Ramadhan; Terapi untuk Melejitkan Kesadaran Kosmis

Pada bulan Ramadhan, dalam mazhab Ahlul Bait terdapat ritual doa yang sering dipanjatkan, semenjak doa-doa harian, doa-doa selepas shalat, doa-doa setiap malam, doa-doa malam lailatul qadar dan doa-doa yang lainnya. Doa pada mazhab Ahlul Bait memiliki peranan signifikan dalam meraup nilai-nilai maarif Islami. Bahkan sekiranya al-Qur’an tidak diturunkan, doa-doa yang diajarkan oleh para Imam Maksum telah memadai bagi kita untuk menyingkap tirai-tirai makrifat dan gnostik Ilahi. Lantaran bagi para Maksum, logika yang digunakan dalam doa adalah logika I and Thou (Aku dan Engkau), bukan logika “kalliminnâs ‘ala qadri uqûlihim (berbicaralah kepada manusia sesuai dengan derajat pengetahuan mereka). Tatkala Imam Maksum berkhalwat dengan Tuhan, seluruh ekspresi tumpah ruah tanpa adanya hijab dan tirai yang menghalangi mereka. Rintihan dan aduan disampaikan dalam bentuk yang paling subtil dan sublim.  

Doa-doa seperti lepas salat harian pada bulan Ramadhan, doa harian, doa Abu Hamzah ats-Tsumâli, doa Jausyân Kabir, doa Jausyân Shagir, doa Iftitâh, doa Sahar, doa Kumâil, doa Nudbah, doa Ahd, doa Simat,  pada bulan suci Ramadhan kian intens digemari dan didendangkan. Di dalam doa-doa kudus tersebut terkandung samudra makrifat yang tak terbatas untuk kita selami. Dengan doa-doa tersebut seseorang dapat melesak untuk dapat mengenal bagaimana meraih kesempurnaan. Kesempurnaan yang menjadi cita dan asa hidupnya. Karena secara fitri (inborn nature) manusia cinta kepada kesempurnaan. Dan dalam mengejar dan meniti jalan kesempurnaan, doa-doa ini siap menemani Anda.

Menurut Ayatullah Jawadi Amuli Hf bahwa bulan Ramadhan sangat tepat bagi seseorang untuk dapat memahami rahasia diri dan semesta. Dengan memahami rahasia diri dan semesta, seseorang dapat mencapai kesempurnaan. Ramadhan dapat kita jadikan sebagai media untuk mengkaji eksistensi kedirian dan kehidupan kita. Lantaran, menurut Plato, hidup yang tidak dikaji, bukanlah hidup. Ramadhan yang tidak dikaji bukanlah Ramadhan. Dengan mengkajinya, kita mampu melahirkan dan melejitkan kesadaran kosmis dalam diri. Kenapa kesadaran kosmis perlu kita lahirkan? Karena dengannya manusia dapat memanifestasikan konsep universal Sang Nabi Kinasih “rahmat bagi kosmos”.

Dinukil dari Ibn Arabi bahwa dalam tatanan semesta, manusia adalah mikro kosmos (jagad cilik) dan tata-surya adalah makro kosmos (jagad gede), namun ia dapat mengandung makro kosmos dalam kemikroannya. Mengapa sedemikan agung kedudukan manusia? Mengapa ia disebut mengandung makro kosmos sementara ia hanyalah seorang manusia yang lemah dalam gugusan semesta? 

Imam Ali As dalam sabda ontologisnya menyebutkan,
“Apakah engkau mengira bahwa engkau adalah seonggok ulat yang kecil (mikro) sementara dalam dirimu termuat alam besar (makro kosmos)”.

Insan yang dalam dirinya termuat makro kosmos adalah insan paripurna. Imam Ali menyabdakan ungkapan ini dalam kapasitasnya sebagai seorang insan kamil. Menjadi insan kamil merupakan sebuah pilihan dan setiap insan dapat mencapai derajat ini. Karena setiap manusia secara potensial dapat menjangkau derajat insan kamil, dengan syarat ia harus mengaktualkan potensi dasar yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.

 Senada dengan itu, Iqbal pernah mendengungkan:

“Bila citra jiwa telah disempurnakan di dunia

Melihat sesama adalah melihat Tuhan

Manusia yang dirahmati adalah yang satu tarikan nafasnya

Menyebabkan sembilan langit mengitari dirinya.”

Beginilah model manusia yang telah dirahmati Sang Pencipta, yang telah mengejewantah dalam dirinya sebuah kesadaran kosmis. Kesadaran kosmis yang diraih dengan usaha mengenal diri dan semesta.  Ia melihat sesama ekuivalen dengan melihat Tuhan.

Pada tahun 1901, Richard Bucke, seorang dokter dari Kanada, menulis sebuah buku menarik berjudul ‘Cosmis Consciousness’-Kesadaran Kosmis. Dalam bukunya itu Bucke melukiskan pengalaman dari satu kesadaran bersatu dengan semua kehidupan, yang merambat mengalir dalam diri manusia laksana aliran listrik. Dan manusia-manusia yang tersengat oleh kesadaran ini semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Tak terhitung banyaknya menjelajahi bumi ini dan menghirup udara yang ada bersama kita, namun pada saat yang sama menjelajahi satu dunia yang lain dan menghirup satu udara yang lain yang hanya sedikit kita ketahui. “Ras manusia yang baru ini”, kata Bucke, “sedang dilahirkan oleh kita, dan di masa yang tidak terlalu lama lagi akan mendiami dan memiliki dunia”.

Seorang Muslim dengan sengatan bulan Ramadhan, mampu melahirkan dan melejitkan kesadaran kosmis ini. Terlebih dengan sajian-sajian yang ada di dalamnya, ia dapat menciptakan tatanan dunia baru yang lepas dari semua alienasi dari lingkungan sosial yang kapitalistik, materialistic, mekanistik, ego-sentrik, rasialistik, nasionalistik, militeristik, bla..bla..bla. Ia aktif melibatkan dirinya dalam kontemplasi dan berbagai tingkat kesadaran reflektif lainnya untuk menjadi lebih terbuka, kurang ananiyahnya, lebih kritis, mencinta, dan responsive dengan keadaan sekelilingnya dengan memperhatikan konsep, think globally, act locally.

Kalau kita perhatikan doa-doa selepas shalat yang kita panjatkan dalam bulan Ramadhan, doa-doa itu dapat menjadi sumber energi untuk mengalirkan kesadaran kosmis dalam rongga diri kita. Kandungan doa-doa ini memuat pesan-pesan universal dan formula mujarab untuk mensketsa tatanan dunia baru. Doa yang sangat bernuansa sosial dan kemasyarakatan. Dari bait-bait doa-doa selepas shalat itu, kita membaca:

Allâhummah adkhil ‘ala ahli quburis surur,

(Ya Allâh, berikanlah rasa bahagia dan rasa tentram kepada ahli kubur).

Dalam pembukaan doa rahmani ini, orang yang berpuasa memanjatkan doa untuk orang-orang yang terbujur kaku dalam kuburan yang menyesali sajian langit ini, bibirnya kelu dan gigit jari mengapa mereka tidak lagi berkesempatan menyantap bulan Ilahi ini. Kita berdoa kepada Tuhan supaya memberikan rasa bahagia dan ketentraman kepada mereka yang telah meninggalkan kita. Lantaran mereka tidak lagi berkesempatan untuk mendulang cinta dan kasih Tuhan di bulan kudus ini. Tidak lagi bibir mereka basah karena tasbih, kening mereka legam karena kebanyakan sujud, suara mereka parau lantaran membaca al-Qur’an, lezatnya melantunkan doa atau menyampaikan kidung cinta kepada Tuhan, subuh yang bening dan hening untuk menyantap hidangan sahur bersama keluarga, suasana harmonis pada buka puasa bersama dengan penduduk kampung di surau atau masjid. Yang semakin menambah indah dan syahdunya bulan ini. Betapa banyak orang yang merindukan bulan Ramadhan sepanjang masa, akan tetapi mereka sudah tidak lagi mampu bersua dengan bulan Ramadhan. Oleh karena itu, kita berdoa, Allahummah, masukkan rasa bahagia dan rasa tentram kepada ahli kubur.

“Allâhummah agni kulla faqir”

(Ya Allâh, kayakan orang-orang faqir)

Dalam lamat-lamat doa yang dipanjatkan, kita mendoakan orang-orang yang kurang beruntung secara finansial dan ekonomis. Orang-orang miskin di sekeliling kita yang merasa tidak memiliki hak untuk tertawa sebagaimana orang-orang kaya. Tidak berhak untuk memiliki harapan, dan terlarang untuk memberikan janji-janji manis kepada anak-anak mereka. Dan alih-alih menanti kehidupan yang lebih baik, mereka terpanggang dalam hasrat yang tak kunjung terwujud. Sementara dalam kamus Tuhan, orang-orang fakir tidak memiliki tugas untuk menjadi miskin dan tidak memiliki izin untuk bersikap rendah di hadapan makhluk Tuhan yang lainnya. Oleh karena itu, kita sebagai tetamu Tuhan mendoakan kiranya Tuhan memberikan kekayaan kepada orang-orang faqir. Sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama. Dan tidak terhenti pada doa, kita mengulurkan derma dan menawarkan bantuan kepada mereka. Menciptakan lapangan kerja buat mereka. Memberdayakan kaum fakir tidak sekedar meminjam istilah “pemberdayaan mustad’afin” tapi kemudian menggondol hak mereka.

Allâhummah asybi’ kulla jâ’in

(Ya Allâh, kenyangkan orang-orang lapar)

Betapa banyak orang-orang yang lapar di penjuru bumi. Terlebih di negeri kita, penyakit malnutrisi atau lebih sering disebut sebagai busung lapar merajalela. Demikian juga di negara dunia ketiga, Dengan berpuasa kita dapat memahami derita dan nestapa yang diderita oleh orang-orang yang lapar. Orang-orang yang tidak mendapatkan gizi secara sehat dan sempurna. Penduduk dunia kurang lebih 6.7 Miliar. Catatan statistik yang dilakukan oleh PBB menyebutkan bahwa setiap hari ribuan jiwa harus melayang karena kelaparan. Sementara bahan makanan yang ada di muka bumi sangat memadai untuk dapat dikonsumsi oleh seluruh penduduk bumi, sehingga tidak ada lagi orang yang menderita kelaparan. Tapi tangan-tangan kapitalisme dan kolonialisme menjarah seluruhnya dan membatasi anugerah Ilahi itu hanya pada diri mereka. Dalam doa ini, kita mendoakan kiranya Tuhan mengenyangkan orang-orang yang lapar. Apatah lagi mereka yang mencari kebahagiaan yang tinggi di akhirat, tidak ada sangu yang lebih baik ketimbang mengenyangkan perut-perut kosong, dan sebaik-baik syukur nikmat adalah melebarkan suprahnya untuk memberi makan kepada orang-orang yang lapar. Menyusuri lorong demi lorong mencari orang yang lapar, menebarkan aroma semerbak wilayah Ali dan Fatimah kepada orang anak yatim, orang fakir dan orang-orang lapar. Lantaran kedua pribadi agung ini mendawuhkan “al-jâr tsumma ad-dâr” (tetangga dulu baru isi rumah) dan menggelorakan semangat wahyu, innama nuth’imukum li wajhiLlâh. Disebutkan bahwa bulan ini adalah bulan ikram (memuliakan) dan ith’âm (memberi makanan) kepada anak yatim, orang miskin dan orang lapar.

Seburuk-buruknya keadaan adalah lalai dari keadaan orang-orang  miskin dan anak-anak yatim. Memangnya dibenarkan seorang muslim yang berpuasa membiarkan dan melupakan orang-orang yang lapar dan menjadi saksi atas kematian mereka secara perlahan. Petaka besar bagi orang-orang yang menunaikan puasa bahwa mengapa orang-orang harus didera dengan rasa lapar sementara pada saat yang sama menyantap makanan yang beraneka ragam.

Allâhummah aksi kulla uryân

(Ya Allâh, beri busana kepada orang-orang yang telanjang)

Sebagai orang yang menjalankan ritual puasa, kita mendoakan pakaian, busana untuk orang-orang telanjang. Allâhummah, berikan pakaian kepada orang-orang telanjang, baik pakaian taqwa, wara’ dan istiqâmah. Dan juga pakaian dari kain, katun dan kapas. Kita berdoa kepada Allah untuk membusanai segala nista, cela dan aib yang kita miliki. Lantaran Dia adalah Sattâral Uyub, mahapenutup segala cela, nista dan aib. Dan mengenakan kepada kita pakaian izzah, karamah dan taqwa sebagai tujuan pelaksanaan ibadah puasa. La’allakum tattaqun.

Allâhummah aqdhi kulla madin

(Ya Allâh, tunaikanlah hutang orang-orang yang terlilit hutang)

Orang-orang yang sedang menyantap hidangan Rabbani di bulan ini mengasah kepekaan sosialnya dengan memikirkan orang-orang yang terlilit hutang. Ia mendoakan agar orang-orang yang terlilit hutang dapat melunaskan hutang mereka atau pihak yang berpiutang melepaskan piutangnya dan membebaskan mereka dari lilitan hutang. Orang-orang yang berhutang adalah orang-orang yang dengan payah melalui lintasan hidup mereka sehingga tidak tersisa pilihan lagi buat mereka kecuali berhutang. Tanpa ada kekuatan dan bantuan yang menopang mereka.  Orang-orang yang berpuasa selain berdoa, ia juga turut memikirkan mereka yang terlilit hutang. Pikiran ini membuatnya masygul, dan bertanya kepada dirinya apabila aku tidak berusaha membantu dan meringankan beban mereka, apalah arti diriku ini? Masihkah tersisa tanda-tanda kemanusian pada diriku? Bukankah Bani Adam adalah ibarat satu tubuh yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain? Di manakah kesadaranku sebagai seorang yang menghuni kosmos ini?

Allâhummah farrij ‘an kulli makrub

(Ya Allâh, lapangkan kami dari segala duka)

Siapa yang pernah mengharapkan datangnya duka dan petaka? Sekali pun dalam  mimpi, setiap kita tidak pernah mengharapkan datangnya bencana. Baik bencana yang datang dari alam atau berkat tangan manusia sendiri. Gempa bumi di Peru, dan disusul banjir bandang di Jakarta, Oxford, Swiss dan Mariso. Lumpur panas Lapindo, yang korbannya hingga kini masih didera dengan derita dan nestapa.  badai Felix,  yang banyak menelan korban jiwa. Korban pengeboman di Bali, Inggris dan di berbagai tempat lainnya. Kebakaran hutan, banjir. Invasi, agresi dan teror suatu negara ke negara yang lain. Pemanasan rumah kaca yang semakin membuat lapisan ozon kian menipis. Bom ekologi, bom uranium dan reaktor-reaktor nuklir sedang dirakit oleh manusia-manusia durjana untuk merusak dan menghancurkan dunia. Kita dengan semangat Ramadhan berdoa kepada Allah untuk menjauhkan dan melapangkan kita dari segala bentuk duka dan kesusahan yang diciptakan oleh manusia durjana. Termasuk petaka kerusakan moral, petaka budaya permissive, petaka hedonis, hippies, sex bebas. Ahli Ramadhan dengan air mata luruh berdoa, Allahummah, jauhkan dan lapangkan kami dari duka dan nestapa lahir dan batin. Semoga kita, anak cucu kita kelak dapat hidup di bumi ini dengan bersih, aman, damai dan tentram. Dan dapat menghirup udara kebebasan, kebebasan dari polusi dan kontaminasi cerobong-cerobong asap pabrik, juga kebebasan dari penjajahan dan agresi invasi budaya. Serta dari segala dominasi hawa nafsu yang merusak. 

 Allâhummah rudda kulla gharib

(Ya Allâh, pulangkan orang-orang asing)

Pandangan kebenaran di antara ahli makrifat menerawang di seantero tapal batas, demarkasi dan dinding-dinding ruang dan waktu dan mendengarkan bisikan lirih orang-orang yang berada dalam pengasingan, lalu mengingat mereka yang jauh dari rasa tentram dan aman. Orang-orang asing, adalah orang-orang yang jauh dari kampung halaman mereka, mengembara di lorong-lorong dunia untuk mengais rezeki, mencari sesuap nasi untuk menghidupi anak-anak mereka, keluarga mereka, harapan-harapan mereka untuk hidup lebih baik. Lantaran di negeri sendiri tidak lagi menyisakan harapan. C’est la vie demikian kata para sosiolog pemerintah. Saudara-saudari senegeri yang harus bekerja sebagai TKW atau TKI dengan segala susah dan derita mereka tempuh segala aral dan rintangan walau harus dihina, dicerca, disiksa dan digauli oleh para majikan dan juragan, sasaran eksploitasi para agen. Betapa pun mereka bangga dapat memberikan kontribusi devisa kepada negara. Tapi tidak mendapatkan feed back yang seimbang, karena kontribusi itu kemudian ditilap oleh oknum-oknum yang bermental korup. Juga terhadap putra-putri terbaik bangsa yang terkena sindrom brain drain yang terpaksa harus menjaja keahlian mereka kepada negara-negara yang siap membayar mereka lebih baik dan fasilitas hidup yang lebih layak. Karena sekali lagi, negara tidak memiliki harapan yang bisa diimpikan oleh mereka.

Orang yang berpuasa berdoa kepada Allah untuk memulangkan orang-orang asing. Juga bagi orang-orang asing yang mengalami alienasi dari hidupnya, hampa cita dan citra, lupa jati dirinya, lupa terhadap tuhannya. Doa dan harapan ahli Ramadhan untuk kepulangan mereka.

 Allâhummah fukka kulla asir

(Ya Allâh, bebaskan orang–orang yang tertawan)

Pembebasan orang-orang yang tertawan merupakan salah satu anxietas dan kerisauan orang yang berpuasa. Orang-orang yang kini tertawan dalam penjara Abu Ghuraib, Guantanamo dan yang lainnya  dan mendapat perlakuan yang sangat tidak manusiawi (inhuman). Orang-orang yang tertawan karena membela tanah persada, agama, hak mereka seperti orang-orang Iraq, Afghanistan dan Palestina. Mereka tertawan dan terpenjara kemudian disiksa oleh orang-orang yang mengklaim pembela hak azasi manusia.

Dan orang-orang yang terpenjara oleh penjara hawa nafsu dan egonya. Orang-orang yang berpuasa memohon kepada Tuhan supaya membebaskan orang-orang yang tertawan. Betapa banyak orang yang terjungkal dalam tawanan hawa nafsu dan ego. “Dan barangsiapa yang takut kepada Tuhannya dan menahan hawa nafsunya, maka Firdaus adalah tempat kembalinya” (Qs. An-Nazia’at [79]:40&41)

 Allâhummah ashlih kullah fâsidin min umuril muslimin

(Ya Allâh, perbaiki keadaan buruk dari urusan kaum Muslimin)

Mihrab ibadah seorang yang menjalankan ibadah puasa adalah seluas bumi Tuhan. Betapapun ia duduk di sudut sebuah masjid bersendiri (khalwat) dan bertemankan sepi, akan tetapi Simurgh ruhnya terbang di seantero semesta, melanglang buana dan berdoa untuk kemaslahatan dan perbaikan atas seluruh urusan kaum Muslimin dari segala ancaman kerusakan, mengapa kerusakan tampak pada roman wajah kaum Muslimin. Masalah Palestina, Irak dan Afghanistan merupakan masalah krusial yang kini sedang menghajar kaum Muslimin. Betapa saudara kita di belahan negeri ini harus terpuruk dengan keadaan yang mengenaskan. Ancaman perang saudara, politik adu domba yang dilancarkan oleh Inggris dan Amerika, di Irak, Libanon dan di Afghanistan. Janji-janji palsu pada setiap perundingan antara Palestina dan Israel. Citra menyakitkan “teroris” yang dipropagandakan Barat terhadap kaum Muslimin, pelarangan hijab di beberapa negara Eropa yang nota-bene negara liberal dalam kebebasan beragama tapi tidak liberal untuk kaum Muslimin. Di tambah sikap apatis dan ultra toleran negara-negara Arab terhadap kondisi real yang terjadi di persada Muslimin ini. Mereka lebih memilih tunduk terhadap gagasan dan siasat licik Barat, untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Kita selaku shâimin memohon kepada Tuhan untuk memperbaiki keadaan buruk dari keadaan kaum Muslimin. Dan di akhir bulan Ramadhan, yaitu hari Jum’at terakhir bulan Ramadhan sebagai puncak kesadaran kosmis seorang Muslim dan yang berpuasa, turun ke jalan mengatakan “labbaik” terhadap seruan Imam Khomeini Ra pada hari al-Quds sedunia. Partisipasi kita merupakan manifestasi persaudaraan kita terhadap sesama manusia, sesama Muslim yang menolak dominasi, hegemoni dan barbarisme Israel yang merampas hak-hak kemanusian yang paling asasi saudara kita, bangsa Palestina. Dan perwujudan doa-doa ini kita jelmakan dalam yaumul ‘âlam al-Quds. Kita dengan kesadaran atas doa tersebut menggugat hegemoni, tirani dan despotisme atas seseorang atau atas sebuah negara. Imam Khoemini menyerukan bahwa, seluruh anbiya datang dengan dua kata, tidak menindas dan tertindas.  Sebagai aktualisasi nilai-nilai Ramadhan, kesadaran kosmis kita harus didemonstrasikan. Dan di hari-hari pamungkas bulan Ramadhan dalam keadaan lapar dan dahaga kita teriakkan, Yel-yel Al-maut li Israel, al-Maut li Amerika.  Mereka kini secara telanjang dan kasat mata memerangi kita,  kendati kita hanya mampu menghadapi mereka secara lisan, toh teriakan dan gontai kaki unntuk mencela musuh kemanusiaan tetap akan diganjar sebagai amalan shaliah, sebagaimana  di sebutkan dalam Kitab Suci, walâ yanâluna min aduwwin nailân illa kutiba lahum bihi ‘amalun shâlihun.  (Tidak satu pun derap langkah kaki  yang digontai untuk mencela musuh kecuali dituliskan kepada mereka kebaikan) (Qs. At-Taubah [9]:120)

Allâhummah asyfi’ kulla maridh

(Ya Allâh, berikan kesembuhan kepada orang-orang yang sakit)

Budaya yang berlaku di muka bumi hari ini walau harus ditebus dengan jiwa orang lain dan akibat yang sangat buruk adalah berpesta dalam memproduksi senjata pemusnah massal, angkara murka dan kematian. Menurut budaya kitab suci, mereka adalah orang-orang yang sakit. Orang-orang yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai “fii qulubihim maradh.” Hati mereka sakit, mata dan telinga mereka tertutup. Mengklaim bahwa mereka sedang melakukan perbaikan, padahal mereka membuat kerusakan.

Orang-orang yang keluar dari akademi Ramadhan, berharap dan berdoa atas keselamatan seluruh insan, bukan sebaliknya, melakukan destruksi dan angkara murka. Dan demikianlah budaya kudus seorang pencari kebenaran, pikiran dan afeksinya dicurahkan kepada orang-orang yang berada dalam pembaringan karena sakit secara fisik dan kejiwaan. Menjenguk mereka, mendoakan kesembuhan mereka. Karena luka orang lain adalah luka kita. Manusia yang tidak merasa luka dan sakit adalah juga sebuah bentuk luka. Mengikut Sa’di, pujangga besar Persia, dalam syairnya yang kemudian diabadikan pada markaz PBB di New York, “Bani Adam adalah satu entitas yang tidak terpisahkan dengan yang lain, pada penciptaannya berasal dari satu tabiat, …….engkau yang tidak merasa luka akibat luka orang lain, tidaklah patut menyandang nama insan.

Allâhummah sudda faqranâ bi ghinak

(Ya Allâh, cukupkan kefakiran kami dengan kekayaan-Mu)

Kefakiran tidak kenal kasih. Bak api membakar dan banjir yang menghanyutkan. Si kuculuk kecil tidak memahaminya juga tidak si tua renta.

Dalam munajat ini, lafaz faqr (fakir) disebutkan dalam bentuk plural yang menyerang seluruh dimensi kehidupan. Oleh karena itu untuk menutup lubang-lubang ganas tempat tumbuhnya kefakiran, kita harus seiring sejalan, bahu membahu dan satu kata untuk mengentaskan kemiskinan. Karena monster kefakiran sedemikian merusak dan membinasakan sehingga tidak memadai bagi satu orang untuk memeranginya.  Ia memerlukan semangat, gerakan jamaah dan penanganan sistemik. Dan wujud kefakiran di sudut sebuah komunitas akan menyebar dan menular tidak hanya pada satu atau dua anggota komunitas saja, akan tetapi kefakiran bak mikroba-mikroba yang membesarkan orang-orang seperti Jengis Khan dan Hitler dalam sejarah yang membakar dunia dengan kegarangan dan kegeramannya. Kefakiran sebagaimana mengosongkan perut, ia juga menghampakan dan meruyak pikiran dan otak manusia. Apatah lagi, menyitir sabda Imam Ali As bahwa “qad faqru an yakuna kufran” (kefakiran mendekatkan kepada kekufuran), kefakiran juga akan menghajar iman dan keyakinan seseorang sehingga membuatnya kafir. Di samping kekayaaan material, kita di bulan mubarak ini, menengadahkan tangan, memohon kepada Tuhan untuk mencukupkan kita dengan kekayaan spiritual, dengan kekayaan yang dimiliki-Nya, kekayaan yang Nir-Batas. Imam Sajjad As dalam doanya mengadu, Tuhanku kekayaan apakah yang dimiliki oleh orang yang tidak memilikiMu, dan kekurangan apa yang dimiliki oleh orang yang memilikiMu.

Allâhummah ghayyir su’ hâlinâ bi husni hâlik

(Ya Allâh, ganti keadaan kami yang buruk menjadi keadaanMu yang baik)

Berubahnya keadaan, spiritual, moral dan beranjak meninggalkan mulk (segala yang bendawi) menuju malakut (segala yang maknawi), merupakan kitab pedoman hidup orang-orang pencari kesempurnaan. Adapun keadaan buruk telah menjadi maklum, serangkaian perilaku syaitani, hewani adalah keadaan kita yang buruk. Akan tetapi bagaimanakah keaadan Tuhan yang baik itu?

Jawaban dari pertanyaan ini dapat ditemukan dalam doa ini yaitu risau dan gundah atas keadaan orang lain dan usaha untuk memperbaiki urusan masyarakat merupakan keadaan yang paling Ilahi (divine) yang ditelah diprakarsai oleh seluruh anbiya (para nabi), awliya, orang-orang saleh dan para urafa. 

Allâhummah aqdi ‘annâddain wa aghninâ minal faqr

(Ya Allâh, tunaikan hutang-hutang kami dan kayakan kami dari kefaqiran)

Tatkala manusia melakukan puasa dan perutnya kosong dari makanan-makanan bumi, ia mencukupi makanannya dengan hidangan-hidangan langit. Artinya jiwa dan raganya kosong dari segala nista, dosa dan  aib dan melayang mengitari dunia meta materi bersama para orang-orang kudus. Orang-orang seperti ini tidak dapat memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Oleh karena itu, jiwanya berontak, Simurg ruhnya terbang menghampiri orang-orang fakir dan orang-orang berhutang. Memohon kepada al-Ghani mutlak (dzat yang kaya secara mutlak) kiranya menunaikan hutang-hutang kami dan mengayakan kita dari kefakiran. Faqir dzati duduk bersimpuh di hadapan Ghani dzati. Meminta kepada dzat yang paling layak diminta. Ia tidak berpaling kepada yang lain. Ia, mengulang rintihan Allamah Hasan Zadeh Amuli Hf, dalam Ilahi Nâme-nya, yang terperanjat dalam doa, Ilahi, aku terkejut melihat pengemis mengemis kepada pengemis. Hanya kepadanya kita meminta untuk melunasi hutang-hutang dan mengayakan kita dari kefaqiran. Pintalah dan pohonlah hajat-hajat yang kita miliki kepada Yang tidak meminta dan tidak berhajat.

 Innaka ‘ala kulli syain qadîr

(Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu)

Akhir kalam orang-orang yang berpuasa dan ending dari doa dan munajat ini adalah iman kepada kekuasaan dan kekuatan yang serba meliputi.  Ia membawa pesan universal sebagai orang-orang yang berharap atas kesalamatan jiwa dan raga seluruh manusia, kesejahteraan orang-orang kubur, kekayaan orang-orang fakir, kekeyangan orang-orang lapar, pakaian bagi orang-orang telanjang, kelunasan hutang orang-orang yang berhutang, kelapangan dari segala musibah, kepulangan  orang-orang asing, kebebasan orang-orang terpenjara, kesembuhan orang-orang sakit, perbaikan atas urusan kaum Muslimin, perubahan dari keadaan buruk menjadi keadaan lebih baik, terpenuhinya segala hajat dan keperluan orang-orang fakir merupakan kultur dan kebiasaan orang-orang berpuasa dan percaya bahwa doa-doa ini dapat terkabulkan manakala kesemua ini mengejewantah dalam perbuatan-perbuatan kita dan dengan gerakan yang meski berupa geliat dengan tulus dan ikhlas memuliakan dan memberikan makan kepada orang-orang fakir meski dengan sebiji kurma. Kita masukkan diri kita dalam barisan dan deretan orang-orang mulia, dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt, tidak hanya sebatas lip service atau lipstick tetapi mewujudkannya secara visual dan melahirkannya pada tataran perbuatan. Serta percaya bahwa Allah Swt merupakan Qadîr (tidak hanya berkuasa, tetapi mahaberkuasa) atas segala sesuatu yang dapat menuntaskan segala hajat dan keperluan. Yang menguasai semesta buana. Yang merajai kosmos. Kita memohon kepadanya supaya tatkala melihat makhluk sama dengan melihat-Nya. Karena seluruh ma siwa Allâh (segala sesuatu selain Allah), adalah theopany dan manifestasi wujud Tuhan.

Sebagai penutup, Klaus Mine, vokalis kelompok musik Scorpion pernah mendendangkan sebuah lagu yang sarat muatan kesadaran kosmis, We are walking under the same sun, We are living under the same sun, But why can’t we live as one, yang menegaskan bahwa kita adalah satu entitas yang menghuni kosmos ini. Lalu mengapa kita tidak dapat hidup sebagai satu entitas. Sebagai satu kesatuan yang bergerak menuju kepada satu tatanan dunia baru, kosmos baru. Dunia yang dipenuhi dengan keadilan dan kesejahteraan. Dunia yang setiap penghuninya memiliki kesadaran kosmos. Yang cinta, kasih, peduli dan peka terhadap sesama. Dan tumbuh bersemi budaya, al-jar tsumma ad-dar, dalam dirinya. Dan beruntunglah kita sebagai seorang Muslim yang kini sedang dijamu oleh Tuhan dengan menyantap hidangan langit di bulan suci ini. Mengapa kita tidak menjadikannya sebagai staring point dan terapi untuk melahirkan dan melejitkan kesadaran kosmis. Sebuah kesadaran universal yang mendorong kepada setiap penghuni kosmos ini untuk mencinta dan peduli dengan sesama. Mengapa tidak?[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: