Keridhaan Tuhan pada Keridhaan Manusia; Ulasan Doa Hari Kedua Puasa

Bulan Ramadhan merupakan hadiah Ilahi kepada manusia sehingga dengan hadiah Ilahi yang berupa ibadah dan amalan ini manusia dapat meraup nilai-nilai transendal dan muta’ali yang tertimbun di dalamnya. Seluruh Mukmin diseru sebagai undangan atas perjamuan Ilahiah ini. Dalam hal ini, Tuhan Semesta Alam yang menjadi tamu dan maha tahu bagaimana meladeni tetamu-Nya dengan sebaik-baik perjamuan. Tentu jamuan Ilahi bukan jamuan yang bercorak material dan bendawi. Jamuan Ilahi di bulan ini berupa doa dan munajat-munajat yang diajarkan oleh para maksum kepada kita. Dari manusia-manusia suci itu di hari kedua ini kita membaca:

 

اَللَّهُمَّ قَرِّبْنِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ

وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, dekatkanlah aku di bulan ini kepada ridha-Mu, hindarkanlah aku di bulan ini dari kemurkaan-Mu, dan anugerahkanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk membaca ayat-ayat (kitab)-Mu. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Mahakasih dari para pengasih.

Di hari kedua ini kita disuguhkan hidangan malakuti dengan doa memohon keridhaan Tuhan dan taufik untuk membaca dan memahami ayat-ayat Ilahi, tadwin dan takwin. 

 

 

Di hari ini kita meminta kepada Tuhan untuk didekatkan kepada ridha-Nya karena barang siapa yang tidak memiliki keridhaan kepada Tuhan, napak tilas perjalanan menuju kepada-Nya tidak tersedia; bagi mereka yang bermaksud ingin kembali kepada Tuhan derajat ridha merupakan syarat utama. Hal ini dapat dipahami dari firman-Nya:

﴿ارْجِعي‏ إِلى‏ رَبِّكِ راضِيَةً مَرْضِيَّةً﴾

“Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha lagi diridhai.” (Qs. Al-Fajr 89:28)

Allah Swt ketika dimintai keridhaan-Nya segera ia akan memenuhi permintaan tersebut. Salah satu sifat mulia Tuhan adalah  Sariar Ridha. Tuhan adalah Dzat yang maha cepat ridha-Nya. Manusia barangkali karena faktor ego dan kepicikannya tidak akan segera rela dan ridha dengan orang yang bersalah kepadanya atau lambat memberikan kerelaan dan keridhaannya.

Namun Tuhan tidaklah demikian. Dia segera ridha dengan permintaan hamba-Nya; cukup seorang hamba memalingkan dirinya Tuhan. Dia ridha dengan amal kebaikan yang sedikit. Dan dengan amal kebaikan yang sedikit itu, Dia memberikan ganjaran yang besar. Dalam doa bulan Rajab kita teringat, lamat-lamat doa “Yaa Man Yu’thi al-Katsir bil Qalil“, Wahai Yang menganugerahkan nikmat yang banyak dengan amalan yang sedikit. Keridhaan-Nya merupakan sebaik-baiknya kebahagiaan. Apabila kita ridha kepada Tuhan, Dia juga akan ridha kepada kita. Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa keridhaan Tuhan datang setelah keridhaan para hamba. Alangkah agungnya keridhaan timbal-balik ini. Keridhaan-Nya merupakan nikmat teragung dan terlestari bahkan melebihi nikmat firdaus itu sendiri:

﴿ وَ رِضْوانٌ مِنَ اللهِ أَكْبَرُ ﴾

“Dan keridaan Allah adalah lebih besar (daripada itu semua).” (Qs. At-Taubah [9]:72)

Keridhaan Tuhan bagi urafa merupakan tujuan utama dari seluruh nikmat yang diberikan Tuhan kepada mereka. Janji-janji Tuhan akan kenikmatan bagi para hamba-Nya yang shaleh, shiddiq, mukhlis, ahli takwa, dan mukmin seperti zawajjnahum bihûrin ‘in (Qs. 44:45) salsabilâ (Qs. 76:18), syarâban tahârah (Qs. 76:21), jannâti adnin (Qs. 9:72), jannâti na’im (Qs. 5:65), jannâtul ma’wa (Qs. 53:15) dan sebagainya bukan yang dituju oleh urafa. Mereka hanya menghendaki keridhaan Tuhan. Di sebutkan oleh ulama irfan bahwa ada tiga tingkat kenikmatan ahli surga yang diberikan Tuhan kepada para hamba-Nya. Nikmat pertama adalah nikmat-nikmat lahir seperti yang disebutkan salsabila, syaraban tahurah, hurrin ‘ain. Nikmat kedua adalah ucapan dan penyampaian selamat salâmun qaulan min rabbi rahim (Qs. 36:58) pada nikmat kedua ini berupa ucapan salam dari Tuhan yang Maha Penyayang kepada hamba-Nya yang terpilih. Ucapan salam yang menggembirakan dan paling membahagiakan hamba yang mendapatkannya. Di sebutkan bahwa redaksi rahim di sini merupakan sumber segala rahmat dan kasih sayang Tuhan. Namun di atas semua itu adalah keridhaan Allah seperti yang disebutkan pada redaksi ayat “Dan keridhaan Allah adalah lebih besar (daripada semua itu).”  Alangkah indahnya ucapan Imam Husain sebelum kepergiannya ke Karbala untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar, membela Islam dan mengangkat panji tauhid, yang berkata “Ridhân bir ridhak, laa ma’bud siwak.” Tuhanku aku ridha dengan keridhaan-Mu, tiada sesembahan selain-Mu.” Ucapan nurani Imam Husain ini merupakan cerminan keridhaannya kepada keridhaan Tuhan. Keridhaan timbal-balik dari hamba kepada Tuhannya. Ridha merupakan nama untuk perhentian orang-orang benar dan shadiq, pada setiap keadaan dan derajat ia berdiri dan berhenti. Dan perhentian tersebut berdasarkan kehendak Allah Swt. Sedemikian sehingga hamba tidak menuntut derajat dan kedudukan kurang atau lebih dari yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Lantaran seluruh perkara ini merupakan perkara ikhtiar dan iradah, sementara hamba pada tataran ridha, melepaskan ikhtiar dan iradahnya, dan menyerahkan ikhtiar dan iradahnya kepada Allah Swt.

Orang yang telah mencapai peringkat ini akan senantiasa bahagia, nikmat, mulia dan tenang. Baginya tidak ada perbedaan sama sekali antara fakir dan kaya, senang ataupun susah, mulia ataupun hina dan sehat ataupun sakit. Karena dia mengetahui bahwa segala sesuatunya berasal dari Allah Swt. Dan dengan kecintaan dan kasih sayang-Nya yang telah tercerap dalam hatinya telah menyebabkannya begitu mencintai segala perbuatan-Nya, dan dia merasa senang dengan segala apa yang sampai padanya sebagaimana kehendak-Nya. Ketahuilah bahwa sabar dan ridha merupakan pemimpin semua ketaatan. Telah dinukil dari Imam Shadiq As, beliau bersabda: “Aku heran terhadap  apa yang dilakukan oleh seorang Muslim,  karena sesungguhnya Allah tidak akan mentakdirkan sebuah persoalanpun baginya melainkan untuk kebaikannya (apabila badannya telah terpotong-potong karena penyakit yang dideritanya, hal inipun adalah untuk kebaikannya dan) apabila malaikat barat dan timur telah diberikan keadaannya, inipun untuk kebaikannya”. (Bihârul Anwar, jil. 69, hal 331)

Dalam sebuah hadist qudsi Allah Swt berfirman: “Akulah Tuhan yang tidak ada Tuhan selain Ku. Barang siapa yang tidak sabar dengan musibah-Ku dan tidak ridha dengan qada-Ku serta tidak bersyukur dengan nikmat-nikmat Ku, maka silahkan mencari tuhan lain sepertiKu”. (Jâmi’us-Sa’âdat, jil.3, hal. 279)

Ketahuilah bahwa buah dari ridha adalah kecintaan dan kasih sayang. Hal itu dapat diperoleh dengan berusaha meraih kecintaan dan kasih sayang Allah, senantiasa berfikir, berdzikir dan melakukan segala sesuatu yang menyebabkan tercurahnya guyuran cinta kasih Ilahi. Selain dari itu, hendaklah dia memikirkan apa yang akan terjadi atas ketidakridhaan-Nya, ketidaksukaan serta kemarahan-Nya.  Di hari ini kepada Allah Swt kita memohon untuk didekatkan kepada keridhaan-Nya:

اَللَّهُمَّ قَرِّبْنِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ

Dengan meraup keridhaan Tuhan maka secara otomatis kita akan terjauhkan dari kemurkaan dan amarah Tuhan.  Lantaran sakhata (ghadaba) adalah lawan kata dari ridha. Bertautan dengan kemarahan dan kemurkaan Allah Swt  tidak bermakna sebagaimana kemarahan dan kemurkaan manusia. Karena, kemarahan pada diri manusia merupakan salah satu jenis emosi batin yang menjadi sumber reaksi cepat, kuat dan keras, dan memobilisasi kekuatan jiwa untuk membela diri dan menuntut balas. Dalam kaitannya dengan Tuhan, tidak satu pun dari seluruh makna yang merupakan keniscayaan wujud mumkin dan berubah-ubah itu layak disandangkan kepada-Nya. Kemarahan Tuhan berarti jauhnya rahmat dan kasih dari seseorang yang terjerumus dalam perbuatan-perbuatan buruk.

وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ

Nilai bulan ini sedemikian tinggi sehingga Nabi Saw bersabda: Pohonlah taufik kepada Allah Swt untuk dapat menunaikan puasa dan membaca al-Qur’an dan kedua hal ini merupakan nilai terunggul di bulan suci ini.” Sabda agung Nabi ini merupakan bukti akan keberkahan, keutamaan, dan bagaimana mengeksplorasi dengan baik segala kebaikan yang tertimbun di dalamnya. Bulan Ramadhan merupakan bulan rahmat, bulan berseminya Qur’an dan konstruksi diri. Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana seluruh sajian dan suguhan maknawiyah tersedia sehingga tumbuh-bersemi kencendrungan transendental dan nilai-nilai Ilahiah bagi seluruh starata masyarakat.

Di hari-hari bulan Ramadhan kita diajarkan untuk membaca doa “Yaa Aliyu…Yaa Azhimi….Wa huwa asy-Syahru ar-Ramadhan alladzi anzâlta fihi al-Qur’an.” (Wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Maha Agung.. Ia adalah bulan Ramadhan yang telah Kau turunkan al-Quran di dalamnya sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelas bagi petunjuk dan) Dan doa di malam-malam Lailatul Qadr seperti redaksi, As’aluka bikitâbika munzal fihi (Kupohon kepada-Mu demi kitab yang Engkau turunkan di dalamnya [bulan Ramadhan]). Kesemua ini menegaskan bahwa al-Qur’an di turunkan di bulan Ramadhan. Ayat-ayat yang mendukung redaksi doa-doa ini dapat kita lihat pada Syahru ramadhan alladzi unzila fihi al-Qur’ân (2:185), Innâ Anzalnâhu fii lailati mubârakah (Qs. 44:3), Innâ anzâlnahu fii Lailatul Qadr. (Qs. 97:1) Dari ayat-ayat ini jelas bahwa al-Qur’an diturunkan di malam penuh berkah (mubarak) bulan Ramadhan dan malam Qadar juga termasuk di dalam bulan ini.

Mengingat bernilainya bulan ini yaitu bulan diturunkannya al-Qur’an petunjuk bagi umat manusia, penjelas dan pembeda hak dan batil.  Mari kita gemarkan diri kita untuk membaca al-Qur’an yang merupakan pedoman hayati kaum Muslimin. Dengan meminta taufik kepada Allah untuk membuat kita terbiasa dan dalam setiap keadaan membaca dan bertadabbur kepada al-Qur’an. Banyak riwayat yang membicarakan ihwal keutamaan al-Qur’an dan membaca al-Qur’an. Rasulullah Saw bersabda: “Keutamaan al-Qur’an atas ucapan-ucapan yang lain laksana keutamaan Allah atas seluruh ciptaan-Nya. ” (Jâmi’ul Akhbâr wal Atsar, kitâb al-Qur’ân, jil. 1, hal. 182) Dari Imam ‘Ali As dinukil bahwa: “Dalam al-Qur’an terhadap sejarah masa lalu dan hikayat tentang masa depan serta program kehidupanmu. ” (Bihârul Anwâr, jil. 92, hal. 32) Dari Nabi Saw diriwayatkan bahwa: “Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca al-Qur’an.” (Kanzul Ummal, jil. 1, hal. 511). Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa membaca satu ayat al-Qur’an di bulan Ramadhan maka ganjaran yang ia dapatkan laksana ia menyelasaikan membaca al-Qur’an di bulan-bulan lainnya. ” Imam Shadiq As bersabda: “Setiap sesuatu memiliki masa berseminya, dan masa berseminya al-Qur’an adalah bulan Ramadhan. ” (Bihârul Anwâr, jil. 92, hal. 213)

Di sini kami akan menyebutkan dua pembesar, penyair dan cendekiawan dalam mengomentari Kitab Suci kaum Muslimin. Goethe, penyair dan cendekiawan berkebangsaan Jerman berkata, “Al-Qur’an merupakan karya yang (terkadang) dengan perantara redaksinya yang berat. Pada mulanya, pembaca akan terkejut, kemudian terpukau akan daya tariknya, dan pada akhirnya, terlena dengan keindahannnya yang tak terkira.”  
Thomas Carlyle, sejarawan dan cendekiawan terkemuka Inggris berkomentar perihal Al-Qur’an, “Sekiranya sekali waktu kita mengalihkan pandangan kita kepada Kitab Suci ini, hakikat-hakikat unggul dan rahasia-rahasia unik keberadaan, kandungan-kandungan mutiaranya memiliki keistimewaan sehingga keagungan dan realitasnya dengan baik dapat terlihat. Dan hal ini merupakan keunggulan besar yang khusus dimiliki Al-Qur’an. Tidak satu pun keunggulan yang dimiliki Kitab Suci ini tampak pada buku-buku ilmiah, politik, ekonomi, dan buku-buku lainnya. Benar bahwa membaca sebagian buku memberikan kesan yang dalam di benak seseorang. Namun, hal itu tidak dapat dibandingkan dengan apa yang ditinggalkan Al-Qur’an pada benak seseorang. Dari dimensi ini, harus diakui bahwa keunggulan pertama Al-Qur’an dan pilar-pilar asasinya bertaut dengan hakikat, dimensi-dimensi kudus, obyek-obyek unggul permasalahan dan muatan-muatan pentingnya yang tidak dapat disangsikan. Keutamaan terakhir adalah menciptakan kesempurnaan dan kebahagiaan umat manusia. Dan Al-Qur’an memiliki ajaran yang dapat menciptakan kesempurnaan dan kebahagiaan ini dengan baik.”

Dari frase doa di atas kita memohon taufik kepada Allah Swt supaya dapat membaca ayat-ayat-Nya. Ayat-ayat tadwini (tertulis, al-Qur’an) dan ayat-ayat takwini (manusia dan alam semesta).

Berbicara ihwal ayat-ayat takwini adalah berbicara tentang realitas-realitas penciptaan, keindahan dan kesempurnaan. Bahwa di balik penciptaan ini terdapat Sang Adi Kodrati yang menciptakan semesta dengan segala isinya, kemudian setelah menciptakan ia mengutus para nabi dengan bekal kitab, untuk membimbing manusia meniti jalan kesempurnaan.

Membaca ayat-ayat takwini adalah berpikir dan bertafakkur tentang hakikat-hakikat yang bertebaran dan berhamparan di alam semesta ini. Duduk, diam dan gerakannya terus-menerus menerawang bersama Rumi mendendangkan bait-bait syair tengan penciptaan:

Ruzehâ-ye Fikr-e Man inast wa be Syabha Sukhanam

Ke Cera Ghafil az ahwal-e Khisytanam

Mondeam Sakht Ajab Kez Che Sabab Sakhte Mara

Ya Che Bude ast Murad-e Wei az In Sakhtanam

Az Kuja Amadeam, Amadanam Bahre Che Buwad

Be Kuja Mirawam Akhir Nanimai Watanam

Pagi dan petang kumerenung dan berbisik lirih pada diriku

Mengapa kulalai dari ihwal kedirianku

Kutakjub bertanya sebab apa Dia merekaku

Atau gerangan apa maksud Dia menciptaku

Kudatang darimana, untuk tujuan apa kedatanganku

Dimana akhirnya titik persinggahanku

 

 

Pertanyaan ihwal sebab diciptakannya manusia adalah sebuah pertanyaan eksistensial, dan pertanyaan ini akan dihadapinya di sepanjang usia oleh setiap orang bahkan orang yang paling tak acuh di bumi ini sekalipun. Tentu dengan adanya bentuk pertanyaan ini pasti juga tersedia jawabannya. Dan jawaban yang diberikan oleh setiap orang tidak hanya satu macam, akan tetapi beragam dan bebeda-beda. Sekelompok orang jawabannya datar-datar saja, dan sekelompok lainnya meninjaunya secara dalam. Sekelompok lainnya lagi menguatkan jawaban kelompok yang satu dan kelompok yang berhadapan dengannya menguatkan jawaban kelompok yang satunya. Salah satu jawaban dari pertanyaan ini adalah yang ditawarkan terdapat di salah satu tempat ibadah Apollo di Delphi, yang di gerbangnya tertera tulisan, “Pergilah dan kenali dirimu”. Pesan moral inilah yang banyak menjadi muatan utama dalam filsafat Socrates dan Pyhtagoras. Sedemikian penting usaha dan proyek mengenal diri ini sehingga natijahnya seorang yang meniti perjalanan mengenal diri ini yang merupakan salah satu ayat takwini, tidak hanya akan mengenal kosmos tapi juga akan mengenal Tuhan pencipta kosmos.  Menyitir Baginda Ali, “Apakah engkau mengira engkau sekedar seonggok cacing kecil, padahal dalam dirimu terkandung jagad gede.” Iya, dalam diri kita yang merupakan mikrokosmos (jagad cilik) terkandung makrokosmos (jagad besar). Bagaimana dapat memahami hakikat ini? Pintalah kepada Tuhan. Semoga Tuhan menganugerahkan taufik kepada kita untuk dapat membaca dan memahami ayat takwini (diri dan semesta) yang bertebaran di seantero jagad, melakukan proses rekonstruksi pengenalan diri, sepanjang hayat di kandung badan, sehingga nilai keberadaan kita semakin berbobot dan bernilai. Sesungguhnya Dia Mahakasih dari segala pengasih. Semoga.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: