Dunia Kawula Muda [1]

Pemuda Kita Dalam Pandangan Qur’an

·         Kata-kata sebagai Media Pendidikan

Dalam wasiat  Luqman kepada anaknya – ketika ia memberi nasihat – nilai  apa yang terkandung di dalam pendidikan langsung berupa bimbingan,  pandangan dan nasihat?

·         Pendidikan Ala Ibrahim

·         Masyarakat dan wanita yang menyimpang

·         Kajian atas peristiwa Nabi Nuh

·         Masalah Hasud

·         Pergaulan dan kawan-kawan

·         Orang tua dan pengawasannya terhadap anak-anak mereka

·         Ibadah dalam pengertian yang luas

·         Pemuda Qur’ani

Bahasa Sebagai Media Pendidikan

Masalah pendidikan merupakan masalah yang banyak mempengaruhi dimensi beragam mulai dari persepsi manusia  – tanpa memandang apakah media pendidikan itu adalah intelektual, emosional atau yang hal-hal berkenaan dengan hal itu hingga lingkungan umum setiap individu. Oleh karena itu, nampaknya logis bahwa bahasa – yang merupakan media yang menyampaikan gagasan dari satu orang kepada yang lainnya – seharusnya berperan lebih signifikan dan dinamis dalam meneruskan pemikiran, semangat dan karya anak manusia. Sepanjang sejarah komunikasi umat manusia, kata-kata terkadang menjadi kekuatan pendorong yang secara tidak langsung muncul dari bahasa itu sendiri.

Hal ini terjadi karena bahasa diasosiasikan dengan beberapa rujukan yang memperluas fokus makna atau memperkecilnya pada makna inti.

Dengan demikian, bahasa telah menjadi media penyampai dustur Ilahi, di mana Allah Swt telah mengutus para nabinya dengan kitab-kitab suci yang diwahyukan kepada mereka. Kita melihat bahwa gerakan pendidikan manusia adalah sebuah bahasa yang  panjang dalam sejarah peradaban ummat manusia, yang memiliki aspek positif dan negatif dalam perjalanan sejarahnya.

Nasihat dengan Kata-kata

Dalam mencermati masalah di atas, mari kita lanjutkan dalam kerangka kerja umum yang berhubungan kata-kata. Nasihat yang digunakan di dalam al-Qur’an, seperti nasehat-nasehat Luqman pada anaknya, dikemukakan sebagai maksud untuk membuka dan meluaskan cakrawala berpikir anaknya tentang masalah-masalah kehidupan dan doktrinya. 

Kita amati bahwa nasihat-nasihat berkaitan dengan ide-ide yang menyertakan aspek-aspek yang berhubungan dengan rasa dan persepsi. Ide tidak sekedar abstraksi semata yang digunakan sebagai media perenungan, namun ide bermuatan aspek-aspek yang dicapai dengan pengalaman.

Menggabungkan Akal dan Perasaan

Nasihat erat kaitannya dengan aspek peridean, elemen-elemen tertentu dari perasaan manusia, sehingga nasehat merupakan sebuah kombinasi dari kecerdasan dan perasaan. Dengan cara seperti ini, nasehat dapat menelusup kedalam hati dan akal seseorang. Karena penggabungan antara kecerdasan dan perasaan akan menyebabkan terjadinya perubahan pada diri seseorang. Dimensi-dimensi beragam yang berkaitan dengan masalah ini membangun sebuah konsep khusus yang membuat getaran didalam diri seseorang.

Seperti yang kami amati dalam setiap nasihat dimana aspek intelektual merupakan gabungan antara indera sensor dan emosi. Ketika hal ini diterapkan pada nasihat atau bimbingan, barangkali metode ini merupakan cara yang paling jitu dalam merubah perilaku seseorang. Hal ini dapat saja terjadi karena kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam menanamkan ide dengan cara memusatkan pada aspek intelektualnya saja ketimbang aspek emosinya seperti sebuah rumus teknik yang statis yang hanya menitik-beratkan pada  aspek inteleknya saja tanpa peduli dengan dimensi-dimensi lain dari indera manusia.

Pada sisi lainnya, kita temukan orang-orang yang hanya menitik beratkan pada aspek emosionalnya saja  dan tidak merangsang aspek intelektualnya. Hal ini membuat jurang pemisah antara konsep dan keimanan. Dan kita dapatkan juga orang-orang yang hanya mengandalkan pemikiran tertentu, tetapi tidak sepenuhnya meyakininya, karena aspek keimanan mensyaratkan  bahwa sebuah ide akan berubah dengan sesuatu yang berhubungan dengan perasaaan.

Metode Nasihat al-Qur’an

Nilai metode Qur’ani ini adalah karena usahanya dalam mengartikulasikan masalah-masalah kehidupan. Karena itu, kita melihat bahwa Qur’an mempersembahkan gagasan yang berhubungan dengan apa yang dilihat, didengarkan dan diraba seseorang. Qur’an menanamkan konsep pada diri manusia yang paling dalam dengan melalui proses harap, cemas, benci dan sebagainya.

Bila kita renungi masalah ini, kita akan menemukan nasehat yang paling berhasil dan jitu, karena Qur’an digerakkan oleh mereka yang menggunakan kekuatan intelek dan emosi serta segala yang merangsang fakultas intelektual dan emosional kita.

Nasihat Dengan Teladan

Masalah yang perlu dijelaskan lebih jauh adalah bahwasanya nasihat terkadang identik dengan perkataan, akan tetapi terkadang pula nasihat itu bergerak jauh melewati kata-kata yang membentuk bagian terpenting dari nasehat itu sendiri, namun keduanya boleh jadi berjauhan, (antara kata-kata dan nasihat). Ada istilah yang mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki penasehat dalam dirinya, tidak dapat mengambil manfaat dari nasehat orang lain. Ini menandakan bahwa seseorang dapat memberikan nasehat  bagi dirinya sendiri. Nasehat itu berupa pengalaman. Ini senada dengan apa yang disampaikan Imam Ali dalam Nahjul Balagha:

Sebaik-baik pengalamanmu adalah yang memberimu nasehat.”

Karena pengalaman merupakan sesuatu yang dapat memberimu pelajaran, konsep dan renungan tentang keadaanmu yang berhubungan dengan apa yang dimiliki oleh aspek intelektual dan aspek perasaan. Karena itu, kita dapat menemukan seseorang yang berceramah tidak dengan kata-kata akan tetapi dengan tindakan dan perilakunya.

Dengan model seperti ini, kita dapat menempatkan nasihat sebagai sebuah payung yang menaungi seluruh media intelektual atau sikap, atau yang berkaitan dengan reaksi orang lain.

Kesemuanya ini menunjukkan adanya proses dalam menyampaikan nasehat. Singkatnya, cara seperti ini adalah metode fungsional yang beragam media penyampaiannya. Metode ini meletakkan sebuah konsep pada seseorang dan membenarkan apa yang keliru dalam kehidupannya.  Serta meluruskan apa yang seharusnya mewujud dalam sikapnya atau membuka cakrawala berpikirnya.

Peranan Penerima

Sesungguhnya nasihat itu merupakan cerminan perbuatan si pemberi nasihat. Di mana si pemberi nasihat menghadirkan selaksa hujjah dengan sebaik-baiknya dalam rangka menekankan gagasan yang ingin disampaikan. Oleh karena itu, orang-orang yang menerima nasehat seyogyanya memiliki kemampuan, tanggung jawab dan keinginan mengamalkan segala yang diserukan atasnya. Karena nasehat merupakan sebuah jawaban dengan perkataan, tindakan, teladan dan dengan cara apa saja yang masuk akal.

Seseorang yang tidak bereaksi atas nasihat yang dialamatkan padanya tidak ada bedanya dengan mayat yang telah hilang segala fakultas rasanya. Kehilangan fakultas rasa pada diri manusia hanya terdapat pada orang mati saja atau boleh jadi orang yang  masih hidup namun telah membekukan segala sensasi keberadaanya.

Allah bercerita tentang orang-orang seperti ini berulang-ulang di dalam Quran, Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakkannya untuk mehamai (ayat-ayat Allah, mereka memiliki mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (kekuasaan Allah), mereka memiliki telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat  Allah).(Qs. al-A’raf:179) Hal ini menandakan bahwa manusia boleh jadi melumpuhkan indera dan rasanya, emosi dan cita-citanya lalu kemudian menjadi mayat hidup,  “Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman” (Qs. al-Baqara:6); “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran dan penglihatan mereka.“(Qs. al-Baqara:7)

Bagaimana anda dapat mengajak orang untuk mengamalkan nasehat yang anda sampaikan jika ia menolak panggilan kepada kebaikan?

Pendidikan Ala Nabi Ibrahim

“Hai Bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu! (Qs. as-Sâffat:102)

 Kalimat ini diungkapkan oleh Ismail ketika ia dihadapkan pada ketentuan Ilahi. Apakah mungkin kita dapat meniru kepasrahan dan ketaatan seperti ini?

Bilamana kita mengkaji kepribadian Nabi Ibrahim pada masa-masa kecilnya, kita temukan sosok anak manusia yang memiliki kedekatan pada Tuhan.  Sifat ini kemudian menjadi khas pada Ibrahim dalam menerima setiap kebenaran. Jika kita ingin mengkaji retorika Qur’an, kita akan temukan bahwa Nabi Ibrahim merupakan seorang penentang pemikiran-pemikiran yang menyimpang, baik dari kalangan kuffar ataupun kalangan musyrikin. Resistensi  ini menyeruak seketika ketika ia mengamati orang-orang di sekelilingnya. Sikap ini dapat kita temukan dalam pemikiran-pemikiran Nabi Ibrahim, tatkala ia merenung akan pribadi orang-orang yang menyembah bintang-bintang, bulan dan matahari. Ia takjub mengamati bintang-bintang, bulan dan matahari dengan segala kebesarannya. Namun, sembari mencela orang-orang yang menyembah bintang-bintang, bulan dan matahari, Ibrahim menyerukan bahwa bintang-bintang, bulan dan matahari tidak dapat disebut tuhan, karena Tuhan senantiasa hadir dalam setiap aspek kehidupan.  

Menurut hemat kami, gebrakan Nabi Ibrahim ini menunjukkan betapa fungsi Nabi Ibrahim dalam membimbing ummat kepada keimanan telah menyebabkan goncangan sosial ditengah-tengah masyarakat pada waktu itu. Nabi Ibrahim mendemonstrasikan gebrakannya itu dengan menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya. Tindakan Nabi Ibrahim ini berdasarkan pada prinsip yang memaksa mereka untuk mengakui bahwa tuhan-tuhan  semacam itu  tidak dapat berbicara, “Sesungguhnya engkau (hai Ibrahim ) telah mengetahui berhala-berhala itu          tidak dapat berbicara.” (Qs. al-Anbiya:65)

Dengan tindakannya ini, Nabi Ibrahim telah menggugat doktrin dan ideologi mereka serta menunjukkan bahwa doktrin dan ideologi mereka tidak memiliki dasar sama sekali.  Sikap ini ditunjukkan Nabi Ibrahim ketika ia berdiri dihadapan ayahnya,   terkadang mengundang simpati, terkadang pula mencerminkan realitas hidup yang keras.

Sikap Ibrahim ini juga merupakan cerminan oposisi terhadap penguasa tiran ketika itu, ketika penguasa tiran itu berseru, “Aku memberikan kehidupan dan kematian.” Ibrahim menantang mereka dengan berkata, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan……Ibrahim berkata: sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.” Lalu heran terdiamlah orang kafir itu. (Qs. al-Baqarah:258)

Manusia  Tuhan

Kita amati – dari apa yang telah disinggung sebelumnya – keadaan yang membuat Ibrahim menjadi seorang hamba Allah, seseorang yang secara terus menerus sadar akan kewajibannya tentang hidup semata untuk Allah dan untuk menjadi hamba sejati  seharusnya  terbebas dari segala sangkutan-sangkutan dan terlepas dari segala hal yang merintangi untuk dekat pada Allah. Sedemikian rupa sehingga ia merasa wajib mempersembahkan seluruh hidupnya semata untuk Tuhan. Sebagaimana yang tertuang dalam firman suci Ilahi, “Dan Ibrahim mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya.“ (Qs. an-Nisa’:125) Kedekatan Tuhan kepada Ibrahim disebabkan kedekatan Ibrahim kepada-Nya, “Allah  mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. ” (Qs. al-Mâ’idah :54)

Hubungan peribadatan semacam ini adalah hubungan puncak antara  manusia dengan Tuhannya. Hubungan ini bersifat hubungan timbal-balik. Hubungan yang  berkembang menjadi hubungan akrab dan intim. Keakraban antara Ibrahim dengan Allah merupakan hasil yang niscaya dari penghambaan aktif, yang menuntun Ibrahim bergantung sepenuhnya kepada Allah. Selaras dengan ini, juga membawa ia pada ilmu yang meyakini bahwa seluruh makhuk  yang ada di alam semesta ini bergantung pada-Nya. Keadaan  ini membuat Ibrahim menerima satu dari beribu jalan menuju Tuhan ketika ia bertanya pada Tuhan untuk menghidupkan yang telah mati, “ Perlihatkanlah bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati. [Tuhan] berfirman:  “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab: “Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah keyakinan saya.” (Qs. al-Baqarah:260)

Hal ini menunjukkan ketika Ibrahim berbicara dengan Tuhannya – bila ia hidup bersama Tuhannya – ia menerima dengan tuntunan dirangkai dengan keimanan dalam ibadah pada satu sisi, cinta dan ketaatan pada sisi lainnya.

Dari sudut pandang ini, kita temukan Ibrahim mengamalkan Islam semata-mata untuk Tuhan, dan ini membawa kita pada pemahaman Qur’an bahwa yang pertama kali menggunakan istilah al-Islam adalah Nabi Ibrahim, “(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim, Dia (Allah)  telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu…”(Qs. al-Hajj:78); Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk dan patuhlah (aslim) Ibrahim menjawab: “Aku tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta alam.  Dan Ibrahim mewasiatkan kepada anak-anaknya – demikian pula Ya’qub – (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku!” Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (Qs. al-Baqarah:131-132)

Nabi Ibrahim merupakan nabi yang pertama kali memperkenalkan istilah “Islâm “ (berserah diri kepada Tuhan) setelah mendapatkan wahyu dari Allah Swt. Sebagai hasilnya, Nabi-nabi setelah Ibrahim – jika istilah ini digunakan – menggunakan istilah Islam ini dalam makna inklusif,  “Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran:19); “Dan barang siapa mengambil agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu)  dari padanya.” (Qs. Ali Imran:85) Inilah kesempurnaan  Islam yang dibawa oleh para Nabi; inilah agama tawhid.

Secara umum, kita perhatikan bahwa Ibrahim merupakan orang yang hidupnya untuk Tuhan dalam seluruh wujud dan tindakan-tindakannya. Ibrahim berupaya membangun sebuah modus perintah untuk lingkungannya. Hal ini dilakukannya agar ia dapat mewariskannya kepada anak keturunannya. Selain untuk anak keturunannya, Ibrahim juga mewariskan Islam ini untuk seluruh ummat manusia. Inilah pesan dari ayat suci, “Dan Ibrahim mewasiatkan kepada anak-anaknya – demikian pula Ya’qub – (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah mati kecuali dalam memeluk agama Islam!” (Qs. al-Baqarah:132)

Islam Sebagai Media Tarbiyah

Islam kemudian tampil sebagai sebuah gaya hidup. Ibrahim menghendaki Ismail anaknya menjadikan Islam sebagai teladan hidupnya. Tampak kemudian bahwa gaya hidup ini menjadi sebuah ajaran praktis dalam kehidupan Ismail dan sebuah konsep hidup, seperti dalam kehidupan Nabi Ya’qub.

Tatkala kita membaca firman suci Ilahi – “Dan kami memberikan kabar gembira padanya ( Ibrahim ) akan datangnya seorang anak yang penyabar “ (Qs. asSâffat:101) – kita melihat betapa Nabi Ibrahim mendambakan seorang anak setelah melalui ujian-ujian – dan Tuhan kemudian mengaruniai seorang anak yang penyabar, berwawasan, tabah dan memiliki hati yang lekat  dengan kebenaran. Ismail tidak merasa kesulitan betapapun pelik dan sulitnya keadaan yang datang menerpa. Ayat, “Dan ketika anak itu sampai  pada usia yang cukup untuk dapat menyertai Ibrahim. “ (Qs. as-Saffat:102) mengisyaratkan bahwa Ismail tumbuh dewasa dalam kehangatan cinta seorang ayah yang menyayanginya sepenuh hati. Bagi siapapun yang dikaruniai seorang anak rupawan setelah menempuh kesulitan-kesulitan hidup merupkan suatu perkara biasa. Ibrahim mencurahkan segenap hati dan imannya kepada Maulanya, Allah Swt dan mengajarkan renungan ruhaninya kepada Ismail, yang mencerminkan seluruh aspek pemikiran, semangat, ibadah dan amal saleh. Kemudian, kehidupan Ismail menjadi kehidupan Islami yang secara totalitas berserah diri kepada Allah Swt persis sebagaimana ayahnya.

Tantangan terhadap Perasaan dan Ego

Seterusnya, perjalanan hidup yang dikehendaki oleh Allah Yang Mahamulia kepada sang ayah dan anak tercinta adalah perjalanan hidup yang  penuh dengan keteladanan Islam dalam maknanya yang sejati. Perasaan cinta sang ayah diuji sebagaimana ketika Ibrahim  diminta untuk mengorbankan anak semata wayangnya. Nabi Ibrahim harus menundukkan perasaan cinta, sayang dalam segala bentuknya yang dimiliki oleh setiap ayah terhadap anak semata wayang dan dikasihnya.

Dan pada sisi lain, kecintaan Ismail pun mendapat tantangan. Iman keduanya – antara ayah dan anak – itu ditantang.   Mereka menjawab tantangan tersebut. Keduanya menjawab tantangan untuk menundukkan perasaan cinta seorang ayah (Ibrahim) pada seorang anak dan membunuh perasaan sayang sang anak (Ismail) kepada sang ayah. Mereka berdua berhasil menjawab tantangan tersebut. Cerita ini dapat kita  jumpai dalam firman Allah Swt, “ Ibrahim  berkata: “Wahai anakku!” Aku menjumpai dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?“ ( Qs. asSâffat:102) Dan kelanjutan dari cerita ini pun pada ayat yang sama, Ismail sedetikpun tidak memikirkan atau menimbang perkara ini, “Ia (Ismail)berkata: “Wahai ayahku!” Kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Qs. asSâffat:102)

Sebagai Seorang Ayah Dan Seorang Nabi

Berangkat dari analisa kita di atas, menunjukkan keberhasilan Ibrahim mendidik anaknya sedemikian tinggi dengan corak Islam. Ibrahim sebagai seorang anak manusia dapat menundukkan perasaan-perasaannya untuk menunaikan seluruh perintah Allah Swt. Kita juga dapat berkesimpulan bahwa Ibrahim tidak berlaku sebagaimana layaknya setiap ayah yang dikarunia seorang anak setelah menempuh ujian hidup, dengan memanjakannya, memberikan kepada si anak kebebasan semu. Sedemikian rupa, kesalahan-kesalahan anak dipandang sebagai suatu yang kudus, perbuatan jahatnya dilihat sebagai sebuah proses perkembangan, perasaan cinta buta seperti ini tidak akan merelakan seorang ayah untuk membiarkan anaknya menderita.

Kita dapat memahami kesiapan untuk dikorbankan pada Ismail dan  bentuk dedikasi Ibrahim dalam menjalankan misi kenabiannya. Ibrahim tidak melihat anaknya dengan kaca mata sentimen kematian; ia melihat anaknya dari sudut pandang kenabian. Manusia seperti Ibrahim merasa cukup menjalani kehidupan ini sebagai seorang hamba Tuhan yang menuntutnya untuk secara mutlak tunduk kepada-Nya. Bukan menjadi bagianku untuk menentukan sikap keayahanku atau paternalku kepada anakku atau menjalin hubungan kasih-sayangnya (filial) padaku sebagai dalih untuk menjerumuskan diriku ke dalam sikap egois. Sebaliknya, Aku harus mengerti bahwa seorang anak adalah hamba Allah Swt dan Aku harus memilih untuk  taat kepada-Nya. Aku harus menyadari bahwa ia  adalah seorang anak manusia dan Aku merasa berkewajiban untuk memanusiakannya yang dapat diperkokoh dan dibangun melalui ujian hidup, ujian iman dan sikap istiqâmah.

Sinergi Kemanusiaan Dan Kenabian

Ibrahim mampu menggabungkan antara dimensi kemanusiaannya dengan dimensi kenabiannya. Ia melakukakannya – dari perspektif keayahan dalam hubungannya dengan kenabian – karena ia memfokuskan sentimen kemanusiaannya dalam membina anaknya menjadi anak yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah Swt. Ia menciptakan sebuah hubungan kedekatan (proksimitas) antara sang anak dan Tuhan untuk menerima anugrah rahmat Ilahi yang melimpah dan menggapai firdaus. Dari perspektif kenabian, Ibrahim sebagai seorang nabi mengarahkan dirinya untuk anaknya dan untuk seluruh umat manusia. Ibrahim tidak melakukannya seperti nabi-nabi lainnya: menyampaikan pesannya kepada umat manusia dengan resiko mengambil jarak dengan keluarga dan anak-anaknya atau diisolir oleh keluarga dan anaknya, lalu membiarkan mereka dengan cara begitu saja.

Memang, Ibrahim berhasil dalam mendidik kepribadian nabi kepada anaknya pelanjut risalah kenabian. Tatkala membangun Ka’bah, ia membentuk kepribadian Ismail dengan menyertakan ia bersamanya dalam tugas itu, “Dan ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail.“ (Qs. al-Baqarah:127) Ia mewarnai lingkungan Ismail dengan warna ruhani disekeliling Ka’bah, sebuah proyek yang bercorak fisikal dan spritual. Ishak dan Ya’qub juga  menerima perkara ini  dengan corak yang sama, “Adakah engkau hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?“ Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu, Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Qs. al-Baqarah:133)

Ya’qub adalah cucu Ibrahim. Ia menjalani kehidupan sebagai seorang nabi di bawah panji Islam. Ya’qub berkata kepada anak-anaknya dengan cara yang sama seperti apa yang dilakukan Ibrahim kepadanya.

Kita jumpai dalam kitab suci tidak ada satupun model tarbiyah seperti yang dilakukan Ibrahim dan diikuti oleh Ismail dan Ishaq, lalu diteruskan oleh Ishaq kepada Ya’qub. Dalam lingkungan yang penuh warna spiritual, sebuah lingkugan yang dibangun oleh Ibrahim untuk anak-anaknya dan ditanggapi secara sempurna oleh anak-anaknya, jika kita memandangnya sebagai warisan khusus dan teladan utama dan jika kita ingin mengikuti jalan ruhani yang sama sebagaimana mereka, maka warisan ini akan membuahkan hasil yang mujarab bagi Islam.

Anak-anak Nabi seperti anak-anak yang lain

Berbeda dengan kisah Ibrahim dan Ismail. Dalam al-Quran, terdapat juga kisah Nuh dan anaknya. Kisah Ibrahim dan Ismail adalah kisah dakwah kepada pengorbanan, sementara kisah Nuh dan anaknya adalah kisah dakwah kepada penyelamatan.

Di satu sisi, ada ketaatan dan kepatuhan; di sisi lain, penolakan dan pembangkangan. Hikmah apa yang dapat kita pelajari dari kedua kisah ini? Anak-anak para nabi, para Imam dan Ulama adalah anak-anak manusia, mereka adalah anak-anak dari umat manusia yang dapat dibentuk oleh pengaruh-pengaruh positif atau pengaruh-pengaruh negatif.

Mereka juga hidup dalam arena kehidupan yang sarat konflik. Kehidupan yang didalamnya kekuatan positif berkonfrontasi dengan kekuatan negatif. Mereka belajar dari kehidupan, mereka pun mengalami konflik internal maupun konflik eksternal.

 Dari landasan ini, tidak dapat menjadi kesimpulan baku bahwa anak seorang nabi atau anak seorang imam atau seorang alim atau seorang aktivis akan berlaku sebagaimana ayahnya. Ayah membentuk bagian dari lingkungan kepribadian anak dan ia hanyalah salah satu faktor dari sekian faktor yang ada. Boleh jadi si ayah hidup dalam masa yang singkat, dan ini merupakan sebuah kondisi yang labil dan lemah, masa-masa di mana si ayah tidak mampu menggunakan pengaruhnya terhadap keluarga yang memulai menentangnya atau tekanan-tekanan (pressures) yang menimpa kegiatannya.

Kesemuanya ini dapat berpotensi menyisakan masalah bagi mereka yang mengajak pada Islam (dai’), entah mereka para nabi, ausiyah atau ‘ulama. Hal ini disebabkan oleh panggilan iman dan tantangan untuk mengajak umat manusia kepada Islam dapat menyita seluruh perhatiannya tehadap keluarganya. Ia bersikap terbuka kepada dunia dan  menutup diri pada keluarganya. Inilah alur yang diinginkan oleh gaya hidup seperti ini; Ia menjaga jarak dan menutup diri dari masalah-masalah pribadi – termasuk di dalamnya sanak keluarganya – tetapi membuka diri bagi yang lainnya.

Pengaruh Dari Masyarakat Yang Rusak    

Satu hal yang patut diutarakan di sini adalah tentang masyarakat yang rusak. Komunitas yang korup bisa membobol keluarga nabi tanpa adanya pertahanan sedikit pun. Keadaan ini bisa terjadi karena pertahanan (yang dilakukan oleh nabi) diarahkan kepada komunitas yang lebih besar, yaitu kepada masyarakat sekitarnya dan kekuatan oposisi yang menawarkan kekuatan material dan tantangan yang merongrong elemen dasar kenabiannya, karena lingkungan luar  (mondial) telah menyita perhatian mereka. Nabi – tanpa memandang siapa – ketika menyampaikan risalahnya berbenturan dengan permasalahan pelik ini. Dan sayangnya para nabi tersebut tidak memiliki media alternatif untuk menghadapi gempuran dari lingkungan yang rusak ini.  Hanya beberapa media yang mungkin mereka miliki: kharisma dan kemampuan pribadi, yang dapat berhubungan dengan dunia gaib dalam batasan tertentu, tetapi tidak dalam artian penuh seperti yang dianjurkan oleh ilmu pengetahuan.

Dalam kerangka seperti ini, masyarakat berpeluang untuk menjadi momok yang menakutkan bagi keluarga, bahkan mereka yang termasuk keluarga nabi, awliya atau ilmuwan pun tidak luput dari ancaman ini. Peluang ini bisa saja menjelma menjadi kenyataan dikarenakan masyarakat seperti itu memiliki pengaruh untuk merusak dan meruyak tatanan sosial dan tatanan keluarga. Masyarakat seperti ini juga cukup berpengaruh untuk mencederai pesan kenabian. Beberapa nabi, ilmuwan dan orang-orang suci telah didera dengan ujian melalui istri-istri mereka yang mengambil sikap berseberangan dengan risalah nubuwwah, menentang perbuatan-perbuatan nabi. Ini adalah fenomena yang diisyaratkan oleh al-Quran tentang istri Nabi Nuh dan Nabi Lut, “Allah menjadikan istri Nuh dan Lut sebagai  perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri tersebut berkhianat kepada suaminya, maka kedua suaminya tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka.” (Qs. at-Tahrim:10)

Sikap Khianat Terhadap Risalah

Kita dapat mengetahui dari analisa di atas bahwa pengkhianatan di sini bukanlah sebuah masalah kehormatan jenis kelamin atau kesetiaan terhadap pasangan, akan tetapi karena sikap khianat terhadap risalah tersebut.

Secara umum, keadaan seperi itu memiliki dampak negatif terhadap anak-anak para nabi, para imam dan cendikiawan.

Ayat yang dinukil di atas juga mengindikasikan tentang besarnya pengaruh ibu. Pengaruh ibu atas anak-anaknya berdampak negatif  bagi perkembangan anak baik dalam sikap dan pemikiran. Terlebih jika si ibu latah mengikuti trend dan penyimpangan dari kaum kuffar. Alasannya adalah si ibu membawa pikiran-pikiran dan ide-ide ke dalam rumah tangga. Sementara sang nabi dilecehkan di dalam rumah oleh istri sebagaimana ia juga dilecehkan oleh masyarakat. Nabi tidak dapat menjaga rumahnya, karena istrinya merupakan bagian dari keluarga yang bermukim di dalam rumahnya. Istri nabi boleh jadi membawa pengaruh sedimikian rupa hingga nabi sendiri tidak dapat terselamatkan dari pengaruhnya.

Al-Quran sendiri tidak menceritakan riwayat hidup anak Nabi Nuh, tetapi kita bisa menangkap isyarat dari al-Quran ketika Nabi Nuh memerintahkan anaknya untuk naik bahtera bersama Nabi Nuh sehingga ia tidak termasuk orang-orang yang merugi, “Duhai anakku!” Naiklah bahtera bersama kami dan janganlah kamu bersama dengan orang-orang kafir.“ (Qs. Huud:42)

Namun, nampaknya memang sang anak adalah anak pembangkang. Ia tidak menghormati ayahnya dan juga tidak peduli dengan peringatan yang disampaikan oleh ayahnya. Ia tidak percaya terhadap apa yang diketahui oleh ayahnya tentang dunia gaib, juga tidak percaya terhadap kemampuan ayahnya dalam menghadapi masalah-masalah yang tidak seorang pun mampu menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Ia berkata, “Aku akan mencari perlindungan ke atas gunung yang dapat menjagaku dari air bah.“ (Qs. Huud:43) Nabi Nuh, yang kehilangan asa atas pembangkangan anaknya menjawab, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.“ (Qs. Huud:43) Tatkala Nabi Nuh berdoa kepada Tuhannya – tidak dalam bentuk balasan atas sikap anaknya – ia   memohon kepada Allah Swt supaya menolong anaknya, “Duhai Tuhanku! Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: “Wahai Nuh!” Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan keselamatan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan tidak baik.” (Qs. Huud:45-46)

Pengaruh Ibu

Mengapa anak Nabi Nuh tidak termasuk orang-orang beriman? Dengan mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri, kita – sesuai dengan teks kitab suci – akan menghubungkannya dengan ibu dari si anak tersebut. Kita melihat si anak lebih berada di bawah pengaruh sang ibu ketimbang pengaruh sang ayah, karena – dalam kasus di atas – sang ayah sendirian. Di sisi lain, sang ibu merupakan bagian terbesar dalam sebuah komunitas, entah mereka kerabat atau bukan. Kemudian menjadi suatu hal yang wajar bagi sang anak apabila ia hidup di dalam komunitas seperti ini dan bertabiat sebagaimana komunitasnya, tanpa sang ayah mampu memelihara tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga atau hidup dengan para komunitas minoritas yang beriman yang dapat mempengaruhi sang anak. Kita ketahui bersama perbedaan antara kisah Ismail dan kisah putra Nabi Nuh; Ismail tumbuh berkembang pada sebuah lingkungan yang dibangun dan diwarnai secara ruhania oleh Nabi Ibrahim. Lingkungan yang terjaga dari tekanan-tekanan komunitas. Ismail hidup pada sebuah lingkungan yang terbebas dari pengaruh-pengaruh negatif masyarakat. Ibu Ismail (Siti Hajar, penj.) – pada saat itu – juga merupakan seorang Mukminah, seorang yang beriman kepada Allah Swt. Pada kisah Ismail, proses belajar (learning proses) hidup anak terlindungi, pada kisah putra Nabi Nuh (Kan’an, penj.) tidak mendapatkan perlindungan dari sang ibu.

Inilah apa yang difokuskan Islam pada kasus pernikahan, yaitu seorang yang beriman (Mukmin atau Mukminah, penj.) harus menikah dengan seorang yang agamis, seorang yang mengamalkan ajaran agama. Bersandar pada sebuah hadis, seseorang bertanya kepada Nabi Saw, “Siapa yang harus aku nikahi?“ Nabi Saw menjawab, “Engkau harus menikahi seseorang yang mengamalkan ajaran agama”. Hal ini adalah masalah yang berkenaan dengan pasangan menikah.

Sesungguhnya “Jika datang pada anda seseorang yang kepribadian dan agamanya membuat anda terpesona, nikahilah dia, karena jika engkau menolaknya, maka akan terjadi bencana dan kerusakan di muka bumi ini.”  Kemudian, Islam memfokuskan keutuhan sebuah rumah tangga, dengan menekankan bahwa sang istri harus seorang yang beriman dan sang suami pun haruslah seorang yang beriman pula. Tarbiyah  Islam yang utama adalah untuk anak-anak. Dengan tarbiyah tersebut indra dan persepsi anak-anak tersebut dapat terjaga ketika menghadapi penyimpangan. Apabila terjadi kerusakan di tengah masyarakat sang anak akan bersandar pada fondasi ini.

Akan tetapi, bilamana terjadi pertarungan dua kekuatan pengaruh dalam rumah tangga, sang ayah menghendaki sang anak memiliki kecenderungan kepada keimanan, sementara sang ibu menghendaki sang anak untuk cenderung kepada kekufuran dan penyimpangan atau sebaliknya, maka masalah tersebut akan secara wajar berlaku tanpa mempengaruhi keharmonisan kedua orang tua tersebut. Kita tidak ingin berpandangan bahwa orang tua adalah segalanya, tetapi harus ditekankan bahwa peranan kedua orang tua sangat vital dan sentral.

Dalam mencermati masalah ini, kita bisa memetik hikmah dan ibrah dari kisah Nabi Nuh bahwa sang ayah tidak seharusnya yakin hanya karena ia seorang yang saleh, maka sang anak pun juga seyogyanya saleh. Sejatinya adalah menjadi tugas sang ayah untuk berhati-hati akan ketidaksalehan istrinya, karena karakter istri tersebut berpotensi mempengaruhi jiwa sang anak.  Orang-orang seharusnya menghindari perkataan bahwa penyimpangan yang terjadi pada anak adalah cermin dari perbuatan menyimpang sang ayah, pencitraan ini sering diklaim oleh orang-orang tertentu di dalam masyarakat, “Pergilah dan urus anakmu!” Allah Swt menitipkan amanah ini kepada laki-laki berupa tanggung jawab terhadap dirinya dan keluarganya, termasuk kerabat dekatnya. Tetapi yang demikian ini tidak berarti bahwa tanggung jawab itu berada sepenuhnya di pundak sang ayah. Melainkan, amanah ini adalah sebuah tanggung-jawab proporsional yang dibebankan kepada sang ayah mengingat kemampuan yang dimilikinya.

Kebenaran Menolak Penyimpangan

Apakah keberadaan pembawa risalah sebagai sebuah kebenaran diingkari atau kekuatannya dirongrong, jika ternyata rumah (keluarga, penj.) merupakan onak dan duri yang mengganjal dari dalam?

Pertanyaan ini bisa menyisakan beragam pengaruh di hadapan publik yang berseberangan dengan mereka yang berdakwah dijalan Allah,  meskipun ia seorang nabi, auliyah atau Mukmin. Mereka yang ingin menulusuri masalah ini dengan mencoba memotret sisi negatifnya, akan berpandangan sebagai sebagai berikut:

Orang ini tidak pernah serius dalam dakwahnya, tindakannya bisa jadi berasaskan kepada tujuan-tujuan terselubung untuk mendapatkan popularitas, kedudukan dan harta. Kita mencermati kasus ini atas apa yang difirmankan Tuhan tentang kabilah-kabilah para nabi yang menyeru kepada kaumnya, seperti dalam kisah Nabi Musa As. Orang-orang berkata jika mereka sungguh-sungguh, terpercaya dan meyakini seruannya (dakwahnya), maka keyakinan tersebut dapat dijadikan senjata untuk mengajak keluarganya untuk meyakininya. Ucapan seperti ini dilontarkan kepada orang-orang yang menyeru dan mengajak kepada sebuah pemikiran dan keyakinan. Tentu saja orang-orang tidak mudah percaya dengan ajakan tersebut, “Jika para penyeru itu bersungguh-sungguh dengan seruannya, maka ia akan menggunakan, mendisplinkan  dan membaktikan dirinya atas ajakan dan dakwahnya itu”. Gejala sosial seperti ini dapat menciptakan dampak negatif pada lingkungan masyarakat secara umum. Tapi dalam pandangan kami (penulis), terlepas dari apakah ia seorang alim atau seorang dai (pendakwah) ketika ia menunjukkan kepercayaan diri, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menerima keseriusannya dalam gerakannya, bahwa ia tidak meninggalkan begitu saja anak-anaknya untuk digilas roda penyimpangan. Para pendakwah itu harus menyampaikan kepada khalayak bahwa dia tidak memberikan keistimewaan kepada anaknya atas orang lain atau menganggap remeh masalah ini, maka masyarakat akan menyadari keseriusannya dalam berdakwah di jalan Allah Swt.   Paman Nabi saw, Abu Lahab – yang semasa hidupnya menentang nabi – tidak mampu mempengaruhi nabi. Penentangan Abu Lahab tidak menghentikan langkah nabi karena landasan-landasan nubuwwah yang terbangun dalam diri nabi, bersungguh sungguh dalam berdakwah. Preferensi orang-orang yang bukan kerabat (jika mereka Muslim) atas kerabatnya membuat orang-orang melihat bahwa kurangnya pengaruh nabi atas keluarganya adalah konsekwensi dari kurangnya komitmen dalam berdakwah. Namun, preferensi nabi tersebut lebih disebabkan oleh penyakit hati yang bersemayam di dalam kepribadian Abu Lahab dan kerabat lainnya. Sebagai hasilnya, tindakan Abu Lahab tersebut tidak dapat meninggalkan pengaruh negatif terhadap Rasulullah Saw.

Saya yakin bahwa jika para dai’ tersebut memusatkan sisi kepercayaan ini dalam sentimen-sentimen mereka terhadap anak-anaknya dan meyakinkan khalayak bahwa mereka tidak akan tersandung oleh perasaan, sentimen terhadap anak-anak mereka apa bila anak-anak tersebut memilih jalan sesat, maka pengaruh negatif apapun bentuk dan ragamnya sedikit pun tidak akan menghadang langkahnya dalam mengajak manusia kepada jalan Allah Swt.

Godaan vs Pribadi Tegar

Dalam surat Yusuf, kita jumpai seorang pemuda yang tetap tegar dalam menghadapi tekanan seorang wanita bangsawan. Bagaimana para pemuda kita dapat memahami ketegaran Nabi Yusuf As ini?

Ketika kita mengkaji kedudukan Nabi Yusuf – dalam menghadapi ujian yang berat – kita melihat sebuah kondisi amat sulit yang pernah dihadapi oleh para remaja seusianya. Keadaan ini disebabkan oleh gejolak yang menggelora dalam diri para remaja yang datang dari berbagai sumber, tetapi di sini terdapat pilihan bagi mereka. Secara umum, gejolak-gejolak semacam ini tidak terdapat dalam diri setiap remaja, dalam arti, kehilangan seluruh ikhtiyar dalam masalah ini atau kebebasannya dalam bertindak. Pada kisah Nabi Yusuf As, ia adalah seorang budak yang dibeli oleh suami wanita tersebut. Yusuf bermukim di rumah wanita tersebut  sepanjang siang dan malam hingga pesona Yusuf membuat Zulaikha terpesona. Dalam kisah ini, kita melihat Nabi Yusuf As tidak tertarik terhadap wanita ini, karena didalam al-Quran tidak disebutkan bahwa Nabi Yusuf tertarik karena  kecantikan Zulaikha atau dorongan seksual. Kisah ini menandakan bahwa Nabi Yusuf As memiliki kekuatan batin dalam menghadapi godaan ini.

Seseorang boleh saja berkata bahwa Yusuf adalah seorang budak dan dalam keadaan seperti itu ia tidak mampu mengenal wanita juragannya, karena tameng kelas sosial Zulaikha membuat hal ini tidak akan terjadi. Kendati kita perhatikan bahwa bilamana tameng-tameng ini  sewaktu-waktu hadir, mereka tidak selamanya diterima, khususnya bagi wanita, yang nota-bene disediakan untuk menghantam tameng-tameng tersebut.

Iman Sebagai Benteng Menghadapi Godaan

Kemungkinan ujian yang dihadapi oleh Nabi Yusuf as adalah ketika istri Aziz (Zulaikha) menggodanya. Penolakan Nabi Yusuf As atas godaan tersebut bukanlah sebuah hasil dari pertahanan psikologis, melainkan sebuah bentuk pertahanan imanis. Akibatnya, kita amati dalam firman suci Ilahi, “Dan sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata tidak melihat tanda (dari) Tuhannya” (Qs. Yusuf:24) Ayat ini biasanya dinukil untuk menunjukkan bahwa Yusuf berkeinginan menjamah wanita tersebut. Namun, kita cenderung pada penjelasan, bahwa Nabi Yusuf tergoda terhadap wanita itu tapi ketergodaan tanpa perasaan. Sama persis ketika seorang pria tergoda oleh makanan dan raganya memberikan reaksi  apabila ia lapar. Ketertarikan ini hanya bersifat temporer.  Reaksi tersebut adalah reaksi alamiah, bukan reaksi yang disengaja – (sekiranya tidak melihat burhan dari Rabbnya) bukankah imannya akan tetap terjaga? Ma’sum tidak berarti kurangnya dorongan terhadap makanan, minuman atau keinginan yang haram. Melainkan, berarti tidak memanjakan diri untuk mengkonsumsi hal-hal yang dilarang oleh agama, karena dorongan ini bersifat instingtif, dorongan alamiah dalam masalah-masalah seperti ini tidak tertransformasi kedalam bentuk tindakan.

Kisah ini terus berlanjut hingga Yusuf berjalan di hadapan para wanita bangsawan itu. Para wanita itu berkata, “Sesungguhnya ini bukanlah manusia melainkan malaikat yang mulia.” (Qs. Yusuf:31)  Kemudian, pertahanan Yusuf melemah, yang memaksa dia untuk tidak mengabaikannya, karena  ia telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk tidak tergoda oleh wanita tersebut. Oleh karena itu ia berkata, “Dan jika tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) “ (Qs. Yusuf:31) 

Jiwa yang Kokoh

Dari kisah di atas, kita ketahui bahwa yang telah menyelamatkan Nabi Yusuf As dari ujian berat tersebut adalah dimensi keimanan yang kokoh. Hal ini dapat kita lihat dan pahami ketika kita mencermati semasa Nabi Yusuf As bersama ayahnya, yaitu masa-masa yang digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Yusuf memiliki keinginan-keinginan ruhani yang kudus dan kasih sayang dan perasaan Ya’qub terhadapnya telah mengantarkan dan membentuk Nabi Yusuf menjadi seorang pemuda yang tangguh dengan karakter yang kokoh.  Barangkali ini merupakan alasan mengapa Ya’qub amat mencintainya, bukan semata-mata karena ketampanan fisik Yusuf. Ketika kita mengkaji sikap Ya’qub terhadap anak-anaknya, kita dapat melihat kebanggaan dan kegembiraan Ya’qub terhadap anak-anaknya dikarenakan mereka adalah muslim.

Dari cerita ini kita dapat memahami bahwa Ya’qub mendapatkan keunikan iman yang dimiliki Yusuf terhadap Allah Swt. Iman yang dimiliki oleh Yusuf sama dengan iman yang dimiliki oleh para nabi. Kenyataan ini membuat anak-anaknya yang lain cemburu dan menyebabkan mereka bertujuan untuk menyingkirkan Yusuf.

Ruh Kerasulan

Mungkin apa yang menjadi petunjuk bagi kita terhadap ruh kerasulan yang menitis dalam wujud Yusuf As adalah masa sejak saudara-saudaranya yang bermaksud keji terhadapnya hingga masa ketika ia dipenjara. Ketika masa itu berlangsung, Yusuf tidak penah mendapatkan gemblengan keimanan atau kerasulan dari seseorang. Sebaliknya, ia justru menjalaninya di dalam madrasah kejahatan, semenjak dari rumah hingga masyarakat yang hidup bersamanya.

Tatkala kita renungkan kehidupan Yusuf semasa di dalam penjara, ia memasuki penjara untuk mengajak orang-orang yang ada di dalamnya ke jalan Allah Swt, “Hai kedua temanku didalam penjara, manakah yang lebih baik, tuhan yang bermacam-macam itukah atau Allah Yang Maha Esa lagi Perkasa.“ (Qs. Yusuf:39) Keadaan ini menunjukkan bahwa Yusuf memiliki ruh kerasulan, yang tidak hanya berdampak kepada dirinya sebagai nabi sendiri tetapi juga memberi pengaruh kepada orang-orang di sekelilingnya. Hal inilah yang harus kita tekankan dalam pembinaan dan pendidikan anak-anak tentang urgensi membina dan mendidik mereka dengan pendidikan ruhani, iman dan metode ini pasti mujarab. Kami berkata bahwa seseorang yang memiliki kepribadian dinamis dapat berfungsi lebih efektif dalam mendidik seorang Mukmin dengan kekuatan pertahanan dan perlindungan diri terhadap berbagai macam pengaruh orang lain ketimbang orang Mukmin yang memiliki sedikit perhatian terhadap keimanan dan komunitasnya.

Yusuf adalah seorang yang dinamis dalam menjalankan misi kenabian dan kami menduga bahwa efektifitas pendidikan Islamnya, bentuk renungan ruhani, perbuatan dan ajakannya kepada Allah adalah sangat vital yang membuat ia semakin kokoh dalam langkah-langkahnya. Ia menerima secara sadar bahwa tugasnya adalah menuntun umat, bukan sebaliknya dituntun dan dipengaruhi oleh mereka. Tugas ini merupakan spirit sejati yang telah memberikan kemampuan bagi Yusuf untuk membangun pertahanan yang kokoh dalam dirinya.

Kekokohan seorang Wanita

Sampai pada poin ini, wacana yang dibahas adalah tentang ketegaran karakter manusia seperti Yusuf. Bagaimana tentang kekokohan seorang wanita atau peranannya dalam membina karakter tersebut?

Ketika kita membahas kisah Nabi Yusuf As, kita tidak berhubungan dengan kekokohannya sebagai seorang pria, tetapi sekedar sebagai seorang yang beriman. Kita mendapatkan Nabi Yusuf As seorang anak manusia yang mengajak manusia kepada Allah Swt dan berjuang karena-Nya. Oleh karena itu, wacana ini juga dapat diarahkan kepada seorang Muslimah yang beriman, pada seorang Muslimah yang hatinya terbuka untuk Islam. Mengingat perkara ini merupakan perkara yang sangat esensial sehingga diperlukan sebuah lingkungan gemblengan yang pantas dan beradab. Dan untuk metode yang tepat, lokasi yang layak dan mental yang dinamis dengan niat untuk membangun kekuatan pertahanan dalam menghadapi godaan dalam diri seorang Mukminah, tidak kurang dari apa yang semestinya mewujud dalam diri seorang Mukmin, serta sosialisasi pemikiran dan kesadaran bahwa kemanusiaan seseorang itu bukan merupakan hasil dari naluri atau insting. Kemanusian itu merupakan hasil dari gemblengan dan training yang membimbingnya.

Hal ini senada dengan pemikiran Amirul Mukminin ‘Ali As yang disampaikan dalam suratnya kepada Ibnu Abbas, “Engkau tidak perlu memandang pencapaian kesenangan dan kepuasan dari hasratmu untuk membalas tawaran dunia padamu”. Tetapi, seharusnya engkau hancurkan kejahatan dan bangkitkan kebenaran. Kesenanganmu harus engkau letakkan pada tugas yang diamanahkan kepadamu; dukamu akan berlalu sementara sukamu akan engkau nikmati kelak pada kehidupan akhirat, kehidupan setelah mati.”  Beranjak dari pemikiran Amirul Mukminin ini, kita boleh mengambil kesimpulan  empatik bahwa seseorang seharusnya tidak mengikuti kecenderungan natural, tetapi sebaliknya harus mengikuti kecenderungan yang bersifat gemblengan dan pendidikan. Hal ini tidak berarti pengingkaran terhadap ghârizah (instink) manusia, tetapi kita harus mengarahkannya kepada apa yang telah ditunjukkan oleh Allah Swt. Gharizah ini kita batasi kepada apa yang telah diatur oleh Allah Swt. Kita harus melihat  peran  diri kita sendiri sebagai seorang Muslim, Ahli ‘Amal dan Dai yang mengajak manusia ke jalan Allah Swt, berjuang di jalan-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kerusakan yang ditimbulkan oleh naluri-naluri yang tidak sehat dengan melepaskan naluri-naluri tersebut tanpa kendali.

Masalah Hasud

Dalam surah Yusuf, terdapat masalah lain yang layak direfleksikan di sini yaitu rencana keji saudara-saudara Nabi Yusuf As untuk menyingkirkan Nabi Yusuf As, meskipun mereka semua diasuh dalam pengawasan Nabi Ya’qub As. Bagaimana kita dapat menjelaskan sikap mereka terhadap saudaranya?

Boleh jadi masalah ini adalah masalah umum yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, apakah mereka anak-anak para nabi, imam, cendikiawan atau orang-orang beriman yang tinggal dalam sebuah lingkungan spiritual yaitu yang tinggal bersama orang yang memiliki kharisma pribadi. Di bawah kondisi seperti ini, keimanan mereka terbebas dari virus, dorongan aktif, tidak seperti dengan situasi di mana keimanan mereka membangun motif utama, yang merongrong fitrah insaniyahnya. Oleh karena itu, agama bagi mereka kelihatannya terbatas pada ibadah atau spiritualitas yang palsu semata. Namun, sisi moralitas (akhlak) merupakan aspek yang memerlukan disiplin-diri dan kendali-diri dalam pertempuran menghadapi insting-insting hewani yang memisahkan kedua elemen tersebut dalam jiwa, yaitu elemen seorang mukmin dan elemen jiwanya. Akhlak dan etika mereka bisa jadi tidak dihidupkan dengan keyakinan-keyakinan yang mengakar, elemen-elemen tarbiyah mereka dalam masalah ini menjadi bagian integral dalam kepribadian mereka.

Era Para Imam

Dapat kita jumpai beberapa sifat-sifat negatif yang berhubungan dengan nilai-nilai moral dari orang-orang yang disebutkan diatas, sebagaimana terlihat dari beberapa contoh dari kehidupan para Imam. Sejarah berkata kepada kita tentang sikap Bani al-Hasan terhadap Bani­ al-Husain tentang siapa yang pantas menjadi Imam. Sikap seperti ini dapat kita pahami sebagai sebuah sikap hasud dan cenderung keji. Kita juga melihat beberapa anak dari Imam yang mengkhianati Imam al-Kadzim untuk kepentingan Harun al-Rasyid, sebagaimana juga  yang dilakukannya terhadap Ja’far bin al-Hadi.

Beberapa keadaan tertentu di mana dimensi batin tidak selaras dengan tanggapan-tanggapan positif, tetapi dalam beberapa kasus justru mencerminkan sikap-sikap negatif. Keadaan ini terjadi karena dalam beberapa situasi tertentu manusia kehilangan nilai-nilai moralitasnya. Sebagaimana pada kisah anak-anak Nabi Ya’qub, karena sikap ego mereka terhadap Yusuf saudaranya lain ibu.

Mungkin juga dalam kisah tersebut pada satu sisi, terjadi sebuah konflik antara kedua ibu, dan pada sisi yang lain konflik antara mereka dan kedua saudaranya. Sikap hasud saudara-saudara Yusuf itu bukan karena alasan-alasan emosional, yaitu Nabi Ya’qub lebih menyukai Yusuf ketimbang saudara-saudaranya yang lain karena kesalehan Yusuf jauh lebih unggul ketimbang yang lainnya.

Jika ada satu pertanyaan yang harus mengemuka, maka pertanyaan itu adalah apakah “ nabi-nabi “ ini  tidak ditegaskan bahwa mereka dan al-Quran secara zâhir tidak  menunjukan demikian. Boleh jadi mereka menjadi orang saleh setelah kejadian-kejadian itu tersingkap dan sikap ego mereka  dihilangkan.

Realitas Dunia Dakwah

Dalam masalah ini, kami ingin menyuguhkan informasi sehubungan dengan keadaan dan situasi dimana kita tinggal. Oleh karena itu, kami akan memfokuskan pada aspek dakwah yang digeluti oleh para cendekiawan, bapak-bapak Mu’min dan mereka yang membimbing manusia ke jalan Allah. Mereka hendaknya tidak membatasi atmosfer keimanan tersebut hanya pada  lingkungan rumah tangga mereka atau dunia luar saja. Keadaan ini dapat muncul pada mereka bahwa kehadiran remaja Muslim baik jejaka maupun gadis – dalam konteks Islam yang lebih luas – mencerminkan sebuah lingkungan keimanan adalah cukup memenuhi kualifikasi sebuah pendidikan yang mencakup seluruh elemen-elemen yang menjamin mereka untuk memilih jalan yang lurus. Tetapi, hendaknya ada upaya kolektif untuk menciptakan sebuah metode tarbiyah, pendidikan adab dan akhlak. Poin ini harus berbeda dari segi pendekatan-pendekatan dan pandangan-pandangannya.

Kami merasa bahwa sebuah pendekatan, kesempatan yang beragam untuk mengimplementasikan doktrin keimanan pada bidang ini akan menjadi sebuah kontras yang tajam dalam keseharian yang secara wajar akan menyebabkan konsep-konsep tersebut mengalami kemandekan dalam pikiran setiap Mukmin  dan akhirnya menjadi kontra efektif. Karena, seperti pada setiap hal yang telah menjadi kebiasaan orang-orang, diperlukan dinamisme yang membuat sebuah masalah yang dihadapi setiap orang dalam hidupnya menjadi efektif.

Kita harus mampu mendeduksi perintah yang tertuang dalam surat Yusuf tersebut, mileu (lingkungan) pendidikan yang mengisahkan akibat-akibat yang didapatkan oleh orang-orang hasud terhadap orang-orang yang dihasudinya. Kita dapati tatkala saudara-saudara Yusuf dihinggapi rasa cemburu terhadap Yusuf dan saudaranya (Benyamin, -penj.) dan berkomplot untuk membunuhnya, Ujungnya Yusuf merawat, memelihara dan memperhatikan mereka dengan spirit yang tinggi. Ia memiliki spirit ini ketika Allah Swt mempertemukannya dan mempersatukan kembali dengan ayah dan saudara-saudaranya setelah berpisah sekian lama. Saudara-saudaranya menemukan bahwa Yusuf memiliki visi yang luas ketika ia menentukan sesuatu dan tidak sedikit pun ada keinginan untuk membalas perbuatan keji saudara-saudaranya itu. Sebaliknya, Yusuf mengambil mereka, menjaga mereka dalam pengasingan sesuai dengan semangat kenabian yang dimilikinya, meminta kepada Allah Swt untuk bersatu kembali dengan saudara-saudaranya.

Siapapun dia yang lebih menyukai untuk bersikap cemburu dari seseorang yang berbudi yang menjadi pelaku dan fasilitator, apakah ia adalah seorang kerabat atau bukan, hendaknya mengingat bahwa hasil-hasil positif yang diidamkan masih bisa dicapai. Ia harus mengamati dirinya dengan pandangan ruhani orang ini dari semula, tanpa berujung kepada balas dendam. Kita melihat saudara-saudara Yusuf – jika mereka terbuka pada Yusuf dan saudaranya, dan terlibat dalam wacana ini – akan kita temukan pesona spiritual kepribadian Yusuf itu sangat terpuji.  Sikap ini adalah elemen yang cukup untuk menangkis perasaan-perasaan negatif mereka, karena rasa sayang Nabi Ya’qub kepada Yusuf dan saudaranya.

Setiap Mukmin harus memahami bahwa sikap cemburu tidak akan menghasilkan kebaikan yang akan mereka jumpai pada diri orang yang mereka cemburui. Kenyataan ini benar adanya ketika keimanan terjaga di dalam dirinya dan menyadari sepenuhnya bahwa Tuhan bersamanya. Karena Dialah yang mengubah keadaan dan orang-orang yang mereka cemburui itu tidak akan terpengaruh oleh perasaan-perasaan mereka. Terlebih, permusuhan mereka terhadap seseorang tidak akan pernah mencapai hasil apapun jika Allah Swt tidak menghendakinya, karena tidak ada sesuatu apa pun yang dapat terjadi tanpa izin-Nya.

Orang Hasud Hendaknya Melakukan Perenungan

Orang-orang ini perlu untuk merenungi masalah ini dan menyadari bahwa Allah Swt boleh jadi menganugerahi mereka seperti anugerah yang diberikan kepada orang yang mereka cemburui, tanpa mengambil sesuatu apa pun dari mereka. Hal ini dapat terjadi karena anugerah Tuhan itu tidak terbatas; memadai untuk mereka dan orang yang mereka cemburui. Khazanah Tuhan tidak pernah kosong dan ini apa yang diistilahkan dengan “ghibtah“, sementara seorang yang merasa bahwa Allah Swt akan memberikan ia sebanyak atau bahkan lebih dari yang Dia berikan kepada orang lain.

Konsekuensinya, kami berpikir tentang kisah Yusuf yang menyuguhkan sebuah kehidupan yang penuh keteladanan, ketika kita memikirkannya dari awal hingga akhir kisah menarik tersebut. Ketika kita mengkaji kehidupan Nabi Yusuf, kita harus memikirkan reaksinya terhadap saudara-saudaranya dan bagaimana Allah Swt melapangkan jalan bagi insan yang lemah ini, yang digadaikan dan dikabarkan tewas; bagaimana Allah Swt melapangkan jalan baginya menjadi seorang hakim di Mesir. Hal ini adalah apa yang dirujukkan kepada Yusuf ketika ia berkata, “Tuhanku, Engkau telah memberikan kepadaku kerajaan.” (Qs. Yusuf:101) Karena Yusuf menunjukkan kesadarannya bahwa apa yang dimilikinya adalah semata karena rahmat Tuhan kepadanya.

Dari sini, orang-orang yang terjangkiti penyakit hasud, seharusnya berpikir, ketika mereka berkomplot untuk menjatuhkan seseorang, Tuhan akan menaikkan derajat orang-orang mukhlis  sedemikian tinggi sehingga orang-orang yang hasud tersebut akan berhasrat untuk mencapai kedudukan ini. Seseorang yang memiliki kecemburan semacam ini tidak akan terhindar dari hasutan yang menerjangnya dengan memandang bahwa anugerah yang agung ini yang diberikan Tuhan pada orang yang dicemburuinya.

Mereka yang aktif menyeru kepada jalan Allah Swt, entah mereka ‘ulama atau mukmin dengan karakter-karakter buruk seperti ini, seharusnya membuka diri mereka pada dinamikanya iman kepada Allah dalam kehidupan mereka, sehingga dengan begitu mereka akan sadar bahwa ” sikap hasud menggerogoti iman sebagaimana api melalap kayu “.

Kelemahan Sisi Spiritual

Ada orang yang berpandangan bahwa perbuatan saudara-saudara Yusuf disebabkan oleh pemahaman mereka yang sempit. Sementara yang lainnya beranggapan perlakuan mereka terhadap Yusuf merupakan hasil dari kelemahan sisi spiritual.

Spiritualitas adalah faktor utama dalam masalah ini; apakah ada terdapat pemahaman yang menyeluruh ataupun parsial saja, aspek perenungan intelektual tidaklah memadai untuk memotivasi hidup manusia untuk bertindak secara wajar. Hal ini disebabkan oleh motivasi berasal dari spiritual manusia, yang memberikan ketahanan padanya dari keterkucilan dalam arena kehidupan. Dan memikul kewajiban moral atas apa  yang telah dititahkan Tuhan kepadanya.

Oleh karena itu, kami berpandangan bahwa aspek spiritual adalah landasan utama dalam masalah ini. Dari sudut pandang ini, taqlid diniyyah (mengikuti agama)  bagi manusia adalah hidup dalam sebuah lingkungan  agamis yang membuat agama sebagai ” atap dari sebuah rumah” sebagaiamana seharusnya. Dengan demikian, beberapa ulama yang, ketika orang-orang mencurahkan perhatiannya pada perbuatan-perbuatan buruk, akan menyalahkan orang-orang tersebut dengan mengatakan ” Anda berusaha mengajari kami, sementara kami adalah orang yang menulis kitab, yang mengajarkannya dan yang memberikan tuntunan atasnya!” Seakan-akan mereka berkata “Ini adalah pekerjaan khusus kami, dan kamilah orang yang lebih paham dalam masalah ini dari anda”. Kendati, kenyataanya mereka boleh jadi paham dengan baik masalah ini, namun sayang, mereka tidak begitu baik dalam perenungan spiritual untuk memfungsikan orang-orang yang mereka kritik.

Persahabatan Yang Sehat

            Sesuai dengan ayat “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” ( Qs. Zukhruf:67) tersebut, sesungguhnya dalam memilih sahabat bagi para pemuda adalah masalah yang sangat penting. Apakah dasar-dasar yang mengatur masalah tersebut?

Ketika kita berbicara tentang pemuda Mukmin, seharusnya insan Mukmin memilih lingkungan tempat ia membina imannya secara sehat. Sebagaimana jika ia merawat sebuah tanaman yang jika ditanam di lingkungan yang tidak sehat, tidak akan matang secara alamiah meskipun ia menggunakan segala wahana yang ada. Demikian juga, penting bahwa seorang yang beriman membina imannya dalam sebuah lingkungan yang alamiah.

Dari titik-mula ini, fokus keislaman kita ditujukan kepada orang yang beriman yang menikah dengan seorang wanita yang beriman, dan sebaliknya, wanita beriman menikah dengan pria yang memiliki agama dan karakter yang mempesona. Ikatan perkawinan melambangkan sebuah perawatan untuk membina iman kedua pasangan suami-istri dalam kehidupan mereka. Dari sisi ini, Islam menolak sebuah perkawinan yang “khadarâd diman“, sebagaimana sebuah hadits berkata : ” Jauhilah khadarâd diman..Para sahabat bertanya, Apakah khadarâd diman itu? Nabi menjawab: “Seorang wanita yang cantik tumbuh dari tempat yang jahat.” Akhlaknya akan mencerminkan lingkungan tempat ia dibesarkan, persis ibarat sebuah tanaman yang tumbuh di sebuah tempat dan menyedot seluruh kotoran yang ada di sekitarnya.

Di sini peran positif dapat dimainkan oleh sahabat dan teman yang meneladankan keterikatan emosional yang melekat antara seorang dengan yang lainnya. Kita tahu bahwa faktor emosi mempengaruhi hidup, lebih dari faktor pemikiran yang didapatkan melalui usaha peyakinan, dan untuk meyakinkan pemikiran anda kepada seseorang itu tanpa menghadirkan lahan persiapan untuk menerima pandangan anda adalah pekerjaan yang sulit. Emosi, pada satu sisi, dapat merebut perasaan dan kepekaan seseorang sehingga ia menjadi acuh tak acuh kepada pemikirannya. 

Peran Perasaan Dalam Pergaulan

Kita perhatikan betapa banyak pemuda terpengaruh oleh pergaulannya yang berbeda pemikiran dan keimanannya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh perasaan, apakah perasaan-perasaan ini berasal dari hubungannya dengan wanita, sahabatnya, temannya dan sebagainya. Banyak orang termasuk dalam golongan ini – ketika ditanya lebih jauh – affiliasi mereka merupakan hasil dari perasaan-perasaan yang mereka bangun selama pergaulannya dengan seorang sahabat atau teman.

Oleh karena itu, pemuda Mukmin harus memilih seorang teman berdasarkan tingkat keimanan yang dimilikinya, yang dengannya ia dapat terbangun dan maju. Ia tidak boleh bergaul dengan seorang jahil, yang dapat menjurumuskan dia dan membuat dia menerima bahwa kejahilan merupakan sebuah kondisi alamiah, nasib hidup temannya pun berputar. Ia harus menghindari berteman dengan orang bodoh, yang tidak dapat menimbang secara adil dua jalan yang membentang; sebagaimana dikatakan bahwa:  ” Ia menyesatkan anda ketika ia menginginkan keuntungan dari anda”. Ia tidak boleh berteman dengan pendosa yang dapat menjatuhkannya kedalam perbuatan dosa; dampak alamiah dari pergaulan dapat menyebabkan seseorang mengagumi kebiasaan orang lain, nilai-nilainya, pandangan dan perbuatannya. Ia jangan menjadikan seorang kafir sebagai temannya, karena pertemanan ini akan mengakibatkan ia menerima pemikiran-pemikiran si kafir tersebut, tanpa meninjau dari sudut pandang kritis.

Sebaliknya, seorang pemuda Mukmin harus memilih seorang yang berakal, kontemplatif, sahabat mukmin yang memiliki kedalaman iman yang tinggi dan pandangannya menciptakan harmoni dalam kehidupannya. Dengan jalan ini, ia tidak akan berhadapan dengan segudang konflik antara memfungsikan jalan yang telah ia pilih untuk dirinya dan membingungkan pengaruh buruk sahabatnya.

Berhati-hati Terhadap Teman-teman Yang Jahat

Inti dari ide ini kemudian adalah seorang yang menggunakan pengaruh-pengaruh – antara pengaruh positif dan pengaruh negatif – dalam persepsi sahabatnya. Hal ini berhubungan dengan masalah pergaulan bagaimana seseorang memperlakukan dirinya dalam menghadapi lingkungan yang berbeda. Kita perhatikan di sini firman Allah Swt, ketika Dia menceritakan  beberapa potret hari kebangkitan; potret ini adalah sebagai hasil langsung dari ujian hidup manusia semasa ia tinggal di dunia. Pada hari itu  pendosa akan gigit jari dan Allah Swt berkata, “Duhai kecelakaanku! Seandainya aku memilih jalan Nabi! Celakalah diriku, sekiranya aku tidak pernah mengambilnya sebagai seorang teman yang menjermuskanku dari peringatan yang telah datang padaku. Dan Syaitan itu tidak lain kecuali pendusta bagi manusia.” (Qs. Furqan:27-29)

Dengan mengkaji contoh yang diberikan Tuhan kepada kita, kita mengamati bahwa seorang manusia menjalani kesedihan dan kedukaan dalam hidupnya sebagai sebuah akibat mengikuti jalan hidup yang menyesatkan. Cerita ini berlaku karena pengaruh pergaulannya yang menghendaki kejahatan darinya. Mereka memperalat rasa kasihannya, yang ia dapatkan setelah mencapai sebuah keadaan yang mendorongnya terjauhkan dari rahmat Allah Swt.

Sebuah Teladan Qur’ani

Sebagai misal, di dalam al-Qur’an terdapat sebuah topik umum yang membahas tentang siapa yang diikuti dan siapa yang mengikuti – dalam bentuk saran-saran kepada setiap orang yang hidup dalam lingkungan arogan dan tertindas. Barangkali kita dapat mengambil dari sebuah makna yang komprehensif untuk para pengikut, bahkan dari sudut pandang perasaan – seperti sebagai seorang suami yang mengikuti istrinya karena kasih-cintanya kepada istrinya, atau seorang istri terhadap suaminya, atau seorang sebagai seorang teman yang mengikuti konco-nya. Mereka yang diikuti akan menjelaskan kepada mereka yang mengikuti; Mereka akan melihat azab dan segala hubungan di antara mereka akan dihukum. Dan mereka yang mengikuti akan berkata, “Seandainya kami dapat kembali ke dunia pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” (Qs. al-Baqarah:167)

Kita dapat melihat, al-Qur’an menekankan bahwa pengikut juga memikul tanggung jawab, bahkan  bila terdapat tekanan-tekanan material atau emosional yang menyebabkan ia mengikuti mereka. Karena Tuhan menarik perhatian manusia kepada kenyataan bahwa mereka harus memanfaatkan sebaik mungkin kesempayan hidup  hidup di dunia dan melepaskan diri mereka dari keadaan-keadaan yang menekan. Kita menafsirkan hal ini dari ayat lain, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs.an-Nisa’:97)

Tatkala Allah Swt melemparkan tanggung jawab kepada orang-orang tertindas terhadap penyimpangan yang mereka lakukan, beserta orang-orang sombong dan kesalahan-kesalahan mereka, Dia menghendaki mereka menjauhkan diri mereka dari lingkungan yang merusak, sehingga mereka bisa terhindar dari tekanan-tekanan yang ada. Hal ini adalah bukti tersirat bahwa seseorang tidak dibenarkan menempatkan dirinya pada situasi yang menyebabkan dia tertekan perasaan dan material (badan) yang dapat membuat dia terpengaruh secara negatif. Dan ketika ia menjumpai dirinya dalam atmosfir demikian, ia harus lari, membebaskan dirinya dari keadaan tersebut.

Pedoman pendidikan ini, yang merupakan titik-tolak pandangan al-Qur’an, berhubungan dengan pengaruh manusia terhadap manusia lainnya. Seseorang harus menahan perasaanya sehingga ia dapat menghindar dari pengaruh orang lain yang menguasai dirinya. Ia harus melepaskan dirinya dari situasi yang menekan dan menggunanakan dasar bahwa ia belum matang keimanannya.

Teman-teman di Akhirat

Di dalam sebuah ayat disebutkan, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (Qs. az-Zukhruf:67). Dari pembahasan kita sebelumnya, kita telah mengerti bahwa pergaulan yang dibangun setiap hari di dunia ini akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Teman-teman yang biasanya berkumpul bersama di dunia menghabiskan waktu dan nganggur, berbuat curang, dosa dan sebagainya, akan berjumpa dengan hasil yang tidak dapat dihindari, setiap orang bertanggung-jawab karena telah menyebabkan orang lain tersesat. Dan ini merupakan sesuatu yang wajar bilamana pergaulan yang sehat berubah menjadi permusuhan; setiap orang yang dulunya terpengaruh oleh pergaulan yang menyebabkan ia tersesat dari jalan kebenaran akan mendapati temannya dahulu sebenarnya adalah musuh yang menyamar sebagai teman.

Akan tetapi orang yang bertakwa menolong setiap orang dalam kebaikan dan ketakwaan, menasihatkan kepada kebenaran dan sikap sabar, akan mempertahankan persahabatan mereka; karena persahabatan mereka merupakan persahabat positif, jalan mereka jelas menuntun kepada kebaikan dunia sekaligus kebaikan akhirat.

Hak-hak Sahabat

Sebuah pepatah berkenaan dengan interaksi sosial, “Sahabat sejati adalah sahabat yang membantu ketika kesusahan” dan “Dalam perantauan engkau tahu siapa saudaramu.” Apa yang menjadi hak yang dimiliki setiap sahabat kepada sahabat lainnya?

Artinya persahabatan berdasarkan pada suatu jenis kesatuan perasaan yang terjalin di antara dua sahabat. Ketika orang-orang berbicara tentang persahabatan, mereka berbicara tentang kesetiaan dan pengorbanan. Pepatah “Sahabat sejati adalah sahabat yang membantu ketika kesusahan” atau ” Dalam perantauan engkau tahu siapa sahabatmu ” mungkin berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang membantu untuk menunjukkan sifat sejati dari setiap manusia. Ketika kita refleksikan tentang persahabatan dan terma-terma yang terkandung di dalamnya dari perasaan-perasaan terhadap aspek keimanan, kita melihat Islam memberikan nasihat kepada setiap Mukmin untuk membuka diri terhadap saudaranya sesama Mukmin, bertukar-pikiran atas penderitaan saudaranya, mengatasi permasalahannya, memenuhi kebutuhannya, membantunya dalam segala urusan, melindunginya dengan raga, kekayaan dan kehormatan.

Insan Mukmin, dalam sebuah persaudaraan iman dipererat oleh ikatan persahabatan, mengenali keadaan saudaranya semasa dalam kesulitan dan himpitan serta seluruh kesukaran yang dihadapi oleh saudaranya.

Perintah Mengerjakan Shalat 

Firman suci Ilahi dalam al-Qur’an menyatakan, “Dirikanlah salat untuk mengingatku”. (Qs. Taha:14). Bagaimana perintah agung ini dapat berdaya guna? Dengan kata lain, apakah perintah ini adalah hasil yang diharapkan dari salat?

Ungkapan di sini tidak dapat ditafsirkan secara literal, arti leksikalnya; Ungkapan ini bermaksud bahwa setiap perbuatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan membuat sebuah keluarga taat kepada Allah Swt dan beribadah kepada-Nya. Hal ini berlandaskan pada pandangan bahwa salat melambangkan sebuah kekhasan, lambang aspek peribadatan kepada Allah Swt dan ketaatan pada-Nya. Kemudian, setiap orang harus melakukan apa saja yang perlu dalam bidang ini, dan jika dengan kata-kata tidak berhasil, lalu kita bisa melakukan tindakan atau perbuatan yang bisa memancing daya tariknya, ancaman; menciptakan lingkungan yang layak huni; memperingatkan akan bahayanya tempat-tempat yang tidak layak, atau dengan metode wajar lainnya.

Ungkapan dari ayat ini menandakan pemberdayaan indra ini melalui berbagai cara yang mungkin dilakukan; diharapkan bahwa setiap pendekatan digunakan oleh seseorang untuk meyakinkan yang lainnya – dengan perbuatan atau perkataan – tidak akan berhasil secara menyeluruh. Tak peduli betapa uniknya orang ini atau betapa berbaktinya dia kepada pemahaman yang dimiliki, selalu saja ada sisi intrinsik unik kepada orang yang ingin kita bimbing. Sebuah paradigma dalam reaksinya terhadap kata-kata atau gerakan-gerakan, atau lingkungan, dengan pengenaan sebuah titik-lemah dan titik-kekuatan dalam perilaku positif dan negatinya.

Tanggung Jawab Para Da’i

Islam mengarahkan setiap penyeru kepada jalan hak, para pengkhotbah, ” Engkau harus menyerahkan segala yang engkau miliki untuk membimbing orang lain, untuk mengubah cara berpikirnya dan meluruskan jalannya. Ketika anda melakukan perbuatan mulia ini, anda telah memenuhi kewajiban anda seperti yang di firmankan Tuhan dalam kitab-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah maniusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu merngerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. at-Tahrim:6) Dalam tafsir ayat ini, sebuah pertanyaan ditujukan kepada salah seorang Imam. Beliau ditanya: “Bagaimana kami menyelematkan mereka?”. Beliau berkata: “Perintah dan larang mereka.” Mereka berkata lagi: “Kami telah memerintahkan dan melarang mereka, namun mereka tidak mentaati kami”. Beliau berkata: “Jika anda telah memerintahkan dan melarang mereka, anda telah memenuhi tugas anda.”

Imam dalam jawabannya sehubungan dengan tafsir ayat ini tidak bermaksud perintah dan larangan kosong. Tetapi, beliau bermaksud bahwa perintah dan larangan itu sebagai dua hal yang dapat dilakukan melalui kata, perbuatan atau lingkungan. Oleh karena itu, lakukan apa yang dapat anda lakukan demi memenuhi kewajiban anda dan laranglah mereka dari apa yang dilarang oleh agama atasnya. Ketika anda telah mencoba melakukan berbagai pendekatan dan kemudian gagal, tanggung jawab anda telah lepas.

Hal ini senada dengan apa yang difirmankan Allah Swt kepada Nabi-Nya, “Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan.” (Qs. al-R’ad 1:7); “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (Qs. al-Ghashiyah:21); “Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Qs. Yunus:99) Kewajiban anda adalah memastikan bahwa anda telah melakukan hal yang menjadi tanggung jawab anda, dan ketika anda telah melakukannnya, anda terlepas dari tuntutan.

Berdasarkan prinsip di atas, kita berkata “memerintahkan” memberikan makna bahwa aspek fungsional yang dipraktikkan seseorang dengan segala cara untuk mewujudkan tujuan ini, langsung atau pun tidak langsung, dengan sepenuhnya menyadari bahwa hal ini niscaya akan berhasil guna dalam suasana yang alamiah. Melakukan tindakan dengan pengaruh-pengaruh ini, pertanggungjawabannya akan dipikul oleh orang lain.

Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Pada ayat lain, Allah Swt berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan adil..” (Lukman:15) Bagaimana mungkin bagi seorang anak mukmin dapat membangun ikatan persahabatan melalui perbuatan baik dan adil kepada seorang ayah atau orang tua yang bukan mukmin?

Jika kita mengkaji pendekatan Islam yang membahas tentang hubungan antara anak dan orang tua, kita tidak menemukan dalil bahwa Tuhan menitahkan setiap orang untuk mentaati orang tua mereka. Hal ini dikarenakan ikatan yang terajut antara orang tua dan anak adalah ikatan kebaikan (ihsan) yang turun dari orang tua kepada anak; bukan keadaan yang menuntut sebuah perbuatan kepada orang tua yang melenyapkan totalitas wujud anak, dalam menghormati keingingan orang tua.

Lalu, reaksi terhadap sikap ihsan ini pada pihak orang tua adalah bahwa anak harus bersikap ihsan terhadap orang tuanya; bukan bahwa ia harus senantiasa mentaati mereka. Kita amati dalam al-Qur’anul Karim, Allah Swt mengalamatkan masalah ini pada surat al-Isra, dengan bahasa yang indah, “Dan Tuhanmu memerintahkan supaya kamu jangan menyembah sellain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Qs. al Isra’:23) Dalam ayat ini, Allah Swt menunjukkan hubungan peribadatan antara hamba (‘âbid) dan Tuhannya, antara yang diciptakan (makhluq) dan Sang Pencipta (khâliq), hamba kepada Tuhannya, maujud dan Yang mewujudkannya.  Jalinan hubungan ini memerlukan peribadatan dan ketundukan, karena eksistensimu bersumber dari kehendak-Nya. Oleh karena itu, tindakan anda dan keberadaan anda harus sesuai dengan kehendak-Nya.

Tugas Penting Orang Tua

Pada sisi lainnya, masalah menjadi berbeda pada pihak orang tua, karena merekalah wasilah sehingga kita bisa hadir ke dunia ini. Dan Tuhan yang menyimpan rahasia hidup dalam nutfah (sperma) kemudian menjadi sebuah ‘alaqa kemudian mudgha (segumpal darah), lalu terbentuk menjadi ‘azâma (tulang); lalu membalut tulang-tulang ini dengan lahma (daging); lalu menjadikannya ke dalam bentuk ciptaan  yang lain.

Dan tatkala anak lahir, Allahlah yang memberikan ASI pada payudara sang ibu. Kemudian, peranan orang tua, sebagai wasilah; bukan kehendak mereka yang menjadikan engkau wujud. Lalu, dengan dalil ini, kedudukan mereka sebagai orang yang berbuat kebaikan kepadamu, dan beranjak dari sini kita melangkah kepada ayat yang mengatakan, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan.” (Qs.ar-Rahman:60) Dari sini, kita melihat bahwa hubunganmu dengan orang tua adalah hubungan kebajikan, sebagaimana tertuang dalam firman suci Ilahi, “Jika salah seorang dari mereka atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan jangalah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan  rendahkan dirimu terhadap mereka berdua dengan kasih dan ucapkanlah:  “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Qs. al-Isra’:23-24)

Di sini Allah Swt membangun jalan bagi seseorang sehingga ia dapat menghadapi setiap sifat-sifat cacat yang boleh jadi dimiliki orang tua ketika berusia senja, ketika mereka lebih mudah marah, ketika orang tua menjadi beban bagi si anak. Hal ini merupakan alasan mengapa Allah mewahyukan kepada anak bahwa sikapnya terhadap orang tua seyogyanya berbentuk kerendahan hati, tapi bukan merendahkan harga diri dan kemanusiaannya. Persis sebagaimana seseorang merendah kepada anak kecilnya.

Dalam konteks wacana Tuhan dalam perjuangan yang dihadapi oleh sang ibu, Allah berkata kepada kita dengan firman-Nya, “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”  (Qs. Luqmân:14), dan “Ibunya mengandungnya dengan susah-payah dan melahirkannya dengan susah-payah pula….” (Qs. al-Ahqâf:15) Dengan demikian si anak berjuang demi orang tua dan orang tua berjuang demi si anak.

Tanggung Jawab Terhadap Orang Tua

Kita pahami bahwa hubungan tersebut adalah salah satu perbuatan baik (hasanah), yaitu, mereka melakukan apa yang terbaik dan kini, anak harus berbuat baik kepada mereka. Dalam konteks ini, ketika kedua orang tua adalah orang tidak beriman, pendosa, anak harus berpandangan seperti yang dituntut oleh Qur’an, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Qs. Luqman:15) dan juga pada firman-Nya, “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) baik kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksanya untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (Qs. al-Ankabut:8) Hal ini karena tidak dibenarkan untuk mengikuti seorang kafir, hatta orang itu adalah ayah atau ibunya.

Akan tetapi kekafiran, politeisme dan perbuatan dosa seharusnya tidak menghilangkan anda dari hubungan kemanusiaan yang Allah Swt telah perintahkan kepada anda. Salah satu sisi dari persahabatan ini disinggung dalam Al Quran, “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ” ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataaan-perkataan yang mulia.” (Qs. al-Isrâ’:23) Barangkali dalam beberapa waktu tertentu meluangkan waktu bersama mereka, melepas rindu, mencium dan memberi senyum kepada mereka, merawat mereka bila sakit, dan sebagainya. Memberikan perhatian kepada seorang anak manusia selama hidup disertai dengan perasaan kasih dan sayang.

Mengubah Cinta menjadi Bimbingan

Dalam mencermati masalah ini, boleh jadi bagi seorang Mukmin membuat rencana untuk mengubah keadaan ini menjadi sebuah metode bimbingan untuk orang tuanya, sebagaimana kita lihat dalam kisah yang disandarkan kepada Imam Sadiq, ketika seorang Kristen datang kepadanya dan memeluk Islam. Orang itu berkata kepada Imam: “Aku memiliki seorang ibu yang masih beragama Kristen; Bagaimana seharusnya aku bersikap kepadanya, aku telah memeluk Islam sementara dia masih Nasrani?” Imam berkata: “Bagaimana engkau dulu memperlakukan dia semasa engkau masih Nasrani, maka kini, perlakuanmu kepadanya harus lebih baik lagi.”

Orang itu pergi dan mengerjakan apa yang dinasihatkan Imam kepadanya. Perhatiannya kepada ibunya lebih tercurah dari biasanya. Ibunya terheran dengan perlakuan anaknya itu. Ia berkata: “Apa gerangan maksud semua ini? Engkau dulu berbuat baik kepadaku, tapi kini engkau bertambah baik kepadaku; apa yang telah membuat berubah?” Si anak itu lalu menjelaskan bahwa ia telah memeluk agama Islam, dan pemimpin agama ini mengajarkan kepadaku untuk berbuat seperti ini. Ibunya berkata: “Apakah ia seorang nabi?” Anaknya menjawab: “Tidak, beliau adalah keturunan seorang nabi. Ibunya berkata, ajaran-ajarannya menunjukkan akhlak para nabi, wahai anakku, jelaskan padaku tentang agamamu!” Lalu si anak itu pun menjelaskan kepada ibunya tentang Islam, dan si ibu akhirnya memeluk Islam

Dari kisah ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa anak Muslim, dalam mencurahkan cinta, kasih dan kebaikannya kepada orang tua yang pendosa atau kafir, dapat secara jelas menerangkan perbuatannya dan perasaannya yang mengubah dan menghasilkan keterbukaan kepada jalan kebaikan.

Ridha Orang Tua … Apakah Ada Batasnya?

Dalam masalah ini, bagaimana kita dapat menjelaskan hadits ” Rida Allah berada pada rida orang tua?”

Kita seringkali mendengar adagium ini, tanpa mengetahui secara pasti apakah ia hadits atau bukan. Akan tetapi perkataan ini tidak lain bahwa Allah Swt menghendaki setiap orang mencari rida orang tuanya. Tujuan dari keridaan orang tua, betapapun, harus dalam kerangka ketaatan kepada Allah Swt. Dan apabila, misalnya, orang tua mengajak kepada kerusakan, memerintahkan anaknya untuk melakukan perbuatan dosa, yang merugikan anak itu sendiri, atau membuat si anak menyimpang dari jalan ketaatan kepada Allah Swt. Karena Allah Swt tidak menghendaki setiap orang untuk didikte oleh orang lain, menciptakan masalah bagi agamanya dengan meninggalkan perintah Allah Swt dan mengerjakan larangannya, dan sebagainya.

Dari sini, kita dapat memahami bahwa keridaan Allah adalah keridhaan orang tua – mencari keridaan mereka dalam ketaatan kepada Allah Swt yang telah menjadi hak orang tua kepada anaknya. Merupakan sebuah hal yang penting bahwa anak memperlakukan dirinya pada tingkatan Ilahia; karena Allah Swt tidak akan pernah rida hingga orang tua rida kepada anda. Hal ini disebabkan jika si anak tersesat dari jalan kebenaran dan menghantam orang tuanya, sehingga gagal untuk berbuat baik kepada mereka, maka ia tersesat dari jalan Allah Swt.

Harmonisasi Perkataan dan Perbuatan

“Hai orang-orang yang beriman. mengapa kamu megatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Qs. as-saff:2-3).  Apakah larangan dalam ayat ini bersifat mutlak perkataan yang tidak seiring-sejalan dengan perbuatan, atau merujuk kepada niat suatu perkataan yang tidak disertai dengan perbuatan?

Ayat di atas bermakna bahwa harmoni antara perkataan dan perbuatan adalah wajib; atau antara iman (dengan asumsi bahwa perkataan itu adalah pengakuan iman) dan perbuatan sejati – yang diwajibkan kepada setiap mukmin oleh Imam.  Hal ini bersandar pada wilayah yang meniscayakan harmoni perkataan dengan iman. Seakan-akan Allah Swt berkata, “Engkau manusia mengakui keimanan. Namun engkau tidak berbuat sesuatu yang membuat seperti apa yang diwajibkan atasmu, dalam arti perbuatan yang seharusnya engkau berjuang di jalan Allah Swt. Tetapi imanmu adalah iman abstrak  tidak terterjemahkan dalam bentuk perbuatan. Dan Allah Swt tidak menyukai mereka yang mengakui affiliasi kepada-Nya, jalan-Nya dan agama-Nya, namun tidak mentaati perintah-Nya untuk menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan.

Namun, jika masalahnya adalah berkata-kata untuk sebuah tujuan tertentu untuk menyelamatkan Islam – untuk melindungi keislamannya atau menjaga suatu daerah Islam, berkata-kata yang ia tidak yakini atau bersikap atas sesuatu yang tidak yakini – maka berkata-kata atau sikap semacam ini tidak termasuk kategori yang dikecam dalam ayat ini. Mengapa? Karena jika kita pahami bahwa wajib bagi anda untuk menyeimbangkan antara iman dan perbuatan, dalam perkataan itu adalah pengakuan iman, lalu seseorang yang membuat sebuah pernyataan atas sesuatu yang  tidak ia yakini, atau bersikap tidak meyakini, tidak membuat ia keluar dari wilayah iman, atau pernyataannya yang dibuat berdasarkan watak iman memaksa ia untuk berbuat demikian.

Allah Swt menghendaki bagi setiap Mukmin untuk bersikap (fleksible) untuk mencapai tujuan yang lebih mulia. Di sini, masalah perkataan yang berseberangan dengan perbuatan berbeda berdasarkan skenario atas peristiwa apa perkataan itu disampaikan. Apakah ia sebuah skenario yang sesuai dengan kehendak Ilahi, atau apakah Allah Swt menghendaki orang itu berkata-kata hanya demi menjaga diri, meskipun perkataan ini tidak mencerminkan keimanan sejati seseorang?

Pengasingan Sosial

            Apakah “Ashabul Kahf” merasakan perasaan tertentu atau mereka sendiri yang memilih untuk mengasingkan diri untuk beberapa waktu tertentu?

Jika kita renungkan tentang Ashabul Kahf, kita dapati dua kemungkinan dari masalah ini. Pertama adalah keadaan yang begitu menekan dan berbahaya sehingga mereka takut kalau-kalau penguasa zalim menyiksa mereka lantaran agama yang mereka anut, dan memaksa mereka untuk melakukan perbuatan kufr; sehingga mereka terpaksa harus menderita di dalam lingkungan seperti ini lalu mereka tidak kuasa lagi menahannya dan mengasingkan diri ke gua.

Sebelumnya, kita telah menimbang firman-firman Ilahi berkenaan dengan kaum tertindas yang terpaksa berbuat dosa dan malaikat membawa mereka hingga mati. Kita saksikan betapa Allah Swt menghendaki mereka untuk melakukan hijrah dan lari dari tekanan mereka, menyalahkan mereka dalam proses. Apakah mungkin asumsi ini juga berlaku pada Ashabul Kahf?

Kemungkinan kedua adalah mereka menginginkan untuk mempersiapkan gebrakan baru, mereka bersembunyi untuk beberapa waktu lalu muncul kembali memasuki sebuah lingkungan yang baru. Ada beberapa keadaan yang berlaku seperti ini. Allah Swt ingin menjadikan keadaan mereka sebagai ibrah (pelajaran) untuk orang-orang Mukmin yang datang setelah mereka, dan menunjukkan bahwa Allah Swt menyelamatkan hamba-Nya dengan cara yang berbeda, sesuai dengan hikmah-Nya.

Ibadah dalam Artian Luas

“Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepada Ku.” (Qs. al-Dzariyat:56) Apakah ibadah ini yang menjadi maksud Allah Swt menciptakan kita?

Kalimat “ibâdah” dalam ayat ini berarti ketundukan mutlak. Dengan kata lain, Allah Swt memerintahkan kepada jin dan manusia hanya beribadah kepada-Nya dan keingingan mereka untuk tunduk di bawah kehendak-Nya. Ibadah jin dan manusia haruslah sesuai dengan perintah dan larangan dari Allah Swt. Seluruh hidupnya selama tinggal di dunia ini harus terbangun atas kehendak Allah Swt karena Dia telah mengamanatkan kekhalifaan di muka bumi kepada umat manusia.

Seterusnya, kita jumpai bahwa “ibâdah” meliputi segala yang tercakup dalam perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Istilah ibadah ini termasuk segala yang dilakukan semata mencari keridhaan dan cinta Ilahi dalam kehidupan ini. Ini apa yang dapat kita pahami dari hadits yang menyatakan: “Ibadah terbagi menjadi tujuh puluh bagian, dan yang terbaik adalah mencari rezki yang halal”; “Sebaik-baik ibadah adalah ‘ifaf (menjaga keutamaan)”; “Tidak ada ibadah yang paling utama di sisi Allah kecuali menjaga perut (‘iffat al-batn) dan menjaga kemaluannya (‘iffat al-farj).” – atau hadits yang berbicara tentang pencarian ilmu sebagai ibadah. “Berpikir sesaat lebih utama dari ibadah setahun.” Sebuah renungan merupakan bentuk ibadah yang lebih baik dari ibadah setahun, yaitu ibadah yang tidak disertai dengan perenungan.

Memahami Kehendak Tuhan

Kita tegaskan bahwa ibadah kepada Allah Swt, yang diwajibkan kepada bangsa jin dan umat manusia, merupakan tujuan hidup yang terdiri dari perwujudan kehendak Tuhan di alam semesta ini. Kita dapat menafsirkan dari firman Allah Swt tentang hikmah diutusnya para rasul dan diturunkannya wahyu: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Qs. al-Hadid :25). Ayat suci ini menjelaskan kepada kita bahwa tujuan dibalik diutusnya para rasul adalah untuk mengajarkan kepada manusia keadilan. Atas alasan ini, para rasul diutus kepada umat manusia untuk menjelaskan secara terang apa yang dikehendaki Tuhan dari kita, yaitu untuk memperlakukan diri kita dengan baik dan adil.

Meraih Keadilan di Alam Semesta

Adalah mungkin untuk berkata bahwa berbuat kebaikan dan mencapai keadilan di alam semesta merupakan salah satu fungsi ibadah yang dikehendaki oleh Allah Swt kepada setiap hamba-Nya. Karena ayat yang disebutkan tadi tidak memberikan makna ibadah secara populis (masyhur), Allah Swt menciptakan jin dan manusia untuk menegakkan salat atau mengerjakan puasa, karena fungsi ibadah melebihi keduanya. Sebagaimana yang kita ketahui, para fuqaha menyatakan bahwa setiap perbuatan oleh seorang abid dimaksudkan semata untuk mencari keridaan Allah Swt dan mendekat kepada-Nya dikategorikan sebagai ibadah.

Pemuda Qur’ani

” Kita membutuhkan pemuda Qur’ani..sebuah Generasi Qur’ani…”

Bagaimana kita dapat mewujudkan harapan ini?

Ketika anda menggunakan kalimat “Generasi Qur’ani” dan “Pemuda Qur’ani”, anda merujuk kepada konsep Qur’an yang merefleksikan tindakan-tindakan pemuda, apakah ia adalah konsep doktrinal, gagasan ibadah, konsep etis, atau konsep dasar amal. Oleh karena itu, kami meminta kepada para pemuda untuk membuka diri mereka kepada al-Qur’an melalui kajian kontemplatif, sedemikian rupa sehingga petunjuk-petunjuk Qur’an itu dipahami berdasarkan cerminan kajian motivasional, bukan petunjuk gersang yang berdasarkan imitasi yang semata merujuk kepada sebuah pemamahan literal dari teks-teks suci al-Qur’an.

Para pemuda kita yang hidup di atas jalan Islam, dan penyebaran agama dapat berjalan menjalani pengalaman   oleh para pemuda yang aktif pada masa awal dakwah Islam, masa pewahyuan Qur’an. Mereka melakukan ini berdasarkan pada perspektif bahwa Qur’an merupakan elemen aktif Ilahi yang memotivasi pandangan dan amal perbuatan para pemuda; memadai untuk menghadapi panggilan Allah Swt dengan penuh rasa tanggung jawab dan menghadapi dunia.

Masalahnya kemudian adalah bahwa hendaknya generasi muslim menguasai al-Qur’an, pada tataran pola-pikir, perasaan dan melalui amal perbuatan, dalam aktivitas keseharian mereka, sehingga Rasulullah dapat menjadi teladan bagi mereka dalam usaha ini. Kita ketahui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh istri Rasulullah Saw dalam menjelaskan akhlak agung beliau, “Sifatnya adalah al-Qur’an.” Sifat kita pun harus Qur’ani, sehingga memungkinkan bagi orang-orang melihat dalam kehidupan kita sebagai perwujudan fungsional dari konsep Qur’ani ini. []

Mutiara Hadits

Tentang Hawa Nafsu

Rasulullah Saw bersabda:

·         “Adalah mungkin bahwa sesaat menuruti hawa nafsu menuai penderitaan sepanjang masa.”

Imam Ali As bersabda:

·               “Menuruti hawa nafsu merusakkan akal.”

·               “Syahwat adalah racun mematikan.”

·               “Surga dihiasi dengan kesusahan, Neraka dihiasi dengan kesenanga syahwat.”

·               “Kemiskinan merupakan akar kejahatan.”

·               “Allah Swt akan menghinakan kepada mereka yang asyik  dalam kemaksiatan pada-Nya.”

·               “Nafsu adalah ma’bud, dan akal adalah teman yang terpuji (mahmud).”

·               “Jika engkau tunduk kepada hawa nafsumu, ia akan membuatmu buta dan tuli, dan merusak akhiratmu.”

·               “Pertama kali nafsu adalah kebahagiaan, dan selebihnya adalah penderitaan.”

·               “Jinakkan hawa nafsumu karena ia adalah lemah; jika engkau tunduk patuh kepadanya, ia akan menjerumuskanmu ke dalam kubangan raksasa.”

·                     “Membangkang terhadap perintah hawa nafsu adalah jihad akbar.”

Imam Sadiq As bersabda:

·               “Berhati-hatilah akan hawa nafsu sebanyak hati-hatimu terhadap musuh-musuhmu, karena tidak ada yang lebih harus dimusuhi oleh manusia kecuali hawa nafsu.”

Dalam Pertemuan Majelis

Rasulullah Saw bersabda:

·               “Berteman dengan orang-orang jahat tempat berkumpulnya kejahatan.”

·               “Bertemanlah dengan orang saleh, karena jika engkau dalam kebaikan, mereka akan memujimu, dan jika engkau berbuat salah, mereka tidak akan mengecammu.”

·               “Bertanyalah kepada para ulama, sampaikanlah hikmah dan duduklah bersama dengan orang-orang fakir.”

·               Nabi ‘Isa ditanya oleh murid-muridnya: “Wahai Ruhullah!” dengan siapakah kami harus berteman?” Nabi ‘Isa menjawab: “Dia yang ketika engkau melihatnya, engkau ingat akan Allah Swt dan ketika ia berbicara, bertambah ilmu pengetahuanmu dan perbuatannya mengingatkan engkau akan kampung akhirat.

Imam Ali As bersabda:

·               “Sahabat yang baik merupakan nikmat (anugerah); sahabat keji adalah niqma (bencana).

·               “Duduk bersama ulama mendatangkan keberuntungan.”

·               “Duduk bersama dengan orang fakir, akan membuat engkau semakin bersyukur.”

·               “Berteman dengan orang-orang yang menuruti hawa nafsunya mengabaikan iman dan memelihara kejahatan.”

·               “Menjauhlah dari sahabat-sahabat yang jahat, dan bergaullah dengan orang-orang baik .”

Imam Ali Zainal Abidin As bersabda:

·               “Duduk dalam suatu majelis beserta dengan orang saleh adalah ajakan kepada kejayaan.”

·               Luqman berkata pada anaknya: “Wahai anakku!” Duduklah bersama ulama, dan bersimpuhlah di hadapan mereka, karena Allah Swt menghidupkan hati dengan cahaya hikmah, sebagaimana air hujan menghidupkan bumi persada.”

Rasa Malu

Rasulullah Saw bersabda:

·         “Rasa malu mendatangkan kebaikan.”

·         “Rasa malu adalah salah satu jalan dari jalan-jalan Islam.”

·         “Allah Swt mencintai orang yang memiliki rasa malu (muta’afifah), dan membenci orang yang tidak memiliki rasa malu, banyak meminta (mulhif).”

·         “Sekiranya rasa malu itu seorang pria maka ia akan menjadi orang yang saleh.”

Imam Ali As bersabda:

·         “Rasa malu adalah sebuah jalan menuju segala keindahan.”

·         “Siapa yang menjadikan rasa malu sebagai busananya, ia telah menyembunyikan kesalahannya.”

·         “Rasa malu merendahkan pandangan.”

·         “Sebaik-baik busana di dunia ini adalah rasa malu.”

·         “Tidak ada kemungkaran pada sesuatu kecuali mencoreng, tidak ada sesuatu pada rasa malu kecuali keindahan.”

Imam Musa Kazim As bersabda:

·         “Rasa malu dari iman, iman dari firdaus, kebencian dari kemurkaan dan kemurkaan dari jahannam.”

Dalam Hubungan Sosial (mu’âsyarah)

Rasulullah Saw bersabda:

·          “Ada orang yang mengikuti agama sahabatnya, berhati-hatilah kepada siapa engkau berteman.”

Imam Ali As berkata:

·         “Berikan darah dan hartamu untuk saudaramu, keadilan dan objektifitas terhadap musuhmu, dan amal saleh dan perhatianmu kepada masyarakat umum.”

·         “Cintailah sahabatmu sekedarnya saja, karena boleh jadi ia akan menjadi musuhmu; Musuhilah musuhmu sekedarnya saja, karena boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang kecintaanmu.”

·         “Perlakukan saudaramu dengan berbuat baik kepada mereka, dan tutuplah kesalahan-kesalahan mereka dengan maaf.”

·         “Menunjukkan cinta kasih kepada masyarakat adalah puncaknya akal.”

·         “Kasih sayang menambah cintah.”

·         “Kemuliaan dalam interaksi sosial melestarikan  cinta.”

·         “Jangan sampai engkau mengeluarkan sahabatmu dari rasa cinta padamu ,dan tetap tunjukkan persahabatanmu karena kepadanya niscaya ia akan kembali.”

·         “Hati terbangun dalam interaksi sosial bersama dengan orang-orang arif-bijak.”

·         “Menjalin persahabatan dengan orang-orang saleh memberikan kehidupan kepada hati.”

·         “Hubungan sosial menyingkap aspek-aspek tersembunyi dari karakter seseorang.”

·         Imam Ali As memberikan nasihat kepada putranya Hasan As: “Cintailah saudaramu apa yang engkau cintai dari dirimu, dan bencilah ia apa yang engkau benci dari dirimu.”

Diterjemahkan oleh A. Kamil dan Syamsul Arif dari Dunya Syabab, karya Allamah Sayid Muhammad Husain Fadhullah Hf. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: