RISALAH REVOLUSI [5]

11. Hijrah Imam Khomeini dari Irak ke Paris

            Dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri Iran dan Menteri Luar Negeri Irak di New York, sebuah keputusan diambil untuk mendeportasi Imam dari Irak. Pada tanggal 2 Mehr 1357 HS (24 September 1978) pasukan Irak mengepung kediaman Imam Khoemini di Najaf. Kabar pengepungan ini membuat berang kaum muslimin di Iran, Irak dan negara-negara lainnya. Dalam kunjungannya kepada Imam Khoemini, Kepala Keamanan Irak, mengisyaratkan bahwa jika Imam berhasrat untuk tinggal di Irak, maka Imam harus menghentikan perjuangan dan aktifitas politiknya. Imam menjawab dengan tegas bahwa, karena merasa bertanggung jawab kepada umat Islam, ia tidak ingin tinggal diam dan juga tidak mau berkompromi.[1]

            Pada tanggal 12 Mehr, Imam Khomeini meninggalkan Najaf dan bertolak menuju perbatasan Kuwait. Pemerintahan Kuwait tidak membiarkan Imam masuk ke negeri itu atas isyarat dari rezim Iran. Sebelumnya, ada pembicaraan keberangkatan Imam menuju Libanon atau Suriah. Namun, setelah berkonsultasi dengan putranya (Hujjatul Islam Hajj Sayid Ahmad Khomeini), Imam memutuskan untuk berhijrah ke Paris[2] dan pada tanggal 14 Mehr, Imam tiba di Paris dan dua hari kemudian,  ditempatkan di rumah seorang warga Iran, di Neauphle-le  Châteay (sebuah daerah suburban di Paris). Petugas-petugas Palais de l’Elysée (istana kepresidenan Prancis) menyampaikan pandangan Presiden Perancis kepada Imam, bahwa Imam jangan terlibat dalam bidang politik. Reaksi dan jawaban keras Imam bahwa pembatasan seperti ini bertentangan dengan klaim Perancis tentang demokrasi, dan ia lebih memilih, terbang bolak-balik antara bandar udara, dari satu negara ke negara lainnya daripada menyerah untuk mewujudkan tujuannya.[3] Giscard d’Estaing, yang kemudian menjabat Presiden Perancis, menyampaikan dalam buku memoarnya bahwa dia telah mengeluarkan perintah agar Imam diusir dari Perancis, tetapi saat-saat terakhir diplomat utusan Syah, yang merupakan hari naas ketika itu, menasihatkan Giscard d’Estaing akan bahaya reaksi yang tak terkendali dan reaksi yang menyala-nyala, dan telah mengumumkan bahwa mereka berlepas diri  dari reaksi tersebut, di Eropa dan di Iran.[4]

            Selama empat bulan Imam Khomeini bermukim di Paris, Neauphle-le  Châteay menjadi pusat pemberitaan terpenting dunia saat pada itu. Dalam berbagai interview dan kunjungannya menyatakan pandangan pemerintahan Islamnya, dan tujuan masa datang gerakannya kepada dunia. Lalu, sejumlah besar orang-orang di dunia menjadi akrab dengan pemikiran dan perlawanan Imam, dan dari tingkatan  dan stasiun ini Imam memimpin pergerakan pada masa-masa paling kritis di Iran.[5]

            Pemerintahan Syarif Imami tidak berlangsung lebih dari dua bulan. Syah melimpahkan kursi kepemimpinan kabinet kepada pemerintahan militer Azhari. Pembunuhan-pembunuhan diakselerasi, meskipun tindakan ini tidak mempengaruhi perlawanan rakyat. Syah  putus asa, kemudian meminta kedutaan Amerika dan Inggris untuk mencarikan jalan keluar namun tidak satu pun dari rencana mereka yang berhasil.[6] Demonstrasi-demonstrasi yang diusung oleh jutaan manusia, yang disebut sebagai, “Referendum informal rakyat melawan Syah”,  di adakan pada hari-hari Tâsua’ dan Âsyura (hari ke-9 dan 10 bulan Muharram), di Teheran dan kota-kota lainnya. Syaphuur Bakhtiar, seorang yang berkedudukan tinggi pada Front Nasional, merupakan serdadu terakhir Amerika yang  diperkenalkan kepada monarki Syah.

            Sejumlah empat pemimpin industri minyak negara dalam konferensi yang dilakukan di Guadalupe telah menyampaikan dukungan bersama mereka kepada Bakhtiar.[7]

            Mengikuti dukungan ini, Jenderal Husyer, Wakil Komandan Nato mengadakan perjalanan ke Iran dalam sebuah misi rahasia selama dua bulan. Ia kemudian mengeluarkan pengakuannya, bahwa misinya adalah untuk mengamankan kekuatan militer guna menyokong Bakhtiar, mengorganisir pemerintahannya, menghentikan pemogokan-pemogokan dan menyiapkan kudeta untuk mengembalikan Syah ke singgasana kekuasaan –sesuai dengan apa yang berlaku pada tanggal 28 Murdad 1332.[8]

            Namun, pesan-pesan Imam Khomeini ihwal keharusan untuk melanjutkan pertempuran, membuat seluruh rencana Husyer kandas di tengah jalan. Pada bulan Dey 1357 HS (Desember 1978), Imam Khomeini mendirikan Dewan Revolusioner.

            Syah kabur meninggalkan negara pada tangal 26 Dey, dua hari setelah panggilan pertemuan Dewan Monarki dan meraih mosi kepercayaan dari kabinet Bakhtiar. Kabar kepergian Syah membuat gembira penduduk di Teheran, dan kemudian seluruh negeri tumpah-ruah ke jalan-jalan, berdendang lagu dan berdansa. Pertemuan regular Husyer dengan penasihat militer Amerika dan jenderal-jenderal militer Syah, tidak dapat menolong Bakhtiar untuk memberangus pemogokan dan menghentikan perlawanan rakyat.


 


[1] . Silahkan merujuk kepada penjelasan tentang kejadian ini yang berasal dari lisan mulia Imam Khomeini sendiri dalam penjelasannya  ketika Sang Imam mengadakan perbincangan dengan Kelompok Kuwaiti yang ada dalam kitab Kautsar, Syarh  Waqâye’-e Inqilâb-e Islâmi, jilid. 1, h. 532

[2] . Penjelasan tentang bagaimana peristiwa Hijrahnya Imam Khomeini dari Najaf menuju ke daerah perbatasan yang ada di Kuwait, kembalinya ke Baghdad dan hijrahnya ke Paris serta  peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perjalanan ini  disampaikan oleh putra Imam Khomeini  dalam kitab Kautsar, waqâye’-e Inqiâb-e Islâmi, jilid 1, h. 434  

[3] . Idem.,

[4] .Qudrat wa Zendegi, Kenangan Presiden Perancis, penerjemah: Mahmu Thulu’i, h. 102

[5] . Silahkan rujuk  pada kumpulan penjelasan, wawancara-wawancara dan pesan-pesan Imam Khomeini selama masa tinggalnya di Neauphle le Chateay, Perancis dalam kitab Sahifeh-ye Nur, jilid ke-3 dan ke-4.

[6] . Pâsukh beh Târikh, h. 350-364

[7] . Qudrat wa Zendegi (Konferensi Guadalupe), Kenangan Presiden Perancis, penerjemah: Thulu’i

[8] . Silahkan lihat, Ma’muriyat dar Tehrân (penugasan di Teheran), kenangan Jenderal Husyer.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: