Memetik Teladan dari Kehidupan Imam Ridha As

2.jpg

Hadits Silsilahtu adz-Dzihab

Suatu ketika Imam Kedelapan kita, Imam Ali ar-Rida As melakukan perjalanan ke suatu kota yang bernama Naisyabur. Penduduk di kota ini meminta Imam Ali ar-Rida As untuk mengajarkan kepada mereka beberapa hadits Nabi Saw.

Imam Rida menyampaikan kepada mereka hadits berikut ini:

“Dari ayahku Musa al-Kazim As berkata kepadaku,

dari ayahnya Ja’far as-Sadiq As,

dari ayahnya Muhammad al-Baqir As,

dari ayahnya Ali Zainal Abidin As,

dari ayahnya Sayyid Syuhada al-Husain As,

dari ayahnya Ali bin Abi Talib As,

dari Rasulullah Saw,

dari Jibril As,

dari Allah Swt yang berfirman,

“Kalimat La Ilaha Illallah adalah bentengKu, dan barang siapa yang mengucapkannya akan memasuki bentengKu, dan barang siapa yang memasuki bentengKu akan selamat dari azabKu.”

Hadits ini dikenal sebagai hadits silsilatu adz-dzihab (mata rantai emas). Disebut hadits yang bermata rantai emas boleh jadi karena setiap perawi dari silsilah rantai tersebut adalah orang-orang maksum.

Beberapa orang berkata[1] bahwa seorang serdadu yang telah menuliskan hadits di atas dengan tinta emas dan menjaganya setiap saat. Setelah wafatnya, ia mendatangi sahabatnya dalam mimpi dan menyampaikan kepadanya bahwa seluruh dosa-dosanya diampuni lantaran berkah dari hadits mulia ini.

Orang-orang Naisyabur dengan keras membaca kalimat tayyibah ini.

Akan tetapi sebelum meninggalkan tempat itu, Imam Rida As menambahkan bahwa ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi untuk terjaga selamat dalam benteng ini.

Imam Rida As berkata, “Syarat tersebut adalah bahwa engkau harus mematuhi dan mentaati seluruh perintah Nabi Muhammad Saw dan ajaran-ajaran para Imam Maksum As.

Sumber Rujukan:

Ahmad bin Hanbal, Musnad

Imam Ali ar-Rida As bersabda:

Allah Swt telah menjadikan puasa wajib sehingga kita dapat mengetahui akan artinya lapar dan dahagah orang-orang yang kurang beruntung dari kita dan mengingat tentang dahaga dan kelaparan pada Hari Kiamat. Uyun Akhbar ar-Rida, vol. 2, hal. 109

Semoga wiladah Agung Imam Ali bin Musa ar-Ridha, 11 Dzul-Qaidah 1428 H/22 November 2007 menjadi hari bahagia buat Anda.

 


[1] . Syablakhi, Nur al-Absar

Iklan

8.jpg

Menolong Kaum Fakir

Suatu hari, Imam Keenam kita, Imam Ja’far Sadiq As sedang duduk dengan sekelompok sahabatnya di Mina, memakan beberapa anggur, ketika itu datanglah seorang dan meminta pertolongan.

Imam Ja’far Sadiq As memberika setandan anggur kepadanya. Orang fakir itu mengambil anggur yang diberikan kepadanya dan bersyukur kepada Allah.

Imam As kemudian memberikan beberapa uang. Kembali, orang tersebut bersyukur kepada Allah. Imam lalu memberikan jubahnya kepada orang itu. Orang itu kemudian mengambil uang tersebut dan berlalu sembari mendoakan Imam As.

Jika orang tersebut tetap melanjutkan menyatakan syukur kepada Allah atas apa yang diberikan oleh Imam kepadanya, maka Imam akan tetap memberikan apa-apa yang dimilikinya hingga tidak tersisa lagi baginya sesuatu untuk diberikan.

Imam dulunya secara tetap mengirimkan makanan kepada orang-orang miskin dan kaum papah di Madinah. Ia sendiri yang biasa mengirimkan loaves roti segar ke rumah-rumah mereka.

Sudah merupakan kebiasaan Imam untuk memberikan gula dalam bersedekah lantaran ia sangat menyukai makanan-makanan manis.

Imam Ja’far Sadiq As bersabda, “Aku mengkonsumsi lebih banyak gula, sehingga Aku harus bersedekah dengan gula lantaran Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an,

Engkau sekali-kali tidak akan menjadi orang yang baik hingga engkau menginfakkan apa yang engkau miliki. (QS. Ali Imran [3]:92)

Sumber Rujukan:

Allamah Majlisi, Biharul Anwar, bag. Keutamaan Imam Ja’far as-Sadiq As

Mutiara Hadis dari Imam Ja’far Sadiq As:

“Berbuat baiklah kepada orang tuamu dan kasihilah mereka, dan anak-anakmu akan mengasihimu. Biharul Anwar, vol. 27, hal. 242

Kami ucapan bela sungkawa atas syahadah agung Imam Ja’far Shadiq As, 25 Syawal 1428 H/6 November 2007 kepada Anda.

Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Shadiq [1]

7.jpg

Ladang Kurma

Imam Kelima kita, Imam Ja’far Sadiq As dalam hidupnya senantiasa berupaya membantu orang-orang Madinah sebanyak yang ia mampu. Ia membantu mereka untuk memberikan pemahaman Islam yang lebih baik, dan juga membantu mereka dengan cara-cara yang lain. Imam Sadiq As memiliki sebuah ladang kurma dan setiap tahun pohon-pohon kurma di ladang itu menghasilkan ribuan tandan kurma yang manis. Nilai kurma ini sangat tinggi.

Akan tetapi pada masa menuai, Imam Sadiq As melakukan sesuatu yang tidak biasa!

Tatkala seluruh kurma siap untuk dimakan, Imam Sadiq As akan membuka gerbang ladang dan setiap orang datang dipersilahkan untuk datang dan menyantap kurma.

Salah seorang sahabat Imam As tidak mengerti mengapa Imam berlaku seperti itu.

Ia bertanya kepada Imam Sadiq As, “Apabila Tuan menjual kurma-kurma ini, tentunya akan banyak menghasilkan uang.”

Imam Sadiq As tersenyum dan berkata, “Aku tidak memerlukan uang. Syukur kepada Tuhan, Aku mampu memberi makan kepada keluargaku dari uang yang aku dapatkan dari merajut kesetan.

Sang Imam cukup memiliki uang untuk memenuhi keperluannya sehingga ia dapat membagi sebagian hartanya kepada orang fakir dan miskin kota Madinah.

Seluruh orang di Madinah mengetahui bahwa jika mereka terbelit dengan masalah, atau terbentur dengan kesulitan, Imam senantiasa berada di sana untuk membantu mereka.

Sumber Rujukan:

Allamah Majlisi, Biharul Anwar, bag. Keutamaan Imam Sadiq As

Mutiara Hadis dari Imam Ja’far Sadiq As:

Hanya orang-orang yang bodohlah yang menjawab tanpa mendengar dan bertengkar sebelum mengerti. Biharul Anwar, vol. 78, hal. 278

Kami ucapan bela sungkawa atas syahadah agung Imam Ja’far Shadiq As, 25 Syawal 1428 H/6 November 2007 kepada Anda.

Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Hasan al-Mujtaba [4]

imam-hasan5.jpg

Menghadapi Kemarahan Dengan Santun

Suatu waktu seorang pengikut Mua’wiyah datang dari Suriah ke Madinah. Ketika dia melihat Imam Hasan Mujtaba As, dia mulai memaki dan mendamprat Imam Hasan.

Perlakuannya terhadap Imam Hasan As lantaran di Suriah, Mua’wiyah menyebarkan dusta dan berita palsu tentang Imam ‘Ali As untuk menjelekkan namanya. Orang-orang Suriah sudah lama berada di bawah kekuasaan Mu’wiyah sehingga mereka percaya dusta dan kepalsuan yang disampaikan oleh Mua’wiyah dan tidak mengerti kedudukan tinggi Ahlul Bait As.

Di Suriah, kaum Muslimin tidak memberikan nama-nama seperti ‘Ali, Hasan dan Husain kepada anak-anak mereka lantaran mereka mendengar banyak hal-hal buruk tentang mereka.

 Imam Hasan al-Mujtaba As mengetahui bahwa orang Suriah yang berlaku kasar kepadanya telah disesatkan oleh Mua’wiyah dan orang-orang sebangsanya.

Jadi, Imam tidak berkata apapun dan mendengarkannya dengan baik. Para pengikut Imam hendak menghajar orang tersebut atas apa yang telah dia katakana, akan tetapi Imam meminta mereka untuk membiarkan orang Suriah itu pergi.

Imam Hasan kemudian berbalik kepada orang itu dan menyapanya dengan ucapan “Salam”. Imam  mengundang orang itu ke kediaman beliau untuk makan dan istirahat karena dia pasti letih setelah melakukan perjalanan jauh.

Ketika orang ini melihat perlakuan sempurna Imam, dia menyadari bahwa apa yang disampaikan oleh Mu’awiyah kepadanya adalah tidak benar.

Dia merasa malu atas apa yang telah dikatakannya kepada sang Imam. Dia mulai menangis lalu berkata, “Allah Swt niscaya menempatkan Nubuwwah dan Imamah kepada orang-orang tetbaik.”

Orang itu memohon permintaan maaf dari Imam. Kemudian setelah itu, bilamana dia mendengar seseorang berkata-kata jelek tentang Imam, maka dia akan membenarkannya.

Sumber Rujukan:

Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, bag. Keutamaan Imam Hasan As.

Mutiara Hadis Imam Hasan al-Mujtaba As:

“Ajarkanlah ilmu kepada orang lain dan belajarlah ilmu dari orang lain sehingga akan dapat membawa ilmumu ke tangga kesempurnaan.” Biharul Anwar, vol 78, hal. 111

Milad Agung Imam Hasan al-Mujtaba, 15 Ramadhan 1428 H/27 September 2007, semoga menjadi hari bahagia buat Anda.

Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Hasan al-Mujtaba [3]

2c.jpg

Sup Panas

Imam Kedua, Imam Hasan al-Mujtaba As adalah seorang insan suci yang tidak mudah marah.

Terkadang orang-orang berbuat kasar kepadanya, khususnya mereka yang tidak mengenal beliau.

Imam Hasan bersikap santun terhadap orang-orang jahil ini dan acap kali mereka merasa malu atas perlakuan kasar mereka. Mereka merubuah perilaku mereka setelah menyaksikan kesempurnaan perilaku Imam Hasan As.

Masyarakat Madinah berkata bahwa Imam Hasan al-Mujtaba As hampir mirip dengan datuknya, Nabi Muhammad Saw, baik dalam rupa dan perbuatan.

Suatu hari ketika menyantap makan malam, seorang pelayan menumpahkan semangkuk sup dan percikannya mengenai badan Imam Hasan As.

Pelayan wanita ini sangat ketakutan lantaran berpikir bahwa Imam Hasan As  akan marah dan menghukumnya. Pelayan wanita ini, segera membaca sebuah ayat suci al-Qur’an.

 (surga menantikan) Orang-orang yang menahan marahnya.

Imam Hasan tersenyum dan berkata bahwa dia tidak marah.

Lalu wanita tersebut membaca ayat berikutnya:

 Dan memaafkan (kesalahan) orang.

 Imam Hasan al-Mujtaba As berkata bahwa dia memaafkannya.

Kemudian wanita tersebut mengakhiri dengan membaca ayat:

Allah Swt menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan

Imam Hasan al-Mujtaba As berkata kepadanya bahwa dia kini adalah seorang hamba yang bebas.

Pada hari yang indah ini, Imam Hasan al-Mujtaba As menunjukkan bahwa jika seorang menyakitimu dengan kesalahan, abaikanlah kesalahan itu.

Ayat di atas dapat dijumpai pada al-Qur’an surah ke-3, Ali Imran, ayat 134.

Sumber Rujukan:

 al-Tanufi, al-Faraj ba’d al-Shiddah, hal. 101

Mutiara Hadis Imam Hasan al-Mujtaba As:

Orang-orang membinasakan diri mereka sendiri jika dalam diri mereka terdapat kebiasaan buruk, sombong, tamak dan hasud. Biharul Anwar, vol 78, hal. 111.

Milad Agung Imam Hasan al-Mujtaba, 15 Ramadhan 1428 H/27 September 2007, semoga menjadi hari bahagia buat Anda.

Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Hasan al-Mujtaba [2]

2b.jpg 

Ayo Makanlah Bersama Kami

Imam Kedua kita, Imam Hasan Mujtaba As adalah Imam yang senantiasa berbuat baik kepada orang-orang papah dan miskin.

Suatu hari, Imam Hasan berjalan di sebuah jalan ketika dia melintas, beberapa orang miskin sedang duduk di tanah sedang menyantap sepotong roti kering.

Ketika mereka melihat Imam Hasan al-Mujtaba As, mereka memintanya untuk bergabung bersama mereka.

Imam Hasan As duduk di atas tanah dan memakan roti kering bersama mereka.

Dia berkata, “Allah Swt tidak mendekati orang-orang takabur.”

Ketika mereka telah menyelesaikan makanannya, Imam Hasan al-Mujtaba As berdiri untuk pergi. Sebelum beliau pergi, beliau menyampaikan terima kasih atas makanan yang mereka sajikan.

Kemudian beliau berkata, “Aku menerima undangan kalian, kini terimalah undangan dariku.”

Mereka setuju dan menyertai Imam Hasan As kembali ke rumahnya.

Ketika mereka tiba di kediamana beliau mereka dilayani dengan baik. Mereka diberikan makanan yang baik sekaligus pakaian oleh Imam Hasan As.

Sumber Rujukan:

Manaqib, Ibn Syahr Aasyub, vol. 4, hal. 23.

Mutiara Hadis Imam Hasan al-Mujtaba As:

Janganlah menunda melakukan kebaikan dan janganlah membual atas kebaikan itu setelahnya. Biharul Anwar, vol 78, hal. 113

Milad Agung Imam Hasan al-Mujtaba, 15 Ramadhan 1428 H/27 September 2007, semoga menjadi hari bahagia buat Anda.

Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Hasan al-Mujtaba [1]

2d.jpg

Apakah Wudu’ku sudah benar?

 Suatu hari di Madinah, seorang tua sedang melakukan wudu’ untuk menunaikan salat.Secara kebetulan, Imam Hasan al-Mujtaba As dan Imam Husain asy-Syahid As juga berada di tempat itu dan mereka memperhatikan bahwa orang tua ini tidak melakukan wudu’ dengan benar.Allah Swt meminta kita untuk membenarkan kesalahan orang apabila tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tugas ini disebut sebagai Amr bil Ma’ruf (menyeru kepada kebaikan). Kedua Imam kita ini tahu bahwa mereka harus memberi tahu orang tua ini akan kesalahan.Bagaimanapun, kedua Imam (Imam Hasan dan Imam Husain) kita ini masih belia ketika itu. Dan mereka merasa bahwa orang tua itu akan merasa malu jika dia dibenarkan oleh seorang muda.Lalu, kedua Imam kita ini mendapatkan ide brilian bagaimana mengajarkan cara wudu’ yang benar kepada orang tua ini. Mereka berpura-pura berbantahan satu sama lain. Imam Hasan al-Mujtaba As berkata kepada saudaranya, “Aku pikir wudu’ku lebih benar dari wudu’mu.” Imam Husain asy-Syahid As menjawab, “Tidak, Aku pikir wudu’kulah yang paling benar.”Orang tua itu mendengarkan adu-argumentasi mereka. Kini Imam Hasan berbalik kepadanya dan berkata, “Bapak tua, sudikah bapak menilai siapakah yang wudu’nya yang paling benar di antara kami?”Orang tua itu setuju dengan permintaan mereka.Kedua Imam tersebut melakukan wudu’. Orang tua itu mengamati secara seksama, dan menyadari bahwa keduanya hampir melakukan wudu’ yang serupa.Ia juga menyadari bahwa dia tidak melakukan wudu’ dengan benar. Dia tahu bahwa anak-anak itu sedang berusaha untuk membenarkannya dengan santun.Dia sangat menyukai perlakuan anak-anak itu. Dia berkata, “Ananda tercinta, Akulah yang tidak benar dalam melaksanakan wudu’. Terima kasih banyak atas “cara manis” yang telah kalian peragakan yang dapat membimbingku dari kesalahan. 

Sumber Rujukan:Mutahhari, Daastan-e Raastan 

Mutiara Hadis Imam Hasan al-Mujtaba As :

Perlakukanlah orang-orang sebagaimana kalian ingin diperlakukan. Bihârul Anwâr, vol 78,  hal. 116

 Milad Agung Imam Hasan al-Mujtaba, 15 Ramadhan 1428 H/27 September 2007, semoga menjadi hari bahagia buat Anda.