Dunia Kawula Muda [pengantar]

SEKAPUR SIRIH

 “Aku nasihatkan engkau agar berbuat baik kepada kaum muda, karena mereka memiliki hati yang lembut.”

Nasihat indah ini adalah sabda Nabi Saw. Tetapi berapa banyak orang tua dan para pemerhati pendidikan telah mendengarkan dengan seksama nasihat ini? Jika mereka mengamalkan nasihat kudus ini, dalam interaksi mereka dengan kaum muda  yang merupakan representasi tingkat usia subur, maka kita  akan mendapatkan hasil yang mujarab!

Di sini bagaimana para psikolog, pendidik dan sosiolog mempersembahkan temuan mereka dalam mencermati masalah kaum muda:

Pandangan para psikolog, tingkat usia muda sebagai salah satu tingkat krisis kepribadian dan perjuangan terhadap beragam pengaruh dan reaksi dari luar. Mereka berpandangan kaum muda sebagai kaum remaja; sebuah tingkat usia yang mendatangkan kekhawatiran, kebingungan, depresi, agitasi dan kesulitan-kesulian yang lain yang dapat dijumpai dalam kamus-kamus psikologi.

Para pakar pendidikan percaya bahwa krisis (dengan anggapan bahwa kami menyampaikan kepada mereka yang percaya tentang adanya krisis ) merupakan sebuah struktur dan perkembangan, dan tanggung jawab terletak di pundak institusi-institusi pendidikan – yang fungsi dasarnya adalah membangun fondasi dari struktur dan membina metode dan bentuk untuk pembelajaran selanjutnya.

Apakah masa muda memang benar sebuah masa krisis?

Kami tidak percaya hal ini.

Jika kita sepakat bahwa masa muda adalah sebuah masalah atau krisis, maka masalah itu tidak terletak pada pemuda itu sendiri, karena mereka  (memiliki hati yang lembut) sangat peka, pemurah, beritikad baik. Mereka siap untuk memahami dan berkompromi dengan dunia di sekelilingnya. Pemuda bukanlah sebuah masalah. Tetapi, masalahnya adalah mengetahui bagaimana bisa akrab dan bekerja bersama mereka.

Pemuda – putra atau putri – tidaklah bandel, dalam keadaan bingung secara alamiah, atau kasar. Tetapi sebaliknya, lingkungan dan milieu menjadi rumah, sekolah, jalan atau institusi. Seseorang boleh jadi tidak secara pantas bergaul dengan ketajaman perasaan kaum muda dan sebaliknya memperlakukan mereka dengan kasar dalam menghadapi kekasaran mereka. Seseorang boleh jadi keliru dalam berhubungan dengan orang lain  yang baru saja meninggalkan masa kecil memasuki masa remaja. Kaum muda bisa saja melihat sebagaimana anak kecil yang masih saja senang bermain. Kata-kata pujangga dibawah ini barangkali tepat untuk mereka yang terlibat dalam bidang ini:

Laila tetaplah belia dimataku,

Karena kemarin, ia belum tumbuh dewasa kecuali seukuran jari

Jika ini sebuah analogi, maka anda tidak seharusnya berharap dari mereka yang bekerja dengan pemuda kecuali meletakkan beban dan memberlakukan larangan-larangan – menghunus pedang untuk mencegah hal-hal yang Tuhan tidak pernah berikan wewenang kepada mereka, sehingga orang-orang menjadikan mereka sebagai teladan.

Kami mengajak kalian, wahai orang tua, para guru, pakar pendidikan, mereka yang membenarkan keadaan, membaca kolom dari surat kabar dan majalah yang mengatakan : “Aku inginkan jalan keluar”, ” masalah-masalah dan solusi-solusi “, atau ” tuntun aku.” Anda akan melihat pada diri anda sendiri bahwa masalah yang lebih besar terletak pada kesalahpahaman dan pergaulan yang buruk.

Dalam keadaan seperti ini, apa yang akan terjadi?

Kaum muda- putra dan putri –  bersandar kepada orang-orang yang dekat pada mereka, kawan seusianya. Dan di sini ia menjalani pengalaman yang kurang dan tidak memadai untuk dirinya, mereka mencari solusi-solusi imaginer dari film atau sinetron; atau solusi-solusi yang lain dari surat kabar yang mencermati masalah kepemudaan dari sebuah perspektif yang boleh dikatakan – setidaknya – tidak Islami.

Kaum muda akan menjadi pemuda yang suka berdiam diri, memuaskan dirinya di balik pintu kamarnya, sebab lingkungan yang menggerahkan menyebabkan ia salah dimengerti dan diperlakukan. Di dalam kamarnya yang tertutup, ia memanjakan dirinya dengan fantasi-fantasi seksual dan mental – terkadang berkhayal saat-saat datangnya pengertian dan hubungan. Lain waktu, suasana hatinya berubah dari suatu kebencian dan amarah, menunjukkan sikap menjauh, permusuhan, atau sikap berlebihan terhadap berberapa hal.

Mengapa kita memaksa mereka terjerembab dalam sebuah sikap negatif?

Tidakkah akan lebih baik membuka ruang hati kita untuk mereka, bersikap hangat pada mereka, berbicara santun dan lebih terbuka – berbicara kepada mereka dalam bahasa yang berasaskan pada:

Kami sangat mencintaimu dan perhatian padamu, kami tidak ingin engkau terpuruk dalam kesalahan atau tidak sadar akan kesalahan. Jalani hidupmu dengan ruh zamanmu. Tetapi ia yang ingin mengambil jalan, jalurnya ia tidak ketahui, seharusnya jeda sejenak dan bertanya: “Dimanakah ada jalan?” Jika tidak, ia akan menyimpang dan tersesat dari jalan kebenaran…Kami tidak ingin mendikte atau memaksamu….renungkanlah nasihat dari kami, ketulusan bimbingan kami, kami lebih dekat padamu melebihi siapapun di sekelilingmu..kebahagianmu adalah kebahagian kami..dan dukamu adalah duka kami..mari kita hidup bersama sebagai seorang teman.

Hal ini  dapat dicapai dengan adanya kesepahaman di antara kita dan mereka, titik di mana kita dapat berkata: “Mari kita bekerja bersama sebagai seorang teman.” Hal ini merupakan saat-saat yang didambakan, dan poin utama yang menuntun kita kepada jalan keluar dari masalah ini adalah manusiawi, mencerminkan hikmah dan nasihat yang baik. Tidak sebaliknya, memutuskan dialog dengan cara diktatorial.

Apa yang harus kita cari dalam berhubungan dengan kaum muda adalah pengertian dan kesepahaman. Dan kita harus bertanya kepada diri kita sendiri jika berada di rumah kita menikmati hubungan ini dengan dasar ketulusan dan kasih sayang. Jika kita melakukan hal ini, kita akan hidup dengan bahagia, pun demikian dengan anak-anak kita.

Di sekolah-sekolah kita, pertemuan-pertemuan dan institusi-institusi, metodologi yang digunakan  adalah sikap positif terhadap para siswa sesuai dengan persamaan-persamaan berikut ini:

Pemuda=Harapan

Pemuda=Ambisi

Pemuda=Konfidensi

Pemuda=Dinamis

Pemuda=Iman

Jika persamaan-persamaan ini sahih, kita harus mempersembahkan kepercayaan yang berharga pada mereka.

Kita tidak sepakat dengan persamaan-persamaan :

Pemuda=Tidak bertanggung jawab

Pemuda=Kebingungan

Pemuda=Tersesat

Pemuda=Pengecut

Pemuda=Merusak segala yang diberikan padanya (sungguh pun ini telah kuno)

Kita adalah orang yang berpandangan bahwa :


Pemuda=Amanah

Pemuda=Kesediaan waktu untuk

menganalisa dan menanggapi

Dan bahwa :

Pemuda=Pembangunan,pengembangan

Pemuda=Harapan,cita-cita

Pemuda=Hidup, Realita Dinamis

Yang dapat menarik akar-akar peniruan membabi-buta, penyimpangan, dan tidak bermoral. Persamaan-persamaan diatas menciptakan suatu keadaan yang lebih baik dari satu atau seseorang yang seorang pemuda temukan sendiri inheriting.

Ia dapat mengetahui posisi ia yang sebenarnya dipandang dari segi harga-diri, yang merupakan perkara yang tidak dapat dibayangkan tanpa pengetahuan yang memadai tentang agama kita Islam. Islam akan menjadi jaminan bagi kita atas apa yang baik dalam kehidupan dunia ini dan akhirat kelak. Islam yang akan memecahkan seluruh permasalahan dan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi.

Dari sudut pandang Islam, kita memahami bahwa masa muda, yang mewakili tingkat pertengahan masa hidup, bersandar pada perenungan, proses penghayatan dan bimbingan. Jika tidak, bagaimana sang pemberi hukum yang suci membuat pemuda secara hukum bertanggung jawab sesuai dengan syari’at. Apakah arti semua ini dipandang dari sisi akal, ketaatan, bukti, dan hukuman, jika si pemuda tidak dapat memikul tanggung jawab ini? Tetapi bagaimana bentuk tanggung jawab itu? Itu adalah tanggung jawab syari’at dan khalifah yang menempatkan pemuda dalam tingkatan dari mereka yang dibebani tanggung jawab dengan kapasitas yang sama. Mereka akan – pada hari kiamat kelak – akan berdiri bersama untuk diadili, tidak pada kriteria bahwa orang ini tua dan orang itu muda, tetapi mereka akan diadili kelak berdasarkan tanggung jawab yang sama yang diberikan pada mereka.

Namun apa yang patut diperhatikan di sini yang berhubungan dengan membina lingkungan Islami adalah kita sewaktu-waktu meninggalkan anak-anak pada tujuh tahun pertama, kemudia kita meninggalkan mereka pada usia tujuh tahun kedua; dan kita menambahkan lagi dengan tujuh tahun ketiga masa perkembangan mereka, tanpa membina mereka sesuai dengan tingkat pemikiran sebagaimana yang disunnahkan – sebutlah bahwa kita mendisiplinkan mereka pada usia tujuh tahun keduam dan menjadi sahabatnya pada usia tujuh tahun ketiga.

Kita melupakan – dan terkadang sengaja melupakan –  masa mereka menjalani pubertas atau mengenainya pada masa-masa awal perkembangan usia mereka. Menggembleng mereka untuk memasuki dunia pemuda, sebuah jalan masuk yang baik dan tanpa kesulitan ataupun pembangkangan. Memasuki dunia ini dengan mata buta, menemukan segalanya disekelilingnya asing dan sukar, berbeda dengan bimbingan kedua orang tuanya. Pada masa usia tujuh tahun kedua, ia telah berhubungan dengan dunia luar dengan beberapa cara, dan telah ditunjukkan padanya beberapa karakter umum dari dunia luar itu. Ini adalah perbedaan antara orang yang telah menyesuaikan diri dengan keadaan dan orang yang terpesona karena kesan pertama. Hal yang terdekat pada usia dini, pada usia TK, sebagai masa jelang sebelum masuk SD.

Memang Syariat Islam menerima ibadah anak-anak yang telah mampu membedakan antara baik dan buruk dan Syariat Islam memberikan ganjaran atas amal ibadah mereka; bukan tanggung jawab mereka dan kerelaan berlanjut, tapi karena penghargaan dan karena amal ibadah itu dilakukan dengan suka rela.  Hal ini akan membuat dia telah siap sedia menerima tanggung jawab yang lebih besar, karena waktu belum lagi tiba untuk ia dikenakan begitu rupa tanggung jawab.

Dari persfektif kedua, kita harus akui secara jujur bahwa masalah yang muncul pada kalangan gadis muda berbeda dengan masalah yang dihadapi oleh  kalangan remaja putra. Saya menjelaskan perkara ini sebagai sebuah “masalah” karena hal ini merupakan hal yang sebenarnya dihadapi oleh banyak keluarga dan rumah tangga yang agamis. Sikap yang meremehkan dalam menghadapi sosok anggun, makhluk Tuhan – remaja putri – dan sikap ini mendiktekan bagaimana ia diperlakukan. Sementara itu, anak-anak putra lebih dikedepankan dan dibuat lebih menonjol ketimbang anak-anak putri, memperlakukan mereka dengan perlakuan yang berbeda meskipun anak-anak putra itu melakukan kesalahan dan kekeliruan. Sikap ini masih ada sebagai sebuah kenyataan hidup yang dihadapi oleh berbagai rumah tangga atau keluarga di mana fasilitas material modern telah memasuki rumah-rumah mereka, namun tidak memiliki kriteria nilai determinasi dan perlakuan seimbang, adil antara anak-anak putra dan anak-anak putri.

Karena semua hal ini, dan beberap faktor lainnya sebagai tambahan, kami telah pergi mendatangi Yang Mulia Ayatullah Sayyid Muhammad Husain Fadlullah, menanyakan sebuah risalah komprehensif tentang isu-isu dan masalah-masalah pokok yang dihadapi oleh kaum muda. Kedatangan kami tidak karena alasan bahwa tidak ada satu pun pengarang buku atau penulis muslim yang bersinggungan dengan isu dinamis ini, akan tetapi karena berdasarkan kepada keyakinan bahwa tidak satu pun di antara  mereka – sepanjang apa yang kami telah telaah – seblak-blakan dan seenergik Yang Mulia, Ayatullâh Fadlullah. Kami sadari bahwa sikap blak-blakan beliau harus dibayar mahal dan energisitas beliau bukan tanpa resiko dikemudian hari. Namun apakah kebenaran harus tetap bersemayam di dalam cangkangnya, takut untuk menjulurkan kepalanya dengan cahaya? Dan hingga kapan?

Kami rasa bahwa memendam kebenaran, memalsukan atau bermain dengannya, menambah atau mengurangi adalah sebuah perbuatan dosa. Jika beberapa orang tertentu takut untuk menyampaikan apa adanya kebenaran itu, dalam sebuah lingkungan yang merdeka, lalu menghilangkan kesempatan bagi generasi muda untuk berdiri tegak dengan kaki yang kukuh, dan beranjak kepada cakrawala yang lebih luas dimana gerbang toleransi dan kemurahan hati Islam tidak pernah tertutup baginya. Akibat-akibat buruk, lebih dari yang pernah dirasakan – dengan dalih yang berbeda – yang menutup jalan terhadap cakrawala tersebut. Kita melihat para cendikiawan yang menyadari bahaya dan bekerja keras untuk mentransformasi pengetahuan mereka kepada khalayak.

Dengan kemurahan Tuhan, kita teguh berdiri di hadapan kebenaran – yang telah lama alpa menawarkan jalan untuk memperbaiki keadaan. Kenyataanya membawa kepada resolusi yang kuat, kebebasan dan penuh akan objektifitas.

Dengan kemurahan Allah Swt, kami telah membuka file – dokumen pemuda dan nasihat Rasulullah Saw. Kami telah menerapkan bimbingan hikmah kepada setiap pemuda dalam berbagai situasi, kepada orang tua, tentang tugas-tugas anak-anak dan pesan suci, dll. Kitab suci al-Qur’ân telah menyinggung masalah ini dan menyampaikannya dengan bahasa yang indah – karena tidak ada yang lebih baik dan lebih kudus – bagi setiap pemuda di setiap generasi dan zamannya kecuali al-Qur’an. 

Dengan kemurahan Allah Swt, pula, kami telah banyak menyentuh masalah-masalah anak remaja, isu-isu, problematika kehidupan mereka secara panjang lebar hingga pada beberapa perkara yang dibicarakan secara hati-hati, dibisiki secara pribadi atau dalam lingkaran tertutup.

Karena tanggung jawab dalam mewarnai pemuda secara layak adalah sebuah pekerjaan yang menuntut usaha dan eksperimen, kami telah membahas problem utama berkenaan dengan tarbiyah pemuda, memulai dengan pengajar muslim dan pengasuh, dengan mengikuti sistem peniruan (taqlid), rahmat dan dosa, budaya pamer dan ujungnya pendidikan seks dan bimbingannya.

Kami tidak melupakan pada aspek praktek dari kehidupan kaum muda, dan memfokuskan perjalanan panjang kami beserta Yang Mulia Ayatullah Fadlullah dalam beragam topik pembahasan yang berhubungan dengan politik, pergaulan dan kesiswaan.

Kami telah memberikan penilaian terhadap parameter umum dan garis-garis besar dari pembahasan ini berguna, dan mereka meminta kelengkapan fiqh, yang diatur dalam syari’at, khususnya yang berhubungan dengan pemuda. Meskipun kami telah mencari jawaban-jawaban yang memadai untuk isu-isu yang rawan, kami tidak pernah sampai kepada solusi final.

Kami telah bertanya kepada Ayatullah Fadlullah tentang masalah yang berhubungan dengan nyanyian, musik, pakaian-pakaian baru, alat-alat musik, horoskop dan peramalan tentang masa depan, dan masalah-masalah yang menantang yang dihadapi oleh kaum muda. Dan seluruh diskusi ini memakan waktu dua tahun, khususnya terhadap perkara-perkara yang kadang-kadang membuat kami meraba-raba, misalnya kami bertanya: Bagaimanakah seorang pemuda itu menjalani hidup? Bagaimanakah ia memperlakukan  masa mudanya? Akan bagaimanakah ia membina anak putra dan putrinya pada masa muda mereka? Kami tidak mengklaim bahwa kami mengkaji secara mendalam setiap poin pembahasan seputar masalah pemuda kita, tapi kami rasa bahwa kami telah melakukan langkah besar, telah meraih prestasi gemilang yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Tidak menjadi masalah berapa banyak kami mencoba untuk mengatasi kekurangan dan kelebihannya, ada saja kesalahan yang mempengaruhi penelitian ini. Beberapa hal yang telah menanamkan kecintaan pada diri kami sejak awal penelitian ini. Dan – pada akhir setiap bab dari buku ini, kami persembahkan sebuah ringkasan atas topik-topik penting yang didiskusikan disini. Kami juga meletakkan pada akhir bab beberapa fatwa umum tentang pemuda – jika kami dapat menyebutnya demikian – yang kami dapatkan dari Yang Mulia, Ayatullah Fadlullâh.

Kami mengundang kaum muda kita – baik dari pemuda atau pemudi – untuk melontarkan setiap kritikan atau komentar berkenaan dengan karya ini.

Kami percaya bahwa Allah Swt akan mengabulkan karya sederhana ini, dan akan memberikan manfaat yang besar kepada kita ketika tidak berguna harta dan benda dan juga keturunan yang akan menimpa setiap orang kecuali orang-orang yang berhati ikhlas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: