Ilmu dan Kaum Sophis [1]

Prioritas Ontolog atas Epistemologi

Terdapat jenis kesepadanan antara epistemologi dan ontologi; yaitu, setiap pandangan ihwal reliabilitas ilmu ia memiliki hubungan perspektif ontologis. Hal ini disebabkan oleh pergantian beberapa proposisi di antara kedua disiplin ini. Yaitu, pada satu spektrum, penyelidikan epistemologis mengisyaratkan beberapa proposisi ontologis, sementara pada spektrum yang lain, beberapa  proposisi epistemologis telah dianggap masuk ke dalam argumen-argumen ontologis. Kesalingbergantungan ini, bagaimanapun, dapat dihadirkan dalam bentuk yang terhindar dari daur.Proposisi-proposisi ontologis yang diisyaratkan pada penyelidikan epistemologis, dan penafian atau keraguan terhadap hal yang berkenaan dengan pengkajian ilmu pengetahuan yang tidak relevan serta penerimaannya, merupakan sebuah kondisi imperatif dalam memasuki penyelidikan epistemologis, yang antara lain: ·   Terdapat sebuah realitas;·   Manusia adalah makhluk yang riil dan nyata;·   Ilmu manusia adalah riil dan nyata.  Proposisi-proposisi ini merupakan proposisi ontologis; namun demikian, kaum Skeptis (shakkākiyya) membuat penyelidikan epistemologis ini menjadi tidak relevan. Yaitu, pengkajian reliabilitas dan keaslian ilmu pengetahuan adalah dapat diterima secara rasional hanya jika kebenaran dari premis-premis di atas diakui keberadaannya. Bagi seorang epistemolog yang meragukan premis-premis ini, penyelidikan dan non-penyelidikan berikut jawaban atau tan-jawaban tidak dapat memberikan perbedaan apapun. Jika seseorang menyidik kognisi atau mengekspresikan keraguan atau skeptisisme, ia memiliki serangkaian konsep, seperti konsep realitas dan eksistensi, dan meyakini kebenaran beberapa proposisi tertentu, seperti proposisi yang merefleksikan keberadaannya sendiri dan eksistensi ilmunya. Serupa dengan proposisi-proposisi ontologis yang membuat pengkajian atas ilmu menjadi mungkin, beberapa premis-premis ontologis lainnya -penolakan terhadap premis ini menandakan penafian definisi ilmu terhadap realitas- membuka jalan untuk menegaskan reliabilitas ilmu dan mendiskreditkan skeptisisme (shakkâkiyyah) . 

Sumber Ilmu Pengetahuan adalah Metafisika

lSalah satu pertanyaan fundamental ontologis yang memainkan peran utama dalam penyidikan epistemologis adalah apakah realitas merupakan entitas fisikal atau merupakan entitas non material dan metafisikal. Apabila seseorang memandang bahwa realitas itu merupakan fenomena material dan indrawi, maka kognisi (makrifat, ilmu) juga akan dipandang sebagai fenomena fisikal dan material yang terjadi pada sistem syaraf manusia dalam interaksinya dengan dunia natural. Berdasarkan pandangan ini, penyebab terjadinya berbagai fenomena dan peristiwa merupakan faktor yang dalam pandangan kaum teosof dan orang-orang yang percaya kepada realitas-realitas metafisis, ‘ilal muiddâh (supplementary causes, sebab persiapan), yang disebut oleh Âqa-e ‘Ali Hakim dalam kitabnya Badâ’i Al-Hikam, sebagai fâ’il mâ bihi.[1] Fâ’il mâ bihi dalam perspektif orang-orang yang percaya pada realitas-realitas metafisikal dan Ilahi (Divine) adalah media dan merupakan syarat terealisirnya sebuah fenomena. Kebalikan dari fâ’il mâ minhu yang merupakan agen metafisikal dan Ilahi yang menjadi sumber emanasi(ifādha) dan perbuatan (fi’il) serta bergantung kepadanya. Pandangan Materialis melukiskan manusia dan dunia sebagai dua entitas natural yang selevel secara horizontal dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Dalam proses interaksi ini, manusia menerima realitas luar dalam bentuk persepsi. Dan lantaran manusia dan dunia luar menyebabkan lahirnya ilmu dan makrifat. Ilmu, kognisi dan makrifat merupakan realitas ketiga selain manusia “âlim” (yang mengetahui) dan dunia “ma’lum” (yang diketahui).  Dengan kata lain, analisis ini menyiratkan bahwa karena ilmu, makrifat dan kognisi lahir dari interaksi manusia dengan dunia, ia merupakan sebuah entitas baru yang realitasnya berbeda dengan realitas ‘âlim dan ma’lum. Dengan menambah premis ini pada fakta bahwa dalam proses kognisi, apa yang diketahui secara langsung oleh manusia adalah ilmu dan makrifatnya dan ia mengetahui “ma’lum” secara tidak langsung melalui ilmunya. Dan ilmu senantiasa berbeda dengan ma’lum, hal ini menutup jalan bagi seorang ilmuan menuju dunia luar. Dengan demikian, dalam pandangan Materialis, ilmu dan makrifat kehilangan nilai empirisnya dalam mengilustrasikan realitas, dan jurang keraguan dan skeptisisme antara ilmu dan ma’lum tidak pernah terjembatani.   

Skeptisisme Laten dan Terbuka

Skeptisisme dapat dibagi menjadi dua bagian: jelas atau terbuka dan kompleks atau laten.  Skeptisisme terbuka adalah terkait ketika wacana persesuaian ilmu terhadap realitas, dan seorang epistemolog mengingkari kemungkinan mencapai realitas dan mendeklarasikan keraguannya dengan jelas bahwa ilmu tidak dapat menyingkap realitas.  Adapun skeptisisme laten atau kompleks, kendati, seorang epistomolog berupaya menghindar untuk disebut demikian namun ia mengklaim – atau berjanji – akan reabilitasnya ilmu. Prasupposisi dan kategori-kategori yang telah disepakati inilah yang mengundang datangnya skeptisisme.  

Inkorporealitas, Universalitas, Immutabilitas dan Kontiunitas Ilmu

Analisa di atas membuat jelas bahwa ontologi materialis secara pasti bermuara dan berujung pada skeptisisme dalam makrifat. Dan dengan demikian seseorang, yang bersandar pada pandangan fisikal dan materialis, kendatipun secara jelas dan eksplisit mengingkari skeptisismenya, ia tergolong ke dalam skeptisisme laten. Maka dari itu, pandangan Materialis dalam kaitannya dengan realitas, pembatasan proses kognisi pada proses material serta pengingkaran terhadap dimensi metafisikalnya ilmu dan makrifat dari postulat-postulatnya, berujung pada  skeptisisme dalam makrifat dan ilmu.  Dan pandangan metafisikal mengakui spritual dan inkorporealnya ilmu dan makrifat yang membatalkan dan menginvalidasi skeptisisme. Di samping itu pengkajian dan analisa jeli terhadap tipologi dan kualitas-kualitas ilmu juga membuat sebagian postulat-postulat dalam membuktikan dan menegaskan dimensi keberadaan metafisika dan alam mujjarad (non-material) menjadi tersedia. Universalitas (kulliyya), immutabilitas (thabât), dan kontinuitas (dawâm)  merupakan atribut dan karakter ilmu dan komperehensi mental manusia. Dan atribut-atribut ini – terlepas dari apakah ilmu itu dapat diandalkan (reliable) – tidak eksis dalam entitas fisikal dan natural yang karakter dan atributnya adalah  partikularitas (juz’iyya), identik dengan perubahan (taghayyur) dan gerakan (haraka).[2]Masing-masing dari atribut-atribut yang disebutkan di atas, inkorporealitas dan non-materialnya entitas ilmu dapat dibuktikan melalui sebuah silogisme hipotesis (hypothetical syllogism, al-qiyās al-istithnā’ī)  atau bentuk kedua dari silogisme kategoris (categorical syllogism, al-qiyās al-iqtirānī). Dan sebagai konsekuensinya, korporeal dan materialnya entitas secara mutlak dapat dinafikan. Selanjutnya, membuktikan eksisten-eksisten inkorporeal lainnya. Silogisme hipotesis dalam membuktikan non-material dan inkorporealnya ilmu dan makrifat adalah sebagai berikut: Jika ilmu itu adalah bersifat fisikal dan material, maka ia haruslah bergerak, berubah, partikular dan tasyakhusy. Namun demikian, konsekuennya (yaitu bergerak, berubah, partikular dan tasyakhusy) adalah batil. Oleh karena itu, antesedennya, yaitu fisikal dan materialnya ilmu juga batil. Silogisme kategoris dalam membuktikan klaim di atas dapat dihadirkan dengan premis-permis sebagai berikut: Ilmu adalah bersifat immutabel, kontinu, dan universal. Entitas fisik adalah senantiasa mutable (tidak tetap), berubah dan partikular. Oleh karena itu, ilmu tidak bersifat fisikal. Lantaran bertenggernya sebuah burhan atau argumentasi ditentukan oleh hadd-e wasath-nya (middle term, premis di antara premis minor dan premis mayor)  dan burhan yang telah dijelaskan dalam dua bentuk silogisme di atas – memiliki tiga hadd-e wasath (universalitas, imutabilitas, dan kontiunitas), oleh karena itu, di dalamnya termasuk tiga istidlâl (penalaran). Para proponen epistemologi Materialis telah berupaya keras untuk menafikan dan mengingkari atribut-atribut ilmu ini atau menjelaskannya dalam bentuk fisikal dan natural. Sebagai contoh, universalitas, ia tidak lain adalah keraguan dan obskuritas (ibham) dan tidak sesuai dengan realitas. Atau misalnya, imutabilitas dan kontinuitas ilmu dan makrifat tidak lain adalah anggapan yang bersumber dari keserupaan bagian-bagian dulu dan lalu makrifat. Kita telah menjelaskan kekeliruan dan invaliditas analisis ini dalam buku Syenâkht Syinâsi dar Qur’ân (Epistemologi dalam al-Qur’an).[3] 

Konsekuensi-konsekuensi Logis Ilmu

Ilmu, kognisi dan makrifat merupakan sebuah realitas yang dengan berbagai komprehensi dan beberapa perkara menyertainya. Artinya, pada setiap urusan dimana ada ilmu dan makrifat maka dengan beragam tinjauan, komprehensi-komprehensi dan makna yang beragam dapat diabstraksikan darinya. Namun kebenaran komprehensi-komprehensi dan makna-makna atas ilmu dan makrifat ini adalah beragam. Sebagian komprehensi ini menarasikan pelbagai instanta (misdhâq) dan individu yang satu sama lainnya memiliki kesatuan dan sebagian yang lain dari komprehensi ini, memiliki pelbagai instanta dan individu yang berbeda dari satu dengan yang lainnya. Analisis rasional, menuntun konsep mental ini kepada delapan tingkatan dalam hubungan ilmu terhadap sesuatu. Pertama, realitas dan keberadan ilmu itu sendiri. Kedua, kuiditas dan mahiyah dari ilmu dan makrifat, karena setiap eksisten yang terbatas adalah memiliki wujud dan mahiyah. Dan ilmu juga merupakan sebuah wujud yang terbatas, oleh karena itu, ia memiliki dua perkara yang disebutkan di atas. Ketiga, komprehensi atau mahiyah yang berada pada tataran imu dan makrifat dan berpulang kepadanya yang disebut sebagai ma’lum. Makna ma’lum (yang diketahui) apabila ia kuiditas, ia memiliki individu luar dan apabila ia komprehensi (mafhum), ia memiliki instanta luar. Namun boleh jadi makna ma’lum kosong dari individu atau instanta luar.   Individu kuiditas atau instanta luar (khâriji) komprehensi bukanlah individu atau instanta mental (dzihni), lantaran individu atau instanta luar memiliki efek (âtsâr), sementara komprehensi atau kuiditas mental tidak memiliki efek. Dari komparasi antara kuiditas dan komprehensi mental, serta kuiditas dan komprehensi yang berada di luar melahirkan empat fenomena:Pertama: kuiditas dan komprehensi yang berada pada mental adalah ma’lum. Kedua, realitas dan wujud mental komprehensi ma’lum, dimana wujud ini sama sekali tidak memiliki efek. Rahasia analisis komprehensi atau kuiditas eksisten dalam mental berujung pada dua perkara wujud dan kuiditas sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Ketiga, kuiditas dan komprehensi  ma’lum yang eksis pada individu atau pada instanta luar dan komprehensi atau kuiditas ini, terlepas dari sisi keberadaannya, identik dengan makna-makna yang eksis pada wujud mental. Keempat, realitas dan wujud luar komprehensi atau kuiditas ma’lum yang disebut sebagai individu kuiditas atau instanta komprehensi. Dalam perkara lain, dari analisa dan keniscayaan-keniscayaan ilmu dan makrifat, salah satu realitas alim dapat diketahui dan yang lain kuiditasnya. Dan dengan demikian, lahirlah delapan perkara. Pertama, wujud dan realitas ilmu. Kedua, kuiditas dan mahiyyat pemikiran yang disebut sebagai ilmu.  Dalam perspektif yang lebih akurat dan dengan memandang perbedaan subtil yang terdapat antara kuiditas dan komprehensi, makna ilmu adalah berasal dari tipe komprehensi dan bukan dari kuiditas. Ketiga, kuiditas atau komprehensi ma’lum yang eksis melalui wujud mental dan bergantung kepada ilmu. Keempat, wujud mental ma’lum. Kelima, kuiditas yang eksis dengan perantara wujud luar dan eksternal. Keenam, wujud luar ma’lum. Ketujuh, wujud alim. Kedelapan, kuiditas dan mahiyyat alim. Perbedaan dan kuantitas kedelapan perkara di atas membuka ruang pembahasan, dialektika, kritik, dan evaluasi bagi para periset ilmu dan makrifat. Kedelapan perkara ini mencerabut akar-akar berbagai kerancuan. Enam terakhir dari perkara yang disebutkan di atas diulas dengan baik oleh guru kami, Hadhrat Ayatullah Syaikh Taqi Amuli Qs dalam kitab Durar al-Fawâid yang merupakan syarah (ulasan) dari kitab Syarh Manzhumah. Empat perkara dari delapan perkara yang disebutkan di atas adalah perkara-perkara eksistensial dan keempat yang terakhir adalah perkara-perkara kuiditatif. Artinya, dalam menganalisa ilmu, manusia dituntun kepada empat perkara yang pertama, tiga perkara menyangkut perkara-perkara wujud eksternal dan luar dan satu perkara berkaitan dengan wujud mental. Sebagai hasilnya, tiga komprehensi atau kuiditas dari berbagai komprehensi dan kuiditas yang telah disebutkan eksis melalui wujud eksternal dan luar, serta salah satu dari perkara tersebut yaitu komprehensi atau kuiditas ma’lum eksis melalui perantara wujud mental.  Di antara delapan perkara yang disebutkan di atas terdapat kesatuan dan perbedaan. Sebagai contoh, kuiditas ilmu dan realitas serta wujudnya, secara jelas memiliki perbedaan dari sudut pandang komprehensi. Dari sudut pandang realitas, ia memiliki kesatuan, artinya di alam luar, kuiditas dan wujudnya bukanlah perkara yang berbeda dan terpisah satu dengan yang lainnya. Akan tetapi ia merupakan satu perkara yang disebutkan sebagai dua komprehensi. Sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan kehakikan wujud (principality  of existenceasāla al‑wujūd) dan  konseptualnya kuiditas (respectivality of quiddity,  e‛tebāriyya al‑māhiyya).[4] Kuiditas dan wujud bukan merupakan dua hal yang berbeda; tapi, keduanya eksis di alam luar tempat kedua konsep yang berbeda ini diabstraksikan.  Demikian juga, kesatuan dan unitas (wahdah) eksis antara alim dan kuiditasnya dan antara wujud eksternal ma’lum dan kuiditasnya. Dalam pembahasan unitas antara alim dan ma’lum (wahdat al-‛ālim wa al-ma‛lūm), terbukti jenis unitas antara wujud alim dan ilmu (wahdat al-‛ālim wa al‑‛ilm). Unitas semacam ini tidak eksis antara kuiditas ilmu dan alim, juga tidak di antara kuiditas ma’lum dan kuiditas alim. Juga tidak eksis antara wujud eksternal atau wujud mental ma’lum dan alim. Unitas wujud alim dan wujud ini juga disebut sebagai unitas ilmu, alim, dan ma’lum (ittihâd ‘ilm, ‘âlim dan ma’lum) dan orang-orang yang tidak memperhatikan poros unitas ini, menolak unitas ini, seperti Ibnu Sina dalam beberapa bukunya,[5] yang beranggapan atas unitas antara kuiditas alim dan kuiditas ma’lum. Dalam pembahasan unitas alim dan ma’lum, realitas ini juga menjadi jelas bahwa ma’lum hakiki, secara esensial, wujud dan keberadaan ilmu yang bersatu dengan wujud dan keberadaan alim. Dan kuiditas atau komprehensi yang eksis berkat wujud mental ma’lum secara aksidental. Dan apa yang eksis di luar adalah model aksiden dari aksiden. 

