RISALAH REVOLUSI [6]

12. Perlawanan 15 Khurdad (15 Juni)

Bulan Muharram yang bertepatan dengan bulan Khurdad 1342 HS telah tiba. Imam Khomeini memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajak rakyat supaya bangkit melawan rezim diktator Syah. Pada hari Asyura (hari ke-10 bulan Muharram dan hari syahadah Imam Husain As) massa yang berjumlah sekitar seratus ribu orang, sambil menenteng foto-foto Imam, mengadakan demonstrasi sambil berjalan di hadapan Istana Marmar (kediaman Syah) dan untuk pertama kalinya di ibu kota, terdengar yel-yel, dan slogan “Ganyang Diktator!” –marg bar diktâtur-.  Pada hari berikutnya, demonstrasi-demonstrasi diadakan di kampus, di pasar dan di depan kedutaan besar Inggris.

Pada petang hari Asyura 1383 H (13 Khurdad 1342 HS) atau bertepatan dengan bulan Juni 1963, Imam Khomeini menyampaikan pidato bersejarahnya di Madrasah Faiziyyah yang menandai dimulainya perlawanan 15 Khurdad. Bagian utama pidato Imam berkenaan dengan bahaya-bahaya monarki Pahlevi dan penyingkapan hubungan-hubungan rahasia antara Syah dan Israel. Dalam pidatonya, Imam Khomeini dengan lantang mengalamatkan kepada Syah, berkata, “Wahai Tuan! Aku nasihatkan kepada Anda. Wahai Tuan Syah! Wahai Yang Mulia Syah! Aku nasihatkan Anda untuk menghentikan aksi-aksi Anda. Tuan mereka membodohi Anda! Aku tidak ingin melihat rakyat berterima-kasih atas kepergian Anda jika rakyat suatu hari membuat Anda pergi. Jika sesuatu didiktekan kepada Anda untuk dibaca, pikirkanlah… terimalah nasihatku ini… Hubungan apakah yang terjalin antara Syah dan Israel yang membuat Savak (agen rahasia Syah) berkata, “Jangan berbicara tentang Israel…” Memangnya Syah itu orang Israel?[1]

Kata-kata Imam menghujam ibarat sebuah martil yang menimpa jiwa Syah dan menjatuhkan kekuatan serta ketakaburan bak Fir’aun itu, Syah mengeluarkan perintah untuk menghentikan gema perlawanan. Pertama, sejumlah besar sahabat-sahabat Imam ditahan pada petang hari 14 Khurdad dan pada jam 3 pagi tanggal 15 Khurdad, ratusan komandan yang dikirim dari Teheran diperintahkan untuk mengepung kediaman Imam Khomeini dan menangkapnya selagi Imam menunaikan salat malamnya. Mereka membawanya ke Teheran dengan cepat dan menyekapnya di Teheran, pertama di rumah tahanan di Officers Club, dan pada petang harinya mereka memindahkan Imam ke Penjara Qasr. Berita penangkapan Imam menyebar secara cepat di kota Qum dan daerah-daerah pinggiran Qum. Pria dan wanita dari desa-desa dan orang-orang yang berasal dari rumah-rumah mereka sendiri di kota bergerak menuju ke kediaman Imam. Mereka meneriakkan slogan utama, “Khomeini atau Mati!” suara-suara yang meneriakkan slogan ini dapat didengar dari setiap penjuru kota. Kemarahan rakyat sedemikian hebatnya sehingga polisi-polisi melarikan diri. Polisi-polisi ini kembali setelah bersenjatakan lengkap.

Pasukan bantuan dari garnisun (pasukan yang ditempatkan di dalam kota-penj) yang berada di sekeliling kota Qum di kirim ke kota Qum.

Ketika lautan manusia keluar dari Haram Hadrat Ma’sumah As Pasukan garnisun ini memberondong mereka dengan peluru-peluru yang bersenapan mesin. Bentrokan keras tetap saja terus berlangsung hingga beberapa saat. Banjir darah terjadi di jalan-jalan. Helikopter militer lepas landas dari Teheran dan menghancurkan penghalang suara (soundbarrier) di angkasa kota Qum untuk menciptakan ketakutan yang berlebihan. Perlawanan dikontrol dengan menggunakan kekuatan. Truk-truk militer dengan cepat membersihkan jalan-jalan dan gang-gang dari jenazah-jenazah syuhada yang terbantai dan orang-orang yang terluka, dan mengangkut mereka ke tempat-tempat yang tak dikenal. Pada petang hari itu, kota Qum dicekam oleh rasa takut karena peperangan yang terjadi.

Berita penangkapan pemimpin Revolusi telah sampai ke kota Teheran, Masyhad, Syiraz, dan kota-kota lain. Keadaan yang terjadi di Qum ini, terjadi pula di  tempat-tempat lain. Rakyat Waramin dan kota-kota sekitarnya berjalan menuju Teheran. Kekuatan militer yang  dilengkapi dengan kendaraan berlapis baja dan tank-tank, yang berupaya mencegah orang-orang yang berjalan menuju kota dan pada pertigaan jalan Waramin dan Teheran, berjibaku dengan mereka dan sebagian besar para pengunjuk rasa tewas. Kumpulan dari banyak  orang berhimpun di sekitar pasar Teheran dan di pusat kota. Kemudian mereka bergerak dan berjalan menuju istana Syah serta menggemakan, “Khomeini atau Mati“. Dari bagian selatan kota, rakyat yang membanjir, berjalan menuju pusat kota yang dipimpin oleh Tayib Haj Rezai dan Hajj Ismail Rezai. Kedua orang yang berasal dari selatan kota dan yang masih muda ini kemudian ditangkap dan pada tanggal 11 Aban 1342 HS (1963), menjumpai regu penembak. Para pendukung mereka dibuang ke Bandar Abbas.

Orang terdekat Syah, Jenderal Husain Firdaus menulis dalam memoarnya tentang pengalaman dan pilihan kerja sama politik dengan Amerika dan agen keamanan untuk meredakan perlawanan. Sebuah catatan juga diberikan pada memoar itu ihwal kebingungan Syah, keluarga istananya, para jenderal militer serta anggota Savak. Diceritakan bahwa bagaimana Syah dan para jenderalnya dengan ngawur dan kalapnya mengeluarkan perintah untuk meredakan perlawanan.

Dalam menjelaskan parahnya keadaan, Jenderal Firdaus menulis, “Aku berkata kepada Owisyi, komandan Pasukan Pengawal Khusus, bahwa satu-satunya yang dapat diperbuat adalah persenjatai lasykar dengan segala sesuatu yang ada.”[2] Pada akhirnya, kekuatan militer dan polisi Syah, dengan menggunakan seluruh persenjataan yang mereka miliki, dan dengan menembak secara langsung pada rakyat, mampu menguasai keadaan.

Dalam buku memoarnya tentang hari itu, Perdana Menteri Asadullah Alam, menulis surat yang dialamatkan kepada Syah, “Jika kita mundur, kekacauan akan menyebar memenuhi seluruh penjuru Iran dan rezim kita akan menjumpai kejatuhan yang memalukan. Pada waktu itu, bahkan apabila aku memohon kepada Anda (Syah) untuk berkata bahwa jika aku diturunkan dari jabatanku, Anda dapat senantiasa menjaga diri Anda dengan menghukum dan mengeksekusiku sebagai perpetrator (pemicu) atas segala keadaan yang terjadi.[3] Undang-undang tentang Negara dalam Keadaan Darurat diumumkan pada tanggal 15 Khurdad di Teheran dan Qum. Kendati demikian, demonstrasi yang melebar diadakan pada hari berikutnya, dan semuanya berakhir dengan pertumpahan darah.

Tanggal 15 Khurdad 1342 HS merupakan hari permulaan Revolusi Islam bangsa Iran. Setelah 19 hari masa pemenjaraan Imam di penjara Qasr, Imam dipindahkan ke sebuah penjara di Pangkalan Militer Esyrat Abad.

Dua hari setelah perlawanan 15 Khurdad, Syah menyebut revolusi rakyat sebagai kekacauan yang tak beradab, yang merupakan hasil dari persatuan dan agen-agen reaksioner merah-hitam dan mencoba untuk menghubung-hubungkannya dengan agen-agen luar negeri. Kepada orang-orang seperti Gamal Abdul Nasser.

Kedangkalan dari klaim Syah yang berulang-ulang itu tidak diketahui oleh siapa pun. Elemen-elemen sayap kiri dan kaum komunis tidak memiliki andil apa pun dalam perlawanan ini. Lebih dari itu, Partai Tudeh dan kaum komunis Iran menggunakan radio Moskow untuk mencatat perlawanan dalam tulisan-tulisan mereka dalam rangka menjustifikasi kedudukan mereka. Partai Komunis Soviet memandang perlawanan 15 Khurdad sebagai “gerakan reaksioner membabi-buta terhadap reformasi progressif Syah.”[4] Klaim dusta yang lain dari Syah tentang keterlibatan Mesir, kendati adanya upaya dan intrik Savak,  klaimnya tidak dipercaya oleh siapa pun. integritas perlawanan 15 Khurdad sedemikian nampak sehingga tidak berpengaruh dengan label seperti itu.

Dengan penangkapan pemimpin pergerakan pada 15 Khurdad dan pembantaian secara biadab terhadap rakyat, pergerakan nampaknya tertindas. Dalam penjara, Imam Khomeini dengan berani menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para penyidik. Imam bahkan mendakwah mereka dan menganggap sistem peradilan tidak sah dan tidak memiliki kompetensi. Dalam kesendiriannya di penjara Esyrat Abad, Imam memanfaatkan waktunya untuk membaca. Imam mengkaji sejarah kontemporer, termasuk sejarah konstitusi Iran dan sebuah buku karangan Jawaharlal Nehru. Setelah penangkapan Imam, gelombang protes oleh ruhaniawan dan rakyat dalam berbagai strata memenuhi ibukota dan kemudian mereka menyampaikan tuntutannya untuk membebaskan pemimpinnya.

Beberapa ulama terkemuka dari propinsi-propinsi lain  hijrah ke Teheran untuk menunjukkan ketidaksetujuannya. Kekhawatiran akan keselamatan pemimpin Revolusi dapat menggerakkan reaksi rakyat di seluruh penjuru Iran. Beberapa ulama yang hijrah di tangkap dalam sebuah serangan dan dipenjara selama beberapa lama.

Syah beranggapan bahwa peristiwa 15 Khurdad berbahaya bagi kedudukannya dan bagi jaminan-jaminan yang diberikan oleh Amerika. Dia mencoba untuk meremehkan peristiwa-peristiwa ini dan menganggap situasi ini sebagai situasi normal dan di bawah kendali.

Pada sisi lain, kemarahan rakyat akibat lamanya waktu Imam ditahan semakin hari semakin memuncak. Oleh karena itu, rezim pada tanggal 11 Murdad 1342 HS, terpaksa memindahkan Imam dari penjara ke sebuah rumah di Dawadiyah untuk dijaga di bawah penjagaan pasukan bersenjata. Mendengar berita pemindahan ini, rakyat Teheran segera mendatangi Dawadiyah. Beberapa saat kemudian, rakyat berdesak-desakan mengelilingi tempat Imam ditangkap dan rezim terpaksa membubarkan mereka dan pasukan militer disiagakan mengepung rumah tersebut. Pada petang hari tanggal 11 Murdad, surat kabar-surat kabar rezim Syah  menerbitkan sebuah berita palsu bahwa antara para marja’ dan otoritas rezim, masing-masing telah sampai kepada sebuah kesepahaman. Tidak mungkin bagi Imam untuk mendengar berita bohong ini sehingga imam dapat mengingkarinya. Namun ulama, dengan mengeluarkan sebuah maklumat, mengingkari setiap kesepahaman antara mereka dan otoritas rezim. Di tengah semua ini, statemen Ayatullah Mara’syi Najafi yang tajam, menyingkap dan sangat berpengaruh. Setelah peristiwa ini terjadi, Imam dipindahkan ke sebuah rumah di kawasan Qeitariyeh, Teheran, dibawah penjagaan oleh agen-agen rezim, di mana ditempat pengepungan ini juga Imam tinggal hingga dibebaskan dan kembali ke Qum pada 18 Farwardin 1343 HS (7 April 1964).

Pada awal tahun 1343 HS (1964), rezim Syah, di bawah sebuah kesan bahwa kekasaran perlakuan mereka pada Perlawanan 15 Khurdad telah menjadi sebuah pelajaran bagi rakyat dan membungkam para pejuang, berusaha keras untuk menggambarkan kejadian tahun lalu (1342), sebagai sesuatu yang dilupakan. Pada petang hari tanggal 18 Farwardin 1343 HS, Imam Khomeini dibebaskan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Imam segera dibawa ke Qum. Mendengar berita pembebasan Imam, masyarakat Qum akhirnya senang. Pesta besar diadakan dengan meriah selama beberapa hari di Madrasah Faiziyah dan di tempat lain. Tiga hari setelah mendapatkan kebebasannya, betapapun, pidato Imam terbukti propaganda dan khayalan Syah tidak berdasar. Dalam pidatonya, Imam berkata, “Hari ini, perayaan tidak ada artinya. Sepanjang bangsa selamat, larut dalam nestapa atas 15 Khurdad.” Pemimpin Revolusi, dalam pidatonya, memaparkan sisi-sisi Perlawanan 15 Khurdad dan ketika menjawab pertanyaan adanya rumor tentang kesepahaman para marja’ dengan otoritas rezim, ia berkata, “Di dalam makalahnya yang terkemuka tertulis bahwa ada kesepahaman antara kaum ruhaniawan dan Revolusi Putih Syah dan rakyat, dan bangsa telah menyepakati hal tersebut! Revolusi yang mana…? Bangsa yang mana…? Khomeini tidak akan pernah sampai kepada kesepahaman walaupun harus digantung. Reformasi tidak dapat dilangsungkan di ujung bayonet.”[5]

Setelah Imam Khomeini meraih kembali kebebasannya, Savak berencana untuk mengurangi kekuatan para pejuang dengan menciptakan friksi antara ulama dan para marja‘. Menyadari plot ini, Imam Khomeini, dalam pidato bersejarahnya yang disampaikan di Masjid A’zam pada tanggal 26 Farwardin 1343 HS (15 April 1964), berkata, “Aku rela jika seseorang berbuat biadab terhadapku, menampar wajahku, menampar anak-anakku; Demi Allah, aku tidak berharap orang-orang akan bangkit dan membelaku. Aku tahu beberapa orang yang karena kedunguannya atau karena dengan kesengajaannya ingin menciptakan friksi dan perpecahan dalam perhimpunan (assembly) ini. Aku yang sekarang sedang duduk di sini akan mencium tangan para marja’ seluruhnya baik yang ada di Najaf, Masyhad, Teheran dan di mana pun mereka berada. Aku akan mencium tangan seluruh ulama Muslim. Tujuan kita lebih besar dari pada hal itu. Aku akan menyodorkan tangan persaudaraan kepada seluruh negara Islam, seluruh kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia, di Timur dan di Barat…”[6]

Dalam pidatonya ini, Imam Khomeini menentang hubungan rahasia antara Syah dan Israel. Imam berseru, “Wahai Segenap Rakyat! Wahai orang yang mengetahui! Sadarlah bahwa bangsa kami menentang perjanjian (pact) dengan Israel (yang berbuat demikian ini, penj) ini bukan termasuk rakyat kami dan juga bukan termasuk ruhaniawan kami. Agama kami menyerukan untuk tidak mengadakan kesepakatan dengan musuh-musuh Islam.”[7] Imam Khomeini menyebut Syah sebagai orang kecil (mardak); Imam dalam mengalamatkan pidatonya kepada Syah, berkata, “Janganlah berbuat salah! Bahkan jika Khomeini bersepakat dengan Anda, umat Muslimin tidak akan bersepakat dengan Anda! Janganlah berbuat salah. Kami berada dalam kubu pertahanan, yang sama sebagaimana sebelumnya. Kami menentang seluruh rancangan  yang telah disepakati dan menentang Islam. Kami menentang seluruh bualan….Bangsa tercinta ini membenci Israel dan antek-anteknya dan membenci pemerintahan yang berkompromi dengan Israel.[8]

Peringatan pertama Perlawanan 15 Khurdad pada tahun 1343 HS (1964), diadakan dengan sebuah, pengeluaran stetemen bersama oleh Imam Khomeini dan maraji’ lainnya dan stetemen terpisah dari Hauzah-hauzah Ilmiah. Hari itu disebut sebagai hari berkabung nasional. Pada bulan Tir 1343, pejuang besar, Ayatullah Taleqani dan Aqa-e Mahdi Bazargan, pemimpin Pergerakan Pembebasan Iran yang menyokong perlawanan 15 Khurdad, disidang oleh sebuah pengadilan militer dan dihukum penjara dalam jangka waktu yang lama. Imam Khomeini mengeluarkan sebuah statemen yang di dalamnya ia memberikan peringatan, “Para pemberi suara (pemilih) harus menantikan nasib yang buruk.” Imam juga mengusulkan pertemuan mingguan regular di antara kaum ruhani seluruh negeri untuk mengikuti tujuan-tujuan pergerakan dan menuntun perlawanan bangsa.


 


[1]. Idem, h. 44

[2] . Dhuhur-e wa Suqut-e Sultânat-e Pahlevi, jil. 1, h. 51

[3] . Gufteguhâ-e Man wa Syâh, Kenangan Yang Mulia Ayatullah Amir Asadullah Alam

[4] .  Silahkan Anda lihat pada catatan-kaki 14 pada buku ini.

[5] . Kautsar, Syarh wa Qayi’e Inqilab-e Islami, jil. 1, h. 101 

[6] . Idem, h. 112

[7] . Sahifeh-ye Nur, jil. 1, h. 83. Keterangan ini dibubuhi itanda tangan oleh: Ruhullah Musawi Khomeini, Muhammad Hadi Husaini Milani, Syahabudin Najafi Mar’asyi, Hasan Thabathabai Qumi.

[8] . Idem., jilid 1, h. 62

 

Pernah dimuat pada site www.telagahikmah.org, diterjemahkan dari kitab Hadits-e Bidar oleh A. Kamil

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: