Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Musa Kazhim [2]

17481922016710516813437933986183162237192.jpg

Imam Musa al-Kazim As bersua dengan Abu Hanifah

Suatu hari, kala Imam Ketujuh kita, Imam Musa al-Kazim yang masih  berusia 5 tahun, salah seorang murid ayahnya yang bernama Abu Hanifah datang berkunjung untuk bertanya beberapa masalah kepada ayah Imam Musa al-Kazim As.Imam Keenam kita, ayah Imam Musa al-Kazim, Imam Ja’far as-Sadiq sedang sibuk bersama dengan tamunya yang lain dan Abu Hanifah menunggu untuk beberapa waktu.Lalu, ia melihat Imam Musa al-Kazim As sedang bermain dengan seekor binatang. Ia berkata kepada binatang tersebut, “Bersujudlah kepada Allah yang telah menciptakanmu.”Abu Hanifah bertanya-tanya apakah si bocah belia ini akan menjadi Imam selanjutnya. Ia  memutuskan untuk bertanya kepada Imam Musa al-Kazim As beberapa pertanyaan. Abu Hanifah berkata kepada Imam belia, “Bolehkah aku ajukan sebuah pertanyaan kepadamu?”Lalu Imam Musa al-Kazim berdiri dan dengan mantap berkata kepada Abu Hanifa, silahkan ajukan pertanyaan apa pun yang engkau sukai?”Kemudian Abu Hanifah mengajukab sebuah pertanyaan yang telah membuatnya kebingungan. Ia bertanya, “Apakah seluruh perbuatan manusia terlaksana dari kebebasannya atau berada dalam kendali Tuhan dan membuatnya melakukan hal itu (terpaksa)?Imam Musa al-Kazim menjawab bahwa ada tiga kemungkinan di balik pertanyaan ini:1.       Allah Swt memaksanya untuk melakukan sebuah perbuatan.2.       Antara Allah Swt dan manusia bertanggung jawab atas perbuatan itu.3.       Manusia melakukannya sendiri, dalam rangkuman kebebasannya.  Imam Musa al-Kazim As menjelaskan:Apabila kemungkinan atau anggapan pertama benar maka manusia tidak seyogyanya diadili pada Hari Hisab dan dikirim ke surga atau neraka, lantaran ia tidak pantas mendapatkan hal itu. Manusia tidak bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Anggapan  ini tidaklah demikian adanya.Apabila kemungkinan dan anggapan kedua benar bahwa antara Allah Swt dan manusia keduanya harus diadili pada Hari Hisab. Anggapan ini juga tentu saja tidak masuk akal.Kemudian, tersisa kemungkinan dan anggapan yang ketiga dan menjadi anggapan satu-satunya yang tersisa. Anggapan yang benar adalah anggapan yang ketiga, lantaran manusia telah diberikan kebebasan setelah menerima bimbingan dan tuntunan tentang apa yang baik dan apa yang buruk.Abu Hanifah berujar bahwa alangkah luar biasanya rumah tangga seperti ini. Bahkan bocah kecil sekalipun dapat menjawab dan memberikan kepuasan atas kumpulan beberapa pertanyaan!Ia berkata bahwa tidak perlu lagi ia bersua dengan Imam Keenam, Imam Ja’far Sadiq As, dan ia kembali ke rumahnya setelah mendapatkan jawaban dari Imam Musa Kazim As. 

Sumber Rujukan:

Majlisi, Biharul Anwar, bag. Keutamaan Imam Musa al-Kazim As. 

Mutiara Hadis dari Imam Musa al-Kazim As:

“Seburuk-buruknya manusia adalah orang yang memiliki dua wajah (munafik) dan dua lisan. Ia memuji saudaranya Muslim ketika di hadapannya akan tetapi menghibahnya tatkala di belakangnya tatkala ia tidak hadir. Jika saudaranya menerima sesuatu yang baik ia merasa iri dan dengki kepadanya dan tatkala ia terhimpit kesulitan, ia meninggalkannya.” Biharul Anwar, vol. 78, hal. 310.

Kami ucapkan belasungkawa kepada Anda pecinta kebebasan atas datangnya hari syahadah, Imam Musa al-Kazhim As, 25 Rajab 1428 H.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: