In Memoriam of Imam Khomeini Qs. [1]

12q1.jpg

IN MEMORIAM OF IMAM KHOMEINI QS

1. Hari Kautsar

 Pada pertengahan tahun 1320 HS telah lahir di Iran seorang putera yang di kemudian hari dapat merubah perjalanan Negara Iran dan dunia Islam dengan revolusi Ilahiah yang dipimpinnya.  Sejak awal revolusi yang dicetuskannya ia menghadapi berbagai kekuatan dunia dan musuh-musuh kebebasan dan kemerdekaan seluruh bangsa. Dengan berbagai cara mereka berusaha untuk menghancurkan revolusi tersebut. Tetapi –berkat karunia dan pertolongan Allah Swt– mereka tidak mampu menghadapi  revolusi agung tersebut dan mengalami kegagalan total dalam upaya menimpakan kerusakan terhadap akidah dan pemikiran yang dibawa dan disebarkannya.   Kala itu tidak seorang pun menduga bahwa dunia suatu saat akan mengenal putera yang baru saja lahir  dengan nama Imam Khomeini Ra.  Sebagaimana pula tidak terlintas pada benak seseorang -ketika ia memulai revolusinya- bahwa ia akan berhadapan dengan kekuatan-kekuatan dunia tersebut  dan akan membela dan memperjuangkan kemerdekaan Negaranya dan kemuliaan umat  Islam serta senantiasa menghidupkan agama Ilahi pada era ketika nilai-nilai etika telah diinjak-injak.

        

2. Latar Belakang Sejarah

Tanggal 20 Jumadi Tsani  (Hari “Kautsar”).  Setelah putra-putra Rasulullah Saw  satu demi satu meninggal dunia, kaum musyrik Quraisy merasa gembira dan mulai mengolok-olok Nabi sebagai Abtar, orang yang tidak memiliki keturunan. Tetapi Allah Swt berkehendak lain, Dia menghibur Rasul dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menganugerahimu Kautsar (kebaikan yang melimpah)… Sesungguhnya orang yang mengolok-olokmu itulah yang Abtar dan tidak memiliki keturunan”…(Qs. al-Kautsar:1-3)

Tanggal 20 Jumadi Tsani merupakan hari terbitnya fajar Kautsar Wilâyah dan Imâmah ke atas muka persada, penghulu wanita semesta alam Fathimah az-Zahra As lahir, seorang wanita yang nantinya akan menjadi pendamping setia pemimpin dan Imam pemegang panji abadi keadilan bagi manusia, ia adalah Ali bin Abi Thalib As. Fatimah adalah sosok suci yang akan menjadi ibu dari keturunan dan dzuriyah (generasi) yang saleh. Sebelas bintang muncul darinya, mereka adalah para Imam yang telah dan selalu menyinari jalan manusia. Setiap sisi dari kehidupan mereka sarat dengan hikmah Ilahiyah. Perdamaian, peperangan, munajat, diam, ilmu, kesabaran, dan kehidupan mereka yang dipenuhi oleh perjuangan, siksa dan selalu diakhiri oleh seteguk cawan syahadah serta diakhiri oleh ghaibnya Mahdi Ajf, semunya itu merupakan hikmah Ilahi yang mengindikasikan bahwa hamba-hamba Allah akan selalu ditolong dan dibantu di setiap tantangan dan zaman. Dan mengindikasikan bahwa para penyeru kebenaran dan mercu-suar hidayah akan senantiasa hadir untuk memainkan perannya dalam memberikan petunjuk bagi umat manusia dan menunjukkan pula bahwa dunia sedetikpun tidak akan pernah sunyi dari hujjah Allah Swt.

Seiring dimulainya keghaiban Imam Mahdi Ajf, pergulatan antara kebaikan dan keburukan terus berlanjut, dari generasi ke generasi, penguasa-penguasa zalim, budak dan abdi-abdi harta, pemuja tahta dan para perusak bermunculan di atas pentas hitam, sedang di sisi lain telah bangkit kaum beriman dan saleh di pentas penuh cahaya secara silih berganti untuk melanjutkan perlawanan dan pergulatan abadi di antara mereka.

Percikan cahaya wahyu telah menerangi segenap penjuru cakrawala dunia, setelah diyakini oleh hamba-hamba pilihan, Islam telah melewati batas teritorial di mana ia muncul dan dibesarkan, Islam telah merangkul umat di belahan Timur dunia, juga telah menembus lubuk hati penduduk Eropa di Barat, dan membentuk sebuah kebudayaan besar yang tiada bandingannya, sejarah telah menyaksikan perubahan besar dibidang ilmu, etika, budaya dan yang lain. Semua itu, kokoh berdiri di atas pondasi keimanan dan keyakinan. Saat fitrah suci manusia menerima risalah Rasulullah Muhammad alAmin Saw secara mendalam dan menyeluruh, niscaya penguasa dan pemimpin zalim  tidak akan mampu berdiri dan menghadang perkembangan risalah Ilahi ini, walau kekejaman dan kekejian apa pun yang akan mereka lakukan.

Barat telah diberangus oleh abad pertengahan (abad 14-16 M). Dengan berkedok serta bertamengkan salib, kaum Materialis telah memperdaya kaum lemah dan tertindas untuk menghalangi mereka memeluk agama Islam – agama yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa As- supaya modal gereja itu tidak lenyap sia-sia, yang telah menyodorkan keyakinan kaku dan minus spiritualitas di abad pertengahan, serta dibentuknya lembaga taftisul aqaid (pengecekan aqidah, perbuatan Inkuisisi oleh pihak Gereja, red) yang telah mencoreng sejarah manusia.

Yang membingungkan dan sekaligus sangat disesalkan adalah saat mereka mulai menyadari dan bermaksud untuk mengenal agama pemungkas para nabi ini secara lebih jauh, ternyata api kemunafikan dan konflik berkobar disertai perpecahan yang telah melanda belahan bumi ini.           Dan selama itu, terwujud beberapa faktor yang memunculkan sebuah tatanan dunia baru, perubahan di bidang sains dan industri di Eropa, dan mencuatnya pemerintahan dengan teknologi mutakhir. Perkembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan dan bidang baru – yang sangat berpengaruh bagi budaya Islam – telah menambah nuansa dan warna baru bagi penduduk primitif dan terbelakang  Eropa.

Seharusnya para pemimpin negara-negara Islam memikirkan hal-hal yang dapat memperbaiki kondisi mereka dan bangsanya, namun realitas menunjukkan, bahwa mereka lebih mementingkan kenikmatan sejenak dan  terlena dalam kelalaian dan keterbelakangan, dari pada harus bergegas untuk beraksi dan bergerak. Dampaknya, hari demi hari kekuatan dan pengaruh musuh-musuh Islam semakin bertambah, hingga tidak sedikit kawasan dan wilayah dunia Islam yang berada di bawah hegemoni bangsa-bangsa imperialis. Fenomena memilukan ini terus berlanjut bagi penguasa-penguasa kekuatan, harta dan kekufuran, serta  interfensi kaum imperialis baik secara terbuka maupun terselubung dalam penentuan nasib dan pengambilan kebijakan negara-negara Islam berabad-abad lamanya.

Tak terkecuali di negeri Iran, hierarki dan kerajaan telah memimpin masyarakat, dan rakyat Iran yang mempunyai mental pejuang, telah menjawab kelembutan seruan tauhid dan risalah Rasul Saw dan mengangkat panji kebudayaan Islam. Tetapi kezaliman raja dan tipu daya imperialis telah membidik sasaran empuk dan jitu, yaitu upaya memecah belah dan konflik yang berkelanjutan. Terlebih,  para musuh telah turun ke medan dengan sarana baru dengan dalih pembangunan dan perkembangan negara. Begitulah, hierarki pengkhianat Qajar[1] telah berkuasa di Iran, dengan berbagai hal hinggga membuat Inggris dan Rusia mengobok-obok wilayah Iran dan menciptakan kondisi yang sulit dan kritis. Kedutaan dari para penjajah tersebut secara terbuka menginterfensi segala hal, mencakup pemecatan dan pelantikan putra mahkota, para menteri dan para pemimpin angkatan bersenjata  dan beberapa posisi lainnya yang sangat vital. Dalam periode kritis ini begitu luas tanah dan bumi negara Islam terlepas akibat kesepakatan-kesepakatan yang tidak wajar dan memalukan, di saat seluruh negara Islam mengeluh tentang ketidak-amanan, keadilan dan merebaknya kerusakan dan kebobrokan administratif.

Di sela-sela rentetan peristiwa  tersebut, muncullah fatwa dari seorang ulama dan pejuang besar Ayatullah Uzma Syirazi dengan sebuah pergerakan yang dikenal dengan nama  “gerakan tembakau”[2]. Tiupan angin reformasi yang dihembuskan oleh Sayid Jamaluddin Asad Abadi[3], juga bangkitnya para ulama di Iran dan di Najaf Asyraf atas penjajah Inggris, semua itu mengukuhkan posisi dan kedudukan ulama dan pengaruh lembaga-lembaga ulama dalam berbagai peristiwa. Hal itu membuat Inggris mulai memahami bahaya di depan mereka, yang akhirnya memaksa mereka untuk melakukan tipu daya dan konspirasi untuk membatasi ruang lingkup dan gerak ulama. Mereka juga menyebarkan sekularisme (separasi antara agama dan politik); akhirnya muncul masonisme dan masyarakat kebarat-baratan dengan busana peradaban yang senantiasa mengobarkan api peperangan yang menyala-nyala di antara bangsa Iran sendiri. Ini satu sisi, sedang di sisi lain, Raja Mudhaffarudin[4] telah kehilangan kepercayaan dari masyarakat yang dipimpinnya. Akhirnya ia hanya meminta legitimasi dari dua bangsa imperialis Rusia (Uni Soviet) dan Inggris. Begitu juga bangsa dan negara-negara Islam yang lain hidup tak jauh berbeda dengan kondisi di Iran.

3. Imam Khomeini Ra; Dari Lahir Hingga Hijrah Ke Kota Qum

Pada kondisi semacam ini Imam Khomeini lahir, tepatnya 20 Jumadi Tsani 1320 H bertepatan dengan 24 September tahun 1902 M, di kota Khomein, sebuah kota  provinsi Markazi. Imam lahir di rumah pencinta ilmu, ketaqwaan, perjuangan dan  pengungsian, dan berasal dari keluarga yang mengalir darah az-Zahra As. Imam telah mewarisi watak dan perangai ayah dan kakeknya sebagai seorang pejuang dari generasi ke generasi guna memberikan petunjuk kepada manusia serta mewarisi semangatnya untuk melahap ilmu pengetahuan.

 Almarhum Ayatullah Sayid Mustafa al-Musawi –-ayahnya- sezaman dengan Almarhum Ayatullah Uzma Mirza Syirazi. Selama beberapa tahun, ayahnya menuntut ilmu keislaman di kota Najaf, setelah sampai pada jenjang ijtihad, Imam kembali ke Iran dan menetap di kota Khomein. Di sana, ia menjadi pelindung dan pemandu masyarakat dalam masalah agama .

Belum genap 5 bulan, Ruhullah Khomeini kehilangan sang ayah yang telah meneguk cawan syahadah saat  dalam perjalanan antara kota Khomein ke kota Arak oleh gerombolan perampok dan pengkhianat yang didukung oleh antek-antek kerajaan, sebagai balasan baginya dalam usaha mengungkap kebenaran dan kezaliman mereka. Pada saat itu keluarga Imam bertolak ke Teheran – Darul hukumah saat itu – untuk menuntut keadilan dan meminta balasan yang setimpal bagi pembunuh ayahnya. 

Demikianlah Imam Khomeini Ra sejak remaja telah merasakan keras dan kejamnya ditinggal seorang ayah, sebagaimana Imam telah memahami arti dari sebuah syahadah.

Setelah syahidnya sang ayah, Imam menghabiskan masa kanak-kanaknya dipangkuan ibu kinasih, Sayidah Hajar, seorang putri cerdas dan bertaqwa, ia adalah cucu dari Almarhum Ayatullah Khunsari Ra – penulis buku Zubdatut Tasanif –Imam juga dibesarkan oleh tangan hangat bibinya, Sahibah Khanum, seorang wanita pemberani dan bertaqwa. Pada akhirnya Imam kehilangan hangatnya buaian lembut dua wanita besar tersebut saat berusia menginjak 15 tahun.

Semenjak usia remaja – dengan memanfaatkan kejeniusan yang Allah Swt  berikan – Imam Khomeini Ra mempelajari berbagai disiplin ilmu yang populer di zaman itu juga ilmu-ilmu dasar yang biasa dipelajari di Hauzah Diniyah (seminary school) seperti sastra Arab, Logika, Fiqh dan Usul, di hadapan guru-guru dan ulama di daerahnya; seperti Mirza Mahmud, Almarhum Mirza Ridha Najafi al-Khomeini, Almarhum Syekh Ali Muhammad Burujerdi, Almarhum Syekh Muhammad Gulpaygani dan Almarhum Abbas Araki; namun sebelum belajar kepada mereka Imam belajar kepada kakak tertuanya Ayatullah Sayid Pasandideh.

 Kemudian setelah itu –tahun 1289 HS (1919)- Imam pergi ke Arak untuk melanjutkan studinya di Hauzah setempat.

4. Hijrah Ke Qum: Studi Kajian Takmiliah Dan Mengajar Ilmu Islam

Tak lama setelah pindahnya Ayatullah Uzma Haji Syekh Abdul Karim Hairi Yazdi[5] ke kota Qum, Imam Khomeini bergabung dan hijrah ke sana, di bulan Rajab tahun 1340 HS, dengan cepat Imam melewati jenjang pelajaran takmili (komplementer) di Hauzah Ilmiah. Imam telah menamatkan buku al-Muthawwal (dalam ilmu Ma’âni dan Bayân) bersama gurunya Almarhum Mirza Muhammad Ali al-Adib Tehrani, juga menyempurnakan pelajaran sath/jenjang dari Almarhum Ayatullah Muhammad Taqi Khunsari, Almarhum Ayatullah Sayid Ali Yatsribi Kasyani. Imam juga menamatkan pelajaran Kharij Fiqh dan Usul di hadapan pendiri Hauzah Ilmiah Qum, Syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi Ra.

Sensitifitas dan aktifitas yang melekat pada dirinya membuatnya tidak puas  bergelut dengan ilmu bahasa  dan Usul Fiqh, Imam kemudian menelaah dan mempelajari disiplin ilmu lain. Seiring dengan ketekunannya mempelajari Fiqh dan Usul dari  para faqih dan mujtahid, dia juga belajar Matematika, Astronomi dan Filsafat di hadapan Almarhum Sayid Abi Hasan Rafi’i Qazwini. Setelah itu dia melanjutkan pelajarannya dengan bimbingan spiritual dan ‘irfân di tangan Almarhum Mirza Ali Akbar Hakimi Yazdi,  dia juga mempelajari ilmu Arud dan Qawâfi (ilmu tentang sajak dan syair Arab), Filsafat Islam dan Filsafat Barat dari Syekh Muhammad Ridha Masjid Syekh Isfahani, belajar Akhlak dan ‘Irfân dari Ayatullah Mirza Jawad Maliki Tabrizi, kemudian  ‘Irfân teoritis (nazari) dan praktis (‘amali) diperoleh dari Mirza Muhammad Ali Syah Abadi.

Setelah Ayatullah Hairi Yazdi wafat, Imam Khomeini Ra dan beberapa rekan mujtahid yang lain di Hauzah Ilmiah Qum, membujuk Ayatullah Burujerdi[6] untuk datang ke Qum dan memimpin Hauzah. Dalam periode ini Imam dikenal sebagai salah satu pengajar dan mujtahid dan sâhib nadzar (orang yang memiliki otoritas untuk menyampaikan pendapat, red) dalam bidang Fiqh, Usul, Filsafat, ‘Irfân dan Akhlak, sedang masalah kezuhudan, wara’, ibadah, dan ketaqwaannya merupakan hal yang sudah dikenal di kalangan umum atau khusus.       Perangai dan watak yang luhur ini merupakan hasil jerih payah perjuangannya selama bertahun-tahun serta latihan syar’i dan pengaruh norma-norma ‘irfân yang mengakar dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Dan metode politik yang muncul berasaskan keyakinan yang kokoh untuk menjaga Hauzah Ilmiah (seminary school) dan  kepemimpinannya, serta keyakinan para ulama bahwa imam satu-satunya pelindung dan pemandu masyarakat dalam kondisi yang kritis dan genting, membuatnya semakin konsisten dalam mendalami ilmu, keutamaan, dan usaha dalam mengokohkan azas-azas Hauzah Qum yang baru seumur jagung. Oleh karena itu, kendati terdapat perbedaan dan polemik pemikiran, namun ia tetap mendukung marjaiyyah Ayatullah Hairi Yazdi kemudian Ayatullah  Burujerdi Ra, bahkan setelah meninggalnya Ayatullah Burujerdi Ra. sekalipun telah banyak tanggapan dan dukungan dari murid-murid dan orang-orang terpandang serta dukungan masyarakat, supaya Imam menjadi salah satu marja’ taqlid tetapi Imam tetap konsisten dan tidak pernah berusaha mencari kedudukan dan kepemimpinan. Imam senantiasa menganjurkan para pecintanya untuk tidak mempersoalkan hal tersebut. Bahkan ia terus bersikeras  untuk tetap berada dalam prinsipnya yang semula, bahkan sampai suatu saat masyarakat telah mengelu-elukannya, sebagai orang yang dicari selama ini untuk mewujudkan cita-cita. Dengan ketaqwaan, keilmuan dan kesadaran, ia tidak merubah hal tersebut sedikitpun juga, dan menerapkan ucapan yang sering diulanginya:”sesungguhnya aku menganggap diriku sebagai abdi dan penjaga Islam dan masyarakat.”

Imam adalah figur pemimpin agung yang puncaknya terjelma pada tanggal 12 Bahman 1357HS /1 Februari tahun 1978 saat kembali ke kampung halaman (Iran, Pen: setelah diasingkan oleh Syah) untuk menjumpai jutaan masyarakat dan bangsanya yang telah berkumpul dalam acara akbar penyambutan sepanjang sejarah atas kedatangannya. Saat salah  seorang wartawan tanpa pendahuluan bertanya kepadanya: “Bagaimana perasaan Anda kembali ke negeri pertiwi dan melihat keagungan yang spektakuler semacam ini? Sang wartawan ternyata mendengar jawaban yang tidak dinanti dan dibayangkan sebelumnya, Imam hanya singkat menjawab:”Tidak ada”.

Wartawan itu membayangkan bahwa Imam Khomeini sama seperti pemimpin-pemimpin politik lain yang selalu berusaha mendapatkan posisi dan kekuasaan para pemimpin yang biasanya lupa diri saat melihat panorama semacam ini. Namun jawaban yang didengarnya menyadarkannya bahwa Imam adalah figur atau model lain, yang tak dapat disamakan dengan mereka.

Imam Khomeini Ra meyakini betul – sebagaimana sering ia tandaskan dalam berbagai kesempatan – bahwa tolok ukur langkah dan pergerkannya adalah ridha Allah Swt, dan hanya sebatas menjalankan kewajiban dan penunaian tanggung-jawab syar’i.  Baginya  sama saja antara penjara, pengasingan atau di atas puncak kekuatan dan keuasaan, selama masih di jalan Allah Swt. Sejak awal Imam Ra telah berpaling dan mengenyampingkan hal-hal duniawi dan menapaki jalan untuk mencapai fana’ kepada Allah Swt. Mungkin tafsiran terbaik dari jawabannya kepada wartawan tersebut adalah ungkapan Imam yang tertuang dalam bentuk gubahan sebuah syair:

Pergilah ke arah reruntuhan dan

Kucilkan segala makhluk

Tambatkan jiwa dan hatimu, tanggalkan yang lain,

Kepada suatu yang absolut dan mutlak     

Imam Khomeini Ra dalam masa yang cukup panjang mengajar di Hauzah Qum, dia mengajarkan Fiqh, Usul, Filsafat, ‘Irfân dan Akhlak Islam, di Madrasah Faiziyah, di Masjid A’zam, Masjid Muhammadiyah, Madrasah Hajj Mulla Shadiq, Masjid Salmasi dan di tempat yang lain.  Imam juga mengajarkan Fiqh dan ilmu-ilmu Ahlul Bait As – dalam jenjang yang tertinggi – di Hauzah Ilmiah Najaf Asyraf di Masjid Syekh Anshari Ra kurang lebih 14 tahun. Dan di sana – Najaf – untuk pertama kalinya, Imam menawarkan dasar dan azas-azas pemerintahan Islam melalui pelajaran yang disampaikan oleh beliau dengan tema Wilâyatul Faqih.

Menurut penukilan murid-muridnya, sesungguhnya pengajaran Imam merupakan pelajaran paling kuat dan paling populer saat itu, diceritakan bahwa murid-murid yang hadir dalam beberapa pelajarannya – dalam beberapa tahun masa mengajar di kota suci Qum – mencapai 1000 orang, termasuk di dalamnya puluhan mujtahid yang masyhur dan diakui saat itu, semuanya melahap pelajaran Fiqh dan Usul dari Imam. Berkah tetesan keluasan ilmunya muncul ratusan bahkan ribuan. Para ulama dan filsuf  yang nantinya menjadi obor-obor di Hauzah Ilmiah, serta para mujtahid, faqih dan para arif tersohor yang sekarang sedikit jumlahnya dan dapat kita hitung dengan jari. Dan munculnya kader-kader dan pemikir besar seperti Ustadz Syahid Muthahari[7] dan Syahid Doktor Behesyti[8] mendapatkan kehormatan untuk mencicipi pelajaran-pelajaran yang disampaikan Imam.  Dewasa ini, ulama prominen yang mengarahkan Revolusi Islam dan sistem Republik Islam dalam segala urusan publik dan kewargaan adalah orang-orang yang terdidik dalam madrasah politik dan fiqh Imam Khomeini.

Dengan memandang dimensi-dimensi karakteristik madrasah ilmu Imam Khomeini  dalam ranah yang beragam, kita akan mengulasnya secara jeluk pada akhir-akhir buku ini dan sebagai konklusinya akan mengintrodusir bunga rampai karya Imam Khoemini secara global.

5. Imam Khomeini di Sanggar Jihad

Semangat juang dan jihad di jalan Allah Swt yang tumbuh bersemi pada diri Imam Khomeini Ra memiliki akar ideologi, pendidikan, lingkungan keluarga dan kemasyarakatan serta keadaan sosio-politik selama masa hidupnya. Perjuangannya dimulai sejak awal remaja  yang kemudian secara perlahan mencapai kesempurnaan seiring dan sejalan dengan kematangan  jiwa dan ilmunya disatu sisi dan keadaan sosial dan politik Iran serta masyarakat Islam di sisi lain. Pada tahun 1340 HS (1961)  dan 1341 HS (1962) pertikaian antara Dewan Kota dan Dewan Propinsi memberikan kesempatan kepada Imam Khomeini untuk memimpin perlawanan ruhaniawan. Keadaan ini menyebabkan adanya  pemberontakan seluruh kaum ruhaniawan dan rakyat Iran pada tanggal 15 Khurdad 1342 HS (5 Juni 1963).

Gerakan ini memiliki keistimewaan tersendiri yaitu dua kekhususan yang mewarnainya; kepemimpinan tunggal Imam dan corak  pemikiran Islami yang dipakai dalam pergerakan itu serta adanya  slogan-slogan dan tujuan-tujuan yang bercorak islami. Keadaan ini kemudian menandai sebuah lembaran baru dalam merintis perjuangan masyarakat dan bangsa Iran yang kemudian dikenal seluruh dunia dengan nama Revolusi Islam.

Imam Khomeini lahir pada saat negara Iran sedang mengalami masa-masa yang paling sulit dalam sejarahnya. Pergerakan so-called konstituante menjadi tidak berarti oleh kelicikan-kelicikan dan perlawanan-perlawanan antek-antek Inggris yang berada di Istana Qajar. Hal lain yang menjadi penyebab terjadinya keadaan ini adalah adanya pertikaian internal dan pengkhianatan kebanyakan kaum cendekiawan yang terpengaruh oleh kebudayaan Barat. Peran sentral kaum ruhaniawan dalam pergerakan ini tersingkirkan oleh trik-trik dan tipuan. Dan pada saat yang lain sebuah pemerintahan diktatoral berdiri. Sifat kesukuan Dinasti Qajar dan kelemahan serta ketidakcakapan para pemimpinnya telah menyebabkan tersebarnya kekacauan sosial dan kejatuhan ekonomi negara Iran. Pada situasi seperti ini para perampok dan tuan tanah dengan leluasa menciptakan kekacauan di tengah-tengah masyarakat sehingga tidak ada keamanan di  dalamnya. Dalam keadaan seperti ini di kota-kota dan di desa-desa serta daerah-daerah lainnya, kaum ruhani menjadi satu-satunya tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan perlindungan dan pertolongan. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, Imam Khomeini kecil yang telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kesyahidan ayahandanya tercinta ketika mempertahankan hak-haknya dan hak-hak masyarakat dalam melawan antek-antek pemerintah pada masa itu. Sejak dahulu keluarga Imam Khomeini sudah terbiasa dengan hijrah dan jihad.

Imam Khomeini menjelaskan kenangannya atas kejadian Perang Dunia I ketika ia berusia dua belas tahun. Imam berkata, “Aku mengingat kedua Perang Dunia itu (Perang Dunia I dan Perang Dunia II). Aku masih berusia belia. Namun ketika itu aku selalu pergi ke sekolah. Aku melihat serdadu-serdadu Uni Soviet berseliweran di tempat kami berada yaitu di kawasan Khomein, dan mereka menjadikan kami sebagai sasaran serangan pada Perang Dunia I.[9]

Di beberapa tempat , Imam menyebutkan sebagian nama kepala suku dan tuan-tuan tanah (yang dilindungi oleh pemerintah), yang telah merampas harta-harta rakyat dan  mempreteli prinsip-prinsip yang dianutnya, dengan menceriterakannya sebagai berikut, “Aku telah bertempur semenjak masa kecilku. Bangsaku diserbu oleh Zulqi dan  Rajabali. aku  mempunyai senjata. Dan pada saat itu aku sedang menjalani masa-masa awal balighku, dan biasa mendatangi bunker-bunker. Para bandit itu hendak menyerang dan merampok kaumku. Kaumku membangun bunker di beberapa tempat di Khomein.[10]

Pada tempat yang lain, Imam Khomeini menambahkan kesaksiannya, “Aku sendiri juga mempunyai senjata, namun aku masih kecil kala itu; dengan  usia belia ketika itu sekitar enam belas atau tujuh belas tahun, dan menganggap senjata sebagai sahabat dan aku juga mengalami proses belajar dan mengajar cara mengoperasikan sepucuk senjata…. aku pergi ke bunker-bunker militer, dan dengan para pemberontak yang ada, menyerang dan bermaksud mengambil alih bunker serta ingin berbuat apa saja, (kami menghadapinya).  Keadaannya sangat kacau-balau, pemerintahan pusat tidak lagi mempunyai kekuatan….  suatu waktu mereka mengambil alih kawasan Khomein dan rakyat mengadakan perlawanan terhadap mereka,dan aku bagian dari mereka.[11]

Kudeta pada tanggal 3 Isfand 1299 HS (1920) yang dilakukan oleh Reza Khan, sesuai dengan catatan sejarah yang dapat diandalkan, dilindungi dan disusun oleh pemerintahan Inggris. Meskipun kudeta ini mengakhiri pemerintahan Qajar dan sedikit membatasi sistem abad pertengahan dari kepala-kepala suku dan tuan-tuan tanah yang bercerai-berai tetapi menumbuhkan sistem diktatorial yang dalam sistem itu seribu keluarga menguasai nasib bangsa yang tertindas dan keluarga Pahlevi menggantikan para kepala suku dan tuan tanah tersebut.

Dalam dua puluh tahun masa kekuasaannya, Reza Khan menguasai satu setengah dari seluruh lahan-lahan subur Iran dan memiliki surat-surat kepemilikan serta dokumen-dokumen atas (dengan menggunakan) namanya. Dia membentuk sebuah organisasi yang keberadaannya jauh lebih luas ketimbang kementerian-kementerian dalam negeri yang besar, yang digunakan untuk menjaga dan melindungi Keluarga Istana (Royal Court). Dengan cara seperti ini, dia menyusun Undang-undang Legislatif yang diluluskan oleh pemerintahan boneka untuk mengesahkan pemindahan tanah-tanah, bahkan tanah-tanah hibah kepada dirinya. Rekening-rekening yang berkenaan dengan harta kekayaan istana dan mutiara-mutiara serta kepemilikan perusahaan-perusahaan dan pusat-pusat perniagaan  juga industri Reza Khan membentuk bagian utama dalam biografinya yang ditulis oleh kawan-kawan dan musuh-musuhnya. Kebijakan-kebijakan domestik Reza Khan dibangun atas tiga pilar: Militerisme yang keras; Perang melawan agama dan kaum ruhaniawan; serta Westernisasi. Ketiga kebijakan ini dijalankan dan dikukuhkan selama masa monarkinya. Dalam keadaan yang disebutkan di atas ruhaniawan Iran setelah terjadi peristiwa pergerakan konstitusi senantiasa didera dengan penyerangan-penyerangan oleh pemerintah yang berkuasa pada saat itu dan agen-agen Inggris, di satu sisi, serta kebencian yang dilancarkan oleh para cendekiawan bayaran, di sisi lain, beraksi, untuk menjaga Islam dan diri mereka sendiri (kaum ruhaniawan).

Atas undangan ulama Qum, Ayatullah Haji Syekh Abdul Karim Khairi berhijrah dari Arak ke Qum. Imam Khomeini Ra dengan bakat luar biasa telah menyelesaikan kajian-kajian atau pelajaran-pelajaran pendahuluan di berbagai level pada Hauzah Ilmiah, berhijrah ke Qum dan turut aktif dalam mengukuhkan Hauzah yang baru didirikan di Qum. Tidak lama kemudian, ia dikenal sebagai seorang yang alim dan terkemuka dalam bidang ‘Irfân, Falsafah dan Usul Fiqh.

Sebagaimana yang telah penulis jelaskan sebelumnya, bahwa pada saat itu, menjaga kedudukan kaum ruhani dan para marja’ merupakan suatu keperluan mendesak untuk menentang dan menghalau kebijakan-kebijakan dan tujuan-tujuan anti-ruhaniawan yang dilancarkan oleh Reza Khan dan puteranya. Oleh karena itu, Imam Khomeini, meskipun berbeda pendapat dengan Ayatullah Khairi dan Ayatullah Hairi secara konsisten menjadi seorang pembela setia  kedudukan marja’  selama kedua marja’  yang disebut di atas aktif menjalankan kewajibannya dan Imam berkhidmat kepada mereka.

Imam Khomeini mempunyai perhatian yang khusus dalam  mengikuti perkembangan perkara politik dan kemasyarakatan. Setelah mengamankan kekuasaan monarkinya, Reza Khan, pada masa awal-awal pemerintahanya   merencanakan untuk memulai menjalankan program ambisiusnya menghilangkan pengaruh-pengaruh kebudayaan Islam pada masyarakat Iran. Sebagai tambahan atas pencekalan terhadap kaum ruhani dengan mengeluarkan surat-surat edaran resmi, dia memerintahkan bahwa segala duka dan nestapa atas syahadah Imam Husain As harus dihentikan. Khutbah-khutbah agama dilarang,  proses pembelajaran masalah-masalah keagamaan dan pengajaran Qur’an di sekolah-sekolah dilarang dan juga mengadakan pelarangan terhadap pelaksanaan salat berjamaah. Reza Khan juga membangun gagasan pendahuluan untuk melepaskan hijab kaum wanita Iran. Sebelum Reza Khan menelorkan maksudnya dan tujuan-tujuanya di hadapan publik, ulama yang berdedikasi yang menduduki strata pertama dalam masyarakat, dengan kesadaran, bangkit menunjukkan protes mereka. Pada tahun 1306 HS (1927), ulama berdedikasi asal Isfahan yang dipimpin oleh Ayatullah Hajj Âqâ-e Nurullah Isfahani, melancarkan protes dengan berhijrah ke Qum dan mencari perlindungan di sana. Gerakan ini diikuti oleh ulama dari berbagai kota. Pada hari ke-105 kepindahan ulama ke Qum (21 Syahriwar hingga 4 Dei 1306 HS) dan usaha pencarian perlindungan di Qum berakhir dengan sia-sia. Mereka dikembalikan ke kota mereka masing-masing atas perintah Reza Khan. Perdana Menteri, Mokhberol Saltaneh menerima dan menjalankan syarat-syarat yang diajukan oleh ulama yang mencari perlindungan dan suaka. Pada bulan Dei 1306 HS (Desember 1927), dengan syahidnya pemimpin perlawanan di tangan  agen-agen Reza Khan, suaka politik berakhir.

Kejadian tersebut memberikan kesempatan bagi seorang pemuda yang berbakat dan mempunyai jiwa yang tertantang, pelajar hauzah,  Ruhullah Khomeini, untuk lebih mengenal segala permasalahan yang berlaku dan model-model penentangan serta mekanisme perlawanan ulama melawan Reza Khan. Pada Nuwruz –tahun baru Iran- 1306 HS (Maret 1927), terjadi sebuah perjumpaan secara langsung antara Reza Khan dan Ayatullah Bafaqi di Qum. Pertemuan ini berakibat kepada pengepungan kota ini oleh kekuatan militer dan pemukulan oleh Syah terhadap Ayatullah Khomeini dan kemudian mengungsikannya ke kota Rey. Kejadian dan peristiwa serupa serta proses-proses yang berlangsung dalam Majelis pada saat itu – khususnya perjuangan yang diusung oleh ulama terkemuka dan mujahid, Ayatullah Sayid Hasan Mudarris, memberikan kesan yang luar biasa pada jiwa Imam.

Ketika Reza Khan, dalam rangka menghancurkan Hauzah Qum, mengeluarkan sebuah surat perintah yang menyerukan bahwa seluruh ulama harus mengikuti ujian administrasi kenegaraan, Imam Khomeini menyingkap tujuan-tujuan di balik perintah ini dan kemudian menentangnya. Imam memberikan peringatan kepada ulama-ulama yang berwawasan sempit yang berpandangan bahwa perintah Reza Khan tersebut merupakan sebuah langkah reformatif. Sayangnya, ulama Iran ketika itu, dengan gencarnya arus propaganda dari pemerintah, keadaan-keadaan baru dan gerakan-gerakan friktif dan perpecahan pasca konstitusi, terisolasi. Bahkan pelajaran dan pengajaran seperti ‘Irfân dan Filsafat – yang mencerahkan dan membangunkan kesadaran dan nalar, serta membahas masalah-masalah keseharian dan penderitaan- dipandang kuno dan ditolak oleh orang-orang yang mempunyai pikiran picik dan orang-orang malas serta ulama lancung (palsu). Keadaan-keadaan seperti ini membuat Imam berada di bawah tekanan untuk meliburkan pelajaran-pelajarannya tentang Filsafat, ‘Irfân dan Akhlak. Imam dipaksa untuk mengubah tempat dan mengajar secara sembunyi-sembunyi. Hasil dari upaya-upaya penggemblengan seperti ini menghasilkan pribadi-pribadi seperti Allamah Syahid Muthahhari.

Sebagai hasil dari resisitensi ulama dan rakyat Iran, Reza Khan menghadapi kekalahan sedemikian hebat sehingga ia terpaksa mundur, meskipun dengan upayanya untuk menghancurkan Islam secara total dengan berusaha untuk melepaskan hijab-hijab kaum wanita dan melarang seremonial-seremonial dan ritual-ritual keagamaan.

Setelah wafatnya Ayatullah al-Uzma Khairi pada tanggal 10 Bahman 1315 HS (10 Januari 1937), Hauzah Ilmiah Qum berada dalam bahaya  Ulama yang berdedikasi mencoba untuk mencari jalan keluar supaya kejadian ini tidak terjadi. Selama delapan tahun Hauzah Ilmiah Qum diawasi oleh Sayid Muhammad Hujjat, Sayid Sadr bin Sadr dan Sayid Muhammad Taqi Khunsari ridwânullâh ‘alaihim (semoga keridaan Allah tercurah melimpah ke atas mereka). Dalam masa interim ini, khususnya setelah kejatuhan Reza Khan keadaan menjadi lebih baik untuk merealisasikan otoritas agama. Ayatullah al-Uzma Burujerdi merupakan ulama yang terkemuka dan memiliki pesona ilmiah yang tinggi dan layak untuk menggantikan Ayatullah al-Uzma Khairi serta menyelamatkan Hauzah Ilmiah. Usulan ini diikuti oleh murid-murid Ayatullah Khairi termasuk Imam Khomeini. Imam melakukan usaha keras untuk mengundang Ayatullah Burujerdi supaya hijrah ke Qum dan menerima tanggung jawab sebagai pimpinan Hauzah. Imam Khomeini -yang secara seksama mengamati keadaan politik masyarakat, dan mengamati keadaan hauzah-hauzah, memiliki informasi terkini dan sepenuhnya mendapat masukan informasi melalui mengkaji buku-buku sejarah  kontemporer yang ada, majalah-majalah, berbagai surat kabar dan sering kali mengadakan perjalanan ke Qum dan Teheran[12] serta mengadakan kunjungan tetap kepada orang-orang besar seperti Ayatullah Mudarris- telah menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk mengatasi keadaan semrawut yang terjadi setelah kekalahan pergerakan konstitusi –khususnya setelah Reza Khan naik ke tampuk kekuasaan– adalah dengan membangun kesadaran Hauzah-hauzah Ilmiah, dan sebelumnya menjaga keamanan dalam keberlangsungan hidup Hauzah-hauzah Ilmiah dan sekaligus hubungan maknawi antara rakyat dan kaum ruhaniawan. Selama hijrahnya Ayatullah Burujerdi ke Qum, Imam Khomeini,  juga seorang yang terkenal dan sebagai pengajar handal di Hauzah Ilmiah, bekerja keras untuk membentengi kedudukan Ayatullah Burujerdi sebagai marja’, dan  menurut murid-murid Imam Khomeini, kehadiran Imam dalam kuliah-kuliah Ayatullah Burujerdi dalam pelajaran Usul Fiqh adalah demi mewujudkan tujuan ini.

Dalam mencapai tujuan mulianya, pada tahun 1328 HS (1949 M),  Imam Khomeini Ra, bekerja sama dengan Ayatullah Murtadha Khairi, mempersiapkan sebuah rencana untuk mengadakan reformasi penting atas struktur Hauzah dan mempersembahkannya kepada Ayatullah Burujerdi. Rencana itu mendapatkan sambutan serta dukungan dari murid-murid Imam dan para ulama Hauzah yang tercerahkan.

Ketika proposal itu hampir diterima dan Hauzah akan memainkan perannya sebagai  sebuah organisasi ilmiah, mereka yang termasuk sebagai ulama-ulama gadungan -yang menyadari implementasi dari rencana itu akan membahayakan ketenangan hidup mereka, mulai menantang proposal ini. Penentangan ini mencapai puncaknya ketika Ayatullah Burujerdi, bertentangan dengan pandangannya semula dan kecenderungan pribadinya terhadap proposal itu, menunda pelaksanaan proposal tersebut. Ayatullah Zadeh Khairi terpaksa harus pindah ke Masyhad untuk beberapa waktu akibat penundaan ini. Kendati demikian, Imam Khomeini, meskipun keadaan tidak kondusif dan ketidakpuasannya dengan keputusan dan kejadian-kejadian yang sama, tetap terus maju dan berharap banyak terhadap pergerakan Hauzah.  

Delapan tahun sebelum kejadian ini  yaitu pada Syahriwar 1320 HS, selama meletusnya Perang Dunia II, Iran diduduki oleh pasukan-pasukan tentara sekutu. Diktator dengan dana raksasa selama dua puluh tahun, telah membekali pasukan tersebut untuk membantu  menekan masyarakatnya sendiri dalam menghadapi invasi dan serangan tentara –sebagaimana yang diakui oleh anaknya sendiri, Muhammad Reza– kabur dari arena setelah melatih menembak dan sebelum menghadapi para agresor. Meskipun dengan segala bualannya, Reza Syah diturunkan dan diungsikan.[13] Kisah paradoksial dari duka nasional ihwal pendudukan negara dan merebaknya tempat-tempat hiburan atas kejatuhan seorang diktator yang aset-aset bergeraknya – dikumpulkan atas biaya jerih payah orang-orang miskin dan bertahun-tahun merampok sumber-sumber pendapatan negara– dihimpun, pada saat itu, hingga 680 juta rial[14] (Rp 680 juta), telah menyisakan banyak ibrah untuk dipelajari.

 Pihak Kedutaan besar Inggris, dengan lampu hijau dari sekutu yang lain, Rusia, mengeluarkan surat keputusan atas nama Muhammad Reza Pahlevi untuk menggantikan ayahnya. Lembaran baru, yang dipenuhi dengan kerja keras dan kepayahan telah dimulai, selama 37 tahun, dengan ditandai oleh penjualan  kemerdekaan dan perampasan kehormatan negara. Pada dua tahun pertama pemerintah Syah yang tidak stabil itu memiliki kesempatan untuk bernafas. Setiap orang dan kelompok mulai mengumumkan tujuan-tujuan dan motto-mottonya. Beberapa kelompok mengklaim sebagai nasionalisme, yang secara kebetulan, sejalan dengan pandangan monarki muda ini. Yang lainnya melakukan infiltrasi dalam agen-agen pemerintahan dan pemilihan anggota parlemen. Ulama-ulama pejuang seperti Ayatullah Mudarris yang keberadaannya dapat dijadikan sebagai pilar perjuangan rakyat, telah mencapai syahadahnya di tangan agen-agen Reza Khan pada tahun-tahun sebelum keadaan ini terjadi. Partai komunis dan partai-partai politik yang mempunyai hubungan, menyesuaikan sikap-sikap mereka sesuai dan sejalan dengan instruksi-instruksi yang disampaikan oleh Moskow dan sekitarnya.

Hauzah Ilmiah, seperti yang telah disebutkan, secara  perlahan-lahan masuk ke dalam isolasi dengan penyerangan oleh Reza Khan dan tidak mampu untuk masuk secara sungguh-sungguh ke dalam wilayah tanggung-jawab sosial. Tentu saja, bahkan di bawah keadaan seperti ini, terdapat penantang teguh, seperti Nawab Safawi dan komrad-komradnya yang mempelajari untuk menemukan jalan masa depan untuk tantangan bersenjata dan untuk pelembagaan sebuah pemerintahan Islami.          

Imam Khomeini, ketika menggambarkan peperangannya pada tahun-tahun pertama pencekikan yang dilakukan oleh Reza Khan, pada hari itu juga, mendendangkan syair sebagai berikut:

Dari kelaliman Reza Syah di manakah kita dapat berteriak.

Untuk siapa kita tangisi perbuatan setan ini.

Desah  nafas yang tersisa, mereka berangus.

Kini, tidak ada desah nafas bagi kita untuk kita rengkuh.

Pada saat itu, Imam Khomeini memanfaatkan kesempatan yang berharga tersebut untuk  menyusun dan menerbitkan buku, Kasyful Asrâr (Penyingkapan Rahasia-rahasia) pada tahun 1322 HS (1942) kemudian menyingkap kekejaman yang dilakukan selama dua puluh tahun oleh kekuasaan Pahlevi. Dalam membela Islam dan kaum ruhaniawan, Imam Khomeini menjawab keraguan dan skeptis mereka yang telah tersesat. Dan pada buku itu juga, ia memaparkan gagasan pemerintahan Islami dan kebutuhan pendiriannya. Pada tahun berikutnya, bulan Urdibehest tahun 1323 HS (1943), Imam Khomeini mengeluarkan deklarasi politiknya yang perdana. Di dalamnya, Imam mengajak para ulama Islam dan masyarakat Muslim untuk mengadakan perlawanan umum. Muatan dan komposisi dari deklarasi dan penyampaian-penyampaiannya ini secara jelas menunjukkan bahwa, Imam pada hari nestapa itu dan keadaan seluruh Hauzah,  tidak memikirkan perlawanan yang segera. Namun, deklarasi ini diterbitkan sebagai sebuah upaya peringatan untuk membangunkan ruhaniawan-ruhaniawan muda.

Sebagaimana yang telah diramalkan, Imam tidak mendapatkan respon yang pantas atas ajakannya tersebut namun dapat menebarkan seberkas cahaya harapan kepada hati-hati pelajar Hauzah yang berkumpul di sekelilingnya dan pertemuan-pertemuan pelajarannya sebagai tempat bertemu (rendezvous) bagi jiwa dan hati yang intim. Setelah usaha-usaha terakhir ini, kedudukan politik dan pribadi Imam semakin tersohor. Kemudian, sekumpulan sahabat-sahabat yang bersimpati secara perlahan mulai terbentuk di antara murid-muridnya. Kebanyakan dari mereka yang kemudian mengorbankan jiwa mereka pada Perlawanan 15 Khurdad dan tidak menyerah dalam usaha-usaha yang dilakukan oleh Reza Khan selama masa pencekikan. Dan mereka yang selamat dari deraan dan penjara, memainkan peran mereka dalam posisi-posisi kunci dan dalam keadaan yang paling sulit  setelah kemenangan Revolusi Islam. Gagasan mereformasi Hauzah didukung oleh lingkaran sahabat tadi, namun, atas alasan-alasan yang telah disebutkan, tidak mungkin di pastikan dalam keadaan seperti itu. Menurut beberapa dokumen dan buku-buku memoar yang tersedia, selama kepemimpinan Ayatullah Burujerdi, Imam Khomeini –terlepas dari kerja research-nya, kelas-kelas dan kuliah-kuliahnya dalam berbagai bidang keilmuan– mempersembahkan usahanya untuk mengadvokasikan kekuasaan marja’iyyat dan Hauzah-hauzah Ilmiah yang digunakan untuk menyampaikan informasi sosio-politik dan kemasyarakatan serta evaluasinya terhadap isu-isu harian, menyampaikan peringatan tepat pada waktunya tentang tujuan-tujuan rezim Syah dan untuk mencegah menyusupnya elemen-elemen yang lemah dan rapuh. Pada saat yang sama, Imam memelihara kontaknya dengan tokoh-tokoh politik yang memiliki popularitas di Teheran seperti tokoh ternama, Ayatullah Kasyani.

Lebih jauh, Imam Khomeini melalui jalan yang beragam misalnya mengadakan sharing pendapat pada Majlis Permusyawaratan Rakyat dan media-media massa pada waktu itu, Imam mencermati proses berlangsungnya perubahan-perubahan yang terjadi.

Ketika tersebar isu yang berhubungan dengan pembentukan sebuah Majelis Konstituante pada tahun 1328 HS (1949) untuk mengubah hukum konstitusional dan memberikan pertimbangan kepada Syah, diisukan bahwa Ayatullah al-Uzma Burujerdi memberikan perhatian dan dukungan kepada para petinggi pemerintahan. Imam Khomeini marah atas rumor ini dan memberikan peringatan kepada yang lainnya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan pribadi dan dengan menulis surat terbuka yang ditandatanganinya sendiri dengan beberapa marja’ dan ulama lainya yang dialamatkan kepada Ayatullah Burujerdi supaya memintanya untuk menjelaskan yang sebenarnya. Dalam sebuah statemennya, Ayatullah al-Uzma Burujerdi menyangkal adanya perhatian dan dukungan terhadap kasus ini. Pada saat yang bersamaan, Ayatullah Kasyani, mengeluarkan sebuah stetemen dari tempat pengungsiannya di London, yang menegaskan tentang keharusan untuk melawan keputusan baru Syah.

Ketika pemilihan ke-16 anggota parlemen, Ayatullah Kasyani terpilih sebagai seorang delegasi dari masyarakat Teheran. Aliansi dan kooperasi di antara sayap ulama penentang, Ayatullah Kasyani dan Front Nasional (Jebhe-ye Melli), memberikan dukungan besar terhadap pergerakan nasionalisasi minyak, yang menyebabkan  kepada kerugian yang banyak pada pihak Syah.

Para Pembela Islam (Fadâ-iyân-e Islâm) yang mendapatkan sokongan dari Ayatullah Kasyani, membagi-bagikan beberapa pukulan, selama beberapa operasi-operasi yang tak diduga sebelumnya, kepada pemerintahan boneka. Dr. Mussadiq, pemimpin Front Nasional (Jebhe-ye Melli), memanfaatkan sokongan ini dan menjadi perdana menteri. Perlawanan pada tanggal 30 Tir 1331 HS (21 Agustus 1952), disusun di Teheran. Iran bergembira atas kemenangan nasionalisasi industri minyak yang telah lama diidam-idamkan. Namun, tidak lama setelah itu, perbedaan antara pembela Islam, Ayatullah Kasyani dan pemimpin-pemimpin Front Nasional, mencapai konfrontasi dan saling berhadap-hadapan antara yang satu dengan yang lainnya. Ayatullah Kasyani mendesakkan oposisinya untuk membayar kompensasi kepada Inggris atas industri minyak yang telah dinasionalisasikan. Ayatullah Kashani percaya bahwa Inggrislah yang harus membayar ganti rugi kepada Iran atas jarahan minyak dari mereka selama 50 tahun, bukan Iran. Sebelumnya dia telah mengingatkan Dr. Musaddiq dan bahkan mengancamnya tentang negosiasi dan kompromi yang dilakukannya dengan pihak Inggris.

Pada sisi yang lainnya, Ayatullah Kasyani juga sangat menentang penggantian Inggris oleh Amerika dan perusahaan-perusahaan Amerika dalam industri minyak dan area-area lain dalam bidang ekonomi. Sementara betapa banyak orang-orang yang menduduki pemerintahan Musaddiq secara terbuka dalam mendukung gagasan tersebut.

Berbagai bahaya       dalam keikutsertaan elemen-elemen non-agamis dalam pergerakan dan memberikan kepercayaan kepada Partai Tudeh adalah termasuk salah satu poin-poin yang tidak disepakati. Karena dengan adanya otoritas perdana menteri dan pengaruh elemen-elemen yang disebutkan di atas telah  menaikkan citra pemerintahan “rakyat” dan propaganda anti-agama juga  semakin meningkat. Pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan oleh partai Tudeh mencapai klimaksnya dan sayap agama dari pergerakan ini diisolasi. Amerika memanfaatkan situasi ini dengan baik dan melalui kudeta yang dilakukan pada tanggal 28 Murdad 1332 HS (19 Agustus 1953), menekan oposisi dan mengamankan kekuasaan Syah yang tidak tertantang.

Semua  ini dapat disimpulkan dari pesan-pesan dan pidato-pidato Imam Khomeini yang disampaikan sebelumnya sehubungan dengan Pergerakan Nasional (Nehdat-e Melli), yang sejak semula, ia telah paham bahwa hal itu tidak akan berlangsung lama. Pergerakan Nasional meraih berbagai kemenangan yang gemilang dalam gerakan-gerakannya dalam menentang tujuan-tujuan kolonialisme. Namun, nasionalisasi industri minyak memiliki batasan laten waktu dan musim, dan dengan sendirinya tidak dapat menjamin keberlanjutan pergerakan dalam waktu yang panjang.

Gerakan sayap nasionalistik tidak bersandar sepenuhnya kepada motto-motto dan tujuan-tujuan sayap agama, yang didukung oleh masyarakat. Dengan tidak adanya kepemimpinan tunggal, adanya pengaruh dan penyusupan elemen-elemen musuh yang tidak baik, dan kurangnya tujuan-tujuan bersama dalam politik dan kebudayaan yang dapat menjamin dukungan umum seluruh masyarakat Muslim Iran dalam waktu yang lama, selain juga adanya intrik-intrik dari Amerika dan tekanan-tekanan lain dari pihak asing, juga terdapat kendala-kendala lain yang membuat keberlangsungan pergerakan ini tidak mungkin bisa diwujudkan, yang antara lain adalah Pergerakan Minyak Nasional (Nehdat-e Melli-e Naft), yang dalam skala yang lebih kecil, merupakan sebuah replika keadaan sosio-politik Pergerakan Konstituante (Nehdat-e Masyrutiyat), titik kelemahan dan kekuatan bernasib sama. Bahkan dalam sayap agama juga tidak terdapat persatuan pandangan dan tidak mendapat sokongan dari masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Pembela Islam (Fadâiyân-e Islâm) dan usaha-usaha yang dilakukan oleh Ayatullah Kasyani –karena alasan-alasan tertentu– tidak didukung oleh Ayatullah Burujerdi yang kemudian menjadi Marja’ yang berkuasa. Sebagai tambahan, juga terdapat perbedaan pandangan yang semakin tajam.

Pada kondisi seperti ini, dukungan terbuka dari orang-orang seperti Ayatullah al-Uzma Khunsari di Qum, dan dukungan yang dilakukan secara implisit oleh orang-orang seperti Imam Khomeini, tidak dapat mempengaruhi perubahan dalam proses terwujudnya urusan ini.

Walhasil, sebelum masyarakat Iran dapat merasakan manisnya Pergerakan Minyak Nasional (Nehdat-e Melli-e Naft) pahitnya pengaruh-pengaruh pertikaian dan akibat-akibat peristiwa kelabu, dan akhirnya rasa kecewa dari kudeta 28 Murdad tumpah memenuhi langit-langit mulut. Pembela Islam (Fadâiyân-e Islâm) tidak diam dalam melawan mereka. Meskipun demikian, dua tahun kemudian (25 Aban 1334 HS  atau 16 November 1955), dalam sebuah usaha pembunuhan yang gagal atas Husain ‘Ala, yang kemudian menjadi perdana menteri,  mulai mengadakan kunjungan untuk menandatangani Pakta Baghdad (Baghdad Peymân/CENTO), mereka ditangkap dan pemimpin-pemimpin mereka setelah diadili secara rahasia dalam pengadilan militer, dikirim untuk dieksekusi oleh regu penembak pada bulan Dei 1334 HS (Desember 1955).

Usaha-usaha Imam Khomeini  dan ulama-ulama lainnya tidak berhasil dalam mencegah hukuman mati ini. Peristiwa-peristiwa yang menyedihkan dan mengharu-biru ini mempengaruhi jiwa sensitif Imam Khomeini, akan tetapi peristiwa ini menjadi pengalaman berharga untuk perlawanan-perlawanan berikutnya.

Syah dan istananya kini merupakan pelayan utuh Amerika setelah kudeta, namun dalam kondisi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Pemerintahan Inggris menyerahkan kedudukannya kepada Amerika. Pembentukan Savak pada tahun 1336 HS (1958), pembredelan musuh-musuh, dan pencekikan yang meningkat, secara cepat menyediakan kondisi sosial yang menguntungkan untuk melakukan reformasi yang diadakan oleh Amerika. Selama dekade 1330-1340, Persekutuan-persekutuan Amerika memenuhi Teluk Persia dalam rangka mengambil alih posisi Inggris yang sebelumnya berkuasa. Perang dingin dan persaingan sengit antara Amerika dan Uni Soviet telah menambah sensitifitas kawasan Teluk Persia. Gedung Putih telah menjahit mata mereka pada sumber-sumber minyak Iran dan daerah-daerah sekelilingnya, serta memberikan pilihan kepada Iran atas negara-negara lainnya untuk menjadi petugas penjaga (gendarme) di Teluk Persia dan untuk melindungi kepentingan-kepentingan Barat. Amerika memiliki tujuan-tujuan lain dalam membangun jaringan dengan Syah dan menopang kekuasaannya. Konfrontasi negara-negara Islam dengan Israel tampaknya tidak dapat dihindari. Sifat bergantung Dinasti Pahlevi dan karakter Syah menghadirkan lahan yang mendukung dalam menciptakan friksi dalam dunia Islam. Minyak, juga memiliki peranan penting dalam petualangan ini. Dalam peperangan antara Israel dan negara-negara Muslim, serta adanya  kekurangan energi akan menjadi tantangan yang menghadang dan menjadi sebab kekuatiran Barat. Pengembangan eksplorasi dan eksploitasi minyak di Iran dan stabilitas kekuasaan Rezim Syah akan dapat mengurangi krisis yang terjadi.

Tekstur sosial dan ekonomi agrikultural Iran merupakan kendala utama bagi Amerika untuk melakukan reformasi di Iran. Dalam keadaan seperti itu, Iran tidak memiliki Persiapan khusus untuk menyedot hasil minyak, yang peruntukannya utamanya adalah pengadaan peralatan militer Amerika dan konsumsi barang-barang Amerika.

Anggaran, rencana dan proyek-proyek untuk mengubah keadaan di Iran dilimpahkan kepada Senat dan DPR. Sesuai dengan pengakuan jujur yang kemudian dibuat oleh para pembesar rezim, dan disingkap dalam dokumen-dokumen spionase Amerika di Iran, isi dari anggaran tersebut dibuat di Amerika atau di kedutaan besarnya di Iran.  

Perencanaan reformasi merupakan langkah eksperimental untuk menyiapkan lahan bagi persetujuan prinsip-prinsip yang disebut sebagai Revolusi Putih (Inqilâb-e Sefid) yang dilakukan oleh Syah. Langkah pertama yang dipilih ini merupakan sebuah langkah yang sudah diperhitungkan. Ladang reformasi dihadirkan dengan propaganda besar dan motto-motto seperti, “Perangi para tuan tanah, tuan-tuan feodal, pembagian tanah di antara para peladang dan naikkan produksi.”

Maksud oposisi di balik layar dari reformasi tanah dipandang sebagai dukungan besar terhadap para pemilik tanah dan orang-orang yang tertindas. Langkah baru Amerika dan Rezim Syah pada tahun 1340 HS bertepatan dengan dua kejadian yang menyedihkan. Pada tanggal 10 Farwardin 1340 HS, Ayatullah al-Uzma Burujerdi wafat. Khidmatnya yang begitu besar, sekaligus kepribadiannya yang ilmiah dan juga jabatannya sebagai  seorang marja’ yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap agama, mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Kedudukan ini dengan sendirinya telah sekian lama menjadi batu-sandungan bagi terwujudnya tujuan-tujuan rezim Syah.

Ketiadaan Ayatullah Burujerdi dipandang sebagai kerugian yang tidak dapat dikompensasi. Pada bulan Isfand pada tahun yang sama, Ayatullah Kasyani, sang ulama pejuang, yang namanya pernah membuat  badan Syah bergetar ketakutan, wafat. Setelah wafatnya Ayatullah Burujerdi, Imam Khomeini, seperti pada kesempatan  sebelumnya dan pada saat menerima sambutan dari Hauzah dan rakyat, tidak mengambil sedikit pun langkah untuk menjadikan dirinya sebagai seorang marja’. Imam bahkan menolak untuk menerima saran-saran dan langkah-langkah para sahabatnya, padahal,  fatwa-fatwanya tentang seluruh bagian dari kitab, Urwâtul Wutsqâ telah diselesaikan lima tahun sebelum wafatnya Ayatullah Burujerdi. Dalam tahun-tahun itu juga,  Imam menulis syarah kitab Wasilatul Najat dalam bentuk tuntunan praktis (Risâlah-e ‘Amaliyah). Pandangan zuhud Imam Khomeini terhadap dunia, dan tidak bernilainya kedudukan-kedudukan tinggi dunia dapat dipahami dari karya-karya Akhlaknya yang sangat mendalam dan ‘‘Irfân yang terjelma dalam buku Empat Puluh Hadits dan Rahasia-rahasia dan Adab-adab Salat, yang telah lama ditulis sebelumnya.

