Mengingat-Mu Penuh Seluruh; Ulasan Doa Hari Keempat Puasa

Hakikat doa adalah menjalin hubungan intens dengan Tuhan. Bercengkerama dengan-Nya berikut memuja-Nya. Tatkala seorang anak manusia duduk bersimpuh di hadapan realitas tak-terbatas Ilahi, dan menjumpai-Nya sebagai Keindahan dan Kesempurnaan Mutlak, maka dihadapan Keindahan dan Kesempurnaan Mutlak ini ia merasa sangat kerdil. Dalam kekerdilannya, ia memuja, menyembah dan berserah diri pada-Nya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa doa adalah ibadah. Bahkan ruhnya ibadah. Inti ibadah adalah mengingat-Nya penuh seluruh. Sebaik-baik bentuk ibadah adalah berdoa.  Hal ini dapat kita telusuri dari lisan para maksum As, seperti yang dinukil dari Imam Baqir As, “Afdhalul ‘Ibâdah ad-Dua.” (Mahajjatul Baidha, jil. 2, bab. 2).  Di hari keempat bulan suci Ramadhan ini mari kita berdoa kepada Allah Swt untuk dikuatkan dalam memenuhi perintah-Nya, dianugerahi kelezatan mengingat-Nya, diberikan kesempatan untuk bersyukur pada-Nya dan dijaga dalam menunaikan titah-Nya.

 

اَللَّهُمَّ قَوِّنِيْ فِيْهِ عَلَى إِقَامَةِ أَمْرِكَ وَ أَذِقْنِيْ فِيْهِ حَلاَوَةَ ذِكْرِكَ وَ أَوْزِعْنِيْ فِيْهِ لِأَدَاءِ شُكْرِكَ بِكَرَمِكَ

 وَ  احْفَظْنِيْ فِيْهِ بِحِفْظِكَ وَ سِتْرِكَ يَا أَبْصَرَ النَّاظِرِيْنَ

Ya Allah, kuatkanlah diriku di bulan ini untuk menunaikan perintah-Mu, anugerahkan kepadaku di bulan ini kelezatan mengingat-Mu, berikanlah kesempatan kepadaku di bulan ini untuk bersyukur kepada-Mu demi kemurahan-Mu, dan dengan penjagaan dan tirai-Mu jagalah diriku di bulan ini, wahai Dzat Mahamelihat dari orang-orang yang melihat.

 

اَللَّهُمَّ قَوِّنِيْ فِيْهِ عَلَى إِقَامَةِ أَمْرِكَ

Ya Allah, kuatkanlah diriku di bulan ini untuk menunaikan perintah-Mu

Penghambaan dan ketaatan merupakan dua hal yang saling bertalian. Menjadi hamba Tuhan menuntut ketaatan kepada-Nya. Perintah Tuhan harus ditunaikan dan dalam menunaikan perintah Tuhan ia memerlukan energi dan kekuatan. Baik energi badan juga energi pikiran, energi keputusan dan keseriusan, sehingga firman Allah Swt yang berkuasa.

Allah Swt adalah maula seluruh manusia. Maula menitahkan abdinya untuk bergerak menuju kesempurnaan insaniah. Apabila kita menuruti titah-Nya jalan menuju kesempurnaan insaniah dapat kita lalui. Namun titah-perintah Tuhan tidak mudah ditunaikan, oleh karena itu kita meminta kepadanya supaya membantu kita menunaikan perintah-perintah-Nya. Tuhanku anugerahkan kepadaku di hari ini kekuatan untuk menunaikan perintah-Mu. Kekuatan lahir dan energi batin.

Dengan makna yang sama dalam doa Kumail kita mendapatkan permohonan seperti doa hari keempat ini, “qawwi ‘ala khidmatik jawarihi, wasydud ‘alal ‘azhimati jawanihi (kokohkanlah anggota badanku untuk berkhidmat kepadamu, teguhkanlah hatiku untuk melaksanakan niatku). Kalau ingin mencermati redaksi doa Kumail ini, kita menjumpai tiga poin penting yang dapat kita gunakan untuk menjelaskan doa ini. Pertama kita meminta energi dan kekuatan dari Tuhan lantaran Dia merupakan sumber segala kekuatan Tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. (Qs. Al-Kahf [18]:39) Kedua kita memohon kekuatan jasmani dari Tuhan karena: “Segala kekuatan adalah milik Allah.” (Qs. Al-Baqarah [2]:165)  

Dalam suluk maknawi badan dan keselamatan badan tidak boleh dilupakan. Karena manusia di alam nasut ini memiliki tugas-tugas yang harus dikerjakan dimana tanpa kekuatan dan keselamatan badan perintah-perintah tersebut tidak dapat ditunaikan. Meletihkan dan mencederai badan secara berlebihan sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian aliran kepercayaan, seperti para pertapa di India, untuk memperkuat ruh jelas tertolak dalam Islam. Poin ketiga adalah permintaan kekuatan anggota badan. Kekuatan jasmani boleh jadi diperuntukkan untuk pamer body, berbuat kezaliman, dan menyikut sana-sini. Namun mukmin yang telah lebur bersama Tuhan kekuatan jasmaninya diperuntukkan untuk mengabdi kepada-Nya, berjihad di jalan-Nya dan melayani sesama.  

Di samping memohon kepada Allah Swt untuk diberikan kekuatan badan untuk menunaikan titah dan perintah-Nya dalam ibadah dan ketaatan kepada-Nya, kita juga meminta dianugerahkan kehendak jiwa yang kuat dan azham yang puncak. Badan merupakan kendaraan bagi jiwa. Apabila badan lemah, ia tidak mampu secara maksimal menjalankan perintah Tuhan. Jiwa juga harus kuat karena tanpa keinginan jiwa yang kuat dengan kekuatan badan saja tidak menyelesaikan persoalan ini. Betapa banyak orang yang sehat raga dan fisiknya, macho dan atletis namun sayang mereka tiada keinginan jiwa untuk memenuhi perintah Tuhan. Demikian sebaliknya. Islam mengajarkan untuk memperhatikan keduanya, sisi esoterik juga sisi eksoteris.

Menunaikan ibadah puasa merupakan salah satu perintah Tuhan. Tuhan memerintahkan kepada hamba-Nya untuk terbebas dari belenggu kebiasaan dan keseharian. Serta titah untuk menggelontorkan program rekonstruksi-diri. Berpuasa dan rekonstruksi-diri (tazkiyah an-nafs) memerlukan kekuatan dan kemampuan badan juga kekuatan kehendak yang kokoh. Dari Imam Shadiq As disebutan bahwa “Badan yang kokoh karena niat sekali-kali tidak akan melemah.” Apabila berpuasa di bulan Ramadhan sepintas kelihatan mudah dalam menahan lapar dan dahaga juga karena disebabkan oleh niat yang kokoh ini. Apabila kita melihat ada orang yang melakukan praktik suluk, kegigihannya untuk tetap di jalan suluk juga bersumber dari niat yang kokoh ini.   

وَ أَذِقْنِيْ فِيْهِ حَلاَوَةَ ذِكْرِكَ

“Anugerahkan kepadaku di bulan ini kelezatan mengingat-Mu.”

Hamba yang mengingat adalah hamba yang selalu mengenang Tuhan baik dengan lisan lahirnya maupun dengan lisan batinnya. Mengingat Tuhan merupakan salah satu tingkatan dalam meniti jalan suluk. Dengan segala keberadaannya mengingat Tuhan dalam setiap keadaan, duduk, diam, berdiri dan geraknya dalam sebuah irama yang mengalun indah dalam proses dzikruLlah. Lalai dari mengingat Tuhan menyebabkan munculnya selaksa persoalan duniawi dan ukhrawi.

Tujuan asli seluruh tugas-tugas syar’i khususnya ibadah adalah menciptakan dan menguatkan rajutan antara Tuhan dan manusia. Syarat valid dan syarat sempurnanya pengerjaan ibadah adalah perhatian (ingatan) manusia kepada Tuhan. Ihwal shalat yang merupakan ibadah yang paling tinggi dan sangat dianjurkan adalah mengingat Tuhan. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Qs. Thaha [20]:14) Para fuqaha juga berkata dalam ibadah-ibadah yang lainya ketika seorang mukallaf tidak perhatian dan dzikir kepada Tuhan, maka ibadah tersebut belum lagi tertunaikan. Mengingat Tuhan menyuguhkan kelezatan dan kenyamanan. Namun bagi mereka yang telah menemukan khazanah makrifat. Dzikir tanpa makrifat tidak lain kecuali komat-kamit di lisan dengan beberapa bacaan atau mantra atau memilin tasbih dengang mengulang-ngulang bacaan tertentu. Dan apabila seseorang mengenal Tuhan, menyatakan cinta kepada-Nya maka seluruh hidupnya dipersembahkan kepada-Nya. Seluruh gerakan, diam dan langkahnya merupakan dzikir kepada Tuhan. Mengenal menuai cinta. Tak kenal maka tak sayang. Cinta dan isyq membuat sang pecinta senantiasa menyebut dan mengingat Kinasihnya. Tatkala Tuhan menjelma dalam hati seorang pecinta dan cahaya kebenaran bersinar memancar dari hatinya, maka seluruh keberadaan yang memenuhi semesta ini ia pandang sebagai jelmaan dari Allah Swt. Semesta merupakan pelataran tajalli (manifestasi) Tuhan dalam pandangan pecinta ini.  

Tentang faedah mengingat Tuhan ini banyak sekali dijelaskan dalam ayat dan riwayat. Misalnya ayat yang menyatakan “Ingatlah Aku, Ku akan mengingatmu.”  Mengingat Tuhan akan mendatangkan ketenangan, “Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram.”  Atau dalam hadis Qudis ditegaskan, ‘Ana Jâlisun man dzakarani.” Aku duduk bersama orang-orang yang mengingatku. Mengingat Tuhan mendapatkan respon segera dari-Nya, Mengingat Tuhan menentramkan hati. Mengingat Tuhan bermakna duduk bersama Tuhan. Duduk bersama Tuhan menawarkan kelezatan dan kenyamanan. Dalam mengomentari frase doa ini terakhir saya mengajak Anda bergabung dengan kafilah Imam Sajjad untuk melantunkan munajat para pezikir:

Tuhanku sekiranya tiada kewajiban menerima amar-Mu

Akan kunyatakan Engkau terlalu suci untuk zikirku kepada-Mu

Tetapi zikirku pada-Mu hanya dengan kadar-Ku, bukan kadar-Mu

Tidaklah disampaikan pada kemampuanku

Sampai aku dijadikan tempat untuk menyucikan-Mu

Di antara nikmat-Mu yang besar bagi kami

Kaualirkan pada lisan kami zikir kepada-Mu

Kauizinkan kami berdoa pada-Mu

Menyucikan dan bertasbih pada-Mu

Tuhanku Ilhamkan pada kami zikir pada-Mu

Dalam kesendirian dan kebersamaan

Pada waktu siang dan malam, dalam suka dan duka

Semoga Tuhan mengilhamkan kepada kita zikir pada-Nya, dalam kesendirian dan kebersamaan, pada waktu siang dan malam, dalam keadaan suka dan duka. Mengingat-Nya penuh seluruh. Insya Allah.

وَ أَوْزِعْنِيْ فِيْهِ لِأَدَاءِ شُكْرِكَ بِكَرَمِكَ

“Berikanlah kesempatan kepadaku di bulan ini untuk bersyukur kepada-Mu demi kemurahan-Mu.”

Allah Swt menganugerahkan nikmat yang tak-terbatas kepada manusia. Syukur kepada pemberi nikmat (mun’im) dalam pandangan akal sehat dan moral adalah wajib. Pandangan ini berlaku secara universal. Bersyukur kepada Allah Swt juga merupakan sebuah nikmat yang besar. Dan di balik nikmat besar ini juga masih memerlukan syukur yang lain. Dalam Ilahi Name, Allamah Hasan Zadeh berkata: “Ilahî Syukrat ke Miguyam Syukr.” (Tuhanku! Aku bersyukur kepadaMu karena Aku dapat berkata syukur).  Manusia, sejatinya, tidak mampu menunaikan hak syukur kepada Allah Swt dalam artian sebenarnya. Karena setiap ucapan syukur dari manusia memerlukan syukur yang lain demikian seterusnya yang berujung pada suatu akhir yang tak-berkesudahan (tasalsul). Karena memang Tuhan juga mengetahui hal ini, “Sekiranya engkau ingin menghitung-hitung nikmat-Ku, maka niscaya engkau tidak mampu.” Oleh karena itu, bersyukur atas segala nikmat Ilahi, sebagaimana seharusnya berada di luar kekuasaan kita. Namun, maa laa yudrak kulluh laa yutrak kulluh (Jika sesamudera air tidak dapat kita keruk untuk melepaskan dahaga, maka setetes airnya memadai). Dalam ucapan dan pengakuan kita mari kita buka lisan kita untuk berkata: “Syukur” dan dalam tataran amal, memanfaatkan nikmat yang kita peroleh mengikut kehendak Sang Pemberi Nikmat. Tentu saja syukur dalam tataran amal lebih utama ketimbang syukur lisan. Kita memohon kepada Allah Swt  untuk diilhamkan dapat bersyukur kepada-Nya. Bersyukur lisan dan bersyukur dalam tindakan.

وَ  احْفَظْنِيْ فِيْهِ بِحِفْظِكَ وَ سِتْرِكَ يَا أَبْصَرَ النَّاظِرِيْنَ

“Dan dengan penjagaan dan tirai-Mu jagalah diriku di bulan ini. Wahai Dzat Yang Mahamelihat dari orang-orang yang melihat.

Sebagaimana penciptaan kita di tangan Tuhan, penjagaan diri kita juga berada di tangan-Nya. Manusia bukan pemilik keberadaannya dan tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Apabila kita berkata mampu menjaga sesuatu, ucapan ini merupakan jenis majazi (figuratif), bukan yang sebenarnya. Dialah satu-satunya Penjaga. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Qs. Al-Hud [11]:57) Apabila kita menjaga sesuatu hal itu dikarenakan keperluan kita terhadapnya. Jika mobil, rumah, atau manusia kita jaga biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan kita. Allah Swt menjaga seluruh semesta tidak berasas kepada kebutuhan. Penjagaan-Nya berasas pada cinta kasihnya. Wahfizni birahmatik, Jagalah aku dengan rahmat-Mu, demikian salah satu penggalan doa Kumail.

Dalam melakukan taqarrub IlaLlah di bulan suci ini (tentu tidak terbatas bulan ini saja), kita memohon kepada Tuhan untuk menjaga kita ajeg dalam menjalankan perintahnya dan tidak tergelincir dalam perbuatan dosa, baik dosa kecil atau pun dosa besar. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: