Doa Politik dalam Shahifah as-Sajjadiyah

Selepas Imam Husain, yang menjadi imam dan khalifah umat adalah Imam Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib As. Ia adalah Imam Keempat dalam hierarki imamah mazhab 12 Imam.

Imam Sajjad (‘Ali bin Husain yang digelari dengan Zainal Abidin dan Sajjad) merupakan putra dari Imam Ketiga dan istrinya, adalah ratu di antara wanita-wanita, putri Yazdegerd Raja Iran. Ia menjejakkan kakinya di muka bumi ini pada tanggal 5 Sya’ban 38 H.  Imam Sajjad merupakan satu-satunya putra Imam Husain yang selamat, karena ketiga saudaranya ‘Ali Akbar yang berusia dua puluh lima tahun, Ja’far berusia lima tahun, ‘Ali Asghar (atau ‘Abdullah) yang masih menyusu kepada ibunya mereka semua syahid pada tragedi Karbala. Imam juga menemani ayahnya dalam perjalanan menuju Karbala hingga ayahandanya syahid di tempat naas itu. Namun lantaran menderita sakit dan tidak mampu untuk mengangkat pedang atau turut serta dalam peperangan, ia tertahan untuk terjun dalam perang suci sehingga mereguk cawan syahadah. Ia dikirim dengan keluarganya ke Damaskus. Setelah menghabiskan waktu sebagai tawanan perang ia dikirim dengan hormat ke Madinah karena Yazid hendak menenangkan opini publik. Tapi untuk yang kedua kalinya, atas perintah khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik, ia ditangkap dan dikirim dari Madinah ke Damaskus dan kembali lagi ke Madinah.

Imam Keempat, sekembalinya dari Madinah, mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat sama sekali, menutup pintu rumahnya dari orang-orang asing dan menghabiskan waktu untuk beribadah. Dia hanya berhubungan dengan kaum elit Syiah seperti Abu Hamzah ats-Tsumali, Abu Khalid Kabuli dan orang-orang besar lainnya. Dari orang-orang elit Syiah ini menyebarkan ilmu-ilmu agama yang mereka dapatkan dari Imam kepada Syiahnya. Dengan cara seperti ini, ajaran Syiah menyebar dengan baik dan menunjukkan hasilnya pada masa Imam Kelima.  Salah satu media tabligh dan perlawanan Imam Sajjad As adalah menjelaskan maarif (plural dari makrifat yang bermakna ilmu dan pengetahuan) dalam bingkai doa. Kita ketahui bahwa doa merupakan mediator maknawi antara manusia dan Tuhan yang memiliki pengaruh dan efek edukatif dan konstruktif bagi kehidupan manusia. Dari sisi ini, doa dalam pandangan Islam memiliki kedudukan tipikal dan apabila doa-doa yang bersumber dari Nabi Saw dan para Imam Suci As disatukan pada satu tempat, ia akan menjadi kumpulan dan khazanah khusus yang berharga. Doa-doa ini merupakan sebuah maktab tarbiyah besar yang memiliki peran penting dalam membina, membangun dan dapat mengantarkan manusia ke pintu gerbang keparipurnaan. Dimana sekiranya tidak ada Qur’an yang diturunkan untuk menjembatani kehidupan antara kehidupan manusia dan Tuhan serta menjadi pedoman hidup umat manusia, doa-doa yang bersumber dari para Imam Ahlulbait memadai untuk menggantikan peran itu.

Era Imam Ali Zainal Abidin adalah era sulit bagi keluarga nabawi. Situasi dan kondisi politik, sosial dan budaya yang berkembang pada masa Imam Sajjad As, adalah situasi dan kondisi yang mencekam dan mengkondisikan sang Imam untuk mengajarkan nilai-nilai maarif dan Ilahiah serta melakukan resistensi melawan pemerintahan kejam waktu itu dalam bingkai dan frame doa. Imam Ali Zainal Abidin banyak menjelaskan maksud dan tujuannya dalam doa yang terangkum dalam sebuah kitab yang masyhur dikenal sebagai “Shahifah as-Sajjadiyah (Gita Suci Keluarga Nabi). Kitab, yang merupakan khazanah terbesar dan terpenting yang menjelaskan hakikat dan makrifat Ilahiah ini selepas Qur’an dan Nahjul Balaghah sedemikian sehingga sebagian ulama menyebut kitab ini sebagai, Ukhtul Qur’an (saudari al-Qur’an), Injil Ahlulbait, dan Zabur Âli Muhammad. Hanya orang-orang yang pernah membaca doa-doa ini yang tahu keunggulan dan pengaruh baik doa dari doa-doa dan munajat ini. Melalui doa-doa ini, Imam memberikan tuntunan penting bagi orang-orang Mukmin dalam masa pengasingannya.

Sisi yang menjadi titik sorot tulisan ini adalah sisi politis yang terkandung dalam Shahifah as-Sajjadiyah. Lantaran agama mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia termasuk dimensi politik, para Imam Suci Ahlulbait memberikan pelajaran politik kepada umat pada masa mereka menjadi imam. Imam Sajjad juga tidak terkecuali dalam hal ini. Dalam kitab Zabur Keluarga Muhammad kita membaca doa Makarimul Akhlak yang merupakan pengaduan dan rintihan Imam Sajjad As kepada Tuhan sebagai berikut:

Ya Allah sampaikah salawat kepada Muhammad dan keluarganya.

Berikan kepadaku tangan yang menentang orang yang menzalimiku.

Lidah yang membantah orang yang memusuhiku dan kemenangan terhadap orang yang melawanku.

Karuniakan kepadaku kecerdikan untuk menipu orang yang memperdayakanku.

Kemampuan untuk menentang semua orang yang menindasku.

Penolakan untuk membenarkan orang yang menghinaku.

Dan keselamatan menghadapi orang yang mengancamku.

Bimbinglah aku untuk mentaati orang yang memberikan petunjuk kepadaku.

Siapakah selain para antek Abdul Malik seperti Hisyam bin Ismail Makhzumi (penguasa Madinah) yang menjadikan Imam Sajjad sebagai sasaran aniaya, kebencian, permusuhan, tekanan, intimidasi dan perlakuan tak senonoh? Oleh karena itu, doa ini merupakan media pengaduan Imam di hadapan orang-orang kasar pemerintahan masa itu dan dari perspektif ini penggalan doa Makârimul Akhlâk ini memikul beban politis di dalamnya. Lantunan doa ini dipanjatkan dalam sebuah doa moral yaitu doa Imam untuk memperoleh akhlak yang mulia dan perilaku yang diridhai oleh Allah Swt. Sejatinya Imam mengajarkan kepada kita bahwa di hadapan musuh Tuhan kita tidak boleh berdiam diri. Dengan doa, yang merupakan senjata kaum Mukmin, resistensi harus tetap berlanjut dalam menghadapi penguasa zalim, sebelum mengangkat senjata yang sebenarnya. Untuk memperoleh akhlak yang mulia dan diridhai oleh Allah, kebencian dan permusuhan kita kepada kezaliman tetap harus diekspresikan meski dalam bingkai doa. Artinya melawan penguasa zalim merupakan manifestasi akhlak mulia dan diridhai oleh Tuhan.    

Dalam penggalan doa lain Imam Sajjad mengajarkan umat persoalan penting yang menjadi persoalan utama umat pasca risalah dan nubuwwah yaitu persoalan imamah yang memikul tidak hanya muatan spiritual, sosial, kultural, tapi juga muatan krusial politik. Dan menekankan bahwa pos imamah dan khilafah merupakan pos yang ditentukan oleh Tuhan dan orang yang menduduki pos ini merupakan orang-orang pilihan Tuhan. Dalam doa no. 48, doa Imam pada hari Korban dan hari Jum’at kita membaca penggalan doa sebagai berikut:

Ya Allah. Sungguh maqam ini maqam para khalifahmu dan pilihan-Mu.

Padahal tempat orang-orang kepercayaan-Mu di tempat tinggi yang telah kau khususkan bagi mereka sudah diambil mereka.

Tetapi Engkau yang menentukan itu semua

Perintah-Mu tak terkalahkan

Tidak terlampaui urusan-Mu yang telah ditentukan kapan saja Kau kehendaki dalam hal yang Engkau lebih tahu padanya.

Engkau tidak tertuduh

Karena ciptaanmu dan kehendak-Mu

Lalu, para pilihan-Mu dan khalifah-Mu

Dikalahkan, dikuasai, dirampas

Mereka melihat hukum-Mu diganti,

Kitab-Mu dicampakkan,

Kewajibanmu diselewengkan

Dari tujuan syariat-Mu

Dan sunnah Nabi-Mu ditinggalkan

Dalam doa ini Imam Sajjad dengan tegas menyatakan bahwa masalah imamah dan kepemimpinan umat adalah menjadi tipologi keluarga Nabawi, dan menyebut orang-orang aniaya yang merampasnya. Dan dengan demikian ia menafikan dan menginkari legalitas pemerintahan Bani Umayyah. Karena masalah imamah bukan masalah sepele, Imam Sajjad melantunkan doa ini di hadapan khalayak untuk menegaskan kedudukan hayati dan signifikan imamah dan kepemimpinan umat. Tatkala kaum Muslimin berhimpun dalam sebuah perhelatan tahunan dan mingguan, Imam As mengajarkan kepada umat posisi keluarga nabi di tengah umat.   

Demikian juga dalam doa Imam Sajjad pada hari Arafah, kita membaca peran penting seorang Imam sebagai menara cahaya, pembimbing yang wajib untuk ditaati. Lamat-lamat Imam Sajjad bersenandung:

Tuhanku

Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya

Setimbang arasy-Mu, sepenuh langitmu

Dan apa yang ada diatasnya

Sejumlah bumi-Mu dan apa yang dibawahnya

Dan diantara keduanya

Shalawat

Yang mendekatkan mereka kehadirat-Mu

Yang Kauridhai dan mereka ridhai

Sambung bersambung dengan bandingannya

Sampai selama-lamanya

Ya Allah

Pada setiap zaman Kauteguhkan agama-Mu

Dengan Imam yang Kautegakkan

Sebagai pembimbing hamba-Mu

Menara cahaya di negeri-Mu

Setelah Kauikatkan talinya dengan tali-Mu

Kaujadikan dia sarana menuju ridha-Mu

Kauwajibkan kami mentaatinya

Kaularang kami menentangnya

Kau perintahkan kami mengikuti perintahnya

Dan menghindari larangannya

Tidak boleh mendahuluinya

Tidak boleh meninggalkannya

Dialah perlindungan para pelindung

Gua kaum beriman

Tali orang yang bergantung

Dan cahaya alam semesta

Ya Allah

Ilhamkan kepada wali-Mu

Bersyukur atas nikmat-Mu kepadanya

Dan ilhamkan kepada kami seperti itu juga

Berikan kepadanya dari sisi-Mu

Penguasa pembela

Menangkan dia

Dengan kemenangan yang mudah

Tolong dia

Dengan tonggak-Mu yang perkasa

Tegakkan punggungnya

Kuatkan tangannya

Jagalah dia

Dengan mata-Mu

Pelihara dia

Dengan pemeliharaan-Mu

Bantu dia

Dengan para Malaikat-Mu

Topang dia

Dengan tentara-Mu yang tak terkalahkan

Melalui dia

Tegakkan kitab-Mu, hukum-hukum-Mu

Syariat-Mu dan sunah Rasul-Mu Saw

Melalui dia

Hidupkan ajaran-ajran agama-Mu

Yang sudah dimatikan orang-orang zalim

Bersihkan karat kezaliman dari jalan-Mu

Tepiskan bahaya dari jalur-Mu

Hilangkan orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu

Dan hapuskan orang-orang yang berbelok

Dari jalur lurus-Mu

Lembutkan pinggangnya

Kepada para kekasih-Nya

Julurkan tangannya bagi musuh-musuh-Mu

Berikan kepada kami

Kasih dan sayangnya

Lembut dan santunnya

Jadikan kami orang-orang yang

Mendengarkan dan mentaatinya

Berusaha memperoleh ridhanya

Siaga menolong dan membelanya

Dan dengan begitu didekatkan

Kepada-Mu dan Rasul-Mu Saw.

Imam Ali Zainal Abidin dalam doa ini juga menyebutkan peran dan kedudukan tipikal para pemimpin Ilahi dan para imam dari keluarga nabawi dan keunggulan mereka. Dan hal ini bermakna negasi dan penafian pemerintahan yang berkuasa pada waktu itu. Patut kita perhatikan bahwa doa ini disampaikan oleh Imam As ketika jamaah haji melakukan wukuf di Arafah. Dimana tanpa melakukan ritual wukuf di Arafah ini, haji seseorang dinyatakan tidak sah. Tempat yang menjadi bagian rukun haji dan tempat berkumpulnya umat inilah Imam Sajjad menyampaikan doa penting ini. Dan pada tataran yang lebih serius, tujuan pelaksanaan haji sejatinya adalah perjumpaan dengan Imam Zaman sebagaimana yang tertuang dalam al-Qur’an surah al-Hajj (22): 27 yang menyatakan bahwa tujuan pelaksanaan haji adalah perjumpaan dengan Imam Zaman (yang ketika itu adalah Nabi Ibrahim, dan pada masa selepas Imam Husain adalah Imam Sajjad dan pada masa sekarang adalah Imam Mahdi Ajf). Redaksi ayat yang menyatakan “wa adzdzin fii an-nas bil haj ya’tuka rijalan wa ‘ala kulli dhamirin ya’thina min kulli fajjin amiq” (Dan serulah seluruh manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh) menegaskan bahwa yang menjadi titik sentral ibadah haji adalah ya’tuka yang bermakna perjumpaan dengan Imam. Imam yang menjadi wali, wakil dan khalifah Tuhan di muka bumi, yang mengelaborasi ahkam dan mengeksposisi maarif Qur’an serta menjadi media effusi (faidh) dan emanasi Tuhan bagi seluruh penduduk semesta. Demikianlah Imam Sajjad berekspresi politis dalam format doa.[]    

Milad agung Imam Sajjad As 5 Sya’ban 1428 H/ 19 Agustus 2007 semoga menjadi hari bahagia buat Anda.

Iklan