RISALAH REVOLUSI [4]

w.jpg

Tidak ke Barat

Tidak ke Timur

10. Deportasi Imam Khomeini dari Turki ke Irak

            Pada tanggal 13 Oktober 1965 (13 Mehr 1343 HS) Yang Mulia Imam Khomeini, bersama  putranya, Ayatullah Hajj Aqa-e Mustafa, dideportasi dari Turki ke negara pengasingan kedua, Irak. Penjelasan motif dan sebab-sebab pemindahan ini di luar dari kerja kecil ini (bukan ruang untuk membahasnya di sini). Bagaimanapun, motif dan alasan tersebut dapat disenarai secara umum sebagai berikut: Tekanan konstan komunitas religius dan Hauzah Ilmiah dalam dan luar negeri serta berbagai usaha dan demonstrasi oleh pelajar-pelajar muslim yang studi di luar negeri untuk kebebasan Imam; upaya rezim Syah untuk menunjukkan bahwa keadaan negara berjalan normal dan menunjukkan kekuasaan serta stabilitasnya; untuk memuaskan Amerika dan meraih dukungan lebih; keamanan dan psikologi pemerintahan Turki; meningkatnya tekanan internal dari komunitas religius Turki. Dan yang lebih penting dari semua ini adalah pikiran rezim Syah bahwa atmosfer yang tenang dan anti-konfrontasi yang ada di Hauzah Najaf serta keadaan rezim Hakim Baghdad sendiri; akan menjadi sebuah halangan besar untuk membatasi ruang-gerak dan aksi-aksi Imam Khomeini.

Setibanya di Baghdad, Imam Khomeini pergi berziarah ke Haram Imam Ma’sumin di Kazimain, Samarra’ dan Karbala. Seminggu berselang, Imam pindah ke kediamannya di Najaf. Sambutan meriah oleh rakyat di kota ini atas kedatangan Imam menunjukkan bahwa, -berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh rezim Syah-, pesan Imam Khomeini pada Perlawanan 15 Khurdad benar-benar telah menemukan pendukung di Najaf dan juga di seluruh Irak. Pembicaraan singkat Imam dengan representatif Presiden Irak (Abdul Salam Arif), dan penolakan Imam atas interview yang diusulkan radio dan TV membuktikan bahwa sejak semula Imam bukanlah seorang yang akan membuat kambing-hitam atas panggilan Ilahinya melawan rezim yang berkuasa di Baghdad dan Teheran. Cara  ini tetap konsisiten ditempuh oleh Imam selama ia tinggal di Irak. Atas alasan ini, Imam Khomeini benar-benar seorang pemimpin politik dunia yang jarang dijumpai taranya, bahkan tingginya kesulitan dan tekanan politik,  Imam tidak memasuki intrik-intrik atau kolusi-kolusi politik yang biasa, tetap konsisten dengan cita-cita dan prinsip-prinsipnya. Ketika pertikaian antara Iran dan Irak memuncak, hanya menunjukkan lampu hijau kecil (redup),  merupakan kesempatan emas baginya, seluruh kemungkinan untuk memerangi Syah, tetapi tidak melakukan hal tersebut, Imam hanya berusaha dalam dua front sekaligus, dan pada beberapa tingkatan hingga mencapai batas demarkasi saling berhadap-hadapan melawan rezim Baghdad. Tak syak lagi, kalau bukan karena kecerdasan Imam, Revolusi Islam akan berakhir seperti pergerakan-pergerakan rakyat Iran lainnya, partai-partai dan front-front politik yang senantiasa kandas, dan pada akhirnya mengalami ketergantungan dan kekalahan.

Selama masa 13 tahun tinggalnya Imam Khomeini di Najaf, bermula dengan keadaan, tidak ada tekanan langsung dan pembatasan sekeras ketika berada di Iran dan Turki. Bagaimanapun, oposisi dan halangan-halangan serta cemoohan oleh musuh yang berada di hadapan mata dan bahkan ruhani gadungan dan orang-orang awam menyamar dalam jubah-jubah religius, demikian menyebarnya dan membahayakan sehingga Imam, kendati dengan kesabaran yang terkenal yang dimilikinya, beberapa kali, mengenang dan menyebutkan kegetiran keadaan yang dihadapi ketika itu. Namun demikian, tidak satu pun kekerasan dan kesulitan ini dapat menggoda Imam dari jalan yang telah dipilihnya dengan kesadaran. Imam tahu, sebelumnya, bahwa berbicara tentang perjuangan dan perlawanan dalam atmosfer seperti itu tidaklah memiliki faedah. Imam sadar harus memulainya dari titik yang sama seperti yang dilakukannya di Iran, termasuk Perhimpunan Qum (Majma’-e Qum) sebelum Perlawanan 15 Khurdad, yaitu, dengan reformasi gradual dan merubah situasi-situasi dan melatih sebuah generasi yang dapat memahami tujuan-tujuan dan pesan-pesannya.

Oleh karena itu, meski dengan segala kendala dan oposisi, Imam Khoemini memulai kuliahnya mengajar Fiqh di Masjid Syaikh Ansari Najaf pada bulan Aban 1344 HS (November 1965) dan melanjutkan kelas-kelas ini hingga hijrahnya ke Paris, Perancis.

Keteguhan asasi Imam Khomeini dalam bidang usul dan Fiqh serta kedalaman penguasaan ilmu-ilmu Islam sedemikian sehingga tidak beberapa lama, meskipun dengan segala rintangan, kelas-kelas Imam dikenal sebagai kelas yang paling menonjol di Hauzah Najaf, baik secara kuantitas atau pun kualitas.

Banyak pelajar agama dari Iran, Pakistan, Iraq, Afghanistan, India dan negara-negara Teluk Persia lainnya menghadiri kelas Imam Khomeini setiap hari. Pelajar-pelajar Hauzah Iran yang mencintai  Imam Khomeini berkehendak melakukan hijrah massal ke Najaf, namun urung atas saran Imam, karena dianggap perlu untuk menjaga Hauzah Ilmiah Iran tetap berjalan aktif. Namun, banyak di antara mereka yang karena kagumnya terhadap Imam telah sampai ke Najaf, dan secara perlahan, sebuah pusat figur-figur revolusioner, yang meyakini jalan Imam, terbentuk di Najaf. Kelompok inilah yang menjalankan tanggung-jawab dalam menyampaikan pesan-pesan perjuangan Imam pada tahun-tahun yang mendebarkan dan mencekik tersebut.

Semenjak kedatangannya di Najaf Imam Khomeini tetap memelihara hubungan dengan para pejuang di Iran dengan mengirim surat-surat dan kurir-kurir, dan pada setiap kesempatan, meminta mereka untuk berjuang dan tetap teguh dalam mencapai tujuan-tujuan Perlawanan 15 Khurdad. Yang menakjubkan bahwa dalam banyak surat-surat terdapat indikasi-indikasi jelas yang berkisah tentang   ledakan raksasa sosio-politik di Iran dan masyarakat ruhani Iran terpanggil, untuk bersiaga mengemban tugas menuntun masyarakat Iran pada masa yang akan datang. Prediksi-prediksi yang dibuat ketika, nampaknya, tidak ada alasan untuk dapat merubah keadaan karena rezim Syah lebih berkuasa dari pada masa sebelumnya, telah mematahkan setiap resistensi.

Periode paling buram pemerintahan Syah, bermula dengan masa pengasingan Imam Khomeini dan supresi keji terhadap lawan-lawan. Savak merupakan alat dan instrumen dari kekuasaan mutlak, sedemikian sehingga, walaupun hanya bertugas di daerah-daerah terjauh, akan mempekerjakan pegawai yang berpikiran picik dan harus dikonfirmasikan dengan Organisasi Keamanan (Savak). Pada masa ini, tidak ada yang tersisa lagi dari cabang-cabang konstitusional (trias politika, eksekutif, yudikatif dan legislatif, penj.) kecuali nama belaka. Syah pribadi, dengan beberapa pria dan wanita yang termasuk anggota istana memegang urusan negara di tangan mereka. Namun demikian, pengakuan Syah dalam bukunya yang terakhir, interviewnya dan tulisan-tulisan anggota keluarga Pahlevi, jenderal-jenderal, petinggi-petinggi rezim yang dipublikasikan setelah kejatuhan monarki di Iran dan dokumen-dokumen yang tersedia di kedutaan besar Amerika, seluruhnya membuat yakin bahwa Syah dan keluarga kerajaan hanyalah alat dan agen belaka, tanpa ada kehendak dari diri mereka sendiri. Dokumen-dokumen ini juga menyingkap kegiatan-kegiatan dan urusan-urusan keluarga kerajaan dan rezim, dan bahkan penunjukan anggota kabinet, jenderal-jenderal,  dan penyusunan RUU legislasi yang sensitif diputuskan dan ditulis di kedutaan besar Amerika di Teheran dan terkadang di kedutaan besar Inggris. Di sini, kita hanya akan menunjukkan dua kasus dari pengakuan Syah. Dia menulis, “…Duta-duta besar Amerika dan Inggris berkata pada setiap pertemuan yang kami selenggarakan: “Kami akan menyokong Anda.” Selama musim gugur dan musim dingin pada tahun 1978-1979, mereka mendorongku untuk membangun atmosfer politik yang terbuka… Bilamana Aku menerima diplomat-diplomat Amerika atau wakil-wakilnya, mereka senantiasa menyarankan supaya aku tetap bertahan dan tegar, namun ketika aku meminta duta besar Amerika untuk melakukan hal tersebut, dia berkata bahwa dia tidak menerima instruksi seperti itu… Beberapa minggu sebelumnya, ketika aku menerima wakil baru dari CIA di Teheran, aku terkejut terhadap kebasian dan  keusangan  ucapannya. Untuk sementara, kita berbicara tentang atmosfer politik terbuka, dan aku menyaksikan senyuman di wajahnya… Di atas segalanya, mereka yang merupakan sekutu setia kami selama bertahun-tahun, menyimpan kejutan-kejutan lain untukku…”[1]

Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam buku ini, Syah berupaya menisbatkan kejatuhan rezimnya kepada faktor-faktor yang tidak real dan yang mengejutkan. Dia berkata bahwa Jenderal Rabi’i, angkatan udara Amerika, telah mengatakan kepada hakim-hakim sebelum tiba eksekusi baginya, “Jenderal Husyer melemparkan Syah keluar dari Iran ibarat melemparkan seekor tikus mati!”[2].

Meskipun perkataan seperti ini merupakan distorsi sejarah, dan bukti-bukti tentang hal ini telah tersedia dan lebih fasih dan jujur berkata-kata ketimbang semuanya, dalam bukunya,[3] Husyer mengakui bahwa dia datang ke Teheran tidak untuk membuang Syah keluar dari negeri Iran tetapi untuk menyelamatkan monarki yang berada dalam keadaan kritis dan menyusun kudeta. Namun dengan asumsi bahwa klaim seperti itu dapat diterima, Syah, berbeda dengan judul yang telah dia pilih untuk bukunya, sama sekali tidak memberikan sebuah jawaban kepada sejarah kecuali berkata dengan semua klaim-klaimnya dan kalimat-kalimat sebagai berikut: “Duhai Cyrus! Tidurlah!; Kami terjaga!”. Selama masa 37 tahun masa kekuasaannya, bagaimana Syah memperlakukan kemerdekaan negaranya sehingga Jenderal kelas dua Amerika, setelah beberapa hari bermukim di Teheran mampu melemparkannya keluar seperti seekor tikus mati?!!

Di atas segalanya, setelah supresi Perlawanan 15 Khurdad dan pengasingan Imam Khomeini, Syah tidak melihat lagi Imam sebagai halangan di hadapannya. Negara dalam keadaan sedemikian rupa sehingga Keluarga Kerajaan (Royal Court) memecat wanita dan melantik menteri-menteri kabinet, hakim-hakim dan wakil-wakil istana. Saudara perempuan Syah, Asyraf Pahlevi, yang memiliki skandal moral dan pemimpin penyelundupan narkotika direfleksikan bahkan pada koran-koran asing, telah digelari sebagai “orang yang serba tahu” dari Keluarga Kerajaan. Pelantikan putra seorang Bahai yang bernama Amir Abbas Howayda, yang memiliki kebiasaan memuji dengan cara merendah, “Persembahan kepada Yang Mulia”, dan yang memimpin kabinet selama 13 tahun, memberikan makna bahwa konstitusi kekuasaan dan “demokrasi” tidak wujud di negara ini meski dalam level yang terendah sekalipun.

Syah sedang mengendarai seekor kuda berderap menuju  peradaban tinggi khayalannya; sebuah peradaban yang pilarnya berdasarkan  budaya asing; promosi berlebihan  penjarahan sumber-sumber daya negara oleh ratusan perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa,  secara relatif kemerdekaan  struktur agrikultur Iran; membuat kekuatan populasi produktif bergerak ke kota-kota suburban, pinggiran sebagai konsumer dan pekerja nganggur; pengembangan industri tidak berdaya guna, bergantung; penyediaan basis militer untuk menyadap dan melakukan tindakan spionase oleh pasukan Amerika di Iran dan daerah Teluk Persia atas biaya Iran.

Hanya dalam satu tahun (antara tahun 1976-1977), sebanyak 26,4 miliar Dollar pendapatan dari minyak dihabiskan hanya untuk mengimpor peralatan berat militer dari Amerika. Pada tahun 1980 saja, Syah telah memesan peralatan militer seharga 12 milyar Dollar dari Amerika[4],  yang tujuan pertama dan utamanya, -menurut kebijakan Gedung Putih- untuk melindungi kepentingan Amerika di daerah sensitif Teluk Persia. Pengaturan dan penggunaan alat militer ini ditandatangani secara eksklusif oleh 60 ribu penasihat Amerika.

Pada puncak stabiltasnya, ketika dia merasa tidak ada tekanan asing atau masalah-masalah yang muncul, Syah memproduksi lebih dari 6 juta barel minyak per hari, sementara jumlah penduduk Iran pada saat itu tidak lebih dari 33 juta orang dan harga minyak –dengan dalih seperti adanya perang Arab-Israel, usaha Barat untuk membuat cadangan minyak yang lebih banyak lagi, memerangi kemungkinan adanya boikot minyak, dan semakin dekatnya persatuan produksi minyak negara-negara Islam –telah melebihi 30 Dollar per barel.

Namun, meskipun berada dalam keadaan produktif seperti ini, banyak  jalan-jalan besar di kota-kota Iran yang kekurangan aspal dan sebagian besar negeri tidak memiliki listrik, perawatan kesehatan dan fasilitas sosial. Bahkan, pada saat puluhan, presiden, perdana menteri, dan kepala-kepala negara yang lain melakukan kunjungan ke Iran untuk menghadiri perayaan yang ke 2500 tahun pemerintahan monarki Iran, puluhan ribu warga kekuatan produktif Iran masa-masa lalu dan orang-orang yang menganggur telah menghuni perumahan-perumahan yang berupa gubuk-gubuk yang hampir ambruk dan mereka berkumpul di pinggiran kota (halaby abad) yang terletak di dekat bandar udara Teheran, dan tempat-tempat lain di bagian selatan, timur dan barat kota, dan di beberapa kota yang lainnya. Mereka hidup dalam keadaan miskin, lapar dan  memprihatinkan.

Keberadaan pinggiran kota (halaby abad) yang dihadirkan merupakan tontonan yang kurang bagus sehingga sepanjang perayaan, rezim    menyembunyikan mereka dari pandangan tamu-tamu asing dengan mengecat tembok-tembok sehingga tanda-tanda “peradaban agung” ini tidak terlihat! Pada saat perayaan, banyak tempat di bagian selatan dan barat Teheran masih kekurangan air minum dan setiap seratus keluarga harus mendapatkan air minum mereka dari satu kran air. Pada tahun 1355 HS (1976), angka buta huruf mencapai 52,9 % dari seluruh penduduk di atas usia 7 tahun ke atas.[5] Ketika Syah melarikan diri pada tahun 1357 HS (1978), 15 tahun telah berlalu semenjak pelaksanaan Revolusi Putih dan reformasi gaya Amerika. Selama masa ini, meskipun produks, penjualan minyak dan sumber-sumber daya alam lainnya serta adanya dukungan dari pemerintahan-pemerintahan asing, tidak dapat meloloskan Iran dari ketergantungan. Di samping itu, setiap hari, negara semakin tergantung kepada orang-orang asing pada sektor ekonomi, agrikultur, industri dan bersamaan dengan keadaan ini, keadaan ekonomi yang suram, kemiskinan merata, dan ketidaksemerataan meningkat. Secara politik, Syah telah mengembalikan Iran menjadi negara yang paling bergantung kepada Barat, khususnya kepada Amerika.

Selama masa pengasingan Imam Khomeini, meskipun dengan kesulitan-kesulitan yang tak-terbilang, ia tidak pernah berhenti dari perjuangannya dan menyalakan harapan kemenangan di dalam hati melalui pidato-pidato dan tulisan-tulisannya. Pada tanggal 27 Farwardin 1364 HS (16 April 1967), dalam sebuah pesan yang disampaikan kepada Hauzah-hauzah Ilmiah, Imam menulis, “Aku menjamin kalian, wahai tuan-tuan yang terhormat dan bangsa Iran, bahwa rezim yang berkuasa akan jatuh. Nenek moyang mereka telah mendapat tamparan oleh Islam… Mereka juga akan mendapatkan tamparan… Tegarlah; Jangan menyerah kepada penindasan; mereka akan berlalu, dan kalian akan tinggal. Pedang-pedang tumpul dan pinjaman ini akan disarungkan kembali.”[6] Pada hari ini, Imam Khomeini menulis surat terbuka kepada Perdana Menteri, Amir Abbas Howayda. Dalam surat itu, Imam menyebutkan perbuatan-perbuatan zalim rezim dan mengingatkan Howayda ihwal perbuatan Syah terhadap pemerintahan Islam, dengan kalimat berikut ini, “Jangan buat  pakta dengan Israel, bangsa ini adalah musuh Islam dan kaum Muslimin, bangsa ini yang telah membuat satu  juta kaum Muslimin tanpa rumah. Jangan lukai perasaan kaum Muslimin. Jangan di buka lagi, tangan-tangan Israel dan agen-agen khianatnya ke dalam pasar-pasar kaum Muslimin. Jangan ancam keadaan ekonomi negara dengan menjualnya kepada Israel dan antek-anteknya. Jangan korbankan budaya karena angan-angan dan hawa nafsu…, Berhati-hatilah atas kemurkaan Tuhan; kemarahan bangsa…”.[7] Syah tidak mengindahkan peringatan Imam. Meskipun negara-negara Muslim berada pada gerbang pertempuran dengan Israel, namun barang-barang Israel mendapatkan perlakuan yang istimewa dan spesial dari rezim Syah; serta memiliki pasar yang baik di Iran, dan aneka buah-buahan Israel dan makanan seperti telur dan ayam Israel secara melimpah dapat ditemukan di pasar-pasar Iran dengan harga yang lebih murah dari pada harga lokal.

Imam Khomeini dalam sebuah pesan yang bertanggal 17 Khurdad 1346 HS (7 Juni 1967), pada kesempatan hari ke-6 pertempuran antara Israel dan bangsa Arab, Imam Khomeini mengeluarkan sebuah fatwa revolusioner melarang setiap hubungan politik dan dagang dengan Israel dan pengkonsumsian barang-barang Israel oleh komunitas Islam.[8]

Fatwa ini merupakan pukulan telak pada perluasan hubungan antara Syah dan Israel. Ulama Iran dan pelajar-pelajar Hauzah dengan mengeluarkan pengumuman, menempatkan Syah di bawah tekanan. Rezim membalas fatwa Imam ini dengan menyerbu kediaman Imam di Qum, menjarah seluruh kitab-kitab dan dokumen-dokumennya, dan menyerang sekolah-sekolah Islam di Qum dan menyita karya-karya dan foto-foto Imam. Selama penyerbuan ini, putra Imam Khomeini, Hujjatul Islam Hajj Sayid Ahmad Khomeini, dan Hujjatul Islam Haji Syaikh Hasan Sana’i serta Almarhum Ayatullah Islami Turbati (wakil  syar’i Imam Khomeini) ditangkap dan ditawan. Usaha mereka dan pendukung-pendukung revolusioner lainnya, telah membuat Savak frustasi sehingga  berharap untuk memutuskan syahriah Imam (pembagian tunjangan dari Imam kepada para pelajar agama, penj) dan mencegah penyetoran uang-uang syar’i rakyat kepada para marja’ mereka. Beberapa waktu sebelum kejadian ini, Hujjatul Islam Haji Sayid Ahmad Khomeini, pergi ke Najaf untuk menerima pesan dan perintah Imam ihwal administrasi kegiatan-kegiatan di rumah Imam di Qum. Ketika kembali, pada awal tahun 1346 HS, beliau ditangkap di perbatasan Irak dan Iran oleh agen keamanan Syah dan untuk beberapa lama dipenjarakan di Qazal Qal’ah.  Selama tahun-tahun tersebut, usaha utama Savak  –menurut dokumen-dokumen Savak– adalah memutuskan hubungan Imam Khomeini dengan pengikutnya (muqallid) di Iran dan mencegah pembagian syahriah (gaji bulanan) Imam yang diperuntukkan bagi mereka. Sementara itu, usaha-usaha yang dilakukan oleh  wakil-wakil syar’i seperti Aqa-e Islami Turbati, Hajj Syaikh Muhammad Sadiq Teherani (Karbaschi) dan Ayatullah Pasandideh (saudara sulung Imam) yang, meskipun ada ancaman, penangkapan, pengasingan dari rezim terus berkesinambungan dan begitu juga aktifnya kegiatan keluarga Imam Khomeini di Qum –telah dikenal sebagai inti Perlawanan 15 Khurdad, dan dijalankan oleh putra Imam– merupakan kendala utama bagi rezim untuk memenuhi tujuan-tujuan mereka. Savak sedemikian sensitifnya akan hidupnya kembali nama Imam dan kenangan serta kegiatan keluarga Imam di Qum sehingga selama 4 tahun menempatkan polisi penjaga dan agen-agen keamanan sejak dini hari hingga beberapa jam setelah malam, untuk mengontrol kediaman keluarga Imam dan mencegah frekuensi kedatangan para pengikut Imam ke tempat tersebut. Namun pada tahun-tahun tersebut, para pendukung Imam berkumpul bersama pada saat tengah malam, setelah agen-agen meninggalkan posko mereka untuk mengerjakan urusan yang berkenaan dengan hubungan antara Imam dan rakyat. Pada saat inilah (Khurdad 1346 HS) niat rezim untuk memindahkan Imam dari Najaf ke India dibatalkan oleh penyingkapan dan usaha-usaha perjuangan internal dan eksternal kelompok-kelompok politik.

Dengan naiknya Partai Ba’ats ke tampuk kekuasaan di Irak (17 Juli 1967), dan kebencian Partai Ba’ats terhadap pergerakan Islam, merupakan kendala selanjutnya yang menghadang di hadapan Imam. Meski demikian, Yang Mulia tidak menghentikan perjuangannya. Tempat tinggal Imam di Najaf, reaksi dari dunia Islam terhadap perang Arab-Israel memberikan kesempatan kepada Imam Khomeini untuk bersikap dan mendiskusikan tujuan-tujuannya dalam skala yang lebih luas yang bermakna kehidupan kembali iman dan keyakinan, dalam sebuah area anti-agama, dan mengembalikan kemuliaan Islam, identitas dan persatuannya. Usaha ini tidak hanya terbatas pada perjuangannya melawan Syah di Iran.

Imam Khomeini dalam sebuah percakapannya dengan wakil Organisasi al-Fat’h Palestina  pada tanggal 19 Mehr 1347 HS (9 Oktober 1968) menjelaskan pandangan-pandangannya tentang masalah dunia Islam dan jihad rakyat Palestina. Selama interview ini, Imam mengeluarkan sebuah fatwa tentang perlunya mengalokasikan dana zakat untuk membantu pejuang-pejuang Palestina.[9]

Pada awal tahun 1348, perbedaan antara rezim Syah dan Partai Ba’ats tentang sungai perbatasaan telah membawa kedua negara ini kepada pertikaian yang sengit. Rezim Irak mengusir penduduk Iran yang bermukim di Irak dalam keadaan yang memprihatinkan. Dalam situasi ini, Partai Ba’ats berusaha keras untuk memanfaatkan permusuhan Imam Khomeini terhadap rezim Iran. Di satu sisi, Syah mencari kesempatan dan alasan sekecil apapun guna menghadirkan gambar rekaan (yang telah didistorsi) untuk melemahkan pergerakan Imam.

Namun Imam bangkit dan melawan intrik yang berasal dari kedua belah pihak ini dengan sangat bijak. Ayatullah Hajj Aqa-e Mustafa Khomeini mengirimkan secara resmi pesan-pesan Imam yang berisi tentang penentangannya terhadap deportasi pelajar agama (ruhani) dan penduduk Iran lainnya serta menolak setiap kompromi antara Yang Mulia dan Partai Ba’ats di Baghdad, kepada  Presiden Iraq, Hassan al-Bakr dan kepada yang lainnya yang hadir pada pertemuan tersebut.

Pada tanggal 30 Murdad 1348 HS, salah satu bagian dari bangunan Masjid al-Aqsa dibakar oleh ekstrimis Zionis. Syah, yang berada di bawah tekanan opini publik, mengusulkan untuk membayar biaya-biaya perbaikan lalu datang membantu Israel sehingga akan meredam amarah kaum Muslimin. Dalam sebuah pesan, Imam menyingkap kedustaan yang dilakukan oleh Syah, dan membuat proposal tandingan, “Tidak hingga bangsa Palestina dibebaskan, kaum Muslimin yang harus memperbaiki Masjid tersebut. Biarkan kejahatan Yahudi Israel terbongkar di hadapan kaum Muslimin dan menjadi sebab bagi pergerakan untuk   membebaskan Palestina.”[10]

Selama empat tahun mengajar, usaha dan pencerahan Imam Khoemini telah sedikit merubah atmosfer Hauzah Ilmiah Najaf. Kini pada tahun 1348 HS, di samping pejuang-pejuang dalam negeri, terdapat banyak rakyat Irak, Libanon, dan negeri-negeri Islam lainnya, yang memandang pergerakan Imam Khomeini sebagai teladan dalam gerakan mereka.

Imam memulai rangkaian pelajaran ihwal pemerintahan Islam atau wilayatul faqih pada bulan Bahman 1348. Penerbitan kumpulan ikhtisar dari pelajaran-pelajaran ini dalam bentuk sebuah buku yang berjudul Wilâyat al-Faqih (pemerintahan Islam atau lebih tepatnya, pemerintahan yang dipimpin oleh para ulama dan fuqaha, penj), dibagikan di Iran, Irak dan Libanon, Dan pada musim haji dianggap sebagai sebuah sensasi segar untuk mengusung perjuangan. Dalam buku ini dilukiskan: outlook perjuangan dan tujuan-tujuan pergerakan, dasar-dasar fiqh, usul dan akal dari prinsip-prinsip pemerintahan Islam, serta dalil-dalil teoritis yang berkenaan dengan jalan dan model pemerintahan Islam, di presentasikan dan dibahas oleh pemimpin revolusi.

Pada bulan Urdibehesyt 1349 HS (April 1970), pers Amerika mengumumkan kedatangannya di Iran, dalam sebuah misi yang dipimpin oleh seorang kapitalis terkemuka Amerika, Rockfeller. Mereka tiba di Iran untuk mengkaji pengembalian hasil pendapatan minyak Iran  ke Amerika yang terus meningkat semenjak tahun itu dan selanjutnya.

Dan menentukan model keikutsertaan perusahaan-perusahaan Amerika dalam suprah yang terbentang ini. Sejak beberapa bulan sebelumnya, Savak telah memberikan pengumuman kepada ruhaniawan, yang terkait dengan Imam Khomeini yaitu adanya pelarangan untuk berceramah di atas mimbar. Namun, orang-orang pendukung Imam merupakan ruhaniawan yang berdedikasi. Mereka merasa riang setelah mengkaji gagasan-gagasan Imam tentang pemerintahan Islam, mulai menampakkan penentangannya terhadap pelebaran lebih jauh pengaruh Amerika di dalam negeri. Ayatullah Sa’idi yang merupakan salah seorang pendukung fanatik Imam yang dalam peristiwa yang terjadi pada bulan Urdibehesyt 1349 HS (April 1970), ditangkap dan setelah 10 hari mengalami penyiksaan keji oleh Savak mencapai mencapai syahid di dalam penjara Qazal Qal’ah. Perjuangannya dipuji oleh Imam yang disampaikan dalam sebuah pesan, “Ayatullah Sa’idi bukan hanya seorang yang menderita siksaan di sudut penjara.” Pesan Imam juga menyingkapkan bahwa, “Kapitalis ahli dan raksasa Amerika telah menyerbu Iran”; bermaksud untuk mencekik bangsa ini dengan dalih investasi asing yang terbesar… Setiap kesepakatan yang dibuat dengan kapitalis Amerika atau kolonial-kolonial lainnya, adalah melawan kehendak bangsa Iran dan hukum-hukum Islam.”[11]


 


[1] . Pâsukh be Târikh, h. 362

[2] . Idem, h. 367

[3] . Makmuriyat dar Tehran, Kenangan Jenderal, Husyer

[4] . Nufudz-e Amrikâ dar Irân, bagian yang berhubungan dengan Pembelian Senjata, dengan mencuplik secara resmi dari statisik yang beredar. .

[5] . Iqtisâd-e Irân, Muasasah Muthala’at-e Pazuhisyha-e Barargani, h. 59

[6] . Barrasi-e wa Tahlili az Nehdhat-e Imam Khomeini, jil. 2, h. 214

[7] . Sahifeh-ye Nur, jil. 1, h. 132

[8] . Barrasi-e wa Tahlili az Nehdat-e Imâm Khomeini, jil. 2, h. 232

[9] . Sahifeh-ye Nur, jil. 1, h. 154

[10] . Barrasi-ye  wa Tahlili az Nehdat-e Imâm Khomeini, jil. 2, h. 458 dengan menyuplik dari surat kabar Jumhuriyeh, cet. Baghdad, No. 588, tanggal 1/8/1348 HS (23 Oktober 1969)

[11] . Sahifeh-ye Nur, jilid 1, h. 154

Pernah dimuat pada site www.telagahikmah.org, diterjemahkan dari kitab Hadits Bidar oleh A. Kamil

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: