Dunia Kawula Muda [1]

Pemuda Kita Dalam Pandangan Qur’an

·         Kata-kata sebagai Media Pendidikan

Dalam wasiat  Luqman kepada anaknya – ketika ia memberi nasihat – nilai  apa yang terkandung di dalam pendidikan langsung berupa bimbingan,  pandangan dan nasihat?

·         Pendidikan Ala Ibrahim

·         Masyarakat dan wanita yang menyimpang

·         Kajian atas peristiwa Nabi Nuh

·         Masalah Hasud

·         Pergaulan dan kawan-kawan

·         Orang tua dan pengawasannya terhadap anak-anak mereka

·         Ibadah dalam pengertian yang luas

·         Pemuda Qur’ani

Bahasa Sebagai Media Pendidikan

Masalah pendidikan merupakan masalah yang banyak mempengaruhi dimensi beragam mulai dari persepsi manusia  – tanpa memandang apakah media pendidikan itu adalah intelektual, emosional atau yang hal-hal berkenaan dengan hal itu hingga lingkungan umum setiap individu. Oleh karena itu, nampaknya logis bahwa bahasa – yang merupakan media yang menyampaikan gagasan dari satu orang kepada yang lainnya – seharusnya berperan lebih signifikan dan dinamis dalam meneruskan pemikiran, semangat dan karya anak manusia. Sepanjang sejarah komunikasi umat manusia, kata-kata terkadang menjadi kekuatan pendorong yang secara tidak langsung muncul dari bahasa itu sendiri.

Hal ini terjadi karena bahasa diasosiasikan dengan beberapa rujukan yang memperluas fokus makna atau memperkecilnya pada makna inti.

Dengan demikian, bahasa telah menjadi media penyampai dustur Ilahi, di mana Allah Swt telah mengutus para nabinya dengan kitab-kitab suci yang diwahyukan kepada mereka. Kita melihat bahwa gerakan pendidikan manusia adalah sebuah bahasa yang  panjang dalam sejarah peradaban ummat manusia, yang memiliki aspek positif dan negatif dalam perjalanan sejarahnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Dunia Kawula Muda [pengantar]

SEKAPUR SIRIH

 “Aku nasihatkan engkau agar berbuat baik kepada kaum muda, karena mereka memiliki hati yang lembut.”

Nasihat indah ini adalah sabda Nabi Saw. Tetapi berapa banyak orang tua dan para pemerhati pendidikan telah mendengarkan dengan seksama nasihat ini? Jika mereka mengamalkan nasihat kudus ini, dalam interaksi mereka dengan kaum muda  yang merupakan representasi tingkat usia subur, maka kita  akan mendapatkan hasil yang mujarab!

Di sini bagaimana para psikolog, pendidik dan sosiolog mempersembahkan temuan mereka dalam mencermati masalah kaum muda:

Pandangan para psikolog, tingkat usia muda sebagai salah satu tingkat krisis kepribadian dan perjuangan terhadap beragam pengaruh dan reaksi dari luar. Mereka berpandangan kaum muda sebagai kaum remaja; sebuah tingkat usia yang mendatangkan kekhawatiran, kebingungan, depresi, agitasi dan kesulitan-kesulian yang lain yang dapat dijumpai dalam kamus-kamus psikologi.

Para pakar pendidikan percaya bahwa krisis (dengan anggapan bahwa kami menyampaikan kepada mereka yang percaya tentang adanya krisis ) merupakan sebuah struktur dan perkembangan, dan tanggung jawab terletak di pundak institusi-institusi pendidikan – yang fungsi dasarnya adalah membangun fondasi dari struktur dan membina metode dan bentuk untuk pembelajaran selanjutnya. Baca lebih lanjut

KEGELISAHAN DAN SALAT

Sang bapak meninggalkan putranya dalam keadaan goncang dan beranjak ke kamar tidur dimana sang ibu sedang menanti dalam keadaan risau ihwal hasil pertemuan tersebut. Ia bertanya kepada istrinya dengan senyum tersimpul di wajahnya.
Nampaknya kau telah mendengarkan pembicaraan kami, iyakan?
Si ibu menjawab: “Iya, namun dapatkah ia menghandel kegoncangan ini?”
“Aku pikir demikian,” jawabnya, “sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh saudaranya sebelumnya,” ia melanjutkan.
Si ibu mendesah sembari berdoa: “Tuhanku, bimbinglah, tuntunlah ia untuk mentaatiMu dan jadikan ia berkhidmat kepadaMu.” Lalu ia berkata kepada suaminya, “Aku ingat saudaranya ketika ia mencapai usia baligh. Aku sangat risau hari itu ketika engkau berkata bahwa engkau sedang bermain api yang boleh jadi berujung pada tersesatnya anakmu. Namun engkau memberikan jaminan kepadaku dan menjelaskan keharusan proses tersebut. Dan kini kita dapat melihat output dan hasilnya. Ia adalah salah seorang figur terkemuka di Eropa yang mengajak dan membimbing manusia kepada Tuhan. Kejahilan tidak pernah mendekati atau menodai putra kita dan tidak dapat menyesatkannya dari jalan yang benar.:
Si bapak tercenung sejenak dan kemudian berkata:
Jika kita tinggalkan ia dengan gaya tradisional beribadah, salat yang tak berkualitas dan ideologi warisan dari rumah dan komunitas, ia boleh jadi tersesat ketika menghadapi beragam ideologi, trend social atau tradisi ketika ia tinggal jauh dari kita.
“Anakku sayang! Bagaimana engkau akan melalui malammu?” keluh sang ibu dan melirik ke arah kamar putranya.
Si bapak memandang penuh arti dan berkata, “Bagaimana Ibrahim melalui malamnya tatkala ia dengan penuh pemikiran mendongak ke atas langit dan menatap ke bumi hingga ia beriman. Hal ini hanyalah ketetapan hati ketika ia mengalihkan pandangannya kepada Pencipta tujuh petala langit dan bumi sebagai seoarang Muslim dan muwahhid (insan yang bertauhid).
Setelah sang bapak menutup pintu kamar putranya, sang belia berdiri tegap dalam keadaan goncang, dan kemudian ia meresa pusing lalu melemparkan dirinya ke atas pembaringan. Dalam kondisi kalut dan pikiran terbentur secara dawam terlintas dalam benaknya, namun ia tidak dapat mengerti apa yang sedang terjadi dan bagaimana menghadapinya. Ia merasa seakan-akan kepalanya ingin meledak, namun ia ingat apa yang senantiasa ibunya lakukan tatkala kesusahan; sang ibu duduk di atas sajadah menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya dan berbisik lirih, “Tuhanku, Aku tidak memiliki siapa pun selainMu tempat mengadu dan meminta pertolongan dan tuntunan, tempatkanlah aku pada jalan yang benar.
Terburu-buru, ia berdiri dan pergi ke sink untuk mengambil wudhu dan bersiap-siap untuk mendirikan salat. Dalam kondisi pikiran kalut, takut dan risau, ia berdoa sembari mengingat ucapan bapaknya:
“Apa yang engkau pelajari tentang agama sebelum masa pubertasmu adalah keliru.”
Ia berpikir dalam salatnya dan hampir saja menyelesaikan salatnya, namun ia tetap melanjutkan usahanya fokus pada apa yang telah dikatakan bapaknya kepadanya. Bapaknya mengajarkan kepadanya untuk berkonsentrasi dalam salatnya dan menaruh perhatian pada makna dari ayat-ayat yang dilantunkan. Ucapan bapaknya memotong pikirannya:
“Siapa Tuhan itu?”
Ia goncang, namun mencoba untuk mengendalikan dirinya hingga ia sampai pada qunut. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya dan menyampaikan kata-kata berikut ini dengan kuat dan penuh makna: ”
“Tuhan..pemimpin orang yang kebingunan, penuntun yang tersesat, Mahakasih,Engkau lebih dekat kepadaku daripada urat nadiku sendiri; selamatkanlah aku dari kebingungan dan tuntunlah aku ke jalan yang benar.”
Sejenak ia berhenti. Pikirannya beradu dan hatinya berdegup kencang. Setelah beberapa saat, ia merasa lebih baik ketika mengingat ayat yang senantiasa ia baca di masjid dan tiba-tiba merasa konfiden:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Qs. al-Baqarah [2]:186)

KEWAJIBAN…KERAGUAN…SIAPAKAH TUHAN ITU?

Si anak sedang menyaksikan televisi tatkala bapaknya datang. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin bapak katakan kepadanya. Keluarga itu baru saja selesai menyantap makan malam mereka bersama dan sang bapak meminta si anak untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdekat untuk membicarakan apa yang diinginkan oleh sang bapak. Si Anak sangat penasaran gerangan apa yang ingin dibincangkan oleh bapak. (insial D=Dad panggilan akrab si bapak dan S=Son adalah ungkapan yang terkadang digunakan si bapak ketika memanggil putranya).  

D        Apakah engkau tahu mengapa aku ingin menjumpaimu malam ini, anakku?

S        Tidak Dad. Tapi saya kira ada sesuatu yang penting.

D        Aku telah lama memikirkan dan merencanakan pertemuan ini.

S        Sejak kapan, Dad?

B        Semenjak engkau menginjak usia baligh, kurang lebih setahun yang lalu. Aku telah mempersiapkan sebuah program khusus untukmu.

S        Program apakah itu? Dan apa hubungannya dengan masa balighku?

D        Usia baligh atau pubertas merupakan masa transisi antara masa belia dan masa dewasa, canda dan keseriusan, kebebasan yang tak terbatas dan tanggung jawab, sebagaimana engkau tahu sendiri. Dalam program ini, aku akan menggelar serangkaian diskusi denganmu tentang agama, keyakinan, iman, manusia, masyarakat, semesta dan banyak hal yang harus engkau ketahui makna yang sebenarnya dari masalah tersebut dan membangun sebuah opini, gagasan dan sikap yang sesuai dengan kondisi kedewasaan dan maturitasmu.

S        Trims Dad, karena telah menaruh kepercayaan kepadaku.

D        Anakku, yang pertama-tama menaruh kepercayaan ini adalah Tuhan. Dan bila engkau tidak memiliki kapasitas dan kemampuan, Dia tidak akan menaruh kepercayaan kepadamu dengan membebankan tugas dan kewajiban. Merupakan sebuah kehormatan bahwa manusia sendiri, dari seluruh makhluk di bumi persada ini, dipercayakan dengan berbagai tugas dan kewajiban.

 S        Benar Dad, apa yang Bapak katakana membuatku merasa bangga, dan bertambah cintaku kepada Tuhan lantaran Dia menugasiku dengan tanggung jawab. Saya berharap dapat menjadi seorang hamba Tuhan, mencintai dan patuh kepada-Nya.

D        Baguslah. Seorang hamba yang benar mencintai Tuhan dan tunduk patuh kepada-Nya. Cinta dan ketundukan merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Seorang pujangga berkata, “Seorang pecinta tunduk patuh kepada yang dicintai.”

S        Menurut hematku, mereka yang membangkan titah Tuhan melakukan hal ini lantaran mereka tidak memendam cinta kepada Tuhan dalam hatinya.

D        Tepat sekali, bahkan bagi mereka yang lemah imanya tidak merasakan cinta kepada Tuhan sehingga ketika mereka melakukan kewajiban dan tugas agama, mereka melakukan hal tersebut dengan enggan, dan ketika mereka mengerjakan shalat, mereka mengerjakannya dengan malas.

S        Kemarin, aku membaca ayat in dalam al-Qur’an: “JIka engkau mencinta Allah, ikutilah aku; Allah akan mencintamu.”

D        Apa yang engkau pahami dari ayat ini?

S        Saya memahaminya bahwa terdapa sebuah cinta yang berbalas (mutual love) antara Tuhan dan Mukmin. D        Dan bahwa cinta bermakna ketaatan dan memikul beban derita semata-mata demi yang dicinta. 

S        Aku senang doa dan munajat yang dibacakan Ibu kemarin, doa yang bersumber dari kitab as-Shahifah as-Sajjadiyah dan aku sedang mencoba untuk menghapalnya.

D        Munajat yang mana, son?S        Munajat yang berkata, “….Aku memohon cintamu dan cinta orang yang mencintaiMu; cinta yang membuat seluruh bakti membawaku dekat kepadaMu, lebih aku cintai melebihi yang lain, dan membuat cintaku kepadaMu sebagai penuntun ke firdausMu, dan kegemaranku padaMu sebagai penghalang untuk tidak melanggar titahMu.

D        Munajat ini juga menitikberartkan dan menyoroti pada hubungan cinta dan ketaatan.

S        Tapi Dad, bagaimana kita menemukan cinta Tuhan dalam hati kita?

D        Mudah saja: dengan mengenal-Nya. Jika engkau benar-benar mengenal-Nya, engkau akan menggapai cinta utama.

S    Jadi, langkah pertama adalah mengenal Tuhan.

D        “Pertama-tama dalam beragama adalah makrifat.” Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Nahjul Balagah.   Mengenal Tuhan merupakan perkara pertama dalam beragama, makrifat dan pengenalan ini disyaratkan dengan cinta kepada-Nya. Hal ini adalah persamaan Matematik, nak.

S        Bagaimana?

D        Dalam Matematika, ada sesuatu yang disebut sebagai substitusi ketika berurusan dengan persamaan.

S    Iya, engkau mengingatkanku tentang hal itu. Ketika kita terapkan, kita berkata, Pengetahuan = Agama. Agama = Cinta; dan dengan substitusi kita menemukan bahwa agama adalah cinta, bukankah demikian, Dad?D        Dan demikianlah apa yang disabdakan oleh Imam Shadiq As.

S        Apa  yang ia sabdakan?!

D        Ia bersabda, “Apakah agama itu selain cinta!” Nak, cinta merupakan sesuatu yang terindah di dunia ini.S        Allahu Akbar, Anda berbicara denganku dalam bahasa anak muda, bahasa……,

D        Seorang remaja (ABG)?

S        Baiklah, Dad, aku malu untuk berkata itu.

D        Iya, Aku berbicara denganmu menggunakan bahasa ABG, sebagaimana Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk berbicara dengan manusia sesuai dengan cara berpikir mereka. Tuhan mengutus setiap nabi untuk berbicara kepada manusia dengan bahasa mereka sendiri. Lalu mengapa aku tidak berbicara denganmu sebagai seorang ABG?

S        Tepat Dad, hanya dengan bahasanya seseorang akan dapat mengerti. Kalau  tidak, ia tidak ingin berurusan dengan sesuatu. Salah seorang guru kami telah memberikan sebuah buku agama sebagai hadiah. Aku berjuang keras ketika aku hendak membacanya, dan setelah beberapa saat aku menyerah lantaran bahasanya terdengar seperti bahasa moyang kita yang hidup berabad lampau; oleh karena itu, ia tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan kita hari ini.

D        Hal ini merupakan alasan mengapa sebagian anak muda lari dari agama karena mereka mendapatkan adanya representasi bahasa agama yang mereka mengerti. Masa sekarang adalah masa computer dan internet, dan tidak mungkin menyuguhkan Islam melalui kitab-kitab klasik yang telah ditulis beberapa waktu yang lalu.

S        Alangkah indahnya Anda berbicara, Pak! Aku rasa aku mencintaimu lebih dari sebelumnya dan mencinta Tuhan dan bersyukur kepada-Nya karena telah menganugerahkan kepadaku seorang ayah yang luarbiasa. D        Dan aku kini lebih mencintai Tuhan karena telah menganugerahkan putra sepertimu.

S        Alhamduillah!

D        Puji Tuhan!

S        Kita telah keluar dari tema utama kita, Dad.

D        Sebaliknya, kita telah sampai kepada inti permasalahan… Cintaku kepadamu dan cintaku kepada Tuhan menuntunku untuk berbicara kepada ihwal agama, kehidupan, Tuhan, umat manusia, dunia dan hari kiamat….Aku ingin engkau mempunyai pandangan komprehensif dari seluruh pemikiran yang berkenaan dengan agama setelah engkau mencapai usia baligh.

S        Tapi Dad, Anda telah berdiskusi denganku hampir seluruh isu-isu agama kita, telah menjelaskan pelbagai problem ideologis, telah menerangkan prinsip-prinsip dan komponen agama dan telah menunjukkan kepada kami jalan petunjuk. Apakah Anda melihat ada kekurangan dalam imanku, atau cela dalam perilakuku? D        Hal ini tidak ada hubunganya dengan kekurangan dalam iman atau cela, nak. Hal ini merupakan sesuatu yang lain, sangat berbeda dan amat berbahaya. Oleh karena itu, aku ingin engkau bersiap-siap dan mengetahui beberapa isu tanpa harus terkejut.

S        OK, Pak! Apakah hal penting dan berbahaya sehingga harus kuketahui setelah mencapai usia baligh? D        Aku ingin katakan kepadamu bahwa apa yang engkau telah pelajari dari belajar ihwal agama adalah keliru. S        Apa?!  Dad! Apa yang Anda katakan?!

D        Sebagaimana yang telah aku katakana, seluruh yang engkau dengar dariku ihwal agama adalah salah (sama sekali).

S        Dad! Apa yang Anda katakan?! Apa yang Anda maksudkan? Aspek agama yang mana yang salah? Aspek ideologi? Akhlak? Tolong Dad, katakanlah yang benar kepadaku.

D        Aku maksud dasar-dasar agama, ideologi: iman kepada Tuhan, ma’ad (hari kiamat), Nabi dan para rasul dan apa yang telah engkau pelajari adalah salah dan keliru.

 S        Astaga. Dad, ada apa denganmu? Maaf Dad karena agak lancang. Bagaimana iman kepada Tuhan, hari kiamat dan para nabi adalah sesuatu yang salah? Aku tidak dapat mempercayai dari apa yang aku dengar.

D        Aku akan menjawab pertanyaan ini besok.

S        Dad! Tolong berterus teranglah dengan apa yang Anda inginkan, karena Anda telah membuatku was-was. Bagaimana Anda dapat meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini? Lalu bagaimana aku menunaikan salat, sementara aku dalam keadaan was-was dan ragu-ragu.

D        Siapa yang menyuruhmu salat?

 S        Bukankah Anda yang menyuruhku untuk salat dan mengerjakannya dengan sabar?

 D        Kalau begitu salatmu tidak diterima sama sekali.

S        Tidak diterima? Apa maksudnya? Kalau begitu, haruskah aku meninggalkan salat?

D        It is up to you, apakah engkau ingin mengerjakan salat atau tidak.

S        Aneh. Aku bisa jadi gila. Bagaimana bapakku menyuruhku untuk meninggalkan salat? Bagaimana? Bapakku yang mengajarkanku salat, kini menyuruhku untuk meninggalkannya!

D        Aku tidak memintamu utuk meninggalkan salat. Aku berkata bahwa engkau bisa meninggalkannya atau melanjutkannya, sebagaimana yang engkau sukai.

S        Ajib. Tidakkah Anda berkata bahwa salat merupakan tiang agama dan hal pertama yang akan ditanyakan kepadaku kelak di hari kiamat?  Dan Allah berfirman: “Dirikanlah salat secara tetap untuk bersyukur kepadaku.”

D        Aku berkata bahwa apa yang telah engkau dengar dariku selama ini sebelum usia balighmu adalah salah. S        Dad, haram hukumnya berkata demikian!

D        Apa artinya haram itu??

S        Haram artinya bahwa Tuhan tidak mengizinkan hal tersebut.

D        Tuhan? Siapa Tuhan itu?

S        Ya Tuhan..ini kegilaan!

D        Jangan lekas marah. Aku bertanya kepadamu sebuah pertanyaan; berikan jawaban atau katakan “Aku tidak tahu.”

S        Tapi Anda bertanya “Siapa Tuhan itu?”

D        Ada yang salah dengan pertanyaan itu?

 S        Pak, please! What is going on? Apakah engkau benar-benar dirimu, bapakku, apakah Anda tahu apa yang Anda katakan? Saya tidak dapat mempercayai hal ini.

 D        Iya, Aku bapakmu yang mengatakan hal ini. Jika aku tidak melakukan hal ini, maka aku bukan bapakmu. S        Oh..My God! Apa yang telah terjadi?

D        Kita akan lanjutkan diskusi ini besok. Sekarang pergilah tidur. Selamat malam!

(dedicated to those who has just reached puberty (15th) , congratulation!)