Mengenal Diri Jalan Untuk Mengenal Tuhan

 Konon, pada suatu masa hidup seorang peniaga minyak yang biasa menjajakan minyaknya dari desa ke desa, kampung ke kampong dengan menggunakan kuda sebagai tunggangannya. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya, bagaimanakah engkau dapat mengenal Tuhan? Si penjaja minyak tersebut berkata, “Dengarkan baik-baik! Aku setiap waktu meniti jalan semenjak awal untuk menjajakan minyak, setelah mengisi penuh wadah ini dengan minyak, dengan kain atau nilon aku menutupnya dengan kuat. Dan selepas itu, mengikatnya dengan benang sekencang-kencannya. Dengan semua langkah antisipatif itu, toh minyak tetap menetes setetes demi setetes dari wadah tersebut. Akan tetapi Tuhan sedemikian Dia menciptakan kita sehingga dalam keadaan bagaimanapun kalau kita tidak ada hajat maka aktivitas penolakan (dâfe’e) tidak akan terlaksana. Dan buang air kecil atau besar tanpa adanya kehendak dari nafs, tidak akan terjadi. Sementara pada saat yang sama ia tidak memerlukan nilon atau benang sebagaimana minyak yang diletakkan pada suatu wadah untuk menjaga minyak tersebut tidak tumpah! Aku dengan perenungan dan kontemplasi seperti ini aku menemukan dan mengenal wujud Tuhan!Mengenal Tuhan dengan menyaksikan fenomena-fenomena natural yang terjadi di sekeliling kita, dengan perenungan dan kontemplasi, kabut eksistensi yang menyelimuti semesta dapat disingkirkan dan  wujud Tuhan dapat kita jumpai. Jalan yang dilakukan dengan merenungi eksistensi diri, menyelami jiwa dan raga secara fisiologis, eksoteris dan esoteris, dengan menatap batin sebagai sebuah fenomena yang dinamis, memandang diri sebagai bagian kecil dari tatanan kosmos ini adalah apa yang sering disebut sebagai sair anfusi. Sair anfus merupakan jalan atau argumen yang sering disebut berdampingan dengan sair afaqi. Sair anfusi atau mengenal Tuhan dengan jalan mengenal diri (nafs) umumnya akrab digunakan dalam bidang Akhlak atau bahkan Irfan. Dalam bidang ini diktum “barang siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya” sangat sering diketengahkan. Khususnya dalam bidang akhlak, tidak satu buku yang mengupas masalah moral dan etika yang tidak menyebutkan diktum di atas. Dan disebutkan bahwa di salah satu tempat ibadah Apollo di Delphi, di gerbangnya tertera tulisan, “Pergilah dan kenali dirimu”. Pesan moral inilah yang banyak menjadi muatan utama dalam filsafat Socrates dan Pyhtagoras.Sedemikian penting usaha dan proyek mengenal diri ini sehingga natijahnya seorang yang meniti perjalanan mengenal diri ini, tidak hanya akan mengenal kosmos tapi juga akan mengenal Tuhan pencipta kosmos. Apakah mengenal diri dalam diktum di atas adalah mengenal diri manusia secara fisikal yaitu mengenal panca indra dan anggota tubuh lainnya, secara esoteris dan eksoteris atau lebih subtil dan sublim dari itu?  Pengenalan diri ini termasuk dalam ilmu atau pengenalan apa? Pengenalan diri di sini adalah termasuk pengenalan panca indra dan angota tubuh lainnya, fisiologis, esoteris dan eksoteris. Namun secara umum manusia merupakan maujud yang secara esensial, sifat dan perbuatan memiliki warna dan corak Ilahi. Yang ditekankan dalam tema ini adalah lebih pada dimensi esoteris dan ruhaninya. Dan dapat dikatakan bahwa antara Tuhan dan manusia terdapat persamaan, akan tetapi secara dzati, karena esensi manusia dan nafs natiqa-nya merupakan maujud mujarrad yang tidak terpengaruh oleh kantuk dan tidur dan secara sifat karena nafs manusia memiliki peran manager dan pengelolah anggota tubuh. Di sini nafs memiliki peran sifat, seperti menarik, menolak, mengendali,  menghafal, mengelola, mengatur, bijaksana, melihat, mengetahui, mendengar dan mencipta dan sebagainya. Di mana pada hakikatnya seluruh sifat ini dapat dicerap dan diabstraksikan dari sifat-sifat manusia. Dan sifat perbuatan Tuhan juga seperti, pemberi rizki, pencipta, mendengar, mengetahui dan sebagainya demikian juga dapat dicerap dan diabstraksikan dari sifat-sifat perbuatan Tuhan.  

Definisi Nafs dan Ma’rifat an-Nafs 

         Banyak definisi yang diberikan oleh para filosof dan urafa tentang nafs. Sebagian mereka dalam menjelaskan hakikat nafs terdapat empat belas mazhab dan pendapat. Dan sebagian yang lain menganggap bahwa dalam mengekplanasi realitas nafs terdapat empat puluh mazhab dan pendapat. Dan sebagian lain berkata bahwa, “para qudama dan ulama kiwari senantiasa masygul dan berselisih pendapat tentang definisi nafs natiqah ini, mereka beranggapan bahwa pendapat dan definisi yang disampaikan hingga kini ada seratus pendapat.”          Tapi yang benar adalah bahwa nafs merupakan substansi yang kosong dari materi dan sifat-sifat materi dan ia menempel pada badan; menempel maksudnya di sini adalah bahwa nafs bagi badan adalah pengendalli dan pengatur, dan tingkatan badan adalah tingkatan turunan dari nafs. Selain definisi yang disebutkan paling akhir, barangkali keliru atau mereka harus menakwilkan nafs sebagaimana definisi ini. (‘Uyun Masâil Nafs wa Syarh Ân, hal. 16)           Adapun definisi ihwal ma’rifat an-nafs atau mengenal diri sebagaimana yang disebutkan pada awal-awal pembahasan ini, bukanlah sekedar mengenal anggota tubuh dan panca indra.  Atau berkaitan dengan pengetahuan akan nama seseorang, nama ayah, atau tanggal dan tempat lahirnya. Ma’rifat an-nafs lebih banyak berkenaan dengan dimensi spiritual, esoteris dan ruhani seseorang.  

Urgensi Mengenal Diri    

      Semakin urgen sesuatu nilai dan harganya semakin melambung tinggi. Terlebih apabila nilai dan harga barang tersebut menyangkut sukses tidaknya seseorang, berjaya tidaknya seseorang, bahagia tidaknya seseorang dan paling akhir, selamat tidaknya seseorang dalam kehidupannya.           Manusia yang dual-dimensi, dimensi ragawi dan dimensi ruhani, adalah makhluk yang memiliki warna dan corak Ilahi. Tentu apabila ia tidak mengaktualkan potensi yang diberikan Tuhan kepadanya, sekali-kali ia tidak akan menjelma menjadi manusia unggul dan sempurna.           Setiap manusia berhajat kepada kesempurnaan. Fitrah manusia menegaskan bahwa ia cinta dan kasih kepada kesempurnaan. Apabila kita melakukan kontra-predikasi (naqsh al-haml) atas diktum di atas, barang siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, menjadi barang siapa yang tidak mengenal dirinya tidak mengenal Tuhannya. Karuan saja ia tidak akan pernah meraih derajat kesempurnaan. Manusia untuk meraup kesempurnaan dan mentransendental, mau tidak mau ia harus mengenal tipologi, karakteristik dan segala potensi yang diberikan Tuhan kepadanya.           Lantaran dunia kiwari dengan kerusakan moral dan kejahilan akan pengenalan diri telah terjerembab dalam jurang alienasi diri. Mereka telah melupakan diri dan Tuhannya. Mereka tak mengenal dirinya sehingga tidak sampai gilirannya untuk mengenal Tuhannnya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial darimana datangnya, kemana jalan yang ia tuju dan untuk tujuan apa ia ada tak akan pernah dapat terjawab bagi orang-orang seperti ini.            Oleh karena itu, pembahasan pengenalan diri ini menemukan urgensinya apabila insan dengan mengaktualkan potensi yang dimilikinya maka ia akan dapat meraih kesempurnaan insani dan maknawi yang akan menghantarkannya kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.          Tentu saja kali ini kita tidak lagi berada pada arsy dan tataran pembahasan argumentasi pembuktian wujud Tuhan dan wujud judgment day (hari kiamat). Pembahasan kita kali ini adalah sequel dari seri argumentasi pembahasan tentang wujud Tuhan. Dimana sebelumnya lebih banyak menitikberatkan pada pembahasan sairi afaki          Sebagai pelengkap, di sini kita akan mengambil manfaat dari cahaya hadis yang memotivasi dan mendorong setiap orang untuk mengenal diri dan kediriannya. Di nukil dari Sayidina Ali Ra bahwa ia bersabda: “Pengenalan terhadap diri merupakan sebaik-baik dan seuntung-untungnya pengenalan. (Mîzân al-Hikmah, vol. 6, hal. 142, no. 11923) Atau dari hadis yang lain, “Puncaknya pengetahuan (atau pengenalan) manusia adalah pengenalan terhadap dirinya.” (Mîzân al-Hikmah, vol. 6, hal. 141, no. 11902)

Kegunaan Mengenal Diri   

       Sangat banyak kegunaan dan manfaat dari makrifat diri ini. Di sini kami akan menyebutkan empat hal saja dari selaksa manfaat dan keutamaan yang ada tentang kegunaan pengenalan diri ini.

Pertama, kegunaan atau faidah praktis dari pengenalan diri adalah memberikan peluang kepada manusia untuk lebih familiar terhadap kemampuan dan bakatnya. Hal ini akan banyak membantu seseorang dalam hidupnya, misalnya mencegahnya dari memilih bidang studi atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan bakat yang diberikan Tuhan kepadanya.          

 Kedua, di samping itu pengenalan diri sangat bernilai karena manusia dapat menyadari bahwa ia bukanlah sosok atau maujud yang mengada dengan sendirinya atau wujudnya tidaklah mandiri (self-existent). Hal ini penting, lantaran akan membantu seseorang untuk memahami bahwa sehebat apa pun ia atau setinggi apa pun kedudukan dan status sosialnya, toh ia hanyalah seorang yang berhajat dan berkeinginan, bahkan dalam terminologi Mulla Shadra, sifat berhajat dan berkeinginan pada manusia adalah bersifat dzati (faqr adz-dzati) dimana esensi (dzat) manusia adalah butuh dan berhajat kepada Dia, yang wujudnya secara dzati kaya dan tidak memiliki hajat kepada apa dan siapa pun (ghani adz-dzati).          

 Ketiga, Pengenalan diri sangat efektif bagi sistem dan mekanisme pengembangan diri; bahkan seseorang dapat mengatakan bahwa makrifat diri atau mengenal diri mirip dengan “bio-feed back therapies” yang dikembangkan oleh banyak fisikawan  di beberapa negara Barat yang menganjurkan kepada para pasiennya yang aktif dalam proses healing (penyembuhan) atau kepada pasien yang telah angkat tangan dari perawatan medikal moderen.       

    Keempat, mengenal diri akan membantu seseorang memahami bahwa ia tidak tercipta secara kebetulan (by chance). Jika kita menginternalisasi dan menghayati akan keberadaan kita,  diri kita, dengan argumen-argumen atau bahkan tanpa memerlukan argumen, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang tak-terelakkan bahwa Tuhanlah yang mencipta seluruh keberadaan.  Kita tidak mewujud dengan sendirinya atau hanya karena persemaian antara sperma dan ovum dari kedua orang tua kita.          Manusia secara natural senantiasa mencari alasan keberadaannya. Ia akan melakukan monologue pada dirinya ihwal Darimanakah kedatanganku?Ke mana langkah yang aku tuju? Untuk tujuan apa keberadaanku?  Dengan mengenal diri, ia akan menuai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini. 

 Apakah Nafs itu Ada?         

Pertanyaan ontologis yang mendasar yang harus diajukan di sini adalah apakah wujud nafs itu dapat dibuktikan secara filosofis dan logis. Atau sederhananya, apakah nafs itu ada dan eksis dalam diri kita.           Ibn Sina dalam berargumen tentang wujud nafs ia mengemukakan beberapa dalil dan demonstrasi. Dalil pertama, perhatian manusia kepada Akunya sebagai sebuah realitas selain badan dan raga. Penalaran dan argument Ibn Sina ini dikenal sebagai “argumen manusia yang terangkum dalam ruang.” [1] Ia berkata, setiap manusia pada masa meleknya dan bahkan pada saat tidur atau mabuknya, ia mengenal dirinya. Dan ia tidak pernah lalai dan alpa dari realitas “Aku” ini.           Sekarang mari kita melihat penjelasan Ibn Sina tentang burhan yang dimaksud ini:          “Perhatikan diri Anda secara seksama! Apakah ketika Anda berada dalam kesehatan yang normal dan bahkan dalam ketika Anda menderita sakit, sepanjang Anda tidak kehilangan ingatan dan memori, sekali-kali Anda tidak akan pernah merasa kehilangan dari diri Anda? Artinya sedemikian Anda tahu bahwa Anda ada dan wujud? Aku tidak percaya kepada ingatan semacam ini, bahkan seseorang yang tertidur dan atau mabuk sementara ia tidak tahu siapa dirinya, kendati perhatian kepada dirinya tidak terlintas dalam pikirannya.           Dalil kedua, Ibn Sina menegaskan bahwa nafs bukanlah badan. Penalaran Ibn Sina bersandar kepada landasan bahwa manusia dapat menemukan dirinya sebagai sesuatu selain badan. Oleh karena itu, manusia selain dari badan, ia memiliki nafs non-jasmani. Dalam menguraikan inferensi ini, Ibn Sina menjelaskan: Hakikat dan realitas nafs yang terdapat pada diri manusia dapat dibuktikan dengan jalan efek dan perbuatan-perbuatan. Seperti dengan memperhatikan bahwa manusia memiliki gerak, perasaan dan mencerap, kita bertanya kepadanya bahwa sumber gerakan dan perasaan ini darimana datangnya? Sangatlah jelas bahwa gerakan tidak dapat bersumber dari jasmani dan raga manusia, lantaran apabila raga dan jasmani dapat menjadi sumber gerakan, maka seluruh raga dan jasmani mampu bergerak dengan sendirinya, sementara kenyataannya tidaklah demikian.           Bagaimana mungkin kita menganggap gerakan bersumber dari jasmani, sementara jasmani dan mixture jasmani, kadangkala ketika bergerak, menahan manusia dari bergerak pada sebuah arah khusus dan kadangkala juga menahan manusia dari gerakan aslinya. Oleh karena itu, jasmani dan mixture jasmani dan tabiat jasmani tidak dapat dianggap sebagai sumber gerakan kehendak manusia. Maka dalam diri manusia haruslah terdapat sesuatu yang menjadi sumber gerakan dan itulah nafs yang disebut manusia sebagai “diri”.  

Klasifikasi Nafs

          Ibn Sina sebagaimana para filosof sebelumnya beranggapan bahwa nabat (flora), hewan dan manusia memiliki nafs. Nafs atau ruh merupakan sebuah realitas atau hakikat dimana ia membuat format-format nabat (flora), hewan dan manusia. Nafs merupakan sumber kekuatan-kekuatan dan efek-efek dan aktifitas-aktifitas dimana materi yang tanpa jiwa tidak memiliki hal tersebut. Adapun kekuatan dan kemampuan nafs nabati adalah, kekuatan memberi makan, berkembang dan tumbuh dan kekuatan untuk reproduksi dan memperbanyak keturunan. Nafs hewani di samping memiliki kekuatan yang telah disebutkan pada nafs nabati, ia memiliki dua kekuatan tambahan, yaitu, kekautan untuk mencerna dan kekuatan bergerak. Nafs dan ruh manusia, di samping kekuatan-kekuatan yang telah disebutkan di atas, ia memiliki kekuatan tipikal seperti kekuatan berpikir dan menalar.                   Kekuatan-kekuatan tipikal ini, berdasarkan  domain dan ranah aktifitas manusia dapat dibagi menjadi dua bagian:

           1.     Akal teoritis yang  mencakup masalah-masalah ontologi.

2.     Akal praktis yang cakupannya merangkum pengenalan terhadap nilai-nilai. [bersambung]


[1] .

Being Perfect [2]

Irfan 

Definisi Kesempurnaan

            Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, yang dimaksud dengan kesempurnaan dalam wujud adalah dicapainya maksud dan tujuan yang sebelumnya tidak dimiliki atau diperolehnya sesuatu setelah ketiadaan sesuatu itu. Dari sini terdapat kemungkinan bahwa penciptaan eksistensi mempunyai tingkatan dan gradasi, dimana suatu tingkatan merupakan tingkatan yang lebih tinggi dan lebih sempurna dari tingkatan yang lain, dan pada derajat-derajat yang lemah senantiasa terdapat potensi untuk sampai pada derajat yang lebih tinggi, dan setelah melakukan gerak, sesuatu yang lemah itu akan menjadi sempurna.

Misalnya, di alam natural terdapat potensi sumber alam yang beragam, di alam natural dan tabiat ini juga terdapat tumbuhan dan tumbuhan ini kemudian menjadi makanan bagi hewan, lantas makanan ini berubah menjadi darah, lalu darah berubah bentuk menjadi sperma dan dari sperma akan terbentuk hewan lain dari generasi baru. Demikian juga, hewan inipun (misalnya kambing) akan menjadi makanan untuk manusia dimana dari makanan tersebut kemudian terbentuk nutfah yang selanjutnya akan menghasilkan manusia baru, dan pada manusia baru ini yang karena terjadi pertumbuhan dan perkembangan, secara lambat laun akan mulai belajar dan menjadi orang yang berpendidikan tinggi, lalu perlahan-lahan akal, pikiran, dan rasionalitasnya akan mengaktual dan akhirnya akan menjadi sebuah realitas wujud yang non-materi dan kemuadian menarik diri dari alam tabiat menuju alam metafisika dan alam malakuti. Atau karena pengaruh pensucian diri, akhlak yang mulia, dan ibadah yang ikhlas, dia akan hidup dan berbentuk menjadi jiwa malakuti dan Ilahi, dan setelah alam materi ini dia akan ditempatkan pada kedudukan yang paling tinggi kemudian dibangkitkan dan dikumpulkan bersama para Nabi dan Rasul, para kekasih-kekasih Tuhan, orang-orang yang shaleh, dan para malaikat-malaikat muqarrabin.

Sebuah Kesimpulan

            Dengan demikian, kita telah memahami bahwa kesempurnaan akan mungkin terwujud dan tercapai ketika:

Pertama, eksistensi mempunyai keragaman derajat dan tingkatan, mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi;

Kedua, setiap derajat dan tingkatan yang rendah, senantiasa memiliki potensi untuk sampai pada derajat yang lebih tinggi;

Ketiga, derajat dan tingkatan yang rendah ini, akan bisa sampai ke puncak tujuan dengan gerak dan usahanya sendiri. Akan tetapi berdasarkan pendapat kaum materialis dan liberalis modern yang tidak menerima realitas sesuatu kecuali materi, mengatakan bahwa kesempurnaan sama sekali tak bermakna dan tidak mungkin ada.

            Dari pendahuluan di atas, akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa setiap aliran pendidikan yang berpikir terhadap pembinaan dan pertumbuhan manusia dan berpikir untuk membimbing generasi manusia, selama mereka belum memiliki pengenalan yang mendetail dan hakiki tentang dimensi-dimensi wujud manusia, apapun yang mereka desain dan rencanakan untuk pembinaan manusia merupakan hal yang jauh dari harapan dan tidak akan mampu melakukan penghidmatan hakiki kepada masyarakat sedikitpun, dan apabila mereka tidak bisa mengalihkan masyarakat dari kesesatan dan menghindarkan mereka dari segala penyimpangan, maka aliran-aliran pendidikan dan pembinaan ini tidak akan pernah bisa memberikan hidayah dan bimbingan.

            Seluruh ikhtilaf pendapat yang terdapat pada konsep etika-etika barat dan non-barat bersumber pada ketiadaan pengenalan manusia dalam dimensi-dimensi hakikinya. Apabila mereka telah mengingkari baik dan buruknya perbuatan, berarti mereka telah menganggap etika dan akhlak sebagai sesuatu yang nisbi dan relatif, mereka tidak menganggap pentingnya ilmu dan pembinaan etika untuk manusia, mereka menganggap pembinaan etika dan akhlak hanyalah akan membatasi kebebasan dan ruang gerak manusia saja, atau mereka menganggap prinsip dan asas persoalan etika bersumber pada instink dan masalah-masalah seksual, yang hal ini muncul dari ketiadaan pengenalan yang mendetail dan hakiki atas diri manusia dan ketiadaan pemahaman terhadap kelayakan kehidupan duniawi dan ukhrawi manusia.[1]

Etika dan Kemuliaan di Era Kontemporer

            Pada masa kontemporer, generasi manusia telah terjerumus ke dalam kehidupan hedonisme, egoisme, fanatisme, konsumerisme dan sikap angkuh dan sombong. Mereka sama sekali tidak meyakini adanya nilai kebahagiaan dan kehidupan hakiki serta tidak sepakat adanya tindakan yang harus dilakukan untuk membatasi pemuasan syahwat dan kesenangan pribadi.

Ilmu, etika, akhlak, dan program pembinaan serta seluruh perencanaan pendidikan lainnya mesti berdasarkan pada tolok ukur materi. Apabila gerakan dan program semacam ini dimunculkan dan diwujudkan dalam kehidupan manusia dan memaksa manusia untuk mengikuti prilaku masyarakat liberal atau mengubah seluruh aturan-aturan suci Ilahi menjadi aturan-aturan berskala materi dan berorientasi pada pemuasan dimensi jasmani manusia, atau mengubah setiap proposisi dan nilai-nilai yang pasti menjadi nilai-nilai yang relatif, maka hal ini akan mengakibatkan hadirnya kebiadaban dan kebebasan mutlak yang akan berkonsekuensi negatif pada generasi manusia selanjutnya dimana akan menjadi sebuah generasi malang yang hanya akan menjadi alat pemuas hawa nafsu, egoisme, dan kejahilan. Fenomena semacam ini bisa disebut dengan jahiliyah modern yang teramat mengerikan.

Hal ini terjadi terutama ketika tujuan-tujuan rendah ini telah terwujud dan terimplementasikan, karena modernisasi politik yang ada saat ini tidak bisa dibandingkan dengan era sebelumnya. Saat ini, seluruh kekuatan fisik, perekonomian, dan pengetahuan telah dikorbankan sebagai alat untuk mencapai keinginan-keinginan rendah pribadi dan egoisme, dan mereka telah meletakkan seluruh fasilitas yang memungkinkan hanya untuk satu tujuan yakni meraih kekuasaan dan kejayaan materi. Namun keadaan akan menjadi lain apabila rahmat Tuhan tercurah pada generasi manusia yang malang ini dan kekuatan agung-Nya menghalangi langkah mereka lalu menghadirkan generasi baru yang akan bangkit dan melawan segala bentuk kezaliman dan jahiliyah dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang dianugrahkan Tuhan pada mereka.

            Pada zaman ini, ilmu teronggok dalam kesuciannya sendiri, tidak memberi kemuliaan dan keutamaan pada manusia dan tidak pula menjadi sesuatu yang bisa dipercaya untuk mempertahankan hak asasi manusia, melainkan seluruhnya telah menjadi kacung para agresor, setiap pandangan dan pikiran kita dan setiap kebaikan dan perbaikan yang kita usahakan hanya akan menjadi bahan celaan dan ejekan dari kaum tak bermoral ini. Lembah yang mengerikan dan menakutkan ini merupakan sebuah lintasan yang sebelumnya tidak pernah dilalui oleh manusia manapun dan hingga kini manusia pun belum pernah tertimpa musibah dengan tingkat kejahilan yang sedemikian mengerikan. Bisa jadi, ketika kelak manusia telah duduk pada masa kejayaan dan telah menemukan peradaban, rasionalitas, etika, dan kemuliaan, mereka akan menggambarkan kurun keduapuluh dan keduapuluh satu ini sebagai titik puncak kezaliman dan kejahilan manusia.

Manusia Tidak Mengetahui Apapun Saat Kelahirannya

            “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”[2]. Mungkin bisa dikatakan bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk hidup yang terlahir dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, tidak berilmu dan tidak berpengetahuan, tidak berdaya dan tidak mampu. Pada saat kelahirannya ini, bahkan dia tidak mempunyai kekuasaan terhadap inderanya sendiri misalnya terhadap matanya sendiri, sedangkan seluruh gerakan yang terjadi pada tubuhnya tidak lain merupakan kumpulan refleksi dan aktifitas tak sadar yang dilakukan oleh otot-otot tubuh (yakni tidak bersumber dari iradah dan kehendaknya sendiri), dimana Tuhan dengan perantaraan aksi dan reaksi tak sadar ini memberikan peregangan-peregangan alami supaya kelenjar dan otot-otot tubuhnya mengalami elastisitas dan selanjutnya secara bertahap mampu menggerakkan mata, kaki, tangan, dan indera lainnya yang berdasarkan kewenangan dan ikhtiarnya sendiri.

Kebalikan dengan yang terjadi pada awal kelahiran makhluk-makhluk hidup lainnya yang semuanya telah dilengkapi dengan seluruh perangkat pertahanan dan perangkat hidup yang telah disesuaikan dengan tempat dan kondisinya, sehingga mereka memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk terjun langsung dalam kancah kehidupan dunia ini. Mereka mampu mengenali kelompok dan golongan mereka serta mampu menentukan pihak musuhnya dengan tepat. Mereka juga mampu menentukan makanan, menghindarkan diri dari kekerasan, memisahkan kebaikan dan keburukan dari lingkaran kehidupannya, dan semua ini telah mereka miliki persis sejak saat kelahirannya dan untuk memperoleh hal-hal itu mereka sama sekali tidak membutuhkan proses belajar mengajar sebagaimana manusia.

            Perbedaan ini terjadi karena seluruh makhluk hidup yang ada di alam ini – kecuali manusia – telah mampu mencukupkan dirinya dengan informasi dan pengetahuan yang ada (yakni pengetahuan alami atau instink), dan pengetahuan mereka tidak mengalami pertambahan kecuali sangat sedikit. Meskipun tidak disangkal tentang adanya beberapa jenis hewan yang memiliki kemampuan belajar dan mengikuti proses pembelajaran dan pelatihan dalam batasan yang tertentu, seperti kuda, kera, anjing, dan sebagian jenis burung dan bahkan pada berbagai pertunjukan terlihat juga beberapa jenis hewan ganas yang mampu melakukan aktifitas belajar ini, akan tetapi hal ini merupakan perosalan yang sangat jarang terjadi dan membutuhkan jerih payah yang sangat besar yang kadangkala diiringi pula dengan bahaya yang tidak sedikit, akan tetapi tidak demikian halnya dengan makhluk bernama manusia, karena manusia mempunyai kapasitas, potensi, dan kemampuan yang tidak terbatas dalam proses belajar mengajar.

Ketidakterbatasan Kemampuan Manusia

            Dimensi-dimensi yang membedakan antara manusia dan seluruh makhluk hidup lain adalah potensi, kapasitas, dan kemampuan belajar dan menuntut ilmu yang tidak terbatas. Namun kemampuan ini berada dalam dua arah positif dan negatif.

            Al-Quran berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).”[3]

            Terdapat dua arah dan kecenderungan pada diri manusia, yaitu kecenderungan menaik dan kecenderungan menurun. Pada satu sisi manusia merupakan sebaik-baiknya wujud makhluk, akan tetapi pada sisi yang lain merupakan mengarah pada asfalus-safilin, yaitu pada derajat wujud yang terendah, dan manusia terletak di antara dua kutub tertinggi dan terendah ini.

Manusia mempunyai potensi dan kemampuan gerak menyempurna sedemikian sehingga mampu mencapai kedudukan tertinggi di alam eksistensi (yaitu kedudukan malakuti dan Ilahi), akan tetapi dia juga memiliki potensi untuk jatuh terjerumus pada posisi terendah yang bahkan lebih rendah dari kedudukan yang dimiliki oleh binatang dan setan. Yang kelak akan menjadi bagian manusia dari dua titik ini hanya bergantung dari proses pembelajaran yang dilaluinya di dunia ini, dimana menjelang nafas terakhir seluruh potensi-potensi ini akan terhenti dan tidak lagi memiliki persiapan dan kelayakan untuk menerima kesempurnaan apapun, keadaan ini sebagaimana sebuah angka yang konstan dan secara tetap berada pada tingkatan wujudnya yang tertentu, pada salah satu hadits dikatakan, “Hari ini kamu memiliki potensi dan kemampuan untuk melakukan gerak dan memproses diri untuk menambah kesempurnaan diri kalian sendiri, akan tetapi setelah nafas yang terakhir dan penghabisan, kamu hanya akan disibukkan dan diperhadapkan dengan berbagai perhitungan terhadap apa-apa yang kamu kerjakan dan hasilkan dalam kehidupan di dunia.”[4]

            Manusia merupakan satu-satunya eksistensi yang dalam proses perjalanan penciptaan, telah tercipta dengan memiliki potensi, kemampuan, dan kapabilitas. Hanya manusialah yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh, berkembang, dan mengubah tingkatan wujudnya dalam kehidupannya, bahkan para malaikat muqarrabin pun diciptakan dengan keadaan mereka yang permanen dan tidak akan pernah berubah dari apa yang telah ada.

Hanya manusialah yang akan mampu bergerak dan berproses ke satu arah positif dengan adanya proses belajar dan mengajar.

Fitrah Manusia Terwujud Sejak Lahir

            Manusia pada tahapan awal kelahirannya memiliki potensi-potensi khusus yang akan segera dan cepat mengaktual tanpa melewati proses belajar mengajar ataupun bimbingan, dan potensi-potensi khusus ini akan mekar di dalam diri manusia yang kemudian akan berfungsi dan bertujuan untuk menyiapkan lahan dalam melakukan proses pembelajaran dan pendidikan. Potensi-potensi yang telah mengaktual ini dinamakan fitrah manusia. Dalam waktu yang sangat singkat manusia akan memahami persoalan-persoalan logis semacam kemustahilan hukum kontradiksi, hukum-hukum sebab-akibat (kausalitas), dan aksioma-aksioma lainnya.

Demikian juga, dalam waktu yang tidak berapa lama, dengan sendirinya dia akan menemukan dan mengetahui berbagai persoalan etika dan akhlak beserta prinsip-prinsipnya, seperti masalah-masalah keburukan kezaliman, kebaikan keadilan, tercelanya kebohongan, pahitnya kekerasan, keindahan alam, dan persoalan lain yang bersifat fitrawi. Demikian juga, setelah beberapa waktu lamanya dia akan mampu menyusun argumentasi-argumentasi sederhana, terutama premis awal argumentasi, dan kadangkala pula dia akan mengutarakan premis-premis mayor untuk merasionalisasikan perbuatan-perbuatannya.

Poin Penting

            Pengetahuan atas hukum-hukum sebab-akibat (kausalitas) dan kemustahilan kaidah kontradiksi, untuk tingkatan anak-anak tidak bermakna sebagai sebuah istilah filsafat atau pelajaran logika sebagaimana yang dipelajari secara khsusu, melainkan bermakna sebuah bentuk pengetahuan yang hadir dari fitrah sucinya dimana disebut sebagai pengetahuan terhadap hukum sebab-akibat dan kemustahilan kontradiksi. Sebagai contoh, suara yang sangat pelan akan menarik perhatian anak ke arah sumber suara, dan apabila hadir suara menggelegar yang sampai ke telinganya, dia akan menjadi takut lalu menangis. Dia akan merasakan bentuk pandangan ibunya yang lagi marah dan akan sedih dengan ketiadaan perhatian kedua orang tuanya, sementara itu pandangan yang penuh kasih sayang akan dia anggap sebagai perhatian mereka padanya, sehingga mengarahkannya untuk mendekat dan melekat dalam pelukan mereka. Ketika lapar, dengan keadaan yang khas tanpa adanya kemampuan berbicara dia akan mencari air susu dan makanan dari ibu, begitu juga ketika jauh darinya, dia akan merasa sendirian lalu dia akan mengungkapkan kesedihannya. Pada persoalan-persoalan semacam ini dia akan mengambil kesimpulan dari premis-premis tertentu dan mengetahui dengan baik arah, dasar, dan konsekuensi dari premis tersebut.

            Ketika si anak ini menyaksikan botol susu di hadapannya ia kemudian akan memintanya dari ibu, akan tetapi ketika sang ibu menolak untuk memberi dan mengatakan bahwa ini bukan botol susu, maka si anak ini dengan menyaksikan adanya kontradiksi akan menjadi sangat kecewa dan dia akan mengungkapkan kekecewaannya tersebut dalam bentuk suatu tangisan.

Sebuah Kenangan

            Penulis teringat pada suatu hari dalam liburan Tahun Baru ketika menjadi tuan rumah dan sekaligus mengamati tamu-tamu kecil yang senantiasa sibuk dalam dunia mereka sendiri, usia mereka rata-rata masih berkisar antar 4 hingga 5 tahun.

            Saking sibuknya bermain, mereka tidak lagi memperdulikan kehadiran saya. Di tengah-tengah permainan mereka, saya mendengar celoteh dua bocah kecil yang tengah melakukan tanya jawab, bocah pertama bertanya pada bocah kedua, “Apakah kamu menyukai anak-anak yang nakal?” Bocah kedua menjawab, “Ya, aku hanya menyukai anak-anak yang nakal”, bocah pertama bertanya lagi, “Kamu juga menyukai dirimu sendiri?” Kedua menjawab, “Tentu saja”, lantas bocah pertama berkata, “Jadi jelas bahwa ternyata kamu juga anak yang nakal.”

            Dialog di alam kanak-kanak ini berakhir dengan sebuah silogisme dan kesimpulan dari bentuk argumentasi sederhana. Bocah pertama dengan mengambil premis mayor yang diungkapkan oleh bocah kedua (aku hanya menyukai anak-anak yang nakal) berusaha membentuk premis minor dengan sebuah pertanyaan (apakah kamu menyukai dirimu?). Setelah bocah pertama ini membentuk premis minor, dia kemudian menuangkannya ke dalam argumentasi sederhana lalu mengambil kesimpulan yang logis. Di bawah ini kami akan menganalisa bentuk argumentasinya:

Premis minor: aku menyukai diriku sendiri;

Premis mayor: aku hanya menyukai anak-anak yang nakal;

Silogisme: jadi aku juga anak yang nakal.

            Hal-hal semacam ini tidak susah untuk ditemukan, hanya saja untuk menemukan fitrah yang agung pada anak-anak ini memerlukan kesabaran dan kecermatan, dan dengan keyakinan penuh bisa dikatakan bahwa tidak ada satupun percakapan yang kosong dari argumentasi dimana dua belah pihak yang berkecimpung di dalamnya tidak mengetahui istilah penyimpulan dan nama premis-premisnya. Bahkan dengan ungkapan yang lebih luas bisa dikatakan bahwa kebanyakan masyarakat yang memiliki pikiran sederhana pun, dalam percakapan dan dialog-dialognya, akan senantiasa berusaha untuk menguasai lawan bicaranya lalu membuat rivalnya terdiam dengan argumentasi. Fitrah argumentasi ini sedemikian menyatu dalam diri manusia sehingga apabila seseorang mengingkari keistimewaan argumentasi ini, berarti pengingkarannya terhadap argumentasi itu sendiri sebenarnya juga merupakan sebuah argumentasi tanpa dia ketahui dan sadari.

            Argumentasi sederhana dan kesimpulannya ini, tidak akan membuat diam para pengargumen. Sebuah proposisi sama sekali tidak akan dapat dibuktikan atau dinafikan tanpa melakukan penyusunan argumentasi. Oleh karena itu, penolakan sebuah argumentasi harus dilakukan dengan membentuk sebuah argumentasi pula. Argumentasi versus argumentasi.

            Salah satu dari tanda-tanda Ilahi yang paling besar dan mulia tidak lain adalah fitrah agung manusia yang menakjubkan ini. Manusia mempunyai potensi tidak terbatas yang telah terwujud sejak awal kehidupannya dimana realitas ini dengan sendirinya merupakan media bagi proses pembelajaran, pembinaan, pendidikan, dan media argumentasi. sementara untuk melakukan transfer makna-makna mesti dipersiapkan oleh guru bagi muridnya.

            Apabila pada diri para murid tidak tersedia potensi dan kemampuan untuk mengambil kesimpulan dan silogisme dari premis-premis argumentasi, maka mustahil akan terjadi proses belajar dan mengajar serta pendidikan. Yang dilakukan oleh guru hanyalah membentuk, menyusun, dan melahirkan premis-premis, akan tetapi penyimpulan dan silogisme berada di tangan para murid. Apabila guru menghadirkan dan mewujudkan dua premis serta berkata kepada para muridnya bahwa “alam mengalami perubahan”, dan “setiap perubahan adalah bersifat temporer”, di sini apabila murid tidak mampu mengambil kesimpulan dan silogisme bahwa “alam adalah bersifat temporer”, maka tujuan dari metodologi dan proses belajar mengajar dan pendidikan sama sekali tidak akan tercapai. Tentunya, apabila dua premis yang subyektif (makna-makna premis masih dalam sebuah perdebatan atau tidak bersifat aksioma) dalam argumentasi-argumentasi yang saling berkaitan satu dengan lainnya, maka dalam hal ini kesimpulan yang dihasilkan akan keluar dari kewenangan seseorang, baik argumentasi tersebut sesuai dengan keinginan rivalnya ataupun bertentangan dengannya. Potensi dan kemampuan yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada para hamba-Nya ini adalah dimaksudkan supaya mereka mempunyai persiapan untuk proses menyempurna dan dengan perantara potensi-potensi ini mereka akan sampai pada titik kulminasi dan terselamatkan dari alam materi ini lalu melesak dan menanjak ke alam malakuti dan Ilahi.

Islam dan Penyempurnaan Manusia

            Karena yang mewujudkan al-Quran tidak lain adalah Zat yang menciptakan manusia, maka ajaran dan syariat-syariat hukum yang ada di dalam al-Quran identik dan sesuai dengan hakikat, tujuan, dan mekanisme penciptaan dan eksistensi, tidak ada sedikitpun pertentangan pada lingkup ini dan senantiasa berdasarkan hakikat wujud manusia. Dia senantiasa membimbing umat manusia.

            Dari perspektif ini, di dalam mekanisme Islam seluruh usaha diletakkan untuk mempersiapkan lahan pertumbuhan dan pembinaan, bukan bermaksud menambahkan sesuatu kepada wujud manusia, melainkan bermakna mengembangkan dan menyempurnakan wujud manusia. Dan apabila Tuhan memberikan perintah kepada mereka, seluruhnya berada dalam tahapan berikut yaitu mereka akan dipersiapkan untuk berkembang, menyempurna, dan mengaktualkan seluruh potensinya. Agama Islam tidak menganggap manusia sebagai sebuah pita kosong yang bisa diisi sesuka hati, melainkan persis sebagaimana sebuah bibit yang kita semaikan di lahan subur pertanian, dan kualitas dari unsur-unsur seperti air, cahaya, jenis tanah, dan pupuk, akan menentukan kualitas buah yang dihasilkannya. Apa yang dipersembahkan oleh sebatang kurma tidak lain adalah apa yang dikandungnya secara potensial dan sekarang dipersembahkan dalam bentuk buah yang sebelumnya secara potensial telah berada dalam wujudnya dan apabila dia memberikan buah yang lebih baik, maka hal ini hanya dikarenakan pengaruh dari unsur-unsur terbaik dalam tanah dan tersedianya kondisi-kondisi pertumbuhan yang lebih sesuai baginya.

            Demikianlah, agama suci Islam melakukan satu ‘perdagangan’ dengan manusia, karena Tuhan mengetahui bahwa Dia telah menciptakan fitrah dan mengetahui bahwa jiwa dan ruhnya lebih baik dari yang lainnya, dan fitrah dan jiwa itu sendiri merupakan tolok ukur untuk kebaikan dan keburukan. Dalam salah satu firmannya, Allah swt berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”[5]. Allah telah menciptakan manusia sedemikian rupa sehingga dengan adanya ilham Ilahi, mereka mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Demikian juga pada ayat yang lain, al-Quran mengutarakan tentang kesesuaian agama dengan fitrah, dalam firman-Nya, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[6]

            Dari sini, Tuhan telah menyediakan media sebagai lahan untuk tumbuh-menyempurnanya fitrah manusia, dalam bentuk dimana kadangkala manusia merasakan adanya hasil dari sebuah pembinaan dan hanya al-Quran-lah yang melakukan hal ini kepada manusia. Atas dasar inilah, sehingga Islam memberikan jawaban yang positif kepada maktab empirisme, yang hal ini tidak pernah dilakukan oleh aliran-aliran etika yang manapun. Para manusia sempurna seperti para Nabi dan Rasul serta pengikut-pengikut terdekat mereka dan juga orang-orang yang pada sepanjang perjalanan sejarah mengikuti seluruh perintah dan aturan-aturan Ilahi, seluruh kesempurnaan mereka ini berada di atas gambaran para pencetus dan pemimpin aliran etika dan pemikiran yang mengklaim dirinya sebagai pembimbing manusia.

            Karena Islam menganggap manusia sebagai sebuah eksistensi unggul dan mulia yang tidak memiliki rival dan saingan dalam mekanisme penciptaan ini, maka Islam memilihkan para Nabi dan Rasul sebagai pembimbing untuk manusia, para pembimbing yang suci dan sempurna ini diletakkan sebagai pengemban risalah-Nya yang perintah-perintah dan aturan-aturannya harus diikuti oleh manusia supaya mereka mampu melangkahkan kaki dengan mantap dan sepenuh keyakinan pada jalan yang lurus menuju ke arah tujuan tertinggi penciptaan manusia, sebuah tingkatan dan derajat kesempurnaan yang paling dekat dengan Sang Pencipta Alam. Al-Quran dalam masalah ini berfirman, “Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus”[7], dan juga berfirman, “Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”[8], Dia menciptakan dengan rencana dan tujuan khusus, dan membimbing seluruh manusia dengan bimbingan-Nya yang khas pula, lalu memperkenalkan tujuan suci penciptaan manusia dengan firman-Nya, “Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kamu kembali.”[9]

Kesatuan Ilmu dan Amal

            Agama Islam dengan jalannya yang lurus ini, menganggap bahwa ilmu dan amal sebagai suatu kesatuan yang tidak boleh terpisahkan, dimana melakukan yang satu tanpa mewujudkan yang lainnya, sama sekali tidak akan bermanfaat. Al-Quran menyebut keduanya sebagai penyempurna satu terhadap yang lainnya dan pada sebagian ayat-Nya, al-Quran mendahulukan menuntut ilmu dari pensucian diri (amal), dengan firman-Nya, “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah) dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”[10], dan pada sebagian ayat yang lain mendahulukan pensucian diri dari menuntut ilmu, dengan firman-Nya, “Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan al-Hikmah  (Al-Quran) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”[11].

            Yang diterima oleh agama suci ini adalah kebersamaan dan kesatuan antara ilmu dan amal dimana keberadaan yang satu tanpa kehadiran yang lainnya bukan saja tidak akan berguna melainkan akan merusak tatanan dan aturan.

            Imam Ali as dalam salah satu haditsnya bersabda, “Dua jenis manusia akan mematahkan tulang punggungku, yaitu lelaki berilmu bermulut manis yang fasik dan lelaki jahil keras hati yang beramal. Jangan sekali-kali kalian mendekati ulama yang fasik dan menghindarlah dari orang jahil yang taat, karena yang pertama akan menipu dengan ilmunya dan yang kedua dengan ibadahnya, dan seseorang yang tertipu, maka ketahuilah bahwa dia telah tertipu dengan pengetahuan tanpa taqwa dan ibadah tanpa ilmu”.[12]

Hakikat Islam sedemikian membenci orang-orang jahil yang taat beramal, sehingga Imam Ali as bersabda, “Tidur dan makannya orang-orang yang hidup hatinya dan berilmu adalah lebih baik, lebih diterima, dan lebih layak untuk dipuji dari shalat malam dan puasanya orang-orang yang bodoh”.[13]

Prinsip-Prinsip Pengajaran

            Sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya, manusia ketika memasuki alam eksistensi ini meskipun dia tidak memiliki sedikitpun ilmu dalam bentuk aktual, akan tetapi dia memiliki potensi yang tidak terbatas. Dengan berlalunya waktu, dengan sendirinya akal manusia akan menemukan dimensi-dimensi rasionalitas seperti hukum sebab-akibat (kausalitas), kemustahilan kontradiksi dan sebagainya. Manusia dengan aspek-aspek rasionalitas yang sederhana ini mempersiapkan dirinya untuk menerima proses pembelajaran pada waktu yang tepat. Tentunya sebagaimana yang telah kami katakan bahwa premis-premis rasionalitas yang sederhana tersebut, bukannya diperoleh lewat pembelajaran dari istilah-istilah resmi dan filosofis melainkan muncul bersamaan dengan kehadiran fitrahnya sejak awal kelahirannya. Misalnya ketika mendengar sebuah suara, dia akan berusaha untuk menemukan penyebabnya, dan tidak akan percaya bahwa suara tersebut ada dengan sendirinya, dia juga mengetahui bahwa keberadaan itu tidak sama dengan ketiadaan dan dia memahami keberadaannya sendiri tanpa diberitahukan oleh yang lain serta dia tak menyukai kebohongan dan orang yang berbohong.

Pengetahuan-pengetahuan semacam di atas merupakan pengetahuan-pengetahuan fitrah yang telah ada di dalam wujud manusia sejak lahir dan ada sebelum dia menerima proses belajar serta menuntut ilmu apapun. Salah satu metodologi paling penting dalam proses belajar adalah memunculkan motivasi pada manusia untuk menuntut ilmu dan hidup berdasarkan ilmu. Apabila motivasi seperti ini telah ada pada manusia dan mereka telah memberikan perhatiannya terhadap pengaruh dan hasil pengetahuan, maka mereka akan memasuki proses pembelajaran dan menuntut ilmu dengan kehendak dan motivasi yang kuat, mampu menanggung kesulitan-kesulitan yang ada, dan berusaha untuk menghilangkan rintangan-rintangan yang menghalangi perjalanan wujudnya. Berkaitan dengan ini, dalam agama Islam begitu banyak kalimat-kalimat yang mengungkapkan nilai penting dan hakiki dari ilmu dan pengetahuan serta mendorong manusia untuk menuntutnya dan berusaha menanggung segala  kesulitan dalam menuntutnya.

            Pada kesempatan ini, kami akan menyebutkan contoh dari perhatian yang luar biasa yang diperlihatkan oleh seorang Ulama besar Islam atas penting masalah menuntut ilmu, ada baiknya jika kita merujuk pada mukadimah kitab Ma’ani al-Akhbar. Di sana dikatakan,[14] untuk mendengarkan hadits dan menziarahi para ulama, Syeikh Shaduq ra memasuki kota Sarakhs.[15] Lebih lengkapnya dikatakan, “Dia memasuki kota Sarakhs untuk mendengar hadits dari Muhammad bin Ahmad bin Tamim, lalu memasuki Samarkan untuk mendalami hadits dari Abu Muhammad bin Abdus, dia juga pergi ke Faghanah[16] untuk menulis hadits dari Tamim bin Abdillah bin Tamim, dan dikatakan pula bahwa pada hari-hari tersebut dia juga memasuki kota Baghdad dan berkhidmat pada sekelompok ulama, lalu pergi ke Kuffah untuk mendengarkan hadits di masjid Kufah, dan …”.[17]

            Apakah perhatian yang menakjubkan dari para ulama-ulama Islam yang begitu banyak dinukilkan seperti ini, bukan merupakan hikayat adanya perhatian mengagumkan maktab Islam terhadap pendidikan dan proses belajar? Dari sudut ini, usaha dan kerja keras dari para ulama – yang menukilkan dan menyampaikan hadits-hadits tersebut dari generasi ke generasi – telah banyak dikenal, dan perhatian mereka yang tinggi dan suci ini telah banyak mendapat pujian dan tercatat dalam sepanjang sejarah Islam.

1. Motivasi Menuntut Ilmu

            Sekarang ada baiknya kami menyinggung beberapa ayat dan hadits yang mendorong dan memotivasi manusia untuk menimba ilmu dan pengetahuan.

            Dalam kitab Ushul Kafi dikatakan, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang menuntut ilmu.”[18]

            Pada salah satu hadits, Imam Shadiq as bersabda, “Mencari ilmu merupakan salah satu kewajiban”.[19] Beliau juga bersabda, “Aku menyukai cemeti menghajar sahabat-sahabatku supaya mereka menuntut ilmu dan mencari pengetahuan.”[20]

Banyak pula ayat yang berkaitan dengan persoalan ini. Guru Pertama yang ada di dalam al-Quran tidak lain adalah Allah Swt, Dia berfirman, “Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.[21] Pada ayat yang lain Dia berfirman, “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”.[22]

Ayat al-Quran di atas hanya layak ditujukan untuk para ulama dan orang-orang yang berilmu, pada kelanjutan ayat tersebut dengan penegasan khas, Tuhan berfirman, “Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran“, pada tempat lain Dia berfirman, “Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”[23], dan juga berfirman, “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”[24]

2. Menghargai Waktu dan Kesempatan

            Prinsip-prinsip lain yang berkaitan dengan proses belajar adalah menghargai waktu pada masa-masa belajar dan masa-masa luang. Kesempatan-kesempatan ini harus digunakan dengan sangat cermat di dalam lingkungan keluarga, karena hilangnya waktu dan kesempatan sama sekali tidak akan pernah bisa tergantikan, kesempatan-kesempatan ini begitu cepat berlalu dan dengan kelalaian yang sekecil apapun, umur yang bernilai akan terbuang sia-sia, hari-hari yang berharga akan terlewati, dan akhirnya kehidupan yang tanpa hasil tidak akan bernilai sama sekali.

            Imam Shadiq as bersabda, “Bebaskanlah anak-anak kecil kalian untuk bermain selama tujuh tahun, kemudian paksalah mereka untuk belajar tujuh tahun kemudian dan tujuh tahun setelah itu, dia harus belajar tentang apa yang harus dikerjakan dan apa yang mesti ditinggalkan.”[25]

3. Menghalangi Penyimpangan Fitrah

            Prinsip ketiga dalam proses belajar dan menuntut ilmu adalah menghindari penyimpangan fitrah, karena manusia memiliki fitrah Ilahi yang apabila hal ini tetap dalam diri manusia, maka seberapapun kemajuan akal dan ilmunya, fitrah ini akan semakin sempurna dan mekar, dan fitrah ini secara bertahap akan tumbuh dan berkembang hingga pada tahapan tertentu dimana akan menerangi jiwanya dan jiwa orang-orang yang mendapatkan ilmu dan bimbingan darinya. Hal ini kebalikan dengan orang-orang yang menyembunyikan fitrahnya di balik awan-awan gelap egoisme, egosentrisme, fragmatisme, liberalisme, komunisme, humanisme, imperialisme, dan isme-isme lainnya yang bertolak belakang dengan fitrah hakiki manusia. Orang-orang semacam ini, selain dia tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri dan untuk masyarakat, semakin dia berkembang dalam keilmuannya, maka dia akan semakin berbahaya. Karena ilmunya – yang menyimpang dari fitrah hakiki manusia – akan menjadi kacung bagi egoismenya.

4. Tujuan Menuntut Ilmu

            Prinsip keempat dari proses belajar dan pengajaran adalah adanya penekanan tentang tujuan dalam mekanisme belajar mengajar. Ilmu yang mengarah kepada Tuhan dan bergerak ke arah keridhaan-Nya akan memberikan nilai penting dan hakiki pada pengetahuan manusia. Ketiadaan tujuan yang pasti dalam menuntut ilmu akan menyebabkan manusia kehilangan arah kehidupan dan sebagaimana yang dikatakan dalam al-Quran “akan tersesat dan menyesatkan”. Hal ini juga dikatakan dalam sebuah hadits, “Dia akan berjalan mengikuti ke manapun arah angin bergerak”,[26] dia tidak akan mengetahui hakikat kebenaran dan dia akan bergerak mengikuti setiap suara dan pandangan.

            Allah Swt dalam salah satu ayat-Nya berfirman, “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara golongan berikut (iman atau kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)”[27], mereka bingung dan tidak mengetahui harus mengikuti golongan yang mana. Bahkan bisa dikatakan manusia yang dalam masalah-masalah pribadinya terutama dalam mekanisme berpikir dan ilmunya tidak memiliki tujuan hakiki, maka dia akan asing bagi dirinya sendiri, dia akan lalai terhadap hakikat dirinya, dan sama sekali tidak akan pernah mengetahui keadaan, pandangan, dan hasil akhir dari perilakunya. Manusia semacam ini bisa jadi akan dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bermoral untuk diarahkan menjadi penggerak bagi kerusakan masyarakat atau kemerosotan moral dan tingkah laku.

5. Mengarahkan Setiap Potensi

            Menentukan dan mengarahkan setiap potensi internal para penuntut ilmu serta membimbingnya ke arah pertumbuhan yang layak dan hakiki baginya akan menyebabkan gerak langkah dan pencapaian tujuan menjadi lebih cepat dan memberikan hasil yang lebih baik dan sempurna. Penentuan potensi dan bakat penuntut ilmu ini, akan mengarahkannya pada bidang spesialisasi keilmuan yang disukainya dan menyebabkannya tumbuh dengan cepat.

6. Pertumbuhan Spiritual dan Pengetahuan

            Tujuan dari proses belajar adalah pencapaian pengetahuan, pertumbuhan spiritual, mengenal diri, dan mengenal hakikat alam. Tujuan hakiki mencari ilmu bukan untuk memenuhi kebutuhan material, karena pekerjaan yang paling tercela dalam Islam adalah manusia menjadikan ilmu sekedar sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmaninya. Sebagaimana yang terjadi saat ini, dimana kebanyakan manusia mengikuti jenjang pendidikan hanya untuk memperoleh ijazah dan mencari pekerjaan dengan ijazah itu, tujuannya tidak lain adalah sekedar memenuhi kebutuhan hidup materialnya. Masalah ini merupakan keburukan yang sangat besar yang akan menghentikan gerak ilmu, dan mencukupkan diri hanya dengan mendapatkan ijazah saja akan berarti mematahkan tunas usaha dan jerih payah. Salah satu faktor paling penting yang menyebabkan sebuah bangsa tertinggal dalam kemajuannya adalah karena sebagian mereka meletakkan ilmu untuk berkhidmat dalam kehidupan material belaka. Perlu diketahui bahwa ketiadaan tujuan suci dalam menuntut ilmu hanya akan memberikan hasil yang tak lebih besar dari sekedar pemenuhan kebutuhan materi.

7. Menghindar dari Penyimpangan

Prinsip ketujuh, bimbingan dalam berbagai spesifikasi ilmu dan menjaga dari segala bentuk penyimpangan ilmu dimana banyak dialami oleh orang-orang yang memiliki pandangan yang keliru dan sama sekali tidak mampu memilih yang baik di antara pandangan-pandangan yang ada. Demikian juga menjaga pengaruh dan kecenderungan terhadap aliran-aliran sesat yang merusak dimana di dalam aliran-aliran tersebut tujuan politik lebih kental daripada tujuan keilmuan. Aliran-aliran ini seperti aliran-aliran materialisme dan positivisme yang terbentuk di Eropa setelah renaissance.[selesai]

 


[1] . Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai persoalan ini, rujuklah: Usul Falsafah wa Rawas-e Riyalism, pada pembahasan Ta’lim wa tarbiyat; Syahid Muthahhari, Insan Kamil.

[2] . Qs. An-Nahl: 78.

[3] . Qs. At-Tiin: 4-5.

[4] . Ghurar wa Durar, Imam Ali as, hal 120.

[5] . Qs. As-Syams: 8.

[6] . Qs. Ar-Ruum: 30.

[7] . Qs. Hud: 56.

[8] . Qs. Al-A’la: 2-3.

[9] . Qs. Al-‘Alaq: 8.

[10] . Qs. Al-Jum’ah: 2.

[11] . Qs. Al-Baqarah: 129.

[12] . Khishal Shaduq, hal. 69.

[13] . Nahjul Balaghah, hikmah 145.

[14]. Rujuk: Ma’ani al-Akhbar , hal. 24-25.

[15] . Nama salah satu kota di Masyhad.

[16] . Nama salah satu kota di Myanmar.

[17] . Ma’ani al-Akhbar, hal. 22.

[18] . Ushul Kafi, bab Keutamaan Ilmu, hadits 1.

[19] . Ibid, hadits 2.

[20] . Ibid, hadits 8.

[21] . Qs. Al-‘Alaq: 3-5.

[22] . Qs. Az-Zumar: 9.

[23] . Qs. Yunus: 100.

[24] . Qs. Al-Ankabut: 43.

[25] . Biharul Anwar, jilid 6, hal. 6.

[26] . Nahjul Balaghah, hikmah 147.

[27] . Qs. An-Nisa: 143.

Pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com/Indonesia

Being Perfect [1]

1. Tentang Kesempurnaan

Pengenalan Kesempurnaan

            Untuk mengenal kesempurnaan apapun, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengenal substansi dan hakikat sesuatu tersebut, karena apabila hakikat sesuatu tidak menjadi jelas, maka mustahil ada kemungkinan untuk mengenal kesempurnaannya.

            Tuhan Yang Maha Mengetahui mencipta beragam eksistensi berdasarkan hikmah-Nya. Dalam mekanisme penciptaan tersebut, masing-masing eksistensi memiliki karakteristik dan kecenderungan tertentu dengan fungsi dan manfaat dalam syarat-syarat yang tertentu pula, sedemikian sehingga tujuan khusus dari masing-masing mereka berbeda dari selainnya dan masing-masing mereka pasti akan melakukan aktifitasnya dalam ruang lingkup dan asas yang telah ditentukan oleh Tuhan. Demikian juga, menghilangkan batasan dan ruang lingkup aktifitas masing-masing perangkat eksistensi atau bahkan pemusnahan salah satu dari wujud mereka ini senantiasa akan diiringi dengan kerugian global yang tidak bisa tergantikan. Dan karena di alam eksistensi ini mustahil terjadi perulangan penciptaan, dan setiap batas dan bentuk dengan seluruh syarat-syarat wujudnya mempunyai karakteristik dan pengaruh yang khas, maka tujuan dari maujud masing-masing penciptaan sama sekali tidak akan bisa digantikan oleh selainnya. Dalam ilmu tasawuf dan irfan teoritis, masalah ini dituangkan dalam bentuk sebuah kaidah yang mengatakan bahwa perulangan dalam tajalli dan penampakan adalah mustahil.

            Dari keempat poin di atas, yaitu 1. pengenalan kesempurnaan bergantung pada pengenalan substansi dan hakikat benda, 2. masing-masing eksistensi memiliki karakteristik, pengaruh dan manfaat tertentu dalam koridor syarat-syarat tertentu pula, 3. menghilangkan salah satu eksistensi dalam mekanisme penciptaan adalah mustahil dan akan menimbulkan kerusakan sistem, 4. pengulangan dalam penciptaan maujud-maujud tertentu adalah mustahil atau pengulangan dalam manifestasi adalah mustahil; akan bisa mengantarkan kita kepada pemahaman tentang mekanisme dan sistem penciptaan yang penuh dengan hikmah, agung, rapi dan teratur yang berujung pada dimensi yang menakjubkan akan kebesaran Sang Pencipta Alam Eksistensi.

            Di bawah ini kami akan menganalisa dan mengkaji satu persatu dari keempat poin di atas:

1. Mengenal Kesempurnaan lewat Pengenalan Hakikat

Pengenalan kesempurnaan bergantung pada pengenalan hakikat, yaitu kita akan menemukan arah dan tujuan serta dimensi kesempurnaan wujud sesuatu sebatas kemampuan kita dalam mengenal hakikat dan esensinya. Pengetahuan manusia pun seluruhnya berputar mengelilingi tolok ukur ini, sedemikian sehingga setiap cabang ilmu hanya akan mengalami kemajuan dan perkembangan ketika telah mampu mengenal subyek-subyek yang ada di dalamnya secara mendetail dan telah mampu menemukan lebih banyak karakteristik dan keistimewaan serta pengaruh-pengaruh yang ditimbulkannya. Seorang ahli botani, selama dia belum mampu mengenali substansi sesuatu dan belum melakukan analisa dan eksperimen terhadap wujud sesuatu, maka dia tidak akan mampu menentukan khasiat dan karakteristik wujudnya dan memhami kesempurnaannya. Seseorang yang hingga saat ini tidak pernah melihat jeruk nipis dan tidak mengenal wujudnya, dia tidak akan mengetahui bahwa kesempurnaan jeruk nipis terletak pada keasamannya, semakin asam rasanya akan semakin sempurna keberadaan dan eksistensinya. Seseorang yang mengetahui substansi air, dia akan mengetahui bahwa paling sempurnanya air adalah yang tidak berasa, tidak berwarna, dan memiliki massa tertentu. Tentunya, terkadang pengenalan seperti ini diperoleh dari pengalaman berturut-turut dalam mengamati pengaruh-pengaruh suatu benda, dimana metodologi ini sama sekali tidak bertentangan dengan asumsi kami, karena dengan eksperimen terkadang esensi sesuatu dapat dikenali baik secara mutlak ataupun nisbi dan kemudian menentukan kesempurnaan dan tujuan wujudnya dengan berpijak pada pengenalan esensinya.

2. Performansi Khas Setiap Eksistensi

Setiap eksistensi di alam penciptaan mempunyai fungsi, manfaat, dan tanggung jawab khusus untuk melakukan suatu aktifitas dalam syarat-syarat yang tertentu. Kita mengetahui bahwa seekor kambing tidak akan terlahir dari seekor rubah dan biji kurma tidak akan pernah berbuah anggur, karena setiap wujud memiliki batasan, sifat, dan karakteristik khas yang membuatnya hanya bergerak dan beraktifitas pada batasan tertentu tersebut. Hal ini sedemikian sehingga ketika seorang ahli pertanian hendak memulai menanam bibit dan biji tertentu di lahan pertanian, pada awal tahapan itu juga dia telah mampu menggambarkan pekerjaan-pekerjaan yang akan dia hadapi pada sekian tahun yang akan datang, dia telah bisa menggambarkan keuntungannya, bentuk, dan kondisi buah serta panennya. Petani ini mengetahui tahapan pembibitan, penanaman, dan panennya, dan pengetahuannya ini tidak lain karena adanya pengenalan hakiki terhadap kesempurnaan wujud biji itu, hal ini terbukti dengan keberhasilan panen. Apabila pengetahuan ini tidak mendetail, maka tidak ada satu pekerjaanpun yang akan membawa ketenangan dalam kehidupan manusia dan tidak seorangpun akan rela melakukan suatu pekerjaan.

Jadi, kemudahan perputaran roda kehidupan masyarakat bergantung pada satu poin berikut bahwa seluruh pengaturan program-program kehidupan telah didesain berdasarkan fungsi dan peran penciptaan. Oleh karena itu, dengan mengenal manfaat setiap maujud berarti ia telah menetapkan asas usaha berdasarkan pengaturan di atas, yang hal ini akan mengantarakannya pada hasil yang sesuai. Sebagai misal, apabila seseorang menanam gandum akan tetapi yang keluar adalah padi, maka ketidakjelasan dan kebingungan yang muncul dari peristiwa ini sedemikian berat sehingga hal ini akan bisa mengakibatkan destruksi dan musnahnya generasi manusia pada masa yang akan datang.

3. Pemusnahan Salah Satu Ciptaan Menyebabkan Kekacauan

            Penghapusan salah satu asas penciptaan atau  pemusnahan salah satu wujud ciptaan niscaya akan menyebabkan kekacauan dan kehancuran mekanisme penciptaan. Mekanisme eksistensi merupakan satu realitas yang tunggal, dimana seluruh partikel-partikel dan anggota-anggota dalam mekanisme tersebut, beroperasi dan berjalan secara serasi, teratur, dan saling memberikan efek dan pengaruh, dan yang menakjubkan adalah bahwa seluruh realitas alam mengarah pada satu tujuan universal dan  senantiasa mengalami kesatuan dan keterikatan alami.

            Mengenai masalah ini, dalam filsafat Hikmah Muta’aliyah, Mulla Sadra menjelaskan bahwa alam eksistensi merupakan hakikat tunggal yang kemajemukan dan keberagamannya kembali kepada kemanunggalannya.[1] Alamah Thabathabai pada beberapa tempat dalam kitabnya al-Mizan menekankan tentang kesatuan alam eksistensi, keragaman aktifitas maujud, dan kesatuan tujuan dari majemuk eksistensi. Dari sini disimpulkan bahwa menghilangkan salah satu dari anggota eksistensi akan merusak sistem operasional global yang berlangsung pada seluruh eksistensi dan akan memicu ketidakseimbangan dalam seluruh dimensi mekanisme penciptaan. Tentunya menghapuskan salah satu realitas, fungsi, dan manfaat sesuatu dari alam eksistensi adalah berbeda dengan perubahan salah satu substansi menjadi substansi yang lain, dengan kata lain, kemungkinan terbakar dan musnahnya sebuah pohon adalah sangat mungkin terjadi, akan tetapi pohon yang telah terbakar itu tidak berarti bahwa ia telah menjadi tiada dan musnah dari alam wujud, melainkan ia hanya mengalami perubahan dari satu wujud ke wujud yang ain, dan persoalan ini secara normal terjadi pada seluruh maujud dan eksistensi alam. Yang mustahil terjadi adalah musnahnya satu satu eksistensi yakni keberadaannya terhapus dan hilang sama sekali dari mata rantai eksistensi, dan tidak mengalami perubahan ke dalam bentuk yang lain.

            Beberapa waktu yang lalu pada salah satu negara barat, pihak pemerintah mengubah sebuah hutan menjadi sebuah jalan yang hal ini menjadi bahan aksi dan protes sekelompok ilmuwan, mereka mengatakan bahwa pemanfaatan yang tidak logis ini akan menyebabkan perubahan pada mekanisme ekosistim alam dan akan menciptakan lingkungan kehidupan yang tidak seimbang bagi generasi manusia mendatang. Demikian juga terdapat beberapa kelompok ilmuwan yang mengutarakan keberatannya ketika sekelompok lainnya hendak menciptakan obat-obatan untuk memusnahkan dan menghilangkan generasi nyamuk dan lalat dari alam eksistensi, para penentang mengatakan bahwa nyamuk dan lalat merupakan salah satu realitas penciptaan alam dan kita tidak boleh semudah itu untuk menghapuskannya.

Setelah melakukan beberapa kali pengkajian ulang, akhirnya mereka sampai pada kesimpulan penting berikut bahwa apabila hal ini dilaksanakan maka manusia akan kehilangan anggota inti mekanisme penyerbukan, karena fertilisasi dan penyerbukan pada sekelompok besar tumbuhan dilakukan oleh makhluk-makhluk kecil ini. Jadi, setiap eksistensi wujud yang berada di alam ini, masing-masing bergerak sesuai dengan arah, tujuan, fungsi, karakter, sifat, manfaat, dan kewajiban mereka, dan aktifitas mereka di alam natural ini begitu jelas dan bertujuan, yang hal ini telah tertetapkan sebelumnya. Jadi, sebenarnya mereka semua bergerak ke tujuan satu dengan langkah-langkah yang berbeda, jelas, dan rasional.

4. Kemustahilan Pengulangan Penciptaan Maujud Tertentu

Pernyataan ini mempunyai makna bahwa di alam mekanisme penciptaan eksistensi ini tidak diciptakan dua wujud yang memiliki sifat dan karakter yang mutlak sama. Dua helai daun dari sebuah pohon tidak akan pernah sama secara sempurna. Dua butir kacang, dua tangkai anggur, dua biji delima dalam sebuah delima, mustahil memiliki kesamaan secara mutlak, dan minimal mereka memiliki perbedaan pada ruang dan waktu. Pada poin ini, al-Quran mengisyarahkan dengan firman-Nya, “Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan”[2]. Yakni setiap “detik” Tuhan memencarkan rahmat-Nya dan mencipta suatu realitas yang khusus.  

Sebuah ‘akibat’ senantiasa mengikuti ‘sebabnya’, dengan ini setiap maujud merupakan hasil dan ‘akibat’ dari ‘sebabnya’ sendiri dan senantiasa mengikuti rangkaian kausalitas wujud, dan pada dasarnya ‘akibat’ yang khas merupakan intisari dari ‘sebab’ khas, dimana bentuk dan karakteristik wujud ‘akibat’ pun memiliki kekhususan sesuai dengan yang diciptakan oleh sebab yang khas pula, karena itu ‘akibat’ juga mempunyai fungsi, manfaat, dan kecenderungan tertentu. Jadi, jelaslah bahwa kondisi, waktu, dan tingkatan wujud setiap ‘sebab-sebab’ memiliki perbedaan satu sama lain, dengan demikian konsekuensinya adalah juga terjadi perbedaan alami pada masing-masing ‘akibat’ yang diwujudkan oleh ‘sebab-sebab’ tersebut. Sebagai contoh, setiap orang tua akan melahirkan anak, dan anak-anak yang kelak merupakan orang tua masa datang ini akan melahirkan anak-anak pula yang memiliki keistimewaan dan karakteristik tertentu yang berbeda dengan anak-anak lain. Atau setiap biji dan batang akan mengeluarkan buah sesuai dengan kondisi tanah dan iklim, dan setiap hasil dan buah akan mempunyai karakteristik dan keistimewaan tersendiri sesuai dengan tanah dan iklim dimana dia tumbuh.

            Dari pendahuluan di atas, bisa dipahami dengan baik bahwa tingkat kesempurnaan setiap eksistensi terletak pada tujuan khas yang telah tertetapkan dalam perjalanan wujudnya secara alami. Dari sini, kesempurnaan setiap eksistensi bergantung pada tujuan dan maksud yang telah ditetapkan padanya dalam mekanisme alam penciptaan, dan mengimplementasikan tujuan pada batas yang sesuai tersebut merupakan suatu kesempurnaan bagi setiap realitas wujud dalam kesatuan majemuk eksistensi. Rasa dan bau obat-obatan penyembuh yang terdapat di dalam buah-buahan dan makanan bukan hanya tidak sesuai dengan selera manusia bahkan bisa menimbulkan ketidaksenangan dan phobia pada manusia.

Dengan demikian, pengaruh dari tujuan yang telah diatur pada beragam eksistensi alam sedemikian kuatnya sehingga masing-masing memiliki tanggung jawab dalam aktifitasnya sendiri tanpa menunggu pengaruh dari eksistensi lain. Bahkan apabila orang menyangka bahwa rasa obat-obatan yang pahit sebagaimana pengaruh dan efek rasa madu yang manis dan lezat, demikian juga menganggap rusa sebagaimana karakter singa, kambing dan rubah, berarti dia tidak memiliki informasi dan pengetahuan tentang mekanisme Ilahi yang sangat mendetail ini dan juga tidak memiliki ilmu terhadap aturan dan hukum dalam tingkatan eksistensi. Kebodohan semacam inilah yang telah menyebabkan persoalan ‘kesempurnaan’ menjadi sangat sulit dijelaskan bagi sebagian kelompok, sehingga mereka mengingkari kesempurnaan universal dalam mekanisme penciptaan atau menolak kesempurnaan masing-masing maujud atau mereka menggambarkan makna kesempurnaan secara universal kemudian membandingkannya dengan eksistensi-eksistensi partikular sehingga mendefenisikan kesempurnaan setiap maujud sebagai sesuatu yang relatif.

Relatifitas  Kesempurnaan

            Karena berpijak pada pandangan bahwa kesempurnaan itu bersifat mutlak dan umum, akhirnya mereka beranggapan bahwa apakah rasa asam bisa dikatakan sebagai sebuah kesempurnaan? Jawabannya adalah negatif, karena meskipun keasaman tersebut merupakan kesempurnaan pada jeruk nipis, akan tetapi pada banyak buah-buahan, asam dan kecut kadangkala merupakan cacat dan tidak sempurna. Demikian juga keganasan singa, meskipun bagi singa merupakan sebuah kesempurnaan, akan tetapi karakter keganasan bukan merupakan sifat kesempurnaan bagi kambing dan rusa. Kegemukan pada kambing merupakan kesempurnaan baginya akan tetapi pada kuda merupakan suatu ketidaksempurnaan. Jadi kesimpulannya, kesempurnaan secara mutlak merupakan suatu gambaran pikiran yang memiliki individu-individu di alam nyata, atau bisa dikatakan bahwa kesempurnaan itu sendiri (bukan gambaran dalam pikiran) berada di alam nyata dan bersifat nisbi.

Sebuah Kritikan dan Solusinya

            Kritikan dan sanggahan ini muncul karena adanya anggapan bahwa kesempurnaan merupakan makna yang mutlak atau umum, sehingga mereka kemudian mencari makna mutlak tersebut di alam eksternal, akan tetapi tidak menemukannya. Dari sinilah kemudian mereka beranggapan tentang kesempurnaan bersifat relatif atau bersifat ideal. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa pada mekanisme alam eksistensi ini, kesempurnaan setiap maujud atau eksistensi mempunyai karakteristik dan batasan tertentu yang telah ditetapkan oleh perangkat penciptaan – sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya – dan akal sama sekali tidak akan menggambarkan lahirnya kesempurnaan khusus sebuah eksistensi dari eksistensi yang lain. Bahkan pada sistem alam eksistensi, keistimewaan dan karakteristik saling berbeda dan bisa jadi keistimewaan dan kesempurnaan yang sangat sesuai untuk sebuah eksistensi tertentu, merupakan ketidaksempurnaan dan aib bagi eksistensi yang lain. Jadi, pada mekanisme yang dinamakan sebagai mekanisme paling sempurna oleh al-Quran ini, sebagaimana fenomena-fenomena di alam eksistensi memiliki keragaman, maka kesempurnaan setiap sesuatu adalah berbeda dengan kesempurnaan-kesempurnaan maujud lainnya, dengan ungkapan lain, akar kesempurnaan dalam maujud-maujud di alam ini adalah berbeda dan beragam, bukan nisbi dan bertambah.

Definisi Kesempurnaan

            Jadi, dalam bentuk sebuah kaidah bisa dikatakan sebagai berikut bahwa kesempurnaan setiap eksistensi dan maujud adalah mengaktualnya potensi-potensi khusus yang diletakkan oleh mekanisme alam penciptaan atasnya dan tidak adanya penyimpangan dan halangan pada perjalanan dan gerak menuju kesempurnaan dan pengaktualan potensi-potensi yang telah ditentukan untuk mereka.

2. Dimensi Kesempurnaan Manusia

Pendahuluan

            Sebagaimana yang telah kami katakan, kesempurnaan setiap eksistensi harus ditemukan dalam mekanisme penciptaan wujud tersebut di alam. Untuk melakukan hal ini, pada langkah pertama harus dilakukan pengenalan terhadap eksistensi tersebut untuk menemukan kedudukannya dalam alam penciptaan, setelah itu dibutuhkan spesialisasi yang untuk mengetahui, memperkirakan, dan terakhir memberikan kesimpulan yang layak. Tentunya persoalan ini tidak bisa dilakukan dengan merujuk pada pendapat masyarakat umum, dengan misalnya bertanya siapakah manusia yang sempurna dan berhasil, atau merujuk pada adat istiadat dan peradaban yang ada pada setiap zaman dan menerima apa yang diterima oleh setiap zaman secara taklid buta.

 

Mengenal Kesempurnaan Manusia

            Dengan memperhatikan pemikiran di atas, maka hal-hal yang diperlukan untuk mengenal kesempurnaan manusia, adalah:

1.          Mengenal dimensi kesempurnaan manusia;

2.          Menetapkan dimensi terbaik di antara seluruh dimensi wujud yang dimilik manusia;

3.          Mencari kesempurnaan yang layak dari poin terbaik;

4.          Menemukan metodologi pendidikan dan pembinaan untuk mengarahkan manusia menuju titik kesempurnaan tertinggi;

5.          Cerdas dalam melangkah, mengenal, dan memilih jalan dan tarikat di antara jalan-jalan yang telah dikenali;

6.          Menemukan derajat dan kedudukan yang harus diperoleh pada perjalanan menyempurna ini,

7.          Memperoleh akhir kedudukan yang ditempuh oleh seorang pesuluk dan sampai pada titik akhir kesempurnaan.

Pencapaian Tujuan Tertinggi Manusia

Syarat pertama untuk melakukan perjalanan ke arah tujuan tertinggi manusia adalah melaksanakan ketujuh poin di atas, dimana ketiadaan perhatian pada salah satu atau meninggalkan seluruhnya akan menyebabkan kebingungan dan kesesatan bahkan pada perjalanan yang pertama.

Poin pertama, sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, manusia merupakan sebuah majemuk dari seluruh tingkatan eksistensi dan merupakan contoh atau miniatur dari seluruh keberadaaan. Manusia yang paling sempurna akan memiliki seluruh kesempurnaan yang dimiliki oleh Sang Penciptanya.

Poin kedua, telah dikatakan bahwa dimensi terbaik dan terunggul yang dimiliki oleh manusia adalah dimensi non-materinya (akalnya) yang menyebabkan seluruh malaikat bersujud padanya.

Poin ketiga, kesempurnaan yang layak untuk kedudukan manusia ini adalah dia merupakan dan menjadi maujud yang terbaik dan paling sempurna di antara seluruh eksistensi, tidak menganggap dirinya kecil, rendah, dan tidak menjual dirinya untuk tingkatan yang lebih rendah seperti materi, melainkan memanfaatkan dan meletakkan seluruhnya sebagai alat dan wasilah dalam perjalanan menuju tingkatan tertinggi dan untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dan paling sempurna.

Poin keempat, melewati dan meniti jalan yang diperintahkan oleh Tuhan yang telah ditetapkan oleh-Nya dengan diturunkannya agama Islam lewat Nabi dan Rasul-Nya. Dimana hal ini harus ia lakukan dengan menghiasi aspek lahir dan dimensi batin dengan mengamalkan perintah-perintah dan aturan-aturan Tuhan (baca: syariat) serta tidak melakukan perlawanan terhadap aturan-aturan Ilahi tersebut sekecil apapun, dan pada langkah pertama dia harus menegaskan dirinya untuk melaksanakan lima hukum (wajib, mushtahab, mubah, haram, dan makruh) dan berusaha untuk menyebarkan dan mendakwakannya.

            Poin kelima, meletakkan setiap jejak dan langkahnya dalam mengikuti orang-orang yang shaleh dan berilmu, berjalan sendiri sangat besar kemungkinan untuk tersesat karena dia tidak mampu mengenali jalan yang hak dan benar, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Musa bin Ja’far as dalam salah satu haditsnya, “Binasalah orang yang tidak memiliki pembimbing yang membimbingnya” dan sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin Ali as, sebelum manusia mencapai tingkatan alim rabbani (orang yang mengenal Tuhan) dan mengetahui derajatnya, terlebih dahulu dia harus belajar untuk mendapatkan jalan keselamatan.

            Poin keenam, mengetahui setiap tahap dari masing-masing derajat dan kedudukan spiritual, supaya dia tidak menghentikan langkahnya pada posisi yang telah didapatkannya, karena setiap kedudukan memiliki pengaruh yang sebegitu agung dan menakjubkan kadangkala hal ini memunculkan sangkaan pada seseorang bahwa dia telah sampai pada titik tertinggi dari kesempurnaan, sementara dia tidak mengetahui bahwa saat ini dia baru saja memulai perjalanannya yang begitu panjang. Salah satu persoalan yang paling urgen dalam melakukan perjalanan ke arah tujuan yang benar dan hakiki adalah terletak pada kesalahan dalam menentukan kedudukan dan derajat spiritual ini, yang tentu saja akan menyebabkan stagnasi dalam perjalanan ke tahapan selanjutnya. Pada tahapan ini, diharuskan ada seorang guru untuk membimbingnya ke derajat dan kedudukan tertinggi. Melakukan perjalanan spiritual seorang sendiri dengan tanpa guru sebagai pembimbing spiritual, kadangkala akan mengakibatkan perjalanan justru mengarah ke ambang kesesatan, kehilangan akal sehat, dan munculnya kebingungan. Apabila untuk melakukan perjalanan di alam ini saja kita harus mengetahui dan mengenal lintasannya, bagaimana mungkin kita akan bisa berjalan di alam transenden dan spiritual tanpa terlebih dahulu mengetahui dan mengenal lintasan perjalanannya dan tanpa adanya guru pembimbing?

            Poin ketujuh, akhir dari derajat dan kedudukan manusia adalah perjalanan menuju ke Realitas Tak Terbatas, hal ini yang akan kami jelaskan secara panjang lebar pada bab mendatang.

Hakikat Insan dan Kesempurnaan Hakikinya

            Faktor paling besar penyebab kesalahan dalam perjalanan manusia saat ini adalah ketidakjelasan dan ketiadaan perhatian terhadap hakikat manusia. Persoalan ini telah menyebabkan manusia meninggalkan fitrah yang benar dan terjerumus ke lembah kesesatan. Dalam keadaan seperti ini, kesalahan, kesesatan, dan keburukan telah termanifestasi dalam bentuk tujuan yang tinggi sedangkan tujuan asli dan hakiki mereka lupakan. Dalam keadaan ini, hawa nafsu dan khayalan kosong dari sekelompok pengikut kesesatan akan menempati arah dan tujuan yang sebenarnya. Jadi, para ulama yang akan duduk sebagai pemimpin kafilah manusia dan memperkenalkan dirinya sebagai pemimpin masyarakat adalah penting bagi mereka untuk terlebih dahulu berpikir tentang hakikat manusia dan berusaha menentukan identitas hakiki manusia untuk mengetahui poin-poin kesempurnaan yang layak untuk mereka.

Manusia yang sifat dasarnya adalah dari malaikat dan ruh Ilahi, “Dan telah Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku”[3], untuk apa mengarahkan dirinya pada suatu realitas yang bukan tujuan suci penciptaannya? Manusia yang Tuhan menyebut kedudukannya dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya”[4], tidak seharusnya menjadikan tempat tinggal abadinya di asfalus-safilin (paling rendahnya kedudukan), melainkan tempat terendah tersebut (baca: alam materi) harus dianggap sebagai batu loncatan menuju ke langit suci makrifat dan derajat tertinggi. Burung-burung angkasa yang sayapnya lebar yang tidak bisa tertampung dalam sebuah sangkar dan sarang manapun, sama sekali tidak layak terpenjara dalam sebuah sangkar yang sempit. Dia harus terbang bebas mengarungi angkasa, lautan, dan hutan-hutan.

Manusia yang kalbunya tidak dapat dipenuhi dan dipuaskan oleh realitas apapun, sehingga apabila planet bumi ini diserahkan kepadanya, ia tetap akan memikirkan untuk menguasai planet-planet lainnya, dan apabila telah menguasai seluruh alam, masih tetap memiliki keinginan untuk menguasai apa yang berada di luar alam, apakah dia akan merasa beruntung dan bahagia dengan hanya mengenyangkan perut dan syahwatnya? Tidak, sama sekali tidak demikian, apabila dia memiliki kapasitas wujud yang tidak terbatas, maka dia hanya layak untuk sesuatu yang juga tidak terbatas, dan kesempurnaan hakikat yang tak terbatas ini menuntut kehadiran realitas kesempurnaan yang tidak terbatas pula.

Ibarat di atas adalah kandungan dari ayat, “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”[5], yang dengan beberapa penegasan mengatakan bahwa satu-satunya yang mampu menenangkan hati dan memberi ketentraman serta kepuasaan pada kalbu dan jiwa manusia tidak lain adalah Sang Penciptanya sendiri. Dalam sebuah hadits mulia dikatakan, jiwa mukmin adalah ‘rumah’ Tuhan, maka janganlah kalian menerima selain Tuhan di dalam rumah ini. Kesempurnaan yang layak untuk manusia adalah tidak melepaskan diri dari mengingat Tuhannya dan mencintai-Nya dengan setulus hati.

Para Nabi dan Rasul sebagai Pembimbing Kesempurnaan

            Karena Tuhan mengajak manusia ke arah kesempurnaan-Nya dan menjaminnya keamanan, ketenangan, dan kehancuran dunia serta juga memberikan kemudahan untuk menggapai realitas alam malakuti, maka Dia menciptakan teladan-teladan suci berupa Nabi, Rasul, dan Ahlulbait dan mengajak seluruh manusia untuk berjalan bersama mereka dan meniti jalan yang mereka lalui, teladan-teladan suci tersebut diletakkan sebagai contoh dari kalangan manusia yang telah mampu mencapai derajat dan kedudukan manusia yang paling tinggi.  Dalam keadaan ini, karena kita belum menjadi manusia sempurna adalah logis apabila segala gerak dan langkah kita sebagaimana gerak dan langkah para manusia sempurna tersebut, dan kita bergerak dan berjalan di bawah hidayah dan bimbingan mereka. Hal ini persis seperti keadaan orang buta yang melakukan perjalanannya dengan meletakkan tangannya pada genggaman orang yang tidak buta. Sudah pasti orang buta tersebut akan melangkah sebagaimana orang yang tidak buta, dia akan aman dari bahaya kebutaan, karena meskipun dia buta, akan tetapi gerak dan langkahnya bukan gerak dan langkah orang buta. Dalam lingkup tujuan yang sangat agung dan berharga inilah kemudian tercipta maktab suci Ilahi untuk memberikan bimbingan dan mengarahkan keinginan mulia manusia, dan mengingatkan bahwa apabila keinginan hakiki manusia tidak diiringi dengan hidayah khusus dengan perantara para teladan suci dan manusia sempurna, maka kesempurnaan tertinggi dan tujuan suci penciptaan manusia tidak akan pernah tergapai dan terwujud.

Dosa, Penghalang Perjalanan Menyempurna

            Almarhum Allamah Thabathabai ra sepakat bahwa melakukan maksiat dan dosa sekecil apapun, akan mampu menjadi penghalang bagi perjalanan memasuki medan makrifat Ilahi, dan mengetahui kewajiban berkenaan dengan perintah-perintah suci Ilahi adalah syarat awal menuju kesempurnaan dan langkah awal seorang pesuluk. Tentu saja puncak kesempurnaan ini tidak dapat dengan mudah diperoleh karena menuntut penjagaan ketat dan kehati-hatian sempurna. Almarhum Allamah dalam risalahnya al-Wilayah menukilkan bahwa gurunya, almarhum Ayatullah Sayyid Ali Qadhi Thabathabai, mengatakan bahwa para pertapa India yang hanya memakan sebutir kacang dalam setiap minggunya, tidak tidur pada hari-hari tertentu, berdiri di atas satu kaki dengan merentangkan kedua tangan dalam sehari semalam, atau hal ajaib lainnya, pada dasarnya mereka telah lari dari amanah dan tanggung jawab yang besar dan beralih pada hal-hal yang mudah. Tanggung jawab yang besar dan perbuatan yang mulia adalah dalam waktu selama 70 tahun sama sekali tidak berbohong, ghibah, riya, memandang perempuan non-mahram, dan lain-lain. Sebagian dari murid almarhum Ayatullah Ogho Rahim Arbab menukilkan bahwa beliau berkata, sejak umur lima belas tahun hingga sekarang, aku tidak pernah satu kali pun memandang perempuan non mahram.

            Jadi, kemestian pengamalan seluruh kewajiban dan perintah Ilahi merupakan syarat pertama untuk memasuki wilayah suci Ilahi dan secara bertahap dia akan mengalami perluasan kapasitas wujudnya. Amirul Mukminin Ali as dalam kitab Nahjul Balaghah mengatakan, kalbu dan jiwa manusia merupakan wadah-wadah dan terbaiknya wadah adalah yang memiliki kapasitas yang terbanyak.

            Program-program yang telah difirmankan oleh Tuhan untuk manusia dan tertuang di dalam agama suci Islam mengatakan bahwa badan materi merupakan sebuah eksistensi yang tidak abadi dan fana, maka jadikanlah badan-badan tersebut menjadi realitas ruhani dan Ilahi (yakni jiwa melesak ke alam tinggi malakuti), karena tidak mengikuti aturan-aturan Ilahi hanya akan menjadikan ruh menjadi realitas materi (yakni jiwa akan turun ke alam terendah materi). Kebodohan dan kejahilan yang tidak memberikan manfaat sedikitpun, lantas berperan dan berusaha dalam membumi hanguskan program-program Ilahi dan meletakkan segala sesuatu untuk berkhidmat kepada alam materi dan dunia, dan kejahilan ini dengan seluruh usahanya berupaya untuk menyimpangkan agama Islam supaya manusia-manusia malang terjebak dan terkubur dalam sifat dan prilaku hewan. Mereka menganggap bahwa tolok ukur kebahagiaan dan kesempurnaan manusia terletak pada motivasi-motivasi dalam memenuhi tuntutan syahwat dan perut, dan mereka tidak mengetahui sesuatu lebih dari hal itu.

Penyakit tanpa Rasa Sakit

            Penyakit-penyakit tubuh terbagi menjadi dua kelompok, sebagian penyakit tubuh diikuti dengan rasa sakit yang tidak menyenangkan seperti penyakit pada sistem pencernaan atau infeksi-infeksi pada sistem-sistem organ yang diikuti dengan rasa sakit yang luar biasa pada anggota badan. Akan tetapi terdapat jenis penyakit lain yang mampu mengalami perkembangan sangat pesat di dalam tubuh manusia akan tetapi sama sekali tidak diikuti dengan rasa sakit, dan penderita penyakit semacam ini biasanya tidak mengetahui adanya kerusakan di dalam tubuhnya, seperti kejang yang terjadi pada pembuluh kapiler atau pengentalan darah yang timbulkan oleh sedimen bahan-bahan seperti lemak yang akan menekan jantung, hal ini secara bertahap dan tanpa diketahui oleh manusia akan mampu menghentikan detak jantung secara tiba-tiba dan hal ini berarti berakhirnya sebuah kehidupan.

            Penyakit-penyakit ruh yang muncul karena tidak adanya kesempurnaan spiritual pun memiliki keadaan seperti tersebut di atas. Manusia tidak pernah merasakan adanya aib dan kekurangan di dalam dirinya karena dia telah terkekang dalam mekanisme materi. Dan karena manusia tidak mengetahui bahwa kecintaan atas materi tidak terhitung sebagai kesempurnaan dirinya, tidak bisa memuaskan fitrahnya, dan tidak bisa menjadi solusi bagi tuntutan potensi-potensinya, oleh karena itu dia sama sekali tak merasakan ketersiksaan sedikitpun. Dia hanya berpikir pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tabiat dan badannya dan dia tidak mengenal kebutuhan ruhani yang lebih tinggi dari itu. Orang-orang semacam ini tidak akan mendapatkan kesempurnaan hakiki, bersamaan dengan itu ia tak pula merasakan sakit dan kekurangan. Penyebab dari masalah ini adalah hati mereka sibuk, larut dan tenggelaman dalam lautan dunia materi. Al-Quran menamakan orang-orang semacam ini dengan orang-orang yang buta dan tuli dan saking tuli dan butanya sehingga dia tidak mengetahui penyakit yang diderita di dalam dirinya sendiri.

            Akan tetapi ketika mereka melihat jarak yang begitu jauh dan penuh bahaya disertai dengan segala ketegangan dan ketakutan yang terjadi di alam akhirat, memahami bahwa dia tidak memiliki kendaraan dan alat untuk bergerak dan melihat betapa banyak nikmat-nikmat tak terbatas yang tercecer akan tetapi dia tidak mampu mengumpulkan dan memanfaatkannya, dan dia tidak mempersiapkan tempat tinggal dan kediaman abadi untuk dirinya, keadaan ini persis seperti seorang anak yang lahir dari ibu dan tidak memiliki mata, telinga, tangan, kaki, hidung, dan mata untuk melihat, mendengar, berjalan, bernapas, dan makan. Sebenarnya harus diketahui bahwa seluruh perintah dan aturan-aturan suci Tuhan hanyalah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spiritual manusia di alam akhirat dan mempersiapkan kediaman abadinya.

3. Tahapan Akhir Kesempurnaan

Lintasan Gerak

            Gerak manusia adalah ke arah realitas tak terbatas. Allamah Thabathabai ra dalam risalahnya al-Wilayah mengutarakan isyarah-isyarah yang diungkapkan oleh al-Quran dan hadits tentang tingkatan dan derajat akhir manusia ini.  Pada risalah itu disinggung tentang lima tingkatan dan menentukan garis lintasan manusia:

Pertama: Hukum-hukum agama dan syariat suci Islam memiliki dimensi lahir dan batin;

Kedua: Mekanisme batin alam tidak berdasar pada mekanisme alam natural ini karena dia memiliki mekanisme tersendiri yang khusus dan tertentu;

Ketiga: Tidak ada sedikitpun keraguan bahwa para Nabi memiliki hubungan dan keterkaitan dengan batin alam ini;

Keempat: Pintu ke arah batin alam tersebut terbuka pula untuk umat manusia dan terdapat kemungkinan untuk melakukan hubungan dengan tingkatan dan derajat alam tersebut;

Kelima: Apa yang dicapai manusia dalam perjalanan suci ini adalah menggapai puncak kesempurnaan wujud.

            Allamah Thabathabai ra pada masing-masing poin tersebut menyertakan juga sanad-sanad yang sesuai dari al-Quran dan hadits, bisa dikatakan bahwa risalah ini merupakan hasil karya yang sangat berharga pada kurun ini.

            Almarhum Allamah pada poin keempat dari risalah tersebut mengatakan, “Sesungguhnya jalan paling dekat dan paling bermanfaat untuk bergerak ke arah kesempurnaan mutlak adalah perjalanan jiwa (seir anfusi)”[6], dengan makna bahwa pada lintasan ini, manusia sama sekali tidak akan bergelut dengan defenisi-defenisi dan pemikiran. Yang akan dihadapi hanyalah hakikat-hakikat wujud yang bisa ditemukan dalam jiwa manusia dimana hal ini akan menambah keluasan wujudnya. Pada topik ini, Allamah menyandarkannya pada salah satu ayat yang berbunyi, “… Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk …”.[7]

            Sedangkan pada poin kelima, beliau mengatakan,[8] “Manusia akan sampai pada suatu realitas dimana Tuhan akan menyingkap tabir dari mata-mata mereka dan meletakkan mereka pada golongan muqarribin (orang-orang yang didekatkan pada-Nya), Tuhan berfirman, “Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)”[9], dimana pada posisi ini mereka akan ‘menyaksikan’ alam-alam keberadaan yang tertinggi dimana merupakan sebuah lembaran dimana keberadaan dan segala sesuatu yang terjadi di alam itu telah tertulis dan terjaga dengan rapi. Juga manusia akan mengalami penyempurnaan hingga sampai pada sebuah derajat yang jauh dari jangkauan dan pengaruh setan, karena setan berkata, “Demi kekuasaan-Mu aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas (orang yang disucikan dan diikhlaskan) di antara mereka”[10].

            Demikian juga akan sampai pada suatu tempat dimana mereka akan memperoleh balasan atas segala amal dan perbuatan sebagaimana manusia-manusia lainnya, dalam salah satu ayat-Nya berfirman, “Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan”[11], akan tetapi pada kelanjutan ayat tersebut Tuhan berfirman, “Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).”[12]

            Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya, mengatakan, “Ya Allah! Mata manakah yang akan mampu bertahan ketika berhadapan dengan pancaran cahaya dan kodrat-Mu, dan akal manakah yang mampu menggapai kodrat dan cahaya-Mu, kecuali mata yang telah tersibak dari tabir dan hijab yang membutakan.”[13]

            Imam Ali as dalam munajat Sya’baniyah juga menganjurkan kepada kita untuk memanjatkan doa kepada Allah Swt sebagai berikut, “Ya Allah! Terangkanlah mata hati kami untuk memandang kemuliaan-Mu supaya terbuka hijab-hijab yang ada di antara kami sehingga kami akan sampai kepada keagungan-Mu dan ruh-ruh kami bergantung pada seluruh kemuliaan suci-Mu.”

            Pada bagian yang lain, dari munajat yang sama, beliau bersabda, “Ya Allah! Sampaikanlah kami kepada cahaya kemuliaan dan cahaya menakjubkan yang Engkau miliki, sehingga kami mampu mengenal-Mu dan memalingkan wajah dari selain-Mu.”

            Allamah Thabathabai ra pada akhir risalahnya menyatakan, “Apabila kita berpikir dan bertadabbur dengan baik pada ayat-ayat dan hadits-hadits, maka akan kita temukan bahwa ternyata kita masih belum mendapatkan informasi sempurna tentang wilayah suci Ilahi dan apa yang akan mereka gapai dari kesempurnaan-kesempurnaan Ilahi tersebut, tak satupun ibarat dan ungkapan yang bisa digunakan untuk menceritakan secara utuh maqam, derajat dan kedudukannya sama sekali.”[14]

            Manusia merupakan satu-satunya eksistensi yang memiliki potensi dan kapasitas yang mampu meletakkan seluruh alam ini di dalam jiwa dan kalbunya, dan – sebagaimana yang telah kami katakana – apabila Allah menyebut seluruh alam dengan sebutan mikrokosmos dan dalam al-Quran memperkenalkan dunia dengan sebutan “sedikit” akan tetapi pada ayat lainnya menyebutnya sebagai sebuah “komoditi”, dan mendefinisikannya sebagai sesuatu yang tidak berharga dan kecil, bukan disebabkan karena dunia ini memang tidak berharga dan kecil, melainkan karena kedudukan manusia yang besar, agung, dan sangat berharga, dan kapasitasnya yang sedemikian besar sehingga kalbunya merupakan arsy Ar-Rahman dan ‘rumah’ Tuhan, dimana pada salah satu hadits dikatakan, “Kalbu para mukmin merupakan tempat suci Tuhan” dan seluruh alam ini tidak berharga ketika berdampingan dengan realitas yang bisa menampung arsy Ilahi atau tempat suci Tuhan.”[15]

            Dari sinilah Amirul Mukminin Ali As mengatakan, “Perdagangan yang tidak beruntung adalah manusia yang menganggap dirinya memiliki nilai tertentu dan terbatas lalu dia menjual dirinya dengan nilai tersebut”[16]. Perdagangan seperti ini hanya akan menghasilkan penyesalan tak terbatas. Betapa indahnya, apabila manusia mengetahui citra, hakikat, dan nilai dirinya, dan melakukan amal dan perbuatan sedemikian sehingga dia mampu menyibakkan tabir yang menutupinya dan menggapai kesempurnaan dirinya dengan penuh kebahagiaan.

4. Pendidikan dan Pertumbuhan Akhlak dalam Islam

Makna Pertumbuhan dan Pendidikan

            Kata pendidikan mempunyai makna menghasilkan dan menambah. Sedangkan kata pertumbuhan memiliki makna menjadi sesuat yang lebih baik, berkembang, dan berproses menuju posisi yang lebih sempurna. Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan pembinaan – dalam proses pengajaran dan pendidikan – seorang manusia bukan berarti mengarahkan pertumbuhan badan dan menaikkan berat badannya, melainkan yang dimaksud adalah menyelamatkan manusia dari keterjebakan dalam dunia materi dan memberikan pemahaman akan arah dan tujuan yang lebih tinggi, lebih mulia, lebih agung, dan lebih sempurna dari sekedar memuaskan instink dan syahwat semacam makan, tidur, berpakaian dan kebutuhan jasmani lainnya.

Jelaslah bahwa di atas mekanisme jasmani manusia terdapat mekanisme lain yang berkedudukan lebih tinggi dan lebih suci, dimana struktur dan pondasi derajat tersebut berada pada salah satu tingkatan wujud yang terletak lebih tinggi dari alam materi.

            Manusia yang berkedudukan tinggi dan suci bukanlah mereka yang lebih baik dalam hal makan, minum, tidur, dan kelebihan dalam fasilitas-fasilitas materi lainnya, melainkan apabila mereka hanya mencukupkan pada persoalan-persoalan ini, berarti mereka malah telah terjerembab dari derajat insaniah menuju derajat hewaniah, dan kemerosotan manusia yang semacam ini tidak bisa dianggap sebagai sebuah pertumbuhan atau kesempurnaan.

            Hal ini sama artinya ketika kita menganggap alam eksistensi ini hanya sebatas alam materi – sebagaimana yang diungkapkan oleh kaum materialis – karena dengan anggapan seperti ini berarti proses menyempurna yang ada pada alam eksistensi sama sekali tidak bermakna. Meskipun mereka telah merasionalisasikan kemunculan makhluk-makhluk hidup bahkan manusia dan mengatakan apabila di dalam alam natural ditemukan makhluk hidup, maka sebenarnya unsur-unsur maujud di alam eksistensi akan terkomposisi dan terwujud dalam bentuk yang lebih rumit dan lebih mendetail. Dengan ungkapan lain, partikel atom alam ini tetap konstan dan permanen, akan tetapi kadangkala mereka saling berbaur dalam bentuk yang sederhana, dimana dalam keadaan ini akan muncul eksistensi yang sederhana pula seperti in-organik dan tumbuhan; terkadang pula, atom-atom ini berkomposisi dengan sangat rumit dimana akan menghasilkan spesis hewan. Jadi perbedaan antara katak dengan batu, bunga, dan tumbuhan hanya terletak pada komposisi partikel atom atau unsur-unsurnya dalam bentuk yang lebih rumit, dan apabila kemudian terwujud manusia, hal ini terjadi pula dengan cara yang sama yaitu karena pengaruh penggabungan unsur-unsur dan partikel-partikel atom alam ini sedemikian mendetail dan lebih rumit dari makhluk lainnya, dengan ini terbentuklah eksistensi yang menakjubkan berupa manusia, akan tetapi tetap saja berada dalam lingkup unsur-unsur pertama materi dan tidak keluar darinya, dan apabila seluruh maujud yang terdapat di alam ini dikembalikan semula dalam bentuk atom-atom, maka jumlah atom-atom tersebut niscaya akan tetap dan konstan, tidak terkurangi dan tidak pula bertambah.

            Dari penjelasan di atas, secara pasti bisa dikatakan bahwa perspektif ini tidak sesuai dengan proses kesempurnaan maujud-maujud, dan bahkan pernyataan mereka tentang kesempurnaan dalam bentuk di atas tidak diterima oleh aliran filsafat manapun, karena perubahan dari satu materi ke materi yang lain tidak bisa dikatakan sebagai sebuah proses kesempurnaan, melainkan hanya sebuah rangkaian penjumlahan dan pembagian dimana pada satu kondisi akan menggabung dan pada kondisi lain akan memisah. Dengan ibarat lain, sekedar perubahan kondisi tidak bisa dikatakan sebagai kenaikan derajat sebuah maujud. Suatu gerak akan bisa dikatakan sebagai gerak ke arah kesempurnaan ketika ada hasil pada setiap lintasan perjalanan yang dilaluinya, dimana hasil itu sebelumnya tidak dimiliki dan sekarang mengalami pertambahan.

            Ibnu Sina menganggap bahwa setiap gerak merupakan kesempurnaan awal, yaitu langkah pertama untuk mencapai segala yang dikehendaki ialah gerak, dimana manusia atau setiap maujud akan bergerak dan mengarah pada tujuan. Bila tujuan yang akan dicapai tidak ada, melainkan antara wujud awal dan wujud akhirnya adalah sama dan tidak ada satu hal baru yang dihasilkan, maka aksi-reaksi semacam ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah proses kesempurnaan.[bersambung]

  

 


[1] . Rujuk, al-Asfar, Mulla Sadra, jilid 6, hal. 266 dan 385.

[2] . Qs. Ar-Rahman: 29.

[3] Qs. Al-Hijr: 29.

[4] . Qs.At-Tiin: 4-5.

[5] . Qs. Ar-Ra’d: 28.

[6] Risalah al-Wilayah, Allamah Thabathabai, hal. 37.

[7] . Qs. Al-Maidah: 105.

[8] . Risalah al-Wilayah, hal. 65.

[9] . Qs. Al-Muthaffifin: 19-21.

[10] . Qs. Shaad: 82-83.

[11] . Qs. Ash-Shaaffat: 39.

[12] . Qs. Ash-Shaaffat: 40.

[13].  Biharul Anwar, jilid 25, bab 1, hal. 29

[14] . Risalah al-Wilayah, Sayyid Muhammad Husain Thabathabai, hal. 75.

[15] . Gurar wa Durar, Imam Ali as, hal. 112.

[16] . Ibid.

Pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com/Indonesia

Wujud Bernama Manusia (terakhir)

Wujud Bernama Manusia

(Bagian Terakhir)

Korelasi Perbuatan dan Struktur Jiwa

Ibnu Sina dalam penjelasannya tentang pengaruh perbuatan dalam jiwa dan ruh manusia, mengatakan, “Seluruh perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan serangkaian aksi dan kualitas yang bergabung dengan jiwa manusia, karena ruh dan jiwa manusia “berada” di sisi badan dan pengaruh gerakan dan perbuatan lahiriah badan terhadapa jiwa merupakan sebuah persoalan yang pasti. Sekarang, apabila aksi dan kualitas prilaku tersebut telah terserap di dalam jiwa manusia, maka jiwa setelah berpisah dengan badan, tetap memiliki karakteristik dan sifatnya semula persis seperti ketika dia masih berada bersama badan. Akan tetapi karakteristik dan sifat dari perbuatan-perbuatan buruk badan yang telah menjadi bagian dari ruh, akan muncul sebagaimana sebuah penyakit parah yang terjadi sebagai pengaruh dari kelalaian jiwa dalam mengatur badan, yang hal ini kemudian menyebabkannya terkena siksaan, terazab dengan api barzakh yang panasnya melebihi api jasmani.”[1]

Jadi, setiap perbuatan dan prilaku yang dilakukan oleh manusia akan memberikan pengaruh pada jiwa dan ruhnya, yang kemudian secara bertahap hal ini akan memberi bentuk dan karakteristik pada jiwa tersebut. Pada persoalan ini kami akan menukilkan sebuah misal yang telah terbukti secara ilmiah.

Untuk pertama kalinya seorang anak yang terlibat dalam kasus pencurian kecil-kecilan, dengan secara sembunyi-sembunyi dan sangat hati-hati dia telah mengambil sejumlah uang dari dompet seseorang. Apabila kita amati tingkah laku anak ini dengan seksama, maka kita akan menemukan wajah, tingkah dan gerakan-gerakan tidak wajar yang menghikayahkan gejolak yang terjadi di dalam jiwanya. Akan tetapi, apabila dia melakukan hal ini untuk kedua kalinya, gejolak jiwa yang semula tetap senantiasa ada, akan tetapi dengan kualitas yang lebih rendah, tidak separah pada kejadian pertama. Demikian seterusnya, apabila dia secara terus menerus mengulangi perbuatannya, secara bertahap perbuatan mencuri sudah merupakan hal yang biasa baginya, dia akan melakukannya tanpa sedikitpun memiliki rasa takut ataupun gelisah. Semakin banyak dia melakukan aksi pencurian, yang berarti akan semakin menambah keahliannya dalam bidang ini, dia akan mendapatkan hasil yang semakin banyak pula, lama-kelamaan perbuatannya akan mengarahkannya pada perampokan bank dan pembunuhan, sedemikian sehingga ketika tidak berhasil melakukan pembunuhan dia akan merasa gelisah dan gagal. Sekarang yang harus diperhatikan, “pencabut nyawa” ini yang tidak lain adalah si anak yang ketika mencuri beberapa ratus rupiah diliputi dengan ketakutan dan gejolak jiwa yang luar biasa, tetapi sekarang, dia telah berubah menjadi sosok yang mampu membunuh dan merenggut nyawa orang lain dengan perasaan yang sangat tenang.

Perubahan yang sangat ajaib ini, merupakan sebuah hasil dari perbuatan dosa, maksiat, dan pelanggaran-pelanggaran moral yang dia lakukan secara berulang-ulang.

Jadi, amal dan perbuatan manusia, secara bertahap dan alami akan memberikan bentuk kepribadian baginya. Sebenarnya, setiap manusia akan membentuk dirinya dengan amal dan perbuatannya. Dalam salab satu hadits, Imam Shadiq as bersabda, di dalam hati setiap mukmin terdapat sebuah titik putih yang secara bertahap karena pengaruh amal dan perbuatannya, akan berubah menjadi gelap dan menghitam. Ketika warna hitam telah melingkupi dirinya, maka manusia tersebut akan menjadi bagian dari ayat, “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang Amat berat”.[2]

Perbuatan dan prilaku harian memberikan refleksi-refleksi yang khas bagi jiwa manusia dan memakaikan “baju” pada jiwa yang tak lain adalah badan barzakh bagi manusia, yaitu dengan amal dan perbuatan, manusia akan membentuk badan barzakhnya. Manusia ketika terlahir ke dunia, sama sekali tidak memiliki peran dalam membentuk fakultas diri dan juga cantik atau buruknya, dan Sang Maha Pencipta telah mensketsa semua ini untuknya. Jadi, manusia terlahir ke dunia tanpa memiliki interfensi dan campur tangan serta pengawasan mengenai bentuk dirinya. Akan tetapi, ketika hendak meninggalkan dunia, dia memiliki bentuk dan wajah yang terbentuk karena campur tangannya dan bisa dikatakan bahwa bentuk tersebut merupakan hasil dari perbuatan dan prilaku manusia di dunia. Ghibah, mencela, berbohong, dan memandang non-mahram, akan meninggalkan warna hitam di dalam kalbu manusia dan menghilangkan cahaya dan sinar kalbu tersebut. Secara bertahap, dikarenakan pengaruh berkumpulnya perbuatan-perbuatan tersebut, akan muncul figure dan bentuk pada jiwa, dan akan menciptakan manusia dalam bentuk yang sesuai dengan akhlak dan tingkah laku yang telah dihasilkannya. Imam Khomeini ra beberapa kali mengutarakan masalah ini dalam kitabnya Cehel Hadist dimana beliau mengisyarahkan bahwa amal dan perbuatan manusia akan memberikan bentuk pada diri manusia, dan orang-orang yang memiliki mata barzakh mampu melihat begitu banyak wajah-wajah dan bentuk-bentuk barzakh manusia.

Dalam sebuah hadits dinukilkan, seorang sahabat Imam ketika berada di Mekkah berkata kepada Imam Sajjad as, “Betapa banyaknya para haji”, Imam as mengoreksi perkataan tersebut dan bersabda, “Betapa banyak orang yang melakukan ibadah haji tapi betapa sedikitnya haji”[3]. Pada poin inilah Allah swt berfirman, “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”[4]. Tentunya satu-satunya jalan untuk tidak terjebak oleh tipuan setan ini adalah kembali ke jalan yang benar dan menemukan jalan serta kebiasaan hidup dengan melakukan hubungan dan komunikasi tiada putus dengan Sang Maha Pencipta, dan inilah satu-satunya jalan yang mampu membersihkan hati yang telah berkarat dan gelap lalu menghiasinya dengan kesucian penghambaan kepada Sang Tuhan.

Kehidupan manusia, sebagaimana kualitas kematian manusia (hidup pasca mati) merupakan sebuah jalan yang sangat sensitif. Apabila manusia berbahagia dan beruntung dalam kehidupannya, maka dia juga akan bahagia dan beruntung pasca kematiannya. Sebagian manusia akan meninggal dalam keadaan insani, akan tetapi tak jarang yang meninggalkan dunia ini dengan keadaan layaknya seekor hewan. Dengan alasan inilah, Para Imam Ahlulbait memerintahkan memilih bentuk kematian yang baik dan bahagia.

Mula Sadra mengatakan bahwa, “Manusia adalah substansi-substansi yang berbeda dan mandiri”, yakni setiap amal dan prilaku yang dilakukan oleh manusia akan membentuk hakikat dirinya. Tak satupun manusia memiliki kualitas yang sama dalam setiap prilaku dan perbuatannya, oleh karena itu tidak satupun manusia memiliki hakikat wujud yang sama dan sederajat.

Jika akhir seluruh perbuatan manusia sedemikian sensitifnya dan senantiasa beriringan dengan bahaya besar seperti ini, berarti membutuhkan kehati-hatianyang sangat cermat, dan selayaknyalah kita tidak melepaskan diri kita lalu mengorbankan diri kita pada hal-hal yang kabur, kehidupan yang kosong, penuh khayalan, tipuan, penampakan lahiriah dan jahil terhadap hakikat eksistensi alam. Poin yang penting untuk mendapatkan perhatian adalah bahwa hendaklah manusia mengetahui hakikat dirinya. Di manakah tempat ia berada? Bagaimanakah melaksanakan kewajiban secara benar?

Kesempurnaan Tertinggi

Ibnu Sina mendefinisikan kesempurnaan manusia sebagai berikut, “Seorang arif yang berpengetahuan dan telah sampai pada tingkatan kesucian, ketika dia telah terlepas dari pengaruh materi yang dihasilkan karena berdampingan dengan badan dan telah berhasil menjauhkan diri dari keterikatannya, dia akan berjalan dengan ikhlas dan suci ke arah alam qudus dan akan bersuluk bersama dengan kecintaan abadi pada tingkatan tertinggi kesempurnaan, dan akan merasakan kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi dari seluruh kelezatan, sebagaimana yang telah kami singgung pada pembahasan sebelumnya. Jangan menyangka bahwa kelezatan-kelezatan semacam ini tidak akan mungkin dirasakan di alam materi dan kita akan tetap tidak mampu memilikinya hingga jiwa tetap berada di tubuh, ketahuilah bahwa mereka yang telah sampai pada alam suci non-materi, alam akal, dan telah menyaksikan alam jabarut telah menyaksikan jamaliyah Ilahi dan mengecap tingkatan tertinggi kelezatan tersebut, karena meskipun mereka masih terkait dengan badan dan jasmani akan tetapi hati mereka tidak disibukkan oleh usuran dunia dan tidak terpengaruh oleh, penyaksian-penyaksian jamaliyah alam qudus tersebut telah membuat mereka menolehkan muka dari segala sesuatu”.[5]

Imam Husein as pada hari Asyura, setelah mengucapkan kata perpisahan dengan para perempuan Ahlulbait dan anak-anak, langsung menuju ke medan perang seakan tidak pernah melihat peristiwa sebelumnya dan seakan telinganya tidak mendengar jeritan dan teriakan para perempuan dan anak-anak, hal ini karena beliau adalah seorang sosok yang mempunyai hubungan erat dengan alam malakuti dan telah tenggelam dalam kecintaan alam jabarut sehingga seakan telah lalai dari segala sesuatu selain Allah.

Almarhum Ayatullah Bahauddin menukilkan dengan berkata, ketika Imam Khomeni ra datang ke kota Qom beliau mendatangi rumahku. Di sana beliau berkata, Aku merasakan segala sesuatu berada di telapak tanganku dan aku berada digenggaman kodrat Ilahi. Lalu Ayatullah Bahauddin menambahkan bahwa kami juga melihat gerak dan diamnya sosok agung ini seluruhnya Ilahi dan apa yang beliau katakan adalah benar.

Ya, apabila cahaya dari malakut alam memancar kepada wali Allah, maka dalam sesaat api akan melahap keterikatan dunia dan membakar seluruh akar-akar pengaruh dunia serta akan mengubah selera manusia terhadap lahiriah-lahiriah dunia menjadi pahit dan akan mengarahkannya keharibaan Ilahi. Tentunya mereka juga memanfaatkan aspek-aspek duniawi akan tetapi bukan karena kebergantungannya padanya, melainkan karena dunia merupakan media gerak ke arah yang yang lebih tinggi dan seluruh dimensi-dimensi dunia ini harus kita manfaatkan untuk mencapai tujuan yang lebih suci dan tinggi.

Keburukan dalam Kehidupan Manusia

Pada masalah ini ada beberapa hal yang perlu dibahas, yaitu:

Pertama, apakah keburukan terdapat di alam?

Kedua, apabila keburukan terdapat di alam, bagaimana hal ini bisa terpancar dari Allah yang merupakan Sumber Kebaikan?

Ketiga, apabila terdapat keburukan di alam, lalu apakah perannya dalam mekanisme kehidupan manusia?

Pembahasan pertama, keburukan mutlak sama sekali tidak terdapat di alam, melainkan apa yang bisa dikenali dan disebutkan sebagai keburukan adalah peristiwa yang merupakan kemestian alami dari dunia materi ini, realitas di alam ini saling berbenturan dimana kadangkala keberadaan yang satu menuntut ketiadaan yang lainnya, meskipun keberadaan keduanya akan membawa ribuan pengaruh yang bermanfaat, dan mungkin bisa dikatakan bahwa dengan ketiadaan keduanya akan begitu banyak kerugian yang akan dirasakan oleh manusia.

Sebagai contoh, api meskipun kadangkala mampu melahap rumah dan fasilitas hidup lainnya, akan tetapi kita mengetahui bahwa kehidupan manusia tidak akan bisa bertahan tanpa adanya api, karena api merupakan kebutuhan prinsipil dalam kehidupan manusia. Jadi, kita tidak bisa mengatakan api sebagai sesuatu yang buruk secara mutlak, meskipun banyak kejadian-kejadian yang menghikayatkan bahwa api mampu melahap dan membakar bahkan kadangkala lebih dari satu kota dalam satu waktu sekaligus. Demikian pula halnya dengan air, tanah, angin, dan …, bisa jadi merupakan sumber peristiwa-peristiwa yang mengerikan, akan tetapi tidak satupun dari realitas alam ini yang buruk mutlak.

Penjelasan kedua, dengan melihat penjelasan pertama maka jawaban untuk persoalan kedua akan menjadi jelas. Tuhan mewujudkan api, tanah, air, dan sumber-sumber alam lainnya tidak lain sebagai rahmat dan kemuliaan-Nya, sedemikian hingga apabila unsur-unsur alam tersebut tidak tercipta, maka realitas yang bernama alam dunia tidak akan pernah terwujud secara eksternal.

Penjelasan ketiga, Allah swt telah menciptakan alam dunia ini sedemikian rupa dimana dasar penciptaannya terletak pada adanya saling benturan dan pertempuran. Dunia ini begitu sempit dan kecil, dan Allah menciptakan dunia ini sebagai kehidupan yang sulit bagi manusia untuk memberikan pemahaman kepadanya bahwa dunia ini bukanlah tempat kehidupan abadi, sebagaimana sabda Amirul Mukminin Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah, “Sesungguhnya Aku menciptakanmu untuk akhirat bukan untuk dunia”

Sesungguhnya manusialah yang harus belajar dari adanya konflik-konflik, dan memerangi seluruh kesulitan dan berdiri tegak dalam menghadapi benturan-benturan yang menghadangnya, harus senantiasa tinggal pada batas garis yang lurus dan membentuk dirinya dengan usaha untuk tetap bertahan. Tidak seharusnya dia menyerah pada gelombang badai yang menyerang dari dalam dan dari luar manusia, dan pertahanan laksana gunung agung dalam kepribadian manusialah yang seharusnya menampar gelombang tersebut untuk mengembalikannya pada kedudukannya semua dan dia semantiasa tegak dan berdiri di atas kakinya dan menambah kekuatan dan keagungannya.

Dia harus bersyukur dan memuji Allah swt yang telah memberikan taufik-Nya dengan segala kelebihan-kelebihannya dan mengetahui kedudukannya dan tidak menyerah pada gelombang yang hangar bingar yang menampakkan diri pada permukaan eksternal dalam mekanisme keberadaannya, melainkan dia mengetahui kedalaman samudra yang sangat tenang dan menyerahkan ketenangan hatinya kepadanya dan dia akan mengubah dirinya menjadi lebih agung dari samudera dan lebih kokoh dari gunung-gunung, bahkan tinggi dari langit-langit. Dan konflik-konflik inilah yang akan membuat dan membentuk manusia semakin kuat dan memiliki peran sebagai pembentuk yang abadi.

Konklusi Makrifat Jiwa

Dalam mekanisme penciptaan, setiap maujud senantiasa berhadapan dengan hidayah dan petunjuk yang beragam dimana kelanjutannya adalah gerak menuju ke arah tujuan dan maksud yang telah tertentu. Gerak dan petunjuk ini, begitu cermatnya sehingga setiap ilmuwan yang mempunyai spesialisasi dalam sebuah bidang khusus, dengan pandangannya yang cermat terhadap tema-tema spesialisasinya akan mampu menganalisa garis geraknya, dan dia akan mengamatinya dengan sangat teliti dari tahapan awal hingga tujuan terakhir, kemudian akan menyimpulkan dengan baik bahwa hidayah takwini Ilahi, melingkupi setiap detik dari langkah-langkahnya dan memenuhi seluruh partikel-partikel wujudnya.

Tiga masalah penting, gerak, hidayah, dan spesifikasi telah ditentukan untuk seluruh maujud dan makhluk-makhluk dunia penciptaan. Almarhum Alamah Thabathabai[6] sepakat bahwa setiap gerak dari yang kecil hingga yang sangat besar dari mekanisme eksistensi, apabila diperhadapkan dengan titik tujuannya seakan telah terdapat garis yang terlukis disana, dan setiap manusia yang berfikir, mampu mengantisipasi dari permulaan setiap maujud hingga batas garis akhirnya. Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, Allah swt telah menciptakan mekanisme mendetail ini dalam bentuk kecil maupun besar, dan hidayah itu sendiri bertanggung jawab terhadap lingkaran wujud. Al-Quran dalam penjelasannya mengenai masalah ini berfirman, “Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”[7] dan juga berfirman, “Musa berkata: “Tuhan Kami ialah (tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”[8], dan Dia juga menciptakan paling baiknya bentuk, lalu Dia memberikan hidayah kepada seluruhnya dalam garis yang teratur. Ustadz Allamah Thabathabai dalam tafsir Al-Mizan, menjabarkan tema yang sama di bawah ayat tersebut dengan mengatakan bahwa dunia penciptaan merupakan paling baiknya mekanisme dan berada dalam kepengaturan Ilahi, tidak ada sesuatupun yang akan terwujud tanpa adanya tujuan dan maksud dan setiap gerak akan berjalan ke arah kesempurnaan dengan perhitungan yang khusus, sebagaimana yang difirmankan dalam al-Quran, “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.[9]

Ya, ini merupakan kaidah yang berlaku di antara seluruh eksistensi dan manusia pun tidak terkecualikan dari kaidah agung ini, bahkan bisa dikatakan bahwa mekanisme struktur manusia memiliki kelebihan yang menakjubkan dimana hal ini telah disusun dan dibentuk untuk bergerak ke derajat dan tujuan tertinggi, sebuah tujuan yang tak ada satu eksistensi yang mampu bergerak ke arahnya kecuali eksistensi manusia yang luar biasa ini.

Banyak hadits dan ayat-ayat yang memperkenalkan bahwa tujuan dan maksud penciptaan manusia berada pada tingkatan paling tinggi dan paling menakjubkan dari segala keberadaan, sebuah tujuan yang sesuai dengan kualitas penciptaan manusia. Pada hari penciptaannya, malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya, seakan para malaikat pada permulaannya hanya memperhatikan dimensi kemateriannya, mereka melihat manusia tidak layak untuk diciptakan, oleh karena itu mereka berkata kepada Allah, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”[10]. Mereka tidak memperhatikan dimensi malakuti manusia yang “Dan Aku tiupkan ke dalamnya ruh”, dan mereka tidak mengetahui bahwa manusia adalah sebuah eksistensi yang dalam penciptaannya terdapat interfensi dari alam materi hingga alam malakut, dari asfalus-safilin hingga a’la ‘aliyyin dan aspek malakutinya bersumber dari ruh Ilahi.

Manusia merupakan percampuran dari seluruh hakikat alam yang berlainan, mulai dari tahapan materi pertama hingga derajat tertinggi malakuti berbaur di dalam dirinya, yaitu dia berjalan dari materi pertama hingga tingkatan tumbuhan, dan dari alam hewan hingga kesempurnaan insani, semuanya menyatu dalam wujudnya dan dia mengetahui seluruh informasi alam. Sementara eksistensi-eksistensi lain tidaklah demikian.

Dengan alasan inilah, sehingga manusia mampu menjadi pengajar para malaikat dan kita melihat bahwa al-Quran menjelaskan tentang kelemahan malaikat serta pengakuan mereka terhadap ketidaktahuan mereka, dan para malaikat mengatakan, “Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”[11], dengan demikian mereka berkewajiban bersujud di hadapan manusia, dan malaikat yang menemukan kebersatuan dengan jiwa manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dan kesempurnaan yang begitu banyak. Manusia yang berada dalam tingkatan pertumbuhannya pun melakukan hubungannya dengan malaikat non-materi dan bisa jadi malah akan bisa melampauinya.

Meskipun manusia memiliki kedudukan tinggi dan agung, akan tetapi perjalanan geraknya tidak pernah tanpa penghalang, para setan duduk manis untuk menggoda manusia dan mendorongnya ke arah jurang yang terjal. Dia berusaha dengan usaha penuh untuk menghancurkan dan menggagalkan manusia. Oleh karena itu, manusia dalam sepanjang kehidupannya, berada dalam sebuah medan perlawanan yang riil, dan tentunya dalam pergumulan dan perlawanan inilah akan tersedia media bagi pertumbuhan manusia, karena jika hanya ada gerak satu arah dan tidak ada gerak ke arah yang berlawanan serta perjalanan yang bertentangan, maka pertumbuhan dan kesempurnaan tidak akan pernah terwujud. Dengan alasan inilah sehingga Tuhan senantiasa mengingatkan kepada manusia dari makar dan tipuan musuh dan penggoda manusia ini, dan menyarankan kepada mereka untuk memusatkan kekuatan dan konsentrasinya dalam geraknya menuju mekanisme alam malakuti dan alam suci Ilahi. Hindarkan diri kalian dari pengaruh materialisme. Jangan jual diri kalian dengan kelezatan-kelezatan inderawi. Letakkan seluruh fakultas dan kecenderungan kalian untuk mencapai kesempurnaan, dan dalam perjalanan ini jangan sekali-sekali berhenti pada satu derajat.

Allah Swt mendorong manusia untuk melintasi perjalanan ini dan memberi janji-janji yang agung kepada mereka, dan berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main, dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”[12].

Pada ayat yang lain Alllah Swt berfirman, “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”[13].

Jika sebagian dari kelezatan-kelezatan batin, lebih penting dan lebih diprioritaskan dari syahwat, perut, dan seluruh instink, maka yakin bahwa kelezatan-kelezatan malakuti pasti tidak akan bisa dikomparasikan dengan kelezatan-kelezatan material. Para psikolog modern pun membahas sebagian dari masalah ini dan mengatakan bahwa antara kelezatan-kelezatan jasmani dan jiwa terdapat perbedaan yang sangat tajam. Di antaranya adalah bahwa kelezatan-kelezatan jasmani, berkaitan dengan anggota-anggota badan tertentu, misalnya berhubungan dengan penglihatan, pendengaran atau penciuman, akan tetapi kelezatan-kelezatan ruh tidak seperti ini, kelezatan jenis ini lebih bersifat mencakup dan meliputi seluruh wujud manusia. Seperti kelezatan seorang ilmuwan setelah menemukan masalah-masalah ilmiah.

Selain itu, kelezatan jasmani, membutuhkan penggerak dari luar, seperti pemandangan yang indah, suara yang merdu, dan …, akan tetapi kelezatan ruh, muncul dari persepsi internal manusia, seperti pemahaman masalah ilmiah atau perasaan menang. Yang lainnya adalah, kelezatan-kelezatan inderawi seperti perasa, pendengaran, dan penglihatan tidak akan bertahan lama dan akan cepat mengalami kerusakan, akan tetapi kelezatan ruh bertahan lama. Sebagaimana sakit-sakit jasmani yang bisa disembuhkan, akan tetapi penyakit ruh tidak dengan mudah bisa disembuhkan. Sebagaimana dikatakan bahwa luka yang disebabkan oleh lidah lebih dalam dari luka yang disebabkan oleh pedang.

Jadi, menjadi jelas bahwa selain kelezatan-kelezatan jasmani, terdapat kelezatan-kelezatan lain yang lebih kuat, yang tak lain adalah kelezatan-kelezatan ruh dan jiwa. Sekarang bisa diketahui bahwa apabila kelezatan-kelezatan akal ini dimanfaatkan, maka hasilnya sama sekali tidak bisa dikomparasikan dengan kelezatan-kelezatan jasmani dan khayalan. Adalah sama sekali tidak benar pernyataan para materialistis yang mengatakan bahwa orang yang tidak terpenuhi kebutuhan makan, tidur, dan instinknya maka dia adalah orang yang malang dan tidak beruntung. Apakah kelezatan maknawi, spiritual, dan Ilahi yang dimiliki oleh para malaikat bisa dibandingkan dengan kelezatan-kelezatan rendah binatang? Apakah persepsi dari tingkatan syuhud, sifat, dan asma Tuhan bisa diperhadapkan dengan rasa segenggam gula, sepotong roti, atau pemandangan yang indah? Tidak sama sekali. Karena perbedaan keduanya terletak dari tingkatan hewan hingga manusia sempurna yang lebih mempunyai kedudukan lebih tinggi dari para malaikat. Apabila seseorang kebingungan dalam batasan ini, maka dia telah keluar dari fitrah insani. Pada dasarnya harus dikatakan bahwa perbedaan antara kelezatan yang satu dengan yang lainnya tergantung pada kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing. Kelezatan yang dihasilkan dari mengunyah segenggam gula atau sepotong makanan yang lezat, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kelezatan yang dihasilkan dari penemuan atas sebuah masalah-masalah ilmiah atau penyaksian malakuti, syuhud, atau interaksi dengan asma dan sifat-sifat Ilahi.

Oleh karena itu, manusia sempurna yang telah terbimbing, terhidayahi dan bergerak secara lurus dan istiqomah, tidak lain sebagaimana yang telah diisyarahkan oleh Ibnu Sina dalam bab ke delapan kitab Isyarat, yang mengatakan, “Kesempurnaan mutlak manusia terletak pada pancaran manifestasi suci Tuhan di dalam dirinya dan dia tetap dalam kesempurnaan kemuliaan dan kelezatan Ilahi dengan kebersamaan Tuhan”.[14]

Catatan Penutup

Ilmu dan pengetahuan yang tanpa diiringi dengan pengamalan atasnya tidak akan terlalu bermanfaat bagi manusia. Manusia yang menyimpan banyak ilmu dan telah menjadi sebuah perpustakaan luas yang menyimpan ratusan ilmu dan pengetahuan, apabila seluruh ilmu itu belum menyatu dengan hakikat manusia, maka ratusan ilmu itu tidak akan mampu menjaga manusia dari kesalahan dan kekeliruan. Pemilik ilmu-ilmu ini tak ubahnya seperti masyarakat awam, kepribadiannya bukan kepribadian orang yang berilmu, karena ilmu-ilmu itu tidak menyatu dengan jiwanya, ilmu-ilmu itu hanya merupakan kumpulan formulasi yang tersimpan dan terkumpul di dalam benak dan ingatannya.

Ketika seorang alim memanfaatkan ilmunya dan menjadikan ilmu itu sebagai makanan wujudnya sehingga menyatu dengan hakikat jiwanya, maka sesungguhnya ia telah membentuk dirinya sebagai pribadi yang berilmu. Maka seluruh gerak dan diam orang semacam ini menunjukkan pada keilmuannya, dan makan, tidur, berjalan, bercakap, dan seluruh perilakunya, berbeda dengan orang awam. Hakikat wujudnya adalah ilmu, sebagaimana yang dikatakan oleh para filosof, “Jiwa manusia telah menyatu dan meliputi seluruh indera lahiriah dan indera batiniah yang dimilikinya, jiwanya telah mencakup alam akal, alam khayal, dan alam materi dan mampu mengontrol seluruh kecenderungan-kecenderungan wujudnya. Sekarang karena ia telah menjadi menusia hakiki, maka kelezatan akal tidak hanya dirasakan pada wilayah indera tertentu, tetapi kelezatan akal ini telah meliputi seluruh wujudnya. Dengan demikian, wujud manusia ini telah menyatu dengan ilmu, akal, dan seluruh kesempurnaan. Pada tahapan ini, sosok manusia sempurna ini akan terlindung dari segala keburukan dunia ini dan tidak akan terjebak dengan kemewahan dan tipu dayanya. Dia menjalani kehidupannya dengan tenang, bahagia, dan tidak merasakan sedikitpun kekhawatiran.

Ibnu Sina dalam kitab Isyarat mengatakan, “Jiwanya telah disibukkan dengan alam suci malakuti dan seakan-akan ia tidak berada di alam materi lagi dan pengaruh-pengaruh duniawi telah menghilang darinya”. Kemudian ibnu Sina melanjutkan, “Dia memiliki wajah yang riang, lapang, dan senantiasa tersenyum, karena hatinya telah tertambat pada Tuhan dan dia melihat segala sesuatu sebagai manifestasi Tuhan”. Tentu saja apa yang dikatakan oleh filosof agung ini merupakan sebuah hikayat yang berhubungan dengan alam non-materi dan mustahil terkait dengan alam materi ini. Apa yang mungkin dicapai di alam materi ini, hanyalah gambaran-gambaran dari hakikat, makrifat-makrifat, dan realitas-realitas alam tinggi non-materi yang didapat dari manusia yang telah melakukan perjalanan spiritual (seir suluk). Mereka yang telah memilih alam materi sebagai tempat tinggalnya dan tidak terlepas dari pengaruhnya, tidak akan mampu melihat manifestasi dan tajalii Tuhan di balik benda-benda yang ada di alam ini. Penyaksian manifestasi Ilahi ini menuntut kesucian jiwa dari segala pengaruh materi. Realitas Suci tak berhingga itu hanya dapat “ditampung” dalam hati mukmin yang telah disucikan dari segala realitas wujud selain Wajah Suci Tuhan.

D. Pengenalan Manusia Perspektif Islam

Mukadimah

Para filosof Islam menyepakati bahwa manusa merupakan hasil penciptaan yang paling sempurna. Dia memiliki seluruh kesempurnaan dan seluruh tahapan maujud. Yaitu di dalam maujud ini ditemukan seluruh kesempurnaan dari alam unsur hingga alam non-materi (mujarrad) dan dengan ibarat lain, substansi manusia merupakan cermin dan gambaran dari seluruh tahapan eksistensi. Dia juga memiliki seluruh kesempurnaan alam natural, sebagaimana bisa dikatakan:

1. Seluruh unsur-unsur yang merupakan pembentuk seluruh substansi maujud beraktifitas di dalam badan manusia;

2. Contoh yang terdapat di dalam mekanisme alam natural dari yang bersifat empiris, terbagi, dan terkomposisi, aktif di dalam tubuh manusia;

3. Manusia memiliki seluruh kesempurnaan botani. Yaitu apa yang terdapat di dalam mekanisme botani seperti berkembang, tumbuh, penyerapan, dan pencernaan nutrisi, di dalam wujud manusia muncul dalam bentuk yang lebih sempurna dan lebih mendetail. Para ilmuwan alam Islam mengatakan bahwa tumbuhan memiliki rangkaian fakultas khusus dalam dirinya, yang seluruhnya adalah sebagai berikut: 1. Fakultas tumbuh, 2. Fakultas mencerna, 3. Fakultas menarik, 4. Fakultas menolak, dan 5. Fakultas penyerapan. Dalam fakultas penyerapan terdapat empat fakultas lainnya, yaitu: a. alat pencernaan, b. liver, c. kapiler, d. organ tubuh. Setelah mengalami proses pencernaan di dalam alat pencernaan, makanan akan muncul dalam bentuk dimana melalui enzim (kelenjar yang terdapat pada alat pencernaan) yang bisa dicerna dan setelah menyerahkannya kepada liver dan akan merubahnya menjadi darah, pada tahapan ketiga akan mengalir ke dalam kapiler, dan pada tahapan keempat akan berbentuk dalam nutrisi untuk perbaikan di dalam perangkat organ. Fakultas lain, 6. Fakultas kawin yang merupakan pembentuk nutfah, 7. Perangkat berkembang biak, 8. Perangkat pembentuk.

Fakultas Hewani

Manusia juga memiliki kesempurnaan hewani. Fakultas-fakultas hewani ini yang terdapat pada seluruh tahapan wujud hewan secara sempurna juga ada dalam diri manusia. Fakultas-fakultas tersebut antara lain: 1. ruh bukhari (berbentuk seperti uap), 2. ruh nafsani (psychic spirit), 3. ruh tabiat (natural soul), dan 4. ruh hewani (animal spirit).

Fakultas Insani

Secara umum manusia mempunyai dua fakultas, yaitu fakultas eksternal dan internal. Lalu fakultas eksternal dibagi lagi menjadi lima bagian: penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, dan peraba. Tentunya para psikolog kontemporer menambahkan indera keenam dan indera tersebut adalah indera yang bertanggung jawab terhadap perbandingan ukuran. Sementara fakultas internal manusia antara lain:

  1. Indera musytarak (common sense), indera ini bisa diibaratkan sebagaimana kolam kecil dimana sungai-sungai kecil mengalir ke arahnya dan seluruh air berkumpul di dalam kolam kecil tersebut, yaitu seluruh bentuk-bentuk yang ditransmisikan ke otak oleh panca indera di atas berkumpul di indera pusat ini;
  2. Fakultas khayal (representative faculty), fakultas ini merupakan penyimpan seluruh bentuk-bentuk dan gudang seluruh gambaran. Salah satu keistimewaan dari indera khayal ini adalah hanya memahami bentuk-bentuk partikular saja;
  3. Fakultas estimasi (wahm, estimative faculty) , yang mempersepsikan makna-makna partikular, seperti makna persahabatan, permusuhan, dan lain sebagainya;
  4. Fakultas hafalan (faculty of memory), fakultas ini yang mengarsipkan dan merekam seluruh bentuk-bentuk dan makna-makna partikular dan setelah berlangsungnya waktu, fakultas ini mampu menghadirkan kembali bentuk-bentuk dan makna-makna tersebut;
  5. Fakultas imajinasi (mutakhayyilah, imagingal faculty), fakultas ini mampu mengkomposisikan atau memisahkan makna-makna dan bentuk-bentuk yang berbeda, dan dari pemisahan serta pengkomposisian tersebut akan memunculkan begitu banyak realitas lain;
  6. Fakultas akal dan rasio (faculty intellectual), fakultas ini yang mempersepsikan makna-makna universal;
  7. Fakultas berpikir (mufakkirah, faculty of thought), dengan fakultas ini bentuk-bentuk rasionalitas menjadi realitas yang empirik dan memiliki kemampuan membentuk argumentasi dan burhan untuk persoalan-persoalan yang tak jelas.

Manusia dalam Al-Quran

Al-Quran secara tegas mengisyaratkan terhadap dua dimensi manusia yaitu dimensi materi (Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah) dan dimensi non-materi (dan Aku tiupkan di dalamnya dari ruh-Ku), setelah itu untuk dimensi non-materi di dalam al-Quran diletakkan beberapa tingkatan dan derajat. Tingkatan pertama, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”[15]. Ini tak lain adalah tingkatan fakultas murni yang dalam lembaran wujud manusia belum sampai pada tahapan aktual, dan tidak ada sesuatupun yang dia ketahui. Akan tetapi untuk manusia ini, telah diletakkan fakultas yang tiada akhir yang mampu bergerak ke arah tak terbatas sehingga menjadi khalifah Tuhan di atas muka bumi. Berfirman, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”[16] Dari dari hal ini, di antara seluruh ciptaan alam, Tuhan memberikan kemulian khusus dan kedudukan yang istimewa, berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam …”[17] Demikianlah al-Quran menganggap bahwa struktur wujud manusia merupakan struktur yang terbaik dari seluruh struktur ciptaan-Nya, dan Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.[18] Tuhan senantiasa memberitahukan tentang kemuliaan dan ketinggian manusia atas seluruh makhluk, dan hendaklah manusia mengetahui bahwa terdapat nilai yang sangat berharga dalam dirinya, dimana dunia dan seluruh isinya tidak ada harganya sama sekali buatnya. Tuhan memberikan kerendahan derajad kepada orang-orang yang hanya menumpahkan perhatiannya kepada dunia ini, kepada Nabi-Nya Allah berfirman, “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi”[19].

Poin yang menarik di sini adalah bahwa sebenarnya dunia tidaklah kecil dan tak berharga, melainkan manusia telah sampai pada batasan kemuliaan kesuciannya sehingga menurut pandangan Tuhan, seluruhnya adalah untuk manusia dan tidak ada sesuatupun yang layak menduduki ketinggian nilai manusia dan menusia tak layak menjual dirinya kepada selain-Nya. Mengenai hal ini Allah berfirman, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”[20]. Dalam al-Quran, jiwa manusia merupakan dimensi permanen dan abadi yang setelah hancurnya badan di dalam kubur masih tetap hidup dan akan melewati kehidupan barzakhnya, “Dan di hadapan mereka ada barzakh, sampai pada hari mereka dibangkitkan”[21], dan pada ayat lainnya berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki”[22]. Dalam al-Quran difirmankan bahwa hari ketika seluruh manusia dibangkitkan, pada masing-masing mereka akan diperintahkan untuk membacakan lembaran jiwanya sendiri, Allah berfirman, “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”[23]. Tuhan juga meletakkan manusia sebagai sebuah hakikat yang abadi dan berfirman bahwa manusia setelah hari perhitungan akan menjalani kehidupan abadinya. Di dalam al-Quran terdapat ayat yang berbunyi, “Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran) mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”[24].

Demikian juga, mengenai orang-orang yang berbuat baik, Allah berfirman, “Mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka”[25]. Al-Quran pun meletakkan tingkatan dan derajat untuk jiwa non-materi manusia, tingkatan pertamanya adalah jiwa ammarah yang terkadang jiwa berbuat baik dan buruk, kekuatan ini akan menjadi aktual dan bertindak untuk memenuhi keinginannya dan apapun yang diinginkannya dia akan berusaha untuk ke arahnya. Kadangkala manusia terjerumus ke dalam keinginan palsu dan senantiasa mengikuti apa yang menjadi keinginannya dan memalingkan diri hal-hal yang tak tersirat. Oleh karena itu, al-Quran menukilkan perkataan Nabi Yusuf as yang mengatakan, “Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku”[26]. Apabila manusia menempatkan dirinya pada wilayah penyembahan Tuhan, maka perintah Tuhan akan meliputi dan menapasi realitas kehidupannya dan jiwa manusia akan tersinari dengan iman yang bergerak secara rasional dan dalam naungan Ilahi. Pada tahapan ini, jiwa manusia berada pada derajat jiwa lawwamah yang dengannya ia dapat melihat kejelekan dan keburukan dengan jelas, dan apabila manusia terjerumus dalam dosa pada tingkatan ini, maka dia akan sangat terhina dan tersiksa karena menentang hukum fitrahnya.

Al-Quran sedemikian memperhatikan tingkatan jiwa lawwamah ini sehingga bersumpah, “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”[27] yaitu bahwa jiwa lawwamah telah diletakkan di sisi hari kiamat dan terdapat dua sumpah di dalamnya. Tentunya terdapat kesesuaian yang sangat antara hari kiamat dengan jiwa lawwamah.

Salah satu karakteristik dari jiwa lawwamah adalah penentuannya terhadap baik dan buruk dimana Tuhan mengilhami nafsu ini supaya mengetahui tolok ukur dari keburukan, kebaikan, dan keindahan prilaku. Masalah ini merupakan hal paling rumit dalam persoalan filsafat akhlak khususnya di kalangan teolog dan pemikir barat.

Setelah tahapan ini, manusia kan sampai pada jiwa mutmainnah (tenang) yang merupakan paling tingginya kedudukan jiwa dimana para manusia sempurna berjalan ke arah ini. Berkaitan dengan jiwa suci dan mulia ini, dalam al-Quran Allah Swt berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”[28]. Mereka ini adalah orang-orang yang dalam seluruh kehidupannya, tidak melihat adanya sedikitpun kerugian. Apapun yang terjadi atau akan terjadi dan segala takdir yang telah tertulis seluruhnya berada di bawah pengaturan Sang Hakim yang tidak menginginkan sesuatupun selain kebaikan, mashlahat dan nikmat. Jiwa mutmainnah memahami dan mengetahui bahwa seluruh keteraturan dan mekanisme alam berada di bawah lingkup Tuhan dimana tidak ada sebutirpun yang akan berpindah dari tempatnya kecuali dengan iradah dan kehendak-Nya. Dari sinilah, sehingga para pesuluk senantiasa ridha dan bahagia dengan takdir-Nya.[]

Tulisan ini pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com/Indonesia


 

[1] . Syarh Isyarat wa Tanbihat, Khawjah Nashiruddin Thusi, bab delapan, hal. 350.

[2] . Qs. Al-Baqarah:7.

[3] . Ikhtishash Syeikh al-Mufid, hal. 313; Mustadrak al-Wasail, jilid 1, hal. 157.

[4] . Qs. Al-Mudatsir: 38.

[5] . Syarh al-Isyarat wa at-Tanbihat, Khawjah Nashiruddin Thusi, jilid 3, hal. 353.

[6] . Rujuklah: Al-Mizan, jilid 14, hal. 166-167.

[7] . Qs. Al-A’la: 3.

[8] . Qs. Thahaa: 50.

[9] . Qs. Yasiin: 40.

[10] . Qs. Al-Baqarah: 30.

[11] . Qs. Al-Baqarah: 32.

[12] . Qs. Al-Ankabut: 64.

[13] . Qs. As-Sajdah: 17.

[14] . Syarh al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 3, hal. 345.

[15] . Qs. An-Nahl: 78.

[16] . Qs. Al-Baqarah: 30.

[17] . Qs. Al-Israa: 70

[18] . Qs. At-Tiin: 4.

[19] . Qs. An-Najm: 29.

[20] . Qs. Al-Baqarah: 29.

[21] . Qs. Al-Mukminuun: 100.

[22] . Qs. Ali-Imran: 169.

[23] . Qs. Al-Israa: 14.

[24] . Qs. Al-Baqarah: 257.

[25] . Qs. Anbiyaa: 102.

[26] . Qs. Yusuf: 53.

[27] . Qs. Al-Qiyamah: 1-2.

[28] . Qs. Al-Fajr: 27-28.

Wujud Bernama Manusia [3]

Sebuah Kenangan

          Penulis teringat suatu peristiwa yang terjadi di salah satu perguruan tinggi. Salah satu dari anggota komisi ilmiah yang ada di universitas ini mengatakan, ketika kami menganalisa manusia secara cermat, kami menemukan bahwa struktur dan mekanisme tubuh manusia memberikan jawaban sempurna terhadap seluruh pertanyaan kami, yakni melakukan analisa dan telaah terhadap aksi dan reaksi yang terjadi di dalam tubuh, menjadi jelas bagi kami faktor-faktor penyebab munculnya seluruh aktivitas, prilaku, kecenderungan-kecenderungan, instink, dan keadaan lain yang dimiliki oleh manusia. Melalui penelitian ini, kami mampu memahami kenapa manusia bisa marah, bisa menumpahkan kasih sayangnya kepada orang-orang yang dicintainya, bisa gembira, dan bisa bersedih. Bagaimana dia bisa menjadi orang yang jahil atau berilmu, bisa berfikir, dan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Dan dari sini kamipun mengetahui apa aksi dan reaksi yang bisa diterima di dalam otak setelah manusia memiliki pengetahuan. Ringkasnya, struktur tubuh dan mekanisme alami tubuh manusia, berada dalam kedudukan yang mampu memberikan jawaban untuk seluruh pertanyan-pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, tidak diperlukan lagi pembuktian terhadap adanya satu wujud non-materi bernama ruh dan jiwa untuk manusia.

          Ketika melihat orang ini yang memiliki pengenalan salah mengenai manusia, tak ada cara lain kecuali harus membuka pembahasan dan saya berkata, “Tuan, apakah benar bahwa seluruh hakikat manusia bisa diketahui hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan saja? Apakah seluruh pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan akan muncul dari manusia hanya terbatas pada beberapa pertanyaan Anda tersebut? Dan tidak ada pertanyaan yang lainnya? Bisa jadi terdapat pertanyaan yang jawabannya tidak bisa kita temukan dari mekanisme natural tubuh manusia. Selain itu, apa yang Anda nyatakan telah Anda temukan dari mekanisme tubuh, apakah benar-benar merupakan jawaban dari pertanyaan Anda ataukah hanya merupakan premis dan pendahuluan untuk sebuah jawaban, dan Anda menyangka bahwa Anda telah menemukan jawabannya. Sekarang saya juga mempunyai beberapa pertanyaan dan hendaklah Anda menjawabnya dengan metode analisa aksi-reaksi atas struktur tubuh manusia sebagaimana yang telah Anda pergunakan.

Pertanyaan pertama, seluruh manusia yang teis dan ateis akan menganggap dirinya sebagai manusia yang ideal dan besar karena merasa mempunyai keseimbangan dalam mengontrol kecenderungan-kecenderungan tubuh, keinginan-keinginan jiwa dan syahwat hewaninya, sementara pada sisi lain terdapat pendosa-pendosa dan penyembah hawa nafsu pada semua tempat. Apabila manusia hanyalah ibarat sebuah badan, maka baginya tidak ada kesempurnaan yang lebih tinggi selain memberikan jawaban positif pada seluruh kecenderungan dan syahwatnya. Jika manusia tidak memiliki dimensi lain selain dimensi materi dan hewaninya, lalu kenapa fitrah seluruh manusia memberi kesaksian bahwa dengan semakin tidak memperhatikan kecenderungan dan syahwat miliknya, dia akan semakin sempurna? Sementara apabila manusia hanya menyimpulkan dirinya dalam tubuh materi dengan seluruh kecenderungannya, berarti manusia yang sempurna dan beruntung adalah mereka yang lebih memperhatikan keinginan-keinginannya tersebut lalu menjaga dan memenuhi tuntutannya hingga batasan yang memungkinkan. Semakin ia bisa memuaskan keinginan hawa nafsunya, seharusnya dia menjadi manusia yang semakin sempurna dan semakin berhasil. Dengan demikian, tidak ada lagi hukuman dan denda untuk pelaku setiap pengkhianatan dan kejahatan, karena dengan melakukan hal tersebut niscaya seorang manusia telah sempurna dan ideal secara mutlak. Sama sekali tidak akan menghindari tuntutan syahwat dan kecenderungan tubuh, karena hal ini akan membahayakannya dan tak menyempurnakannya. Dengan demikian, apabila terdapat orang yang tidak melakukan dosa dan tidak memuaskan keinginan alaminya sebaliknya dia akan mengontrol dirinya dalam hal-hal tersebut, dia malah akan menjadi orang yang tak sempurna, lemah, dan tak memiliki kekuatan. Akan tetapi kita lihat, tidak ada satupun manusia yang meyakini celoteh batil ini, bahkan mereka mengatakan bahwa manusia yang sempurna dan berhasil adalah manusia yang mempunyai kemampuan menyeimbangkan seluruh kecenderungannya dan mampu melawan keinginan hawa nafsunya. Jadi, manusia memiliki hakikat yang lebih tinggi dari tingkatan hewani.

Pertanyaan kedua, kita menyaksikan bahwa begitu manusia melewati usianya yang ke 35, dia akan memiliki mekanisme berfikir dan kontemplasi yang semakin mendalam dan semakin sempurna, padahal dari sini hingga selanjutnya tubuhnya setahap demi setahap akan semakin melemah. Dengan ibarat yang lain, rasionalitasnya akan semakin kuat dan pemahamannya akan semakin cermat, akan tetapi tubuh dan mekanisme sel-sel tubuhnya akan semakin mengarah pada kerapuhan dan kelemahan. Sebagai contoh, semakin lanjut usia seorang filosof, maka perkataan yang diucapkannya akan semakin matang dan mendalam. Di sini akan muncul persoalan berikut, apabila hakikat manusia hanya berupa tubuh ini, dengan semakin melemahnya tubuh, berarti pikiran dan kecerdasannya pun akan semakin melemah dan semakin banyak melakukan kesalahan pula, sementara yang terjadi adalah kebalikannya, ilmuwan dan cendekiawan yang jenius dan cerdas, pada usia separoh bayanya tidak bisa lagi dibandingkan dengan masa mudanya, pada usia ini dia telah muncul sebagai orang yang mampu menuangkan ilmu-ilmunya dengan pengetahuan lebih luas dan pemikiran yang lebih mendalam, dan menjadi orang yang semakin diyakini pendapat, gagasan, konsep, dan pemikirannya.

Pertanyaan ketiga, kita melihat pelajar-pelajar pada tingkat sekolah dasar akan mempelajari persoalan-persoalan matematik yang sederhana. Misalnya,  mempelajari bahwa 2×2 = 4, tahun demi tahun terlewati, dan subyek ini tetap ada secara permanen pada diri mereka dan tidak terjadi sedikitpun perubahan, apabila tujuh puluh tahun kemudian ditanyakan dua kali dua berapa hasilnya, maka mereka akan mengatakan jawabannya dengan cepat. Akan tetapi dari sisi lain, kita mengetahui bahwa tubuh pada setiap tujuh tahun akan mengalami perubahan secara total bahkan unsur-unsur pertama yang terdapat pada sel-sel otak pun akan mengalami perubahan. Apabila manusia hanya didefinisikan sebagai mekanisme tubuh natural dan sel-sel material, dengan berlalunya masa dan dengan terjadinya perubahan pada setiap sel-sel yang dimilikinya, maka pasti segala ingatan dan kenangan-kenangannya pun akan mengalami perubahan pula, lalu kenapa yang terjadi tidaklah demikian? Begitu banyak kenangan kanak-kanak dan pengetahuan-pengetahuan awal yang tetap melekat erat hingga akhir hayat seorang manusia.

Jadi, bisa terjelaskan dengan baik bahwa manusia memiliki dimensi non-materi dan metafisika yang akan menjaga seluruh bentuk ilmu, pengetahuan, dan kenangan yang ada di dalam benaknya, sedemikian hingga tidak ditemukan sedikitpun cacat dan kelemahan pada mereka, meskipun terjadi perubahan-perubahan pada sel-sel tubuh. Bahkan kadangkala kita melihat bahwa peristiwa atau kenangan yang telah terlupakan akan kembali teringat dengan mengutarakan konteks-konteks tertentu, hal ini akan menjelaskan dengan baik bahwa sebenarnya persoalan-persoalan yang telah terlupakan tetap terjaga dalam lembaran jiwa manusia dan tidak mengalami sedikitpun perubahan.

Wejangan Alamah Thabathabai

          Ketika seseorang bertanya tentang tahapan-tahapan makrifat dan perjalanan spiritual, Alamah Thabathabai ra mengungkapkan tiga pesan pentingnya, yaitu musyarathah[1], muraqabah[2] dan muhasabah[3]. Berkata, pada awal hari kita harus mempersiapkan diri sedemikian rupa supaya senantiasa mampu menjaga diri dari khayalan-khayalan nafsu dan bisikan setan, lalu mensyaratkan diri misalnya hari ini aku harus berusaha sedemikian rupa menjaga diriku supaya tidak melakukan hal-hal yang melawan keridhaan dan perintah-Nya dan harus bertekad untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan aib dan tercela, dan setelah keputusan awal ini, pada awal hari kita harus memegang kuat-kuat apa yang telah kita syaratkan untuk diri kita sendiri selama sehari penuh hingga mampu menyelesaikannya dengan baik. Alamah melanjutkan, yang kedua adalah muraqabah, yakni perbuatan yang senantiasa terjadi antara dua pihak secara timbal balik, yaitu Tuhan akan menjagamu dan kamupun harus menjaga perintah-Nya dan melakukan segala sesuatu sesuai kehendak dan keridhaan-Nya. Setelah melewati kedua tahapan ini, kini sampai pada tahapan ketiga yaitu muhasabah, dengan makna bahwa pada saat-saat terakhir disetiap hari kita mencoba memikirkan kembali segala gerak dan perbuatan yang telah kita lakukan sepanjang hari, memperhatikan sesaat demi sesaat yang telah terlalui, bertanya, dan melihat pada diri sendiri, apa yang telah dihasilkannya hari ini dengan hilangnya aset penting dari tangannya. Pada tahapan ini, dengan ketelitian dan kecermatan penuh dia harus memperhatikan aktivitas, kedatangan, kepergian, duduk, makan, percakapan, tulisan, dan ringkasnya seluruh gerak dan perbuatan yang telah dia lakukan, lalu memisahkan yang baik dari yang buruk. Setiap kali menemukan perbuatan tak pantas, beristighfar dan memohon ampunan dari-Nya, dan bertekad untuk mengubahnya, dan setiap kali melihat keberhasilan senantiasa mengucapkan syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

          Alamah berkata, orang yang melalui hidupnya dengan cara seperti ini, dia akan bertemu dengan berbagai kesempurnaan yang keberhasilannya jarang ditemukan, dan ketinggian ruhani dan spiritualnya tidak bisa dibandingkan dengan seluruh manusia biasa yang tidak melakukan penghitungan dan hisab atas segala amalan dan prilaku hariannya pada setiap malam hari.

Hubungan Makrifat Diri dan Makrifat Kesempurnaan

          Setiap benda secara khusus memiliki kesempurnaannya sendiri. Untuk membedakan kesempurnaan setiap benda maka kita harus mengenal dan mengetahui hakikat benda tersebut. Demikian juga untuk mengetahui kesempurnaan manusia, harus pula dilakukan melalui pengenalan dan makrifat diri manusia secara utuh dan komprehensif. Seseorang bisa menyatakan dirinya mampu mengetahui setiap titik kulminasi dan kesempurnaan manusia dengan baik, ketika dia memiliki makrifat menyeluruh, benar, dan mendetail tentang manusia. Jadi, mengenal manusia secara hakiki berarti mengenal kesempurnaannya secara hakiki pula. Selama manusia belum mengenal dirinya dengan benar berarti dalam menentukan kesempurnaan dirinya pun akan mengalami kesalahan, dan kadangkala dia akan menempatkan ketaksempurnaan dan kekurangan pada posisi kesempurnaan dan kebahagiaan. Orang yang tidak mengenal dirinya, dia tidak akan mengetahui apa-apa tentang kesempurnaannya. Mereka yang sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di luar jasmaninya dan menganggap segala yang berada di bawah kekuasaan kecenderungan-kecenderungan alami dan keinginan syahwatnya sebagai suatu kesempurnaan, maka sebenarnya dia tidak berhasil, dan akibatnya, dia tak lebih dari seekor binatang yang berbulu halus dan memakan rumput-rumputan berkualitas unggul. Orang semacam ini tak lain adalah mereka yang tidak mengenal dirinya dan memilih mengenal selain jiwanya serta meletakkan kecenderungan materi pada tempat dimana seharusnya dia meletakkan keinginan jiwa hakikinya. Oleh karena itu, manusia yang lalai terhadap jiwanya, sama sekali tidak akan pernah menggapai kesempurnaan dan kebahagiaan.

Alienasi Manusia Modern

          Manusia pada masa modern ini telah kehilangan jati dirinya. Dia telah meletakkan dirinya pada wilayah yang tak bisa tergapai dan hakikat dirinya tetap tersembunyi di balik tirai kejahilan dan kebodohan. Dikarenakan manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka dia melakukan kesalahan dalam menentukan kesempurnaan hakiki. Mereka hanya mengenal dirinya sebatas tubuh kasar dan menyangka bahwa seluruh kebahagiaannya terletak pada semakin banyaknya dia memperhatikan tubuh dan memenuhi keinginan-keinginan rendah tubuh.

Dengan alasan inilah, banyak yang mendefinisikan kebahagiaan dan kesempurnaan manusia sebagai, tidur yang baik, pola dan menu makanan yang baik, tempat piknik yang sesuai, rumah besar, mobil indah, dan pernik-pernik kehidupan materi lainnya, dimana untuk menggapai ide-idenya ini manusia tidak akan segan-segan untuk mencampakkan kasih sayang, toleransi, rasionalitas dan menggantikannya dengan kekerasan, dan tanpa mempertimbangkan baik atau buruknya segala perbuatan yang dilakukannya, dia telah membuat jurang yang terjal dan berbahaya bagi jasmani dan jiwanya sendiri, dan sesuatu yang mempunyai nilai penting baginya hanyalah realitas materi yang manfaat.

Sebagai misal, pada zaman perang Irak-Iran, terlihat orang-orang yang bukan warga negara Irak telah menjadi pilot yang disewa oleh Irak. Mereka membombarder kota-kota Iran dengan imbalan uang yang tak terkira banyaknya. Sekarang, jika orang semacam ini membuat istana, membeli mobil, dan vila dengan uang yang dihasilkannya, apakah dia bisa dikatakan sebagai manusia yang berbahagia dan telah sampai pada kesempurnaan? Apakah dia bisa dikatakan sebagai orang yang berhasil dan sukses?

          Ya, bisa jadi orang yang tidak mengenal manusia dan kesempurnaannya, menganggap persoalan-persoalan tak berharga seperti ini sebagai sebuah kesempurnaan, dan dia sama sekali tidak akan bertanya kepada pemilik segala kemewahan ini tentang sumber dan asal seluruh harta dan kekayaan yang telah dia hasilkan. Akan tetapi orang yang mengenal hakikat manusia dan kesempurnaannya, dia hanya akan menganggap harta benda dan materi sebagai sebuah kekayaan yang berharga dan bermanfaat ketika mengantarkannya kepada kemuliaan dan kebahagian hakiki dan sesuai dengan martabat suci manusia.

Kelezatan Manusia

          Ibnu Sina dalam kitab Isyarat wa Tanbihat, mendeskripsikan kelezatan manusia dalam satu pembagian universal, yaitu syahwat, amarah, imajinasi, dan rasio.

Kelezatan syahwat adalah kelezatan tertentu yang dirasakan oleh salah satu organ tubuh manusia. Sebagai contoh, lidah merasakan manis dan langit-langit mulut akan menikmati kelezatannya. Kelezatan adalah sebuah perolehan dan pencapaian. Kelezatan perolehan ini, kadangkala dihasilkan oleh organ lidah yang melakukan aksi dan reaksinya pada permukaan lahiriah lidah sehingga kemudian manusia memahami rasa tertentu, akan tetapi kadangkala pula rasa tertentu ini dirasakan oleh manusia tanpa perantara organ materi lidah, melainkan dia mampu merasakan kelezatan tanpa berhubungan dan bersentuhan sama sekali dengan indera perasa. Sebagai contoh, ketika dalam tidurnya manusia bermimpi meminum sirup yang sangat lezat, sebenarnya dia telah merasakan kelezatan ini tanpa menggunakan organ perasa lidah.

Kelezatan-kelezatan syahwat muncul dari selera-selera rendah yang bukan hanya tidak penting bagi manusia, bahkan mungkin akan bisa menjadi penghalang dan pengganggu bagi gerak menyempurnanya. Sebagaimana seseorang yang melakukan aktivitas makan, tidur, dan memenuhi syahwat hewaninya secara terus menerus, akan membuatnya tetap berada pada sumbu hewani secara permanen.

Kelezatan kedua yang berhubungan dengan potensi amarah manusia. Sebagaimana kita ketahui, balas dendam dan kemenangan pada pihak tertentu atau tertimpanya musibah yang menyedihkan bagi musuhnya akan menimbulkan semacam ketenangan dan perasaan lezat bagi pelakunya. Memuaskan potensi amarah ini begitu menariknya sehingga kadangkala mengalahkan kelezatan syahwat dan tak jarang manusia akan mengesampingkan kelezatan syahwatnya dengan alasan untuk memperoleh kelezatan amarah ini, dan bisa jadi bahkan dia akan rela mengorbankan nyawanya dan bergerak hingga ke ambang kematian untuk melampiaskan balas dendam dan kemarahannya.

Kelezatan ketiga yang terkait dengan imajinasi dan khayal adalah yang sebagaimana kelezatan-kelezatan yang mengantarkan orang pada lahirnya sifat-sifat sombong, angkuh, merasa tersohor, memegang kepemimpinan, kekuasaan, dan egois, yang keseluruhannya ini merupakan kelezatan-kelezatan yang sama sekali tidak berhubungan dan tidak bersentuhan langsung dengan tubuh manusia, melainkan berhubungan dengan gairah dan gejolak batin. Dan kelezatan ini jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan kelezatan-kelezatan alamiah tubuh. Dan untuk mendapatkan kelezatan imajinasi ini sering kali terlihat sebagian individu menutup diri dari seluruh kelezatan tabiat dan alami. Misalnya untuk memperoleh kekuasaan, seseorang bisa menutup mata dari makan, minum, dan pemenuhan syahwat-syahwat yang lainnya.

Bagian keempat dari kelezatan ialah kelezatan akal atau rasio. Kelezatan ini sebagaimana kecerdasan, memiliki begitu banyak tingkatan dan derajat. Dimulai dari memanfaatkan ilmu, manisnya melakukan ibadah, jihad, hingga pada mengorbankan jiwa. Dalam keadaan seperti ini, dengan meninggalkan begitu banyak kelezatan dan kecintaan yang lainnya, manusia akan bergerak ke arah Tuhan dan fana dalam penghambaan pada Sang Pencipta alam, lalu dia akan menemukan esensi wujudnya sebagai manifestasi Ilahi dan apa yang diperoleh dari kesempurnaan di dalam dirinya ataupun diluar dirinya semuanya berhubungan dengan kesempurnaan wujud Tuhan.

Tingkatan Kelezatan

          Antara satu kelezatan dengan kelezatan yang lainnya terdapat perbedaan dan tingkatan. Dan ukuran perbedaan masing-masing setara dengan perbedaan substansinya, yaitu perbedaan kelezatan akal dengan kelezatan inderawi terletak pada ukuran kedekatan diri kepada Tuhan ketika mengecap kelezatan itu. Esensi kelezatan hanya bisa dipahami melalui hakikat jiwa, tentunya aksi dan reaksi yang terdapat dalam anggota tubuh merupakan perantara untuk memindahkan kelezatan tersebut kepada jiwa. Sebagai contoh, apabila kita merasakan manisnya gula di langit-langit mulut lalu kita menyukainya, maka gula yang memiliki rasa manis merupakan perantara awal dan lidah merupakan perantara kedua untuk memahami kelezatan lahiriah tersebut.

          Kelezatan-kelezatan manusia dan untuk memperoleh nya harus dilakukan dengan memanfaatkan beberapa perantara dimana masing-masingnya akan bertindak dengan cepat, namun kesibukan jiwa dan perhatian manusia pada dimensi yang lain akan menyebabkan jiwa manusia tidak mampu menggapai kelezatan tanpa melalui perantara. Oleh karena itu, terdapat perantara dan penghalang supaya pesan terkirim ke otak dan akan terjadi aksi dan reaksi yang beragam supaya kelezatan bisa diraih secara maksimal dan sempurna. Perantara-perantara ini akan melemahkan pencapaian kelezatan dan semakin banyak perantara maka akan terdapat hijab dan penghalang perolehan kelezatan yang semakin besar pula, dan sebaliknya apabila perantara semakin berkurang, maka perolehan kelezatan akan yang lebih jelas dan berkualitas. Meskipun tanpa perantara pun sebagian dari kualitas-kualitas tersebut akan bisa ditemukan dan pencapaian kelezatan ini akan menjadi lebih jernih, sebagaimana seseorang yang berada pada alam mimpi, ketika dia meminum sirup atau memakan sesuatu, maka kelezatan yang diperolehnya terasa lebih tinggi dari kelezatan ketika dia makan dan minum sesuatu dalam keadaan sadar, dan baginya perolehan kelezatan tanpa perantara materi jauh lebih kuat dan lebih memikat.

Kelezatan Khayal dalam Pandangan Ibnu Sina

          Abu Ali Sina dalam kitab Isyarat wa Tanbihat[4] dalam pembahasannya tentang kelezatan khayal manusia, menganggap kelezatan ini sebagai sebuah pengaruh dari munculnya keinginan, harapan, dan permintaan hawa nafsu manusia, dengan makna bahwa dalam anggapan manusia ini begitu banyak ide dan harapan yang menurutnya berharga, lalu dia menyangka apabila harapan tersebut terwujud di alam luar, maka dia akan mendapatkan begitu banyak kebahagiaan, kesuksesan dan kesempurnaan. Sebagai contoh, seseorang yang menginginkan jabatan, kekuasaan, kehormatan, dan kepribadian yang tinggi, apabila suatu hari harapannya terwujud, maka kelezatan yang dihasilkan oleh kekuasaan dan jabatan tersebut merupakan kelezatan khayalan.

Manusia ini telah terikat dan tertarik pada sesuatu yang tidak benar-benar dia miliki secara hakiki, dengan makna apabila suatu hari kepribadian khayalan tersebut terambil darinya, maka dia akan kembali menjadi individu yang sebelumnya, yang secara pasti telah melewati umurnya tanpa menemukan sedikitpun perkembangan signifikan dalam umur yang telah terlewati tersebut. Dia tak lain adalah orang yang terkena musibah dan malapetaka besar, karena seluruh kekuasaan dan jabatan itu tidak akan memberikan kesempurnaan hakiki dalam dirinya. Hal ini merupakan kebalikan dari kelezatan akal yang akan kami bahas setelah ini.

Akan tetapi kelezatan-kelezatan inderawi, sebagaimana makan, tidur, memuaskan instink alami, apabila pelampiasan ini hanya bertujuan untuk hidup dan bahkan tujuan hidup untuk makan dan minum serta tak ada tujuan lain selain memuaskan keinginan alami, manusia ini meskipun akan menemukan manfaat-manfaat alami tubuh, akan tetapi harus diketahui bahwa kelezatan-kelezatan tersebut merupakan kelezatan-kelezatan hewani yang memiliki tingkatan lebih rendah. Manusia seperti ini tidak akan pernah mengeluarkan kepalanya dari tubuh hewaninya dan tidak memiliki informasi sedikitpun tentang alam insani, dia tetap tinggal dalam batasan kehewanannya, dan seluruh jerih payahnya hanya berada pada batasan-batasan hewan tersebut.

Manusia semacam ini telah meletakkan dirinya untuk berhidmat pada tingkatan hewani dan melupakan atau mengesampingkan tingkatan insaninya sendiri. Jalan yang dia pilih ini sama sekali tidak akan pernah mengantarkan seluruh potensi insaninya untuk menjadi sesuatu yang aktual dan menyempurna, dan pada hari kiamat kelak dia tidak akan dibangkitkan sebagai manusia. Sekarang pertanyaan yang masih tertinggal adalah bahwa apakah kesempurnaan manusia itu? Dalam jawabannya bisa dikatakan bahwa satu-satunya kesempurnaan yang layak bagi manusia adalah sampainya dia pada kelezatan akal dan rasio.

Meskipun telah dikatakan bahwa kelezatan-kelezatan akal memiliki tingkatan dan derajat yang beragam, paling tingginya kedudukan rasionalitas dan bahkan di atas rasionalitas, tak lain adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Sina, “Kesempurnaan mutlak manusia adalah kesempurnaan akal dan rasionalitas, yaitu cahaya Tuhan memancar ke dalam dirinya dan dia tetap berada dalam kesempurnaan yang mulia dan agung seiring dengan menetapnya pancaran suci Tuhan.”[5]

Tujuan tinggi manusia adalah menggapai penegasan Ilahi dan pancaran taufik-Nya dan melangkahkan kakinya pada tingkatan tinggi ini, jika hal ini dicapai berarti ia telah meraih seluruh keberhasilan manusia dan tidak ada satupun martabat atau kedudukan yang sesuai dan lebih tinggi baginya.

Pada tingkatan ketuhanan ini, manusia akan menghadapkan wajahnya ke arah tak terbatas dan sesaat demi sesaat dari umurnya merupakan gerakan menuju kesempurnaan.

Pada ufuk tak terbatas ini, seluruh kekuatan dan potensi manusia secara bersamaan akan menuju ke satu arah yang lebih baik dari khayal dan imajinasi. Ini merupakan tujuan tinggi insani dimana mata harus tertutup dari selain-Nya dan hati tak tertambat pada selain-Nya.

Analisa Batasan Kelezatan Inderawi

          Pada pembahasan terdahulu telah kami katakan bahwa kelezatan-kelezatan manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Filosof besar Ibnu Sina pada bab kedelapan kitab Isyarat wa Tanbihat menyinggung khayal dan imajinasi menjadi lima tingkatan dimana kelezatan-kelezatan ini berada di atas kelezatan inderawi. Dan kebanyakan masyarakat meninggalkan kelezatan-kelezatan inderawi karena adanya tarikan-tarikan kelezatan-kelezatan di atas kelezatan inderawi. Dengan hal ini dia hendak membuktikan bahwa kelezatan-kelezatan inderawi memiliki batasan dan bukan kelezatan yang terbaik. Ibnu Sina dalam hal ini menuliskan, “Kalangan awam menganggap bahwa paling tingginya tingkatan kelezatan tak lain adalah kelezatan inderawi, seperti makan, tidur, marah, dan syahwat, sedangkan kelezatan-kelezatan non-inderawi merupakan kelezatan-kelezatan yang rendah.”[6]

          Kemudian Ibnu Sina menyanggah pernyataan di atas dengan menyebutkan contoh-contoh berikut: 

1.        Kadangkala sebagian dari individu-individu ini yang hingga batasan tertentu memiliki kemampuan analisa yang benar dan berkata kepada mereka, bukanlah kalian menganggap bahwa kelezatan-kelezatan inderawi yang paling baik adalah kelezatan-kelezatan seksual, makanan, dan sepertinya? Lalu kenapa kadangkala kita melihat pada sebagian individu yang untuk sampai pada satu kelezatan khayal dia bisa mengesampingkan kelezatan-kelezatan inderawi semacam ini? Misalnya seseorang yang tengah asyik bermain catur, kadangkala keasyikannya telah membuatnya tak sadar bahwa dia telah mengesampingkan makanan dan minuman-minuman lezat yang telah dihidangkan untuknya, dan dia tetap asyik bermain dengan khayalannya sendiri hingga berjam-jam lamanya.

2.        Demikian juga, bisa jadi media untuk memperoleh sebagian dari kelezatan-kelezatan inderawi seperti makanan dan menikah tersedia di hadapan orang yang menginginkan “kesucian” dan kekuasaan, akan tetapi demi menjaga kebesaran dan keuntungannya, dia akan menjauhi kelezatan-kelezatan inderawi tersebut. Baginya menjaga kedudukan dan keuntungan terasa lebih lezat dan lebih sesuai dari pada meraih kelezatan-kelezatan inderawi.

3.        Kadangkala bagi seseorang yang berjiwa pemurah, ketika tiba masa untuk memberi, dia akan lebih memilih kelezatan memberi atas kelezatan sifat hewani, dan dia mendahulukan pihak lain dari dirinya sendiri dalam merasakan kenikmatan. Oleh karena itulah dia bergegas untuk memberi. Jadi, jelas bahwa kelezatan memberi baginya terasa lebih tinggi dari kelezatan-kelezatan inderawi dan keinginan-keinginan hewani.

4.        Demikian juga manusia yang berjiwa besar dan mulia, di akan memilih lapar dan haus untuk menjaga harga dirinya, dan pada medan perang, ketika terdengar ajakan untuk menyerang dia akan menganggap ketakutan terhadap kematian dan kebinasaan mendadak merupakan sebuah persoalan yang sangat sepele.

5.        Bisa jadi pula, untuk sebagian pasukan perang, karena penghargaan dan pujian telah memberikan kelezatan dan kenikmatan yang tak terkira, hal ini telah menyebabkan mereka menyambut hal-hal yang berbahaya tanpa pikir panjang dan mereka akan segera menyerang ke arah musuh. Mereka mendahulukan kelezatan kebanggaan setelah mati dari pada kehidupan yang rendah.

Contoh-contoh di atas, menunjukkan bahwa kelezatan-kelezatan inderawi bukan merupakan hal yang paling ideal bagi manusia, karena kadangkala manusia menggunakan kelezatan-kelezatan inderawi tersebut sebagai alat untuk mencapai kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, apa yang ada di dalam benak masyarakat umum tentang kelebihan kelezatan inderawi merupakan persoalan hakiki manusia yang tidak mereka ketahui, dan mereka hanya menyarikan manusia dalam mekanisme natural dan alam materi saja. Ibnu Sina juga menisbahkan pernyataan yang serupa dalam anggapan keliru masyarakat umum, yaitu metode tafakkur semacam ini beranjak dari khayalan rendah, karena apa yang menguasai mekanisme berpikir masyarakat umum adalah khayalan bukan rasionalitas. Sebagaimana khayalan juga menguasai dunia hewan. Hanya saja, perbedaan yang jelas antara manusia yang terletak pada tingkatan ini dengan hewan adalah manusia memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan dan mereka bisa bergerak ke arah kesempurnaan insani, meskipun selama mereka belum berada pada perjalanan insani dan kesempurnaan insani, hanya khayalanlah yang akan menguasainya, mereka tidak akan mendapat manfaat dari akal teoritis dan kelezatan akal. Kodrat khayalan manusia ini adalah mereka memegang dan mengatur persoalan-persoalan dunia, duduk, bangkit, melakukan transaksi dan lain sebagainya. Dan ringkasnya, manusia ini tak lebih hanya sebagai pemuas potensi-potensi inderawinya. Oleh karena itu, kelezatan inderawi bukan saja tidak lebih kuat dan lebih tinggi dari kelezatan-kelezatan yang lain, bahkan kelezatan ini merupakan kelezatan yang paling rendah jika dibandingkan dengan kelezatan-kelezatan lainnya.

Sebenarnya jika manusia yang mampu melesak dari mekanisme inderawi dan khayalan, melihat dirinya terpenjara dalam kerangka tubuh, maka sebenarnya harus diketahui bahwa tidak saja dia telah dicengkeram oleh kekuatan hewani dan setani dimana cakar dan giginya telah memasuki jantung dan meresap ke dalam jiwanya, bahkan hawa nafsunya pun telah mengikat erat tangan, kaki, mata dan telinganya. Dalam keadaan ini, maka dia harus secepatnya menyelamatkan diri dari perangkap yang melingkupinya dengan cara semakin mendekatkan diri kepada para wali-wali Ilahi dan memberikan perhatian yang penuh pada dirinya sendiri, lalu melepaskan diri dari penjara tubuh untuk terbang ke arah alam insani.

Perubahan dan Kesempurnaan

          Insan berada pada lintasan yang terletak di antara dua kutub positif dan negatif. Menghadap ke satu arah artinya membelakangi arah lainnya. Mendekati salah satu kutub akan berarti menjauhi kutub yang lainnya. Dengan perkataan lain, semakin dia mendekati alam tabiat dan jasmani maka sejauh itu pulalah dia telah menjauhi alam spiritual dan Ilahi, persis dengan tolok ukur tersebut, mensucikan diri dari pengaruh alam materi, akan senantiasa diiringi dengan kebersihan ruh, pertumbuhan, dan kesempurnaan spiritual. Menjadi jelas bahwa berkumpulnya dua kutub positif dan negatif adalah mustahil, hal ini sama dengan kemustahilan berkumpulnya dunia dan akhirat secara bersamaan.

          Dalam salah satu ayat-Nya, Allah swt berfirman, “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”[7]

          Sebelum ini kami telah mengatakan bahwa seiring dengan semakin jauh dari satu kutub akan diikuti dengan semakin dekatnya ke kutub yang berlawanan. Tentang masalah ini, saya teringat dengan cerita yang biasa dikatakan oleh sebagian ulama besar kepada murid-muridnya. Suatu hari aku kehilangan sebuah cincin, dan aku menghabiskan beberapa waktu untuk mencarinya. Persis pada saat aku tengah mengkonsentrasikan diriku untuk pekerjaan ini, tiba-tiba muncul pikiran dalam benakku, kenapa aku bisa sedemikian mencintai sesuatu sehingga waktuku terbuang sia-sia untuk itu, sedangkan hal ini tidak layak bagiku. Jadi, aku menghentikan pencarian cincin itu sejak saat itu juga. Lalu aku berwudhu dan menyibukkan diri dengan belajar di perpustakaan.

          Hari itu aku merasakan adanya cahaya dalam diriku, aku mampu menyelesaikan sebuah tema ilmiah dengan sangat cepat dan pada waktu yang singkat aku telah mampu mempelajari dan menyelesaikan begitu banyak problem dan tema yang ada di dalam kitab dan jadilah aku mengetahui bahwa dengan meletakkan urusan dunia dan menggantikannya dengan memusatkan perhatian pada pelajaran, Tuhan telah memberikan taufik padaku, dimana dalam waktu yang demikian singkat aku telah berhasil mengambil manfaat terpenting dari sebuah ilmu.

Sebuah Catatan

Apabila mereka menganggap dunia sebagai sebuah hal yang negatif, di saat itulah ketika dunia dianggap sebagai satu-satunya tujuan, hal ini akan menyebabkan jauhnya diri dari Tuhan dan seluruh kesempurnaan manusia, dan menjadi penghambat bagi perkembangan serta kesempurnaan spiritual manusia, akan tetapi apabila dunia yang sama dimanfaatkan dengan cara yang benar dan pemanfaatannya kita letakkan dalam garis perkembangan dan kesempurnaan manusia, bukan saja dunia ini tidak negatif, bahkan dunia bisa menjadi media pertumbuhan dan faktor dasar bagi gerak manusia menuju tujuan penciptaan manusia yaitu Tuhan.

Metode Memanfaatkan Kelezatan

          Apabila telah dikatakan bahwa manusia memiliki kelezatan-kelezatan inderawi, instink, dan khayal, sekarang harus dikatakan bahwa larut dalam kelezatan-kelezatan ini akan menjadi penghalang untuk sampai kepada kesempurnaan manusia dan kelezatan akal. Kami harus pula mengingatkan tentang poin berikut bahwa memanfaatkan setiap kelezatan-kelezatan ini, bukan berarti akan menghalangi perkembangan dan kesempurnaan manusia, melainkan mencukupkan diri di dalamnya yang akan menghalangi manusia untuk mencapai kesempurnaan yang seharusnya layak dia peroleh. Jadi manusia bisa mengambil manfaat dari seluruh kelezatan-kelezatan ini, dan pada saat yang sama dia harus melangkah pada lintasan kelezatan yang benar yaitu kelezatan akal dan kesempurnaan manusia.

Tentunya hal ini akan terjadi ketika seluruh potensinya, baik yang berbentuk amarah, syahwat, dan khayalan berada di bawah kontrol dan pengawasan dari potensi akal, yaitu pada saat manusia sampai pada tingkatan akal, seluruh potensinya dia kerahkan untuk berjalan ke arah kesempurnaan manusia, potensi yang sama yang sebelum ini menghalangi jalannya, setelah ini dan selanjutnya akan menyediakan media bagi pertumbuhan menyempurnanya dan akan mendorong munculnya gerakan yang lebih baik baginya. Perjalanan kesempurnaan semacam ini, bukan saja tidak menjadi penghalang, bahkan akan mendorong dan membimbing manusia menuju jalan kesempurnaan. Sebagai contoh, Rasulullah saww menjalani kehidupannya di antara para penduduk dengan membentuk kehidupan berkeluarga, beliau juga melakukkan perdagangan dan bersosialisasi dengan masyarakat, sedemikan sehingga keluhuran akhlak dan budi pekerti beliau menjadi pembicaraan dalam al-Quran, “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”[8]. Beliau selain memanfaatkan karunia alam natural ini juga mengarahkan pandangannya pada titik kulminasi kesempurnaan manusia.

          Ketika seluruh potensi manusia berada di bawah kekuasaan akal, dengan kepemimpinan akal ini, semua potensi ini akan berubah menjadi bentuk-bentuk yang aktual, akal juga akan merubah perjalanan dan tujuan kehidupan, dan seluruh persoalan besar dan kecil akan terwarnai dengan pandangan Ilahi.

          Ibnu Sina pada bab ke sembilan kitab Isyarat, mengatakan bahwa orang arif dalam kehidupannya memiliki kedudukan dan derajat tersendiri, dimana hal ini hanya terjadi pada kalangan mereka dan orang lain tidak akan bisa memahami kedudukan dan derajat tersebut. Mereka seakan mengenakan pakaian ruh dan tinggal di alam materi, mereka terlepas dari seluruh pengaruh alam materi dan terlepas dari seluruh aturan pemerintahan tubuh serta bergerak ke arah alam kudus. Seseorang yang tidak mengetahui derajat semacam ini akan mengingkarinya dan mereka yang mengetahuinya akan mengangapnya sebagai sebuah persoalan yang besar dan agung.

Untuk untuk sampai pada kesempurnaan dan kelezatan-kelezatan akal, manusia harus meletakkan potensi dan kelezatan-kelezatan yang berderajat rendah dalam bimbingan dan riyadhah. Langkah pertama dalah melatih khayal, amarah, dan syahwat, lalu perlahan-lahan menarik mereka di bawah pemerintahan akal dan mengalihkan perhatiannya dari dunia yang menipu ini untuk menuju ke arah alam Ilahi. Dalam keadaan ini, akan terjadi keseimbangan antara potensi instink, amarah, syahwat, dan khayal dimana tidak ada satupun dari mereka yang bertentangan dan mengganggu perjalanan akal. Nantinya, potensi-potensi tersebut bukan saja tidak akan mengganggu akal dan menghalangi manusia untuk sampai pada kesempurnaannya, bahkan karena telah merupakan sahabat yang seia sekata, mereka akan senantiasa menyertai akal dan sebagaimana kendaraan mereka akan menuruti kemauan akal.

Di sinilah kemudian akan muncul pancaran suci Ilahi pada diri orang ini, dimana amarah, syahwat, dan khayalannya telah berhasil dia gunakan untuk menuju ke jalan kesempurnaan insani dan pemerintahan Ilahi. Allah mencintai hamba-Nya yang ikhlas, yaitu yang meletakkan amarah dan syahwatnya dalam mekanisme akal. Kita mengetahui bahwa kodrat khayal manusia mempunyai lingkup yang sangat luas dari kodrat badan dan materi dimana kodrat ini tak akan pernah memiliki kemampuan untuk mewujudkan pengetahuan-pengetahuan khayal tersebut ke alam eksternal.

Perbuatan Manusia

Manusia dalam setiap amal dan perbuatan ikhtiari membutuhkan pendahuluan-pendahuluan dimana selama mukadimah-mukadimah ini atau salah satu dari mukadimah-mukadimah ini ditinggalkan, maka perbuatan dan prilaku tersebut tidak akan bisa terlaksana. 

1.       Tingkatan pertama adalah tingkatan dzat, dimana seseorang dalam tingkatan ini mencakup seluruh tingkatan yang ada. Tingkatan tersebut seluruhnya tercakup dalam dzat manusia. Seperti seorang ilmuwan yang memiliki keahlian dalam berbagai cabang ilmu, ketika tengah sibuk bercakap dengan anaknya dengan nada kekanak-kanakan, dia akan berbicara sesuai dengan tingkat pemahaman anaknya dengan bahasa kekanak-kanaknya tersebut. Dalam tingkatan ini, tidak ada satupun dari kesempurnaan ilmunya yang tertampakkan, yaitu meskipun dia mengetahui tentang filsafat, fisika, dan perbintangan dia tidak akan memperhatikan hal-hal tersebut.

2.       Setelah itu, perhatian dzat kepada kesempurnaan. Dalam tingkatan ini, manusia memiliki perhatian umum kepada kesempurnaan. Sebagai contoh, ilmuwan ini memperhatikan dirinya sebagai seorang yang berilmu, akan tetapi dia tidak memperhatikan keilmuannya secara mendetail.

3.       Tingkatan ketiga, perhatian yang mendetail kepada kesempurnaan. Sebagai contoh, ilmuwan ini memperhatikan dirinya yang sebagai seorang insinyur, filosof, atau ahli hukum.

4.       Dalam tingkatan keempat, perhatiannya kepada kesempurnaan tertentu. Contoh, perhatian khusus ilmuwan ini kepada ilmu matematikanya dan tingkatan pengetahuannya terhadap ilmu matematika.

5.       Tingkatan kelima, ilmuwan ini memusatkan konsentrasinya dalam masalah-masalah khusus, misalnya selain dia memperhatikan ilmu matematikanya dia juga memperhatikan pembahasan aljabar secara khusus.

6.       Tingkatan keenam, adalah tingkatan dimana misalnya selain dia memperhatikan ilmu aljabar, dia juga memberikan perhatiannya tentang masalah persamaan atau equivalen.

7.       Tingkatan ketujuh, adalah memberikan perhatian kepada masalah khusus dari persamaan, seperti memperhatikan bahwa equivalen dari 2×10 = 5×4.

8.       Tingkatan kedelapan yaitu pengungkapan tentang manfaat dan kerugian suatu masalah. Dalam tingkatan ini, seseorang akan berpikir tentang apakah masalah ini perlu diungkapkan, ataukah tidak ada kebaikan untuk mengatakannya dan sementara harus berdiam diri.

9.       Pada tingkatan kesembilan, memilih untuk mengungkapkan, yaitu seseorang memastikan bahwa mengungkapkan masalah akan lebih baik.

10.   Tingkatan kesepuluh, keinginan untuk menyampaikan atau mengungkapkan.

11.   Tingkatan kesebelas, kehendak kuat untuk mengungkapkan.

12.   Tingkatan keduabelas, memberikan perintah kepada seluruh indera, yaitu memberikan perintah kepada tangan untuk menulis atau memberi perintah kepada lidah untuk berkata.

13.   Tingkatan ketigabelas, terwujudnya perbuatan nyata, misalnya menggerakkan tangan untuk menulis di atas kertas.

Poin yang penting untuk diperhatikan di sini adalah, tidak ada satupun dari perbuatan manusia yang akan terwujud tanpa melewati tingkatan-tingkatan tersebut, meskipun misalnya mereka mampu melewati tahapan itu dengan proses yang sangat cepat. Mungkin Anda tidak percaya, seorang pelari yang mampu berlari dengan sangat cepat dan dalam setiap detiknya mampu berlari dalam beberapa langkah, dalam setiap langkahnya dia telah melewati ketigabelas tingkatan di atas, dan apabila pada salah satu langkahnya dia tidak melakukan salah satu dari pendahuluan-pendahuluan tersebut, maka pelari tersebut akan segera menghentikan langkahnya. Apabila kita misalkan dia mengalami keraguan dalam sesaat dan tidak mengetahui langkah selanjutnya mempunyai manfaat ataukah tidak, pasti dia tidak akan mengambil langkah selanjutnya.

Dalam seluruh perbuatan ikhtiari, setelah memilih dan melakukan, di dalam jiwa manusia akan mengalami aksi dan reaksi semacam ini. Pada amal dan perbuatan yang terpuji, sejak mulai berfikir hingga saat mengamalkan, di dalam jiwa manusia akan muncul gerakan menanjak dari mekanisme alam materi ke arah alam malakuti insani, manusia pada tingkatan amal ini hingga batas keikhlasannya, akan semakin mendekati alam malakut dan inilah makna ayat yang berfirman, “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya, kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh”[9], sebagaimana yang terjadi dalam perbuatan dan amalan yang tercela, yaitu sejak berfikir hingga saat dia menyentuhkan tangannya untuk melakukan perbuatan yang tercela, di dalam dirinya terdapat badai buruk yang akan menggoncangkan pikirannya ke kanan dan ke kiri hingga dia melakukan perbuatan-perbuatan tercela.

Apabila di dalam diri manusia terdapat suatu keyakinan dan pandangan yang keliru dan sesat, maka akan jatuh ke jurang yang terendah dan akan terwarnai dengan perbuatan-perbuatan yang aib dan tercela, dia akan tetap tinggal pada derajat terendah ini hingga dia meluruskan keyakinannya. Namun ketika hanya melakukan yang perbuatan buruk dan tercela yang tidak disebabkan oleh suatu kepercayaan sesat, maka dalam batasan prilaku tercela itu, akan menjauhkannya dari darajat insani.[]



[1] . Yakni mensyaratkan diri atas amal dan perbuatan tertentu.

[2] . Yakni amal yang disyaratkan untuk dikerjakan secara rutin dan istiqomah dikontrol secara terus menerus dari sisi kuantitas dan kualitasnya.

[3] . Yakni senantiasa menghisab diri setiap hari sebelum tidur atas segala perbuatan yang dikerjakan sepanjang hari.

[4] . Rujuk, Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 3, poin ke delapan, hal. 346.

[5] . Al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 3, hal. 345.

[6] . Syarh al-Isyarat, jilid ketiga, hal. 334-335.

[7] . Qs. Al-A’la: 16.

[8] Qs. Al-Qalam: 4.

[9] . Qs. Al-Fathir: 10.

Tulisan ini pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com

Wujud Bernama Manusia [3]

Sebuah Kenangan

          Penulis teringat suatu peristiwa yang terjadi di salah satu perguruan tinggi. Salah satu dari anggota komisi ilmiah yang ada di universitas ini mengatakan, ketika kami menganalisa manusia secara cermat, kami menemukan bahwa struktur dan mekanisme tubuh manusia memberikan jawaban sempurna terhadap seluruh pertanyaan kami, yakni melakukan analisa dan telaah terhadap aksi dan reaksi yang terjadi di dalam tubuh, menjadi jelas bagi kami faktor-faktor penyebab munculnya seluruh aktivitas, prilaku, kecenderungan-kecenderungan, instink, dan keadaan lain yang dimiliki oleh manusia. Melalui penelitian ini, kami mampu memahami kenapa manusia bisa marah, bisa menumpahkan kasih sayangnya kepada orang-orang yang dicintainya, bisa gembira, dan bisa bersedih. Bagaimana dia bisa menjadi orang yang jahil atau berilmu, bisa berfikir, dan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Dan dari sini kamipun mengetahui apa aksi dan reaksi yang bisa diterima di dalam otak setelah manusia memiliki pengetahuan. Ringkasnya, struktur tubuh dan mekanisme alami tubuh manusia, berada dalam kedudukan yang mampu memberikan jawaban untuk seluruh pertanyan-pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, tidak diperlukan lagi pembuktian terhadap adanya satu wujud non-materi bernama ruh dan jiwa untuk manusia.

          Ketika melihat orang ini yang memiliki pengenalan salah mengenai manusia, tak ada cara lain kecuali harus membuka pembahasan dan saya berkata, “Tuan, apakah benar bahwa seluruh hakikat manusia bisa diketahui hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan saja? Apakah seluruh pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan akan muncul dari manusia hanya terbatas pada beberapa pertanyaan Anda tersebut? Dan tidak ada pertanyaan yang lainnya? Bisa jadi terdapat pertanyaan yang jawabannya tidak bisa kita temukan dari mekanisme natural tubuh manusia. Selain itu, apa yang Anda nyatakan telah Anda temukan dari mekanisme tubuh, apakah benar-benar merupakan jawaban dari pertanyaan Anda ataukah hanya merupakan premis dan pendahuluan untuk sebuah jawaban, dan Anda menyangka bahwa Anda telah menemukan jawabannya. Sekarang saya juga mempunyai beberapa pertanyaan dan hendaklah Anda menjawabnya dengan metode analisa aksi-reaksi atas struktur tubuh manusia sebagaimana yang telah Anda pergunakan.

Pertanyaan pertama, seluruh manusia yang teis dan ateis akan menganggap dirinya sebagai manusia yang ideal dan besar karena merasa mempunyai keseimbangan dalam mengontrol kecenderungan-kecenderungan tubuh, keinginan-keinginan jiwa dan syahwat hewaninya, sementara pada sisi lain terdapat pendosa-pendosa dan penyembah hawa nafsu pada semua tempat. Apabila manusia hanyalah ibarat sebuah badan, maka baginya tidak ada kesempurnaan yang lebih tinggi selain memberikan jawaban positif pada seluruh kecenderungan dan syahwatnya. Jika manusia tidak memiliki dimensi lain selain dimensi materi dan hewaninya, lalu kenapa fitrah seluruh manusia memberi kesaksian bahwa dengan semakin tidak memperhatikan kecenderungan dan syahwat miliknya, dia akan semakin sempurna? Sementara apabila manusia hanya menyimpulkan dirinya dalam tubuh materi dengan seluruh kecenderungannya, berarti manusia yang sempurna dan beruntung adalah mereka yang lebih memperhatikan keinginan-keinginannya tersebut lalu menjaga dan memenuhi tuntutannya hingga batasan yang memungkinkan. Semakin ia bisa memuaskan keinginan hawa nafsunya, seharusnya dia menjadi manusia yang semakin sempurna dan semakin berhasil. Dengan demikian, tidak ada lagi hukuman dan denda untuk pelaku setiap pengkhianatan dan kejahatan, karena dengan melakukan hal tersebut niscaya seorang manusia telah sempurna dan ideal secara mutlak. Sama sekali tidak akan menghindari tuntutan syahwat dan kecenderungan tubuh, karena hal ini akan membahayakannya dan tak menyempurnakannya. Dengan demikian, apabila terdapat orang yang tidak melakukan dosa dan tidak memuaskan keinginan alaminya sebaliknya dia akan mengontrol dirinya dalam hal-hal tersebut, dia malah akan menjadi orang yang tak sempurna, lemah, dan tak memiliki kekuatan. Akan tetapi kita lihat, tidak ada satupun manusia yang meyakini celoteh batil ini, bahkan mereka mengatakan bahwa manusia yang sempurna dan berhasil adalah manusia yang mempunyai kemampuan menyeimbangkan seluruh kecenderungannya dan mampu melawan keinginan hawa nafsunya. Jadi, manusia memiliki hakikat yang lebih tinggi dari tingkatan hewani.

Pertanyaan kedua, kita menyaksikan bahwa begitu manusia melewati usianya yang ke 35, dia akan memiliki mekanisme berfikir dan kontemplasi yang semakin mendalam dan semakin sempurna, padahal dari sini hingga selanjutnya tubuhnya setahap demi setahap akan semakin melemah. Dengan ibarat yang lain, rasionalitasnya akan semakin kuat dan pemahamannya akan semakin cermat, akan tetapi tubuh dan mekanisme sel-sel tubuhnya akan semakin mengarah pada kerapuhan dan kelemahan. Sebagai contoh, semakin lanjut usia seorang filosof, maka perkataan yang diucapkannya akan semakin matang dan mendalam. Di sini akan muncul persoalan berikut, apabila hakikat manusia hanya berupa tubuh ini, dengan semakin melemahnya tubuh, berarti pikiran dan kecerdasannya pun akan semakin melemah dan semakin banyak melakukan kesalahan pula, sementara yang terjadi adalah kebalikannya, ilmuwan dan cendekiawan yang jenius dan cerdas, pada usia separoh bayanya tidak bisa lagi dibandingkan dengan masa mudanya, pada usia ini dia telah muncul sebagai orang yang mampu menuangkan ilmu-ilmunya dengan pengetahuan lebih luas dan pemikiran yang lebih mendalam, dan menjadi orang yang semakin diyakini pendapat, gagasan, konsep, dan pemikirannya.

Pertanyaan ketiga, kita melihat pelajar-pelajar pada tingkat sekolah dasar akan mempelajari persoalan-persoalan matematik yang sederhana. Misalnya,  mempelajari bahwa 2×2 = 4, tahun demi tahun terlewati, dan subyek ini tetap ada secara permanen pada diri mereka dan tidak terjadi sedikitpun perubahan, apabila tujuh puluh tahun kemudian ditanyakan dua kali dua berapa hasilnya, maka mereka akan mengatakan jawabannya dengan cepat. Akan tetapi dari sisi lain, kita mengetahui bahwa tubuh pada setiap tujuh tahun akan mengalami perubahan secara total bahkan unsur-unsur pertama yang terdapat pada sel-sel otak pun akan mengalami perubahan. Apabila manusia hanya didefinisikan sebagai mekanisme tubuh natural dan sel-sel material, dengan berlalunya masa dan dengan terjadinya perubahan pada setiap sel-sel yang dimilikinya, maka pasti segala ingatan dan kenangan-kenangannya pun akan mengalami perubahan pula, lalu kenapa yang terjadi tidaklah demikian? Begitu banyak kenangan kanak-kanak dan pengetahuan-pengetahuan awal yang tetap melekat erat hingga akhir hayat seorang manusia.

Jadi, bisa terjelaskan dengan baik bahwa manusia memiliki dimensi non-materi dan metafisika yang akan menjaga seluruh bentuk ilmu, pengetahuan, dan kenangan yang ada di dalam benaknya, sedemikian hingga tidak ditemukan sedikitpun cacat dan kelemahan pada mereka, meskipun terjadi perubahan-perubahan pada sel-sel tubuh. Bahkan kadangkala kita melihat bahwa peristiwa atau kenangan yang telah terlupakan akan kembali teringat dengan mengutarakan konteks-konteks tertentu, hal ini akan menjelaskan dengan baik bahwa sebenarnya persoalan-persoalan yang telah terlupakan tetap terjaga dalam lembaran jiwa manusia dan tidak mengalami sedikitpun perubahan.

Wejangan Alamah Thabathabai

          Ketika seseorang bertanya tentang tahapan-tahapan makrifat dan perjalanan spiritual, Alamah Thabathabai ra mengungkapkan tiga pesan pentingnya, yaitu musyarathah[1], muraqabah[2] dan muhasabah[3]. Berkata, pada awal hari kita harus mempersiapkan diri sedemikian rupa supaya senantiasa mampu menjaga diri dari khayalan-khayalan nafsu dan bisikan setan, lalu mensyaratkan diri misalnya hari ini aku harus berusaha sedemikian rupa menjaga diriku supaya tidak melakukan hal-hal yang melawan keridhaan dan perintah-Nya dan harus bertekad untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan aib dan tercela, dan setelah keputusan awal ini, pada awal hari kita harus memegang kuat-kuat apa yang telah kita syaratkan untuk diri kita sendiri selama sehari penuh hingga mampu menyelesaikannya dengan baik. Alamah melanjutkan, yang kedua adalah muraqabah, yakni perbuatan yang senantiasa terjadi antara dua pihak secara timbal balik, yaitu Tuhan akan menjagamu dan kamupun harus menjaga perintah-Nya dan melakukan segala sesuatu sesuai kehendak dan keridhaan-Nya. Setelah melewati kedua tahapan ini, kini sampai pada tahapan ketiga yaitu muhasabah, dengan makna bahwa pada saat-saat terakhir disetiap hari kita mencoba memikirkan kembali segala gerak dan perbuatan yang telah kita lakukan sepanjang hari, memperhatikan sesaat demi sesaat yang telah terlalui, bertanya, dan melihat pada diri sendiri, apa yang telah dihasilkannya hari ini dengan hilangnya aset penting dari tangannya. Pada tahapan ini, dengan ketelitian dan kecermatan penuh dia harus memperhatikan aktivitas, kedatangan, kepergian, duduk, makan, percakapan, tulisan, dan ringkasnya seluruh gerak dan perbuatan yang telah dia lakukan, lalu memisahkan yang baik dari yang buruk. Setiap kali menemukan perbuatan tak pantas, beristighfar dan memohon ampunan dari-Nya, dan bertekad untuk mengubahnya, dan setiap kali melihat keberhasilan senantiasa mengucapkan syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

          Alamah berkata, orang yang melalui hidupnya dengan cara seperti ini, dia akan bertemu dengan berbagai kesempurnaan yang keberhasilannya jarang ditemukan, dan ketinggian ruhani dan spiritualnya tidak bisa dibandingkan dengan seluruh manusia biasa yang tidak melakukan penghitungan dan hisab atas segala amalan dan prilaku hariannya pada setiap malam hari.

Hubungan Makrifat Diri dan Makrifat Kesempurnaan

          Setiap benda secara khusus memiliki kesempurnaannya sendiri. Untuk membedakan kesempurnaan setiap benda maka kita harus mengenal dan mengetahui hakikat benda tersebut. Demikian juga untuk mengetahui kesempurnaan manusia, harus pula dilakukan melalui pengenalan dan makrifat diri manusia secara utuh dan komprehensif. Seseorang bisa menyatakan dirinya mampu mengetahui setiap titik kulminasi dan kesempurnaan manusia dengan baik, ketika dia memiliki makrifat menyeluruh, benar, dan mendetail tentang manusia. Jadi, mengenal manusia secara hakiki berarti mengenal kesempurnaannya secara hakiki pula. Selama manusia belum mengenal dirinya dengan benar berarti dalam menentukan kesempurnaan dirinya pun akan mengalami kesalahan, dan kadangkala dia akan menempatkan ketaksempurnaan dan kekurangan pada posisi kesempurnaan dan kebahagiaan. Orang yang tidak mengenal dirinya, dia tidak akan mengetahui apa-apa tentang kesempurnaannya. Mereka yang sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di luar jasmaninya dan menganggap segala yang berada di bawah kekuasaan kecenderungan-kecenderungan alami dan keinginan syahwatnya sebagai suatu kesempurnaan, maka sebenarnya dia tidak berhasil, dan akibatnya, dia tak lebih dari seekor binatang yang berbulu halus dan memakan rumput-rumputan berkualitas unggul. Orang semacam ini tak lain adalah mereka yang tidak mengenal dirinya dan memilih mengenal selain jiwanya serta meletakkan kecenderungan materi pada tempat dimana seharusnya dia meletakkan keinginan jiwa hakikinya. Oleh karena itu, manusia yang lalai terhadap jiwanya, sama sekali tidak akan pernah menggapai kesempurnaan dan kebahagiaan.

Alienasi Manusia Modern

          Manusia pada masa modern ini telah kehilangan jati dirinya. Dia telah meletakkan dirinya pada wilayah yang tak bisa tergapai dan hakikat dirinya tetap tersembunyi di balik tirai kejahilan dan kebodohan. Dikarenakan manusia tidak mengenal dirinya sendiri, maka dia melakukan kesalahan dalam menentukan kesempurnaan hakiki. Mereka hanya mengenal dirinya sebatas tubuh kasar dan menyangka bahwa seluruh kebahagiaannya terletak pada semakin banyaknya dia memperhatikan tubuh dan memenuhi keinginan-keinginan rendah tubuh.

Dengan alasan inilah, banyak yang mendefinisikan kebahagiaan dan kesempurnaan manusia sebagai, tidur yang baik, pola dan menu makanan yang baik, tempat piknik yang sesuai, rumah besar, mobil indah, dan pernik-pernik kehidupan materi lainnya, dimana untuk menggapai ide-idenya ini manusia tidak akan segan-segan untuk mencampakkan kasih sayang, toleransi, rasionalitas dan menggantikannya dengan kekerasan, dan tanpa mempertimbangkan baik atau buruknya segala perbuatan yang dilakukannya, dia telah membuat jurang yang terjal dan berbahaya bagi jasmani dan jiwanya sendiri, dan sesuatu yang mempunyai nilai penting baginya hanyalah realitas materi yang manfaat.

Sebagai misal, pada zaman perang Irak-Iran, terlihat orang-orang yang bukan warga negara Irak telah menjadi pilot yang disewa oleh Irak. Mereka membombarder kota-kota Iran dengan imbalan uang yang tak terkira banyaknya. Sekarang, jika orang semacam ini membuat istana, membeli mobil, dan vila dengan uang yang dihasilkannya, apakah dia bisa dikatakan sebagai manusia yang berbahagia dan telah sampai pada kesempurnaan? Apakah dia bisa dikatakan sebagai orang yang berhasil dan sukses?

          Ya, bisa jadi orang yang tidak mengenal manusia dan kesempurnaannya, menganggap persoalan-persoalan tak berharga seperti ini sebagai sebuah kesempurnaan, dan dia sama sekali tidak akan bertanya kepada pemilik segala kemewahan ini tentang sumber dan asal seluruh harta dan kekayaan yang telah dia hasilkan. Akan tetapi orang yang mengenal hakikat manusia dan kesempurnaannya, dia hanya akan menganggap harta benda dan materi sebagai sebuah kekayaan yang berharga dan bermanfaat ketika mengantarkannya kepada kemuliaan dan kebahagian hakiki dan sesuai dengan martabat suci manusia.

Kelezatan Manusia

          Ibnu Sina dalam kitab Isyarat wa Tanbihat, mendeskripsikan kelezatan manusia dalam satu pembagian universal, yaitu syahwat, amarah, imajinasi, dan rasio.

Kelezatan syahwat adalah kelezatan tertentu yang dirasakan oleh salah satu organ tubuh manusia. Sebagai contoh, lidah merasakan manis dan langit-langit mulut akan menikmati kelezatannya. Kelezatan adalah sebuah perolehan dan pencapaian. Kelezatan perolehan ini, kadangkala dihasilkan oleh organ lidah yang melakukan aksi dan reaksinya pada permukaan lahiriah lidah sehingga kemudian manusia memahami rasa tertentu, akan tetapi kadangkala pula rasa tertentu ini dirasakan oleh manusia tanpa perantara organ materi lidah, melainkan dia mampu merasakan kelezatan tanpa berhubungan dan bersentuhan sama sekali dengan indera perasa. Sebagai contoh, ketika dalam tidurnya manusia bermimpi meminum sirup yang sangat lezat, sebenarnya dia telah merasakan kelezatan ini tanpa menggunakan organ perasa lidah.

Kelezatan-kelezatan syahwat muncul dari selera-selera rendah yang bukan hanya tidak penting bagi manusia, bahkan mungkin akan bisa menjadi penghalang dan pengganggu bagi gerak menyempurnanya. Sebagaimana seseorang yang melakukan aktivitas makan, tidur, dan memenuhi syahwat hewaninya secara terus menerus, akan membuatnya tetap berada pada sumbu hewani secara permanen.

Kelezatan kedua yang berhubungan dengan potensi amarah manusia. Sebagaimana kita ketahui, balas dendam dan kemenangan pada pihak tertentu atau tertimpanya musibah yang menyedihkan bagi musuhnya akan menimbulkan semacam ketenangan dan perasaan lezat bagi pelakunya. Memuaskan potensi amarah ini begitu menariknya sehingga kadangkala mengalahkan kelezatan syahwat dan tak jarang manusia akan mengesampingkan kelezatan syahwatnya dengan alasan untuk memperoleh kelezatan amarah ini, dan bisa jadi bahkan dia akan rela mengorbankan nyawanya dan bergerak hingga ke ambang kematian untuk melampiaskan balas dendam dan kemarahannya.

Kelezatan ketiga yang terkait dengan imajinasi dan khayal adalah yang sebagaimana kelezatan-kelezatan yang mengantarkan orang pada lahirnya sifat-sifat sombong, angkuh, merasa tersohor, memegang kepemimpinan, kekuasaan, dan egois, yang keseluruhannya ini merupakan kelezatan-kelezatan yang sama sekali tidak berhubungan dan tidak bersentuhan langsung dengan tubuh manusia, melainkan berhubungan dengan gairah dan gejolak batin. Dan kelezatan ini jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan kelezatan-kelezatan alamiah tubuh. Dan untuk mendapatkan kelezatan imajinasi ini sering kali terlihat sebagian individu menutup diri dari seluruh kelezatan tabiat dan alami. Misalnya untuk memperoleh kekuasaan, seseorang bisa menutup mata dari makan, minum, dan pemenuhan syahwat-syahwat yang lainnya.

Bagian keempat dari kelezatan ialah kelezatan akal atau rasio. Kelezatan ini sebagaimana kecerdasan, memiliki begitu banyak tingkatan dan derajat. Dimulai dari memanfaatkan ilmu, manisnya melakukan ibadah, jihad, hingga pada mengorbankan jiwa. Dalam keadaan seperti ini, dengan meninggalkan begitu banyak kelezatan dan kecintaan yang lainnya, manusia akan bergerak ke arah Tuhan dan fana dalam penghambaan pada Sang Pencipta alam, lalu dia akan menemukan esensi wujudnya sebagai manifestasi Ilahi dan apa yang diperoleh dari kesempurnaan di dalam dirinya ataupun diluar dirinya semuanya berhubungan dengan kesempurnaan wujud Tuhan.

Tingkatan Kelezatan

          Antara satu kelezatan dengan kelezatan yang lainnya terdapat perbedaan dan tingkatan. Dan ukuran perbedaan masing-masing setara dengan perbedaan substansinya, yaitu perbedaan kelezatan akal dengan kelezatan inderawi terletak pada ukuran kedekatan diri kepada Tuhan ketika mengecap kelezatan itu. Esensi kelezatan hanya bisa dipahami melalui hakikat jiwa, tentunya aksi dan reaksi yang terdapat dalam anggota tubuh merupakan perantara untuk memindahkan kelezatan tersebut kepada jiwa. Sebagai contoh, apabila kita merasakan manisnya gula di langit-langit mulut lalu kita menyukainya, maka gula yang memiliki rasa manis merupakan perantara awal dan lidah merupakan perantara kedua untuk memahami kelezatan lahiriah tersebut.

          Kelezatan-kelezatan manusia dan untuk memperoleh nya harus dilakukan dengan memanfaatkan beberapa perantara dimana masing-masingnya akan bertindak dengan cepat, namun kesibukan jiwa dan perhatian manusia pada dimensi yang lain akan menyebabkan jiwa manusia tidak mampu menggapai kelezatan tanpa melalui perantara. Oleh karena itu, terdapat perantara dan penghalang supaya pesan terkirim ke otak dan akan terjadi aksi dan reaksi yang beragam supaya kelezatan bisa diraih secara maksimal dan sempurna. Perantara-perantara ini akan melemahkan pencapaian kelezatan dan semakin banyak perantara maka akan terdapat hijab dan penghalang perolehan kelezatan yang semakin besar pula, dan sebaliknya apabila perantara semakin berkurang, maka perolehan kelezatan akan yang lebih jelas dan berkualitas. Meskipun tanpa perantara pun sebagian dari kualitas-kualitas tersebut akan bisa ditemukan dan pencapaian kelezatan ini akan menjadi lebih jernih, sebagaimana seseorang yang berada pada alam mimpi, ketika dia meminum sirup atau memakan sesuatu, maka kelezatan yang diperolehnya terasa lebih tinggi dari kelezatan ketika dia makan dan minum sesuatu dalam keadaan sadar, dan baginya perolehan kelezatan tanpa perantara materi jauh lebih kuat dan lebih memikat.

Kelezatan Khayal dalam Pandangan Ibnu Sina

          Abu Ali Sina dalam kitab Isyarat wa Tanbihat[4] dalam pembahasannya tentang kelezatan khayal manusia, menganggap kelezatan ini sebagai sebuah pengaruh dari munculnya keinginan, harapan, dan permintaan hawa nafsu manusia, dengan makna bahwa dalam anggapan manusia ini begitu banyak ide dan harapan yang menurutnya berharga, lalu dia menyangka apabila harapan tersebut terwujud di alam luar, maka dia akan mendapatkan begitu banyak kebahagiaan, kesuksesan dan kesempurnaan. Sebagai contoh, seseorang yang menginginkan jabatan, kekuasaan, kehormatan, dan kepribadian yang tinggi, apabila suatu hari harapannya terwujud, maka kelezatan yang dihasilkan oleh kekuasaan dan jabatan tersebut merupakan kelezatan khayalan.

Manusia ini telah terikat dan tertarik pada sesuatu yang tidak benar-benar dia miliki secara hakiki, dengan makna apabila suatu hari kepribadian khayalan tersebut terambil darinya, maka dia akan kembali menjadi individu yang sebelumnya, yang secara pasti telah melewati umurnya tanpa menemukan sedikitpun perkembangan signifikan dalam umur yang telah terlewati tersebut. Dia tak lain adalah orang yang terkena musibah dan malapetaka besar, karena seluruh kekuasaan dan jabatan itu tidak akan memberikan kesempurnaan hakiki dalam dirinya. Hal ini merupakan kebalikan dari kelezatan akal yang akan kami bahas setelah ini.

Akan tetapi kelezatan-kelezatan inderawi, sebagaimana makan, tidur, memuaskan instink alami, apabila pelampiasan ini hanya bertujuan untuk hidup dan bahkan tujuan hidup untuk makan dan minum serta tak ada tujuan lain selain memuaskan keinginan alami, manusia ini meskipun akan menemukan manfaat-manfaat alami tubuh, akan tetapi harus diketahui bahwa kelezatan-kelezatan tersebut merupakan kelezatan-kelezatan hewani yang memiliki tingkatan lebih rendah. Manusia seperti ini tidak akan pernah mengeluarkan kepalanya dari tubuh hewaninya dan tidak memiliki informasi sedikitpun tentang alam insani, dia tetap tinggal dalam batasan kehewanannya, dan seluruh jerih payahnya hanya berada pada batasan-batasan hewan tersebut.

Manusia semacam ini telah meletakkan dirinya untuk berhidmat pada tingkatan hewani dan melupakan atau mengesampingkan tingkatan insaninya sendiri. Jalan yang dia pilih ini sama sekali tidak akan pernah mengantarkan seluruh potensi insaninya untuk menjadi sesuatu yang aktual dan menyempurna, dan pada hari kiamat kelak dia tidak akan dibangkitkan sebagai manusia. Sekarang pertanyaan yang masih tertinggal adalah bahwa apakah kesempurnaan manusia itu? Dalam jawabannya bisa dikatakan bahwa satu-satunya kesempurnaan yang layak bagi manusia adalah sampainya dia pada kelezatan akal dan rasio.

Meskipun telah dikatakan bahwa kelezatan-kelezatan akal memiliki tingkatan dan derajat yang beragam, paling tingginya kedudukan rasionalitas dan bahkan di atas rasionalitas, tak lain adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Sina, “Kesempurnaan mutlak manusia adalah kesempurnaan akal dan rasionalitas, yaitu cahaya Tuhan memancar ke dalam dirinya dan dia tetap berada dalam kesempurnaan yang mulia dan agung seiring dengan menetapnya pancaran suci Tuhan.”[5]

Tujuan tinggi manusia adalah menggapai penegasan Ilahi dan pancaran taufik-Nya dan melangkahkan kakinya pada tingkatan tinggi ini, jika hal ini dicapai berarti ia telah meraih seluruh keberhasilan manusia dan tidak ada satupun martabat atau kedudukan yang sesuai dan lebih tinggi baginya.

Pada tingkatan ketuhanan ini, manusia akan menghadapkan wajahnya ke arah tak terbatas dan sesaat demi sesaat dari umurnya merupakan gerakan menuju kesempurnaan.

Pada ufuk tak terbatas ini, seluruh kekuatan dan potensi manusia secara bersamaan akan menuju ke satu arah yang lebih baik dari khayal dan imajinasi. Ini merupakan tujuan tinggi insani dimana mata harus tertutup dari selain-Nya dan hati tak tertambat pada selain-Nya.

Analisa Batasan Kelezatan Inderawi

          Pada pembahasan terdahulu telah kami katakan bahwa kelezatan-kelezatan manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Filosof besar Ibnu Sina pada bab kedelapan kitab Isyarat wa Tanbihat menyinggung khayal dan imajinasi menjadi lima tingkatan dimana kelezatan-kelezatan ini berada di atas kelezatan inderawi. Dan kebanyakan masyarakat meninggalkan kelezatan-kelezatan inderawi karena adanya tarikan-tarikan kelezatan-kelezatan di atas kelezatan inderawi. Dengan hal ini dia hendak membuktikan bahwa kelezatan-kelezatan inderawi memiliki batasan dan bukan kelezatan yang terbaik. Ibnu Sina dalam hal ini menuliskan, “Kalangan awam menganggap bahwa paling tingginya tingkatan kelezatan tak lain adalah kelezatan inderawi, seperti makan, tidur, marah, dan syahwat, sedangkan kelezatan-kelezatan non-inderawi merupakan kelezatan-kelezatan yang rendah.”[6]

          Kemudian Ibnu Sina menyanggah pernyataan di atas dengan menyebutkan contoh-contoh berikut: 

1.        Kadangkala sebagian dari individu-individu ini yang hingga batasan tertentu memiliki kemampuan analisa yang benar dan berkata kepada mereka, bukanlah kalian menganggap bahwa kelezatan-kelezatan inderawi yang paling baik adalah kelezatan-kelezatan seksual, makanan, dan sepertinya? Lalu kenapa kadangkala kita melihat pada sebagian individu yang untuk sampai pada satu kelezatan khayal dia bisa mengesampingkan kelezatan-kelezatan inderawi semacam ini? Misalnya seseorang yang tengah asyik bermain catur, kadangkala keasyikannya telah membuatnya tak sadar bahwa dia telah mengesampingkan makanan dan minuman-minuman lezat yang telah dihidangkan untuknya, dan dia tetap asyik bermain dengan khayalannya sendiri hingga berjam-jam lamanya.

2.        Demikian juga, bisa jadi media untuk memperoleh sebagian dari kelezatan-kelezatan inderawi seperti makanan dan menikah tersedia di hadapan orang yang menginginkan “kesucian” dan kekuasaan, akan tetapi demi menjaga kebesaran dan keuntungannya, dia akan menjauhi kelezatan-kelezatan inderawi tersebut. Baginya menjaga kedudukan dan keuntungan terasa lebih lezat dan lebih sesuai dari pada meraih kelezatan-kelezatan inderawi.

3.        Kadangkala bagi seseorang yang berjiwa pemurah, ketika tiba masa untuk memberi, dia akan lebih memilih kelezatan memberi atas kelezatan sifat hewani, dan dia mendahulukan pihak lain dari dirinya sendiri dalam merasakan kenikmatan. Oleh karena itulah dia bergegas untuk memberi. Jadi, jelas bahwa kelezatan memberi baginya terasa lebih tinggi dari kelezatan-kelezatan inderawi dan keinginan-keinginan hewani.

4.        Demikian juga manusia yang berjiwa besar dan mulia, di akan memilih lapar dan haus untuk menjaga harga dirinya, dan pada medan perang, ketika terdengar ajakan untuk menyerang dia akan menganggap ketakutan terhadap kematian dan kebinasaan mendadak merupakan sebuah persoalan yang sangat sepele.

5.        Bisa jadi pula, untuk sebagian pasukan perang, karena penghargaan dan pujian telah memberikan kelezatan dan kenikmatan yang tak terkira, hal ini telah menyebabkan mereka menyambut hal-hal yang berbahaya tanpa pikir panjang dan mereka akan segera menyerang ke arah musuh. Mereka mendahulukan kelezatan kebanggaan setelah mati dari pada kehidupan yang rendah.

Contoh-contoh di atas, menunjukkan bahwa kelezatan-kelezatan inderawi bukan merupakan hal yang paling ideal bagi manusia, karena kadangkala manusia menggunakan kelezatan-kelezatan inderawi tersebut sebagai alat untuk mencapai kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, apa yang ada di dalam benak masyarakat umum tentang kelebihan kelezatan inderawi merupakan persoalan hakiki manusia yang tidak mereka ketahui, dan mereka hanya menyarikan manusia dalam mekanisme natural dan alam materi saja. Ibnu Sina juga menisbahkan pernyataan yang serupa dalam anggapan keliru masyarakat umum, yaitu metode tafakkur semacam ini beranjak dari khayalan rendah, karena apa yang menguasai mekanisme berpikir masyarakat umum adalah khayalan bukan rasionalitas. Sebagaimana khayalan juga menguasai dunia hewan. Hanya saja, perbedaan yang jelas antara manusia yang terletak pada tingkatan ini dengan hewan adalah manusia memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan dan mereka bisa bergerak ke arah kesempurnaan insani, meskipun selama mereka belum berada pada perjalanan insani dan kesempurnaan insani, hanya khayalanlah yang akan menguasainya, mereka tidak akan mendapat manfaat dari akal teoritis dan kelezatan akal. Kodrat khayalan manusia ini adalah mereka memegang dan mengatur persoalan-persoalan dunia, duduk, bangkit, melakukan transaksi dan lain sebagainya. Dan ringkasnya, manusia ini tak lebih hanya sebagai pemuas potensi-potensi inderawinya. Oleh karena itu, kelezatan inderawi bukan saja tidak lebih kuat dan lebih tinggi dari kelezatan-kelezatan yang lain, bahkan kelezatan ini merupakan kelezatan yang paling rendah jika dibandingkan dengan kelezatan-kelezatan lainnya.

Sebenarnya jika manusia yang mampu melesak dari mekanisme inderawi dan khayalan, melihat dirinya terpenjara dalam kerangka tubuh, maka sebenarnya harus diketahui bahwa tidak saja dia telah dicengkeram oleh kekuatan hewani dan setani dimana cakar dan giginya telah memasuki jantung dan meresap ke dalam jiwanya, bahkan hawa nafsunya pun telah mengikat erat tangan, kaki, mata dan telinganya. Dalam keadaan ini, maka dia harus secepatnya menyelamatkan diri dari perangkap yang melingkupinya dengan cara semakin mendekatkan diri kepada para wali-wali Ilahi dan memberikan perhatian yang penuh pada dirinya sendiri, lalu melepaskan diri dari penjara tubuh untuk terbang ke arah alam insani.

Perubahan dan Kesempurnaan

          Insan berada pada lintasan yang terletak di antara dua kutub positif dan negatif. Menghadap ke satu arah artinya membelakangi arah lainnya. Mendekati salah satu kutub akan berarti menjauhi kutub yang lainnya. Dengan perkataan lain, semakin dia mendekati alam tabiat dan jasmani maka sejauh itu pulalah dia telah menjauhi alam spiritual dan Ilahi, persis dengan tolok ukur tersebut, mensucikan diri dari pengaruh alam materi, akan senantiasa diiringi dengan kebersihan ruh, pertumbuhan, dan kesempurnaan spiritual. Menjadi jelas bahwa berkumpulnya dua kutub positif dan negatif adalah mustahil, hal ini sama dengan kemustahilan berkumpulnya dunia dan akhirat secara bersamaan.

          Dalam salah satu ayat-Nya, Allah swt berfirman, “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”[7]

          Sebelum ini kami telah mengatakan bahwa seiring dengan semakin jauh dari satu kutub akan diikuti dengan semakin dekatnya ke kutub yang berlawanan. Tentang masalah ini, saya teringat dengan cerita yang biasa dikatakan oleh sebagian ulama besar kepada murid-muridnya. Suatu hari aku kehilangan sebuah cincin, dan aku menghabiskan beberapa waktu untuk mencarinya. Persis pada saat aku tengah mengkonsentrasikan diriku untuk pekerjaan ini, tiba-tiba muncul pikiran dalam benakku, kenapa aku bisa sedemikian mencintai sesuatu sehingga waktuku terbuang sia-sia untuk itu, sedangkan hal ini tidak layak bagiku. Jadi, aku menghentikan pencarian cincin itu sejak saat itu juga. Lalu aku berwudhu dan menyibukkan diri dengan belajar di perpustakaan.

          Hari itu aku merasakan adanya cahaya dalam diriku, aku mampu menyelesaikan sebuah tema ilmiah dengan sangat cepat dan pada waktu yang singkat aku telah mampu mempelajari dan menyelesaikan begitu banyak problem dan tema yang ada di dalam kitab dan jadilah aku mengetahui bahwa dengan meletakkan urusan dunia dan menggantikannya dengan memusatkan perhatian pada pelajaran, Tuhan telah memberikan taufik padaku, dimana dalam waktu yang demikian singkat aku telah berhasil mengambil manfaat terpenting dari sebuah ilmu.

Sebuah Catatan

Apabila mereka menganggap dunia sebagai sebuah hal yang negatif, di saat itulah ketika dunia dianggap sebagai satu-satunya tujuan, hal ini akan menyebabkan jauhnya diri dari Tuhan dan seluruh kesempurnaan manusia, dan menjadi penghambat bagi perkembangan serta kesempurnaan spiritual manusia, akan tetapi apabila dunia yang sama dimanfaatkan dengan cara yang benar dan pemanfaatannya kita letakkan dalam garis perkembangan dan kesempurnaan manusia, bukan saja dunia ini tidak negatif, bahkan dunia bisa menjadi media pertumbuhan dan faktor dasar bagi gerak manusia menuju tujuan penciptaan manusia yaitu Tuhan.

Metode Memanfaatkan Kelezatan

          Apabila telah dikatakan bahwa manusia memiliki kelezatan-kelezatan inderawi, instink, dan khayal, sekarang harus dikatakan bahwa larut dalam kelezatan-kelezatan ini akan menjadi penghalang untuk sampai kepada kesempurnaan manusia dan kelezatan akal. Kami harus pula mengingatkan tentang poin berikut bahwa memanfaatkan setiap kelezatan-kelezatan ini, bukan berarti akan menghalangi perkembangan dan kesempurnaan manusia, melainkan mencukupkan diri di dalamnya yang akan menghalangi manusia untuk mencapai kesempurnaan yang seharusnya layak dia peroleh. Jadi manusia bisa mengambil manfaat dari seluruh kelezatan-kelezatan ini, dan pada saat yang sama dia harus melangkah pada lintasan kelezatan yang benar yaitu kelezatan akal dan kesempurnaan manusia.

Tentunya hal ini akan terjadi ketika seluruh potensinya, baik yang berbentuk amarah, syahwat, dan khayalan berada di bawah kontrol dan pengawasan dari potensi akal, yaitu pada saat manusia sampai pada tingkatan akal, seluruh potensinya dia kerahkan untuk berjalan ke arah kesempurnaan manusia, potensi yang sama yang sebelum ini menghalangi jalannya, setelah ini dan selanjutnya akan menyediakan media bagi pertumbuhan menyempurnanya dan akan mendorong munculnya gerakan yang lebih baik baginya. Perjalanan kesempurnaan semacam ini, bukan saja tidak menjadi penghalang, bahkan akan mendorong dan membimbing manusia menuju jalan kesempurnaan. Sebagai contoh, Rasulullah saww menjalani kehidupannya di antara para penduduk dengan membentuk kehidupan berkeluarga, beliau juga melakukkan perdagangan dan bersosialisasi dengan masyarakat, sedemikan sehingga keluhuran akhlak dan budi pekerti beliau menjadi pembicaraan dalam al-Quran, “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”[8]. Beliau selain memanfaatkan karunia alam natural ini juga mengarahkan pandangannya pada titik kulminasi kesempurnaan manusia.

          Ketika seluruh potensi manusia berada di bawah kekuasaan akal, dengan kepemimpinan akal ini, semua potensi ini akan berubah menjadi bentuk-bentuk yang aktual, akal juga akan merubah perjalanan dan tujuan kehidupan, dan seluruh persoalan besar dan kecil akan terwarnai dengan pandangan Ilahi.

          Ibnu Sina pada bab ke sembilan kitab Isyarat, mengatakan bahwa orang arif dalam kehidupannya memiliki kedudukan dan derajat tersendiri, dimana hal ini hanya terjadi pada kalangan mereka dan orang lain tidak akan bisa memahami kedudukan dan derajat tersebut. Mereka seakan mengenakan pakaian ruh dan tinggal di alam materi, mereka terlepas dari seluruh pengaruh alam materi dan terlepas dari seluruh aturan pemerintahan tubuh serta bergerak ke arah alam kudus. Seseorang yang tidak mengetahui derajat semacam ini akan mengingkarinya dan mereka yang mengetahuinya akan mengangapnya sebagai sebuah persoalan yang besar dan agung.

Untuk untuk sampai pada kesempurnaan dan kelezatan-kelezatan akal, manusia harus meletakkan potensi dan kelezatan-kelezatan yang berderajat rendah dalam bimbingan dan riyadhah. Langkah pertama dalah melatih khayal, amarah, dan syahwat, lalu perlahan-lahan menarik mereka di bawah pemerintahan akal dan mengalihkan perhatiannya dari dunia yang menipu ini untuk menuju ke arah alam Ilahi. Dalam keadaan ini, akan terjadi keseimbangan antara potensi instink, amarah, syahwat, dan khayal dimana tidak ada satupun dari mereka yang bertentangan dan mengganggu perjalanan akal. Nantinya, potensi-potensi tersebut bukan saja tidak akan mengganggu akal dan menghalangi manusia untuk sampai pada kesempurnaannya, bahkan karena telah merupakan sahabat yang seia sekata, mereka akan senantiasa menyertai akal dan sebagaimana kendaraan mereka akan menuruti kemauan akal.

Di sinilah kemudian akan muncul pancaran suci Ilahi pada diri orang ini, dimana amarah, syahwat, dan khayalannya telah berhasil dia gunakan untuk menuju ke jalan kesempurnaan insani dan pemerintahan Ilahi. Allah mencintai hamba-Nya yang ikhlas, yaitu yang meletakkan amarah dan syahwatnya dalam mekanisme akal. Kita mengetahui bahwa kodrat khayal manusia mempunyai lingkup yang sangat luas dari kodrat badan dan materi dimana kodrat ini tak akan pernah memiliki kemampuan untuk mewujudkan pengetahuan-pengetahuan khayal tersebut ke alam eksternal.

Perbuatan Manusia

Manusia dalam setiap amal dan perbuatan ikhtiari membutuhkan pendahuluan-pendahuluan dimana selama mukadimah-mukadimah ini atau salah satu dari mukadimah-mukadimah ini ditinggalkan, maka perbuatan dan prilaku tersebut tidak akan bisa terlaksana. 

1.       Tingkatan pertama adalah tingkatan dzat, dimana seseorang dalam tingkatan ini mencakup seluruh tingkatan yang ada. Tingkatan tersebut seluruhnya tercakup dalam dzat manusia. Seperti seorang ilmuwan yang memiliki keahlian dalam berbagai cabang ilmu, ketika tengah sibuk bercakap dengan anaknya dengan nada kekanak-kanakan, dia akan berbicara sesuai dengan tingkat pemahaman anaknya dengan bahasa kekanak-kanaknya tersebut. Dalam tingkatan ini, tidak ada satupun dari kesempurnaan ilmunya yang tertampakkan, yaitu meskipun dia mengetahui tentang filsafat, fisika, dan perbintangan dia tidak akan memperhatikan hal-hal tersebut.

2.       Setelah itu, perhatian dzat kepada kesempurnaan. Dalam tingkatan ini, manusia memiliki perhatian umum kepada kesempurnaan. Sebagai contoh, ilmuwan ini memperhatikan dirinya sebagai seorang yang berilmu, akan tetapi dia tidak memperhatikan keilmuannya secara mendetail.

3.       Tingkatan ketiga, perhatian yang mendetail kepada kesempurnaan. Sebagai contoh, ilmuwan ini memperhatikan dirinya yang sebagai seorang insinyur, filosof, atau ahli hukum.

4.       Dalam tingkatan keempat, perhatiannya kepada kesempurnaan tertentu. Contoh, perhatian khusus ilmuwan ini kepada ilmu matematikanya dan tingkatan pengetahuannya terhadap ilmu matematika.

5.       Tingkatan kelima, ilmuwan ini memusatkan konsentrasinya dalam masalah-masalah khusus, misalnya selain dia memperhatikan ilmu matematikanya dia juga memperhatikan pembahasan aljabar secara khusus.

6.       Tingkatan keenam, adalah tingkatan dimana misalnya selain dia memperhatikan ilmu aljabar, dia juga memberikan perhatiannya tentang masalah persamaan atau equivalen.

7.       Tingkatan ketujuh, adalah memberikan perhatian kepada masalah khusus dari persamaan, seperti memperhatikan bahwa equivalen dari 2×10 = 5×4.

8.       Tingkatan kedelapan yaitu pengungkapan tentang manfaat dan kerugian suatu masalah. Dalam tingkatan ini, seseorang akan berpikir tentang apakah masalah ini perlu diungkapkan, ataukah tidak ada kebaikan untuk mengatakannya dan sementara harus berdiam diri.

9.       Pada tingkatan kesembilan, memilih untuk mengungkapkan, yaitu seseorang memastikan bahwa mengungkapkan masalah akan lebih baik.

10.   Tingkatan kesepuluh, keinginan untuk menyampaikan atau mengungkapkan.

11.   Tingkatan kesebelas, kehendak kuat untuk mengungkapkan.

12.   Tingkatan keduabelas, memberikan perintah kepada seluruh indera, yaitu memberikan perintah kepada tangan untuk menulis atau memberi perintah kepada lidah untuk berkata.

13.   Tingkatan ketigabelas, terwujudnya perbuatan nyata, misalnya menggerakkan tangan untuk menulis di atas kertas.

Poin yang penting untuk diperhatikan di sini adalah, tidak ada satupun dari perbuatan manusia yang akan terwujud tanpa melewati tingkatan-tingkatan tersebut, meskipun misalnya mereka mampu melewati tahapan itu dengan proses yang sangat cepat. Mungkin Anda tidak percaya, seorang pelari yang mampu berlari dengan sangat cepat dan dalam setiap detiknya mampu berlari dalam beberapa langkah, dalam setiap langkahnya dia telah melewati ketigabelas tingkatan di atas, dan apabila pada salah satu langkahnya dia tidak melakukan salah satu dari pendahuluan-pendahuluan tersebut, maka pelari tersebut akan segera menghentikan langkahnya. Apabila kita misalkan dia mengalami keraguan dalam sesaat dan tidak mengetahui langkah selanjutnya mempunyai manfaat ataukah tidak, pasti dia tidak akan mengambil langkah selanjutnya.

Dalam seluruh perbuatan ikhtiari, setelah memilih dan melakukan, di dalam jiwa manusia akan mengalami aksi dan reaksi semacam ini. Pada amal dan perbuatan yang terpuji, sejak mulai berfikir hingga saat mengamalkan, di dalam jiwa manusia akan muncul gerakan menanjak dari mekanisme alam materi ke arah alam malakuti insani, manusia pada tingkatan amal ini hingga batas keikhlasannya, akan semakin mendekati alam malakut dan inilah makna ayat yang berfirman, “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya, kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh”[9], sebagaimana yang terjadi dalam perbuatan dan amalan yang tercela, yaitu sejak berfikir hingga saat dia menyentuhkan tangannya untuk melakukan perbuatan yang tercela, di dalam dirinya terdapat badai buruk yang akan menggoncangkan pikirannya ke kanan dan ke kiri hingga dia melakukan perbuatan-perbuatan tercela.

Apabila di dalam diri manusia terdapat suatu keyakinan dan pandangan yang keliru dan sesat, maka akan jatuh ke jurang yang terendah dan akan terwarnai dengan perbuatan-perbuatan yang aib dan tercela, dia akan tetap tinggal pada derajat terendah ini hingga dia meluruskan keyakinannya. Namun ketika hanya melakukan yang perbuatan buruk dan tercela yang tidak disebabkan oleh suatu kepercayaan sesat, maka dalam batasan prilaku tercela itu, akan menjauhkannya dari darajat insani.[]



[1] . Yakni mensyaratkan diri atas amal dan perbuatan tertentu.

[2] . Yakni amal yang disyaratkan untuk dikerjakan secara rutin dan istiqomah dikontrol secara terus menerus dari sisi kuantitas dan kualitasnya.

[3] . Yakni senantiasa menghisab diri setiap hari sebelum tidur atas segala perbuatan yang dikerjakan sepanjang hari.

[4] . Rujuk, Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 3, poin ke delapan, hal. 346.

[5] . Al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 3, hal. 345.

[6] . Syarh al-Isyarat, jilid ketiga, hal. 334-335.

[7] . Qs. Al-A’la: 16.

[8] Qs. Al-Qalam: 4.

[9] . Qs. Al-Fathir: 10.

Tulisan ini pernah dimuat pada site www.wisdoms4all.com

Wujud Bernama Manusia [2]

Pengenalan Jiwa

Mukadimah

          Salah satu persoalan yang penting dan urgen untuk mencapai kesempurnaan akhir dan tujuan penciptaan adalah makrifat dan pengenalan jiwa. Manusia yang tidak mengenal dirinya dapat dipastikan akan salah dalam menentukan kesempurnaan insaninya, dan hal ini akan menyebabkannya menjalani kehidupan di dalam lorong-lorong gelap kejahilan. Oleh karena itu, pengetahuan terhadap jiwa dan diri sendiri merupakan prinsip yang paling mendasar untuk kebahagiaan dan keberuntungan manusia.

Urgensi Pengenalan Diri dalam Al-Quran

          Allah Swt dalam surah al-Maidah, berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk, hanya kepada Allah kamu semuanya kembali, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.[1]

          Ayat di atas menyinggung beberapa poin penting berikut:

  1. Allah Swt berfirman, apabila kamu telah mendapat petunjuk, maka kamu berada di jalan yang benar dan terbimbing;
  2. Dalam keadaan ini, kesesatan orang-orang di sekitar kalian yang tersesat tidak akan membahayakan kalian;
  3. Kehidupan manusia ibarat menempuh suatu jarak perjalanan di sepanjang hidup, karena kesesatan dan hidayah ada pada setiap perjalanan, maka bisa dikatakan orang yang mengenal jiwanya di tengah perjalanan, berarti ia telah memperoleh hidayah tanpa harus mengalami kesesatan. Dalam keadaan ini, tersesatnya sebagian dari teman seperjalanan tak akan mampu mengalihkan perhatiannya, karena ia telah menemukan tujuan, mengenal arah perjalanan, mengetahui akhir perjalanannya, dan yakin akan memperoleh hasil dari tujuan hidupnya. Dan ibarat ini tak lain adalah perjalanan jiwa, dimana al-Quran menyinggung hal tersebut dengan firman-Nya, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”[2] Dan yang dimaksud dari menempuh perjalanan di sini adalah tak lain merupakan perjalanan mengenal jiwa manusia, dan perjalanan semacam ini merupakan jalan terdekat untuk sampai pada Tuhan, sebuah perjalanan yang memiliki paling sedikit kesalahan.

Akan tetapi perjalanan horisontal merupakan lintasan lain yang bisa digunakan untuk sampai pada tujuan dan kesempurnaan manusia, dimana hal ini merupakan perjalanan ilmu pada alam kosmos dan mikrokosmos, dan ayat di atas, menyinggung kedua perjalanan tersebut.

Jadi, jelaslah bahwa perjalanan jiwa pada hakikatnya merupakan gerak manusia pada lintasan wujud dirinya yang terjadi dari awal dan akan berlanjut hingga akhir hayat, yaitu manusia yang melangsungkan kehidupannya di dunia natural tidak seharusnya tertawan oleh karakteristik materi dan seumur hidup mengecimpungkan dirinya dalam dunia materi, melainkan dia harus melangkah dalam lintasannya sendiri untuk mengenal dan menemukan bumi dan tempat tinggal yang hakiki bagi wujud nya.

‘Alaikum anfusikum[3]

          Pada ayat di atas dikatakan “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan (‘alaikum anfusikum) pada diri mereka sendiri …”, maksud dari ‘alaikum anfusikum tersebut, antara lain:

1.       Jangan sekali-sekali melepaskan diri kalian sendiri, kenalilah jiwa kalian, karena kesulitan untuk mengenal mutiara berharga ini setara dengan kesulitan untuk mengenal-Nya, dan adanya keniscayaan antara pengenalan jiwa dan pengenalan Tuhan merupakan bukti dari pentingnya persoalan ini;

2.       Berhati-hatilah kalian terhadap diri kalian sendiri, supaya kalian mampu menjalankan kewajiban Ilahi yang seharusnya dan tidak melakukan dosa. Melalui Nabi-Nya, Allah Swt telah menjelaskan metode untuk menjaga diri dari jiwa, dan Allah juga telah menentukan seluruh persoalan, manfaat, dan kerugian manusia serta kewajiban-kewajiban praktisnya. Selain manusia harus mengamalkan aturan-aturan langit dan program-program Ilahi yang telah ditentukan, dia juga harus menjaga diri dari bahaya-bahaya dan kerugian-kerugian jiwa, dan karena merupakan penjaga yang cerdik dan cermat, seluruh aktivitas jiwa sesaat demi sesaat harus senantiasa berada di bawah pengawasan untuk kemudian mengarahkannya pada program-program Ilahi dengan sepenuh keyakinan.

3.       Karena jiwa merupakan salah satu dari eksistensi yang ajaib, rumit, dan misterius, bahkan paling rumitnya eksistensi yang ada di alam, maka arahkan jiwa tersebut pada kebesaran, keagungan, dan untuk mengenal Penciptanya.

Urgensi Pengenalan Jiwa dalam Hadits

Imam Ali As bersabda, “Manusia yang tidak mengetahui jiwanya sendiri, dia akan dilepaskan”[4], yaitu baginya tidak ada perbedaan antara hidayah atau kesesatan. “Seseorang yang tak mengenal dirinya, maka perbuatannya akan mengarah pada kerusakan”.[5] “Aku heran kepada orang yang sibuk mencari sesuatu yang hilang darinya, akan tetapi ketika dia kehilangan dirinya, dia tidak mencarinya dan tidak berusaha untuk menemukan dirinya kembali”.[6] “Barang siapa tidak mengenal dirinya, dia akan lebih jahil untuk mengenal selainnya”.[7] “Siapa yang tidak mengenal dirinya, berarti dia telah jauh dari jalan keselamatan dan dia akan sesat dan bodoh”.[8] “Paling lemahnya orang, adalah mereka yang menghalangi dirinya untuk memperbaiki diri”.[9] “Barang siapa mengenal dirinya, dia akan lebih mengetahui keadaan selainnya”.[10] “Barang siapa mengenal seluruh hakikat dirinya, maka dia telah memperoleh paling tingginya makrifat dan pengetahuan”.[11] “Siapa yang mengenal dirinya, akan berhadapan dengan Keindahan Sumber Keajaiban”.[12] “Arif adalah orang yang mengenal dirinya, membebaskan jiwanya dari ikatan waswas setan dan nafsu amarah, menyingkirkan segala sesuatu yang akan menjauhkannya dari Tuhan dan akan membersihkan segala sesuatu yang menyebabkan kehancurannya”.[13]

Jadi seseorang yang tidak mengenal jiwa, maka dia tidak akan berhasil membersihkan dan menyempurnakan jiwanya, karena pengenalan jiwa berarti mengenal kesempurnaan sekaligus mengetahui segala rintangan dan hambatan dalam pencapaian kesempurnaan, begitu pula, dengan ini ia dapat mengenal segala keburukan bagi jiwa. Tentunya, pengenalan jiwa juga bermakna pengetahuan terhadap hakikat jiwa, kedudukan, dan hal-hal yang menyebabkan kebahagiaan dan kemalangannya. Dan mengenal jiwa membuat manusia larut dalam kenikmatan akal dan spiritual dan tidak lagi mengikuti kecenderungan hawa nafsu, bisikan setan, dan penghambaan kepada selain Tuhan.

Imam Ali bersabda, “Kebodohan yang terbesar adalah kejahilan manusia terhadap persoalan-persoalan jiwanya”.[14] “Paling baiknya pengetahuan adalah mengenal diri, barang siapa mengenal dirinya berarti dia mengetahui, dan siapa yang tidak mengenal dirinya akan berjalan ke arah kesesatan”.[15] “Bagaimana seseorang yang jahil terhadap dirinya bisa mengenal Tuhannya?”.[16] “Barang siapa mampu meliputi seluruh ilmu tentang jiwanya, maka dia akan sampai pada pengenalan dan makrifat Tuhan”.[17]

Harus diingatkan bahwa makrifat jiwa dan perjalanan jiwa, merupakan perjalanan yang sangat sulit, dengan alasan inilah mengenai riwayat di atas sebagian ulama mengatakan, sebagaimana makrifat Tuhan adalah sangat sulit, makrifat jiwa pun demikian juga, dan kesulitan serta kerumitan jalan inilah yang telah menyebabkan hanya sedikit orang yang mampu berjalan di atasnya.

Akan tetapi makna lain yang bisa disimpulkan dari riwayat ini adalah adanya kemestian antara pengenalan jiwa dan pengenalan Tuhan.

Lebih lanjut Imam bersabda, “Pengenalan jiwa merupakan pengenalan yang paling bermanfaat”.[18]

Sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya, tanda-tanda Ilahi, bisa disaksikan pada dua perjalanan, baik perjalanan kosmos maupun mikrokosmos, akan tetapi perjalanan yang paling baik dan bermanfaat adalah perjalanan mikrokosmos atau perjalanan jiwa. Ketika menyaksikan penciptaan alam tanpa batas yang begitu mengagumkan, manusia tidak saja mampu untuk tidak melupakan dirinya, bahkan dia juga bisa semakin memahami keajaiban dan kemisteriusan dunia yang ada di dalam dirinya. Hal inilah yang lebih baik bagi manusia, yaitu mengenal jiwa dan kapabilitasnya, bukan mengenal dunia luar dengan sebaik-baiknya akan tetapi jahil terhadap apa yang ada di dalam dirinya.

“Puncak dari seluruh makrifat adalah makrifat jiwa”[19], yaitu pada hakikatnya apabila seseorang mampu mengenal dirinya, maka dia telah sampai pada puncak dari berbagai makrifat.

“Seseorang yang tidak mengenal dirinya, bagaimana dia bisa mengenal selainnya?”[20] “Dalam pengetahuan, cukuplah bagi manusia untuk mengenal dirinya, dan dalam kejahilan cukup baginya untuk tidak mengenali dan jahil terhadap dirinya.”[21] “Barang siapa mengenal dirinya, berarti dia telah bersifat spiritual.”[22] Dalam keadaan ini, ia tidak lagi sebagaimana manusia pada umumnya.

Kadangkala manusia tersungkur sangat jauh ke bawah hingga jiwanya menduduki predikat, jiwa materi. Ketika jiwa terpenjara di dalam kungkungan tabiat dan kecenderungan tubuh, dan makan, tidur, syahwat, dan amarah telah mendominasi dirinya, maka secara bertahap, jiwa yang tadinya non-materi akan berubah menjadi materi, dan sebaliknya, ketika seseorang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan jiwanya dengan cara yang benar, dan dia berusaha untuk menggapai derajat malakutinya, di sini tubuh akan menemukan keadaan yang bersifat spiritual, yaitu seakan tubuh telah meruhani dan secara sempurna berada di bawah kekuasaan jiwa. Dengan alasan inilah sehingga kadangkala sebagian individu terlihat mampu menunjukkan perbuatan-perbuatan yang ajaib, seperti kematian ikhtiari, lapar dalam waktu lama, dan lain sebagainya. Meskipun bisa jadi ilmu saat ini, seperti ilmu kedokteran tidak bisa menerima hal-hal semacam itu, akan tetapi harus diketahui bahwa subyek yang dibahas dalam ilmu kedokteran adalah tubuh manusia bukan jiwa manusia.

Jadi sekali lagi, orang yang menemukan makrifat jiwa akan bisa berubah menjadi realitas spiritual, dimana pada hakikatnya mekanisme materi tidak lagi mendominasinya.

Setelah tingkatan tersebut, terdapat tingkatan yang lebih tinggi dari non-materi dan pembebasan jiwa (tajarrud) dimana manusia akan menjadi manifestasi dari asma, sifat, dan nama agung Tuhan, sebagaimana Imam as bersabda, “Nahnu asma-ullahu al husna (Kami adalah asma-asma Tuhan)”. Tentang tajarrud ada tiga makna:

  1. Pembebasan jiwa dari alam materi;
  2. Pembebasan jiwa dari keterikatan atas manusia lain;
  3. Pembebasan dari segala sesuatu dengan ikhlas pada-Nya.

“Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan melawan kecenderungan buruk jiwanya, dan siapa yang tidak mengenal jiwanya, dia akan memujinya dan merasa puas dengannya”.[23] 

Dari sini bisa diketahui dengan jelas, apa yang akan terjadi pada manusia apabila dia jahil terhadap dirinya, dan bagaimana dia bisa menjual komoditi yang paling agung dan paling berharga dalam alam penciptaan ini dengan harga yang paling murah?

Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah, bersabda, “Merupakan perdagangan yang merugikan jika kalian meletakkan harga pada diri kalian lalu menjualnya.”[24] 

Suatu hari Pemimpin Revolusi Iran, Ayatullah Ali Khamenei dan Imam Khomeini ra berkata, “Seandainya kunci dunia ini diberikan kepada manusia, hal ini masih merupakan perkara yang sangat kecil baginya”. Menukilkan sebuah misal untuk hal ini akan lebih menjelaskan pernyataan tersebut. Misalnya pada sebuah perpustakaan telah ditemukan sebuah kitab sangat langka dengan nilainya yang tiada banding dan penulisnya yang handal menduduki peringkat dunia yang hidup pada masa lalu. Bisa jadi seorang peneliti yang memiliki spesialisasi dalam bidang tersebut sampai rela menjual rumahnya untuk membeli kitab tersebut, lalu setelah kitab berada di tangannya, dia akan menjaga dan menyimpannya seakan-akan merupakan benda yang teramat sangat berharga. Akan tetapi orang yang sama sekali tidak mengetahui tentang nilainya, bisa jadi dia malah akan merobek kitab tersebut selembar demi selembar lalu menggunakannya untuk membungkus cabe dan garam yang ada di warungnya. Jadi pengetahuan terhadap diri, merupakan pendahuluan untuk memperbaiki diri dan untuk menghiasi mutiara jiwanya, lalu menggunakannya untuk bergerak hingga ke puncak makrifat, sedangkan kejahilan dan ketidaktahuan terhadap diri akan menjadi penyebab kemusnahan dan tersia-sianya jiwa.

Keburukan Lupa Diri

          Sebagaimana yang telah kami bahas sebelumnya, mengenal diri merupakan persoalan yang sangat penting, dan manusia harus mengetahui tentang siapa ‘aku’, karena jika dia tidak memperoleh pengenalan semacam ini, maka pasti terjadi kesalahan dalam menentukan apa-apa yang hakiki dan apa-apa yang non-hakiki, dia akan menyangka sesuatu yang hakiki sebagai non-hakiki, lalu meletakkan yang hakiki di tempat non-hakiki dan sebaliknya, yaitu dia melupakan dirinya yang hakiki, dan menganggap non-jiwa sebagai hakikat dirinya. Dengan demikian, dia telah melakukan perbuatan berdasarkan keyakinan yang tidak benar ini, dan hal ini sama artinya dengan membuat kehancuran bagi dirinya sendiri.

          Suatu ketika, terdapat orang yang memiliki modal besar. Dengan uang tersebut dia mempunyai rencana akan membangun sebuah gedung yang kokoh, megah, dan sangat indah di atas tanah yang sangat luas. Beberapa waktu lamanya dia membanting tulang dan berjerih payah mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk membangun gedung impiannya tersebut, hingga setelah beberapa waktu lamanya akhirnya selesai jualah apa yang dia inginkan. Karena sekian waktu tenaganya telah terkuras untuk membangun gedung itu, maka bersamaan dengan selesainya pembangunan gedung dan habisnya modal, kondisi dan stamina tubuhnya pun menurun. Dalam hal ini, dalam satu waktu sekaligus dia telah kehilangan dua hal, yaitu modal dan stamina tubuh. Dalam kelemahannya, dia menyaksikan gedung megah yang berdiri di hadapannya dengan perasaan puas dan bangga, akan tetapi tiba-tiba dia tersadar bahwa dia telah membangun gedung tersebut di atas tanah milik tetangga, sedangkan di atas tanahnya sendiri kosong dari bangunan. Apa yang terjadi? Seluruh yang dia lakukan, modal yang dia gunakan, waktu yang dia habiskan, semuanya telah hilang dengan sia-sia.

          Kadangkala sebagian manusia bekerja dan berusaha siang- malam selama bertahun-tahun, akan tetapi tidak pernah merasakan ketenangan meskipun sedetik. Ketika ditanyakan tentang semua alasan usahanya ini, menjadi jelas bahwa seluruh jerih payahnya tersebut adalah untuk mendapatkan beberapa helai permadani, mobil, sebuah rumah, dan uang. Jelaslah bahwa di sini mereka menganggap yang non-hakiki sebagai realitas yang hakiki, yang seharusnya mereka berkhidmat kepada “jiwa hakiki”, yang terjadi malah mereka berkhidmat secara total kepada “tubuh non-hakiki”. Ketika tiba saat perpisahan antara jiwa dan tubuh, mereka baru sadar bahwa usaha dan jerih payah yang mereka lakukan selama ini hanyalah untuk memenuhi kepentingan tubuhnya, sedangkan diri dan jiwanya yang hakiki tidak mengalami kemajuan sedikitpun dan tetap berada pada usia kanak-kanak, hal seperti ini merupakan stagnasi ruh yang sangat mengerikan. Dikarenakan seseorang tidak mengenal diri dan jiwanya secara hakiki, seluruh jerih payah dan pengkhidmatannya hanya dia berikan untuk menggapai keinginan-keinginan tubuh materi yang bakal punah.

Pengaruh Makrifat Jiwa

Ketika jiwa manusia telah sampai pada tingkatan non-materi murni dan kebergantungannya pada apa yang ditampakkan oleh dunia telah berkurang, secara bertahap dia akan keluar dari penjara tubuh dan tidak lagi melihat adanya benturan-benturan yang menghalangi tubuhnya. Dalam keadaan seperti ini – sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya – tubuh akan berada dibawah kewenangan jiwa dan seakan tubuh pun telah berubah menjadi jiwa, kemudian keajaiban-keajaiban dan kemuliaan-kemuliaan yang mengherankan akan muncul darinya, sedemikian hingga dia mampu memisahkan ruh dari jiwa dengan kemauannya sendiri, kematian seperti ini biasa disebut kematian ikhtiari yang sering terjadi pada diri para wali Tuhan. Salah satunya adalah kejadian menarik yang dinukilkan dari Ogho Sayyed Muhammad Darceh-i.[25] Telah ditanyakan kepada beliau mengenai kebenarn riwayat, “Imam Ridha as memerintahkan untuk melukis gambar singa pada sebuah tirai, lalu singa tersebut hidup dan setelah memangsa orang tak beradab yang berada di dekatnya, dia kembali lagi ke tempatnya semula”. Ogho Sayyed dalam jawabannya mengatakan, “Perbuatan itu bisa pula muncul dari aku yang hanya sebagai budak beliau. Ketahuilah bahwa kodrat semacam ini berkaitan dengan jiwa yang telah menyempurna dan telah terbebas dari penghalang-penghalang materi dan telah memiliki kedudukan di tempat yang tinggi”.

Hal yang serupa diceritakan juga oleh Mahyuddin,  dia berkata, “Dahulu aku mempunyai seorang guru bernama Abu Madain yang memiliki jabatan tinggi dalam kemiliteran, dan dia bisa melakukan berbagai pekerjaan, akan tetapi dia sama sekali tidak pernah memperhatikan kepentingan dirinya, kehidupan pribadinya senantiasa berada dalam keadaan yang susah dan kurang, keadaan beliau telah sedemikian susahnya hingga sebagian para pembesar mengatakan, kenapa kamu tidak berusaha untuk memperbaiki keadaanmu? Akan tetapi lelaki agung tersebut berkata, bahwa seluruh persoalan hidupnya telah dia serahkan kepada Allah”.

Alamah Thabathabai, pada setiap malam Kamis dan malam Jumat senantiasa mengadakan pertemuan dengan para sahabat dan murid-muridnya secara bergilir dari rumah satu ke rumah lainnya, suatu kali seluruh peserta majelis sepakat untuk mengadakan pertemuan di rumah salah satu pelajar, akan tetapi rumah pelajar tersebut begitu jauh dan gelap, sedangkan saat itu usia Alamah Thabathabai sendiri telah lanjut, sehingga untuk berjalan di tempat yang gelap akan sangat menyusahkkan beliau. Melihat hal demikian, para murid memberikan saran kepada beliau, lebih baik pertemuan kali ini diadakan saja di rumah beliau, akan tetapi dalam jawabannya, beliau berkata, “Ketika berjalan di siang hari, mataharilah yang menjaga kita sehingga kita tidak terjatuh, dan sekarang dalam kegelapan, karena matahari dan cahaya tidak menjaga kita lagi, apakah maka kita akan terjatuh ke tanah?”

          Hal-hal di atas merupakan contoh dari kemuliaan dan kemampuan jiwa dalam menguasai tubuh, adanya pengaruh dominan untuk melakukan perintah-perintah Ilahi, telah memunculkan hal-hal yang mengagumkan dalam wujud hamba-hamba yang taqwa ini. Pelatihan, ketaatan, dan penghambaan kepada Tuhan, secara bertahap akan mengantarkan jiwa untuk sampai ke arah dan tingkatan tersebut, dimana kemudian jiwa menemukan kodrat yang seharusnya, dan menguasai tubuh secara baik, dan kedekatannya kepada Tuhan, akan menyebabkan kemuliaan-kemuliaan Tuhan menurun kepadanya.

          Karena karakter manusia adalah mencari keuntungan, maka dia akan berusaha untuk menggapai apa yang dikenalnya sebagai persoalan yang sesuai untuk dirinya. Tentunya kecenderungan untuk mencari keuntungan ini memiliki akar kecintaan yang esensial (cinta diri sendiri), karena seluruh kecenderungan yang dimiliki oleh manusia berasal dari akar kecintaan esensial ini, dikarenakan dia mencintai dirinya sendiri maka dia akan berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh jiwanya, tapi apabila dia keliru menentukan, maka dia akan salah memposisikan apa yang hakiki bagi dirinya, yaitu apabila manusia tidak mengenal jiwa, kemampuan, potensi, dan kesempurnaan dirinya, maka dia akan keliru meletakkan persoalan-persoalan non-hakiki dan keinginan-keinginan tak penting pada posisi kebutuhan-kebutuhan esensial dan kesempurnaan hakikinya. Dalam keadaan yang demikian maka seluruh kekuatan dan usahanya dalam hidup, hanya dia untuk mencapai kesempurnaan tak hakiki dan keinginan-keinginan kaburnya, dengan demikian ‘aku’ yang hakiki, justru akan terkapar di bawah kaki ‘tubuh’ materi.

Akan tetapi pengenalan yang benar terhadap jiwa, akan mampu mengubah arah perjalanan hidup manusia kepada kesempurnaan hakiki, karena dengan mengetahui dirinya dan mengetahui nilai jiwanya sendiri, berarti manusia telah mengenal kesempurnaan hakikinya, dan kecintaan pada diri sendiri tidak akan mengizinkannya melangkah di atas selain jalan yang menuju ke arah kesempurnaannya. Dalam perjalanan inilah ‘tubuh’ akan mengorbankan diri hingga mencapai kesempurnaan hakiki bagi jiwa, dan dia akan memperoleh seluruh kesempurnaan yang akan melesakkannya hingga lebih tinggi dari tingkatan para malaikat, dan akan menghalanginya dari terperosok ke jurang yang lebih rendah dari tingkatan hewan. Hal ini terjadi karena kecintaan diri yang benar akan menuntut pengaruh yang benar pula, sedangkan kecintaan diri yang palsu akan memerosokkan manusia pada keinginan-keinginan yang palsu pula.

          Perolehan lain dari makrifat jiwa adalah bahwa manusia yang telah menemukan dirinya ini sama sekali tidak akan menjual aset umurnya untuk komoditi yang tak kekal dan sesaat, karena dia menganggap bahwa diri adalah abadi, sementara kehidupan yang abadi tidak membutuhkan aset yang sesaat, melainkan harus sesuai dengan masa mendatang. Satu lagi, manusia yang telah mengenal hakikat dirinya akan menemukan bahwa seluruh umurnya dalam setiap detik kehidupannya harus mencapai hal yang kekal dan permanen, persis sebagaimana seorang kapitalis yang membeli barang-barang berharga dengan berapapun aset yang dia miliki, untuk mendapatkan aset yang permanen, dan hal ini kontradiksi dengan orang yang waktunya hilang sesaat demi sesaat dan tidak ada sesuatupun yang dihasilkannya, dia telah kehilangan asetnya dan diapun tidak mampu memperoleh yang abadi dan permanen. Dia tidak mendapatkan sedikitpun keuntungan dari waktu yang telah terbuang.

Pada dasarnya kesulitan-kesulitan dan benturan-benturan yang dimiliki oleh manusia-manusia saat ini adalah karena mereka tidak mampu membedakan antara diri hakiki dan diri tak hakiki, dan mereka telah memisahkan antara aku yang sebenarnya dari tubuhnya, lalu menarik masing-masingnya ke arah yang berbeda dari lintasan perjalanan yang seharusnya.

          Perolehan lain dari makrifat jiwa adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah swt dalam al-Quran, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri”,[26] dimana melupakan Tuhan akan meniscayakan pada lupa diri, yang konsekuensinya berarti pengenalan diri akan meniscayakan pada pengenalan Tuhan.

          Pada salah satu ayat-Nya yang lain, “Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.[27] Pertanyaan yang muncul adalah, apa maksud dari “Dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. Sedangkan Tuhan tidak akan pernah lupa, karena kejahilan, ketidaktahuan, dan lupa merupakan suatu persoalan yang mustahil bagi-Nya. Jika demikian, apa yang ingin dikatakan oleh ayat ini? Masa depan seperti apa yang hendak diungkapkannya? Dari wahyu tersebut bisa disimpulkan bahwa orang yang mendengarkan dan mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Tuhan, dia akan memperoleh keinginan-keinginan hakikinya dan dia akan menuangkannya ke kedalaman jiwanya untuk memenuhi kehausan spiritualnya. Dari sini, seluruh kecenderungan-kecenderungannya telah berubah dari potensi menjadi aktual, yang akhirnya akan sampai pada bentuk malakuti yang suci dari keterikatan alam materi.

Akan tetapi ketiadaan perhatian pada perintah, hukum, dan ayat-ayat Ilahi pada hakikatnya merupakan ketiadaan perhatian pada keinginan hakiki manusia, dengan perbuatannya ini berarti dia telah meletakkan jiwa dalam kotoran gelap alam materi, dan seluruh kecenderungan-kecenderungannya telah dia hancurkan pada tingkatan potensi, dan dia akan terhalangi dari pengaruh-pengaruh malakuti amal dan perbuatan-perbuatannya yang Ilahi, dan hal ini akan tampak jelas pada hari kiamat kelak. Dari sinilah kemudian Allah swt berfirman, “Dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”, yaitu dilupakannya manusia pada hari kiamat, bertolak dari amal dan perbuatannya di dunia dan apa yang telah dipersiapkan oleh Tuhan untuk mengembangkan kecenderungan-kecenderungan, baginya hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dia peroleh.

          Poin penting berikut harus diperhatikan bahwa balasan pada hari kiamat yang bertolak dan merupakan hasil dari amal dan perbuatan setiap manusia di dunia merupakan majemuk perbuatan yang telah bergabung dalam diri seseorang yang kemudian akan membentuk wujud ukhrawinya, dan ini berlawanan dengan balasan dan pahala yang ditentukan di dunia. Di dunia, untuk perbuatan yang berbeda akan mendapatkan balasan yang telah ditentukan dalam bentuk yang berbeda pula. Misalnya, untuk pelanggaran mengemudi, akan dikenai hukuman denda, dan untuk peminum minuman keras akan dikenai hukuman siksaan dan …, akan tetapi di akhirat, setiap manusia akan dibangkitkan dengan hakikat perbuatannya. Dalam salah satu ayat-Nya, berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”[28], yaitu orang yang memukul anak yatim dengan kezaliman dan telah menyebabkan air matanya jatuh bercucuran, sebelum dia melanjutkan perbuatan dan ancamannya, beliung telah memangkas jenggotnya dan hakikat perbuatannya – yang kini telah tersimpan di dalam jiwanya – akan tampak baginya di hari kiamat kelak.

Sekarang, ketika kiamat dan masa tertampaknya perbuatan manusia dan hari penampakan masih tersembunyi dan tidak kita ketahui, orang-orang yang melupakan ayat-ayat Ilahi pun, pada hari kiamat akan berhadapan dengan hakikat perbuatannya yaitu dia akan dilupakan, “Dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”, dan dia tidak akan layak mendapatkan perhatian sedikitpun. Pada hari ketika rahmat Tuhan tercurah pada seluruh alam, dia akan terhalangi dari rahmat-Nya. Orang yang tidak mengenal dirinya, dia akan menyangka telah hidup beruntung dan berbahagia ketika memiliki kendaraan, makanan, dan minuman yang paling baik, kekayaan dunia yang berlimpah, hidup di istana besar nan mewah dan mendapatkan seluruh penghormatan. Akan tetapi ini semua tak lebih dari sekedar sebuah khayalan, dia tidak mengetahui bahwa dia telah hidup di alam yang bukan alam insaniyah. Orang yang membatasi seluruh perhatiannya pada keinginan-keinginan hewani, dan lalai terhadap jiwanya, dan tidak bernafas di dalam udara insaniyah, dia akan mati dengan keadaan sebagaimana dia hidup di dunia ini.

Mengenal Indera Batin Manusia

          Sebagaimana manusia dalam lahiriahnya memiliki potensi yang beragam, seperti mata, telinga, hati, indera perasa, pencium dan lain-lain, batin juga memiliki potensi-potensi semacam ini yaitu memiliki indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan sebagainya. Sebagaimana tubuh materi memiliki mata dan telinga, jiwa juga memiliki penglihatan dan pendengaran, dan sebagaimana halnya jantung materi berdetak di dalam dada jasmani manusia lalu menyempurnakan kehidupannya, jiwa juga memiliki jantung yang memiliki kehidupan, dimana kebanyakan dari ibadah akan menyebabkan hidupnya hati ini, dan kebalikannya kebanyakan dari dosa akan mematikan dan memusnahkannya, dan begitu banyak hadits yang menyiratkan tentang aksi dan reaksi jantung batin ini. Sebagai contoh, pada sebuah hadits dikatakan bahwa zikir “Ya hayyu ya qayyum, ya man la ilaha illa anta” akan menghidupkan hati. Demikian juga terdapat dalam hadits bahwa hidup berdampingan dengan penyembah dunia akan mematikan hati. Orang yang tidak mengetahui secara benar tentang potensi yang dimiliki oleh eksistensi ini, akan berhadapan dengan potensi-potensi yang mentah dan tak matang, dan sebagaimana kanak-kanak yang tidak pernah memperhatikan adanya bahaya dan manfaat, setiap langkah yang dia lakukan dalam kehidupan senantiasa akan semakin mendekatkannya kepada bahaya dan semakin menjauhkannya dari manfaat. Seperti orang yang dilahirkan dan hidup sendirian di tengah hutan, dan tidak mengetahui sedikitpun informasi tentang potensi-potensi yang dimilikinya, keadaan ini jelas akan menyebabkan stagnasi perkembangan pada potensi-potensi yang dimilikinya, baik potensi yang tersembunyi ataupun yang tampak. Bahkan hingga sampai pada tingkatan dia tidak mengetahui apa yang bisa diperbuat oleh lidah yang ada di mulutnya. Tidak ada sedikitpun gambaran dalam benaknya bahwa dengan lidah, dia akan mampu menyampaikan maksudnya kepada selainnya. Dia juga tidak mengetahui bahwa dengan matanya dia akan mampu melihat hal-hal yang indah dan mempesona, dengan telinganya dia akan mampu mendengar suara-suara yang merdu. Olah karena itu, pada sepanjang hidupnya, dia akan bisu, buta, tuli dan tidak mampu memanfaatkan perangkat-perangkat yang diletakkan dalam kewenangannya. Apa yang terdapat dalam kedalaman batin manusia pun demikian juga. Ketika manusia tidak mengenal penglihatan, pendengaran, dan hati nurani, maka dia tidak akan memberikan perhatian padanya, dengan demikian potensi-potensi ini tidak akan bisa berkhidmat secara maksimal kepadanya, hasilnya, batinnya akan menjadi buta, bisu, dan tuli.

Apabila mata dan telinga yang dimiliki oleh jiwa manusia tidak pernah melihat dan mendengar hakikat sedikitpun, dan hatinya tidak pernah berada dalam ketenangan dan tidak pernah menemukan sandaran pada hakikat tinggi makrifat, maka mata dan telinga manusia ini akan tetap buta dan tuli di dunia ini, sebagaimana orang hutan yang tetap dalam keadan bisu dan tuli karena dia tidak pernah bercakap dengan selainnya dan tidak pernah pula mendengar suara dari selainnya. Orang inipun di akhirat kelak akan dibangkitkan dalam keadaan bisu dan tuli, dan al-Quran dengan seluruh perhatiannya mengajak manusia untuk menguatkan mata dan telinga batin ini.

Pada salah satu ayat-Nya, Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya”. [29]

Dan pada ayat lain berfirman, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”,[30]yaitu mata hati dan jiwanya telah buta sehingga ruh tidak mempunyai kekuatan untuk melihat hakikat. Hakikat makrifat tidak senantiasa bisa disaksikan dengan mata lahiriah, untuk memahaminya mata batin harus dalam keadaan terbuka untuk menerima dan memahami.

Pada ayat yang lain, Allah swt berfirman, “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”[31] Apabila kita telisik ayat di atas, apa sebenarnya maksud dari ibarat ini? Apakah maksudnya adalah bahwa setiap orang yang tidak mendapatkan karunia untuk melihat dunia dengan matanya, di akhirat pun tidak akan melihat apa-apa? Jika demikian, maka seharusnya Abi Bashir yang buta, murid terbaik Imam Shadiq as, juga akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan buta? Tentu saja tidak, makna ayat tidaklah mengisyaratkan bahwa setiap orang yang di dunia ini tidak bisa menyaksikan benda-benda materi di sekitarnya dengan matanya, di akhiratpun akan menghadapi hal yang serupa. Yang benar adalah bahwa setiap orang yang mata hati dan jiwanya tidak terbuka dan pemahaman serta pandangannya tidak melebihi tingkatan lahiriah bendawi, maka dia sama sekali tidak akan mampu membaca huruf-huruf dan rahasia eksistensi dan tidak memiliki pandangan yang mengandung ibrah terhadap dunia.

Ringkasnya, apabila seseorang tidak menemukan hubungan dengan batin alam, berarti dia buta, dan buta semacam ini akan mewujud di akhirat kelak, karena kiamat adalah “Hari ketika seluruh rahasia-rahasia tersingkap “. Oleh karena itu, manusia harus hidup sedemikian rupa sehingga seluruh amal, perbuatan, dan tujuannya adalah untuk membuka mata dan telinga batin dan menemukan pandangan hakiki. Manusia harus mengarungi kehidupannya di bawah naungan wilayah Ilahi dan bimbingan Ahlulbait as sehingga akan terdapat perbedaan antara hari kelahiran dan kematiannya, yaitu apabila seseorang terlahir ke dunia dalam keadaan mata dan telinga yang tertutup, maka dia akan meninggalkan dunia dengan mata dan telinga yang terbuka sehingga akan dibangkitkan di alam akhirat dalam keadaan melihat. Tentunya usaha dan upaya dalam wilayah ini membutuhkan kerja yang ekstra, dan Allah swt akan mempermudah keberhasilannya hamba-Nya yang berusaha untuk melakukah hal ini. Dari sini, Allah swt dalam al-Quran berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya “.[32]

Dalam hubungannya dengan bahasan kita, terdapat sebuah cerita yang dinukilkan dari Ayatullah Behjat, yang akan kami ceritakan untuk Anda secara ringkas. Di Masyhad, terdapat seorang lelaki buta yang hafal seluruh al-Quran. Keahlian orang ini adalah ketika seseorang meletakkan al-Quran di tangannya dan misalnya meminta kepadanya untuk menemukan ayat “Maka Apakah Kami akan berhenti menurunkan Al Quran kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?”[33], maka dia akan segera mengambil Quran itu dan menunjukkan ayat sebagaimana yang dimaksud. Kadangkala sebagian orang yang ada disana dengan bergurau mengatakan bahwa engkau tidak menemukan ayat yang diinginkannya dan dia menjawab, berarti kalianlah yang buta.

Apakah ayat, “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”[34] berkaitan dengan orang semacam ini, ataukah berkaitan dengan seseorang yang memiliki dua mata indah yang menghiasi wajahnya, akan tetapi dia hanya menggunakannya untuk melihat kehidupan lahiriah dan mata hatinya tidak berhubungan dengan batin dan hakikat alam?

Pada surah Thahaa, Allah swt berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu melupakannya, maka begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”[35].

Orang yang pada hari kiamat dibangkitkan dalam keadaan buta akan mengatakan, “… padahal dahulunya aku adalah seorang yang melihat”, jelas, orang ini menyangka bahwa dirinya melihat dan dia mengkhayal bahwa yang dimaksud dengan penglihatan hanyalah bahwa manusia mampu menyaksikan benda-benda materi dalam batasan tertentu, sedangkan sebenarnya tidaklah demikian. Orang semacam ini sama sekali tidak mengetahui makna hakiki dari melihat dan bashirah, dia tidak memahami bahwa pada hakikatnya di dunia ini terdapat dua kebutaan, pertama tidak memiliki penglihatan fisikal, dan kedua tidak memiliki penglihatan jiwa.

Allah swt pada ayat yang lain dari al-Quran berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dila’nat Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”[36].

Memperhatikan subyek ini, meniscayakan kepada kita untuk tidak melihat al-Quran hanya dari makna leksikalnya, melainkan al-Quran merupakan penjelas dari hakikat alam, al-Quran merupakan wujud kalimat dari eksistensi hakiki dan merupakan penerjemah realitas eksternal. Ketika al-Quran berfirman, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup”[37], pada hakikatnya ayat ini menghikayatkan bagaimana eksistensi eksternal itu. Dan ketika berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dila’nat Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”, inipun merupakan pembuka sebuah rangkaian aksi dan reaksi yang terjadi pada mekanisme orang-orang tertentu.

Dalam surah al-Mukmin, berfirman, “Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama pula) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka”[38]. Pada awal ayat berfirman bahwa ‘buta’ dan ‘melihat’ tidaklah sama, kemudian melanjutkan, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, berbeda dengan orang-orang yang durhaka. Pada dasarnya, ayat ini meletakkan kebutaan secara berhadapan dengan iman dan amal shaleh, sedangkan para pendosa dan pelaku perbuatan-perbuatan yang tercela dianggap sebagai orang-orang yang tidak memiliki ‘mata’. Maksudnya adalah bahwa iman dan amal shaleh adalah penerang yang akan menajamkan penglihatan sedangkan dosa dan maksiat akan menggelapkan dan membutakan penglihatan.  

Pada surah al-Baqarah, Allah berfirman, “Mereka itu tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itulah) mereka tidak mengerti”[39], sedangkan pada surah an-Naml, berfirman, “Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri”[40], kemudian pada surah Fusshilat, berfirman, ” … dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka terdapat sumbatan, dan kedua mata mereka buta … “[41]

Ayat-ayat di atas, seluruhnya menyiratkan poin berikut bahwa manusia selain memiliki potensi lahiriah dan inderawi, mereka juga memiliki potensi batin dan spiritual. Letak poin tersebut di sini bahwa kemanusiaan manusia dan kebahagiaannya bergantung hingga sejauh mana dia menemukan pengenalan terhadap potensi-potensi internal jiwanya dan sejauh mana dia mampu memenuhi kebutuhan hakiki batinnya. Dia harus meletakkan potensi-potensi ini dalam wilayah perhatiannya lalu mempersiapkan segala sesuatu yang bermanfaat dan menjadi nutrisi bagi batin, dan tidak menghalangi tumbuhnya potensi internal, membimbingnya ke arah yang benar untuk mencapai kesempurnaan hakikinya, sedangkan merendahkan mereka akan menyebabkan kerusakan dan turunnya derajat kemanusiaan, yang hal ini akan berlanjut pada kebutaan dan ketulian yang sama sekali tidak bisa diterima dan tidak pernah diinginkan oleh setiap manusia, dan keadaan seperti ini hanya akan mengantarkan pada kesedihan mendalam dan penyesalan yang tak berguna.

Allah berfirman, “Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”[42].


 


[1] . Qs. Al-Maidah: 105.

[2] . Qs. Fushilat: 53.

[3] . Bagi kalian adalah jiwa-jiwa kalian sendiri.

[4] . Ghurar wa Durar, cetakan Yayasan A’lami Beirut, jilid 2, hal. 159.

[5] . Ibid.

[6] . Ibid, hal. 36.

[7] . Ibid, 8624.

[8] . Ibid, 2936.

[9] . Ibid, hal. 198.

[10] . Ghurar wa Durar Omadi.

[11] . Ibid.

[12] . Ibid.

[13] . Ibid.

[14] . Imam Ali as, Ghurar wa Durar, hal 36.

[15] . Ibid.

[16] . Ibid.

[17] . Ibid.

[18] . Ghurar wa Durar.

[19] . Ibid.

[20] . Ibid.

[21] . Ibid.

[22] . Ibid.

[23] . Ghurar wa Durar Omadi.

[24] . Nahjul Balaghah, khutbah 22.

[25] . Ayatullah Sayyed Muhammad Darceh-i adalah saudara laki-laki dan murid Almarhum Sayyed Muhammad Baqir Darceh-i, ustadz dan guru Ayatullah Burujerdi ra di Isfahan.

[26] . Qs. Al-Hasyr: 19.

[27] . Qs. Thahaa: 126.

[28] . Qs. Yunus: 23.

[29] . Qs. Al-An’am:104.

[30] . Qs. Hajj: 46.

[31] . Qs. Al-Israa: 72

[32] . Qs. Thalaaq: 2.

[33] . Qs. Az-Zukhruf:5.

[34] . Qs. Al-Israa: 72.

[35] . Qs. Thahaa: 124-126.

[36] . Qs. Muhammad: 23.

[37] . Qs. Anbiyaa: 30.

[38] . Qs. Al-Mukmin: 58.

[39] . Qs. Al-Baqarah: 171.

[40] . Qs. an-Naml 81.

[41] . Qs. Fushilat: 44.

[42] . Qs. As-Sajdah: 20.

Tulisan ini pernah dimuat pada site http://www.wisdoms4all.com