Setelah wafatnya Ayatullah Burujerdi dan berakhirnya kedudukan marja’iyya-nya, rezim Syah dengan segala sikap ketergesa-gesaannya ingin melaksanakan reformasi yang dikehendaki dan disusun oleh Amerika dan memindahkan urusan marjaiyyat ke luar negeri.

Namun, rezim Syah ini melakukan kesalahan dalam kalkulasi politiknya. Anggaran yang berkaitan dengan wilayah kota dan dewan propinsi yang akan menghapus kandidat-kandidat dan syarat pemilihan para pemilih yang mensyaratkan: seorang muslim, bersumpah atas al-Qur’an dan seorang pria”, disetujui oleh kabinet yang dipimpin oleh Amir Asadullah Alam pada tanggal 16 Mehr 1341 HS (8 Oktober 1962). Hak kaum wanita untuk memilih merupakan sebuah kedok untuk menyingkap plot-plot yang lain. Penghapusan dan perubahan dari dua syarat pertama dimaksudkan untuk melegalisasi kehadiran elemen-elemen Bahai pada posisi kunci dalam pemerintahan. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu syarat dukungan Amerika terhadap Syah adalah dukungan Syah terhadap Israel dan mengharmoniskan  hubungan antara Iran dan Israel. Penyusupan pengikut-pengikut kolonialisme yang berideologi Bahaisme ke dalam tiga kekuatan akan menjamin keadaan ini. Segera setelah penyiaran berita ini, Imam Khomeini disertai oleh ulama-ulama Qum dan Teheran, bertukar pandangan dan mulai memprotes draft RUU tersebut.

Peranan Imam dalam mendefinisikan tujuan asli rezim Syah dan menunjukkan peranan penting ulama dan Hauzah-hauzah  sangat mujarab di bawah status-quo. Telegraf-telegraf dan surat-surat terbuka bernada protes, dikirim secara terbuka kepada Syah dan Perdana Menteri Asadullah ‘Alam, menggerakkan gelombang dukungan dalam berbagai strata masyarakat. Nada telegraf-telegraf Imam Khomeini kepada Syah dan Perdana Menterinya sangat tajam dan mengancam. Pada salah satu telegraf-telegraf itu berisikan: “Aku kembali menasehatimu untuk mentaati Allah dan mengikuti Konstitusi dan tidak melanggar perintah al-Qur’an dan fatwa-fatwa Ulama Nasional, jagalah kemuliaan kaum Muslimin, dan takutlah kepada melanggar hukum konstitusi. Jangan jatuhkan bangsamu dalam bahaya dengan sengaja dan tanpa alasan. Sebaliknya, Ulama tidak akan berhenti menyuarakan pandangan mereka tentangmu.”[15]

Pada mulanya, rezim Syah mulai ancamannya dan propaganda anti ulama. Dalam sebuah siaran radio, Perdana Menteri Asadullah ‘Alam mengumumkan, “Pemerintah tidak akan mengundurkan diri dari program reformasi yang tengah berlangsung!” Dengan adanya stetemen seperti ini, penentangan setiap hari semakin meningkat. Pasar-pasar di Teheran dan Qum dan di beberapa kota ditutup dan masyarakat berkumpul di masjid-masjid, untuk mendukung pergerakan ulama. Dalam jangka satu bulan setengah kemudian, pemerintah menarik selangkah mundur langkah-langkahnya itu, dengan mengirimkan tulisan dari Syah dan perdana menterinya, kemudian berusaha untuk memenuhi tuntutan ulama dan membenarkan mereka. Rezim Syah, dengan kesadaran penuh tentang ketidakfleksibelan pribadi Imam, secara sengaja tidak menulis surat kepadanya. Beberapa Ulama Hauzah berpikir bahwa sikap pemerintah adalah sebuah sikap yang meyakinkan dan menuntut untuk menghakhiri penentangan, akan tetapi Imam cenderung tidak menyerah. Hadrat Imam berpikir bahwa pemerintah harus secara terbuka dan resmi dalam membantah RUU Dewan Negara dan Propinsi dan mempublikasikan beritanya. Dalam sebuah statemen yang dikeluarkan untuk menjawab sebuah pertanyaan yang diajukan oleh perserikatan pedagang dan peniaga Qum, Imam secara jelas menyingkap bahwa dengan menyetujui RUU ini, pemerintah bermaksud untuk membiarkan elemen-elemen Bahai dan spionase Israel masuk dalam pemerintahan Iran.

Imam menyatakan dengan tegas bahwa, “Kaum Muslimin tidak akan berdiam diri hingga bahaya-bahaya ini berlalu. Dan, seorang yang berdiam diri, mereka akan bertanggung-jawab di hadapan Allah Yang Maha Kuasa dan akan terkutuk pada kebinasaan di dunia ini.” Pada stetemennya ini pula, Imam Khomeini memberi peringatan kepada anggota-anggota Senat dan Majelis Syura ihwal pelulusan Rancangan Undang-undang ini, dan menulis, “Kaum Muslimin dan Ulama Islam hidup dan tetap akan bertahan. Mereka akan mematahkan tangan yang berkhianat kepada asas Islam dan yang melanggar keutamaan dan fadilah kaum Muslimin.”[16]

Akhirnya, rezim Syah menerima kekalahan  dan secara resmi pada tanggal 7 Azar 1341 HS (28 November 1962), pemerintah membatalkan kesepakatan sebelumnya, dan memberikan kabar tersebut kepada ulama dan para marja’ di Teheran dan Qum. Pada sebuah pertemuan dengan Ulama Qum, Imam Khomeini kembali bersikeras pada posisinya dan tidak memandang cukup pembatalan Rancangan Undang-undang tersebut dan mengumumkan bahwa pergerakan akan berlanjut hingga kabar pembatalan Rancangan Undang-undang ini dipublikasikan di media massa. Pada hari berikutnya, kabar pembatalan Rancangan Undang-undang Dewan Propinsi muncul pada surat kabar nasional dan masyarakat merayakan kemenangan besar ini setelah pergerakan nasionalisasi industri minyak.

Imam Khomeini pada hari-hari kemenangan rakyat itu berkata: “Kekalahan lahir tidak begitu penting dan yang terpenting adalah kekalahan spritual. Seorang yang mempunyai hubungan dengan Allah Swt tidak akan pernah mengalami kekalahan. Kekalahan adalah bagi mereka yang menjadikan dunia ini sebagai tujuan utama. Allah Swt tidak akan pernah dapat dikalahkan.

 Selama dua bulan tertidur, ada beberapa malam yang di dalamnya aku hanya tidur selama dua jam…. Jika setan dari luar kembali mengancam negara, kita adalah apa yang ada pada diri kita dan pemerintah adalah apa yang ada pada pemerintah….  Memberikan nasihat adalah sebuah kewajiban. Dari Syah turun kepada tuan-tuan ini dan seterusnya hingga orang terakhir di negara ini; Ulama harus menasihati dan membimbing mereka seluruhnya.”[17]

Kemudian isu dewan negara dan propinsi merupakan kemenangan dan pengalaman berharga bagi bangsa Iran, khususnya dengan alasan bahwa sepanjang perjalanannya, mereka mengenal karakter khusus seorang pribadi yang patut menjadi seorang Pemimpin Umat Islam (Rahbar-e umat-e Islâm). Dengan adanya kekalahan  yang diderita oleh rezim Syah dalam isu dewan-dewan yang telah disebutkan, tekanan Amerika untuk memberlakukan reformasi yang telah direncanakan tetap saja berlanjut. Pada bulan  Januari 1962 ( Dei 1341 HS), Syah  mempensiunkan enam prinsip reformasinya, dan mengusulkan sebuah referendum. Pada kesempatan ini juga, partai-partai nasionalis, menggunakan slogan, “Reformasi,  Iya. Kediktatoran, Tidak.” (Ishlâhat, Âre, Diktatâr-e, Nah) memberikan kepada mereka lampu hijau. Partai komunis yang dengan menganalisa  proses dialektika perubahan sistem feodal menjadi sistem industri yang berbasis pada kaum pemilik modal (kapitalis), bekerja sama dengan radio Moskow, menganggap prinsip-prinsip Revolusi Putih sebagai langkah maju. Sebagaimana orang-orang ini mengistilahkan perlawanan 15 Khurdad sebagai sebuah gerakan reaksioner, terkebelakang, dan mendukung sistem feodal.[18]

Pada kesempatan lain, Imam Khomeini kembali mengadakan pertemuan dengan para marja’ dan ulama Qum untuk mengkonsultasikan dan kemungkinan akan adanya sebuah perlawanan selanjutnya. Perlawanan tidak dikehendaki oleh mereka yang di dalam benaknya memandang marjaiyyat hanyalah sebagai sebuah medium yang secara diam-diam berhubungan dengan urusan-urusan biasa keagamaan masyarakat dan tidak memikul tanggung-jawab terhadap masalah-masalah komunitas Islam. Meskipun tujuan-tujuan di balik reformasi dan referendum nampak jelas bagi pribadi Imam dan konfrontasi merupakan keharusan yang tidak mungkin dapat dihindari, namun konsensus bersama pada pertemuan itu adalah untuk mendiskusikan masalah dengan Syah dan mencari tahu motif-motifnya. Mereka berdua masing-masing saling bertukar pesan melalui pengiriman delegasi-delegasi dalam berbagai tingkatan. Syah, pada pertemuannya dengan Ayatullah Kamalvand, telah mengancam bahwa reformasi harus diberlakukan walaupun dengan menumpahkan darah dan merusak masjid-masjid.[19]

Pada pertemuan berikutnya dengan Ulama Qum, Hadrat  Imam meminta pemboikotan secara resmi terhadap referendum yang diusulkan oleh Syah, tetapi orang-orang konservatif yang hadir dalam pertemuan itu beranggapan bahwa peperangan pada keadaan ini adalah bagaikan  pistol air yang berhadapan dengan mesiu dan tidak akan menmberikan manfaat sedikit pun! Akhirnya, desakan Imam bahwa ulama dan marâji’ menyatakan dengan terbuka penentangan mereka terhadap referendum dan secara tegas memboikot untuk ikut serta di dalamnya, disetujui. Hadrat Imam mengeluarkan sebuah deklarasi pada tanggal 2 Bahman 1341 HS (22 Januari 1963).[20] Pasar di Teheran ditutup dan anggota polisi menyerang setiap perkumpulan yang diadakan oleh masyarakat.

Pada awal-awal diberlakukannya referendum itu, penentangan masyarakat mencapai klimaksnya. Syah dengan terpaksa mengadakan kunjungan ke Qum pada tanggal 4 Bahman untuk mengurangi rentang penentangan ini. Jauh sebelumnya, Imam Khomeini telah menentang adanya usulan untuk mengadakan pertemuan antara Syah dan kaum Ruhani. Imam bahkan memboikot keluarnya orang-orang dari rumah-rumah dan madrasah-madrasah mereka pada hari kedatangan Syah di Qum. Pengaruh dari pemboikotan ini sedemikian hebat sehingga tidak hanya ruhani dan masyarakat saja yang tidak menjemput kedatangan Syah tiba di Qum, namun juga penjaga amanah dan pengawas Haram Hadrat Ma’sumah, yang dipandang memiliki kedudukan pemerintahan tertinggi di kota ini. Sikap yang ditunjukkan oleh pengawas tersebut harus dibayar dengan kehilangan kedudukannya. Syah dalam pidatonya di hadapan para agen rezimnya yang menyertainya dari Teheran ketika dia datang ke Qum menyampaikan kemarahannya dengan ungkapan-ungkapan yang sangat tidak senonoh kepada ruhaniyat dan rakyat.   Dua hari berselang, referendum yang melanggar aturan itu dan yang tidak mendapatkan dukungan kecuali oleh para agen rezim, diberlakukan. Namun sayang tidak satu orang  pun yang menghadirinya kecuali antek-antek rezim. Media massa rezim Syah, secara berulang-ulang melalui telegraf menyampaikan ucapan selamat kepada Amerika dan para petinggi pemerintahan Eropa. Ucapan selamat ini adalah upaya rezim untuk menutupi kehinaan akibat tidak dari berpartisipasinya rakyat dalam referendum. Namun, Imam Khomeini, melalui ceramah-ceramah dan statemennya, tetap saja menyingkap kebenaran kisah tersebut. Salah satu statemennya yang terkenal sebagai “Manifesto Sembilan Tanda Tangan” (A’lameye-e Nuh-e imdâ).[21] Manifesto ini tajam dan sangat rasional. Sembari menghitung tindakan-tindakan illegal Syah dan pemerintahan bonekanya, manifesto yang menggambarkan kemunduran industri agrikultur dan kejatuhan kemerdekaan negara sekaligus menunjukkan korupsi dan prostitusi sebagai hasil konklusif “Reformasi Kerajaan” (Ishlâhat-e Syahaneh).

Dengan usulan Imam Khomeini, festival tradisional Nuruz (tahun baru) 1342 diboikot sebagai sebuah bentuk protes kepada aksi-aksi rezim. Dalam manifesto yang disebutkan, yang juga menyingkap terjalinnya Syah dengan tujuan-tujuan Amerika dan Israel, Imam menunjukkan Revolusi Putih Syah sebagai “Revolusi Hitam.” Imam mengumumkannya dalam manifestonya, “Aku melihat jalan keluar untuk menjatuhkan pemerintahan despotik ini dengan tuduhan melanggar prinsip-prinsip Islam dan Konstitusi. Dan sebuah pemerintahan yang didedikasikan kepada hukum-hukum Islam dan memperhatikan bangsa Iran sebagai gantinya. Allahumma Sesungguhnya aku telah menjalankan tugasku, Demi Allah, Aku telah menyampaikan pesan Mu– dan jika aku selamat, dengan kehendak-Nya, Aku akan menjalankan tugas-tugasku selanjutnya.”[22]

Di sisi lain, Syah telah meyakinkan petinggi Amerika di Washington ihwal kesiapan masyarakat Iran untuk melaksanakan reformasi yang dirancang oleh Amerika dan menamainya dengan “Revolusi Putih.” Perlawanan ulama pada reformasi-reformasi merupakan beban yang sangat berat yang harus dipikul di pundak Syah dan membuat dia memulai propaganda yang tersebar di berbagai negeri menentang ruhani dan pribadi Imam Khomeini. Syah telah memutuskan untuk menekan perlawanan. Pada tanggal 2 Farwardin 1342 HS (22 Maret 1963) yang bertepatan dengan syahadahnya Imam Ja’far Sadiq As –antek-antek bersenjata rezim, menyamar sebagai masyarakat sipil, membubarkan sebuah perhimpunan pelajar agama di Madrasah Faiziyah. Kekuatan polisi yang bersenjata lengkap, tumpah dan mulai menghajar dan membantai para pelajar agama (talabeh). Pada saat yang sama, Madrasah Talebiyeh di Tabriz diserang oleh antek-antek pemerintah. Di tengah-tengah kejadian-kejadian ini, rumah Imam Khomeini setiap harinya menerima amarah rakyat yang membludak dan kekuatan revolusioner yang berkumpul di tempat itu untuk menyampaikan simpati dan dukungan mereka kepada ulama, dan mengamati tanda-tanda kejahatan yang diperbuat oleh rezim, datang ke Qum.

Pada perhimpunan rakyat di masjid-masjid, Imam Khomeini, tanpa memperdulikan pribadi Syah, menyebutnya sebagai dalang sesungguhnya atas tindak kejahatan yang terjadi. Imam menamai Syah sebagai seorang sekutu Israel.

Dalam sebuah ceramah yang disampaikan pada tanggal 1 April 1963 (12 Farwardin 1342 HS), Imam Khomeini menyampaikan pidato yang ditujukan kepada ulama di Qum, Najaf, dan di berbagai tempat lain, atas diamnya mereka dalam menghadapi kejahatan rezim yang tengah berlangsung dengan mengritik dan berkata, “Hari ini, diam berarti kerjasama dengan tiran.”[23]

Pada hari berikutnya, 13 Farwardin 1342 HS (2 April 1963), Imam mempublikasikan statemennya yang terkenal, diberi judul: “Menjadi orang kerajaan berarti menjadi seorang penjarah.” Dalam statemennya ini, yang merupakan pengumuman politik Imam yang paling mendadak, rezim Syah diseret ke pengadilan dan  pada akhirnya ditekankan bahwa dalam keadaan seperti ini taqiyyah dilarang dan menyatakan kebenaran adalah wajib apapun yang akan terjadi-. Pada statemen inilah Imam, mengalamatkannya kepada Syah dan antek-anteknya, telah menulis, “Aku kini telah mempersiapkan hatiku untuk dibayonet oleh antek-antekmu namun aku tidak bersedia menerima ancamanmu, aku juga tidak akan tunduk kepada kezalimanmu.”[24]

Imam Khomeini telah memilih jalannya dengan penuh sadar. Di belakangnya adalah pengalaman politiknya yang pahit dan manis dalam perjuangan. Sedangkan di hadapannya terhampar kejadian-kejadian yang mengerikan dan sebuah jalan yang penuh dengan resiko.

Namun, dia tidak tunduk kepada masa lalu dan juga tidak menyerah kepada masa depan. Imam sadar akan tugas keagamaannya (taklif) dan slogannya adalah “Tunaikan tugasmu, apapun yang terjadi.” Dalam logika Imam arti kekalahan dan kemenangan adalah lain dari dari apa yang biasanya didefinisikan oleh politikus-politikus profesional.

Banyak kata-kata terkenal dari sosok para pejuang dan politikus yang memasuki arena perjuangan –apapun motif atau alasannya– lalu memandang peran, dan pribadi mereka dalam membentuk jalan perjuangannya. Bertentangan dengan sosok-sosok seperti itu, Imam Khomeini memasuki peran kepemimpinan Revolusi Islam pada tahun  1342 HS (1963), sementara pada tahun sebelumnya dia telah menyelesaikan tingkatan-tingkatan purifikasi ego, jihad akbar, pencapaian ketinggian akhlak dan ilmu sejati pada level yang tertinggi. Imam dipandang sebagai terdepan dalam pembangunan batin manusia, terdepan dalam jihad batin atas jihad lahir. Dalam hubunganya dengan masalah ini, Imam berkata, “Belajar ilmu yang beragam, bahkan ilmu tauhid, tidak berarti apa-apa melainkan hanyalah akan menjadi sebuah hijab dan tidak akan menuntun kepada kebenaran kecuali jika berhubungan dengan tazkiyatun nafs (purifikasi jiwa).” Kata-kata keras Imam dalam statemennya yang bertanggal 13 Farwardin 1342 HS dan dalam statemen yang similiar –yang melimpah dalam karya-karyanya– tidak hanya dalam bidang politik, didesain untuk mengeluarkan  musuh dari panggung. Sebaliknya, karya-karya tersebut adalah kenyataan yang melahirkan kedalaman kepribadian yang memandang dunia sebagai tempat tajaliyyat Tuhan (tempat penampakan Tuhan). Imam tidak memiliki permusuhan dengan Syah, Saddam, Carter, Reagan dan yang lainnya yang ia hadapi selama masa perjuangannya. Imam juga tidak mempunyai musuh pribadi dan juga tidak mempunyai rasa dendam. Dalam benak Imam Khomeini reformasi masyarakat adalah membebaskan manusia dari dominasi antek-antek Syaitan, mengembalikan manusia kepada identitas fitri aslinya yaitu Ilahi dan mempunyai rasa kasih sayang. Dari sudut pandang inilah Imam memandang perjuangannya. Imam meyakini prinsip-prinsip ini dalam dirinya dan mengamalkannya sebelum mengajak orang lain untuk melakukannya. Rahasia kesuksesan Imam Khomeini harus ditemukan dalam perjalanan panjangnya melawan ego (nafs) dan pencapaian ma’rifat syuhudi-nya. Tidak mungkin kita memahami tujuan dan motif perjuangan politik Imam Khomeini tanpa memikirkan tingkatan-tingkatan kepribadian ruhiyah, maknawi, dan ilmu nya.

Dunia telah memiliki pejuang-pejuang revolusioner yang tersohor di seantero jagad,  tetapi apa yang membuat prestasi dan membedakan revolusi Imam Khomeini dan menjalinkannya dengan gerakan-gerakan para nabi (anbiya) Ilahi adalah kenyataan pribadi yang mengusung Revolusi Islam pada abad ke-20.

Kenyataan ini sesuai dengan pengakuan seluruh orang-orang yang dekat dengannya, selama masa hidupnya Imam Khomeini tidak pernah sekali pun meninggalkan salat malamnya walaupun hanya satu malam saja dan juga tidak pernah meninggalkan munajat hariannya, apatah lagi kewajiban-kewajiban agamanya.

Imam adalah seorang pria yang memotong perekaman terhadap interview terakhirnya ketika ia menjalani hari-hari akhir kehidupannya di Neauphle-le Château, Paris -sebelum meninggalkan Perancis untuk menuju ke Iran-, dengan ratusan wartawan dan fotografer yang datang dari seluruh penjuru dunia, Imam meninggalkan mereka untuk menunaikan salat, padahal ketika itu wawancara baru dimulai, karena pada waktu itu adalah waktu untuk menunaikan salat.

Rahasia menakjubkan dari pesan-pesan Imam Khomeini dan ucapan-ucapannya tentang jiwa pada ceramah-ceramahnya, hingga pada batas pengorbanan hidup. Kejernihan pikirannya dan kemurnian kebenaran serta ketakwaannya.

Salah satu corak tentang kekhususan garis kebijakan politiknya pada setiap perjuangan, mengadopsi kedudukan yang jelas dan tetap, dan kebulatan tekadnya dalam menindak-lanjuti tujuan-tujuan, sebagaimana yang telah diakui oleh kawan-kawan dan lawan-lawannya, adalah di antara fitur keagungan pergerakan Imam Khomeini. Pengkajian statemen yang dilontarkan Imam dan sikap politiknya selama seluruh masa perjuangannya melawan Syah dan Amerika serta perbandingannya dengan kondisi-kondisi jiwa, politik, parta-partai,  dan kelompok-kelompok, dengan jelas menunjukkan adanya perbedaan prestasi Imam Khomeini dan loyalitasnya terhadap tujuan-tujuan serta dalam melanjutkan resolusi gerkannnya, dengan yang lainnya.

Dokumen-dokumen dan catatan-catatan sejarah menjadi saksi ihwal bagaimana awal-awal perjuangan pada 1340-1342 HS, kelompok-kelompok dan pribadi-pribadi religius dan politis memasuki medan pertempuran, bahkan dalam beberapa perkara mereka menduduki bagian yang termasuk merupakan kawasan yang paling bahaya, akan tetapi, mereka mundur ketika berkonfrotasi pertama kalinya dengan rezim Syah.  Beberapa di antaranya memilih untuk mengisolasikan diri mereka dan diam untuk beberapa lama; hal ini berlangsung hingga hari-hari ketika perjuangan kembali mencapai puncaknya pada tahun 1357 HS dan Revolusi Islam meraih kemenangan. Dan beberapa yang lainnya, bergerak dengan cepat untuk mengambil jarak dari garis kepemimpinan; alih-alih untuk berperang melawan kolonial, mereka bahkan mencampuri kebijakan politik Amerika dan menentang eksistensi sistem monarki dan rezim Syah yang digunakan sebagai alat-alat dominasi asing, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri dengan slogan-slogan seperti “Pemilihan-Bebas” dan “Pelaksanaan Konstitusi Monarki”. Bukan rahasia bagi mereka yang sadar dan mengetahui isu-isu sejarah kontemporer Iran pada masa itu, menyuarakan slogan-slogan yang tidak dapat menghasilkan sesuatu, melainkan penyimpangan dari alur perjuangan rakyat dalam menentang antek-antek yang sesungguhnya. Atas alasan ini, Savak Syah (agen rahasia) dengan kelihaiannya mengambil manfaat untuk mendukung keadaan dan kecenderungan ini. Dan, di tengah-tengah semua ini, hanya Imam Khomeini dan sahabat-sahabatnya yang percaya kepada Imam dan jalannya, yang tidak pernah mundur dan tidak pernah menyerah terhadap keadaan mereka sepanjang masa perjuangannya. Meskipun terhimpit kesulitan-kesulitan, masing-masing dapat menjadi sebuah pembenaran untuk merubah posisi dan memilih untuk bersikap diam, mereka bersiteguh pada tujuan-tujuan tersebut dan berkorban sebagaimana yang mereka umumkan pada awal-awal perjuangan. Keteguhan dan ketegaran seperti ini tidak akan mungkin dapat terwujud kecuali beriman kepada prinsip dan kebenaran, jauh dari tuntutan-tuntutan sosio-politik pada hari itu.

Tahun 1342 HS diawali dengan sebuah boikot acara Nuruzz (tahun baru Syamsiah) dan diwarnai dengan darah dari orang-orang tertindas di Madrasah Faiziyah. Syah bersikeras untuk melaksanakan reformasi yang telah dicanangkan oleh Amerika sedangkan Imam Khomeini bersikeras untuk mencerahkan dan menggoyang masyarakat supaya bangkit untuk melawan intervensi Amerika dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Syah. Pada tanggal 14 Farwardin 1342 HS, Ayatullah al-Uzma al-Hakim, melalui telegraf yang ia kirim dari Najaf, yang dialamatkan kepada ulama dan para marja’, meminta supaya mereka mengemas barang dan berhijrah ke Najaf. Usulan ini dibuat untuk melindungi kelangsungan hidup para ulama dan mengamankan Hauzah Ilmiah. Rezim Syah,  dengan mengambil tindakan tertentu, menunjukkan kemarahannya terhadap dukungan Ulama Najaf dan Karbala serta dukungan dari Ayatullah Hakim atas perjuangan Ulama Iran. Rezim Syah, dalam rangka menciptakan ketakutan dan mencegah tanggapan ulama terhadap telegraf Ayatullah Hakim, mengirim pasukan ke Qum. Dan pada saat yang tidak berbeda  mengutus delegasi pergi ke kediaman para marja’ taklid untuk memberitahukan ancaman dari Syah. Imam Khomeini menolak untuk menerima delegasi ini. Selang beberapa waktu kemudian, Imam Khomeini dalam ceramahnya (12 Urdibehsyt 1342 HS), menanggapi isi telegraf tersebut dan dengan menyebut Syah sebagai “mardak” orang kecil (sebutan ini pada masyarakat Iran merupakan sebutan paling kasar, pejoratif. Imam hanya sekali ini saja berkata-kata kasar kepada seseorang semasa hidupnya, penj.), Imam berkata: “Mardak (orang kecil) ini mengutus kepala polisinya, seorang kepala pemerintah yang pendengki, pendendam dan penjahat ini, ke kediaman para ulama. Aku tidak memberi jalan kepada mereka untuk masuk, oh… seandainya aku beri kesempatan kepada mereka pasti akan aku hajar mulutnya; Mereka mengirim antek-anteknya ke kediaman para ulama untuk menasihati mereka bahwa Yang Mulia (Syah) telah berkata: “Jika kalian berkata urusan ini dan urusan itu, rumah kalian akan diledakkan kemudian akan jatuh menimpa kepala kalian. Kami akan membunuh kalian dan merampas kehormatan wanita-wanita kalian.”

Yang Mulia Imam Khomeini mengabaikan ancaman ini, dan  menjawab telegraf dari Ayatullah Hakim yang menekankan bahwa hijrah ulama secara kolektif untuk meninggalkan Hauzah Ilmiah dalam keadaan kosong dan tak-terurus, tidaklah akan membawa kepada kemaslahatan. Dalam salah sebagian jawaban telegrafnya, Imam menulis, “Kami Insya Allah akan menjalankan tugas Ilahi kami dan meraih salah satu dari dua hal yang baik: Entah kami mendera tangan-tangan yang mengkhianati Islam dan al-Qur’an, atau kami akan bergabung dengan Sang Pencipta. Sesungguhnya, Aku tidak melihat kematian kecuali kebahagiaan. Dan hidup bersama para penindas tidak lain adalah kehinaan.”[25]

Dalam sebuah pesan yang bertanggal 22 April 1963 (12  Urdebehesyt 1342 HS), pada acara 40 hari tragedi kehancuran Madrasah Faiziyyah, Imam Khomeini menekankan bahwa ulama dan rakyat Iran harus bergandeng-tangan, bekerja sama dengan para pemimpin Muslim dan negara-negara Arab untuk menghadapi, melawan dan mengutuk perjanjian antara Syah dan Israel.[26]  Lalu dari permulaan perjuangannya, Imam mendemonstrasikan bahwa pergerakan Islam di Iran tidak terlepas dari kepentingan umat Islam. Bahkan, perjuangannya merupakan gerakan reformatif pada seluruh dunia Islam dan tidak hanya terbatas di negara Iran saja. Dalam sebuah surat kepada ulama, Yang Mulia, Imam menulis, “Bahaya Israel bagi Islam dan Iran adalah sangat dekat. Kesepakatan dengan Israel melawan pemerintahan-pemerintahan Islam entah akan berakhir atau akan segera dimulai… dengan sikap diam, dan penarikan diri akan menyebabkan kita kehilangan segalanya. Islam mempunyai hak atas kita, demikian pula Nabi Muhammad Saw juga mempunyai hak atas kita. Pada masa menghadapi dekadensi ini, Ulama Muslim dan mereka yang terikat dengan agama kudus ini harus  menunaikan tugas mereka. Aku telah memutuskan untuk tidak berhenti hingga aku dapat membuat sistem korup ini berakhir…”[27]


[1]  Dinasti Qajar memerintah Iran kurang lebih satu setengah abad, dimulai sejak tahun 1193-1344 HS (1779-1925 M).  Selama  kepemimpinan mereka, Iran ditinggal oleh pesatnya peradaban dunia dalam berbagai bidang; sosial, budaya dan politik. Sebagaimana kesepakatan-kesepakatan irrasional yang diikat mereka dengan bangsa-bangsa super power saat itu, telah mempermalukan dan mencoreng lembaran sejarah Iran. Secara umum, dapat dikatakan bahwa era Qajar adalah era awal masuknya pengaruh barat di Iran. 

[2]  Gerakan Tembakau adalah sebuah pergerakan yang terjadi di Iran pada tahun 1308-1309 HS/1891 M gerakan yang memprotes permit/kongsi produksi tembakau Iran kepada salah satu perusahaan Inggris, itu merupakan perlawanan pertama Iran  modern, yang di akhiri dengan kesuksesan.  Kaum pemerotes dapat mewujudkan apa yang mereka harapkan yaitu pembatalan kongsi tersebut. Fatwa Ayatullah Mirza Muhammad Hasan Syirazi tentang pengharaman mengkonsumsi tembakau memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengkonsolidasi persatuan para ulama dan umat serta mengokohkan kekuatan dan kesolidan mereka dalam melanjutkan perlawanan mereka. Dan hasil dari perlawanan yang berkesinambungan tersebut  memaksa Nasiruddin Syah untuk membatalkan kesepakatannya dengan perusahaan Inggris.

[3]  Sayid Jamaluddin Asad Abadi  atau yang lebih dikenal dengan Afgani (1254-1314 H), merupakan salah satu ulama yang paling menonjol dan bersinar pada paruh kedua dari abad ke-19 Masehi. Ia dikenal dengan buah pikir yang brilian, kesadaran dan pengamatannya yang tajam dalam bidang politik, sosial dan filsafat. Seorang figur penentang kekuasaan sistem demokrasi di negara-negara timur dan sosok pemersatu umat Islam. Ia juga mendirikan “Ittihad Islâmi”  dan menceburkan diri dalam pertikaian sengit melawan politik imperealis Inggris dan kediktatoran kerajaan Utsmaniyah. Dan untuk mewujudkan tujuan dan cita-citanya beliau berpindah-pindah dari negara satu ke negara yang lain.

Di Paris, Afgani menerbitkan sebuah surat kabar bernama “al-Urwatul Wutsqa” yang merupakan mimbar dan corongnya dalam menentang penjajahan Inggris di timur. Ia juga memiliki aktifitas politik di Kairo, Istanbul, India dan Afganistan yang sangat berpengaruh bagi masyarakat. Afgani bertolak ke London setelah diasingkan oleh Raja Nasiruddin untuk kedua kalinya pada tahun 1306 H. Di sana, ia menerbitkan sebuah surat kabar bernama “Dhiyaul Khafiqain” dalam dua bahasa; Inggris dan Arab, hanya saja ia terusir kembali dan terpaksa keluar dari Eropa dan pergi ke Istambul. Di sana atas hasutan dan provokasi pemerintah Iran akhirnya Afgani ditangkap lalu dijebloskan ke dalam penjara sampai meninggal pada tahun 1314 H.

[4].  Mudhafaruddin Qajari: adalah raja ke lima dari Dinasti Qajar. Dia memerintah Iran selama 11 tahun. Ketidaklayakannya dalam memimpin terpaksa harus dibayar dengan mahal oleh bangsanya. Berkali-kali dia melancong ke Eropa yang memaksanya untuk meminjam sebanyak dua kali kepada Uni soviet sebagai “ongkos” tour dan tamasyanya di Eropa. Akhirnya, akibat dari pinjaman tersebut  dia menyerahkan urusan bea cukai jalur utara Iran dan memberikan izin kepada Rusia untuk mengambil ikan di lautan Khazar. Ia juga menyerahkan urusan bea cukai jalur selatan negaranya kepada Inggris, setelah pinjaman yang didapatkan dari mereka. Hal tersebut jelas membuat Iran pailit dan berekor kepada munculnya pergerakan Dasturiyah yang memaksanya – akibat tekanan dari kalangan pendukung kebebasan di tahun 1906 M / 1324 H – mengeluarkan keputusan untuk merubah sistem kerajaan diktatoris menjadi sistem kerajan masyruthah. Dan setelah dia menanda tangani surat keputusan tersebut yang dikeluarkan oleh Majlis Permusyawaratan Nasional, dia pun meninggal dunia pada tahun itu pula.

[5]  Ayatullah Hairi Yazdi (1276-1355 HS)  merupakan salah satu faqih besar dan marja’ agung Syi’ah di abad 14 hijriyah. Setelah menamatkan pelajaran-pelajaran dasar, ia pergi ke dua kota; Najaf dan Samarra’ di Irak. Di sana berguru kepada ulama-ulama masyhur. Ia kembali ke kota Arak tahun 1332 HS untuk mengajar di Hauzah setempat. Dan pada tahun 1340 HS pergi ke kota Qum dan menetap di sana sebagai sebuah bentuk kecintaannya kepada para ulama, yang pada akhirnya mendirikan sebuah Hauzah Ilmiah di sana. Telah banyak para ulama yang meminum keluasan dan kedalaman ilmunya, yang pada puncaknya adalah Imam Khomeini Ra sendiri.

[6]  Ayatullah Sayid Husain Ali Taba’tabai Burujerdi Ra, di kota Burujurd tahun 1292 HS, setelah dia menamatkan pelajaran dasar ilmu di Hauzah setempat, ia pindah ke kota Isfahan untuk melanjutkan pelajaran di Hauzah sana seperti Fiqh dan Usul, kemudian ia pergi ke Najaf tahun 1319 HS dan  di sana selama 8 tahun belajar dan mengajar. Imam kembali pada tahun 1328 HS kemudian ke kota Masyhad  dan akhirnya pergi ke kota Qum untuk menetap di sana. Setelah wafatnya Sayid Abul Hasan Isfahani, Ayatullah Burujerdi menjadi marja’ agung. Ia wafat pada tahun 1380 HS dalam usia 90 tahunan. Ia meninggalkan beberapa karangan dan karya dalam Filsafat, Logika, Fiqh, Usul dan ilmu Rijal.

[7] . Syahid Muthahhari, seorang ruhani pejuang terkemuka yang memberikan jasa yang melimpah untuk membangkitkan generasi muda yang revolusioner di kampus dan di majelis. Meskipun bertahun telah berlalu semenjak syahadahnya, tulisan-tulisannya masih segar membawakan ide-ide segar yang membimbing kaum muda yang berdedikasi. Pada tahun 1357 HS, pada puncak perlawanan masyarakat Iran terhadap rezim Syah, Professor Muthahhari ditunjuk oleh Imam Khomeini, Pemimpin Agung Revolusi, sebagai Presiden Dewan Revolusi Islami. Filosof Muslim dan cendekia peneliti (alim muhaqqiq), dibunuh pada Urdibehesyt 1358 HS/April 1979, ditangan antek-antek asing, dan mereguk cawan syahadah. 

[8] . Syahid Dr. Muhammad Husain Behesyti terhitung sebagai seorang ruhani pejuang dan sosok politisi-ilmuwan Revolusi Islam. Sentuhan manajerialnya dalam mengorganisir kekuatan revolusioner dalam kerangka sebuah organisasi yang bernama “Hizb Jumhuri Islami” (Partai Republik Islam) berperan sangat efektif dalam menetralisir plot-plot musuh selama beberapa bulan pertama kemenangan Revolusi. Syahid Behesyti merupakan orang pertama yang ditunjuk sebagai Ketua Mahkamah Agung oleh Imam Khomeini untuk merubah masalah peradilan di dalam negeri. Sosok politisi ulung ini, mencapai syahadah tatkala terjadi peledakan bom pada markas Hizb Jumhuri Islami pada bulan Syahriwar 1360 HS/September 1981, bersama dengan sejumlah besar petinggi Republik Islam Iran. Peristiwa ini didalangi oleh MKO (Mujahidin Khalq Organisation) yang menyusupkan orang ke dalam sekretariat partai tersebut. Syahid Behesyti meninggalkan banyak karya-karya tulis dan telah banyak diterbitkan.

[9] . Sahifeh-ye Nur, jilid  12, h. 136

[10] . Idem., jil. 10, h. 163

[11] . Idem, jil. 16,  h. 92

[12].   Imam Khomeini Ra dalam pidato-pidatonya menyinggung bahwa ia melihat dari dekat sebagian sidang-sidang Majelis Syura Melli (semacam MPR, penj) pada masa Reza Khan dan mengetahui proses berlangsungnya bagaimana front-front politik pada masa itu dan penentangan dari Mujahid Besar Ayatullah Mudarris terhadap Reza Khan pada sidang Majelis.

[13] . Ma’muriyat barâye Watânam hal. 88 & 89. Syarkat-e Sahami Kitabha-e Jibiy, cet. Ke-3, 1350 HS

[14] . Kautsar… Syarh Waqâye-‘e Inqilâb-e Islâmi, jilid 3, h. 69

[15] . Diwân-e Imâm Khomeini, Cet. Ke-3, Bag. Dhamiyih

[16] Sahifeh-ye Nur, jilid 1, h. 15

[17] . Idem, h. 33

[18] . Idem., h. 16

[19] . Radio Moskow pada malam 16 Khurdad, perlawanan rakyat dan umat Islam pada tanggal 15 Khurdad, memberikan komentarnya sebagai berikut, “Unsur-unsur reaksioner Iran yang kecewa dengan reformasi-reformasi di negara ini khususnya reformasi lahan pertanian (islâhat-e irda) serta terhadap penambahan gaji sosial dan penyebaran kebebasan wanita Iran, mereka tidak melihat kecendrungan terhadap masalah ini.  Hari ini di Teheran, Qum dan Masyhad mengadakan demonstrasi-demonstrasi di jalanan. Kekacauan tercipta dikarenakan oleh ulah beberapa orang yang bermaksud menentang reformasi pemerintahan Iran yang dapat dilaksanakan dan atau program-program yang tersedia di tangan mereka. Para pemimpin dan penggerak utama gerakan ini adalah sebagian dari para pemimpin religius dan unsur-unsur reaksioner. Mereka membakar pasar-pasar, menyerang dan menjarah beberapa toko, Merusak mobil-mobil dan bus-bus dan  menyerang beberapa kantor pemerintahan. Surat kabar Izuwastia, surat kabar pemerintahan Soviet pada tanggal 17 Khurdad 1342 HS (7 Juni 1963) menulis, “…di kota-kota seperti Teheran, Masyhad, Qum dan Rei dengan pancingan beberapa orang ruhaniawan reaksioner Muslimin tercipta kekacauan dan huru-hara.”

Pencari huru-hara menggunakan dana pemerintah semenjak hari-hari suram yang sudah dirancang untuk berperang melawan reformasi dan beberapa pemuda yang puritan dan terbelakang merusak beberapa toko dan mobil.

Pada majalah Asr-e Jadid (Era Baru) yang beredar di negara (eks) Soviet juga menulis, “Khomeini dan para pendukungnya yang Mukmin bangkit melawan pemerintah dan menuntut persamaan hak wanita dan pada hasil propaganda mereka yang buta karena sikap fanatik tumpah-ruah ke jalan dan menciptakan kekacauan dan huru hara.” Sesuai dengan nukilan dari, Barrasi wa Tahlili az Nehdat Imâm Khomeini, jilid 1, h. 515).

[20] . Idem., h. 223

[21] . Sahifeh-ye Nur, jil. 1, h. 39

[22] . Dalam lembaran manifesto ini, terdapat beberapa nama yang membubuhkan tanda tangan mereka, antara lain: Murtada Husaini Langarudi, Ahmad Husaini Tehrani, Muhammad Husain Tababa’i, Muhammad Musa Yazdi, Muhammad Rida Musawi Gulpaigani, Sayid Kazim Syariatmadari, Ruhullah Musawi Khomeini, Hasyim Amuli, Murtada Hairi. Keseluruhan teks manifesto ini disertai dengan penjelasan ihwal bagaimana kesepakatan ulama untuk menandatangani manifesto tersebut pada kitab Barrasi wa Tahlili Nehdat Imâm Khomeini, jilid 1, h. 294-302.

[23] . Sahifah-e Nur, jil. 1, h. 27

[24] . (Kautsar, Syarh Waqâye’ –e Inqilâb-e Islâmi), jil. 1, h. 67

[25] . Sahifah-ye Nur, jilid 1, h. 39

[26] . Tulisan telegraf dan penjelasan peristiwa lihat dalam kitab  Barrasi-e wa Tahlili-e az Nehdhat-e Imam Khomeini, jilid 1, h. 398-405

[27] . Sahifeh-ye Nur, jilid 1, h. 46

 

6. Partai-partai dan Kelompok-kelompok Politik (semenjak Perlawanan 15 Khurdad hingga Kemenangan Revolusi Islam)

Pergerakan utama politik dan perjuangan rakyat Iran setelah Perlawanan 15 Khurdad, yang berakhir hingga kemenangan Revolusi, adalah orang-orang non-partisan, ruhani yang mendorong diri mereka sendiri, yang meyakini jalan Imam.

Mereka menyelenggarakan perjuangan dengan menggunakan basis keagaaman mereka di antaranya massa, dan melalui hubungan yang mereka jalin dengan masyarakat dari strata yang berbeda  –baik di kota maupun di daerah pedesaan; mereka mengusung perjuangan.  Sesuai dengan model dan bentuk yang dianjurkan oleh Imam pada setiap interval. Ada pelarangan untuk berceramah di atas mimbar, pengasingan yang diadakan kembali ke daerah terpencil, keseringan pemenjaraan, diikuti dengan deraan dan siksaan dan syahadah di penjara-penjara Syah. Semua ini adalah nasib yang telah disambut oleh para ruhaniawan, pada tahun-tahun setelah Perlawanan 15 Khurdad, ketimbang menyerah dalam memenuhi tujuan-tujuan mereka.

Di sisi lain, setelah Perlawanan 15 Khurdad 1342, sejumlah masyarakat religius Teheran (utamanya adalah tokoh-tokoh agama dan bisnis), yang meyakini imamah, membentuk sebuah grup yang bernama “Koalisi Masyarakat Islam” (Haeatha-e Mu’talefe-e Islami). Organisasi yang berbasis cabang militer ini  bertindak sebagaimana yang dilakukan oleh Fadaiyân-e Islâm. Pembunuhan Perdana Menteri Hassan ‘Ali Mansur yang membuat pelulusan rancangan undang-undang kapitulasi dijalankan oleh koalisi masyarakat ini. Rezim Syah menangkap dan mengeksekusi beberapa tokoh penting koalisi masyarakat ini dan anggota-anggota lainnya kemudian dijebloskan ke penjara untuk masa yang lama. Keanggotaan dan kesetiaan terhadap masyarakat ini memainkan peranan yang efektif selama masa perjuangan dalam mencetak dan mendistribusikan pengumuman Imam Khomeini, dan dalam menyusun protes-protes pasar dan peniaga hingga pada akhir hayat rezim Syah. Mereka memiliki saham yang berharga dalam mengatur demonstrasi dan pemogokan. Partai Nasional Islam dibentuk oleh ruhani kampus dan strata lain, setelah Perlawanan 15 Khurdad dengan motif untuk melakukan pertempuran bersenjata melawan rezim, dan mulai mengumpulkan senjata dan menggembleng orang-orangnya. Bagaimanapun, setelah beberapa waktu, organisasi mereka diekspos oleh usaha Savak. Beberapa petinggi dari partai ini menyembunyikan diri mereka di gunung sebelah utara Teheran, namun dengan kepungan secara besar-besaran oleh kekuatan militer, akhirnya mereka ditangkap dan dipenjara.

Kelompok-kelompok politik yang organisasinya berdiri hingga tahun-tahun sebelum 1342 HS antara lain adalah Partai Tudeh (Hizb-e Tudeh), Organisasi Front Nasional (Jebhe-e Melli), Pergerakan Pembebasan Iran (Nehdat-e Âzâdiy-e Irân).

Partai komunis Tudeh yang dikecam oleh opini publik karena pengkhianatannya sejak beberapa waktu sebelum Perlawanan 15 Khurdad, pada kenyataannya telah keluar dari panggung perjuangan melawan Syah.

Partai ini telah memindahkan organisasinya ke satu tempat di luar negeri, dan secara konstan terjerat oleh pertikaian internal partai sementara beberapa pimpinan partai, setelah ditangkap, digulung ke sisi Syah dan memajukan beberapa pos-pos tinggi dalam tubuh pemerintahan rezim Syah. Praktik Partai Tudeh bersifat langsung dan meniru kebijakan Moskow. Pada 25 tahun terakhir pemerintahan Syah, kebijakan Istana Kremlin adalah untuk memelihara hubungan dengan Syah dan mempertahankan keadaan ekonomi yang telah diraih. Kegiatan-kegiatan Partai Tudeh dalam periode ini terbatas pada pengeluaran stetemen-stetemen politik dan kepemilikannya stasiun radio di luar negeri. Kegiatan-kegiatan ini dimanfaatkan sebagai lapisan penekan oleh Moskow untuk memajukan tujuan-tujuan Uni Soviet.        Front Nasional, meskipun kedudukan yang telah diraihnya dalam pergerakan nasionalisasi minyak setelah kudeta Syah 28 Murdad, diisolasi dan menghadapi perpecahan dan keretakan dalam internal organisasinya. Kegiatan-kegiatan propaganda di sana-sini dan pendukung Front Nasional, utamanya terbatas pada kelompok-kelompok pelajar di luar negeri. Pendukung religius dan kampus dari front ini, meskipun sikap para pemimpin mereka, memilih berada di samping perjuangan Imam.

Pergerakan Pembebasan Iran, yang mendapatkan dukungan dari orang-orang pejuang seperti Ayatullah Taleqani, menyokong Perlawanan 15 Khurdad. Basis Pergerakan Pembebasan hanya terbatas pada tokoh-tokoh agama dan cendekiawan di universitas dalam dan luar negeri.  Serta tidak adanya organisasi politik yang memadai yang dapat memberikan kemampuan mengorganisir proses perjuangan dengan baik.

Organisasi Pejuang (mujahidin) Rakyat (kaum munafik, Majelis Khalq Organisation) terbentuk pada tahun 1344-1346 HS (1965-1967), dengan maksud melakukan pertempuran bersenjata melawan rezim Syah. Organisasi ini terjebak dalam eklektism; sistem falsafah yang menggunakan pemilihan dari berbagai sumber- karena pemahaman dangkal para pemimpinnya tentang Islam. Dan meskipun mereka mendeklarasikan diri mereka sebagai sebuah organsasi Islam, namun organisasi ini secara diam-diam mengajarkan anggotanya tentang ajaran Marksisme sebagai ilmu ekonomi.

Imam Khomeini menolak mengkonfirmasi organisasi ini, ketika penyimpangan ideologi organisasi ini tidak dipublikasikan, dan ketika delegasi organisasi ini pergi ke Najaf untuk meminta dukungan Imam, Imam Khomeini menyebutkan kembali penyimpangan konsep mereka dan mengulangi posisinya yang tidak mendukung organisasi ini.

Majelis Khalq Organisation (MKO, kaum munafik)  merupakan organisasi yang dibentuk pada tahun 1350 oleh dua kelompok kecil komunis.[1] Organisasi ini mendeklarasikan konflik bersenjata sebagai kebijakannya. Pembentukan kelompok ini terjadi karena rasa rendah diri dan kekecewaan kaum komunis Iran yang muncul akibat dari keadaan Partai Tudeh dan pengkhianatannya pada satu sisi, dan tindakan-tindakan pioner ruhani dan tokoh-tokoh Muslim pada Perlawanan 15 Khurdad, di sisi lain.

Kedua organisasi ini meluangkan beberapa tahun pertama dalam menarik beberapa anggota dan mentraining mereka.[2] Selanjutnya, dengan mengadakan tindakan-tindakan yang terbatas dan terpencar-pencar, mereka diidentifikasi oleh Savak dan dengan penangkapan para pemimpin mereka, organisasi ini bubar. Kecuali beberapa anggota yang bertanggung jawab atas organisasi ini diekseskusi, yang lainnya menulis surat penyesalan dan membaktikan diri mereka untuk bekerja sama dengan Syah dan mereka selamat. Kendati Savak, dari interview televisinya yang menghinakan dengan anggota grup ini agak sukses dalam mengacaukan opini publik tentang pejuang sebenarnya, namun interview ini dan pengakuan yang mengejutkan menunjukkan, penyimpangan moral dan agama serta pembunuhan orang-orang mereka sendiri dalam organisasi ini. Sementara di dalam penjara, beberapa elemen menjadi mata-mata demi kepentingan Savak. Korban-korban dari tindakan spionase ini adalah tahanan-tahanan politik yang percaya kepada gerakan Imam.

Selain Kelompok Koalisi Islam dan Partai Nasional Islam, terdapat kelompok-kelompok pejuang muslim lainnya yang memilih untuk berkontak senjata dalam menyokong gerakan Imam. Di antara kelompok yang dapat disebutkan ini adalah Kelompok Septempartite (Tujuh)[3] yang kemudian menjadi sebuah organisasi persatuan dengan nama Organisasi Mujahidin Revolusi Islam (Sâzemân-e Mujâhidin-e Inqilâbi-e Islâm), dan Kelompok Ruhani Berjuang, Syahid Sayid ‘Ali Andarzga.

Pada tahun-tahun berikutnya setelah Perlawanan 15 Khurdad, kelompok lain yang bernama  Komunitas Hujjatiyah (Anjuman-e Hujjatiyah) yang catatan tanggal pendiriannya pada tahun-tahun sebelumnya, juga aktif. Aktivitas kelompok ini berkisar pada oposisi intelektual melawan Bahaisme di Iran. Kendati di permukaan tujuan kelompok ini berbenturan dengan maksud-maksud rezim Syah yang mendukung kaum Bahais, namun, tidak demikian adanya dalam tindakan, karena karakter organisasi Komunitas Hujjatiyah dan para pemimpinnya menuntut, sebagai sebuah pra-syarat, tidak ada campur tangan dari Savak dalam bidang politik.[4] Sikap ini tentu saja menciptakan iklim yang kondusif bagi rezim, karena banyak kekuatan yang penuh semangat dari sisi religius tercampakkan dari arena perjuangan karena korupsi, yaitu boneka monarki, dan menjadi sibuk dengan perilaku-perilaku yang kontra efektif. Atas alasan ini, untuk menghancurkan dari dalam, Syah memasukkan orang-orangnya ke organisasi ini, Savak. Dengan demikian Komunitas Hujjatiyah melebar aktivitasnya, tanpa ada masalah dari Savak, dan bahkan dalam beberapa kasus, didukung oleh Savak. Imam Khomeini, mengetahui siasat jahat ini, dan dengan tegas ia memutuskan hubungan dengan mereka. Karena sikap tegas Imam, golongan yang kontra Imam (Savak) keluar dari komunitas Hujjatiyah dan yang pro dengan Imam dan mendukung Revolusi bergabung dengan pergerakan Imam.

      Komunitas Hujjatiyah menindaklanjuti oposisinya dengan Bahaisme dengan jalan pendidikan dan training, sementara pada saat itu,  baik di Iran atau di luar negeri, Bahaisme telah dikenal sebagai sebuah partai politik yang berafiliasi dengan Israel dan di bawah lindungan Zionis yang bermukim di Amerika dan secara natural, tantangan utama mereka harus dikerjakan melalui cara yang sama.

Pada tahun berikutnya, 1348 HS, rangkaian pelajaran dan kuliah yang diberikan oleh orang-orang seperti: Ayatullah Mutahhari, Dr. Mufattih, Dr. Bahonar, Âqâ-e Bazargan dan Dr. Syariati telah menyita perhatian banyak tokoh intelektual dan agama serta tokoh universitas Islam pada pusat-pusat agama Teheran seperti: Masjid Quba, Masjid Hidayat, Pusat Tauhid dan khususnya Husainiyyah Irsyad. Ayatullah Mutahhari, sebagai seorang filosof dan faqih yang menonjol -yang selama beberapa tahun menerima pelajaran dan instruksi dari Imam Khomeini dan setelah hijrah ke Teheran, belajar kepada Allamah Tabataba’i- mempersembahkan usahanya dalam menjelaskan usul aqidah Islam, dalam bahasa terkini, dan mencerahkan generasi muda tentang penyimpangan-penyimpangan sekolah-sekolah eklektik dan ateistik. Usaha Dr. Mufattih dan Dr. Bahonar, sebagai figur ruhani dan kampus berada bersama dalam satu garis. Setelah syahadah Ayatullah Mutahhari, seluruh karyanya –tanpa kecuali- berdaya-guna, dan khidmatnya yang lama dan bernilai sangat dipuji oleh Imam Khomeini.

Daya tarik karya-karya Dr. Ali Syariati pada waktu itu, terlepas dari gaya bahasanya dalam menulis dan mendiksi, dalam kenyataannya dia adalah seorang intelektual yang memandang dan menghadirkan agama, sejarah, dan sosial-religius masyarakat Iran, secara kritis dan radikal.

Di kalangan generasi muda Iran merasakan kehilangan pembahasan-pembahasan semacam ini pada masa-masa itu.

Sebuah kajian imparsial yang baru-baru ini diterbitkan dalam bentuk dokumen, surat-surat, dan adu-argumentasi antara Dr. Syariati dan Savak,[5] membuktikan bahwa Savak mengetahui karya-karya Dr. Syariati telah mencegah berkembangnya kaum kiri (leftits), kecenderungan komunistik  di antara generasi muda. Savak membayangkan kuliahnya, serangan yang bertubi-tubi kepada ruhani tradisional Iran, menyediakan lahan untuk menebarkan pertikaian di hadapan elemen-elemen agama. Savak tidak dapat mengendalikan kegiatan Dr. Syariati ini selama beberapa tahun. Bagaimanapun, pada tahun 1352 HS (1973), Savak Syah dipaksa untuk menutup Husainiyyah Irsyad dan menangkap Dr. Syariati.

Surat-surat dan karya Ayatullah Mutahhari menjelaskan sebab-sebab pengunduran dirinya dari kegiatan-kegiatan Husainiyyah Irsyad, dia berpendapat bahwa revolusi-revolusi sosio-kultural harus berdasarkan kepada dan diikuti oleh pemikiran agama yang murni dan esensialitas Wahyu Ilahi. 

Dengan demikian, Ayatullah Mutahhari meyakini bahwa, setiap karya novel dan intepretasi revolusioner isu-isu agama yang tidak bersandar kepada usul (fondasi) yang dimaksud dan kurang ahli dalam kemahiran dan pemahaman intelektual, akan berusia pendek.

Dan semua ini, lama kelamaan, akan membuka jalan bagi eklektisme (sebuah sistem filsafat yang berupaya mengadopsi unsur-unsur yang ada pada model Barat, dan menggunakan selera dalam memilih apa yang cocok dengan seleranya, penj), dan sinkretisme antara teks-teks agama dengan pandangan-pandangan disharmoni dan non-inspirasional,  menyerah kepada masuknya filsafat Barat dan pandangan-pandangan sosiologi.

Setelah kemenangan Revolusi, elemen-elemen kardinal, berpretensi membela Dr. Syariati, bertahan berhadapan dengan ruhani dan kepemimpinan Revolusi. Namun, pada sisi lain, banyak orang yang telah condong kepada isu-isu politik Islam yang dimainkan oleh sebagian di antara pembela Revolusi Islam, sebuah truism (kebenaran) yang tidak dapat dinafikan, tanpa memandang bagaiaman karya-karya mereka diintepretasikan atau dinilai. Dalam memandang alasan-alasan yang disebutkan di atas, penilaian berbeda telah dibuat oleh peran dan kepribadian Dr. Syariati. Beberapa orang melihatnya, dalam tataran praktis, sebagai pelayan tujuan-tujuan kultural rezim. Sebagian lainnya memandang dia sebagai seorang pemikir revolusioner muslim dan percaya, berdasarkan kepada tulisan-tulisannya, bahwa Dr. Syariati sendiri telah mengumumkan keharusan untuk mengedit kembali tulisan-tulisannya, dan menghapus atau menghilangkan stetemen-stetemen dan intepretasi-intepretasi keliru dan dangkal. Bagaimanapun, sikap Imam Khoemini dalam urusan ini sangat arif, dan hal ini berlangsung hingga wafatnya.

Yang Mulia, Imam Khoemini, dalam pidato-pidato dan pesan-pesannya ketika itu, membela peran historis ruhani Syi’ah, mendukung ulama dan ruhaniawan, dan telah menanggapi keraguan-keraguan yang telah muncul.

Dalam suratnya kepada asosiasi pelajar di luar negeri, Imam Khomeini telah berulang-kali memperingatkan akan kedangkalan, ketidakmahiran dan  pendekatan-pendekatan yang dilakukan terhadap Islam. Sementara itu, Imam menyatakan apresiasinya dan pujiannya kepada cendekiawan muslim yang tercerahkan dan mengingatkan mereka terhadap ruhani gadungan dan pengikut ultra-tradisional. Imam memandang isu-isu yang menggiring kepada pertikaian dan faksionalisme, dengan nama apa saja,  sebagai faktor mengganggu Revolusi.

 


[1] . Kelompok Jazni dan Ahmadiyah.

[2] . Beberapa dari anggota Organisasi Mujahidin yang terbentuk pada akhir tahun 1348 HS yaitu 4 tahun setelah terbentuknya secara resmi organisasi itu, hanya terdiri dari 50 orang, Tahlili bar Sâzemân-e Mujâhidin-e Khalq Irân, h. 36

[3] . Umat-e Wâhid, Tauhid-e badar, Tauhid-e Saf, Falah, Mansurun, muwahhidin, silahkan rujuk Târikhceh Guruha-e tasykil dahandeh-e Sâzemân Mujahidin Inqilâb-e Islâmi.

[4] . Dar Syenâkhteh Hizb-e Qâ’idin-e Zamân, terbitan Danisy-e Islami, Qum

[5] . Barrasi-ye  wa Tahlili az Nehdat-e Imâm Khomeini, jilid. 3.

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. subhanallah, semoga perjuangannya di balaz oleh Allah SWT. Amin
    dan semoga perjuangan beliau mampu ditiru oleh para pemimpin lainnya

  2. semoga Allah memasukkanya kedalam neraka jahanam,karena menyebarkan kebatilan, hal ini dapat diliat dari mayatnya yang tidak bisa diangkat kecuali pakai helikopter dan bagi anda yang menjadi pengikutnya semoga mendapat hidayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: