Keridhaan Tuhan pada Keridhaan Manusia; Ulasan Doa Hari Kedua Puasa

Bulan Ramadhan merupakan hadiah Ilahi kepada manusia sehingga dengan hadiah Ilahi yang berupa ibadah dan amalan ini manusia dapat meraup nilai-nilai transendal dan muta’ali yang tertimbun di dalamnya. Seluruh Mukmin diseru sebagai undangan atas perjamuan Ilahiah ini. Dalam hal ini, Tuhan Semesta Alam yang menjadi tamu dan maha tahu bagaimana meladeni tetamu-Nya dengan sebaik-baik perjamuan. Tentu jamuan Ilahi bukan jamuan yang bercorak material dan bendawi. Jamuan Ilahi di bulan ini berupa doa dan munajat-munajat yang diajarkan oleh para maksum kepada kita. Dari manusia-manusia suci itu di hari kedua ini kita membaca:

 

اَللَّهُمَّ قَرِّبْنِيْ فِيْهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَ جَنِّبْنِيْ فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ

وَ وَفِّقْنِيْ فِيْهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, dekatkanlah aku di bulan ini kepada ridha-Mu, hindarkanlah aku di bulan ini dari kemurkaan-Mu, dan anugerahkanlah taufik kepadaku di bulan ini untuk membaca ayat-ayat (kitab)-Mu. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Mahakasih dari para pengasih.

Di hari kedua ini kita disuguhkan hidangan malakuti dengan doa memohon keridhaan Tuhan dan taufik untuk membaca dan memahami ayat-ayat Ilahi, tadwin dan takwin. Baca lebih lanjut

Puasanya Orang Berpuasa; Ulasan Doa Hari Pertama Puasa

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw telah menjelaskan keutamaan yang tak terhingga bagi puasa pada setiap hari dalam bulan Ramadhan, dan beliau juga telah menentukan doa-doa khusus untuk setiap harinya yang memiliki keutamaan dan pahala yang sangat banyak. Melalui kesempatan ini, insya Allah semoga Tuhan memberikan taufik dan kesehatan kepada kita untuk membahasnya secara tuntas hingga hari terakhir doa-doa harian bulan Ramadhan ini. Semoga.

Di hari pertama bulan suci ini mari kita sama-sama berdoa:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامِيْ فِيْهِ صِيَامَ الصَّائِمِيْنَ وَ قِيَامِيْ فِيْهِ قِيَامَ الْقَائِمِيْنَ وَ نَبِّهْنِيْ فِيْهِ عَنْ نَوْمَةِ الْغَافِلِيْنَ

 وَ هَبْ لِيْ جُرْمِيْ فِيْهِ يَا إِلَهَ الْعَالَمِيْنَ وَ اعْفُ عَنِّيْ يَا عَافِيًا عَنِ الْمُجْرِمِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah puasaku di bulan ini seperti orang-orang sejati berpuasa, dan qiyamku seperti qiyamnya orang-orang yang bangkit, bangunkanlah aku di bulan ini dari kelelapan tidur orang-orang yang lupa. Ampunilah segala kesalahanku, wahai Tuhan semesta alam, dan ampunilah aku, wahai pengampun orang-orang yang bersalah.

Di bulan penuh berkat ini kita harus berusaha semaksimal mungkin mengenal dan mendapatkan emanasi Ilahiah di dalamnya. Di hari-hari bulan Ramadhan terdapat doa-doa yang dapat membantu kita untuk mengenal keutamaan dan esensi bulan Ramadhan. Ramadhan merupakan nama dari nama-nama Tuhan. Dan kita tidak diperkenankan untuk menyebut misalnya Ramadhan telah tiba; Namun kita diperintahkan untuk menyebutnya dengan menyertakan bulan atas Ramadhan menjadi bulan Ramadhan. Baca lebih lanjut

Memetik Teladan dari Kehidupan Imam Ridha As

2.jpg

Hadits Silsilahtu adz-Dzihab

Suatu ketika Imam Kedelapan kita, Imam Ali ar-Rida As melakukan perjalanan ke suatu kota yang bernama Naisyabur. Penduduk di kota ini meminta Imam Ali ar-Rida As untuk mengajarkan kepada mereka beberapa hadits Nabi Saw.

Imam Rida menyampaikan kepada mereka hadits berikut ini:

“Dari ayahku Musa al-Kazim As berkata kepadaku,

dari ayahnya Ja’far as-Sadiq As,

dari ayahnya Muhammad al-Baqir As,

dari ayahnya Ali Zainal Abidin As,

dari ayahnya Sayyid Syuhada al-Husain As,

dari ayahnya Ali bin Abi Talib As,

dari Rasulullah Saw,

dari Jibril As,

dari Allah Swt yang berfirman,

“Kalimat La Ilaha Illallah adalah bentengKu, dan barang siapa yang mengucapkannya akan memasuki bentengKu, dan barang siapa yang memasuki bentengKu akan selamat dari azabKu.”

Hadits ini dikenal sebagai hadits silsilatu adz-dzihab (mata rantai emas). Disebut hadits yang bermata rantai emas boleh jadi karena setiap perawi dari silsilah rantai tersebut adalah orang-orang maksum.

Beberapa orang berkata[1] bahwa seorang serdadu yang telah menuliskan hadits di atas dengan tinta emas dan menjaganya setiap saat. Setelah wafatnya, ia mendatangi sahabatnya dalam mimpi dan menyampaikan kepadanya bahwa seluruh dosa-dosanya diampuni lantaran berkah dari hadits mulia ini.

Orang-orang Naisyabur dengan keras membaca kalimat tayyibah ini.

Akan tetapi sebelum meninggalkan tempat itu, Imam Rida As menambahkan bahwa ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi untuk terjaga selamat dalam benteng ini.

Imam Rida As berkata, “Syarat tersebut adalah bahwa engkau harus mematuhi dan mentaati seluruh perintah Nabi Muhammad Saw dan ajaran-ajaran para Imam Maksum As.

Sumber Rujukan:

Ahmad bin Hanbal, Musnad

Imam Ali ar-Rida As bersabda:

Allah Swt telah menjadikan puasa wajib sehingga kita dapat mengetahui akan artinya lapar dan dahagah orang-orang yang kurang beruntung dari kita dan mengingat tentang dahaga dan kelaparan pada Hari Kiamat. Uyun Akhbar ar-Rida, vol. 2, hal. 109

Semoga wiladah Agung Imam Ali bin Musa ar-Ridha, 11 Dzul-Qaidah 1428 H/22 November 2007 menjadi hari bahagia buat Anda.

 


[1] . Syablakhi, Nur al-Absar

8.jpg

Menolong Kaum Fakir

Suatu hari, Imam Keenam kita, Imam Ja’far Sadiq As sedang duduk dengan sekelompok sahabatnya di Mina, memakan beberapa anggur, ketika itu datanglah seorang dan meminta pertolongan.

Imam Ja’far Sadiq As memberika setandan anggur kepadanya. Orang fakir itu mengambil anggur yang diberikan kepadanya dan bersyukur kepada Allah.

Imam As kemudian memberikan beberapa uang. Kembali, orang tersebut bersyukur kepada Allah. Imam lalu memberikan jubahnya kepada orang itu. Orang itu kemudian mengambil uang tersebut dan berlalu sembari mendoakan Imam As.

Jika orang tersebut tetap melanjutkan menyatakan syukur kepada Allah atas apa yang diberikan oleh Imam kepadanya, maka Imam akan tetap memberikan apa-apa yang dimilikinya hingga tidak tersisa lagi baginya sesuatu untuk diberikan.

Imam dulunya secara tetap mengirimkan makanan kepada orang-orang miskin dan kaum papah di Madinah. Ia sendiri yang biasa mengirimkan loaves roti segar ke rumah-rumah mereka.

Sudah merupakan kebiasaan Imam untuk memberikan gula dalam bersedekah lantaran ia sangat menyukai makanan-makanan manis.

Imam Ja’far Sadiq As bersabda, “Aku mengkonsumsi lebih banyak gula, sehingga Aku harus bersedekah dengan gula lantaran Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an,

Engkau sekali-kali tidak akan menjadi orang yang baik hingga engkau menginfakkan apa yang engkau miliki. (QS. Ali Imran [3]:92)

Sumber Rujukan:

Allamah Majlisi, Biharul Anwar, bag. Keutamaan Imam Ja’far as-Sadiq As

Mutiara Hadis dari Imam Ja’far Sadiq As:

“Berbuat baiklah kepada orang tuamu dan kasihilah mereka, dan anak-anakmu akan mengasihimu. Biharul Anwar, vol. 27, hal. 242

Kami ucapan bela sungkawa atas syahadah agung Imam Ja’far Shadiq As, 25 Syawal 1428 H/6 November 2007 kepada Anda.

Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Shadiq [1]

7.jpg

Ladang Kurma

Imam Kelima kita, Imam Ja’far Sadiq As dalam hidupnya senantiasa berupaya membantu orang-orang Madinah sebanyak yang ia mampu. Ia membantu mereka untuk memberikan pemahaman Islam yang lebih baik, dan juga membantu mereka dengan cara-cara yang lain. Imam Sadiq As memiliki sebuah ladang kurma dan setiap tahun pohon-pohon kurma di ladang itu menghasilkan ribuan tandan kurma yang manis. Nilai kurma ini sangat tinggi.

Akan tetapi pada masa menuai, Imam Sadiq As melakukan sesuatu yang tidak biasa!

Tatkala seluruh kurma siap untuk dimakan, Imam Sadiq As akan membuka gerbang ladang dan setiap orang datang dipersilahkan untuk datang dan menyantap kurma.

Salah seorang sahabat Imam As tidak mengerti mengapa Imam berlaku seperti itu.

Ia bertanya kepada Imam Sadiq As, “Apabila Tuan menjual kurma-kurma ini, tentunya akan banyak menghasilkan uang.”

Imam Sadiq As tersenyum dan berkata, “Aku tidak memerlukan uang. Syukur kepada Tuhan, Aku mampu memberi makan kepada keluargaku dari uang yang aku dapatkan dari merajut kesetan.

Sang Imam cukup memiliki uang untuk memenuhi keperluannya sehingga ia dapat membagi sebagian hartanya kepada orang fakir dan miskin kota Madinah.

Seluruh orang di Madinah mengetahui bahwa jika mereka terbelit dengan masalah, atau terbentur dengan kesulitan, Imam senantiasa berada di sana untuk membantu mereka.

Sumber Rujukan:

Allamah Majlisi, Biharul Anwar, bag. Keutamaan Imam Sadiq As

Mutiara Hadis dari Imam Ja’far Sadiq As:

Hanya orang-orang yang bodohlah yang menjawab tanpa mendengar dan bertengkar sebelum mengerti. Biharul Anwar, vol. 78, hal. 278

Kami ucapan bela sungkawa atas syahadah agung Imam Ja’far Shadiq As, 25 Syawal 1428 H/6 November 2007 kepada Anda.

Delapan Hikmah

Luqman Hakim berkata kepada putranya:

Wahai putraku, seribu hikmah kupelajari, kupilih darinya empat ratus hikmah, dan dari empat ratus itu kuambil delapan kalimat yang merupakan kumpulan segenap kalimat hikmah:

Putraku! Dua hal yang tidak boleh engkau lupakan sama sekali:

1.       Tuhan

2.       Kematian

Dua hal yang senantiasa harus engkau lupakan:

1.       Kebaikan yang engkau lakukan kepada seseorang

2.       Kejahatan yang orang lain lakukan kepadamu

Jagalah empat perkara:

1.       Lisanmu pada setiap majelis yang engkau masuki

2.       Perutmu pada setiap perjamuan yang engkau hadiri

3.       Matamu pada setiap rumah yang engkau datangi

4.       Hatimu pada setiap salat yang engkau kerjai. []

Memetik Kisah Teladan dari Kehidupan Imam Hasan al-Mujtaba [4]

imam-hasan5.jpg

Menghadapi Kemarahan Dengan Santun

Suatu waktu seorang pengikut Mua’wiyah datang dari Suriah ke Madinah. Ketika dia melihat Imam Hasan Mujtaba As, dia mulai memaki dan mendamprat Imam Hasan.

Perlakuannya terhadap Imam Hasan As lantaran di Suriah, Mua’wiyah menyebarkan dusta dan berita palsu tentang Imam ‘Ali As untuk menjelekkan namanya. Orang-orang Suriah sudah lama berada di bawah kekuasaan Mu’wiyah sehingga mereka percaya dusta dan kepalsuan yang disampaikan oleh Mua’wiyah dan tidak mengerti kedudukan tinggi Ahlul Bait As.

Di Suriah, kaum Muslimin tidak memberikan nama-nama seperti ‘Ali, Hasan dan Husain kepada anak-anak mereka lantaran mereka mendengar banyak hal-hal buruk tentang mereka.

 Imam Hasan al-Mujtaba As mengetahui bahwa orang Suriah yang berlaku kasar kepadanya telah disesatkan oleh Mua’wiyah dan orang-orang sebangsanya.

Jadi, Imam tidak berkata apapun dan mendengarkannya dengan baik. Para pengikut Imam hendak menghajar orang tersebut atas apa yang telah dia katakana, akan tetapi Imam meminta mereka untuk membiarkan orang Suriah itu pergi.

Imam Hasan kemudian berbalik kepada orang itu dan menyapanya dengan ucapan “Salam”. Imam  mengundang orang itu ke kediaman beliau untuk makan dan istirahat karena dia pasti letih setelah melakukan perjalanan jauh.

Ketika orang ini melihat perlakuan sempurna Imam, dia menyadari bahwa apa yang disampaikan oleh Mu’awiyah kepadanya adalah tidak benar.

Dia merasa malu atas apa yang telah dikatakannya kepada sang Imam. Dia mulai menangis lalu berkata, “Allah Swt niscaya menempatkan Nubuwwah dan Imamah kepada orang-orang tetbaik.”

Orang itu memohon permintaan maaf dari Imam. Kemudian setelah itu, bilamana dia mendengar seseorang berkata-kata jelek tentang Imam, maka dia akan membenarkannya.

Sumber Rujukan:

Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, bag. Keutamaan Imam Hasan As.

Mutiara Hadis Imam Hasan al-Mujtaba As:

“Ajarkanlah ilmu kepada orang lain dan belajarlah ilmu dari orang lain sehingga akan dapat membawa ilmumu ke tangga kesempurnaan.” Biharul Anwar, vol 78, hal. 111

Milad Agung Imam Hasan al-Mujtaba, 15 Ramadhan 1428 H/27 September 2007, semoga menjadi hari bahagia buat Anda.