 Ilmu dan Wujud Mental

Dari hasil dan efek analisa-analisa komprehensi ihwal ilmu dan makrifat, dapat dibuktikan perhatian terhadap keunggulan antara ilmu dan wujud mental dan perhatian terhadap hukum-hukum beragam masing-masing darinya. Dan keunggulan antara ilmu dan wujud mental dan perbedaan hukum-hukumnya menuntun pada terbentuknya dua pasal dalam kitab-kitab Filsafat tentang ilmu dan wujud mental (dzihn). Ketika manusia, yaitu alim, menggagas atau mengkonsep sebuah perkara, apa yang digagas atau dikonsep, apabila eksis di luar maka ia memiliki efek yang sangat banyak. Akan tetapi, ma’lum dalam ranah pencerapan dan ilmu tidak satu pun memiliki efek di atas. Dan konsep itu sendiri yang hampa efek luar dan eksternal tergagas dan terkonsep dalam mental, ia memiliki efek yang lain yang tidak berhubungan dengan wujud eksternal dan realitas ma’lum, seperti gagasan atas sesuatu terkadang menyebabkan munculnya keceriaan, kegembiraan, dan ketawa, dan terkadang mengakibatkan kesedihan, nestapa bahkan kematian. Berita terbakarnya harta benda milik salah seorang anggota komunitas tertentu, apabila terdengar oleh komunitasnya dimana pemilik harta tersebut juga hadir di antara komunitas tersebut, seluruh anggota komunitas mendapatkan pengetahuan ihwal terbakarnya harta benda milik orang tersebut. Realitas terbakar dan musnah berhubungan dengan dunia eksternal dan kosmos luar dan boleh jadi di luar tidak terjadi kebakaran dan berita ini merupakan berita palsu belaka, konsep kebakaran yang hadir dalam mental kosong dari efek kebakaran eksternal, seperti panas, hangus dan lain sebagainya. Dan dengan alasan ini, kebakaran yang telah terkonsep dalam mental, eksis tidak dengan media wujud eksternal akan tetapi dengan konsep ini terlintas satu efek eksternal pada wujud setiap orang. Misalnya pemilik harta menderita sakit akibat mendengar kabar tersebut atau meninggal seketika. Dan yang lain dengan mendengar kabar ini bergegas menyelamatkan barang-barang mereka supaya tidak hangus terbakar dan dilalap oleh si jago merah. Dan kabar ini juga membuat senang para musuh dan orang-orang hasud yang tidak senang terhadap kebahagian mereka. Wujud eksternal dan luar yang memiliki sumber efek pada jiwa dan menyebabkan ketawa atau tangisan dan mengakibatkan kebahagian atau sakit dan kematian manusia, tanpa ragu wujud eksternal dan luar komprehensi atau kuiditas yang telah dicerap tidak seperti terbakar, karena bentuk ini harus memiliki efek luar dan eksternal kuiditas tersebut yaitu hangus dan terbakar. Wujud yang menjadi penyebab timbulnya efek luar dan eksternal pada jiwa manusia adalah wujud ilmu. Artinya ilmu, melalui perantara dan benar secara hamle sya’e (predikasi sekunder), merupakan kuiditas atau komprehensi yang riil dan hakiki wujud. Sebagai contoh, ketika manusia menggagas dan mengkonsep dalam benak dan mentalnya pohon yang berbuah, konsep mental tersebut bukanlah instanta-instanta luar dan eksternal pohon. Dan komprehensi pohon tidak benar secara hamle sya’e. Akan tetapi merupakan instanta (misdhâq) riil dan luar ilmu  dan makna ilmu atasnya adalah benar.  Ilmu sebagaimana keberanian, kesabaran dan ketabahan atau seperti ketakutan, stres, dan kesedihan dan seperti keceriaan dan kegirangan merupakan komprehensi-komprehensi dan kuiditas-kuiditas dimana instanta luar dan wujud eksternalnya eksis dalam bentuk sifat-sifat kejiwaan yang berada pada kontainer wujud manusia dan menjadi aksiden atasnya. Ilmu sebagaimana sifat-sifat lainnya merupakan wujud ajektif. Artinya, ia merupakan aksiden yang menjadikan subjek sebagai sifatnya. Lantaran sifat prawira, sabar atau tabah merupakan aksiden bagi manusia. Dan ia disifatkan sebagai orang yang berani, penyabar dan berilmu (‘alim). Akan tetapi, ilmu berbeda dengan atribut dan sifat lainnya karena ia memiliki tambahan dan memiliki hubungan dengan ma’lum. Dengan tipologi yang membuat ma’lum yang berada pada domain jiwa (nafs) menjadi terang dan jelas. Wujud yang berada dalam jiwa adalah berbentuk wujud luar dan eksternal dan menjadi sumber kebanyakan efek-efek yang disebutkan di atas. Bukan wujud kuiditas dan komprehensi yang telah diketahui  (ma’lum)  dan hadir dalam mental sebagai predikat esensial (al‑haml  al‑awwalī al‑dzātī) . Akan tetapi wujud ilmu, lantaran efek-efek ma’lum tidak terlahir darinya, ia memiliki efek-efek khusus dari ilmu tersebut. Namun, ma’lum yang juga berada dalam pancaran wujud ilmu, bukan wujud hakiki dan eksternal, melainkan dengan wujud yang berada dalam siluet keberadaan ilmu dan hampa dari segala bentuk efek eksternal. Wujud siluet ma’lum (baca: wujud mental) bukanlah sebuah wujud yang menjadi ma’lum di bawah siluet wujud hakiki dan eksternal. Karena dalam keadaan ini konsep dan afirmasi dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang tidak eksis di luar sekali-kali tidak pernah mengejewantah. Lantaran sebagian dari argumen-argumen yang telah diajukan adalah berkenaan dengan wujud mental yang bersandar kepada konsep atau afirmasi yang merupakan sebuah perkara yang hampa dan tidak memiliki wujud eksternal. Wujud mental konsep-konsep dan afirmasi-afirmasi ilmu, berada pada siluet wujud ilmu dan model wujud semacam ini bukan model wujud luar dan riil dalam tataran wujud ilmu atau wujud-wujud luar lainnya. Dan atas alasan ini, kuiditas dan komprehensi yang eksis dengan wujud semacam ini, ia tidak memiliki satu pun efek riil dan eksternal dan ia hanya berbentuk komprehensi dan berdasarkan predikasi primer atau esensi dapat dibenarkan. Dan kehadirannya lemah dan berada dalam lindungan hubungan dimana wujud ilmu berada di situ. Dan apabila pertalian dan hubungan ilmu dengannya menjadi pasti, ia tidak memiliki pembenar sebagai komprehensi terhadap predikasi primer dan esensial. 

 Pembagian Ilmu

Pembagian ilmu dan makrifat dapat dibagi menjadi dua bagian, ilmu perolehan  (al‑‛ilm al‑husūlī) dan ilmu presentif atau intuitif (al‑‛ilm al‑hudhūrī). Pada langkah awal, pengetahuan, ilmu dan makrifat perolehan dibagi menjadi dua, konsep (tashawwur) dan pembenaran (tashdiq) dan masing-masing kedua bagian ini terdapat lagi dua pembagian badihi (swabukti) dan nazhari (diskursif, teori) dan dalam bagian badihiyyât (swa bukti-swa bukti) terdapat sebagian ilmu-ilmu primer (al‑‛ilm al-awwalī). Ilmu atau pengetahuan primer, baik ia sebuah konsep (tashawwur) atau sebuah pembenaran (tasdīq), merupakan ilmu dan pengetahuan yang komprehensinya dan pemahamannya tidak dapat dielakkan dan bersifat niscaya. Artinya, jiwa (nafs) manusia dalam mengetahui makrifat, ilmu dan pengetahuan primer, ia dalam kondisi terpaksa dan tidak memiliki pilihan yang lain.  Manusia berada dalam keadaan terpaksa dalam mengetahui ilmu dan pengetahuan primer ini. Namun harus diperhatikan bahwa kendati nafs berada dalam keadaan terpaksa dalam mengetahui hal-hal primer ini, manusia bebas untuk beriman dan percaya kepadanya. Bahkan, sebagaimana akan didiskusikan nantinya secara detail, setiap orang memiliki kebebasan (free will) untuk beriman dan percaya kepada sesuatu yang ia ketahui, oleh karena itu ada kemungkinan, pada tataran tertentu, iman dan ilmu dapat dipisahkan satu dengan yang lain.  

Ilmu, Iman, Akal Praktis dan Akal Teoritis

Ilmu dan iman merupakan dua kategori yang berbeda satu dengan yang lain.  Ilmu dan pengetahuan berkaitan dengan akal teoritis (al‑‛aql an‑nazharī) dan yang belakangan bertalian dengan akal praktis (al‑‛aql al‑amali).Akal teoritis berkaitan dengan komprehensi dan pencerapan dan perkara-perkara yang berhubungan dengan sensasi (al‑ihsās), imaginasi (al‑takhayyul), estimasi (al‑wahm ), dan rasionasi (al‑ta‛aqul). Rasionisasi (ta’aqqul) terkadang berkenaan dengan ilmu teoritis dan terkadang berkaitan dengan ilmu praktis. Ilmu praktis (al-hikmah  al-‛amaliyyah) dan ilmu teoritis (al-hikmah an-nazhariyyah), sebagaimana yang disebutkan oleh al-Farabi, merupakan dua bagian dari pemahaman dan pencerapan yang berada dalam domain akal. Dalam ilmu teoritis, rasionasi berhadapan dengan berbagai wujud yang terlepas dari kehendak manusia.  Dan ilmu praktis bersinggungan dengan wujud-wujud yang hadir bersama kehendak manusia. Akal praktis berkaitan dengan pekerjaan dan aktifitas manusia, seperti iman, ikhlas, ibadah dan cinta. Iman merupakan ikatan yang terhasilkan dari pertautan antara jiwa manusia dan apa-apa yang berkaitan dengan ilmu. Dan pertautan ini merupakan kegiatan praktis nafs dan sebagai konsekuensinya berkaitan dengan akal praktis. Ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan akal teoritis, jika ilmu bersumber dari ilmu afirmatif dan pada dimensi itu terdapat subyek dan predikat, serta juga terdapat pertautan dan ikatan antara subyek dan predikat, namun pertautan ini adalah afirmasi itu sendiri yang berada pada poros akal teoritis dan keluar dari tanggung jawab dan kekuasaan manusia.  Akal praktis dan teoritis berada pada tingkatan bawah wujud, berbeda dari satu dengan yang lain. Akan tetapi pada tingkatan tertinggi wujud, yaitu pada tingkatan itu ilmu dan kekuasaan merupakan hal yang satu, akal praktis dan teoritis bersatu dan integral. Pada tingkatan inferior wujud dimana akal teoritis dan praktis yang berpisah dari yang lainnnya, terdapat empat situasi yang dapat dipersepsikan pemisahan antara ilmu dan iman yang berkaitan dengan kedua domain ini:  1.     Pengetahuan yang berkenaan dengan realitas yang disertai dengan iman di dalamnya misalnya seorang berilmu yang beriman.2.     Pengetahuan yang berkaitan dengan realitas yang tanpa disertai dengan iman di dalamnya misalnya, seorang alim yang kafir. 3.      Iman dan kecendrungan nafs terhadap perkara dimana tidak terdapat pengetahuan terhadap realitas tersebut.   4.      Pengetahuan yang berkenaan dengan sebuah realitas tertentu bersama dengan iman di dalamnya, sebagaimana dalam contoh seorang berilmu yang beriman. 5.      Pengetahuan yang berkaitan dengan sebuah realitas tertentu tanpa iman di dalamnya, sebagaimana dalam contoh seorang berilmu yang kafir. 6.     Iman terhadap sesuatu yang tidak diketahui dan terhadap sebuah konsep yang batil atau proposisi yang ia bangun atasnya, sebagaimana dalam kasus seorang beriman yang dungu —lantaran ia memiliki iman terhadap sesuatu yang secara positif ia tidak ketahui dan hanya mengira-ngira saja. 7.     Ketiadaan antara iman dan ilmu berkenaan dengan sebuah realitas tertentu, sebagaimana dalam kasus seorang kafir yang dungu. [bersambung]   
 


[1] . Badâ’i al-Hikam, hal. 132. [2] Pada pembuktian ashala al-wujud,  Hikmah Muta’aliyah membangun identitas (‘aynīya) wujud dan atribut-atributnya. Salah satu konsekuensi logis dari posisi ini adalah bahwa wujud-wujud terbatas tidak memiliki sebuah dzat (essence) yaitu yang disifati oleh kontingen (imkān ), gerakan (al‑haraka ), perubahan (al‑taghayyur).  Dibantah bahwa kualitas-kualitas atau atribut-atribut ini tidak disifatkan pada wujud-wujud terbatas, sebaliknya ia identik dengannya. [3] Abdullah Jawādī Āmulī,  Syinâkht Syinâsî dar Qur’ân, Qum :  Rejā’ Publications, 1993, hal. 328.[4] Prinsipalitas dan Respektivalitas: Prinsipalitas (al-asālah) atau kehakikian menegaskan sesuatu yang memiliki realitas dan wujud eksternal yang faktual dan riil tanpa memandang persepsi-persepsi kita.  Respektivalitas (al-e‛tibāriyyah), dalam artian ontologisnya, merupakan sebuah a reifikasi XE “reification”  atau abstraksi pemikiran yang bagaimanapun hampa dari realitas eksternal, namun demikian berkaitan dengan faktualitas.  Sebagai contoh, berkaitan dengan cahaya dan bayangan. Cahaya merupakan sebuah realitas ontologis, ia memiliki wujud, eksistensi, faktual, dan real bahkan jika kita tidak melihatnya, sementara bayangan adalah ketiadaan cahaya dan tidak faktual atas dirinya sendiri. Teori prinsipalitas wujud atau kehakikian wujud (asālat al‑wujūd) dan respektivalitas mahiya (e‛tebāriat al‑māhiyya), sebagaimana diinterpretasikan oleh Ayatullah Jawadi Amuli dan murid-murid yang lainnya Almarhum Allamah Tabātabā’ī, berpandangan bahwa apa yang memiliki faktualitas di dunia luar adalah wujud dan kuiditas (mahiyah) adalah sekedar reifikasi dan abstraksi pemikiran, yang didapatkan dari limitasi dan keterbatasan (hudūd) wujud-wujud yang terbatas, sama dengan bagaimana pikiran kita  memandang “eksisten” lubang ketika menerima keterbatasan dan limitasi dari wujud sebuah donat. [5] Ibn Sīnā , Abu Ali Husain.  Al-Ishārāt  wa al-Tanbihāt.  Syarah oleh Nasīr al-Dīn al-Tūsī.  (Tehran : Daftar-i-Nashr-i-Kitāb, 1981), jil. 3, hal. 292.

Tulisan ini pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com atau www.albalaghalmobeen.net  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: