RISALAH REVOLUSI [3]

tr.jpg

Tahun-tahun dan berbagai peristiwa telah berlalu

Dan aku menunggu kelapangan pada medio Khurdad

 

8. Pembela Rasulullah dan Islam

Setelah berhentinya peperangan Irak-Iran, para pemimpin Barat mulai mengadakan serangan baru terhadap Islam yang revolusioner. Para politikus itu memahami bahwa -melalui perang-Iran-Irak dan pertempuran yang mereka jalani bersama Hizbullah Libanon dan melalui gerakan-gerakan Islam Palestina dan Jihad Islam di Afghanistan, serta melalui terbunuhnya Anwar Sadat di tangan kaum Muslim yang revolusioner pada tanggal 14 Mehr 1360 HS (4 Oktober 1981)- gerakan Islam telah tumbuh secara kuat dan mengakar hingga tidak mungkin dihancurkan dengan senjata atau dengan cara-cara militer. Oleh karena itu, mereka memilih untuk membuka  front baru dimana pertarungan di dalamnya bersifat pertarungan spiritual, budaya dan ideologi. Dan karena perpecahan madzhab dan kelompok di tengah kaum Muslim tidak begitu mencuat akibat kesadaran Imam Khomeini dan para pejabat pemerintah Islam, maka mereka menyerang akar dan pondasi yang mengerakkan arus ini yang merupakan puncak keyakinan dan kesucian yang dengan mencintainya akan menimbulkan kesatuan tujuan dan sistem di antara berbagai kelompok gerakan-gerakan Islam. Maka penyebaran buku yang tak berharga “The Satanic Verses” (ayat-ayat setan) karya Salman Rusydi dan dukungan negara-negara Barat secara resmi merupakan permulaan masa baru dari serangan budaya.

Seandainya umat Islam tidak memberikan reaksi yang berarti terhadap penghinaan atas pribadi Rasul Saw yang mulia, niscaya benteng pertama pertahanan Islam telah dapat dikuasai oleh mereka. Dan mereka akan dapat melancarkan serangan berikutnya dengan berbagai cara atas dasar agama dan kesuciannya serta atas keyakinan terhadap hal-hal yang ghaib dan seluruh nilai-nilai luhur maknawi yang terdapat pada masyarakat Islam.

Esensi pemikiran agama dan esensi yang dapat menyatukan umat Islam itu terbentuk dari dasar dan kesucian tersebut. Sementara timbulnya keraguan atasnya dapat mengakibatkan sirnanya jati diri dunia Islam dan gerakannya, bahkan akan dapat melucuti berbagai kekuatan senjata dalam menghadapi serangan budaya dan ideologi Barat.

Didasari atas berbagai realita dan faktor di atas, maka pada tanggal 25 Bahman 1368 HS (14 Februari 1989) Imam Khomeini berhasil mencetuskan revolusi berikutnya. Dalam revolusi ini ia mengeluarkan sebuah keputusan singkat dengan mengumumkan kemurtadan Salman Rusydi dengan sanksi hukuman mati atasnya dan atas orang yang menyebarkan buku tersebut apabila ia mengetahui kandungan buku yang mengajak kepada kekufuran itu.

Kaum Muslimin bangkit dalam barisan yang kokoh untuk menghadapi serangan Barat tanpa memandang madzhab, bahasa dan negara mereka yang berbeda-beda.  Kasus tersebut menampilkan fenomena masyarakat Islam bahwa mereka adalah umat yang satu. Dan sesungguhnya kaum muslimin -meskipun terdapat ikhtilaf intern dan parsial di antara mereka- apabila mereka memiliki pemimpin yang jujur, maka mereka akan mampu memainkan peran aktif dalam upaya menghidupkan nilai-nilai agama bagi masa depan dunia. Sebagaimana Barat mempunyai gambaran yang keliru bahwa dengan menerima keputusan dikeluarkannya hukuman mati tersebut akan menjadikan Iran menyimpang jauh dari tujuan revolusi Islamnya.

 

Pernah dimuat pada site www.telagahikmah.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: