tujuan akhir seluruh penciptaan dan realitas kehidupan.

Manusia dan Filsafat Penciptaan

          Manusia sangat memerlukan pemahaman tentang filsafat hidup dan tujuan penciptaan, karena dengannya ia berbuat dan berprilaku di dunia ini. Namun sebagian pemikir yang semestinya menfokuskan pikiran-pikirannya untuk mengarahkan dan membantu umat manusia meraih tujuannya malah menjadi batu penghalang bagi kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki manusia. Seringkali kita mendengar sebagian intelektual menyatakan bahwa dengan keberadaan krisis-krisis yang meliputi dunia sekarang ini tidak seharusnya waktu kita dihabiskan untuk menggali dan mengetahui filsafat penciptaan, manusia mestinya  memusatkan segenap pemikirannya dalam bidang ekonomi dan sosial untuk mencari solusi yang terbaik bagi permasalahan kehidupan ini.

          Para pendukung gagasan ini lalai atas suatu hakikat bahwa jika manusia tidak mengenal substansi filsafat penciptaannya sendiri, maka sangat banyak problematika yang mustahil dapat terpecahkan. Selain dari itu, manusia dipaksa oleh hati nuraninya sendiri untuk memahami tujuan penciptaan dan filsafat kehidupannya, karena tanpa itu ia tidak dapat menjani kehidupan di alam ini secara sempurna dan bahagia.

          Kita mengetahui bahwa apabila manusia tidak memahami filsafat penciptaannya, maka mustahil ia memiliki suatu ideologi. Walaupun tidak semua ideologi bisa digolongkan sebagai filsafat penciptaan. Oleh karena itu, dengan memperhatikan dua premis di bawah ini manusia seharusnya mengetahui dan menghayati filsafat penciptaan:

1. Manusia niscaya memiliki ideologi dalam kehidupannya.

2. Tidak semua ideologi yang identik dengan filsafat penciptaan.

Untuk memahami lebih jauh permasalahan ini, di bawah ini akan

dijelaskan beberapa hal, antara lain:

1. Pengertian Ideologi

          Ideologi adalah segala hal yang diposisikan sebagai pusat kecenderungan, landasan segala prilaku, dan tujuan semua perbuatan manusia serta dapat memberikan solusi dan pemecahan terhadap apa yang berhubungan dengan tealitas kehidupan manusia.

          Kecenderungan kepada ideologi terdapat dalam diri manusia, dan pada kesempatan ini tidak dibahas bahwa apakah kecenderungan ini merupakan kecenderungan esensial atau aksidental? Dalam hal ini, hanya diisyaratkan bahwa kecenderungan ideologis hanya ditemukan dalam diri manusia dan binatang karena tidak memiliki kehendak dan pengetahuan tidak mempunyai kecenderungan seperti ini.

          Ideologi adalah landasan gerak dan perbuatan manusia, dengan ungkapan lain ideologi merupakan bentuk pilihan dan puncak tujuan manusia. Setiap manusia akan menjalin komunikasi dan hubungan sosial kemasyarakatan berdasarkan landasan ideologi yang dianutnya. Kecenderungan kepada ideologi dari dimensi ini merupakan hal yang penting karena manusia akan berusaha dan terus bersabar atas segala penderitaan dan kesulitan yang dihadapinya untuk sampai pada tujuan dan cita-cita ideologisnya. Bahkan manusia rela mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk membumikan kecenderungan ideologisnya.

          Salah kekhususan ideologi adalah bahwa manusia, sadar atau tak sadar, membandingkan segala fenomena dan perkara dengannya dan bahkan menjadikannya sebagai tolok ukur dalam menimbang dan mengkaji nilai-nilai yang berhubungan dengan realitas kehidupannya. Sebagai contoh, seseorang yang meletakkan ilmu sebagai nilai penting kehidupannya, maka manusia yang paling berharga adalah manusia yang paling banyak ilmu dan pengetahuannya, dalam hal ini tidak dibedakan bahwa ilmunya bermanfaat bagi kemanusiaan atau tidak. Atau seseorang yang menempatkan pelayanan terhadap orang lain sebagai ideologinya, dengan demikian ia akan menilai orang lain sesuai dengan kualitas pelayanannya kepada manusia, manusia yang paling terhormat dan berharga dalam pandangannya adalah orang yang khidmatnya pada manusia paling banyak dan berkualitas.

2. Urgensi Ideologi dalam Kehidupan Individu dan Masyarakat

          Dalam pembahasan tentang ideologi, juga dikaji bahwa apakah keberadaan idealitas memiliki peran sentral dalam kehidupan manusia ataukah tidak? Apakah manusia dapat menjalani kehidupannya tanpa menganut suatu ideologi? Apakah suatu ideologi hanya bermanfaat bagi kehidupan individual ataukah juga berfaedah untuk kehidupan bermasyarakat? Apakah faktor internal dan eksternal yang mendasari kemestiaan manusia untuk menganut suatu ideologi tertentu?

          Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa urgensi ideologi dalam kehidupan memiliki dua pengertian, yaitu bisa dipahami sebagai sebab yang memotivasi manusia untuk memiliki suatu ideologi dan juga bisa dijabarkan sebagai akibat dari kehidupan yang bertujuan. Contohnya, ketika kita menyatakan bahwa suatu kehidupan mustahil memiliki nilai tanpa keberadaan ideologi (urgensi ini digolongkan sebagai sebab dan dalil atas kemestian ideologi dalam kehidupan), atau dikatakan bahwa apabila seseorang memiliki ideologi dalam kehidupannya, maka pasti kehidupannya bermakna dan bertujuan serta tidak bisa terjebak dalam nihilisme pemikiran dan perbuatan, dengan demikian ia mendapatkan nilai-nilai baru yang lebih tinggi dan lebih sempurna daripada nilai-nilai yang dijalaninya secara rutinitas, seperti makan, tidur, dan pakaian.

a. Nilai Kehidupan Hanya dengan Ideologi

          Kehidupan manusia tanpa ideologi akan kehilangan makna dan nilai. Mayoritas umat manusia yang terperangkap dalam nihilisme dan menganggap bahwa hidup ini tidak mempunyai tujuan karena mereka belum mendapatkan suatu penjelasan rasional dari tujuan kehidupan.

          Seorang yang tidak memiliki ideologi yang rasional ia pasti akan merasakan beban yang sangat berat dalam menjalani kehidupan ini. Manusia yang tidak mempunyai tujuan dalam kehidupannya seperti seorang yang akan tenggelam di tengah gelombang laut yang besar dan telah putus asa dengan keselamatannya. Sebuah ideologi dapat memberikan harapan kepada manusia dan dengan harapan manusia bisa mendapatkan motivasi dalam kehidupan. Dengan demikian ia bisa menjalani kehidupan ini dengan pandangan dunia yang baru sehingga tak terjebak lagi dengan kenikmatan-kenikmatan lahiriah dan bahkan penderitaan yang dialaminya dipandang sebagai bentuk pelatihan bagi kesempurnaan dan kemapanan dirinya sendiri. Ia memandang hidup ini dengan perspektif positif, semua perkara yang terjadi di dunia ini diterima sebagai suatu kemestian hidup yang mengandung hikmah untuk kebaikan dan kesempurnaan manusia itu sendiri. Dengan ideologi manusia dapat berkhidmat lebih besar kepada kemanusiaan.

          Hanya dengan ideologi manusia memperoleh nilai-nilai yang lebih tinggi dari sekedar makan, tidur, pakaian dan bersenang-senang.

Hanya dengan ideologi manusia dapat meyakini bahwa kehidupan ini bukan kumpulan dari pengulangan-pengulangan yang mengantarkan manusia kepada kekosongan, ketiadaan, kefanaan, dan nihilisme. Dan hanya dengan ideologi detik-detik kehidupan manusia menjadi bernilai dan dapat memanfaatkan secara benar kesempatan hidupnya di dunia.

Kita banyak menyaksikan orang-orang yang dengan kesabaran yang tinggi menjalani kehidupannya yang serba sulit dan penuh penderitaan yang jika kita analisa, maka kita akan dapatkan bahwa landasan dan napas segala perbuatan baik, pikiran positif, dan apresiasi yang tinggi terhadap kehidupan ini tidak lain adalah tujuan dan ideologi itu sendiri. Berbeda dengan sekelompok manusia yang tidak mempunyai tujuan dan ideologi, ketika ia berhadapan dengan persoalan dan penderitaan hidup yang sekalipun kecil ia akan cepat putus asa dan tidak bersabar, terkadang bunuh diri merupakan jalan keluar yang praktis baginya.

b. Cinta Kesempurnaan Memaksa Manusia Berideologi

          Kecenderungan kepada kesempurnaan adalah salah satu faktor internal yang memotivasi manusia berideologi. Setiap manusia cinta kepada kesempurnaan dan senantiasa berupaya untuk mengantarkan dirinya kepada kesempurnaan dengan segenap kemampuannya. Asa dan harapan manusia pada keadaan hidup yang lebih baik merupakan bukti nyata kecenderungan manusia pada kesempurnaan. Keinginan dan kecenderungan ini merupakan sesuatu yang esensial dalam diri manusia, kecenderungan ini mustahil dipisahkan dari wujud manusia.

          Segala upaya manusia disepanjang hidupnya disamping karena kecintaan kepada dirinya sendiri juga dimotivasi oleh kecenderungan esensialnya kepada kesempurnaan dan kebahagiaan. Sebagai contoh, seorang siswa yang belajar di sekolah dasar ingin cepat menyelesaikan pelajarannya dan melanjutkan sekolahnya ketingkat yang lebih tinggi hingga ke universitas, kecenderungannya belajar yang lebih tinggi ini tiada lain karena keinginannya untuk menyempurna dalam keilmuan. Atau seorang pedagang yang sangat giat dalam usaha perdagangan, ia berusaha sedemikian rupa agar bisa memperbaiki kondisi kehidupnya menjadi lebih baik, lebih makmur, dan lebih sempurna dari sisi materi.

          Perlu ditekankan di sini bahwa pertama, setiap individu manusia mempunyai kecenderungan pada kesempurnaan yang berbeda, seperti kesempurnaan yang diinginkan oleh pedagang akan berbeda dengan kesempurnaan yang dikehendaki oleh seorang siswa atau intelektual. Dalam hal ini, memang sangat bergantung kepada pengajaran dan pendidikan, pandangan dunia, lingkungan sosial, dan tingkat keilmuan, kecerdasan dan spiritual. Kedua, terdapat beberapa faktor dan sebab sebagai penghalang manusia dalam mencapai kesempurnaan, seperti seorang mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah kejenjang doctoral, tapi karena kendala keuangan akhirnya ia tak bisa meraih cita-citanya.

          Kecenderungan kepada kesempurnaan memaksa manusia untuk menentukan suatu bentuk kesempurnaan, kesempurnaan ini tidak lain adalah ideologi seseorang yang dengannya ia menjalani kehidupan dan senantiasa berupaya mencapai kesempurnaan yang dikehendakinya. Setiap individu masing-masing memiliki ideologi, terkadang ideologi seseorang adalah kekayaan materi, kekuasaan, ilmu, kecintaan, dan pelayanan kepada sesama manusia. Tak diragukan bahwa pemihakan seseorang terhadap suatu ideologi tertentu dikarenakan manusia ingin mengantarkan dirinya kepada kesempurnaan. Dari sinilah sehingga kita katakan bahwa kecenderungan manusia kepada kesempurnaan mendorong dan memotivasinya untuk memilih salah satu ideologi.

c. Ideologi, Unsur Motivator Manusia

          Ideologi sebagai faktor penggerak seluruh potensi yang dimiliki manusia. Manusia mempunyai bakat, kemampuan dan potensi-potensi yang tak terbatas dan untuk mengaktualkan potensi-potensi tersebut membutuhkan sebuah penggerak. Penggerak ini memberikan motivasi dan kekuatan inspirasi sedemikian kepada manusia sehingga seluruh potensinya menjadi aktual dan wujudnya menjadi sempurna.

          Begitu banyak manusia karena mengadopsi suatu ideologi yang keliru pada akhirnya mengalami kegagalan dalam menjalani kehidupan dan umurnya menjadi sia-sia yang selayaknya ia manfaatkan untuk mengaktualkan potensi-potensinya dan menyempurnakan wujudnya. Orang-orang seperti ini apabila menemukan suatu ideologi yang benar maka mereka tidak mungkin mengalami kegagalan dan terjebak dalam rutinitas kehidupan tanpa makna. Sebagai contoh, apabila seseorang meletakkan ilmu sebagai idealitasnya, walaupun idealitas ilmu tidak luput dari kekurangan, maka idealitasnya ini cukup menggerakkan ia untuk berjalan mengaktualkan potensi keilmuannya sehingga menjadi seorang ilmuwan yang sempurna. Lantas bagaimana dengan manusia yang menemukan idealitas hidup hakiki (baca: filsafat penciptaan) dan menjadikannya sebagai pola kehidupan dalam mengarahkan segenap kemampuannya di jalan aktualisasi potensi dan penyempurnaan diri.

          Konklusinya, pilihan ideologi bisa mengaktualkan potensi-potensi yang merupakan bahan dasar bagi kesempurnaan wujud manusia.

d. Ideologi, Tolok Ukur Kesempurnaan

          Kehidupan manusia berdasarkan mekanisme internal wujudnya sendiri mengarah kepada kesempurnaan. Dalam esensi kehidupan ada gerak dan proses, gerakan ini mengarah kepada kesempurnaan.

          Apabila manusia memiliki ideologi dan tujuan hidup yang benar dan rasional, maka kehidupan manusia niscaya akan sampai pada arah dan tujuan hakiki. Pemihakan manusia terhadap ideologi yang benar akan memudahkan manusia menentukan mana jalan hidup yang benar karena ideologi sebagai tolok ukur dan petunjuk kebenaran. Disamping itu, ideologi juga menunjukkan tujuan dan jalan hidup yang sempurna.

          Ideologi bagi manusia sebagai alat banding yang bisa digunakan untuk menyingkap rahasia diri sendiri dan mengkaji ulang jalan hidup yang sementara dijalani. Dengan ideologi kita dapat menentukan titik kekeliruan dan kelemahan jalan hidup manusia, atau menentukan sisi kesalahan implementasi, aplikasi, titik kegagalan, titik kesempurnaan, faktor penyebab kegagalan dan keberhasilan, aspek positif perbuatan dan aspek negatif prilaku, dan kesempurnaan tujuan hidup manusia.

          Dalam banyangan ideologi manusia mampu mengetahui dimensi kekurangan-kekurangannya serta bagaimana menyempurnakannya.

 e. Ideologi Merupakan Pengontrol Jiwa 

          Salah satu fenomena penting yang terdapat dalam jiwa manusia adalah kecenderungan mengambil keuntungan dan manfaat. Berpijak pada kecenderungan ini, manusia senantiasa mencari keuntungan dan manfaat bagi dirinya sendiri dan terkadang untuk mewujudkan realitas kecenderungan itu tak segan-segan merampas hak-hak orang lain dan dengan serakahnya mengambil harta orang lain tanpa perasaan malu.

          Kecenderungan manusia ini yang hadir dalam bentuk dan sifat yang beraneka ragam, menjadi titik perhatian dan bahan pembicaraan kaum psikolog dan mereka menamakan fenomena kejiwaan tersebut dengan istilah yang beragam. Freud, psikolog barat terkenal, menamai fenomena itu dengan “aku” atau “ia” dan beranggapan bahwa “aku” ini berpijak pada kenikmatan dan kesenangan, ini berarti bahwa apa saja yang menyebabkan terwujudnya kesenangan dan kenikmatan untuk manusia maka akan membangkitkan kecenderungan egonya kemudian menarik “aku” ke arah kesenangan tersebut. Psikolog lain menyebut fenomena itu dengan “saya ingin” dan berkeyakinan bahwa keinginan-keinginan atau “saya ingin”manusia mempunyai daya tarik yang tidak terbatas. Dalam Islam fenomena ini disebut dengan “menyembah diri”.

          Seluruh hukum, undang, dan peraturan tentang hak-hak dan kewajiban manusia yang tercipta dilatar belakangi untuk mengontrol dan mengatur keinginan-keinginan jiwa yang tak berhingga itu supaya terwujud hubungan sosial kemasyarakatan yang adil dan beradab.

          Untuk mengatur kecenderungan manusia yang tak terbatas ini, sebagian menyatakan bahwa dengan perantaraan ilmu kecenderungan itu dapat terkontrol, yang lain beranggapan bahwa dengan etika dan akhlak hal tersebut bisa dikendalikan, dan sebagian berkesimpulan bahwa kecenderungan dan keinginan itu harus dimatikan karena tidak ada metode lagi yang efektif dapat mengendalikan dan mengaturnya.

          Etika, karena pada satu sisi tidak ada jaminan berlaku pada jiwa secara efektif dan sisi yang lain, etika itu sendiri hanyalah peraturan dan hukum yang berada di luar jiwa karena itu tidak mempunyai daya kontrol yang tetap dan esensial pada kecenderungan jiwa manusia. Hal ini juga berlaku pada hukum-hukum sosial, dimana hukum seperti ini tidak langsung berhubungan dengan substansi dan esensi jiwa.

          Ideologi dalam hal ini merupakan jalan efektif dan fundamental untuk mengendalikan dan mengatur kecenderungan jiwa manusia, karena sesuai dengan akal dan tidak mengabaikan hukum etika dan undang-undang sosial kemasyarakatan. Ideologi menarik manusia ke dalam dirinya sendiri sehingga bisa melihat hakikatnya yang terdalam, dengan demikian manusia dapat memandang sisi-sisi kehidupannya yang substansial dan meletakkannya pada dimensi yang lebih primer serta mendahulukannya di atas kecenderungan jiwa yang negatif. Hal ini menyebabkan kecenderungan jiwa yang tak terbatas bisa dikontrol.

          Berpihak pada ideologi hakiki menyebabkan manusia mengenal kedudukan dirinya yang sentral di alam eksistensial ini, pengenalan ini membuat manusia tidak mengarahkan lagi kekuatan pikiran dan jiwa demi melayani kecenderungan dan keinginannya yang tak terbatas itu. Dengan ideologi hakiki manusia dapat lepas dari pengaruh hawa nafsu dan suci dari keinginan jiwa yang negatif sehingga dapat memusatkan pikiran demi menggali dan memahami lebih banyak ideloginya sendiri.

          Kemampuan dan daya kendali atas kecenderungan jiwa yang tak terbatas hanya dimiliki oleh suatu ideologi yang hakiki, bukan semua ideologi yang dianut secara faktual oleh manusia. Misalnya, seseorang yang meletakkan kekayaan, kekuasaan, atau ketenaran sebagai suatu ideologinya, maka hal ini bukan hanya dengan ideologi itu ia tidak bisa mengontrol dan mengendalikan hawa nafsunya bahkan semakin dengan ideologi itu hawa nafsunya semakin berkembang dan aktif.

f. Ideologi, Mewujudkan Keseimbangan Sosial

          Membicarakan keseimbangan – apalagi keseimbangan sosial – akan mengarahkan pikiran kita pada keseimbangan ekonomi, karena kita sering menggunakan tolok ukur keseimbangan suatu masyarakat berdasarkan nilai perdagangan, nilai produksi, ekspor, dan impor. Jadi ketika ideologi diketengahkan sebagai faktor yang dapat menciptakan suatu keseimbangan sosial sebagian orang tidak mempercayainya.

          Dalam hal ini, bukan kita memungkiri keseimbangan ekonomi suatu masyarakat, karena tidak satupun manusia berakal meragukan kemestian memperhatikan masalah-masalah ekonomi suatu negara. Substansi pembicaraan kita di sini adalah keseimbangan ekonomi dan masalah-masalah ekonomi suatu masyarakat adalah alat dan bukanlah tujuan. Peradaban dan budaya suatu masyarakat dikatakan tinggi dan cemerlang ketika memiliki ideologi. Yakni setiap individu masyarakat berusaha mengarahkan masyarakatnya demi mencapai tujuan ideologi yang menjadi panutan mereka. Masyarakat yang tanpa ideologi akan kehilangan nilai karena mereka tak mengetahui apa keingingan hakiki mereka dan kemana mereka akan pergi. Peradaban masyarakat ini, cepat atau lambat akan mengalami kejatuhan dan kehancuran. Begitu banyak peradaban yang secara lahiriah sangat maju, tapi kalau dilihat secara internal sedang mengalami benturan dan ketidakharmonisan serta secara perlahan-lahan dan berevolusi menuju kehancuran, hal ini karena ideologi yang benar tidak bisa teraplikasi pada seluruh segmen masyarakat, mereka tidak mengetahui keinginan hakiki dan juga tidak memahami tujuan hidup yang mesti mereka capai.

          Gerak suatu masyarakat menuju kesempurnaan bersandar pada ideologi. Sangat disayangkan sebagian besar sosiolog dalam kajiannya terhadap kondisi sosial masyarakat tidak memperhatikan dimensi yang mendasar ini bahwa sejauh mana ideologi berperan dan mesti dianut oleh masyarakat. Kaum sosiolog ini hanyalah berusaha menyelesaikan permasalahan masyarakat secara permukaan dan bahkan menjadikan kecenderungan alami masyarakat itu sebagai tolok ukur yang prinsipil, mereka memandang bahwa paham sosialisme sebagai way of live bagi kemajuan infrastruktur dan suprastruktur suatu masyarakat. Sosiolog tidak menyelami hakikat eksistensial manusia kemudian menawarkan obat penyembuh bagi segala penyakit kronis yang diderita manusia.

g. Ideologi dan Kedudukan Manusia di Alam Semesta

          Pengetahuan manusia akan kedudukannya di alam eksistensial ini merupakan suatu perkara yang paling urgen dan prinsipil. Manusia senantiasa ingin mengetahui apa posisi dan kedudukannya di alam semesta ini, dari mana mereka datang, kemana mereka akan pergi, kenapa hidup di dunia ini, dan mengapa mesti meninggalkan dunia ini. Jawaban dari soal-soal ini merupakan kebutuhan substansial manusia.

          Untuk memahami semua perkara di atas, manusia memerlukan pandangan dunia dan ideologi yang benar. Tidak semua ideologi yang berserakan di dunia ini mampu memberikan solusi yang fundamental atas keseluruhan persoalan yang dihadapi manusia, dengan demikian selayaknya manusia bersungguh-sungguh mengkaji ideologi-ideologi yang ada ini dan memilih salah satu di antaranya yang paling rasional, komprehensif, aplikatif, proporsional, dan esensial bagi wujudnya.

h. Ideologi dan Persatuan Bangsa-Bangsa

          Tak diragukan bahwa penderitaan dan kemalangan akan meliputi dunia ini apabila tidak terwujud persatuan di antara bangsa-bangsa. Persatuan ini, bukan hanya dibutuhkan di antara bangsa-bangsa yang ada, tapi juga diperlukan di antara individu-individu dalam masyarakat atau di antara individu-individu dalam suatu kelompok. Tan-persatuan ini mustahil semua persoalan hidup dapat diselesaikan, karena tanpa perwujudan persatuan setiap individu akan melakukan kecenderungan dan keinginan jiwanya tanpa memperhatikan apakah kecenderungan mereka ini tidak membuat penderitaan dan kezaliman bagi orang lain.

          Permasalahan di sini adalah bagaimana mewujudkan persatuan di antara individu-individu dan bangsa-bangsa? Sebagian menyatakan bahwa tanah, darah, bahasa, dan suku merupakan faktor-faktor pemersatu manusia. Faktor-faktor ini tidaklah benar, dan alasan yang kuat menolak unsur-unsur ini tidak lain adalah pengalaman manusia itu sendiri yang terjadi pada setiap zaman. Kelompok masyarakat yang hidup dalam lingkungan bahasa, suku, tempat, dan kebangsaan yang sama tak mampu menyambung tali persatuan hakiki di antara mereka, dan bahkan kita menyaksikan sendiri bagaimana bangsa-bangsa yang memiliki bahasa yang sama saling berperang dan menjajah satu sama lain. Dengan demikian, satu-satunya faktor yang dapat menyatukan individu-individu, suku-suku, dan bangsa-bangsa adalah ideologi.

          Individu-individu masyarakat yang meyakini ideologi yang hakiki pasti mengarah kepada kesempurnaan, karena ideologi ini disamping melahirkan persatuan juga terwujud keharmonisan dan kerja sama.

          Berdasarkan perspektif di atas, ideologi mampu menggantikan faktor suku, bahasa dan kebangsaan, karena ideologi mempengaruhi substansi kejiwaan setiap individu-individu lantas menarik mereka ke arah persatuan. Tapi ideologi sangatlah tidak efektif dan tidak aplikatif dengan fenomena-fenomena yang bersifat lahiriah belaka dimana tidak berhubungan dengan hal-hal yang esensial dan fenomena internal dari kejiwaan manusia.

3. Ideologi-Ideologi Manusia Sepanjang Sejarah

          Manusia tidak bisa melanjutkan kehidupannya tanpa tujuan dan ideologi. Di sepanjang sejarah manusia menganut ideologi-ideologi dan dengan perantaraannya manusia menafsirkan sisi kehidupannya. Ideologi-ideologi penting yang dianut manusia sepanjang sejarah yaitu ilmu, kekayaan, kekuasaan, ketenaran, cinta, keindahan, dan hedonis.      

          Di bawah ini kita akan meneliti dan mengkaji ideologi-ideologi di atas agar bisa menetapkan bahwa ideologi-ideologi tersebut tidak bisa menjawab pertanyaan hakiki manusia tentang tujuan hidup manusia dan juga tidak mampu menempatkan manusia pada kedudukan yang sebenarnya dalam samudra kehidupan di alam yang tak berhingga ini.

a. Ilmu dan Pengetahuan

          Sebagian manusia meletakkan ilmu sebagai tujuan hidupnya, dan ketika mereka mengkaji suatu permasalahan ilmu atau filsafat mereka larut pada pengkajian itu semata dan tidak menimbang bahwa apakah penemuan ilmu dapat digunakan sebagai faktor meningkatkan kesempurnaan dan kualitas hidup manusia. Menurut Mereka observasi semata dibidang keilmuan dan tidak peduli tentang manfaat ilmu itu bagi kehidupan manusia adalah tujuan sempurna hidup. Dan mereka menyangka bahwa jika dari pagi hingga malam larut dalam penelitian hingga menambah kualitas dan kuantitas ilmu, maka hal ini cukup mengantarkan pada puncak kesempurnaan tanpa mesti memikirkan sejauh mana aplikasinya bagi kemaslahatan hidup manusia di alam ini.

          Seorang filosof seperti Bertrand Russel berusaha menetapkan bahwa ilmu dan pengetahuan mengobati semua penyakit kemanusiaan dan mengantarkan manusia ke puncak kesempurnaan, ilmu sebagai tujuan hakiki kehidupan manusia dan puncak kebahagiaannya.

          Apabila di samping mencari dan menyempurnakan ilmu manusia juga prihatin pada kemajuan masyarakat dan mencari pemecahan bagi kesempurnaannya, maka ia tidak dikategorikan sebagai orang yang meletakkan ilmu sebagai tujuan mutlak kehidupan. Tapi kalau usaha manusia hanya ingin menambahkan pengetahuannya atau tujuannya  agar karya ilmiahnya tetap abadi tanpa pernah memikirkan solusi bagi penderitaan yang dialami manusia, orang seperti ini terperangkap dalam penyakit “ketenaran” dan menjadikan ilmu sebagai alat meraih kemasyhuran bukan sebagai tujuan hidupnya. Berkaitan dengan  ideologi hakiki, dikatakan bahwa ilmu dan pengetahuan bukanlah tujuan tapi merupakan jalan, petunjuk prilaku, dan alat untuk memilah dan memilih yang terbaik dan tersempurna dari realitas kehidupan. Walaupun manusia mempunyai ilmu yang dengan perantaraannya ia dapat menyelesaikan segala problematika alam dan manusia, tetapi apabila ia tidak menyempurnakan dirinya sendiri dengan ilmu yang dimilikinya, maka ia tidak lain adalah seperti eksiklopedia berjalan.

b. Harta dan Kekayaan

          Mayoritas manusia menjadikan kekayaan sebagai ideologinya dan berusaha dengan segenap kemampuan untuk menggapainya, dan sebagian di antaranya bukan hanya mengambil hak-hak manusia lain bahkan ia rela mengorbankan jiwa sendiri untuk mencapai tujuannya.

          Kebergantungan yang kuat kepada harta dan kekayaan material akan menyebabkan menguatnya kecenderungan negatif dari jiwa yang nantinya akan menjadi penghalang bagi manusia untuk mendapatkan ideologi yang hakiki. Apabila kekayaan material hanya sekedar wasilah dan bukan tujuan hidup kita, maka hal ini tidaklah menjadi masalah. Tapi kalau hal itu adalah tujuan hakiki, maka ia akan sangat bahaya.

          Sangat disayangkan sebagian besar manusia tidak mengetahui bahwa kekayaan material bisa menjadi aspek positif yakni sebagai alat untuk mencapai tujuan hakiki manusia dan juga dapat menjadi aspek negatif yaitu diposisikan sebagai ideologi, dan keinginan mereka bukan hanya sebagai ideologi individu bahkan sebagai ideologi masyarakat.

          Salah satu dalil yang menegaskan bahwa kekayaan material tak dapat ditempatkan sebagai ideologi manusia adalah bahwa keinginan yang berlebihan kepada kekayaan material membuat manusia lalai terhadap kecenderungan positif dan keinginan hakiki jiwa manusia. Kecintaan kepada harta benda menjadikan struktur jiwa dan pikiran manusia tidak lagi sehat sedemikian sehingga yang terdapat hanyalah bagaimana menambah dan memperbanyak harta dan kekayaan saja.

          Apabila kekayaan material bisa dipandang sebagai suatu ideologi maka tidak kemestian bagi orang-orang kaya untuk menginginkan hal-hal lain dalam kehidupannya selain materi, karena kalau orang-orang kaya merasa bahwa terdapat dimensi-dimensi lain dari kehidupan ini selain dari dimensi material dan kenikmatan jasmaniah, maka niscaya ia tidak tinggal diam dan berusaha mencapai dimensi-dimensi tersebut sebagai contoh disamping ia mempunyai kekayaan material melimpah ia juga berusaha meraih ilmu, ketenaran, dan kekuasaan.[]

         

  


 


[1] . Alam yang terletak di antara alam akal (alam tertinggi) dan alam materi (alam terendah).

Iklan

5 Tanggapan

  1. makasih ya

  2. you’re wellcome and trims..

  3. berfikir untuk berzikir

  4. “Amalan yang paling banyak yang dilakukan oleh Abu Dzar adalah berpikir.”
    Demikian sabda Nabi Saw ihwal Abu Dzar..pikir adalah produk utama zikir. Tiada zikir tanpa pikir. Lantaran zikir tanpa pikir bukanlah zikir, melainkan serentetan mantra yang tersungging di bibir.

  5. Trims atas nice, intresting, meaningfull commentnya.
    Saya teringat ucapan Sir Iqbal,
    “Hidup takkan terjelma kecuali lewat pikir dan zikir
    Kemerdekaan sejati takkan datang kecuali lewat permunian pemikiran.”
    Lewat pikirlah piramida peradaban dapat terukir.
    Pikir merupakan zikir yang paling utama. Sehingga ia melintasi wilayah “untuk” dalam redaksi Kang Iyan di atas. Pikir ekuivalen (ain) dengan zikir.
    regards
    eurekamal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: