RISALAH REVOLUSI [2]

e.jpg

CINTA KEPADA KHOMEINI

CINTA KEPADA SEGALA KEINDAHAN

 7. Keyakinan, Tujuan dan Harapan Imam Khomeini

Kini kita memasuki pembahasan  peristiwa-peristiwa historis  sisi kehidupan Imam Khomeini Sekalipun penulis sadar menggambarkan sosok dan figur agung tidak akan mencapai kesempurnaan, namun dengan melihat seluruh dimensi-dimensi spiritual, intelektual yang terkomulasi dalam gerakan dan aktivitasnya serta tujuan dan cita-citanya secara sederhana dapat ditangkap pesan utamanya.

Adalah jelas bahwa pembentukan gambar yang jelas dan sempurna tentang prinsip-prinsip keyakinan Imam Khomeini dan tujuan-tujuannya tidak mudah terlaksana tanpa mempelajari berbagai karyanya dan pembicaraannya serta mengamati sikap praktisnya secara teliti, yang hal ini di luar kemampuan buku ini.

Imam Khomeini adalah seorang muslim yang bermazhab Syiah dan sangat yakin terhadap persatuan umat Islam -tanpa peduli akan keragaman aliran dan madzhab mereka- di hadapan kaum penjajah dan musuh-musuh Islam.

Ajakan untuk menggalang persatuan mendapat perhatian khusus dalam pernyataan-pernyataan dan berbagai pidatonya. Imam tidak mengizinkan adanya gerakan apa pun yang menyebabkan timbulnya perpecahan di tengah-tengah barisan muslimin yang melapangkan jalan bagi para kolonial untuk mewujudkan hegemoni mereka. Imam telah menjelaskan -melalui fatwa khusus dan dukungannya terhadap pengumuman Pekan Persatuan muslimin yang diadakan bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Saw yang mulia dan penyampaian berbagai pernyataan yang terus-menerus- cara-cara praktis untuk merealisasikan persatuan antara Syi`ah dan Ahli Sunnah. Bahkan Imam bersikeras untuk “memerangi” setiap hal yang menyebabkan perpecahan dan perdebatan yang menjurus kepada permusuhan (jidal) antara Syi`ah dan Ahli Sunnah selama masa kepemimpinannya.

Imam meyakini bahwa iman kepada Allah Swt Yang Maha Esa dan keyakinan terhadap Risâlah Nabi Terakhir Saw dan iman kepada al-Qur-an yang mulia sebagai kitab petunjuk yang abadi dan keyakinan terhadap hal-hal yang mendasar dalam agama dan berbagai syiarnya serta hukum-hukumnya seperti salat, puasa, zakat, haji dan jihad, semua itu dapat dijadikan barometer praktis yang tetap untuk mendekatkan semua madzhab Islam dan menyatukan barisan-barisannya dalam menghadapi kaum musyrik dan musuh-musuh agama.

Kebangkitan reformasi yang dibangun oleh Imam Khomeini dan berbagai pernyataannya tidak terbatas pada masyarakat Iran dan masyarakat Islam lainnya. Sebab, Imam yakin bahwa fitrah manusia yang dimiliki oleh semua manusia diciptakan berdasarkan kecenderungan kepada prinsip tauhid, kebaikan, hakikat dan keadilan. Seandainya pengetahuan manusia secara umum mampu menguasai nafsu ammarah maka setan pun dapat dilemahkan.   Konsekuensi logisnya masyarakat akan menuju kejalan Allah Swt dan mencapai  kehidupan  yang adil dan damai.

Berdasarkan hal ini, Imam Khomeini mengajak -dalam sebagian besar pernyataan- kaum tertindas dan bangsa-bangsa yang masih tertawan di negara-negara dunia ketiga untuk melakukan intifadah melawan kaum mustakbirin -negara-negara besar penjajah-. Pada hari-hari pertama kemenangan revolusi, Imam dengan tegas melontarkan gagasan pembentukan partai kaum tertindas dunia, bahkan ia membela gagasan ini. Pada masa kepemimpinannya, untuk pertama kalinya konfrensi internasional pertama yang diikuti berbagai gerakan pembebasan dilangsungkan di Iran.

Imam Khomeini berulangkali menegaskan bahwa revolusi Islam hanya memerangi dan memusuhi sikap para pemegang kekuasaan  Amerika dan Barat serta Uni Soviet (eks), bukan rakyat dari negara-negara tersebut yang pada hakikatnya mereka pun menjadi korban penjajahan yang baru.

Slogan Imam Khomeini ialah memerangi orang yang zalim dan membela hak orang yang dizalimi. Imam mengatakan: “Kami tidak akan melakukan kezaliman dan kami tidak akan membiarkan orang lain dizalimi.”

Barangkali sangat tepat bila penulis menukil dasar-dasar keyakinan Imam Khomeini sebagaimana yang ia nyatakan sendiri saat menjawab pernyataan salah seorang reporter majalah Time, Inggris, dimana Imam menyatakan: “Sesungguhnya keyakinanku dan keyakinan semua kaum muslim tercakup dalam masalah-masalah yang disampaikan oleh al-Qur-an al-Karim dan yang dijelaskan oleh Nabi Islam Saw dan para Imam As pembawa kebenaran setelahnya.

Dasar dan prinsip semua keyakinan itu -yang dianggap sebagai keyakinan kami yang paling tinggi dan penting- adalah prinsip tauhid. Berdasarkan keyakinan ini maka kami percaya bahwa Pencipta alam dan semua keberadaan serta manusia adalah Allah Swt yang Maha Tahu terhadap segala hakikat dan Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Pemilik segala sesuatu. Prinsip ini mengajarkan kepada kami bahwa manusia hanya  tunduk di hadapan Allah, dan ia tidak tunduk kepada manusia kecuali bila ketundukan terhadapnya merupakan kelanjutan dari ketundukan kepada Allah Swt. Berdasarkan hal ini maka tak seorang pun berhak untuk memaksa orang lain untuk tunduk kepadanya. Dari prinsip keyakinan ini kami belajar prinsip kebebasan manusia. Dan seorang pun tidak berhak  untuk merampas hak kebebasan orang lain, masyarakat dan bangsa lain. Atau membuat  undang-undang yang mengatur perilaku dan hubungan antar manusia berdasarkan kadar kesadaran dan pengetahuannya yang terbatas  atau berdasarkan keinginan pribadi. Berdasarkan  prinsip ini, maka kami meyakini bahwa pembuatan undang-undang untuk mengembangkan kehidupan adalah termasuk kekhususan Allah Swt, sebagaimana hukum-hukum wujud dan penciptaan termasuk kekhususan-Nya.

Kebahagiaan manusia dan kesempurnaannya  terletak pada ketaatannya kepada undang-undang Ilahi.  Kemerosotan dan kejatuhan yang dialami oleh manusia karena mereka menjual kebebasan dan menyerahkan diri kepada segelintir orang. Oleh karena itu, manusia harus melawan belenggu ini dan memerangi orang yang mengajaknya tunduk dan menyerah. Dan hendaklah ia berusaha untuk membebaskan diri dan masyarakatnya, hingga semua menjadi hamba Allah Swt.. Dari prinsip  ini kami meyakini adanya persamaan di antara semua manusia di hadapan Allah Swt. Dia adalah Sang Pencipta  dan semua adalah hamba-hamba-Nya. Pada dasarnya semua manusia sama, yang membedakan satu dengan yang lain hanyalah takwa Oleh karena itu, kita harus melawan segala bentuk peniadaan persamaan sosial dan penguatan perbedaan-perbedaan palsu yang nihil atas masyarakat.”

Imam Khomeini mengatakan: “Yang menjadi ukuran dan timbangan dalam Islam adalah ridha Allah Swt, bukan ridha manusia. kita membandingkan individu dengan kebenaran,  bukan sebaliknya.  Dan yang menjadi pertimbangan adalah kebenaran”.

Imam meyakini bahwa fitrah manusia diciptakan untuk mencintai kesempurnaan  mutlak yang hanya terdapat pada Dzat Allah Swt. Dia adalah sumber semua kesempurnaan dan kekuasaan. Imam Khomeini seringkali mengingatkan kepada para pengikutnya dengan ucapannya: “Dunia adalah bukti keberadaan-Nya. Maka janganlah kalian bermaksiat di tengah keberadaan-Nya. “Janganlah kalian takut kepada selain Allah, dan janganlah kalian menggantungkan harapan kalian kepada selain-Nya.”

Imam Khomeini memandang bahwa tujuan diutusannya para nabi adalah untuk membimbing manusia menuju pengenalan kepada Allah Swt, berusaha mewujudkan potensi kesempurnaan manusia, menghilangkan berbagai kegelapan dan memperbaiki masyarakat serta menciptakan keadilan.

Imam berkata: “Sesungguhnya diutusnya para Nabi bertujuan untuk menyelamatkan moral manusia dari prilaku hewani, menghancurkan berbagai kegelapan  dan menggantikannya dengan cahaya.” Imam berpesan: “Tiada cahaya selain Allah  dan selain-Nya adalah kegelapan.”

Imam Khomeini melihat bahwa Islam adalah penutup semua agama Ilahi. Ia merupakan keyakinan dan akidah yang paling tinggi dan sempurna. Dalam hal ini, Imam menegaskan: “Islam berada pada puncak peradaban. Sistem hukum dalam Islam merupakan sistem paling  sempurna dan lengkap dibandingkan dengan sistem hukum yang lain.” Ia juga menegaskan: “Di dalam Islam hanya terdapat satu undang-undang yaitu undang-undang Ilahi.”

Imam memandang bahwa Islam adalah agama ibadah dan politik. Selanjunya ia mengatakan: “Islam adalah peletak dasar-dasar peradaban  besar di dunia.”

Imam menghimbau para pengikutnya dengan pernyataan: “Berhati-hatilah jangan sampai kalian mencampuradukkan antara al-Qur’an suci dan agama Islam yang menyeru kepada pembebasan, dengan akidah  yang menyimpang produk pemikiran manusia.” Imam juga menyatakan: “Sesungguhnya problema utama kaum muslimin adalah mereka  “mencampakkan” al-Qur-an al-Karim dan berteduh di bawah panji orang lain.” Ia juga menegaskan: “Sesungguhnya Syi`ah selalu menjadi target serangan para kolonial yang pengecut.” Imam berulangkali menegaskan bahwa: “Tujuan terakhir yang kami inginkan adalah Islam.”

Imam Khomeini memandang bahwa Revolusi Islam merupakan refleksi dari revolusi Husain[1] yang kekal yang terjadi pada hari Asyura (sepuluh Muharram) untuk menyelamatkan agama dari cengkeraman para penjahat yang zalim. Imam meyakini bahwa “Islam tidak datang untuk satu bangsa, tidak pula untuk bangsa yang lain, ia tidak membedakan antara bangsa Turki, Persia, Arab, dan  Ajam. Tetapi Islam hadir untuk semua manusia. Islam tidak memandang ras, warna kulit dan bahasa, semua adalah saudara yang sama. Kemuliaan hanya dilihat dari sisi ketakwaan, sedang perbedaan ditinjau dari sisi akhlak yang utama dan amal saleh.”

Imam Khomeini melihat bahwa kesyahidan di jalan Allah Swt sebagai kemuliaan yang abadi dan kebanggaan bagi para waliullah yang merupakan kunci kebahagiaan dan simbol kemenangan. Imam memandang  kecenderungan kepada kesyahidan berangkat dari cinta kepada Allah Swt. Berkenaan dengan nilai kesyahidan dan hakikatnya, ia menyatakan: “Betapa lalainya para penyembah dunia dan masyarakat  yang  mencari nilai kesyahidan didalam lembaran-lembaran sejarah, dan mereka menggambarkannya dalam lantunan syair dan puisi. Mereka menggunakan daya khayal dan buku rasional untuk mengungkapnya, padahal tidak mudah untuk menyelesaikan teka-teki kecuali dengan cinta.”

Dengan logika ini, Imam Khomeini berkata: “Aku katakan kepada kalian wahai saudara-saudara yang beriman: Ketika kita mati di tangan Amerika atau Uni Soviet yang jahat dan sirna dari keberadaan, lalu kita bertemu dengan Allah Swt dalam keadaan berlumuran darah dan dengan kepala tegak, ini lebih baik daripada kita hidup dalam kemewahan di bawah bendera pasukan merah Timur dan pasukan hitam Barat.”

Imam Khomeini adalah seorang filosof Ilahi dan arif rabbani, juga seorang faqih dan marja` bagi masyarakat, dan pada saat yang sama ia adalah pemimpin Revolusi Islam dan pendiri Republik Islam Iran. Imam menguasai dasar-dasar filsafat Barat, baik yang berkenaan dengan orientasi masya’i (maktab filsafat Peripatetik) maupun isyraqi (maktab filsafat Iluminatif).  Barangkali dapat dikatakan bahwa pemikiran filosofis Imam Khomeini cenderung kepada filsafat syuhudi dan isyrâqi dan dengan cara sinkretisme yang dilakukan oleh almarhum Mulla Shadra,[2] tentu terdapat perbedaan di sana-sini.

Imam Khomeini mengajar Filsafat tingkat tinggi selama lima belas tahun. Ia menganggap Filsafat sebagai jalan untuk mengenal tingkatan wujud dan maujudat (plural dari maujud), dari sini pandangan filosofinya terhadap hakikat wujud, kesatuann dan tingkatan-tingkatannya sangat berpengaruh dengan cita-rasa `‘Irfân-nya.

`‘Irfân Imam Khomeini berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis para Imam  dan ajaran para waliullah dalam bingkai syariat Islam yang suci. Imam menentang keras praktek tasawuf  negatif yang menyatakan bahwa agama dan akidah terbatas pada zikir dan mengajak manusia untuk mengabaikan pelaksanaan tanggung jawab politik dan sosial. Ia memandang bahwa pengenalan jiwa merupakan dasar ma’rifatullah.  Pensucian jiwa dari akhlak buruk dan berusaha memperoleh berbagai keutamaan, merupakan syarat utama untuk mengenal al-Haq. Sebagaimana pencapaian makrifat hakiki dan maqam-maqam spiritual yang tinggi tidak akan terwujud tanpa melalui jalan yang telah dilewati oleh Anbiya  dan para Imam di muka bumi.

Oleh karena itu, Imam Khomeini tidak mengizinkan berbagai riyadhah (latihan spiritual) yang keluar dari ruang lingkup syariat dan hukum-hukum Ilahi. Sebagaimana pula Imam membenci sikap sok suci dan riya’ dalam praktek `‘Irfân.

Imam Khomeini pun meyakini perlunya berwasilah kepada para mursyid (pembimbing spiritual) yang hakiki dan para ahli kasyaf yang memiliki karamah hakiki, bukan kepada mereka yang mengaku-ngaku memiliki maqam. Begitu juga seyogyanya menjalin hubungan dengan kepemimpinan agung (Ahlul Bait Nabi, penj.) yang merupakan bahtera keselamatan.

 Semua jalan yang dicapai oleh manusia selain jalan ini terhitung sebagai kesesatan dalam kesesatan.  Jiwa Imam yang terlatih dan ruhnya yang tinggi serta keberhasilannya melalui tahapan-tahapan praktis dari perjalanan spiritual dengan sendirinya merupakan bukti terbaik yang menunjukkan kebenaran metodenya.

Dalam perjalanan ini, Imam Khomeini mencapai suatu tingkatan dari maqam-maqam spiritual dan pengetahuan syuhudi. Imam telah mengalami kefanaan di dalam Allah, bahkan ia mengalami semacam “kegoncangan” (al-Ithirâb) seperti klaim al-Hallajin[3]: “Ana al-Haq” (aku adalah Kebenaran).

Imam Khomeini melihat hanya al-Haq sebagai cahaya dan semua yang selain-Nya adalah kegelapan. Kegelapan berarti ketiadaan cahaya. Ketiadaan tidak dianggap sebagai wujud, dan wujud adalah manifestasi dari al-Haq, dan tiada sesuatu selain-Nya.

Imam Khomeini -disamping mendalami Filsafat, `‘Irfân, Tafsir dan Akhlak serta Kalam (Teologi) Islam- adalah seorang mujtahid yang menonjol dalam bidang Fiqh dan Usul. Ia telah mengajar Fiqh dan Usul pada level tinggi lebih dari tiga puluh tahun. Di samping kitab-kitab Fiqh dan Usul yang ditulisnya, terdapat pula puluhan catatan ilmiah yang telah ditulis oleh murid-muridnya.

Salah satu ciri khas aliran fiqh Imam Khomeini ialah orisinalitas fiqh dan usul. Ia  menghindari tercampurnya kesimpulan-kesimpulan Kalam, Filsafat dan `‘Irfân dengan hukum fiqh dalam tahapan istinbât hukum (inferensi hukum syari’i) .

Imam memandang bahwa gerakan fiqh dan usul termasuk tuntutan ijtihad, sedangkan faktor zaman dan tempat sangat berpengaruh dalam ijtihad. Ketidakpedulian terhadap keduanya menyebabkan kelemahan dalam memahami masalah-masalah kontemporer  dan tidak dapat medmberikan jawaban-jawaban yang sesuai.  Pada saat yang sama Imam meyakini bahwa gerakan fiqh bukan berarti merubah metodologi istinbât dan ijtihâd yang populer. Karena itu, ia menegaskan dalam pernyataannya kepada Hauzah Ilmiah tentang perlunya bersandar pada fiqh tradisional. Yaitu menjaga metodologi dan cara salafus saleh dalam istinbât hukum, dan ia menanggap pengabaian terhadap metode klasik sebagai penyakit dan bahaya yang besar yang pada akhirnya akan melapangkan jalan munculnya berbagai bid`ah.

Imam ingin mereformasi Hauzah Ilmiah dan mengembangkannya dalam ruang lingkup ini, dan ia terhitung sebagai penggagas utama dalam bidang ini. Imam telah membentangkan jalan di hadapan para mujtahid untuk mengubah wawasan pandangan mereka agar menjamah masalah-masalah aktual dan utama yang terjadi di masyarakat. Ia juga menetapkan pentingnya memperhatikan faktor zaman dan tempat dalam ijtihad.

Imam berkata: “pemerintahan dalam pandangan mujtahid yang hakiki merupakan Filsafat praktis Fiqh dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Pemeritahan merupakan terjemahan praktis Fiqh dalam hubungannya dengan  semua aspek sosial, politik, militer dan budaya. Maka, Fiqh merupakan pandangan aktual dan sempurna untuk mengatur kehidupan manusia dari buaian sampai liang lahat.”

Berdasarkan pandangan ini, Imam Khomeini mengutarakan pendapatnya yang terwujud dalam “Pendirian pemerintahan Islam berdasarkan kepemimpinan seorang faqih (wilâyat al-faqih) di zaman keghaiban Imam Mahdi Ajf”, dan ia berjuang untuk mewujudkannya dalam beberapa tahun yang cukup lama. Meskipun pandangan wilâyat faqih secara umum (tanpa mempedulikan berbagai perbedaan pendapat dalam batasan-batasan wewenang wali faqih) dianggap sebagai hal yang menjadi kesepakatan para fuqaha Syi`ah, namun dimensi-dimensinya tidak dikaji secara luas dan tidak ada kesempatan untuk mengadakan penelitian praktis sebagai konsekuensi dari ketiadaan kondisi yang kondusif di masa yang lalu. Oleh karena itu, Imam Khomeini termasuk faqih pertama yang sukses -setelah beberapa abad- dalam membentuk pemerintahan agama yang berdiri berdasarkan kepemimpinan seorang mujtahid yang memenuhi syarat. Di antara syarat mujtahid adalah melawan hawa nafsu, mampu mengatur masyarakat, berani dan adil serta berpengetahuan dalam hukum-hukum Ilahi. Ia berkata: “Pemerintahan Islam adalah (perwujudan) kekuasaan hukum Ilahi atas manusia.”

Dalam keyakinan Imam Khomeini, pemerintahan Islam juga berbeda dengan berbagai sistem politik kontemporer dari sisi pembentukan dan sendi-sendinya. Dalam pandangan pemerintahan Islam, Anda menemukan legalitas suara “mayoritas” berdasarkan “kebenaran”,  sesuai dengan itu, maka keharusan menjalankan kekuasaan tergantung kepada terpenuhinya syarat-syarat di antaranya ialah menerima pendapat umum yang terwujud dengan pemilihan langsung atau melalui pemilihan para pakar.

Berdasarkan hal tersebut maka sangat rasional bila hubungan antara pemimpin dan pemerintahan Islam di satu sisi dan masyarakat di sisi lain, sangat dalam dan berbasis keyakinan (aqidah) yang mengakar. Oleh karena itu, pemerintah yang didirikan oleh Imam Khomeini termasuk pemerintahan yang paling banyak mendapat dukungan rakyat. Dalam pemerintahan ini tanggung jawab masyarakat tidak selesai setelah pemilihan pemimpin dan pelaksanaan pemilu, namun partisipasi mereka dalam bidang pengaturan masyarakat Islam dan kontribusi dalam sistem Islam dilakukan dalam ruang lingkup pengamalan taklif. Menurut hemat Imam Khomeini, pemerintahan Islam harus menjalankan hubungan yang kuat dan kepercayaan timbal balik antara masyarakat dan pemimpin yang saleh. Oleh karena itu, ia berkata: “Bila seorang faqih melakukan tindak kezaliman dalam bentuk apa pun, maka kekuasaan akan jatuh darinya. Sesungguhnya pemimpin dan kepemimpinan bukanlah hal yang penting bagi seseorang dalam agama samawi dan Islam yang agung saat ia menjadi alat yang mendorong manusia menuju kesombongan dan bangga diri.”

Imam juga pernah menegaskan: “Lebih baik mereka menyebut saya sebagai pembantu masyarakat daripada menyebut saya sebagai pemimpin. Persoalannya adalah bukan masalah kepemimpinan, tetapi pengabdian. Islam telah mendorong kita untuk melakukan pengabdian.  Saya adalah saudara dari anak-anak bangsa Iran dan saya menganggap diri saya sebagai pembantu dan tentara bagi mereka.” Dalam kesempatan lain, Imam berkata: “Hanya satu hal yang berkuasa dalam Islam, yaitu hukum. Pada masa Nabi Saw pun hukum merupakan penguasa dan Nabi Saw adalah pelaksana hukum.”

Imam Khomeini menyampaikan pernyataannya kepada pemerintahan yang hanya semata-mata memandang kekuasaan baginya dan bahwa ia lebih utama dari masyarakat: “Pemerintah adalah minoritas dan ia harus bekerja untuk mayoritas (rakyat). Mereka tampaknya tidak setuju bila dikatakan bahwa pemerintah harus mengabdi pada rakyat, bukan menjadi penguasa atasnya.” Dan pada kesempatan lain, Imam menegaskan: “Kesadaran masyarakat dan keikutsertaan mereka dalam aktivitas-aktivitas politik dan usaha untuk mengawasi dan menyelaraskan dengannya termasuk jaminan terbesar dalam menjaga keamanan di tengah-tengah masyarakat.”

Terdapat perbedaan yang mencolok antara pandangan ini dan pandangan yang melihat bahwa negara dan pemerintah akan kehilangan kredebilitas bila tidak menggunakan “kekuatan” sebagai sarana dan sistemnya. Maka dari sini, Anda mengetahui bahwa salah satu dasar terpenting dalam keamanan sosial terdapat dalam kemampuan ini. Imam Khomeini berkata: “Kekuatan apapun dan sehebat apapun akan terancam keruntuhan bila tidak mendapat dukungan penuh masyarakat.”

Sesungguhnya runtuhnya rezim Sosialis di satu sisi, dan kokohnya sistem Republik Islam Iran di sisi lain, meskipun berbagai permusuhan ditampakkan oleh berbagai kekuatan dunia terhadapnya, dan meskipun ia masuk dalam kancah peperangan selama delapan tahun,  merupakan  salah satu bukti yang kuat yang menunjukkan kebenaran teori Imam Khomeini.

Adalah jelas bahwa pandangan Imam Khomeini tentang pemerintah Islam dan peranan masyarakat di dalamnya sama sekali tidak berkaitan dengan nasionalisme dalam istilah yang populer di budaya politik dunia, bahkan ia sama sekali berlawanan dengannya.

Nasionalisme terkadang muncul sebagai suatu ideologi dan berakhir pada rezim yang memusuhi nilai-nilai dan prinsip-prinsip kemanusiaan.  karena pandangan seperti ini, bila berbagai asumsi nasionalisme dikemukakan kepada suatu bangsa sebagai realitas yang harus dibela, maka berarti tidak adanya hakikat dan nilai-nilai yang tetap. Kemudian akan lahir berbagai hakikat dan nilai sebanyak jumlah bangsa dan batasan geografis dan politik yang berubah. Istilah semacam keadilan dan perdamaian serta kebebasan pun akan berbilang sebanyak jumlah bangsa dan selalu berubah-ubah.

Dalam keadaan seperti ini maka konsekuensi logisnya adalah bangsa yang memiliki kekuatan terbesar -dengan berbagai sarana- berhak untuk untuk menguasai bangsa-bangsa yang lebih lemah. Yang demikian itu karena nasionalisme yang ekstrem hanya memandang keunggulan ras, warna kulit, bahasa dan letak geografis serta historis. Sedangkan Imam Khomeini -berdasarkan pada bukti-bukti sejarah- meyakini bahwa sosialisasi nasionalisme dan pembentukan gerakan-gerakan yang mengajak pada nasionalisme Arab, Turki, Persia dan selainnya di dunia ketiga merupakan hasil kerja para penjajah dan usaha mereka dalam membagi-bagi berbagai negeri dan menimbulkan perpecahan.

Imam berkata: “Tujuan kekuatan besar dan agen-agennya di negeri-negeri Islam tampak dalam penebaran perpecahan di antara kaum muslimin dan memisahkan mereka dari sebagian yang lain atas nama bangsa Turki, bangsa Kurdi, bangsa Arab, bangsa Persia, bahkan menimbulkan permusuhan di antara mereka. Hal ini bertentangan dengan  Islam dan al-Qur-an al Karim.” Oleh karena itu, Imam Khomeini  menegaskan: “Kebangkitan kami adalah kebangkitan Islam, sebelum ia menjadi kebangkitan Iran.”

Imam Khomeini memandang bahwa stabilitas perdamaian yang haikiki di dunia bersamaan dengan eksistensi kekuatan-kekuatan besar yang zalim dan menerima eksistensinya dan hegemoninya hanya khayalan belaka. ia menyatakan: “Sesungguhnya keamanan dan perdamaian tergantung dengan ketiadaan kaum mustakbirin (negara-negara besar yang zalim). Selama mereka menguasai tanah-tanah ini maka kaum tertindas tidak akan mendapatkan warisan  yang telah dijanjikan oleh Allah Swt.” ia juga menyatakan: “Itulah hari yang berkah. Yaitu hari ketika kekuasaan para perampas internasional lenyap dari bangsa kami  dan seluruh bangsa yang tertindas. Dan bangsa-bangsa mampu mengembalikan hak mereka dalam menentukan masa depannya.” Lebih lanjut Imam menegaskan : Mungkin suatu waktu Amerika mampu mengalahkan kita, namun ia tidak akan pernah mampu menghancurkan revolusi kita. Oleh karena itu, saya sangat percaya kepada kemenangan kita. Sesungguhnya pemerintah Amerika tidak mengetahui makna kesyahidan.”

Berkenaan dengan keberadaan Israel, sang perampas, Imam Khomeini berkata: “Sesungguhnya Amerika yang telah menggangu stabilitas dunia. Dan anak angkatnya Zionisme internasional yang melakukan berbagai kejahatan lisan dan pena keluh untuk menuliskannya.

 Dalam pandangan Islam dan kaum Muslim, Israel adalah agresor dan perampas, juga dalam pandangan ketentuan-ketentuan internasional. Saya menganggap pengakuan resmi terhadap keberadaan Israel merupakan tragedi besar bagi muslimin dan pukulan berat bagi negara-negara Islam.”

Pasca kemenangan revolusi Islam, Imam Khomeini mendeklarasikan bahwa Jum`at terakhir dari bulan Ramadhan yang berkah sebagai hari Quds internasional. Imam mengajak semua kaum muslimin untuk mengadakan demontrasi dan menyatakan solidaritas mereka terhadap kaum mujahidin Palestina pada hari itu setiap tahun, selama al-Quds berada di bawah cengkraman musuh Islam.

Imam Khomeini meyakini bahwa jalan satu-satunya untuk membebaskan Palestina dan melenyapkan Israel adalah keimanan kepada Allah Swt dan menjemput kesyahidan serta jihad bersenjata.

Berkenaan dengan sosialis, Imam Khomeini berkata: “Semenjak kemunculan sosialis, para pencetusnya termasuk mereka yang memiliki pemerintahan yang paling kejam dan paling bernafsu untuk berkuasa di dunia.”

Berkenaan dengan kemajuan Barat, Imam berkata: “Kami menerima kemajuan yang berhasil diwujudkan oleh Barat, namun kami pun menolak kerusakan moral Barat yang mereka juga menderita karena pengaruh-pengaruhnya yang destruktif. Pendidikan Barat bersifat melenyapkan manusia dari kemanusiaannya. Kami tidak menolak peradaban namun kami menolak kebiadaban. Dan kami menginginkan peradaban yang dibangun di atas kemuliaan dan kemanusiaan.”

Imam Khomeini berulangkali menegaskan peranan utama kebudayaan dan ia berkata: “Kebudayaan adalah logika kebahagiaan atau kesengsaraan bangsa manapun. Sesungguhnya yang membangun bangsa-bangsa adalah kebudayaan yang benar.” Imam juga menegaskan: “Sesungguhnya rasa kenyang hewani tidak menjadi tolok ukur, namun yang menjadi tolok ukur ialah kemuliaan manusia.” Dalam kesempatan lain Imam berkata: “Selama manusia bersikeras untuk meneruskan kehidupannya di bawah kehendak senjata maka ia tidak akan mampu menjadi manusia dan ia tidak dapat menggapai tujuan-tujuan insani.” Ia juga menyatakan: “Berusahalah kalian untuk menggunakan penjelasan dan pena dan letakkanlah senjata di sebelah. Medan yang sebenarnya adalah medan pertarungan dengan pena, ilmu dan pemikiran.”

Imam Khomeini memandang bahwa seni yang dikerahkan untuk mengabdi pada penjajah dan “seni untuk seni” adalah hal yang negatif dan kehilangan nilai. Ia mengatakan: “Seni dalam `Irfân islami merupakan manifestasi keadilan dan kemuliaan, serta penggambaran pahitnya kelaparan mereka yang dibenci oleh para pemilik kekuasaan dan kekayaan.”

Imam Khomeini adalah seorang ustazd teladan di bidang pengajaran dan pendidikan, baik di bidang teoritis maupun praktis. Ia telah berhasil dengan metode-metode pendidikannya dalam mendorong masyarakat ke arah persesuaian dengan kebangkitan agama yang besar, setelah mereka terseret oleh arus kejahatan keluarga Pahlevi yang berkhianat dan para agen pemikiran Barat, menuju budaya dan nilai-nilai yang rendah.

Dikisahkan bahwa pada  peristiwa berdarah 15 Khurdad 1342 HS dan dalam kondisi sosial yang sulit tersebut, sebagian mereka berkata kepada Imam Khomeini: Dengan orang-orang seperti apa dan harapan apa yang anda impikan untuk mendirikan pemerintahan yang adil? Imam menunjuk ke arah buaian yang di situ ada anak kecil yang tidur. Dan yang cukup mengherankan, ternyata yang berperan penting dalam peristiwa revolusi setelah lima belas tahun dari sejarah kejadian tersebut adalah para murid dan para mahasiswa muslim Iran.

Imam meyakini bahwa pelatihan diri dan usaha keras dalam mendidik dari tuntutan hawa nafsu dan syetan dalam semua tahapan kehidupan termasuk hal yang perlu untuk mencapai kesempurnaan yang hakiki. Imam juga meyakini bahwa pendidikan harus dimulai  sejak kanak-kanak, sampai tingkat menengah harus dibawah kontrol ibu. Oleh karena itu ia berkata: “Tidak ada pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan seorang ibu. Sesungguhnya madrasah pertama yang dimasuki oleh anak adalah pangkuan ibu.”

Imam Khomeini berkata kepada para pendidik masyarakat: “Perhatikanlah bahwa tahapan madrasah lebih penting dari tahapan universitas. Sebab, pertumbuhan akal anak-anak terbentuk saat itu. Sesungguhnya seorang guru dipercaya untuk memegang amanat yang berbeda dengan amanat yang lain, yaitu bahwa dia dititipi manusia. Sesungguhnya segala bentuk kebahagiaan dan kesengsaraan terdapat di sekolah-sekolah dan kuncinya berada di tangan  guru.”

Imam Khomeini memandang bahwa pengajaran merupakan pekerjaan para nabi. Dan tanggung jawab terpenting yang berada di pundak guru ialah membimbing masyarakat menuju Allah Swt.

Imam Khomeini menamakan manusia sebagai “perasan semua wujud dunia”. Imam berkata: “Manusia adalah makhluk yang unik. Darinya dapat dibuat maujud Ilahi malakuti atau maujud jahannami syaitani.”

Imam juga berkata: “Dengan mendidik manusia maka dunia akan menjadi baik.” Sebagaimana ia menganggap bahwa pendidikan dan penyucian diri (tazkiyatun nafs)  merupakan mukadimah dalam pengajaran. Imam memandang bahwa orang yang belajar,  tanpa pensucian jiwa maka ia akan menjadi semacam alat yang mengabdi pada tujuan-tujuan syetan. Ia berkata: “Bila ilmu merasuk  ke dalam hati yang keras dari sisi akhlak maka bahayanya lebih berat dari kebodohan.”

Salah satu keberhasilan terpenting yang terdapat dalam kebangkitan Imam Khomeini di Iran adalah usaha mengembalikan wanita dalam peranan aktifnya di bidang sosial. Kami berani mengatakan bahwa sepanjang sejarah Iran, wanita Iran belum pernah mencapai tingkatan kesadaran politik seperti ini, dan belum pernah ia berperan seperti sekarang dalam menentukan masa depan negeri. Dalam puncak intifâdah (perlawanan) menentang rezim Syah, wanita berada di sebelah pria, bahkan berada terdepan. Dan selama perang Irak yang dipaksakan, wanita-wanita  Iran memainkan peranan yang tiada tandingannya dalam peperangan modern. Ini mereka lakukan melalui penyedian berbagai kebutuhan front dan memotivasi saudara-saudara mereka dan suami-suami mereka untuk ikut serta dalam membela Islam dan revolusi, bahkan mereka pun berpartisipasi secara langsung untuk menyediakan apa yang diperlukan oleh garis-garis front terdepan.

Sekarang juga, wanita dalam masyarakat Iran menjalankan peranannya sejajar dengan kaum pria dalam aktivitas-aktivitas sosial, pendidikan dan pengajaran, universitas, bidang-bidang kedokteran dan di kantor-kantor pemerintah dan pada seluruh aspek kehidupan.

Padahal, sebelum kemenangan revolusi Islam -sebagai konsekuensi dari lingkungan yang rusak yang diciptakan oleh rezim Syah- mereka terpaksa harus banyak di rumah, dan sejumlah gadis -khususnya yang tinggal di desa- tercegah untuk memperoleh pendidikan. Sedangkan mereka yang memperoleh kesempatan di kota-kota besar untuk memainkan perannya dalam berbagai aktivitas sosial, telah disibukkan untuk menghadapi serangan budaya yang rendah dalam situasi yang sangat rumit, untuk membela kemuliaan dan kehormatan mereka. Dan yang lain, terpaksa meninggalkan kerja dan sekolah karena hal itu.

Perubahan yang terjadi di masyarakat wanita Iran sangat berhutang pada pemikiran Imam Khomeini yang khusus dimana Imam sering memberikan pernyataan yang membela hak-hak wanita, misalnya: “Sesungguhnya kita menuntut agar wanita menduduki tempat kemanusiaannya yang tinggi, dan tidak menjadi permainan (boneka) di tangan kaum pria yang hina. Kita tidak mengizinkan –begitu juga Islam tidak setuju– jika wanita menjadi barang dagangan dan boneka di tangan kita. Islam mengajak untuk menjaga identitas wanita dan ingin membuatnya sebagai manusia yang signifikan dan bermanfaat dan Islam tidak mengizinkan wanita dijadikan “alat pemuas nafsu” di tangan kaum pria. Wanita bebas dalam masyarakat Islam dan dia tidak dihalangi masuk ke universitas dan bekerja di kantor-kantor yang dilarang adalah dekadensi moral ini dilarang bukan kepada wanita pun kepada pria. Sesungguhnya kebebasan ala Barat- yang berakibat pada jatuhnya para pemuda dan pemudi pada kesia-siaaan- ditolak oleh Islam dan akal sehat.”

Adapun dari sisi ekonomi, himbauan-himbauan Imam Khomeini dan sikap-sikapnya menegaskan  secara umum tentang penerapan keadilan dan memberikan prioritas bagi hak-hak kaum yang tidak mampu dan lemah (mustad’afin) dalam masyarakat. Sebab, Imam menyebut pengabdian kepada orang-orang yang tidak mampu sebagai ibadah terbesar. Dan salah satu wasiat yang sering disampaikan Imam kepada para pejabat pemerintah Islam ialah memperhatikan urusan kaum fakir dan menjauhi perilaku orang-orang yang bergaya hidup mewah. Imam meyakini bahwa pemirintah dan para pejabat adalah pelayan masyarakat dan tidak layak bagi pelayan untuk menuntut fasilitas lebih dari apa yang diperoleh oleh tuannya. I

Imam berkata: “Sesungguhnya sehelai rambut dari salah seorang yang tinggal di gubuk-gubuk lebih mulia daripada semua istana dan para penghuninya. Sesungguhnya mereka yang ingin selalu bersama kami adalah mereka yang telah merasakan kefakiran dan ketidakmampuan. Pada saat pemerintah mencurahkan perhatiannya pada istana-istana yang megah maka marilah kita membacakan al-Fatihah kepada pemerintah sekaligus rakyatnya.”

Salah satu ciri khas Imam Khomeini yang menonjol ialah bahwa pembicaraannya selalu bersumber dari keyakinannya yang dalam terhadap apa yang dikatakan dan percaya terhadap apa yang dikatakan dan mengimplikasikan apa yang dikatakan. Sebab, gaya hidup Imam Khomeini sangat sederhana, bahkan ia berada dalam puncak kezuhudan, qanaah dan kesederhanaan. Dan hal ini tidak terbatas pada masa kepemimpinannya sebagai Marja’ Taqlid saja namun berlanjut pada masa pemerintahannya. Imam memandang bahwa seorang pemimpin harus hidup sederhana, sesederhana kehidupan anggota masyarakat yang paling tidak mampu, atau mungkin lebih sederhana dari itu. Imam bersikeras sepanjang usianya yang berkah untuk mempertahankan gaya hidup yang zuhud (sederhana). Meskipun banyak kenangan dan catatan yang ditulis dan dicetak tentang aspek kehidupan dalam hal ini, dan penyebutan hal tersebut memerlukan buku yang tebal, namun masih banyak dimensi-dimensi kesederhanaan kehidupannya yang sampai sekarang masih misteri (tidak diketahui).

Untuk menjelaskan kesederhanaan Imam Khomeini dan keyakinannya tentang perlunya kehati-hatian secara sempurna dalam menginfakkan baitul mal, maka cukuplah kami menyebutkan pasal 142 dari undang-undang -yang diusulkan sendiri oleh Imam- yang menetapkan bahwa mahkamah tinggi di negeri bertanggung jawab dalam membatasi dan meneliti segala kekayaan pemimpin dan para pejabat tinggi negara sebelum dan sesudah mereka memegang tanggung jawab (tugas negara) untuk mencatat setiap tambahan yang mungkin diperoleh dengan cara yang tidak benar.

Imam Khomeini berinisiatif untuk mendaftarkan semua kekayaannya yang sederhana pada tanggal 24 Dei 1359 HS (14 Januari 1981) dan ia menyerahkannya kepada mahkamah tinggi, dan langsung sepeninggalnya, anaknya -melalui surat yang disebarkan oleh koran-koran lokal- mahkamah tinggi untuk kembali mendata kekayaan Imam Khomeini sesuai dengan undang-undang.

Pada tanggal 11 Tir 1368 HS (2 Juli 1989), dari pendataan itu diumumkan bahwa kekayaan Imam Khomeini yang sedehana bukan hanya tetap seperti semula, bahkan sudah berkurang dari sebelumnya. Sebidang tanah yang diwarisinya dari ayahnya di Khumain, telah ia berikan kepada kaum fakir di daerahnya sehingga tanah ini keluar dari kepemilikannya. Dan harta-hartanya yang tidak bergerak (fixed assets) berupa rumah kuno yang dimilikinya di Qum, dan yang sejak tahun 1343 HS (1964) -tahun permulaan kebangkitan- berkhidmat untuk tujuan-tujuan kebangkitan dan sebagai sentral pertemuan para pelajar dan rakyat dan sampai sekarang kehilangan sifatnya untuk disebut sebagai tempat tinggal.

Sebagaimana disebutkan dalam pendataan itu -yang telah diselesaikan pencatatannya pada tahun 1368 (1981) dan diumumkan secara resmi sepeninggalnya- bahwa kekayaan Imam Khomeini mencakup benda-benda sebagai berikut: Beberapa kitab, sebagian alat-alat primer yang berada di rumahnya yang dikhususkan untuk istrinya, dua potong sajadah yang dipakai (imam telah mewasiatkan untuk memberikannya kepada kaum fakir sepeninggalnya). Pendataan itu juga membuktikan tidak adanya perabot pribadi dan tidak adanya harta pribadi. Dan bila ditemukan harta maka itu termasuk hak syar’i yang diberikan oleh kaum Muslim kepada Imam Khomeini untuk menginfakkannya pada tempat-tempat yang syar’i, dan harta tersebut tidak berhak diwarisi.

Apa yang diwariskan oleh lelaki ini -yang berusia mendekati sembilan puluh tahun dan hidup dalam keadaan dicintai oleh masyarakat- mencakup hal-hal berikut: Sepasang kaca mata, alat pemotong kuku, sisir, tasbih, mushaf, sajadah salat, sorban dan pakaiannya yang khusus, dan sekumpulan kitab dalam berbagai bidang ilmu agama.

Itulah kekayaan seseorang yang bukan hanya pemimpin suatu negeri yang kaya minyak yang penduduknya mencapai puluhan juta bahkan ia mampu merebut hati jutaan manusia dimana mereka berdiri dalam antrian panjang untuk secara sukarela menuju kesyahidan ketika ia mengeluarkan perintahnya untuk membentuk kekuatan-kekuatan mobilisasi untuk membela Islam. Dan mereka juga yang menulis surat atau berkumpul di sekitar rumah sakit yang di situ Imam terbaring dimana mereka menyatakan kesiapannya untuk mendermakan secara sukarela jantung mereka kepada Imam.

Sesungguhnya rahasia semua luapan cinta ini harus ditemui pada keimanan yang hakiki, zuhud, dan ketulusan.

Imam Khomeini meyakini tentang pentingnya manajeman kehidupannya dimana ia sangat disiplin dalam membagi waktunya. Imam beribadah, membaca al-Qur’an dan berdoa, serta belajar di jam-jam tertentu, baik di waktu siang maupun malam hari. Sebagaimana kebiasaan berjalan kaki dan sibuk dengan zikir dan tafakkur merupakan bagian dari kehidupan sehari-harinya. Agenda kerja imam jauh lebih banyak daripada para pemimpin politik, meskipun usianya mendekati sembilan puluh tahun. Imam seakan tidak pernah puas saat mengabdi kepada Allah Swt dan mengabdi kepada masyarakat Islam dan menyelesaikan problema-problemanya, meskipun di saat-saat yang sangat sulit. Di samping ia setiap hari sibuk melakukan kajian, ia pun mengikuti berita-berita dan laporan-laporan terpenting, baik di koran-koran dalam negeri maupun siaran-siaran asing yang menggunakan bahasa Persia. Imam mengikuti berita ini guna dapat mendeteksi media massa yang anti-revolusi dan berpikir bagaimana menghadapinya.

Padatnya aktivitas sehari-hari Imam Khomeini dan adanya berbagai acara pertemuan dengan para pejabat pemerintah Islam tidak mencegah Imam untuk menyempatkan hadir dan bertemu dengan rakyat biasa yang menjadi pendukung revolusi Islam. Sebanyak 3700 pertemuannya dengan rakyat telah dikumpulkan dalam buku yang bernama “mahzaru nur” dimana ini terjadi pada tahun-tahun yang menyertai kemenangan revolusi Islam. Ini menunjukkan betapa Imam memiliki ikatan yang kuat dengan masyarakat lapisan bawah. Setiap keputusan yang berkaitan dengan masa depan masyarakatnya, Imam Khomeini selalu mengutarakannya di hadapan masyarakat dengan penuh kejujuran. Sebab, ia memandang bahwa rakyat merupakan bagian yang penting dan mulia dalam mengenal kebenaran.

Imam Khomeini merupakan sosok yang berwibawa dan penyayang dan memiliki kekuatan kata-kata.

Pandangannya sangat mengundang daya tarik dan penuh dengan nuansa spiritual. Ketika rakyat duduk di hadapannya mereka secara spontan hanyut dalam magnet spiritualnya lalu tanpa tertahan air mata mereka pun bercucuran. Sesungguhnya rakyat Iran sangat benar saat mereka memanjatkan doa -setelah kemenangan revolusi- dengan penuh ketundukan di hadapan Allah Swt agar masa-masa usia mereka dipindahkan ke usia Imam. Bila dunia yang jauh dari spiritualitas telah jauh dari hal itu maka mereka -yang tumbuh bersama Imam- mengetahui secara praktis nilai waktu pada usia manusia mulia ini, dimana imam mewakafkan hidupnya untuk mengabdi kepada Allah Swt dan makhluk-Nya.

Meskipun dunia Barat dan media massanya telah berbuat kezaliman besar terhadap Imam Khomeini -dan sebelumnya terhadap keseluruhan manusia- dan mereka telah melancarkan serangan intensif melalui media massa yang sesat untuk menjatuhkan reputasi Imam dan revolusi Islamnya. Bahkan mereka tetap menjalankan ini meskipun Imam telah meninggal dunia. Hari ini puluhan siaran radio dan televisi mempunyai program yang isinya menentang revolusi Islam dan tujuan-tujuan Imam Khomeini dengan menggunakan bahasa Persia sepanjang siang-malam. Meskipun Amerika dan Eropa memberikan fasilitas besar kepada kelompok-kelompok anti-revolusi yang salah satunya adalah kelompok Mujahidin al-Khalq (munafikin) dan meskipun mereka setiap tahun mencetak puluhan buku dan ratusan artikel yang berusaha untuk memutarbalikkan fakta yang berhubungan dengan kebangkitan Imam Khomeini, namun kita yakin bahwa matahari kebenaran akan tetap bersinar dan akan menyingkirkan awan-awan kegelapan dan kesesatan.

Dunia Barat telah berhasil -yang menegakkan keberadaannya semenjak beberapa abad sampai sekarang dengan berusaha untuk mengukuhkan hegemoninya atas seluruh bangsa dan mengeksploitasi mereka serta menipu opini dunia internasional- mendeteksi bahaya yang mengancamnya. Kalau tidak maka orang merdeka mana yang mengikuti perjalanan hidup Imam Khomeini dan berbagai pernyataan lalu hatinya tidak tertarik untuk mengikuti jalannya dan tidak berusaha melawan sistem yang menguasai dunia ini?

Mengapa mereka mencegah penyebaran wasiat Imam Khomeini dan banyak dari peninggalannya dan berbagai pernyataannya yang lain di sebagian besar negara-negara Arab yang Muslim yang hidup di bawah kekuasaan pemerintahan boneka? Dan mereka menganggap hal itu sebagai kejahatan yang bertentangan dengan hukum? Mengapa terdapat keserasian dan kesatuan sikap di antara pemimpin berbagai negara untuk mencegah masuknya pemikiran-pemikiran Imam Khomeini? Bukankah ia membela kebenaran dan nilai-nilai yang karena kehilangannya masyarakat manusia mengalami penderitaan selama berabad-abad?

Sesungguhnya setiap orang yang mengenal kehidupan Imam Khomeini yang mulia dan mendengarkan berbagai seruannya dan mengenal pribadinya akan percaya penuh bahwa pelita yang dibawa oleh beliau tidak akan pernah padam dan meredup meskipun terdapat angin kencang dan badai yang mencoba menyimpangan kebenaran: “Dan Allah tetap akan menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.”[4]


 


[1]. Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ibunya adalah Fatimah az Zahra, belahan hati Rasul Saw yang mulia. Husain adalah Imam Syi`ah ketiga. Ia dilahirkan di Madinah Munawwarah pada tahun keempat Hijriah (625 M). Tumbuh dan besar di bawah didikan Rasulullah Saw dan pengasuhan ayahnya yang mulia. Imam Husain bangkit pada tahun 61 H menentang pemerintahan Yazid bin Muawiyah, meskipun pendukungnya sedikit sekali. Pertempuran antara para pendukungnya dan Yazid terjadi di suatu tanah yang bernama Karbala. Imam Husain terbunuh dalam perjuangan heroik ini berserta anak-anak dan para sahabatnya yang berjumlah tujuh puluh dua orang. Dan tentara Yazid membawa keluarganya sebagai tawanan ke Syam.

[2]. Shadrul Muta’allihin asy-Syirazi yang populer dengan sebutan Mulla Shadra yang meninggal tahun 1050 H dan yang mendirikan “Hikmah al-Muta`aliyyah“. Disebutkan bahwa kata Hikmah al-Muta`âliyyah juga dipakai oleh Ibn Sina dalam kitabnya “al-Isyârat“, namun madzhab Ibn Sina sama sekali tidak dikenal dengan  nama Hikmah al Muta`âliyyah. Dan Shadrul Muta’allihin menamakan fisafatnya dengan sebutan Hikmah al Muta`âliyyah sehingga nama ini menjadi ciri khas filsafatnya.

Dari sisi metodologi, filsafat Mulla Shadra menyerupai madzhab Isyraqi (iluminatif), dalam pengertian bahwa ia meyakini penggunaan argumentasi (istidlâl) dan sekaligus penyingkapan dan peyaksiaan (al-kasyf wa asy syuhud); tetapi ia berbeda darinya dari sisi dasar-dasar (ushuliyyah) dan hasil-hasil (istintâjât). Dan disamping madzhab Mulla Shadra kembali menegaskan perbedaan-perbedaan antara madzhab Masya’i dan Isyraqi, maka berbagai persoalan tajam antara Filsafat dan `Irfan atau Filsafat dan ilmu Kalam telah benar-benar diselesaikan secara tuntas oleh Mulla Shadra. Dan perlu ditegaskan bahwa filsafat Mulla Shadra bukanlah filsafat “pungutan” (falsafah iltiqâthiyyah) atau (filsafat eklektisisme, ed.), namun ia merupakan sistem filsafat yang khusus, meskipun berbagai orientasi pemikiran Islam telah mempengaruhinya.

Mulla Shadra mampu menampung apa yang telah sampai padanya dari filsafat para pendahulu Yunani, khususnya yang berasal dari Plato dan Aristoteles, dan begitu juga iau mampu menampung peninggalan-peninggalan para filosof Islam seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan Syaikh Isyraq. Dan apa yang ia tambahkan pada filsafat pada hakikatnya bersandar pada `Irfan-nya yang besar dan kekuatannya serta bimbingan batinnya. Kemudian ia meletakkan dasar-dasar baru dalam Filsafat yang berdasarkan pada prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang kuat dan tetap dari sisi argumentasi dan bukti (al-Burhan). Dan ia mampu menyusun persoalan-persoalan Filsafat dengan metode matematis dimana setiap masalah bersandar pada masalah yang lain lalu ia mengambil kesimpulan darinya. Dengan demikian, ia mengeluarkan Filsafat dari berbagai istidlâl (penalaran) yang beraneka ragam.

[3]. Husain bin Manshur yang terkenal dengan sebutan al-Hallaj. Ia termasuk ‘urafa abad ketiga Hijriah (meninggal tahun 309 H/922 M). Al-Hallaj ditangkap karena membawa berbagai keyakinan dan dipenjara selama beberapa tahun. Kemudian para ulama yang sezaman dengannya mengeluarkan fatwa untuk menggantungnya. Kemudian ia dicambuk sebanyak seribu cambukan,dan kakinya dipatahkan dan badannya dibakar dan abunya ditebarkan di sungai Dajlah. Dan salah satu tuduhan yang menonjol yang dialamatkan padanya yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar di banyak pikiran orang ialah bahwa ia—saat mengalami maqam al jadbah mengatakan: “Ana al-Haq.”

[4]. Qs. as-Shaf:8.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: