Free atawa Determinisme [9]

Freewill atau Determinisme?


Saintis Kristian: Terdapat satu isu penting yang terdapat dalam konsep Keadilan Ilahi, dan hal ini merupakan masalah kontroversial dalam filsafat sekaligus dalam bidang agama; yaitu, kebebasan manusia.
Para filosof dan juga para ulama berbeda dalam menghadapi permasalahan ini. Beberapa dari mereka mendakwahkan kebebasan manusia, dan bahwa apa saja yang ia lakukan, ia kerjakan berdasarkan kepada kebebasan yang dimilikinya; beberapa dari mereka mengingkari kebebasan ini, dan berpikir bahwa apa yang kelihatannya sebuah aksi bebas atau non-aksi adalah telah diatur atau sebuah hasil dari sebab tertentu atau dari mata rantai sebab-sebab.
Saya telah membaca literatur Islam yang mengatakan bahwa Islam mendakwahkan predestinasi, dan bahwa seluruh pekerjaan manusia telah ditentukan oleh Tuhan, dan bahwa manusia tidak dapat merubah jalur yang ia ambil. Saya juga membaca, sebuah pandangan Islami yang berbeda dan mengingkari konsep predestinasi atau jabariyah dalam aksi dan non-aksi manusia. Kini, saya ingin mendiskusikan dengan Anda permasalahan ini dan mencari tahu apa yang sebenarnya Islam ajarkan dalam masalah yang penting ini.  Ruhani Muslim: Untuk mendefinisikan subjek pembahasan kita, perlu kiranya kita memperjelas bahwa diskusi yang kita lakukan tidak termasuk kondisi-kondisi tertentu yang tidak disebabkan oleh kehendak manusia sendiri, seperti jatuh sakit, menderita kebutaan, dan kematian. Dalam wilayah ini tidak adanya kebebasan manusia nampak dengan jelas. Tidak ada yang dapat mengklaim bahwa manusia memiliki kebebasan dalam menghadapi kondisi semacam itu, karena hal ini tidak datang lantaran manusia memilihnya demikian. Diskusi kita hanya termasuk pada wilayah pekerjaan dan perbuatan manusia dimana manusia sepertinya bertindak atas pilihan dan kehendaknya sendiri. Di sini ikhtilaf lama masih menyala dan membagi orang-orang ke dalam dua kelompok: kelompok yang menganjurkan dan mendakwahkan kebebasan, dan kelompok yang mempropagandakan predestinasti, Determinisme atau jabariyah. Islam, sebagaimana Anda tahu, mengabarkan kepada kita bahwa Tuhan telah mewahyukan perintah-perintah tertentu; bahwa Dia akan mengganjari mereka yang menaati perintah-perintah-Nya; dan bahwa Dia akan mengazab mereka yang tidak menjalankan perintah-perintah-Nya. Agama yang mendakwahkan masalah ini dapat menjadi konsisten hanya bilamana ia menganjurkan kebebasan manusia, kalau tidak, agama semacam ini mengingkari konsep keadilan Tuhan. Agama yang mendakwahkan keduanya baik keadilan Tuhan dan predestinasi akan secara jelas bertentangan dengan dirinya sendiri tatkala disebutkan bahwa Tuhan akan mengganjari hambanya yang taat dan mengazab yang membangkang. Ketika aksi atau non-aksi manusia diatur sebelumnya oleh Tuhan, manusia tidak akan mampu mengubah jalur hidupnya. Ia tidak akan mampu melakukan sesuatu tatkala ia telah ditakdirkan untuk melakukan sesuatu yang lain. Manusia akan seperti sebuah mesin. Sebuah mesin tidak mampu, dengan sendirinya, mengubah jalur hidupnya, dan akan menjadi konyol ketika dikatakan bahwa sebuah mesin tunduk patuh terhadap sebuah perintah tertentu, kemudian mendapat ganjaran atau mendapat hajaran. Menghilangkan kebebasan manusia, seluruh tatanan konsep agama akan runtuh dan rusak. Pada kenyataannya, jika kita mengingkari kebebasan manusia, maka tidak akan perlu pewahyuan dari langit. Pengutusan para nabi yang mengajar dan membimbing umat manusia akan menjadi sia-sia. Tatkala seseorang ditakdirkan untuk menjadi seorang atheis, ia tidak akan menjadi seorang yang beriman, dan tidak akan ada seorang nabi yang mampu mengubah hatinya. Seorang ditakdirkan menjadi jahat tidak akan menjadi warga yang baik, terlepas dari ajaran apapun yang ia terima. Kebebasan manusia, pada kenyataannya, menjadi dasar seluruh konsep agama, dan Islam secara jelas menganjurkan kebebasan manusia.  Saintis Kristian: Dari diskusi kita yang sebelumnya, saya tahu bahwa Islam menganjurkan dengan kuat doktrin Keadilan Tuhan. Oleh karena itu, Islam, diharapkan mendakwahkan kebebasan manusia dan menentang gagasan predistinasi atau apa yang disebut dalam filsafat sebagai “Determinisme.” Saya ingin tahu apakah al-Qur’an menunjukkan kebebasan manusia secara jelas.  Ruhani Muslim: Kitab Suci al-Qur’an telah mengindikasikan, lebih dari satu cara, bahwa manusia merupakan seorang pelaku yang merdeka dan bebas. Indikasi al-Qur’an itu menjelaskan bahwa manusia mampu merubah kondisi dan keadaan hidupnya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. ar-Ra’ad [13]:11)Jika manusia ditakdirkan untuk mengambil satu jalur tertentu, ia tidak akan mampu merubah jalur tersebut. Apa saja yang ia lakukan atau hindari akan dilakukan atau dihindari, tidak melalui pilihan, tapi melalui paksaan. Kitab Suci al-Qur’an, juga mendeklarasikan bahwa Tuhan tidak meminta manusia untuk melakukan sesuatu yang mustahil, juga tidak meletakkan sesuatu yang sukar bagi hamba-Nya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qs. al-Baqarah [2]:286) Sebagai contoh, jika manusia ditakdirkan untuk berdoa atau melakukan pembunuhan dan Tuhan berkata kepadanya untuk tidak membunuh atau berdoa, Dia akan meletakkan kesulitan besar kepadanya, dan Dia akan memintanya untuk melakukan sesuatu yang mustahil baginya. Dia tidak akan memintanya untuk melakukan apa yang ia mampu lakukan karena ia telah ditakdirkan untuk, sebelum ia lahir, membunuh dan bukan untuk shalat. Kemudian, ia tidak mampu mematuhi perintah Tuhan. Kenyataannya bahwa ia diperintahkan untuk shalat dan dilarang untuk membunuh, hal ini menunjukkan bahwa Tuhan memandang manusia hamba-Nya sebagai makhluk yang bebas, dan bahwa apa saja yang diperintahkan atau tidak atasnya adalah berada dalam kemampuannya. Kitab Suci al-Qur’an juga, menunjukkan kebebasan manusia dengan menyebut dan menekankan tanggung jawab setiap individu atas apa yang ia lakukan: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (Qs. az-Zumar [39]:41)(Yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (Qs. an-Najm [53]:38)Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (al- Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri.” (Qs. Yunus [10]:39)Konsep tanggung jawab individu menunjukkan secara jelas bahwa individu merupakan pelaku bebas. Kalau tidak, ia tidak memikul tanggung jawab atas segala sesuatu yang boleh jadi dihasilkan olehnya. Tanggung jawab adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kebebasan.  Saintis Kristian: Ayat-ayat yang Anda nukil dari Kitab Suci al-Qur’an menunjukkan bahwa manusia dianugerahi kebebasan yang memadai yang membuat ia dapat memikul tanggung jawab dan pantas untuk mendapatkan ganjaran atau azab atas perbuatannya. Bagaimanapun, terdapat beberapa ayat yang dinukil dari al-Qur’an yang menunjukkan predestinasi. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan manusia dikontrol oleh Tuhan. Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:             “Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Insan [76]:29-30)“Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.” (Qs. al-A’raf [7]:155)Ayat-ayat ini berseberangan dengan ayat-ayat yang Anda nukil. Hal ini membuat bingung dan menciptakan dilema.  Ruhani Muslim: Bagi seorang Muslim, Kitab Suci al-Qur’an merupakan kitab wahyu. Ia mengandung kebenaran, dan seluruh kandungan al-Qur’an haruslah benar. Sebuah kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran yang lain. Apa saja yang nampak kontradiksi namun pada hakikatnya tidaklah demikian. Hal itu hanya secara lahir tampak kontradiktif.  Tatkala dua bagian ayat-ayat kelihatannya bertentangan dengan yang lain, mereka harus diperlakukan dengan sebuah perlakuan khusus. Tatkala salah satu dari dua bagian itu memiliki indikasi yang lebih jelas dari indikasi bagian yang lain dalam masalah yang sama, bagian yang memiliki indikasi yang lebih jelas harus diikuti. Kelompok lain harus diinterpretasikan dengan sebuah jalan yang tidak berseberangan dengan yang pertama. Perlakuan ini nampaknya perlu dilakukan tatakala bagian yang lebih jelas adalah lebih sesuai dengan sisi logis dari masalah tersebut. Dan beginilah perkara dari dua permasalahan yang disebutkan di atas. Camkan hal ini baik-baik, kita boleh jadi dapat memahami dua kelompok tersebut dan mengintepretasi yang pertama dengan sebuah jalan yang tidak akan berseberangan dengan yang terakhir. Kita boleh memahami dari dua ayat pertama pada kelompok kedua bahwa kemampuan manusia untuk memilih adalah bersumber dari Tuhan. Manusia boleh jadi memilih jalur tertentu, namun kemampuannya untuk memilih adalah anugerah Tuhan. Tuhan mampu menghilangkan darinya kebebasan ini dan turut campur dengan kehendak-Nya. Namun Tuhan tidak biasanya melakukan hal tersebut. Dua ayat kedua, juga dapat diinterpretasikan dengan sebuah jalan yang tidak berseberangan dengan kebebasan manusia: Tuhan boleh jadi menuntun seseorang kepada jalan yang benar, dan Dia boleh jadi meninggalkan yang lain pada jalan yang salah. Namun kita tidak dapat mengharap dari Tuhan untuk menganugerahkan tuntunan kepada seseorang dan meninggalkan yang lain dalam kesalahan berdasarkan pada sistem acak. Dia boleh jadi menolong seseorang dengan menganugerahkan untuk mencoba menemukan kebenaran dan keinginan untuk mengikutinya. Dia boleh jadi meninggalkan seseorang dalam kesalahan tatkala orang itu tidak ingin menerima kebenaran. Dengan penafsiran ini, tidak akan ada dilema. Bagian pertama dari ayat-ayat itu akan tetap demikian adanya tanpa pertentangan, yang menunnjukkan secara jelas kebebasan manusia.  Saintis Kristian: Tuhan merupakan Pencipta seluruh semesta, seluruh segmen dan kejadiannya. Tidak ada kejadian apa pun di luar penciptaan-Nya. Keinginan manusia merupakan salah satu kejadian yang berlaku di dunia ini. Manusia, dengan demikian, tidak memiliki kebebasan.  Ruhani Muslim: Apabila hal ini benar adanya, kita harus menisbahkan kepada Tuhan seluruh kezaliman, tirani dan kejahatan yang dilakukan manusia. Namun tidak seorang pun orang yang beriman kepada Tuhan akan mengatributkan seluruh kejahatan dan dosa kita kepada Tuhan. Yang benar adalah bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dengan kekuatan untuk memilih, dan hal ini berarti bahwa Dia menganugerahkan kepadanya sebuah kebebasan. Tuhan dapat mengarahkan kehendak manusia dan membuat ia memilih jalur tertentu jika Dia menghendaki, namun tidak ada dalam kehidupan kita yang mengindikasikan bahwa Tuhan biasanya turut campur dalam keinginan kita. Lantaran Dia menganugerahkan kepada kita kekuasaan untuk memilih tanpa interfensi dari-Nya. Hal ini bermakna bahwa Dia mengharapkan kita untuk menggunakan kekuasaan kita untuk memilih dan memiliki pilihan sendiri.  Saintis Kristian. Tuhan mengetahui masa depan kita sebagaimana Dia mengetahui masa kini dan masa lalu kita. Dia mengetahui apa yang akan saya lakukan di masa datang seperti Dia mengetahui apa yang saya lakukan sekarang. Dia mengetahui sebelum kita lahir jalan apa yang akan kita ambil setelah kelahiran kita dan di masa mendatang. Lantaran segala sesuatu diketahui oleh-Nya, perbuatan kita haruslah telah ditentukan sebelum kita berbuat atau bertindak. Kita tidak akan dapat mengambil sebuah jalan baru yang tidak diketahui oleh Tuhan, juga kita tidak akan keliru mengambil jalan yang telah diketahui sebelumnya oleh Tuhan. Kekeliruan kita untuk mengambil jalan yang Dia ketahui, akan bermakna kekeliruan dalam pengetahuan-Nya. Pengetahuan Tuhan tidak pernah salah dan keliru.  Ruhani Muslim: Pengetahuan kita terhadap kejadian-kejadian tertentu tidak menentukan kejadian-kejadian tersebut, juga tidak karena pengetahuan kita peristiwa itu terjadi. Saya tahu, misalnya, bahwa seluruh pekerja pada sebuah pabrik khusus menyantap makan siang mereka pada siang hari. Hal ini tidak berarti bahwa pengetahuankulah yang menyebabkan mereka menyantap makan siang mereka pada saat itu. Tuhan, tanpa sangsi, mengetahui masa depan kita, tapi hal ini tidak harus berarti bahwa seluruh perbuatan kita di masa depan disebabkan oleh pengetahuan-Nya. Seluruh perbuatan yang kita kerjakan masing-masing memiliki sebabnya sendiri-sendiri, dan faktor utamanya adalah kehendak manusia yang menghendaki terlaksananya sebuah tindakan atau perbuatan. Di samping itu, Tuhan mengetahui bahwa saya akan melakukan suatu perbuatan tertentu didorong oleh kehendak bebasku sendiri. Lantaran pengetahuan Tuhan tidak keliru, perbuatanku harus merupakan sebuah perbuatan bebas yang disebabkan oleh kehendak bebasku. Jika perbuatanku merupakan sebuah produk dari keterpaksaan (bukan kebebasan), pengetahuan Tuhan akan keliru. Pengetahuan Tuhan tidak pernah keliru; oleh karena itu, saya tidak akan keliru dalam membuat keputusanku sendiri, melalui kehendak bebas yang aku miliki.  Saintis Kristian: Diskusi ini telah membuat seluruh permasalahan menjadi jelas. Poin yang Anda sebutkan terakhir merupakan poin yang sangat penting. Pada kenyataannya, argumen terakhir yang saya ajukan adalah keliru karena mencampur aduk antara pengetahuan terhadap sebuah perisitwa dan sebabnya, namun setiap kejadian biasanya memiliki sebabnya sendiri. Kita tahu bahwa Tuhan mengetahui seluruh perbuatan kita yang merupakan produk dari kehendak bebas. Dan karena Tuhan telah memberikan kepada kita kekuasaan untuk memilih, kehendak kita haruslah merupakan sebuah produk bebas dari kekuasaan tersebut. Pengetahuan Tuhan tidak pernah keliru. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah keliru untuk mendapatkan seluruh perbuatan kita sebagai produk dari kehendak bebas yang kita miliki. Ketika kita menisbahkan doktrin kebebasan manusia, kita akan konsisten dan terjaga dari kontradiksi. Doktrin keadilan Tuhan tidak dapat direkonsiliasi dengan doktrin predestinasi. Kita tidak dapat berkata bahwa perbuatan manusia dipaksa oleh Tuhan, kecuali kita mengingkari keadilan Ilahi. Karena kita tidak ingin mengingkari doktrin keadilan Tuhan, juga tidak mau menerima kontradiksi, kita harus menegasikan, secara bulat, doktrin predestinasi.[] 

DALAM KEMBARA KALAM

DIALOG INTERFAITH

DALAM KEMBARA KALAM


PERSIAPAN SEBELUM PERJALANAN

Teritori Kalam terhampar luas di hadapanku. Aku hendak memulai perjalanan dan pengembaraan pada teritori ini, dengan menunggangi kendaraan rasionalitas. Dan engkau di sini, dengan ajakanku, menemaniku pada pengembaraan dan perjalanan ini. Supaya tidak membuatmu lelah dan letih pengembaraan dan pelancongan khusus ini akan berlangsung cepat. Kelak suatu ketika engkau akan menjadi pelancong musiman, sehingga kemudian engkau dapat menikmati pelancongan dan pengembaraan jauh. Kita mulai pelancongan dan pengembaraan ini tanpa adanya prakonsepsi atau prajudis, tapi dengan pikiran terbuka, dengan akal kita sebagai pemandunya. Dalam memilih pemandu, kita memandang akal kita mampu membedakan dua atau beberapa pilihan, untuk memutuskan yang mana yang benar.  TINGKATAN PERTAMAKita memulai pengembaraan ini dengan observasi sederhana. Kita melihat dunia sekeliling kita dan memikirkan sebuah pertanyaan klasik: Bagaimana seluruh hal ini dapat terwujud dan dari mana datangnya? Kita mencari di sana-sini jawaban atas pertanyaan klasik ini. Kita menemukan tidak hanya satu jawaban, tapi banyak jawaban yang tersedia. Kita berikan pilihan untuk memilih bagi akal kita yang mana yang benar di antara jawaban-jawaban tersebut.  Dalam penjelajahan kita, kita menemui sebuah buku yang menghadirkan mata rantai penalaran, yang membimbing kita pada sebuah jawaban atas pertanyaan kita. Buku tersebut berkata:Sesuatu atau wujud yang dengan wujudnya wujud yang lain mewujud atau yang wujudnya bergantung kepadanya disebut sebagai sebab. Sesuatu atau wujud yang bergantung atau berhutang budi atas eksistensinya disebut sebagai akibat atau fenomena. Eksistensi sebuah akibat tidak dapat bergantung kepada sebuah ketiadaan atau non-eksisten. Hal ini menandakan bawha mata rantai sebuah akibat  dan sebabnya harus berujung dan bermuara pada sebuah sebab mandiri (self-existing cause), kalau tidak akan bermakna eksitensi sebuah wujud atau sesuatu dimunculkan oleh sebuah ketiadaan (non-being) atau kekosongan (naught); yang mana hal ini merupakan hal yang absurd dan absurditasnya adalah jelas dan gamblang dengan sendirinya (self-evident).         Dasar seluruh investigasi ilmiah menegaskan bahwa tidak akan ada sebab tanpa adanya akibat. Redaksi “sebab” merupakan sebuah terma yang berarti sesuatu yang bertanggung jawab bagi wujud dan eksisnya sebuah wujud dan eksisten: dan sebab ini terdiri dari dua bagian, sebab struktural  dan sebab kreatif. Struktur sebab-sebab merupakan bagian dan komponen akibat-akibat. Sebab kreatif atau sebab agensial merupakan sebab yang memproduksi dan melahirkan faktor-faktor, yang membawa struktur menjadi ada akan tetapi ia bukan bagian dari struktur. Sebab struktural terdiri dari dua jenis sebab, material dan form. Sebab material merupakan sesuatu yang terbuat dari luar struktur. Sebab forma merupakan bentuk atau form struktur itu sendiri. Sebab pengada bermakna bahwa faktor yang memproduksi bagian-bagian dan pengaruh-pengaruh terhadap susunannya. Sebab ini terdiri dari dua model, genetik dan objektif, yang pertama disebut sebagai sebab pertama dan sebab aktif dan yang belakangan disebut sebagai sebab tujuan atau sebab final. Segala sesuatu atau wujud yang terkomposisi dengan alam merupakan sebuah akibat, artinya eksistensinya tidak berasal dan bersumber darinya, dan sebagaimana bergantung kepada salah satu, setidaknya, bagian dan wujudnya adalah disebabkan oleh mereka. Bagian-bagian sebuah wujud atau wujud-wujud ia tidak dapat berasal dari ketiadaan. Pertanyaan, kemudian, mengemuka di sini ihwal apakah bagian-bagian tersebut ada dengan sendirinya atau mereka adalah rangkapan, bergantung kepada bagian-bagiannya? Apabila mereka merupakan bagian-bagian rangkapan maka kita harus menelusuri ke belakang proses hingga kita mencapai komponen-komponen terakhir yang akan menuntun kepada kesimpulan bahwa mereka merupakan wujud non-rangkapan ada dengan sendirinya dimana seluruh bangunan besar akibat-akibat dan sebab-sebabnya bertengger. Akan tetapi, tidak ada wujud dari sebuah tabiat yang memiliki dimensi dapat dihadirkan pada skop ruang dan waktu, dan dapat menjadi sebuah tabiat non-rangkapan sebagai wujud paling sederhana dan paling mikro yang mendiami ruang adalah bersifat dimensional dan dapat dibagi secara geomteris dan berantung kepada bagian-bagiannya. Oleh karena itu, tidak ada wujud dimensional yang dapat dipandang sebagai sebuah wujud yang eksis dengan sendirinya (self-existing) dan maka dipandang sebuah Sebab Pertama dan Pemula dalam mata rantai keawalan. Kita harus menerima baik bahwa rantai tersebut bersandar kepada ketiadaan, yang mana hal ini merupakan hal yang absurd atau kita terpaksa keluar dari domain mata rantai material dalam mencari wujud non-rangkapan, non-dimensional dan ”
Ada” dengan sendirinya (self-existing ‘Being’) dan menegaskan bahwa mata rantai sebab dan akibat-akibat berdasarkan kepada Wujud.
Hal ini bermakna bahwa seluruh domain dimensional dapat dihadirkan dalam pentas ruang dan waktu dan waktu merupakan sebuah akibat dan fenomena sebuah Wujud non-dimensional dan non material. Bertolak dari sini, kita harus meninggalkan domain dimensional dan berproses mencari Wujud yang
Ada dengan sendirinya (self-existing Being) yang bertanggung jawab atas fenomena mata rantai sebab dan akibat dalam sebuah domain dimana logika dan metode tidak memiliki pendekatan kepadanya sama sekali.
Dengan demikian, Wujud Swa-Ada (Self-Existing Being) haruslah bersifat nirbatas, tidak terangkum dalam pentas ruang dan waktu. Ia harus di luar (beyond) seluruh batasan dimensional dan non-dimensional, dan sebagainya, dan wujud tersebut tidak dapat kecuali ia Esa; lantaran konsep dua wujud swa ada melambangkan adanya batasan-batasan dari keduanya. Konklusi yang dapat dicapai di sini adalah bahwa Wujud Swa-Ada itu Satu, Unit yang real, yang tidak dapat dibagi sama sekali, dalam artian waktu, dan dalam pandangan bentuk dan setiap aspek imaginable (yang dapat dibayangkan).  Dengan demikian, wujud itu adalah Real Unik, wujud yang serupa dengannya dalam artian apa pun adalah mustahil. Unit Unik ini yang dengannya wujud-wujud terbatas terbagi dan sebagai sebuah keseluruhan adalah eksis, adalah tidak alpa dan lalai dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia sadar atas dirinya sendiri. Akal kita mengikuti penalaran yang diberikan dalam buku itu dan tidak ditemukan setitik kesalahan pun di dalamnya. Kita memiliki jawaban atas pertanyaan pertama yang kita ajukan, dan jawaban ini juga membuktikan untuk dapat dijadikan kendaaraan yang membawa kita untuk melanjutkan perjalanan yang tersisa. Kita sampai pada kesimpulan bahwa terdapat, sebuah waktu yang nirbatas, Mahakuasa, Entitas Serba Meliputi, Yang Menciptakan segalanya dan kita menyebut-Nya sebagai Tuhan atau Allah.  

Kembara Perdana: Alkisah, seseorang bertanya kepada seorang yang paling bijak bestari dari suatu masa untuk memandu dan membimbingnya kepada Tuhan, ia berkata bahwa ia selama ia kebingungan oleh kalimat polemis yang menyesakkan batinnya. Sang bijak bestari bertanya: “Apakah engkau pernah menaiki bahtera mengarungi samudera?” Ia menjawab: “Iya.” Sang bijak bestari berkata: “Apakah bila bagian badan bahtera itu mengalami kebocoran dan tidak ada seorang pun di tempat itu yang dapat menyelamatkanmu dari karam dalam amukan gelombang ombak samudera? “Iya.” “Pada saat-saat yang genting tersebut dan asamu putus dari segalanya,  apakah engkau memiliki perasaan bahwa sebuah kekuataan tak terbatas dan mahakuasa yang dapat menyelamatkanmu dari nasib yang mengenaskan itu?”         “Iya, begitulah kira-kira.” Sang bijak bestari berkata kemudian: “Dialah Tuhan Yang menjadi sumber andalan dan kepada-Nya setiap insan melabuhkan harapan ketika seluruh pintu-pintu asa tertutup.”   Kembara Kedua:Seorang materialis berkebangsaan Mesir bertolak ke Mekkah untuk melakukan perdebatan, dan di tempat itu ia berpapasan dengan seorang bijak bestari yang kita jumpai pada pengembaraan kita sebelumnya dan yang akan kita jumpai kembali pada perjalanan dan pengembaraan berikutnya. (Nama sang bijak bestari dan sumber-sumber bahan-bahan perjalanan ini akan kita ketahui setelah kita sampai pada tingkatan keempat dari perjalanan kita ini, selamat jalan) Ketika diskusi telah dimulai, sang bijak bestari berkata: “Apakah Anda menerima bahwa bumi ini memiliki atas dan bawah?”     Orang Mesir itu berkata: “Iya.” Lantas bagaimana Anda tahu apa yang ada di bawah bumi?” Orang Mesir itu berkata: ” Aku tidak tahu, tapi aku kira tidak ada sesuatu di bawah bumi ini.”  Sang bijak bestari berkata: “Berkhayal merupakan simbol ketidakmampuan ketika Anda tidak mendapatkan kepastian. Kini katakan kepadaku, Apakah Anda pernah naik ke atas langit?” “Tidak. ” Jawab orang Mesir itu pendek.“Alangkah anehnya Anda belum pernah ke Timur dan Barat, Anda belum pernah menuruni bawah bumi dan naik ke angkasa, atau melintasinya untuk mengetahui apa saja yang tersimpan dan tertimbun di baliknya akan tetapi Anda mengingkari apa yang ada di situ. Akankah seorang bijak mengingkari realitas yang sebenarnya ia tidak ketahui? Dan Anda mengingkari eksistensi Sang Pencipta lantaran Anda tidak melihat-Nya dengan mata kepala Anda? Orang Mesir itu berkata: “Tidak ada seorang pun yang pernah berkata hal ini kepadaku. ” Sang bijak bestari berkata: “Jadi, sesungguhnya Anda memiliki keraguan ihwal keberadaan Tuhan; Anda pikir bahwa Dia itu boleh jadi ada atau boleh jadi tidak?” “Barangkali demikian.” “Duhai kisanak, orang yang tidak tahu adalah kosong dan hampa dari segala bukti; orang jahil tidak akan pernah memiliki bukti. Sadarlah bahwa kita tidak pernah memiliki keraguan atau syak akan keberadaan Tuhan. Tidakkah engkau perhatikan matahari dan bulan, siang dan malam yang secara reguler berputar dan mengikuti alurnya yang tetap? Jika mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan atas diri mereka sendiri, biarkanlah mereka keluar dari jalurnya dan tidak kembali. Mengapa mereka secara konstan kembali? Jika mereka bebas dan merdeka dalam rotasi dan perputarannya, mengapa siang tidak menjadi malam dan malam menjadi siang? Aku bersumpah demi Tuhan mereka tidak memiliki pilihan dalam gerakan-gerakan mereka; Dialah yang menyebabkan fenomena ini mengikuti sebuah jalur yang tetap? Dialah yang memerintahkan mereka; dan kepada-Nyalah kembali segala kebesaran dan keagungan. Orang Mesir itu berkata: “Anda berkata benar.”Sang bijak bestari itu melanjutkan: “Jika engkau bayangkan bahwa semestalah yang melahirkan manusia, lalu mengapa semesta tidak menariknya? Jika ia menariknya, mengapa ia tidak menghadirkannya? Ketahuilah bahwa tujuh petala langit dan bumi adalah tunduk di bawah kehendak-Nya. Mengapa tujuh petala langit itu tidak jatuh menimpa bumi?  Mengapa lapisan-lapisan bumi tidak terguling dan mengapa mereka tidak berjejal bertumpuk hingga mencapai langit? Mengapa mereka yang menghuni bumi tidak setia kepada satu dengan yang lain? ” Akhirnya, orang Mesir itu tunduk dan menerima kebenaran, “Tuhan Dialah Penguasa dan Junjungan tujuh petala langit dan bumi yang melindungi mereka dari kejatuhan dan kerusakan.”  Kembara Ketiga: Seorang yang bernama Mufaddhal, yang merupakan salah seorang pengikut sang bijak bestari ini, pernah bertanya: “Tuanku, beberapa orang berkhayal bahwa keteraturan dan keakuratan dalam sistem semesta yang kita lihat ini merupakan sistem dan mekanisme kerja alam.” Sang bijak bestari berkata: “Tanyakan pada mereka apakah semesta melalukan semua ini dengan segala akurasi yang terhitung berdasarkan ilmu pengetahuan, pemikiran dan kekuasaan dirinya sendiri. Jika mereka berkata bahwa semesta memiliki pengetahuan dan kekuasaan, apa yang menghalangi mereka untuk menegaskan dan membuktikan dzat azali Ilahi dan mengakui keberadaan prinsip yang lebih suprim? Jika, pada sisi lainnya, mereka berkata bahwa semesta mengerjakan tugasnya secara regural dan dengan benar tanpa pengetahuan dan kehendak, maka mekanisme bijak dan akurat ini, hukum-hukum yang serba terhitung dan terkalkulasi merupakan buah cipta, karya dan kerja dari seorang pencipta yang Serba mengetahui dan Mahabijaksana. Apa yang mereka sebut sebagai semesta, sebuah hukum dan kebiasaan yang ditunjuk oleh tangan kekuasan Ilahi untuk mengatur penciptaan.”  TINGKATAN KEDUAPada tingkatan kedua dari perjalanan dan pengembaraan ini, kita berada di persimpangan jalan dan menjumpai dua jalan bercabang. Satu jalan memandang bahwa keadilan bukan merupakan sifat Tuhan. Tuhan tidak perlu berlaku adil. Asumsi ini tentu saja akan menuntun orang pada chaos, lantaran membuat seluruh kehidupan, termasuk perjalanan yang kita tempuh kali ini sepenuhnya tanpa makna. Akal kita (dengan kekuatannya untuk membedakan baik dan buruk) memutuskan bahwa ketidakadilan adalah sebuah perbuatan keliru. Dengan kata lain, asumsi ini melambangkan dan menyiratkan ketidaksempurnaan pada Tuhan. Tentu saja akal kita tidak dapat menerima hal ini. Jalan lain menyatakan adalah bahwa Tuhan senantiasa berlaku dan berbuat adil. Akal kita menerima dan menempuh jalan ini kemudian, dan menuntun kita untuk mengayunkan langkah ke depan.  TINGKATAN KETIGA Ketika Keadilan Tuhan diterima sebagai sebuah kenyataan, berikut ini terdapat beberapa konklusi-konklusi logis sebagai berikut: 1.     Penciptaan bukan sebuah fenomena tanpa tujuan;2.     Ketika penciptaan memiliki tujuan, makhluk-makhluk haruslah dibimbing secara proporsional kepada tujuan tersebut. Kita jumpai bahwa kita telah sadar bahwa seorang pemandu telah disiapkan pada tujuan kilat ini. Dialah akal kita, yang mampu menuntun kita sejauh ini dalam perjalanan rasional kita ini. Ialah penuntun dan pemandu internal kita. Adalah akal yang menuntun kita kepada fakta dan realitas bahwa ia sendiri tidak memadai untuk menuntun kita. Akal dapat menyesatkan kita. Terdapat hajat dan kebutuhan terhadap penuntun eksternal yang terang. Dan Tuhan adalah Hakim, hendaknya mengirim panduan ini kepada kita dalam bentuk yang kita dapat pahami dan ikuti. Hajat dan kebutuhan terhadap panduan dan bimbingan tersebut terus berlanjut. Ia harus tersedia setiap saat. Kajian sejarah menunjukkan bahwa terdapat beberapa orang di masa lalu yang menyebutkan bahwa mereka diutus oleh Tuhan untuk memandu dan membimbing manusia. Bimbingan dan panduan ini, selama masa hidup mereka, menunjukkan jalan yang benar kepada umat manusia. Beberapa orang dari mereka meninggalkan naskah-naskah, sehingga umat manusia dapat mengikuti naskah-naskah suci ini setelah para pemandu dan pembimbingnya beranjak dari arena kehidupan ini. Dituntut juga bahwa pemandu tersebut harus diutus berulang-ulang, setelah seorang pemandu datang dan pergi, terkadang orang-orang lantaran alasan-alasan egois, memanipulasi ajaran-ajaran dan naskah-naskah dan bahkan medistorsinya demi kepentingan personal mereka. Atas alasan ini, diperlukan untuk mengirim pemandu dan pembimbing secara berulang, memperbaharui naskah-naskah dan maklulmat-maklumat, pada setiap dekade atau abad. Pada tingkatan ini, kita memiliki tugas untuk mengavaluasi kebenaran, stetement-stetment orang-orang tersebut dalam sejarah, yang menyebutkan dan mengklaim diri mereka sebagai utusan Tuhan. Untuk setiap bentuk evaluasi, kita memerlukan standar dan kriteria. Sekali lagi, akal kita datang untuk menolong dan menunjukkan beberapa standar dan kriteria kepada kita.         1. Karena orang-orang ini berasal dari sisi Tuhan, mereka harus terbebas dari kesalahan dan perbuatan keliru. Setiap orang yang melakukan setiap kesalahan pada setiap waktu hidupnya tidak akan terbimbing secara benar. Lantaran bagaimana orang yang melakukan kesalahan, mendesak dan menuntut orang lain untuk tidak melakukan kesalahan? Juga, jika seseorang tidak terbebas dari kesalahan, lalu siapa yang akan berkata bahwa bagian mana ajarannya yang benar dan yang salah? Pada sisi lain, mereka haruslah menjadi pemimpin bagi umat manusia dalam kualitas-kualitas dan nilai-nilai. 2. Mereka haruslah tidak pernah mendapatkan pelajaran dari orang lain di dunia ini. Dan lagi mereka haruslah menjadi orang yang paling cendikia di antara seluruh manusia pada masanya. Pengetahuan mereka haruslah nihil dan hampa dari kesalahan dan kekeliruan. Dan yang lain, argumen yang disebutkan di atas, dapat juga diterapkan pada masalah berikut ini: Jika pengetahuan mereka rawan kesalahan, siapa yang dapat berkata bahwa bagian mana dari perintah-perintah dan titah-titah mereka yang benar dan yang keliru dan menyesatkan? Hal ini akan menyisakan panduan dan bimbingan tanpa integritas, dan oleh karena itu, tiada gunanya. Lantaran pemandu dan pembimbing berasal dari Tuhan, pendidikan dan pengetahuan mereka haruslah berasal dari Sang Pencipta dan bukan berasal sesuatu yang lain dalam penciptaan, karena hanya pengetahuan dari Tuhanlah yang nihil dan kosong dari kesalahan. 3. Ketika diminta, mereka harus mampu menunjukkan kekuatan-kekuatan supranatural (baca: mukjizat) sebagai tanda-tanda dari Tuhan akan kebenaran mereka. 4. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai mereka haruslah tidak berubah dari waktu ke waktu, karena perubahan yang terjadi pada prinsip dan nilai-nilai yang mereka anut menyiratkan ketidaksempurnaan pada satu tingkatan atau pada tingkatan yang lain. Hal yang lain, indikator-indikator kebenaran seorang utusan Tuhan- mengutus seorang pembimbing, akan tetapi kriteria di atas harus memadai bagi kita untuk mengevaluasi kebenaran yang menyatakan bahwa ia adalah seorang pembimbing yang diutus oleh Tuhan. Dibekali dengan kriteria di atas, kita selidiki seluruh jalan-jalan sejarah. Kita jumpai beberapa nama yang tidak ragu lagi adalah pembimbing-pembimbing yang merupakan utusan Tuhan. Orang-orang tersebut disebut sebagai para rasul atau nabi-nabi Tuhan. Beberapa nama yang kita jumpai adalah: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa (Semoga Tuhan merahmati mereka seluruhnya) Kini kita jumpai bahwa beberapa orang berhenti pada nama Musa dan tidak melangkah lebih jauh darinya. Orang-orang yang dalam perjalanan ini melanggeng jauh hingga mencapai nama Isa. Beberapa orang kemudian berhenti di sini dan menolak untuk melangkah lebih jauh. Kendati demikian, melihat tidak satu pun dari mereka (seperti Musa, Isa dan orang-orang mulia lainnya) yang menyatakan bahwa mereka merupakan utusan terakhir dari Tuhan, beberapa orang dari kita masih mencari dan mengkaji serta mengevaluasi criteria kita, hingga kita sampai pada sebuah nama: Muhammad. Mari kita amati Nabi Muhamamad Saw berkenaan dengan empat kriteria yang disebutkan di atas: 1. Infallibilitas, bahkan sebelum mendeklarasikan kenabiannya, Muhammad telah digelari sebagai “Shadiq” (Orang yang benar) dan “Amin” (Orang yang dapat dipercaya), oleh kaum politeis dan musyrik Mekkah. Bahkan setelah orang-orang politeis ini menjadi musuh-musuhnya (setelah deklarasi kenabiannya), tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa di antara kaum musyrik tersebut dapat mencari cela dan cacat pada diri Muhammad Saw. 2. Muhammad Saw, memiliki sebuah kitab yang diwahyukan, Kitab Suci al-Qur’an. Kitab suci ini merupakan salah satu tanda-tanda terkuat dari kebenaran Muhammad Saw. Ihwal buku ini, seorang ilmuan dewasa ini, Dr Maurice Bucaille dari

French
Academy of Medicine, menyatakan pandangannya sebagai berikut: “Objektifitas in toto, dalam pandangan ilmu pengetahuan modern, menuntun kita untuk mengenali kesepakatan antara dua, sebagaimana telah disampaikan pada berbagai kesempatan.  Hal ini membuat kita memandangnya tidak dapat dipikirkan bagi orang-orang pada masa Muhammad  untuk menjadi pengarang atas stetment-stetment semacam itu, mengingat kondisi ilmu pengetahuan hari ini. Pertimbangan-pertimbangan semacam ini adalah bagian dari apa yang menjadikan wahyu Qur’ani menduduki tempat yang unik dan memaksa ilmuan yang jujur dan netral untuk mengakui ketidakmampuannya untuk menyediakan sebuah penjelasan yang semata-mata bersandar pada penaralan materialistik. Ia juga mengatakan: “Sedikit pun perubahan dan distorsi yang terjadi pada al-Qur’an pasti akan merusak pertalian dan hubungan luar biasa yang menjadi karakterisik al-Qur’an. Qur’an merupakan sebuah khutbah yang diperkenalkan kepada manusia melalui pewahyuan yang berlangsung selama dua puluh dua tahun. Pewahyuan ini berlangsung selama dua periode yang sebanding dengan masing-masing sisi gua Hira.”[1] Sebagaimana jelas pada sentimen yang diekspresikan Dr Bucaille, hanya Qur’an merupakan bukti yang banyak atas kriteria kedua, ketiga, dan keempat bagi seorang nabi yang benar, sebagaimana yang disebutkan di atas. Kini kita perhatikan bahwa Muhammad Saw, memenuhi seluruh kriteria  bagi seorang pembimbing benar dari Tuhan, juga dikatakan bahwa ia merupakan seorang Nabi Allah yang terakhir, dan tidak ada nabi dan rasul lagi yang diutus selepasnya. Orang-orang yang telah mencapai sejauh ini dalam pencarian mereka mencari nabi-nabi Allah, adalah disebut sebagai Muslimin dan jalan yang mereka ikuti disebut sebagai Islam.         Pada poin ini kita hentikan pencarian kita dan menerima Islam sebagai jalan kita. Kita meyakini kebenaran Muhammad Saw, dan Kitab Suci Al-Quran. Hingga kini, kita telah melakukan perjalanan dengan menggunakan pertolongan akal semata. Pada penghujung tingkatan ini, kini kita harus memiliki dua kendaraan lagi untuk membawa kita melanjutkan perjalanan ini. Kedua kendaraan ini adalah: Ayat-ayat Qur’an dan sunnah otentik Nabi Saw.         Dan tingkatan ketiga dari perjalanan kita ini berakhir.  Ekskursi: Sekelompok ulama Kristen dari Najran datang kepada Nabi Saw dan terlibat perdebatan dengannya ihwal keyakinan Kristen melawan keyakinan Islam.   Sebagaimana Kristen meyakini bahwa Yesus Kristus merupakan putra Tuhan memandang bahwa ia lahir tanpat seorang ayah, Kitab Suci Al-Qur’an pertama kali menolak penalaran mereka dengan logika, “Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia) maka jadilah ia.” (Qs. Ali Imran [3]: 59) Ketika ulama Kristen menolak menerima nalar, Tuhan memerintahkan Nabi Saw sebagai berikut: “Dan siapa  yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Qs. Ali Imran [3]; 61) (Ayat ini juga kerap disebut sebagai ayat Mubâhalah) Nabi Saw menyampaikan titah Tuhan kepada para pendeta Kristen itu. Telah disepakati bahwa esok harinya akan menjadi hari yang menentukan. Esok harinya, Nabi Saw, menjalankan titah Tuhan, membawa cucundanya Hasan As dan Husain As, putri kinasihnya Fatimah As dan saudara sepupu sekaligus menantunya (Ali As) untuk menghadapi para pendeta Kristen itu. Abu Haris bin Alqama, salah seorang pemimpin kelompok Kristen, menyaksikan prosesi Nabi Saw dan menyampaikah hal tersebut kepada kawan-kawannya. “Aku melihat wajah-wajah yang apabila mereka berdoa kepada Tuhan untuk memindahkan gunung, maka Tuhan niscaya mengabulkan doa-doa mereka. Janganlah kalian melawan mereka atau kalian akan binasa.” Kemudian, kelompok Kristen itu menerima kekalahan mereka dan menyetujui untuk menyerahkan jizyah (semacam pajak) kepada Nabi Saw. Peristiwa ini dinukil secara mendetail dalam beberapa kitab-kitab Islam termasuk, “Shahih Muslim“, “Madârij an-Nubuwwah“, dan sebagainya.  TINGKATAN KEEMPATSebagaimana yang telah kita temukan pada awal-awal tingkatan ketiga ini, terdapat sebuah kebutuhan bagi kemestian tersedianya bimbingan secara berkelanjutan, kalau tidak masyarakat boleh jadi merubah ajaran-ajaran pemandu mereka untuk kepentingan dan kemaslahatan pribadi mereka masing-masing. Tapi Nabi Muhammad Saw merupakan Nabi Pamungkas yang diutus oleh Tuhan untuk membimbing manusia kepada-Nya. Hal ini bermakna bahwa risalah yang ia bawa harus tetap terjaga dari segala bentuk manipulasi dan distorsi setelah ia wafat. Hal dapat dilakukan apabila suksesor Muhammad Saw tetap ada, orang yang dipercaya untuk menunaikan tugas menjaga risalah. Dan akal mendikte bahwa para suksesor ini juga harus terbebas dan terjaga dari dosa dan perbuatan salah, sebagaimana Nabi Saw sendiri. Kemudian, apakah Muhammad Saw, dalam masa hidupnya menunjuk pengganti dan penjaga risalah selepasnya? Pada poin ini, terdapat dua jalan lagi yang membentang di depan kita.         Pengembara atau pengelana salah satu jalan tersebut mengatakan bahwa tentu saja, Nabi Saw menunjuk seseorang sebagai khalifahnya dan tidak masuk akal untuk mengasumsikan sebaliknya, yaitu mengatakan bahwa Nabi Saw tidak menunjuk seseorang untuk menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Kalau tidak, bagaimana mungkin Nabi Saw menjadi sosok yang tidak bertanggung jawab meninggalkan agama tanpa seorang penjaga selepasnya? Orang-orang yang memilih dan menempuh jalan ini disebut sebagai “Syiah.”         Pengelana yang menempuh jalan yang satunya disebut sebagai “Sunni.” Mereka berkata bahwa Nabi secara khusus tidak menunjuk seseorang menjadi pengganti dan khalifahnya. Namun, penjejalahan dan pengembaraan kita mengindikasikan bahwa pengingkaran terhadap adanya penunjukkan merupakan perbuatan keliru dan tidak logis, sebagaimana telah dibuktikan dari Ahlul Kitab yang mengingkari kenyataan ini. Penjelajahan kita lakukan menyingkap kenyataan-kenyataan berikut ini: Nabi Saw menyebutkan bahwa jumlah khalifahnya adalah dua belas orang. Hadits ini dinukil dari berbagai sumber dalam sumber-sumber penting Ahlusunnah, termasuk Bukhâri, Muslim, Musnad Ahmad bin Hanbal, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Tabarani, Musnad al-Hamidi, Mustadrak al-Hakim dan sebagainya. Beberapa penulis telah menghitung lebih dari dua ratus perawi hadis ini. Hal ini membuat hadis ini tidak tertolak. Kemudian, siapa keduabelas khalifah Nabi Saw ini? Tanpa syak lagi, Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah Nabi Saw yang pertama, sebagaimana dijelaskan oleh hadis-hadis sahih, pemimpin dari mereka yang disebutkan pada hadis al-Ghadir sebagai berikut: Beberapa bulan sebelum wafatnya, Nabi Saw menunaikan ibadah haji yang terakhir. Dalam memenuhi seruan Nabi Saw, ribuan kaum Muslimin dari jauh dan dekat bergabung besertanya menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Nabi Saw beserta kaum Muslimin bertolak menuju Madinah. Mereka belum pergi terlalu jauh, sesuai dengan titah dan perintah Tuhan, Nabi Saw meminta mereka berhenti seluruhnya di sebuah tempat yang disebut sebgai Ghadir Khum.  Di tempat ini, Nabi Saw meminta mimbar dari pelana-pelana unta didirikan. Ketika mimbar telah siap, Nabi Saw naik ke atas mimbar dan menyampaikan khutbahnya. Kemudian, ia mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib di atas tangannya dan berkata: “Barang siapa yang menjadikan Aku sebagai mawlanya maka Ali adalah mawlanya.” Dan kemudian ia mengangkat tangannya ke atas dan berdoa kepada Tuhan, katanya: “Wahai Tuhanku! Cintailah orang yang mencintai Ali dan bencilah orang yang membencinya; tolonglah orang yang menolongnya dan tinggalkanlah orang yang meninggalkannya.”      Dan kemudian, di hadapan ribuan kaum Muslimin, Nabi Saw menunjuk Ali sebagai khalifah dan penggantinya. Hadis ini dinukil dari sumber-sumber otentik Ahlu Sunnah, di antaranya adalah sebagai berikut:         Muslim: Sahih        Ahmad bin Hanbal: Musnad         Nisai: Kitâb al-Khasâis          Hakim Naisapuri: Mustadrak         Hakim Hakani: Syawâhid at-Tanzil         Suyuti: Tafsir Durr al-Mantsur          Razi: Tafsir Kabir          Muhammad Abduh: Tafsir al-Manar          Ibn Asakir Shaafa’i: Târikh Damaskus          Ibn Talha Shaafa’i: Mathâlib as-Suâl          Ibn Sabagh Maliki: Fusûl al-Muhimma          Sulaiman Qandazi Hanafi: Yanabi’ al-Mawadda          Ibn Jurair Tabari: Kitâb al-Wilâyah          Badruddin Hanafi: Umdat al-Qari fi Sharh al-Bukhari          Abdulwahhab Bukhari: Tafsir al-Qur’ân          Hafiz Abu Na’eem: Nuzûl al-Qur’ân          Humwaini: Farâidh al-Simtain  Hadis ini telah dinukil secara langsung dari Nabi Saw oleh setidaknya seratus sepuluh sahabat Rasulullah Saw. Untuk lebih detilnya, silahkan rujuk ke kitab Al-Ghadir, karya Allamah Amini Ra. Khalifah kedua dan ketiga adalah Imam Hasan As dan Imam Husain As, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah As. Hal ini merupakan perkara yang jelas dari Nabi Muhammad Saw, hadis yang menegaskan masalah ini di antaranya adalah sebagai berikut: “Ali adalah saudaraku, pewarisku, khalifahku dan pemimpin kaum Mukminin setelahku; kemudian Hasan; kemudian Husain; kemudian putra-putra Husain: Qur’an bersama mereka dan mereka bersama Qur’an. Keduanya tidak akan berpisah satu dengan yang lain hingga keduanya sampai di telaga Kauthar).” (Humwaini) Berkenaan dengan sembilan khalifah yang merupakan keturunan Imam Husain, izinkan saya untuk menukil satu lagi hadis (dari sekian hadis): Dalam kitab Sayid Ali Hamadan, Shafai, Akhtab Khawarizm dan sebagainya, dinukil dari Salman Ra bahwa ia pernah melihat Nabi Saw sementara Husain duduk di pangkuannya dan Nabi Saw mengecup matanya dan bibirnya dan bersabda, “Engkau adalah sayid (tuan) dan putra dari tuan. Engkau adalah imam dan putra dari imam. Engkau adalah hujjah dan ayah dari sembilan hujjah, hujjah yang kesembilan adalah Qa’im As.” Apakah Nabi Saw pernah mengindikasikan seluruh keduabelas khalifanya dan menyebut nama-nama mereka? Lagi jawabannya adalah: Iya. Seorang Yahudi bernama Natsal, bertanya kepada Nabi Muhammad Saw beberapa pertanyaan. Dalam pertanyaan itu, ia bertanya ihwal khalifah Nabi Saw. Nabi Saw bersabda: “Setelahku, khalifahku adalah Ali bin Abi Thalib dan setelahnya kedua putraku, Hasan dan Husain, dan kemudian terdapat sembilan Imam dari keturunan Husain.” Natsal bertanya perihal nama-nama mereka. Nabi Saw menjawab: “Ketika Husain telah tiada, putranya Ali akan menjadi khalifah setelahnya; ketika Ali telah tiada, putranya Muhammad akan menjadi khalifah setelahnya; ketika Muhammad telah tiada, putranya Ja’far akan menggantinya sebagai khalifah; ketika Ja’far telah tiada, putranya Musa akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Musa telah tiada, putranya Ali akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Ali telah tiada, putranya Muhammad akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Muhammad telah tiada, putranya Ali akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Ali telah tiada, putranya Hasan akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Hasan telah tiada, putranya Al-Mahdi akan menggantikannya sebagai khalifah. Mereka berjumlah dua belas Imam.” (Qandozi: Yanabi’ al-Mawadda) Seharusnya tidak ada keraguan ihwal nama-nama kedua belas khalifah Nabi Muhammad Saw. Bukti yang ada sangat banyak menegaskan kenyataan ini bahwa Rasulullah Saw menunjuk seorang khalifah sebelum wafatnya. Sejatinya, Nabi Saw mengumumkan seluruh jalur khalifahnya, hingga hari Kiamat, tanpa adanya gap yang mengantarainya. Dari hadis-hadis di atas, jelas bahwa seluruh khalifah ini berjumlah dua belas orang; tidak lebih, tidak kurang.
Para khalifah ini disebut sebagai “Imam.”
Kedua belas Imam ini juga dirujuk sebagai “Ahlulbait” (Keluarga Nabi Saw). Kedua ulama baik Syiah dan Sunni menerima fakta ini. (Untuk merujuk pandangan Sunni, silahkan lihat, “Arjah al-Mathâlib” karya Ubaidullah Amritsari). Adapun hadis yang dinukil di sini, dan banyak lagi hadis-hadis yang sejenis dengannya, seluruh ahli hadis (muhaddits) dan ulama serta mayoritas ahli hadis Sunni menerima fakta bahwa Imam Keduabelas merupakan putra Hasan Askari As. Namanya adalah nama Rasulullah Saw dan ia telah dilahirkan kurang lebih dua ribu tahun yang silam, dan ia hidup, kendati gaib dari pandangan kita. Ia tetap akan berada dalam masa ghaibah hingga masa yang dikehendaki oleh Tuhan, dan kemudian, sesuai dengan titah Tuhan, ia akan menunjukkan dirinya kepada dunia dan menguasai dunia serta memenuhinya dengan keadilan. Kita hampi mendekati akhir dari perjalanan kita, kita akan melintasi senarai pilihan beberapa referensi Sunni, yang menegaskan fakta yang disebutkan di atas.  Namun, beberapa orang meragukan tentang khalifah terakhir. Mari kita mencoba menjernihkan keraguan-keraguan ini. Dari sumber-sumber otentik, Imam Keduabelas, yang namanya mirip dengan nama Nabi Saw, dan yang memiliki gelar sebagai “Al-Mahdi”, lahir pada tahun 869 M. Imam Hasan al-Askari As syahid pada tahun 874 M. Hal ini berarti bahwa Imam Keduabelas telah menjadi pemimpin umatnya pada usia lima tahun. Beberapa orang mengajukan keberatan dan bertanya: Bagaimana mungkin seorang bocah
lima tahun menjadi pemimpin umat ini?
Ada apa sedemikian perkara ini tidak dapat dipercaya? Tidakkah Qur’an memberikan kita beberapa contoh orang-orang yang menjadi pemimpin sementara usia mereka masih sangat belia? Mari kita lihat beberap contoh:
1. Nabi Isa menjadi nabi dan berbicara dengan orang-orang selagi ia masih seorang bayi dalam ayunan (Qs. Maryam [19]: 29-31). 2. Berkenaan dengan Yahya, Kitab Suci al-Qur’an berkata: “Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (Qs. Maryam [19]:12) 3. Nabi Sulaiman ditunjuk oleh Allah sebaga pewaris ayahnya Nabi Daud, dan menjadi raja bagi umatnya padahal ia belum lagi mencapai masa baligh.  Jika Nabi Isa, Yahya, Sulaiman dapat menjadi pemimpin pada masa kecil mereka, lalu mengapa al-Mahdi tidak boleh? Keraguan yang kedua yang mengemuka bagi sebagian orang adalah ihwal hidup panjang Sang Imam. Ketika tidak mammpu menghadapi kenyataan ihwal hidup panjang Imam, beberapa orang  meyakini bahwa khalifah keduabelas Nabi Saw tidak hidup sekarang, melainkan akan lahir pada masa mendatang. Asumsi ini tidak memiliki dasar sama sekali dalam hadis-hadis nabawi, lantaran hal ini akan memutus mata rantai para khalifah. Mari kita lihat beberapa bukti yang menegaskan keberadaan Imam Keduabelas, dari sumber al-Qur’an dan hadis-hadis nabawi. Pada surah ke-13, ayat ke-7, al-Qur’an menyebutkan: “(Wahai Muhammad!) Engkau tidak lain seorang pemberi peringatan, pada setiap umat terdapat seorang pemberi petunjuk.” Siapakah pembimbing dan pemberi petunjuk hari ini? Pada surah ke-8, ayat 33, al-Qur’an menyebutkan: “Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sementara engkau berada di sisi mereka.” Banyak ulama Sunini, termasuk Ahmad bin Hanbal dalam “Musnad“, dan Ibnu Hajar dalam bukunya “Sawâiq al-Muhriqah”, menukil hadis berikut ini dari Nabi Saw dalam menafsirkan kedua ayat di atas: Rasulullah Saw bersabda: “Bintang gemintang merupakan media rahmat bagi para penduduk langit, dan jika bintang-gemintang itu binasa, maka penduduk langit juga akan binasa. Dan Ahlulbaitku merupakan media rahmat bagi para penduduk semesta, dan jika Ahlulbaitku tiada, para penduduk semesta akan binasa.” Ibnu Hajar dalam mengomentari hadis tersebut berkata: “Ahlulbait merupakan media rahmat bagi para penduduk semesta sebagaimana Rasulullah Saw adalah media rahmat bagi mereka.” Selanjutnya ia menulis: “…Allah menciptakan semesta ini untuk Rasulullah, dan membuat keberadaan semesta ini bersyarat kepada eksistensi Ahlulbait lantaran mereka memiliki beberapa keutamaan yang sama dengan Rasulullah Saw, sebagaima yang disebutkan oleh Fakhrurrazi, dan lantaran Rasulullah Saw bersabda tentang keutamaan mereka bahwa: Wahai Allah! Mereka berasal dariku dan Aku berasal dari mereka”, lantaran mereka merupakan bagian darinya karena ibu mereka, Fatimah adalah bagian darinya. Oleh karena itu mereka juga merupakan amnesti bagi penduduk bumi.” Hadis-hadis di atas secara jelas menunjukkan bahwa keberadaan khalifah Rasulullah Saw tidak boleh terputus dan terpotong. Hal ini bermakna bahwa khalifah keduabelas dan khalifah terakhir Nabi Saw telah dilahirkan dan hidup, kendati sekarang sedang melewati masa ghaibah (tersembunyi dari pandangan kita) Kembali kepada pertanyaan ihwal masa hidup yang panjang, apakah hal ini sesuatu yang menakjubkan dan sebuah hal yang baru? Tidak. Bukti-bukti sangat melimpah dalam sejarah umat manusia orang-orang yang memiliki usia panjang. Dan bukti-bukti itu adalah sebagai berikut: 1. Menurut al-Qur’an (surah ke-29, ayat 14) Nabi Nuh As berdakwah selama 950 tahun. Tentu saja usianya lebih panjang dari bilangan itu. 2. Disepakati oleh seluruh kaum Muslimin bahwa Nabi Khidr As masih hidup hingga saat ini. Al-Qur’an menyebutkan kisah perjumpaannya dengan Nabi Musa As, dan seterusnya, Khidr kini berusia lebih dari 3000 tahun. Ia juga tersembunyi dari pandangan manusia. 3. Ulama mazhab Hanafi, Sibt Ibn al-Jauzi, dalam kitabnya, “Tadzkirât al-Khawâs al-Ummah” membeberkan nama-nama 22 orang yang diyakini oleh kaum Muslimin telah hidup dengan beragam usia semenjak 3000 tahun turun hingga 300 tahun. 4. Bahkan berbicara secara ilmiah, tidak ada persoalan serius untuk menegaskan usia panjang seseorang. Sekelompok ilmuan mengadakan serangkaian eksperimen di Rockefeller Institute di
New York pada tahun 1912 pada bagian-bagian tertentu tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Ilmuan ini termasuk Dr. Alex Carl, Dr. Jack Lope, dan Dr. Warren Lewis dan istrinya, dan lain sebagainya. Di antara eksperimen yang dilakukan adalah ekperimen yang secara langsung berkaitan dengan syaraf, otot, hati, kulit dan ginjal manusia.
Organ-organ ini tidak berhubungan dengan raga manusia. Sebagaimana disimpulkan oleh ilmuan ini bahwa bagian-bagian ini atau organ-organ ini dapat berlanjut hidup hampir secara pasti sepanjang dirawat secara proporsional, dan selama organ-organ ini dilindungi dari interaksi-interaksi negatif dengan dunia luar seperti mikroba-mikroba dan penghalang-penghalang lainnnya yang dapat merintangi perkembangan organ-organ ini. Terlebih, penegasan yang dibuat oleh para ilmuan tersebut bahwa sel-sel dapat tumbuh secara normal di bawah kondisi-kondisi tersebut, dan pertumbuhan tersebut adalah secara langsung berkenaan dengan tersedianya makanan secara proporsional. Kembali, menjadi tua tidak memiliki pengaruh terhadap organ-organ ini, dan mereka tumbuh setiap tahunnya tanpa ada tanda-tanda ketuaan.
Para ilmuan itu menyimpulkan bahwa organ-organ ini akan tetap tumbuh sepanjang kesabaran para ilmuan itu tidak habis, yang menyebabkan mereka meninggalkan proses pemberian makanan.
Akhirnya, lantaran kita telah menerima Tuhan, apakah di luar kekuasaannya untuk tetap menjaga dan memelihara seseorang untuk tetap hidup sesuai dengan kehendak-Nya? Orang-orang yang ragu terkadang bertanya: “Apa faidahnya seorang pemimpin yang tidak dapat dilihat?” Mari kita jawab pertanyaan ini dengan mengajukan pertanyaan lain: Apakah mesti bagi seseorang harus dilihat untuk dapat menjadi penting dan bermanfaat, atau menerima bimbingan darinya? Dapatkah Anda melihat Tuhan? “Dan Allah berfirman bahwa Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 142) Dari hadis-hadis yang dinukil di atas, cukup jelas bahwa keberadaan bumi sendiri bergantung kepada kehadiran seorang Imam di muka bumi. Wujudnya dalam masa ghaibah tidak merubah situasi dan keadaan. Dunia mengambil manfaat dan keuntungan dari Imam dalam masa ghaibah persis seperti ia mengambil manfaat dari matahari yang tersembunyi di balik gugusan awan. Sekarang poin yang lain yang perlu dijelaskan dan diterangkan pada tingkatan ini adalah mengapa ghaibah? Mengapa khalifah terakhir dan pamungkas Rasulullah Saw tersembunyi dari pandangan masyarakat dan kapan ia menunjukkan dirinya?Terdapat banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dan jawaban yang paling sederhana adalah sebagai berikut: 1. Kegaiban Imam merupakan sebuah ujian bagi orang-orang beriman bagi para pengikutnya, sebagaimana Musa gaib selama 40 hari dari para pengikutnya. Kegaiban ini merupakan sebuah ujian bagi para pengikutnya. (silahkan rujuk al-Qur’an surah ke-7 ayat 42) (Dalam konteks ini, perhatikan bahwa sebuah ujian dari Tuhan sebenarnya kenyataan bagi kita sendiri adalah sebagai saksi, selain dari itu Tuhan memiliki pengetahuan atas segala sesuatu). 2. Kegaiban Imam adalah untuk menjaga mereka dari kejahatan para oppresor dan tiran dunia. Imam al-Mahdi As akan segera datang bilamana masyarakat telah siap sedia untuk menyambut kedatangannya. Masyarakat sepanjang sejarah tidah pernah siap sedia. Mereka membunuh para nabi dan para imam, secara bergiliran satu dengan yang lainnya. Namun, Allah tetap mengirim para nabi hingga akhirnya Dia mengutus Muhammad Saw yang membawa risalah terakhir pada masa akal manusia mencapai masa balighnya dan kemudian Allah membekali mereka dengan agama yang paling lengkap dan pamungkas. Setelahnya tidak ada lagi keperluan untuk mengutusi dan mengirim risalah baru. Lalu Dia mengutus para penjaga, pembimbing, pemberi petunjuk (para imam) yang memelihara dan menjelaskan risalah kepada masyarakat. Akan tetapi para penindas dan tiran di antara masyarakat tetap membunuh para imam. Situasi dan kondisi ini terus berlanjut hingga pada masa dimana masyarakat menyadari bahwa mereka membutuhkan seorang imam  yang ditunjuk oleh Tuhan yang memerintah mereka. Ketika keadaan ini terjadi secara universal, dan tatkala orang-orang menjadi frustrasi dan kecewa dari segala jenis dan model “dosa” dan mengangkat tangan mereka untuk meminta tolong, kemudian orang-orang akan menjadi siap sedia menyambutnya. Imam al-Mahdi As akan datang ketika segala jenis ideologi diuji dan gagal. Pada saat masyarakat menyadari bahwa mereka tidak memiliki solusi sejati untuk mengatasi segala problema yang mereka hadapi, dan mereka akan menerima solusi yang ditawarkan dan diberikan oleh Imam al-Mahdi As. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, mayoritas ulama dan ahli hadis Sunni, dalam menimbang hadis-hadis yang melimpah dari Nabi Saw, percaya kepada al-Mahdi persis sebagaimana kepercayaan dan keyakinan Syiah. Jika kita ingin membuat senarai dari para ahli hadis ini, senarai akan menjadi panjang. Kami akan memilih
lima dari hadis-hadis tersebut:
        Sulayman al-Qandozi al-Hanafi, dalam kitabnya, “Yanabi’ al-Mawaddah“.          Abu Abdullah Muhammad ibn Yusuf Ganji, asy-Syafi’i, dalam “Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman” and “Kifayah al-Talib“.          Shaikh Nuruddin Ali ibn Muhammad ibn Sabbagh al-Maliki, dalam “Al-Fusûl al- Muhimmah“.          Ibn Arabi (Muhyuddin) al-Hanbali, in his book “Al-Futûhat al-Makkiyah“.          Sibt ibn al-Jawzi, dalam kitabnya “Tadzkirat al-Khawwas“.  Mazhab Sunni memiliki empat mazhab fiqih – Maliki, Hanafi, Syafi’i, Hanbali – dinamakan setelah empat imam mereka, Malik, Abu Hanifa, Syafi’i and Ahmad  bin Hanbal. Perhatikan keseluruh empat mazhab Sunni telah terwakilkan pada kutipan dan nukilan di atas. Hal ini mengindikasikan bahwa kepercayaan terhadap al-Mahdi As adalah bersifat universal di kalangan kaum Muslimin. Sibt ibn al-Jawzi (yang dikutip di atas) menulis ihwal Imam Keduabelas sebagai berikut: “Gelar (Imam al-Mahdi) adalah Abu Abdullah dan Abul Qasim. Ia merupakan khalifah terakhir Nabi Saw. Ia merupakan Imam Pamungkas Ahlulbait. Ia merupakan hujjah (al-Hujjah) Tuhan di muka bumi. Ia merupakan Tuan dari masa (Shâhib az-Zaman). Ia adalah insan yang dinantikan (al-Muntazhar). Kembara Perdana: Yunus bin Ya’qub meriwayatkan: Aku bersama Abu Abdillah (Imam Ja’far al-Sadiq As, khalifah keenam Nabi Saw) ketika seorang Suriah datang kepadanya. Ia berkata: “Aku adalah seorang alim dalam bidang Kalam, Fiqih, dan hukum-hukum waris. Aku datang untuk berdebat dengan para pengikutmu.” “Apakah ilmu Kalam yang engkau miliki adalah berasal dari Nabi Saw atau dari dirimu sendiri? Tanya Abu Abdillah As. “Sebagian dari Nabi Saw dan sebagian dari diriku sendiri,” jawab orang itu. “Kalau begitu engkau adalah mitra Nabi Saw?” Tanya Abu Abdillah As. “Tidak,” Jawabnya. “Apakah engkau pernah mendengar ilham langsung dari Tuhan?” “Tidak,” Jawabnya. “Apakah ketaatan kepadamu diharuskan sebagaimana ketaatan kepada Nabi Saw?” “Tidak,” jawabnya. Abu Abdillah memalingkan wajahnya kepadaku dan berkata: “Yunus bin Ya’qub, orang ini telah menentang dirinya sendiri sebelum ia memulai (perkara yang sesunguhnya) diskusi. Kemudian ia berkata: “Yunus, jika engkau ahli dalam ilmu Kalam, engkau harus berdiskusi dengannya.” Betapa sedihnya kala itu, karena aku berkata kepadanya: “Semoga aku menjadi tebusanmu, aku pernah mendengar bahwa Anda melarangku (ikut serta) dalam perdebatan ilmu Kalam dan Anda berkata: Celakalah para teolog yang berkata jalan ini yang benar dan jalan itu yang keliru; hal ini termasuk dan hal itu tidak termasuk; kita menerima hal ini sebagai rasional dan tidak menerima hal itu sebagai rasional.” “Aku hanya berkata,” tutur Abu Abdillah As,  “Celakalah mereka, apabila mereka meninggalkan apa yang aku katakana dan memenuhi keinginan mereka sendiri.” Lalu ia berkata kepadaku: “Keluarlah dan carilah orang-orang yang pandai ilmu Kalam dan bawa mereka kemari.” Aku beranjak keluar dan mendapatkan Humran bin A’in yang mahir dan ahli dalam ilmu Kalam dan Muhammad bin al-Nu’man al-Ahwal (juga dikenal sebagai Mu’min Taq), yang merupakan seorang teolog, dan Hisyam bin Salim dan Qays bin al-Masir, keduanya merupakan teolog. Aku membawa mereka kepadanya. Setelah ia meminta kami duduk dalam majelis – kami berada di dalam kemah Abu Abdillah di puncak sebuah gunung di pinggir
kota Mekkah dan pada hari itu adalah hari-hari sebelum hari ziarah haji – Abu Abdilllah mengeluarkan kepalanya dari kemah tersebut. Di luar tiba-tiba muncul seekor unta melenggang berwibawa. Ia berseru, “Demi Tuhan Ka’bah, Hisyam!”
Kami berpikir bahwa orang itu adalah Hisyam, salah seorang putra Aqil, sosok yang sangat mencintainya, namun lihatlah, orang itu adalah Hisyam bin al-Hakam yang datang. Wajahnya masih belum jenggotan. Seluruh orang yang hadir di tempat itu adalah lebih tua darinya. Abu Abdillah As mempersilahkan ia masuk dan berkata: “(Ini dia) orang yang akan menolong kita dengan hati, lisan dan tangannya.” Ia berkata kepada Humran, “Berdebatlah dengan orang itu.” – yang dimaksud adalah orang Syam. Humran berdebat dan berhasil mengalahkannya. Lalu Imam berkata, “Wahai Taqku, berdebatlah dengannya,” lalu Muhammad bin al-Nu’man berdebat dengannya dan berhasil mematahkan argumen orang itu. Lalu ia berkata: “Hisyam bin Salim, berdebatlah dengannya.” Lalu keduanya adu argumentasi. Abu Abdillah As mulai tersenyum melihat perdebatan mereka berdua lantaran orang Syam itu mencari jalan untuk lari dari perdebatan. Ia berkata kepada orang Syam itu, “Berdebatlah dengan kacung ini,” – yang dimaksud adalah Hisyam bin al-Hakam. “Iya,” jawab orang Syam itu dan berkata, “Wahai kacung, Tanyakanlah ihwal imamah orang ini” – yang dimaksud adalah Abu Abdillah As. Hisyam gregetan marah namun kemudian berkata, “Kisanak, apakah Tuhanmu memelihara makhluk-makhluknya atau mereka sendiri yang mengurus diri mereka?” “Tentu saja,” jawab orang Syam itu, “Tuhanku memelihara makhluk-makhluk-Nya.” “Apa yang Dia lakukan untuk memelihara agama mereka?” “Dia memberikan tugas kepada mereka dan membekali mereka dengan hujjah dan bukti atas segala sesuatu yang Dia tanyakan dari mereka. Dia menghilangkan segala kelemahan yang mungkin mereka miliki.” “Apa bukti yang telah Dia ajukan untuk mereka?” Tanya Hisyam kepadanya. “Bukti itu adalah Nabi Saw,” jawab orang Syam itu. “Bukti apa setelah Nabi Saw?” “Kitab dan Sunnah.” “Apakah Kitab Suci dan Sunnah memberikan manfaat kepada ktia dengan segala perbedaan yang ada sehingga ikhtilaf yang ada dapat dihilangkan dan kita mampu mencapai kata sepakat?” Tanya Hisyam. “Iya,” jawab orang Syam itu. “Kalau begitu kami berbeda denganmu.” Tukas Hisyam, “sehingga engkau datang dari Syam untuk berdebat dengan kami? Engkau mengklaim penilaian pribadi merupakan metode agama sementara engkau ketahui bahwa penilaian pribadi tidak membawa orang yang berbeda pendapat kepada satu doktrin.” Orang Syam itu terdiam sejenak seolah-olah berpikir. Kemudian Abu Abdillah As bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak mendebatnya?” “Jika aku berkata: Kami tidak berbeda,” jawabnya, “Aku hanyalah seorang yang berkepala batu. Jika aku berkata: Kitab Suci dan Sunnah dapat menghilangkan ikhtilaf yang terdapat di antara kita, aku melakukan kesalahan keduanya memuat intepretasi yang berbeda. Namun, aku dapat menggunakan argumen yang sama dalam menyanggahnya.” “Kalau begitu, bertanyalah kepadanya,” kata Abu Abdillah kepadanya, “Engkau akan dapatkan ia sebagai orang yang kompeten. ” Lalu orang Syam itu bertanya kepada Hisyam, “Siapa yang memelihara makhluk-makhluk-Nya, Tuhan mereka atau mereka sendiri?” “Tentu saja Tuhan mereka memelihara mereka,” jawab Hisyam. “Apakah Dia mengutus seseorang bagi mereka yang mengharmoniskan doktrin mereka, menghilangkan ikhtilaf yang ada dan menjelaskan yang benar dari yang salah kepada mereka?” tukas orang Syam itu. “Iya,” jawab Hisyam. “Siapa gerangan dia?” Tanya orang Syam itu. “Pada masa-masa awal diturunkannya syariah, adalah Nabi Saw akan tetapi selepas Nabi Saw, ada orang lain yang menjalankan tugas tersebut.” “Siapa lagi selain Nabi Saw, yang menggantikan posisinya sebagai hujjah Tuhan di muka bumi?” Tanya orang Syam itu. “Sekarang atau sebelumnya?” Hisyam bertanya. “Pada masa sekarang ini,” jawab orang Syam itu. “Orang yang duduk di sini,” kata Hisyam – yang dimaksud adalah Abu Abdillah.” Ia adalah orang yang engkau tuju; ia adalah orang yang mewartakan kepada kita ihwal langit dan merupakan pewaris dari ayah dan datuknya.” “Bagaimana aku dapat memiliki pengetahuan tersebut?” Tanya orang Syam itu. “Bertanyalah kepadanya apapun yang terlintas dalam benakmu,” kata Hisyam kepadanya. “Engkau telah menyanggah setiap argumenku namun kini aku memiliki sebuah pertanyaan,” orang Syam itu mengumumkan. “Aku akan mengatakan apa yang ingin engkau katakan.” kata Abu Abdillah As kepadanya. “Aku akan ceritakan ihwal perjalanan dan muhibahmu. Engkau berangkat pada hari ini dan hari itu. Jalan yang engkau lalui seperti ini dan seperti itu. Engkau melintasi orang ini dan orang itu.” Setiap saat ia berkata sesuatu kepadanya tentang dirinya, orang Syam itu akan berkata, “Benar, demi Allah.” Lalu orang Syam itu berkata kepadanya, “pada saat ini aku telah berserah diri (aslamtu) kepada Tuhan. ” “Bahkan pada saat ini engkau telah beriman (amanta) kepada  Tuhan,” kata Abu Abdillah As. Islam (berserah diri kepada Tuhan) adalah sebelum iman (keyakinan kepada Tuhan). Berdasarkan hal yang pertama diatur ihwal warisan dan pernikahan; berdasarkan iman manusia diberi ganjaran. ” “Benar,” jawab orang Syam itu, “Pada saat ini aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau adalah (wasi Tuhan) di antara orang-orang yang dipilih oleh Allah.” [Kemudian, Imam mengomentari setiap jenis debat yang diperagakan oleh para pengikutnya] Ia berkata kepada Hisyam bin al-Hakam, ia berkata, “Hisyam engkau hampir saja terjatuh, lantaran engkau selitkan pada kakinmu (seperti seekor burung); ketika engkua hendak jatuh, engkau terbang. Oleh karena itu orang sepertimu seyogyanya berdebat dengan masyarakat.  Kembara Kedua:Hisyam bin Hakam merupakan seorang sahabat utama dari Imam Keenam dan Ketujuh dan mendapatkan perhatian atas kemahirannya berdebat dan berretorika. Yunus bin Ya’qub meriwayatkan bahwa pada suatu hari, orang-orang berkumpul di sekeliling Imam Keenam, di antara orang-orang yang berada di samping Imam Keenam adalah Humran bin A’in, Mu’min Taq (Muhammad bin Ali bin Nu’man), Hisyam bin Salim, Hisyam bin Hakam, dan sebagainya. Imam berpaling kepada Hisyam bin Hakam dan berkata, “Apa yang engkau katakan kepada Amr bin Ubaid? Pertanyaan-pertanyaan apa yang engkau ajukan?” Hisyam berkata, “Aku merasa malu membicarakannya tentang hal tersebut di depan Anda, lidahku kelu dan membisu.” “Mengapa engkau harus merasa malu ketika Aku sendiri yang memerintahkanmu? Ceritakanlah peristiwa itu.” Hisyam memulai: “Aku mendengar bahwa Amr bin Ubaid membincang permasalahan-permaslahan ilmiah di masjid Basrah. Hari itu adalah hari Jum’at ketika aku tiba di
kota Basrah dan beranjak menuju masjid. Aku melihat Amr bin Ubaid dikerumuni oleh masyarakat sekitar. Aku melangkah maju dan mendekatinya yang tengah dikerumuni oleh orang-orang dan  berkata, “Wahai orang yang berlimu dan bermakrifat, Aku adalah seorang asing di tempat ini dan datang dari tempat jauh. Izinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan? “Silahkan,” ,jawab Amir.”
Perbincangan tersebut berlangsung seperti demikian: Hisyam: Apakah engkau memiliki mata? Amr: Anak muda! Pertanyaan macam apa ini? Bertanyalah sesuatu yang pantas. Hisyam: Aku hanya akan mengajukan tiga pertanyaan saja. Amr: Baiklah! Bertanyalah dan aku akan menjawabnya, kendati pertanyaanmu itu adalah pertanyaan konyol. Hisyam: Apakah engkau memiliki mata? Amr: Iya.  Hisyam: Apakah kegunaan mata tersebut? Amr: Gunanya adalah untuk melihat aneka warna dan beragam bentuk. Hisyam: Apakah engkau memiliki hidung? Amr: Iya. Hisyam: Apakah kegunaan hidung tersebut? Amr: Untuk mencium. Hisyam: Apakah engkau memiliki mulut? Amr: Iya. Hisyam: Apakah kegunaan mulut tersebut? Amr: Untuk mengecap makanan. Hisyam: Apakah engkau memiliki akal dan pikiran? Amr: Iya. Hisyam: Apakah kegunaan akal dan pikiran? Amr: Segala sesuatu yang aku rasakan melalui panca indraku (kedua mata, hidung, mulut dan sebagainya) aku mengenalinya melalui akal dan pikiranku. Hisyam: Apakah panca indramu tidak membuat dirimu terbebas dari akal dan pikiranmu? Amr: Tidak. Hisyam: Mengapa, ketika seluruh organmu utuh dan lengkap? Amr: Tatkala panca indramu menghadapi keraguan, ia merujuk kepada akal untuk menghilangkan keraguan dan menegaskan kebenaran. Hisyam: Hal ini bermakna bahwa Tuhan telah memberikan kita akal untuk menghilangkan segala keraguan indra kita dan mewartakan kebenaran kepadanya. Amr: Iya, tentu saja. Hisyam: Jadi kita bergantung pada akal kita dalam keadaan apapun. Amr: Iya. Hisyam: Tuhan tidak membiarkan organ dan indra kita tanpa seorang imam yang dapat menjelaskan dan menerangkan keraguannya, tapi Tuhan yang sama telah meninggalkan makhluknya di tengan keraguan mereka dan tidak menetapkan imam bagi mereka yang dapat menghilangkan segala keraguan dan menegaskan kebenaran? Amr terdiam beberapa lama, kemudian ia bertanya keapda Hisyam, “Darimana gerangan engkau datang? “Aku berasal dari Kufah,” kata Hisyam. “Barangkali engkau adalah Hisyam?” Kemudian ia mendudukkan Hisyam di tempatnya dan selama Hisyam berada di tempat itu, ia menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang berada di sekitarnya. Setelah beberapa lama Hisyam pergi. Setelah Hisyam mengisahkan peristiwa ini kepada Imam Ja’far ash-Sadiq As, Imam tersenyum dan berkata, “Siapa yang mengajarimu argumen ini?” “Tidak seorang pun, Wahai Putra Rasulullah!” kata Hisyam. “Hal itu datang begitu saja dalam benakku.” Imam berkata, “Demi Allah! Argumen ini disebutkan dalam Mushaf Ibrahim dan Musa.” (Rijal Kishi Kembara Ketiga: Masih ingat tiga pengembaraan yang kita jalani pada tingkatan pertama dari perjalan kita? Kini kita melalui perjalanan ini untuk menyingkap identitas sang bijak bestari yang kita jumpai dalam pengembaraan tersebut. Kita jumpai bahwa sang bijak bestari yang dijadikan sebagai tempat rujukan adalah Ja’far ash-Shadiq As (702-765 M), khalifah keenam Nabi Muhammad Saw dan Imam Keenam mazhab Syiah. Peristiwa-peristiwa yang diungkapkan dalam pengembaran-pengembaran tersebut adalah bersumber dari kitab ”
Bihar al-Anwar” karya Majlisi, sebagaimana dinukil dalam buku “God and His Attributes” karya Sayid Mujtaba Musavi Lari.
 TINGKATAN KELIMA Kita menelusuri langkah-langkah kita hingga tingkatan kedua dari pengembaraan kita ini, Keadilan Tuhan. Dari sudut pandang ini, kita menukik pada etape akhir dari pengembaraan dan perjalanan kita. Tuhan adalah adil. Keadilan Tuhan adalah sempurna dan tanpa cacat. Keadilan tanpa cacat ini menandaskan bahwa penciptaan kita memiliki sebuah tujuan (sebagaima disebutkan sebelumnya). Petunjuk dan bimbingan telah diutus keatas kita untuk menunjukkan jalan kepada kita bagaimana memenuhi tujuan tersebut, dengan mengenal Sang Pencipta dan menata hidup dan kehidupan kita berdasar dan berasaskan titah dan perintahnya. Keadilan Tuhan juga menegaskan bahwa seluruh manusia akan disidang dan diadili seadil-adilnya suatu hari kelak, ihwal seberapa jauh makhluk tersebut memenuhi tujuan penciptaannya. Pengadilan akan berakhir dengan mendapatkan jatah ganjaran atau hukuman, berdasarkan niat dan perbuatan setiap manusia. Camkan baik-baik hal tersebut dalam benak, kini mari kita merenungkan mata rantai sebab dan akibat. Pikiran-pikiran yang saya pikirkan, atau perbuatan-perbuatan yang saya kerjakan, tidak sepenuhnya berasal dari diriku, mandiri dari segala pengaruh eksternal. Tidak! Terdapat pengaruh-pengaruh eksternal. Ayahku, lingkunganku, teman bermainku, buku yang saya baca, setiap orang – masing-masing dari hal ini telah mempengaruhi cara saya berpikir dan jalan saya bertindak. Sumber-sumber pengaruh ini secara bergilir mendapatkan pengaruh dari faktor-faktor yang lain. Dan demikian seterusnya. Dan tatkala ketika Anda mengarahkan rantai ini ke arah yang lain,  pikiran dan tindakanku telah terpengaruhi, dan boleh jadi akan mempengaruhi beberapa orang lain yang melakukan kontak dan interaksi denganku.         Kemana semua hal ini berujung dan bermuara? Hal ini menuntun kepada kenyataan bahwa bahkan jika secuil aksi yang dilakukan akan mendapatkan pengadilan dengan tingkat ketelitian dan akurasi yang sangat tinggi, secuil aksi dan perbuatan harus diadili dan disidang landasan apa yang melatari perbuatan tersebut dan terjalin dalam sebuah jaringan sebab dan akibat yang terangkum dalam spektrum ruang dan waktu. Terhimpunnya jaringan ini pada akhirnya akan mencakup seluruh umat manusia, semenjak awal hingga akhir. Kalau hal ini tidak dilakukan, pengadilan dan persidangan yang dijalan ke atas diriku tidak akan berlangsung sempurna dan komplit. Dan keadilan Tuhan adalah sempurna dan komplit. Dan seluruh hal yang tak terbantahkan ini menunjukkan bahwa Hari Perhitungan harus ada – Hari Perhitungan ketika seluruh insan yang mati bangkit dan seluruh ciptaan Tuhan dikumpulkan bersama dan setiap lembaran jaringan sebab dan akibat mengelilingi mereka ditelusuri seluruhnya, dan dengan demikian persidangan dan mahkamah dijalankan. Banyak ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw berkisah ihwal Hari Kiamat (Ma’ad). Kembara Perdana : Keadilan Tuhan, dan keberadaan Hari Kiamat, yang meyiratkan adanya kebebasan berkehendak di antara seluruh makhluk-Nya (pada kesempatan mendatang kita akan mengulas secara tuntas pembahasan Keadilan Tuhan, Kenabian, Imamah dan Hari Kiamat secara filsofis dan rasional). Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh beberapa ayat dari al-Qur’an yang tertuang dalam beberapa ayat berikut ini:         “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Qs. al-Zalzalah [99]:7-8)        “Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. an-Nahl [16]:93)        “Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.” (Qs. ar-Ra’ad [13]:11)         “Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. al-Anfal [8]:53) DEBRIEFING Kini kita tiba pada penghujung pengembara Kalam kita ini, yang telah membawa kita kepada
lima teritori: Tauhid, Keadilan Ilahi, Kenabian, Imamah dan Hari Kebangkitan (Ma’ad). Kami berharap bahwa perjalanan ini menarik dan berhasil menstimulir pikiran dan memuaskan akal.
Sebagaimana disebutkan pada awal-awal pengembaraan ini, pengembaraan ini dikemas menjadi sebuah pengembaraan yang singkat. Apabila Anda seorang pengembara musiman, dan ingin menjelajah dan mengembara yang lebih jauh dan luas, kami menyarankan untuk mengkaji buku-buku pegangan di bawah ini sebagai buku pegangan utama yang akan menemani Anda dalam pengembaran yang lebih jauh dan luas: (seluruh buku ini tersedia dalam bahasa Inggris dan sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia):
1.”Nahjul Balagha“, Nahjul Balagha, Penerbit Lentera.  2.”Fundamentals of Islam“, karya Haji Mirza Mehdi Pooya. 3.”God and His Attributes“, by Sayyid Mujtaba Musavi Lari. 4.”Some Discourses on Imam al-Mahdi” by Ayatullah Baqir al-Sadr. 5.“Then I Was Guided”, (Akhirnya Kutemukan Kebenaran) karya Dr Muhammad Tijani. 6.”The Voice of Human Justice“, (Suara Keadilan), Penerbit Lentera,  karya George Jordac.

  
 


[1] . Kutipan di atas diambil dari ucapan Dr Bucaille’s ihwal “Qur’an and Modern Science“, yang disampaikan di the Commonwealth Institute,
London, pada 14 Juni 1978.
 Pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com 

Dialog Interfaith [7]

 

PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN IHWAL ISA   

Saintis Kristian: Seluruh masalah tauhid dan monoteisme dalam Islam, sesuai dengan penjelasan Anda, telah menjadi jelas.  Ajaran Islam berkenaan dengan Isa juga telah menjadi terang. Kini saya ingin mendengar poin secara ringkas tentang persamaan Islam dan Kristen ihwal Isa.

  Ruhani Muslim: Islam sejalan dengan Kristen, secara umum, sebagaimana pada poin-poin berikut ini: 1. Islam mendakwahkan kesucian Isa. Pada kenyataannya, hal ini menjadi bagian penting dalam ajaran Islam untuk mengagungkan dan meyakini kesucian Isa, dan bahwa ia hidup di dunia ini sebagai seorang yang bebas dari segala bentuk dosa. Dari al-Qur’an kita membaca, (ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan Termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Qs. Ali Imran [3]:45) 2. Islam mendeklarasikan kesucian Maria, ibunda Isa. Tidak ada seorang Muslim yang dapat meragukan kesucian dan kesusilaan Maria. Ia, sesuai dengan al-Qur’an, merupakan wanita tersuci di antara bangsa-bangsa, “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (Qs. Ali Imran [3]:42-43) 

3. Islam menyatakan bahwa Isa dengan mukjizat lahir dari seorang ibu perawan tanpa seorang ayah. Al-Qur’an menegaskan, “Dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka ia Mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Qs. Maryam [19]:16-26) 4. Al-Qur’an mengatributkan kepada Isa banyak mukjizat yang disebutkan dalam Injil. Menurut al-Qur’an, Isa diberikan kekuasaan oleh Allah untuk menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, dan membuat orang buta menjadi melihat, “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, Yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu Makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Qs. Ali Imran [3]:49) Di samping itu, Kitab Suci al-Qur’an menisbahkan kepada Isa sebuah mukjizat yang tidak tercatat dalam kitab-kitab Injil: Isa berbicara dengan jelas tatkala ia masih dalam buaian (ayunan), Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: “Hai Maryam, Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang Amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”.  Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: “Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Qs. Maryam [19]:27-33)

  Saintis Kristian: Titik-titik persamaan, dengan penjelasan Anda, telah menjadi jelas. Saya tahu bahwa para pengikut banyak agama memiliki pandangan yang berbeda dalam masalah Isa. Sebagian dari mereka dapat dipandang sebagai anti-Isa lantaran mereka mengingkari kesucian Isa dan Maria, tidak meyakini mukjizat-mukjizatnya dan menolak kebenarannya; sebagian dari mereka bersikap netral, juga tidak bersikap anti-Isa; dan beberapa dari mereka pro terhadap Isa, meyakini kesuciannya dan menerima seluruh ajarannya dan meyekini seluruh mukjizatnya. Sesuai dengan penjelasan Anda, kaum Muslimin harus dipandang sebagai pro-Isa, sebagaimana kaum Kristian sendiri. Apa yang tertinggal kini adalah melihat titik-titik perbedaan antara kaum Muslimin dan kaum Kristian berkenaan dengan Isa.  

Ruhani Muslim: Wilayah perbedaan antara Islam dan Kristen, dalam melihat Isa, termasuk dalam beberapa poin-poin berikut ini: 1. Kendati Islam menerima kesucian Isa, namun ia mengingkari keilahian Isa. Menurut ajaran Islam, Isa tidak memiliki sifat ketuhanan. Ia bukan Tuhan, juga tidak menyatu dengan Tuhan. Ia layak mendapatkan pengagungan, takzim dan penghormatan, namun ia tidak patut untuk disembah. Islam bersikap non-kompromi dalam tauhidnya. Tuhan hanya Satu, tiada Tuhan selain Dia, Mahakuasa, Abadi, Swa-Ada, Nir-batas dalam pengetahuan, hidup dan kekuasaan. Isa tidak abadi. Ia hidup kurang lebih 2000 tahun yang lalu, dan menurut kitab-kitab Injil, usianya tidak panjang. Ia bukan mahakuasa lantaran mendapatkan penganiayaan; juga tidak nir-batas. Ia tidak dapat menjadi Sang Pencipta semesta lantaran semesta telah berusia lebih dari empat miliar tahun lamanya, sementara ia lahir kurang lebih dua ribu tahun yang lalu. Ia tidak layak disembah karena ia sendiri merupakan hamba yang beribadah kepada Tuhan.  

2. Isa, sesuai dengan ajaran Islam, bukan merupakan anak Tuhan. Tuhan tidak memiliki putra atau anak, karena Dia di atas semua itu. Sejatinya, kebapakan merupakan sesuatu yang tidak diterima dalam urusan Tuhan lantaran Dia tidak berbentuk fisikal. Kebapakan spiritual juga tidak dapat diterima karena Dia merupakan Pencipta setiap wujud spiritual dan material. Dalam al-Qur’an kita dapat menemui poin ini dengan jelas, “Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak Padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu.” (Qs. al-An’am [6]: 100-102) 3. Islam mengingkari kruksifisi (penyaliban) Isa. Isa tidak mati di atas salib. Dalam al-Qur’an kita dapat menjumpai poin ini dengan jelas, “Dan karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah “, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya,  dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. an-Nisa [4]:157-158

Saintis Kristian: Pandangan ini adalah berseberangan secara tajam dengan ayat-ayat dalam seluruh kitab Injil. Keempat Injil secara terang menyatakan bahwa Isa mati di atas salib. Bagaimana kita dapat merekonsiliasi ayat al-Qur’an ini yang mengingkari dengan tegas kematian Isa di atas salib? 

Ruhani Muslim:
Ada sebuah jalan untuk merekonsiliasi ayat Qur’ani dan ayat-ayat dalam kitab-kitab Injil: Perbedaan keduanya dapat menjadi sebuah perbedaan antara penampilan dan realitas. Tidak ada keraguan, beberapa peristiwa yang terjadi pada masa apa yang dipandang sebagai masa penyaliban Isa dan kematiannya di atas salib. Kehidupan Isa merupakan kehidupan yang penuh dengan mukjizat, dan demikian apa yang dipandang sebagai kematiannya. Boleh jadi bahwa orang lain (seperti Yudas, orang yang mengkhianatinya) yang secara mukjizat diserupakan dengannya, dan ia, bukan Isa, yang mati di atas salib.
Ada jalan lain untuk merekonsiliasi antara ayat Qur’ani dan ayat-ayat Injil tanpa berujung pada asumsi terhadap mukjizat: Anggaplah Isa ditaruh di atas salib, dan ia pingsang, sehingga ia kelihatannya mati, sementara ia masih hidup. Asumsi ini bukan tanpa bukti dari kitab-kitab Injil: kitab-kitab Injil menyatakan bahwa Isa tidak bertahan lama di atas salib. Ia diturunkan dengan segera, tanpa dipatahkan kakinya, sementara sudah merupakan kebiasaan untuk mematahkan kaki orang yang disalib. Orang-orang Yahudi mempersiapkan untuk merayakan kepergiannya. Mereka tidak ingin ia tinggal di atas salib hingga hari berikutnya, Sabtu, pada hari dimana mereka tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun termasuk penguburan. Karena Isa tidak bertahan lama di atas salib, ia boleh jadi tetap hidup. Kitab-kitab Injil juga menyatakan bahwa setelah Isa kelihatan mati, seseorang menghajarnya dengan sebuah tombak, dan darah mengucur keluar dari badannya. Kita tahu bahwa darah tidak akan mengucur dari badan yang mati. Hal ini menunjukkan bahwa Isa masih hidup. Kitab-kitab Injil menyatakan bahwa Isa diletakkan di atas kuburnya, dan sebuah batu berat ditaruh di atas pusaranya, dan pada hari Minggu, tubuh itu lenyap, dan bahwa batu itu tersingkir dari mulut pusara itu. Kita memiliki hak untuk curiga bahwa beberapa orang murid Isa menyingkirkan batu itu dan menyelamatkannya. Jika Isa dibangkitkan dengan mukjizat, maka tidak akan perlu adanya penyingkiran batu itu. Tuhan mampu untuk membangkitkan dari kuburnya dan tetap membiarkan batu itu tak bergerak. Penyingkiran batu itu nampaknya merupakan perbuatan manusia, bukan pekerjaan Tuhan. Di samping itu, kitab-kitab Injil menyatakan bahwa Isa muncul beberapa kali di hadapan muridnya setelah kejadian penyaliban. Seluruh kemunculan ini nampaknya terjadi secara rahasia, dan bahwa Isa tidak ingin muncul secara terang-terangan. Jika ia dibangkitkan dengan mukjizat, ia tidak perlu menyembunyikan dirinya dari musuh-musuhnya. Rahasia kemunculannya mengindikasikan bahwa ia masih hidup sebagaimana sebelumnya, dan bahwa hidupnya tidak diganggu oleh kematian singkat, dan bahwa ia masih merasa takut akan kejaran musuh-musuhnya.           Masyarakat internasional Kafan Suci akhir-akhir ini telah menyimpulkan bahwa noda-noda darah pada kain kafan Isa menunjukkan bahwa Isa masih hidup ketika ia diturunkan dari salib. Kalau tidak, maka tidak akan ada darah pada lembaran kain yang menutupi tubuhnya.           Seorang Kristian, yang beriman kepada penyaliban Isa, akan kesusahan untuk mendamaikan antara dua prinsip yang ia yakini, yaitu: Isa adalah Tuhan dan Isa disalib. Seorang yang disalib tidak dapat menjadi Tuhan lantaran ia tidak mampu melindungi dirinya, apatah lagi untuk menjadi mahakuasa. Seorang Muslim, di sisi lain, tidak menghadapi problem semacam ini. Ia yakin bahwa Isa merupakan seoarang nabi dan tidak lebih. Seorang nabi boleh jadi dianiaya dan disalib, lantaran seorang nabi tidak harus menjadi mahakuasa. Meski Islam tidak memiliki problem kontradiksi, ia telah memecahkan problem yang sebenarnya tidak ia miliki. Isa tidak disalib. Tuhan yang telah melindunginya.  4. Islam tidak sejalan dengan Kristen dalam hal doktrin penebusan dosa. (Doctrine of Redemption). Doktrin penebusan adalah bersandar pada doktrin dosa semula (original sin): bahwa umat manusia telah dikutuk oleh Tuhan karena dosa Adam dan Hawa yang secara konsekuensial diwarisi oleh anak-anak mereka. Islam menafikan seluruh doktrin dosa semula; Tuhan tidak mengutuk manusia lantaran sebuah dosa yang dilakukan oleh sepasang manusia yang hidup pada masa-masa awal penciptaan. (Hal ini dapat dibuat jelas dalam poin-poin berikut ini) Tidak ada dosa asli; oleh karena itu, tidak perlu pada penebusan bagi manusia dari dosa yang sebenarnya tidak ada. Terlebih, anggaplah bahwa terdapat dosa semula. Untuk memaafkan umat manusia dari dosa asal mereka, Tuhan tidak perlu kepada seorang yang tanpa dosa, sepert Isa, untuk disalib. Dia dapat memaafkan umat  tanpa menyebabkan penderitaan seorang yang tak berdosa. Berkata bahwa Tuhan tidak memaafkan umat manusia kecuali menyalib Isa, adalah menempatkan Dia pada posisi seorang penguasa yang tidak ditaati oleh warganya. Tatkala anak-anak meminta penguasa untuk memaafkan dosa ayah mereka, ia menolak untuk melakukan hal itu kecuali ia membunuh salah seorang yang ia cintai. Jika mereka melakukan kejahatan yang serius, ia akan memaafkannya; kalau tidak, ia tidak akan melakukannya. Saya kira bahwa pendakwahan dosa asal tidak akan menempatkan Tuhan dalam posisi seperti itu. Tuhan, Mahadil dan Mahapengasih, tidak mengutuk manusia lantaran dosa para nenek moyang mereka.. Dia dapat mengampuni dosa-dosa mereka tanpa meminta mereka untuk melakukana dosa yang lebih besar.[]
 Pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com 

SATU PENCIPTA

DIALOG INTERFAITH [6]

SATU PENCIPTA 

 Saintis Kristian: Anda telah menyebutkan sebelumnya bahwa keesaan Tuhan (dialog kedua) merupakan tema yang sangat ditekankan dalam Kitab Suci al-Qur’an; bahwa Islam, atas alasan ini, juga disebut sebagai “Din at-Tauhid (agama yang meyakini keesaan Tuhan); dan bahwa bersaksi terhadap keesaan-Nya merupakan redaksi pertama dalam Deklarasi Keimanan:   “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Apakah Islam menyuguhkan bukti-bukti atas prinsip penting ini?  

 Ruhani Muslim: Kitab Suci al-Qur’an menyebutkan hubungan di antara bagian-bagian semesta sebagai bukti keesaan Penciptanya. Ia menasihatkan kita untuk melihat tatanan yang ada di alam semesta, dan kenyataan bahwa tatanan semacam itu tidak dapat mewujud jika terdapat lebih dari Satu Pencipta. Lebih dari satu administrasi bagi semesta adalah lebih mirip dengan satu administrasi untuk satu
kota, negeri atau bangsa. Tentu saja hal ini akan menimbulkan kekacauan dan disorder (amburadul).
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Qs. al-Anbiya [21]:22)          “Dan ketahuilah, wahai putraku,” sabda Imam Ali bin Abi Thalib kepada putranya al-Hasan, “bahwa bila Tuhanmu memiliki sekutu, nabi-nabi dari sekutu-Nya akan datang kepadamu. Namun Dialah satu-satunya Tuhan, sendiri tanpa sekutu.” (Nahjul Balagha, bagian 3) 

 Saintis Kristian: Bagaimana pandangan Islam ihwal doktrin Trinitas?

 Ruhani Muslim: Islam dengan sangat tegas mengingkari dan menolak doktrin ini. Kitab Suci al-Qur’an mendeklarasikan:  “Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Qs. al-Ikhlas [112]:1-4)“Dan mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”.  Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka menda’wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (Qs. Maryam [19]:88-92)  Saintis Kristian: Mengapa Islam menolak sedemikian tegas doktrin Trinitas? 

Ruhani Muslim: Islam menolak Trinitas lantaran kebapakan Tuhan bagi seluruh makhluk hidup atau non-makhluk hidup tidak dapat diterima dan mendegradasi konsep ketuhanan. Dia tidak terbatas dan terangkum dalam bentuk raga, dan Dia meliputi segala sesuatu di alam semesta ini. Dia tidak memiliki sekutu untuk memiliki anak sebagaimana tabiat makhluk hidup.Ruh kebapakannya juga tidak dapat diterima bagi setiap jiwa atau ruh apabila hal ini bermakna selain menjadi Pencipta jiwa dan ruh. Tidak ada hubungan yang dapat diterima antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Kalau tidak, wujud yang lain akan mandiri dan merdeka dari Tuhan, dan akan menjadi sekutu-Nya.Kini, jika kita menisbahkan anak menyatu dengan Tuhan, urusannya seolah-olah saya mengatakan bahwa anakku dan aku adalah satu. Jika stetment itu benar adanya, aku akan menjadi ayah bagi diriku, lantaran aku sendiri adalah putraku sendiri. Dan putraku akan menjadi putra bagi dirinya sendiri, lantaran ia adalah aku. Oleh karena itu, Tuhan akan menjadi bapak bagi dirinya sendiri, dan putra-Nya menjadi putra bagi dirinya sendiri. God tidak, dan tidak dapat menjadi bapak dari makhluk hidup atau non-hidup jika kebapakan digunakan dengan makna yang sesungguhnya. Jika kata yang digunakan memiliki arti majazi (figuratif),  bermaksud bahwa Tuhan adalah pengasih terhadap makhluknya sebagaimana pengasihnya seorang ayah, maka Dia tidak hanya akan menjadi ayah bagi satu orang tetapi bagi seluruh umat manusia. Dan hal ini merupakan sesuatu yang dapat dipahami dari doa kaum Krisitan, “Bapa kami, Engkau di surga…”Akan tetapi, bahkan penggunaan tertolak bagi Islam lantaran kalimat ini menyesatkan dan membingungkan orang. Kaum Muslimin, oleh karena itu, tidak menggunakan kalimat figuratif ini untuk Tuhan. 

Saintis Kristian: Ucapan Anda menunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak meyakini keilahian Isa. Apakah Anda memiliki bukti jelas terhadap klaim yang menentang keilahian Isa? 

Ruhani Muslim: Anda tidak perlu mematahkan bukti keilahian Isa atau Muhammad atau manusia lainnya. Namun jika Anda mengklaim keilahian seseorang selain Tuhan, Anda harus membuktikan klaim tersebut. Jika seseorang mengklaim bahwa Anda merupakan seorang malaikat, ia harus membuktikan klaim itu. Saya tidak perlu membuktikan bahwa Anda merupakan seorang manusia lantaran penampilan Anda sebagai seorang manusia dan memiliki seluruh atribut seorang manusia. Orang yang mengklaim Anda sebagai seorang malaikat yang harus membuktikan klaimnya, lantaran klaimnya itu berlawanan dengan akal sehat dan dengan kenyataan factual yang terlihat.           Tatkala seseorang berkata bahwa Isa atau Muhammad adalah manusia, bukan seorang Tuhan, ia sejalan dengan definisi yang diterima. Isa hidup sebagaimana manusia, memiliki rupa seperti manusia, tidur dan makan sebagaimana laiknya manusia dan dianiaya sebagaimana manusia. Tidak ada satu pun dari fakta ini yang memerlukan bukti. Hal ini tidak seperti kasusnya dengan orang yang mengklaim keilahiannya. Klaimnya bertentangan dengan pengetahuan umum. Oleh karena itu, ia dan bukan orang lain, yang harus menghadirkan bukti untuk menyokong klaim tersebut. Meski kaum Muslimin tidak sepatutnya menyuguhkan bukti untuk mengingkari keilahian Isa, mereka dapat menghadirkan bukti dan argumen lebih dari satu: 1. Isa merupakan seorang yang ahli ibadah. Tentu saja, ia beribadah kepada Tuhan, bukan kepada dirinya. Hal ini membuktikan bahwa ia bukanlah tuhan namun seorang hamba Tuhan. 2. Sesuai dengan tiga kitab Injil, ucapan terakhir yang disampaikan Isa adalah: “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku?”Seseorang yang memiliki tuhan bukanlah Tuhan.3. Tuhan adalah abadi, sementara Isa adalah fana; Tuhan Mahakuasa, tapi Isa dianiaya. 

 Saintis Kristian: Mengapa kita tidak dapat melihat Isa sebagai seorang tuhan dari sisi spiritual dan seorang manusia yang fana dari sisi keragaannya?

Ruhani Muslim: Memiliki dua sisi, raga dan ruhani, tidak hanya dimiliki oleh Isa secara eksklusif, karena setiap manusia memiliki kedua sisi ini. Anda memiliki dua sisi, ruhani dan ragawi dan demikian juga saya. Dan ruh kita tidak ada satu pun yang berisifat fana, karena ruh kita akan tetap hidup setelah kematian kita. Namun hal ini tidak membuat kita menjadi Tuhan, demikian juga bagi Isa.   Saintis Kristian: Namun Isa tidak seperti kita. Ia, menurut al-Qur’an dan Injil, lahir dari seorang ibu perawan tanpa ayah. Bukankah hal ini bermakna bahwa ia lebih dari seorang manusia biasa?  Ruhani Muslim: Terlahir dari seorang ibu tanpa seorang ayah tidak akan membuat Isa lebih dari seorang manusia biasa. Adam dicipta tanpa ayah dan ibu, dan hal itu tidak membuatnya melebihi manusia biasa. Dari al-Qur’an kita membaca: Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah Dia.” (Qs. Ali Imran [3]:59)  Isa bukanlah tuhan demikian juga Adam karena tidak satu pun dari mereka yang merupakan Sang Pencipta semesta. 

 Saintis Kristian: Bagaimana kita tahu bahwa ia bukan Pencipta semesta?

Ruhani Muslim:
Para ilmuan berkata bahwa usia bintang-bintang adalah lebih dari empat miliar tahun lamanya, dan Isa lahir kurang lebih dua ribu tahun yang lalu. Bagaimana mungkin usia semesta yang sedemikian tuanya dicipta oleh seorang pencipta muda? 
 
Saintis Kristian: Anda tepat. Dan saya pikir Anda telah membuat masalahnya menjadi jelas untuk meyakinkan setiap orang yang berpikiran jujur dan jernih. Sebenarnya, fakta-fakta yang Anda beberkan telah masyhur bagi setiap orang. Namun menakjubkan bagaimana orang-orang melalaikannya. Saya pikir mereka melakukan hal ini karena mereka diajarkan keilahian Isa semenjak kecil. Ajaran ini diulang-ulang di rumah dan di gereja yang tetap lekat dalam ingatan anak-anak; dan ketika mereka tumbuh dewasa, mereka tumbuh seiring dengan pikiran mereka. Mereka tidak mempersoalkan masalah ini karena mengangggap masalah ini sudah seperti ini adanya (taken for granted).Dari apa yang telah didialogkan selama ini, telah jelas bagiku pandangan tanpa kompromi Islam ihwal keesaan Tuhan yang merupakan hal yang sangat rasional. Oleh karena itu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Mahakuasa, Esa tanpa sekutu, mitra dan anak.[]  Pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com 

PENCIPTA SEMESTA

SERI DIALOG INTERFAITH [5]

PENCIPTA SEMESTA 

Saintis Kristian: Saya tahu bahwa beriman kepada Tuhan, Sang Pencipta semesta merupakan hal pertama dan utama dalam keyakinan Islam, dan bahwa pengingkaran terhadap keberadaan-Nya mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Tapi saya tidak tahu apakah Islam menawarkan bukti konkrit tentang eksistensi Wujud Agung atau apakah ia menasihati para pengikutnya untuk bersandar kepada  ayat-ayat otoritatif Qur’an dan hadis-hadis Nabi.  

Ruhani Muslim: Islam menuntut setiap pengikutnya untuk berimana kepada Tuhan, Sang Pencipta Semesta, tapi ia tidak menasihatkan mereka untuk menyandarkan keyakinan tersebut kepada ayat-ayat Qur’an atau hadis-hadis Nabi Saw. Keyakinan kami kepada sebuah kitab suci, seperti al-Qur’an, atau kepada seorang nabi suci, seperti Muhammad, harus didahului oleh keyakinan kami kepada Tuhan. Sebuah kitab religius adalah suci lantaran diperkenalkan oleh seorang yang kita pandang sebagai nabi. Kenabian dapat diterima bilamana ada Tuhan karena seorang nabi merupakan seorang utusan Tuhan. Keyakinan kami kepada Tuhan, dengan demikian, harus hadir sebelum keyakinan kami terhadap sebuah kitab agama atau seorang nabi, bukan sebaliknya. Tidak ada kitab agama yang diyakini oleh setiap orang, dan tidak ada nabi yang dikenali secara universal. Oleh karena itu, akan menjadi sia-sia bersandar kepada sebuah hadis otoritatif seorang nabi atau sebuah kitab suci tatkala berurusan dengan seorang atheis yang menolak seluruh pewahyuan samawi dan mengingkari seluruh konsep tentang Tuhan.  Saintis Kristian: Apakah harus saya pahami dari komentar Anda bahwa ditawarkan Islam menawarkan beberapa bukti (argumen) universal untuk menyokong keberadaan Tuhan yang boleh jadi dipertimbangkan bahkan oleh mereka yang tidak memeluk satu agama pun, seperti kaum atheis dan agnostis? Jika ini yang Anda maksud, apa buktinya (argumen)?  Ruhani Muslim: Tatkala keyakinan kita kepada Tuhan mendahului keyakinan keagamaan yang lain, bukti yang menghasilkan keyakinan semacam ini harus bercorak universal dan tersedia bagi setiap makhluk rasional, apakah ia mengikuti sebuah agama tertentu atau tidak. Kitab Suci al-Qur’an menawarkan semesta sebagai bukti keberadaan Penciptanya. Dunia material, benda-benda angkasa, bumi, dan planet-planet lainnya, dipandang oleh Islam sebagai bukti utama Pencipta materi dan energi. Dunia materi dapat diamati oleh atheis demikian juga oleh kaum beriman, bagi mereka yang tak terpelajar dan juga bagi filosof. Seseorang dapat merefleksikan susunan benda-benda angkasa dan keberadaan materi dan energi tanpa menganut suatu agama tertentu atau mengenal setiap kitab-kitab agama.  Saintis Kristian: Namun mengapa seseorang harus memandang keberadaan dunia mater sebagai bukti keberadaan pencipta materi? Anggaplah seseorang memandang bahwa materi atau energi telah berusia lanjut secara tak-terbatas, dan ia tidak pernah didahului oleh ketiadaan. Mampukah Anda mematahkan pandangannya?  

Ruhani Muslim: Sangat sukar diterima gagasan yang menyatakan bahwa materi berusia lanjut secara tak-terbatas. Ketika seseorang berkata bahwa materi atau energi telah berusia lanjut secara tak-terbatas, ia beranggapan bahwa materi yang darinya miliaran bintang-bintang tercipta, hadir secara simultan. Tatkala kita sadari bahwa setiap bintang memuat miliaran ton materi, dan bahwa keseimbangan materi mentah lebih banyak dari materi yang terkandung dalam bintang-bintang dan planet-planet, kita sadari kemustahilan gagasan ini. Kita tidak dapat menerima bahwa seluruh kuantitas materi ini hadir dalam sekejap dan tiada satu pun darinya yang didahului oleh ketiadaan. Ketika Anda berkata bahwa hanya satu porsi dari materi itu yang berusia lanjut secara tak-terbatas, dan porsi lainnya mewujud pada tingkatan selanjutnya, artinya Anda menerima kebutuhan pencipta, karena materi yang tidak hidup tidak berkembang melalui swa-reproduksi. Hanya makhluk hidup yang mampu memperbanyak jenis mereka melalui swa-reproduksi. Membolehkan adanya perkembangan gradual dalam kuantitas materi artinya menerima kebuthan terhadap seorang pencipta.  Saintis Kristian: Saya boleh jadi setuju dengan Anda bahwa materi dan energi harus didahului oleh ketiadaan. Namun hal ini tidak begitu jelas bagi manusia. Apakah ajaran Islam menyarankan pertimbangan segala sesuatu dalam tabiat bahwa secara pasti didahului oleh ketiadaan? Ruhani Muslim: Iya, ada sesuatu yang kita ketahui semuanya, dan ia lahir setelah keberadaan bumi, namanya: kehidupan.
Para ilmuan kita mengatakan bahwa bumi terlalu panas (dan sebagian dari mereka berkta terlalu dingin) bagi setiap jenis kehidupan untuk mengada. Bumi memerlukan jutaan tahun  lamanya hingga ia menjadi tempat yang layak untuk kehidupan. Kehidupan, oleh karena itu, tanpa ragu, sebuah kelahiran baru.
Ilmu pengetahuan, bagaimanapun, mengatakan kepada kita bahwa kehidupan tidak bermula dari non-makhluk hidup. Eksperimen Pasteur, yang terjadi pada abad kesembilanbelas, masih berlaku hingga sekarang. Melalui sup yang ia sterilkan, ia membuktikan tanpa adanya keraguan bahwa kehidupan tidak bermula dari materi non-animatif (yang tidak hidup). Kaum ilmuan dewasa ini masih tidak mampu untuk mematahkan kesimpulannya. Bumi, beserta atmosfernya, pada saat pembentukannya adalah steril dan tidak produktif. Transformasi materi-materi yang non-animatif seperti, karbon, hidrogen, nitrogen, kalsium dan besi tidak dapat, dengan demikian, dilakukan melalui proses natural. Ia harus dilakukan melalui mukjizat. Hal ini bermakna bahwa keberdaan hidup di atas planet merupakan bukti yang terang akan keberadaan sosok Cerdas, Pencipta yang bersifat supernatural.  Saintis Kristian: Anda telah membuatnya jelas. Pada kenyataannya, para ilmuan selama beberapa decade telah mencoba tanpa henti untuk menyingkap misteri kehidupan dan menjelaskan permulaannya pada planet ini. Namun usaha mereka yang tak kenal lelah sejauh ini tidak menghasilkan pengetahuan yang bersifat substansial dalam bidang ini. Keberadaan kehidupan di planet ini, tanpa sangsi, sebuah keajaiban besar yang tidak dapat terjadi tanpa adanya sebab supernatural. Manusia telah banyak menyingkap rahasia di alam semesta, maju dalam pengetahuan teknis dan ilmiahnya, dan bahkan telah mendarat di bulan; namun di samping semua ini, ia masih tidak mampu menghasilkan selembar daun dari sebuah tanaman atau sebiji benih dari apel.  

Saintis Kristian: Kini, saya ingin bertanya apakah al-Qur’an menyebutkan keberadaan kehidupan di planet kita dalam menyokong keberadan Tuhan?  Ruhani Muslim: Iya, Qur’an menyebutkan transformasi bumi yang tidak hidup menjadi hidup sebagai sebuah tanda keberadaan Tuhan: “…Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air.” (Qs. Yasin [36]:33-34) Saintis Kristian: Sejauh ini, Anda telah menjawab banyak pertanyaan penting ihwal keberadaan Tuhan, namun ada satu lagi pertanyaan penting lainnya yang Anda tidak singgung: Mengapa kita tidak dapat melihat Tuhan?  Ruhani Muslim: Dari diskusi kita yang sebelumnya, telah menjadi jelas bahwa Pencipta semesta haruslah bersifat Mutlak dan Tak-terbatas. Dia meliputi seluruh semesta. Dia Mahaberada dan tidak pernah alpa dari manapun. Dengan keMahaberadaannya, penampakan-Nya tidak akan membuat kita percaya kepadanya atau mengenal-Nya. Penampakannya akan menjadi sangat merugikan bagi kita. Sebelum kita mengenal-Nya dengan ke-Mahaberadaan-Nya, kita akan binasa. Penampakannya akan membutakan seluruh manusia. Anggaplah bahwa udara (yang wujud hanya pada ruang yang terbatas) dapat dilihat. Ia akan memiliki warna, dan kita tidak akan melihat apapun kecuali udara yang telah mengisi seluruh atmosfer. Sekiranya hal ini terjadi, kita tidak akan mampu mendapatkan makanan atau minuman, juga tidak akan mampu menemukan jalan atau perlindungan. Jika penampakan udara yang wujud hanya pada atmosfer planet kita akan membutakan dan membinasakan, apatah lagi penampakan Sang Pencipta yang meliputi seluruh alam semesta? Tatkala memikirkan hal ini, kita sadari bahwa betapa beruntungnya kita tidak mampu melihat Tuhan, Pencipta kita.  

Saintis Kristian: Jika Tuhan tidak dapat dilihat, bagaimana kita dapat yakin akan keberadaan-Nya? Bagaimana mungkin seorang atheis percaya kepada Tuhan yang ia tidak lihat?  Ruhani Muslim: Untuk meyakini sesuatu sesuatu, Anda tidak perlu harus melihatnya. Anda percaya kepada listrik, namun Anda tidak melihatnya. Anda meyakininya hanya karena Anda melihat produknya seperti cahaya, panas dan sebagainya. Jika hal ini memadai untuk membuat Anda menjadi seorang beriman kepada keberadaan listrik, semesta raya seharusnya memadai bagi setiap manusia untuk percaya kepada keberadaan Sang Pencipta.   Saintis Kristian: Tolong Anda sebutkan contoh selain listrik.  Ruhani Muslim: Eksistensi Anda sendiri merupakan sebuah bukti agung tentang keberadaan Adam dan Hawa, atau kita katakana dua manusia pertama. Anda tidak melihat Adam dan Hawa, namun Anda yakin bahwa mereka pernah ada. Untuk membuatnya lebih jelas: Anda datang melalui kedua orangtua Anda. Kedua orang tua Anda datang melalui kedua orang tua mereka, dan kedua orang tua mereka datang melalui kedua orang tua mereka, dan seterusnya. Anda dapat melanjutkannya kembali hingga Adam dan Hawa. Jika Anda mengingkari kedua manusia pertama, Anda akan melenyapkan generasi pertama dari anak-anak mereka. Dengan menghilangkan generasi pertama, Anda menghilangkan generasi kedua dan seterusnya. Dan pada akhirnya, Anda harus melenyapkan kedua orang tua Anda. Namun Anda berkata kepada diri sendiri: Saya tidak dapat melakukan hal itu karena saya ada di sini. Oleh karena itu, Anda harus berkata: Adam dan Hawa dulu ada.  Saintis Kristian: Anda telah membuat persoalan ini menjadi jelas. Kita harus percaya kepada Tuhan. Namun bagaimana kita dapat percaya bahwa Dia tidak memiliki permulaan sementara segala sesuatu yang lain selainnya memiliki permulaan?  Ruhani Muslim: Sang Pencipta semesta tidak dapat didahului oleh ketiadaan; kalau tidak, Dia akan memerlukan tuhan yang lain untuk menciptakannya; dan tuhan itu, jika iia didahului oleh ketiadaan, ia akan memerlukan tuhan yang lain dan demikian seterusnya. Dengan demikian, kita akan memiliki mata rantai yang tak berujung tanpa mencapai sebuah sebab yang tak bersebab yang menjadi sumber keberadaan semesta. Lalu kita harus mengingkari keberadaan semesta. Juga kita harus mengingkari diri kita sendiri sebagai bagian dari semesta ini.[]  Pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com 

Kebebasan Berdiskusi dalam Islam

SERI DIALOG INTERFAITH [1]

DIALOG PERTAMAKEBEBASAN BERDISKUSI DALAM ISLAM

 Saintis Kristian: Beberapa agama melarang adanya sikap kritis dan gemar bertanya berkenaan dengan ajaran agama mereka. Mereka menganjurkan kepda para pengikutnya untuk mengikuti instruksi-instruksi mereka tanpa pengujian dan pengkajian. Mereka menuntut iman dan melarang mereka untuk bergaul dengan orang yang memeluk agama lain yang boleh jadi menuntunnya kepada keraguan. Bagaimana sikap Islam terhadap pertanyaan yang tertuju kepada ajaranya dan membandingkan ajarannya dengan keyakinan yang lain?   Ruhani Musllim: Islam sangat liberal dan free dalam masalah ini. Ia boleh jadi menuntut seseorang untuk beriman kepada ajaran-ajaran tertentu, namun pada saat yang sama ia menasihatinya untuk mencoba membangun keyakinannya berdasarkan dalil dan argumen. Islam memberinya kebebasan untuk mengajukan pertanyaan dan tidak mencelanya ketika ia memiliki keraguan, jika keraguannya diikuti oleh usaha intensif untuk menemukan kebenaran. Jika agama lainnya menasihatkannya untuk menghindari diskusi ihwal masalah-masalah prinsipil selain darinya dan membuatnya takut bahwa ia telah memprovokasi murka Tuhan dengan melakukan hal tersebut, Islam membuat orang merasa aman dari murka Tuhan jika ia menindaklanjuti pencariannya menemukan kebenaran.  Pada kenyataannya, Islam tidak pernah menasihatkan orang untuk menghindari diskusi yang menuntun kepada pengetahuan baru dan sebuah penemuan baru tentang kebenaran. Tapi jangan takut, Islam menganjurkan untuk mendiskusikan setiap prinsip-prinsip ajaran agama, apakah itu ajaran Islam atau non-Islam. Tidak pernah merasa risau dan kuatir akan murka Tuhan lantaran Dia merupakan Tuhan kebenaran.  Sebaliknya, semakin orang mencari kebenaran dan melakukan penelitian intensif, semakin banyak ganjaran yang ia dapatkan dari Tuhan menurut pandangan Islam. Dalam pandangan Islam, ganjaran yang paling bernilai dan sikap yang paling berharga, adalah melakukan pendekatan terhadap isu-isu keagamaan dengan semangat dan spirit seorang ilmuan dan saintis yang menyambut setiap dalil yang dapat membuktikan atau membatalkan teorinya (atau teori yang ia dapatkan. 

Saintis Kristian: Apakah Islam memiliki aturan spesifik atau anjuran berkenaan dengan riset dan pengkajian agama?  

Ruhani Muslim:
Ada beberapa aturan tertentu yang tercantum dalam al-Qur’an yang harus digunakan dalam riset agama demi terjaminnya setiap kesimpulan yang boleh jadi dicapai.
 1. Tidak dibenarkan memeluk sebuah doktrin ketika dalil dan argumen telah dibangun yang berseberangan dengan doktrin tersebut, dan tidak dibenarkan mengikuti sebuah prinsip tanpa adanya dalil.   Jika Tuhan menghendaki seseorang untuk beriman kepada sebuah doktrin, Dia membuatnya jelas dan berdalil. Dia adalah Mahaadil lagi Bijaksana. Dia mengetahui bahwa keyakinan dan iman bukan merupakan sebuah hal yang bersifat sukarela. Seseorang tidak dapat meyakini atau mengingkari segala sesuatu yang ia pilih. Raga manusia berada di bawah kontrol perintah tapi jiwanya tidak demikian. Saya menaati sebuah titah yang memerintahkan untuk menggerakkan tanganku ke atas dan ke bawah, berjalan atau duduk, bahkan jika perintah tersebut nampaknya tidak bijaksana. Namun saya tidak dapat menaati sebuah perintah, misalnya, yang menitahkan aku bahwa dua kali dua sama dengan
lima, atau angka tiga merupakan angka satu, atau api itu dingin atau salju itu panas.
Pengetahuan kemanusiaan kita datang dari dalil langsung dan tidak langsung, dan ia tidak mengikuti kehendak dan kemauan kita sendiri. Keyakinan dan iman yang dapat diterima haruslah berdasarkan kepada ilmu pengetahuan. Ketika Tuhan menghendaki aku untuk mengetahui sesuatu, Dia membuat ilmu tersebut mungkin bagiku dengan menyediakan petunjuk dan jalan untuknya. Jika Dia menuntut aku untuk meyakini sesuatu sementara ada dalil yang  bertentangan dengannya, Dia memintaku untuk melakukan sesuatu yang mustahil. Dan hal ini berseberangan dengan keadilan-Nya. Islam tidak pernah mencela seseorang apabila ia tidak meyakini sebuah ajaran lantaran kurangya dalil; sebaliknya, Islam mencela seseorang ketika ia mengikuti sebuah ajaran sementara ia meraba-raba dalam kegelapan tanpa adanya petunjuk yang menerangi, atau apabila ajaran tersebut tidak sesuai dengan kebenaran. Mengikuti sebuah ajaran yang bertetangan dengan petunjuk, atau kurangnya dalil, adalah ibarat sebuah pengadilan mahkamah yang memutuskan perkara ke atas terdakwa tanpa adanya bukti. Sikap semacam ini bukan dmerupakan sebuah perbuatan terpuji. Al-Qur’an menegaskan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Qs. al-Isra’ [17]:36) 2. Tidak pernah menerima popularitas secara lahir. Seorang periset dalam bidang agama tidak dibenarkan menerima popularitas sebuah doktrin agama dalam masyarakatnya sebagai sebuah bukti atas kebenarannya. Banyak ide dan gagasan popular yang terbukti kesalahannya. Pada suatu waktu, diyakini bahwa bumi ini datar dan matahari yang mengelilingi bumi. Orang-orang meyakini masalah ini selama ribuan tahun, tetapi kita ketahui bahwa tidak satupun ide dan gagasan ini yang benar. Terlebih, apa yang popular pada suatu komunitas belum tentu popular di komunitas lain. Kebalikannya juga benar. Jika popularitas merupakan simbol kebenaran, seluruh ide yang popular yang bertentangan satu sama lain akan menjadi benar, namun kebenaran tidak pernah bertentangan dengan dirinya. Tatlala nabi pertama datang untuk memproklamasikan konsep tauhid (keesaan Tuhan), risalahnya tidak popular di setiap masyarakat  lantaran masyarakat dunia ketika itu adalah kafir dan musyrik. Tidak popularnya risalah Ilahi seperti itu tidak mencegah risalah itu dari kebenarannya. Pada kenyataannya, seluruh nabi datang ke masyarakatnya dengan risalah-risalah yang tidak populer. Maksud mereka adalah oreksi hal-hal yang keliru dan bersifat populer dan menggantinya dengan kebenaran yang bersifat tidak populer. Al-Qur’an menandaskan, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Qs. al-An’am [6]:116) 3. Ajaran-ajaran agama yang bersifat warisan harus dikaji. Islam menganjurkan setiap orang dewasa untuk mengkaji agama yang ia warisi dari orang tuanya. Agama yang diwariskan, seperti agama yang lain, harus dibuktikan dengan dalil dan argumen. Seseorang dapat bersandar keapda penilaian orang tuanya selama ia masih kecil dan tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Tatkala ia mencapai masa dewasa, agamanya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Santun dan hormat kepada orang tua merupakan salah satu perintah Islam, namun hal itu tidak berarti menerima pendapat mereak dalam sebuah perkara penting seperti agama apabila pendapat mereka merupakan pendapat keliru. Sebenarnya, ketika orang tua memeluk sebuah ajaran agama yang salah dan menuntut anak-anaknya untuk mengikuti mereka, mereka tidak boleh ditaati lantaran tindakan tersebut bertentangan dengan kehendak Tuhan; artinya, jika seseorang menaati orang tuanya ketika mereka melakukan kesalahan, ia telah membangkang perintah Tuhan. Senada dengan hal ini, al-Qur’an berkata, Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Qs. Luqman [31]:14-15)Islam memerintahkan setiap orang untuk menguji ajarannya sebagaimana ia memerintahkan setiap orang untuk mengkaji dan menguji ajaran lain. Dengan demikian, seseorang dapat menilai Islam lebih dari yang sebelumnya.   4. Orang yang ragu-ragu tidak dibenarkan. Ketika seseorang tidak committed terhadap satu agama dan meragukan seluruh konsep agama, ia tidak boleh puas dengan keraguannya. Adalah tugasnya melindungi dirinya dan kepentingan vitalnya di dunia ini dari segala bentuk musibah dan petaka. Sama saja, ia memiliki tanggung jawab dan tugas yang sama dalam melindungi kepentingan spiritual dari kerusakan. Pencarian seriusnya tentang apa yang menimpa atas kehidupan spritualnya sama pentingnya dengan pencariannya terhadap apa yang menimpa kehidupan fisikalnya. Supaya seseorang menunaikan tanggun jawab dan mengerjakan tugasnya, diwajibkan baginya untuk mencari, dan mencari secara serius tentang keraguan yang ia miliki tentang agamanya. Barangkali terdapat banyak fakta-fakta yang dapat diakses dalam wilayah keraguan; oleh karena itu, ia harus menemukannya. Ketika ia melakukan riset dan berupaya sekuat tenaga lalu gagal menemukan kebenaran, ia akan diampuni di hadapan Tuhan. Tuhan meminta setiap orang untuk melakukan apa yang dapat mereka lakukan. Al-Qur’an menyatakan, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya. (Qs. al-Baqarah [2]:286) 5. Ketika Anda melakukan riset agama, jangan biarkan orang lain memutuskan sesuatu untuk Anda. Jangan bersandar kepada peniliaian setiap orang, meski ia merupakan seorang tulus dan cerdik cendikia. Di setiap keyakinan terdapat beberapa guru yang tulus dan cendikia. Jika seseorang membolehkannya untuk membuat keputusan tentang agama baginya, ia akan terbiasi lantaran guru-guru ini pasti berbeda satu dengan yang lainnya. Jika ia bersandar kepada penilaian para guru hanya dalam satu bidang iman, melupakan guru-guru yang lain, ia akan memiliki bias dan subjektifitas. Seorang guru yang tulus dan cendikia dapat salah, dan seseorang tidak akan dimaafkan apabila ia mengikuti penilaian gurunya. Agama seseorang adalah tanggungjawabnya dan setelah ia melakukan pencarian yang bersifat ekstensif, ia adalah seorang penilai tunggal untuk mencapai kesimpulan dan membentuk beragam pendapat. Dalam al-Qur’an disebutkan, Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (Qs.  35:18, 53:38)        Dengan demikian, kita dapat melihat kelima ayat al-Qur’an dimana Islam tidak takut untuk ditanyai atau dianalisa. Hanya mereka yang takut gagal yang melarang diskusi secara bebas terhadap ajaran agama mereka dan menghindari pengujian dari para periset dan peneliti.[]

Pernah dimuat pada site http://www.wisdoms4all.com

Definisi Islam

SERI DIALOG INTERFAITH [2]

DEFINISI ISLAM

   Saintis Kristian: Salah satu masalah penting yang perlu dalam setiap pembahasan adalah mendefinisikan subjek sebuah pembahasan. Lantaran kita ingin membahas Islam, saya ingin mendengarkan sebuah definisi ihwal Islam, karena kalimat ini bersumber dari bahasa Arab. Saya telah mendengar lebih dari satu definisi tentang kalimat ini; saya ingin mendengarkan definisi Anda ihwal Islam. “Muslim” merupakan kalimat yang lain yang harus didefinisikan untuk didengarkan oleh kalangan non-Arab yang boleh jadi membacanya berulang kali tanpa mengerti makna yang sebenarnya dari kata itu, atau kebingungan dengan kata Islam. 

  Ruhani Musllim: Makna asli “Islam” adalah penerimaan sebuah pendapat atau sebuah kondisi yang sebelumnya tidak diterima. Dalam bahasa al-Qur’an, Islam bermakna kesediaan seseorang untuk menerima titah dan perintah dari Tuhan dan mengikutinya. “Muslim” adalah kata yang diambil dari kata Islam. Kata ini digunakan pada seseorang yang telah menerima dan mengikuti titah dari Tuhan. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus, lagi berserah diri Musliman  dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Qs. Ali Imran [3]:67) Dua kata yang dimaksud, bagaimanapun, dua makna spesifik yang diperoleh setelah pengenalan risalah yang dibawah oleh Nabi Muhammad Saw. Risalah yang diwahyukan kepada Muhamamad disebut sebagai Islam, dan beriman kepada risalah yang dibawanya juga disebut Islam. Muslim, juga berarti orang yang mengikuti risalah Muhammad dan meyakini akan kebenarannya. 

 Saintis Kristian: Apa hubungan antara makna asli Islam dan makna spesifik yang diambil setelah kedatangan Muhammad? 

 Ruhani Musllim: Makna baru dari kata tersebut adalah berdekatan dengan makna aslinya lantaran Muhammad menyebutkan bahwa ajarannya mengandung ajaran-ajaran para nabi sebelumnya dan seluruh perintah-perintah Tuhan. Ketika seseorang beriman kepada kebenaran Muhammad dan berikrar untuk mengikuti risalahnya, ia sesungguhnya, menyatakan kesediaannya untuk mentaati perintah dan titah dari Tuhan tanpa syarat.  Saintis Kristian:
Ada prosedur tertentu yang diatur, misalnya, oleh Kristen bagi seseorang yang ingin memeluk Kristen. Contohnya, Baptis yang merupakan salah satu sakramen (penyucian) yang menurut hampir seluruh sekte dalam Kristen, harus dijalankan oleh eseorang muallaf  untuk menjadi seorang Kristian. Apakah ada prosuder yang dianjurkan bagi seseorang untuk beriman kepada ajaran Islam? 
 

Ruhani Musllim: Tidak ada sakramen atau prosedur yang ditentukan bagi seseorang untuk memeluk Islam. Yang diperlukan oleh seseorang ketika ia ingin memeluk Islam hanyalah pengucapan atau iman kepada syahadah (Deklarasi Iman), “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” 

Saintis Kristian: Mengapa pengucapan semacam itu memadai bagi seseorang untuk memeluk Islam? 

 Ruhani Musllim: Tatkala seseorang menyatakan bahwa ia beriman kepada kebenaran Muhamamad, ia benar-benar menyatakan beriman kepada seluruh yang diperkenalkan oleh Muhammad dan seluruh ajarannya. Hal ini termasuk seluruh ajaran Qur’an, seluruh perbuatan dan sabda Muhammad, baik dalam masalah aqidah atau masalah ahkam.Ketika seseorang beriman kepada syahadah (deklarasi iman), ia secara otomatis menjadi seorang Muslim. Ucapan syahadah merupakan sebuah bukti bagi Muslim yang lain bahwa ia adalah seorang yang beriman kepada Islam. Lantaran hal ini, tidak seorang Muslim yang dapat mengingkarinya lantaran ia merupakan seorang yang beriman kepada Islam dan tidak memerlukan hal yang lain untuk membuktikan hal itu.  

Saintis Kristian: Apakah seorang muallaf dipandang sama dan ekual dengan seorang yang menjadi Muslim semenjak lahir?  

Ruhani Musllim: Seorang muallaf adalah ekual dan sama derajatnya dengan Muslim yang lain dalam pandangan al-Qur’an. Lebih dari itu, seorang muallaf memiliki banyak keuntungan daripada seorang yang menjadi Muslim semenjak lahir karena dua alasan: 1. Seorang muallaf mendapatkan ganjaran yang lebih besar dari Tuhan ketimbang seorang yang menjadi Muslim semenjak lahir. Seorang muallaf menjadi seorang Muslim biasanya setelah ia mengadakan riset yang panjang dan detail serta harus menghadapi berbagai tekanan psikologis, lantaran mengganti agama bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Hal ini menuntut keberanian dan usaha si muallaf, sementara orang yang semenjak kecilnya telah memeluk Islam (Muslim) menerima agamanya melalui warisan dari orang tuanya. 2. Seorang muallaf dipandang, dengan masuknya ia ke dalam Islam, suci dan terbebas dari dosa-dosa sebelumnya. Seluruh dosa-dosa yang ia kerjakan semasa ia memeluk Kristen dihapus secara keseluruhan. Ia hanya akan bertanggung jawab dengan dosa-dosa yang ia lakukan setelah ia menjadi seorang Muslim. Oleh karena itu, jika seseorang menjadi Muslim pada pagi hari, setelah matahari terbit, kemudian ia meninggal pada siang harinya, ia berhak memasuki surga tanpa melakukan atau mengerjakan ritual-ritual keagamaan yang diwajibkan bagi setiap Muslim. Ia tidak harus mengerjakan shalat subuh lantaran ia memeluk Islam sebelum matahari terbit, juga tidak harus mengerjakan shalat Zhuhur karena ia meninggal sebelum waktu shalat Zhuhur tiba.  

Saintis Kristian: Kadang-kadang saya menemukan bahwa Islam disebut sebagai “Din at-Tauhid” dan terkadan “Deen-Al-Fitrah.” Karena kedua istilah tersebut merupakan istilah Arab, keduanya harus didefinisikan untuk kepentingan orang-orang non-Arab. Alasan-alasan mengapa Islam disebut dengan istilah ini juga harus dijelaskan. 

 Ruhani Musllim: “Din at-Tauhid” bermakna agama yang beriman kepada Keesaan Tuhan, dan “Din al-Fitrah” berarti agama yang sesuai dan selaras dengan tabiat manusia. Islam disebut sebagai agama Tuhan Esa lantaran muatan utama yang terkandung di dalamnya adalah keesaan Tuhan. Doktrin Tuhan Esa merupakan doktrin yang sangat ditekankan dan berulang kali diulas dalam al-Qur’an. Tatkala Islam diperkenalkan kepada dunia, orang-orang hamper kebanyakan adalah penyembah berhala. Beberapa agama mendakwahkan Keesaan Tuhan namun dalam bentuk yang kurang jelas. Beberapa dari mereka menisbahkan Tuhan sebagai sosok yang berbentuk (anthropomorphic image). Poin yang paling penting dari kandungan risalah samawi baru ini adalah membenarkan dan mengoreksi para penyembah berhala dan menghilangkan segala kabut keburaman konsep Keesaan Tuhan. Islam disebut sebagai agama fitrah lantaran ajarannya dapat diterima oleh akal manusia ketika akal manusia bebas dari segala bentuk berpikir takhayul dan tidak logis. Nabi Muhamamad Saw bersabda:“Setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah; pengaruh ibu bapaknyalah yang menjadikan ia sebagai non-Muslim.”Tatkala seseorang bebas dari pemikiran yang tidak logis, ia dapat dengan mudah, hanya dengan melihat tatanan semesta, menyimpulkan bahwa semesta ini memiliki hanya Satu Pencipta. Adalah mudah diterima sebuah ajaran yang menyeru kita untuk meyakini bahwa semesta yang berusia lebih dari empat milyar tahun lamanya telah dicipta oleh Pencipta Tua Yang Tak-Terbatas. Namun tidak mudah atau tidak gampang mengidentifikasi bahwa Pencipta itu fana yang kelahirannya terjadi empat billion tahun setelah penciptaan semesta. Adalah natural menerima sebuah ajaran yang menyeru meyakini bahwa Pencipta semesta adalah Mutlak Adil, Pengasih dan Pencipta yang Mahaadil dan Pengasih itu tidak akan membebani setiap jiwa dengan dosa orang lain; dan bahwa Dia tidak meminta setiap orang untuk membayar dosa orang lain.

Ajaran Islam nampaknya dapat diterima akal manusia, kalaulah akal tersebut belum terkontaminasi oleh ajaran-ajaran yang tidak logis. Atas alasan inilah mengapa Islam disebut sebagai agama fitrah.[]

Pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com